Anda di halaman 1dari 14

Bismillaahirrahmaanirrahiim

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT THURSINA


NOMOR : /RSTHUR/PER-DIR/V/2015
TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN FARMASI
DIREKTUR RUMAH SAKIT THURSINA

Menimbang :
1. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan RS. THURSINA, maka
diperlukan penyelenggaraan pelayanan farmasi yang bermutu tinggi
2. Bahwa agar pelayanan farmasi di RS THURSINA dapat terlaksana dengan baik,
perlu adanya kebijakan Direktur RS THURSINA sebagai landasan bagi
penyelenggaraan pelayanan farmasi di RS THURSINA
3. Sehubungan dengan hal hal diatas maka perlu ditetapkan dengan Keputusan
Direktur RS. THURSINA

Mengingat :
1. UU NO. 36 TAHUN 2009 Tentang Kesehatan
2. UU NO. 44 TAHUN 2009 Tentang Rumah Sakit
3. PP NO. 51 TAHUN 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian
4. Permenkes NO. 1197/Menkes/SK/X/2004 Tentang Standar Pelayanan Farmasi Di
Rumah Sakit
MEMUTUSKAN

Menetapkan :
KESATU : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT THURSINA TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN FARMASI

KEDUA : Ketentuan tentang pelayanan kefarmasian Rumah Sakit Thursina

KETIGA : Pembinaan dan pengawasan pelayanan kefarmasian RS. Thursina


dilaksanakan oleh Kepala Bagian Pelayanan dan Penunjang Medis

KEEMPAT : Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan dan dapat diperbaiki apabila ada
perubahan yang mendasar

Duri, September 2015


Direktur,

dr. Resfaldi Putra


NIK : 021.2002

Lampiran
Keputusan Direktur RS. THURSINA
Nomor : /RSTHUR/PER-DIR/V/2015
Tanggal : September 2015

KEBIJAKAN PELAYANAN FARMASI RUMAH SAKIT THURSINA


A. KEBIJAKAN UMUM PELAYANAN FARMASI
1. Memberikan pelayanan selama 24 jam terus menerus ke seluruh bagian yang
terkait seperti IGD, rawat inap, rawat jalan, dan rawat inap intensif dengan sistem
satu pintu.

2. Lokasi harus menyatu dengan sistem pelayanan rumah sakit.

3. IFRS hanya melayani resep yang berasal dari rumah sakit dan tidak melayani
pembelian obat bebas atau resep bukan berasal dari dokter.

4. Resep dilayani ketika proses penyelesaian pembayaran oleh kasir

5. Obat yang sudah di beli tidak dapat dikembalikan.

6. Obat in patient dikembalikan jika alergi atau pasien meninggal dunia atau hal lain
dengan persetujuan dokter.

7. Obat yang dikembalikan adalah obat yang masih dalam keadaan utuh atau belum
terpakai.

8. Instalasi Farmasi dipimpin oleh satu orang apoteker, berijazah S1 apoteker dan
memiliki SIK.

9. Susu formula digolongkan sebagai obat sehingga pemberiannya kepada bayi usia
0-6 bulan harus dengan resep dokter

10. Seluruh pelayanan farmasi wajib berorientasi kepada mutu dan keselamatan
pasien

11. Obat narkotika dan psikotropika tidak termasuk dalam daftar floor stok ruangan
rawatan kecuali diazepam suppositoria dan injeksi di Instalasi Gawat Darurat dan
emergency kit

12. Pada pasien rawat inap, jika harga obat / alkes di atas Rp. 100.000,00 tiap
satuannya diperlukan persetujuan dari pasien / keluarga pasien
13. Setiap pasien berhak mendapatkan informasi tentang obat secara adekuat oleh
petugas yang berkompeten
14. Kunci lemari narkotika dan psikotropika harus selalu dibawa oleh apoteker atau
asisten apoteker yang telah diberi pendelegasian tugas untuk mengelola kunci
lemari narkotika dan psikotropika
15. RS Thursina menerima bantuan perbekalan farmasi dari pihak luar yang dapat
dimanfaatkan secara maksimal di rumah sakit dengan batas waktu kadaluwarsa
perbekalan farmasi minimal 6 bulan dari tanggal kadaluwarsa yang tertera di
kemasan perbekalan farmasi tersebut
16. Penerimaan obat / alkes dari logistik farmasi dengan kadaluarsa paling lambat 1
Tahun hanya untuk obat obat yang digolongkan cito dan segera pakai.

KEBIJAKAN KHUSUS PELAYANAN FARMASI

1. Pengelolaan perbekalan farmasi menggunakan prinsip-prinsip manajemen


meliputi seleksi, perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan, distribusi,
pelayanan dan pemantauan penggunaan
2. Sistem perbekalan farmasi dikembangkan dan diarahkan menggunakan sistem
stock less inventory dengan jumlah persediaan obat / alkes ditentukan maksimum
untuk penjualan 1 minggu
3. Kerjasama dengan PBF mengutamakan perbekalan farmasi yang memiliki label
halal. Perbekalan farmasi dengan tambahan zat yaitu alcohol atau bahan lain yang
diharamkan hanya dapat digunakan jika tidak terdapat sediaan yang halal
4. Untuk menjaga kualitas, semua obat atau alkes di beli dari Pedagang Besar
Farmasi (PBF) yang resmi
5. Obat atau alkes yang tidak termasuk dalam daftar formularium rumah sakit
diinformasikan kepada penulis resep dan disarankan subtitusinya. Jika penulis
resep tidak menyetujui saran subtitusi maka dibuatkan resep keluar RS untuk
pasien rawat jalan dan rawat inap dan dilakukan pengorderan dari IFRS ke bagian
gudang
6. Usulan penambahan obat atau alkes dalam formularium oleh dokter harus ditelaah
oleh Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) dan mendapatkan rekomendasi sebelum di
setujui oleh Direktur
7. Obat yang tidak tersedia karena stok out atau tidak masuk dalam daftar obat
rumah sakit dikonfirmasi kepada penulis resep dan diajukan saran substitusinya,
jika penulis resep tidak bersedia diganti dengan obat substitusi, maka obat dapat
dicopy resep untuk pasien rawat jalan (umum) dan, namun untuk pasien rawat
jalan (Perusahaan) dan rawat inap, obat harus tetap disediakan melalui mekanisme
pengadaan obat insidentil dan mendesak
8. Petugas farmasi tidak diperbolehkan mengira-ngira tulisan pada resep atau FPO
dan diwajibkan untuk menghubungi pembuat resep atau FPO jika tidak jelas
terbaca
9. Pengawasan dilakukan sebagai upaya untuk melindungi perbekalan farmasi dari
kehilangan atau pencurian di farmasi atau lokasi lainnya termasuk di emergency
kit, degan meyesuaikan degan kartu stok dan pemilihan penanggungjawab bagian

10. Pengawasan penggunaan obat oleh Panitia Farmasi dan Terapi termasuk seleksi
obat dan penambahan obat baru di rumah sakit

11. Setiap ruang rawat harus mempunyai penanggung jawab obat.

12. Pendistribusian perbekalan farmasi untuk persediaan di ruang rawat merupakan


tanggung jawab perawat ruangan

13. Pada saat persediaan obat terkunci, petugas dapat mengakses obat yang
dibutuhkan ke unit lain, emergensi kit atau jika obat tersebut sangat dibutuhkan
untuk menyelamatkan jiwa pasien, maka petugas dapat merusak lemari
penyimpanan obat tersebut
14. Penyimpanan perbekalan farmasi dikelompokkan berdasarkan bentuk sediaan dan
jenisnya, suhu dan stabilitasnya, mudah dan tidaknya terbakar, tahan atau tidaknya
terhadap cahaya yang disusun secara alfabetis dengan urutan penggunaan metode
FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out) termasuk sediaan di
emergency kit

15. Pasien yang menggunakan obat sendiri maupun obat sampel (contoh) harus
sepengetahuan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) dan penggunaannya
dicatat dalam rekam medis pasien

16. Penyediaan dan penggunaan sampel (contoh) obat yang dibawa pasien menjadi
tanggung jawab pasien setelah pasien mendapatkan informasi yang adekuat dari
petugas

17. Sampel obat yang berupa donasi (bantuan) didistribusikan atas resep dokter, dan
penggunaannya hanya sampai persediaan obat donasi tersebut habis

18. Sampel obat (donasi) yang diterima di rumah sakit adalah terbatas pada obat yang
digunakan di rumah sakit. Jumlah dan batas waktu kadaluwarsa donasi obat yang
diterima disesuaikan dengan pemakaian obat tersebut (fast, medium atau slow
moving)
19. Pengembalian perbekalan farmasi near ED bagian lain yang disimpan sebagai
floor stock ke bagian farmasi minimal 3 bulan dari tanggal kadaluwarsa yang
tertera di kemasan perbekalan farmasi tersebut, apabila kurang dari 3 bulan pihak
farmasi tidak bertaggug jawab
20. Obat dan alkes yang sudah kadaluwarsa tidak boleh digunakan.

21. Obat out of date masih dapat digunakan dengan peresepan dari dokter yang telah
mendapatkan informasi bahwa obat atau alkes tersebut sudah out of date.

22. Obat dan alkes yang sudah kadaluarsa atau out of date yang sudah tidak
dimanfaatkan lagi disimpan dan dikumpulkan ditempat yang terpisah dan
dilaporkan kepada direktur

23. Obat dan alkes yang sudah ketinggalan jaman (out of date) dan tidak
dimanfaatkan lagi dapat dimusnahkan

24. Penarikan obat dan alkes oleh PBF direspon oleh bagian farmasi dengan menarik
obat tersebut keseluruh ruagan rawatan dan menyerahkan obat dan alkes
dimaksud. Biaya yang timbul dari proses penarikan obat atau alkes oleh PBF
dibebankan kepada PBF tersebut

25. Pemusnahan dilakukan terhadap perbekalan farmasi kadaluarsa dan resep yang
sudah berumur minimal 3 tahun setelah mendapatkan persetujuan direktur dengan
cara pemusnahan yang sesuai peraturan perundangan yang berlaku

26. Lembar resep (narkotika dan non narkotika) dilayani apabila sudah memenuhi
persyaratan administrasi, meliputi :

a. Nomor Rekam Medis, Nama, tanggal lahir, umur, jenis kelamin, berat badan dan
alamat pasien

b. Nama, nomor izin, dan paraf/tandatangan dokter

c. Tanggal resep

27. Formulir pemakaian obat pengganti resep seperti Formulir Permintaan Obat
(FPO) rawat inap harus ditandatangani oleh Apoteker

28. Dokter dan petugas pemesan obat diberikan pelatihan penulisan resep dan
dilakukan evaluasi secara berkala maksimal 1 tahun sekali
29. Petugas yang berwenang menyerahkan obat, menelaah resep dan FPO adalah
apoteker sedangkan asisten apoteker berwenang menyerahkan obat, menelaah
resep jika telah mendapatkan pendelegasian dari apoteker

30. Petugas yang diberikan wewenang untuk memberikan obat di ruang perawatan
selama pasien di rawat di rumah sakit adalah perawat dan bidan yang diberikan
otorisasi pemberian obat berdasarkan pendelegasian tugas dan wewenang dari
Apoteker

31. Obat yang diresepkan harus dicatat dalam rekam medis pasien

32. Setiap pemakaian perbekalan farmasi di rumah sakit harus dicatat dalam lembar
yang sesuai

33. Ketentuan penulisan resep:

a. Resep ditulis oleh dokter yang telah memiliki SIP, SPK dan RKK

b. Resep ditulis dengan tulisan yang jelas terbaca

c. Resep dimulai dengan huruf R dikuti nama obat, sediaan, satuan , dosis satuan, jumlah
dengan huruf romawi dan aturan pakai

d. Setiap R diparaf

e. Resep racikan diawali dengan satu huruf R saja diikuti dengan nama, sediaan, satuan
dan dosis obat yang akan diracik diikuti perintah pembuatan sediaan racikan dan
aturan pemakaian sediaan racikan tersebut

34. Ketentuan penulisan Formulir Pemesanan Obat (FPO)

a. FPO ditulis oleh petugas yang diangkat oleh direktur

b. FPO ditulis dengan tulisan yang jelas terbaca

c. FPO memuat perbekalan farmasi yang diminta dengan jumlahnya dan kolom
yang berisikan jumlah* yang diberikan oleh IFRS

d. Verifikasi kesesuaian antara FPO dengan perintah dokter di rekam medis


dilakukan oleh apoteker ketika melakukan kunjungan ke pasien bangsal
dengan membubuhkan paraf dalam FPO pasien tersebut.

35. Pencampuran dan penanganan sediaan steril menggunakan prinsip teknik aseptic
36. Pencampuran dan penaganan obat injeksi dilakukan oleh Petugas yang diberikan
wewenang untuk memberikan obat di ruang perawatan selama pasien di rawat di
rumah sakit adalah perawat dan bidan yang diberikan otorisasi pemberian obat
berdasarkan pendelegasian tugas dan wewenang dari Apoteker

37. Sistem distribusi perbekalan farmasi terdiri dari : sistem resep perorangan pada
unit rawat jalan, sistem unit dosis ODD ( One Daily Dose ) pada unit rawat inap,
sistem persediaan lengkap di ruangan (floor stock ) pada ruang Unit Gawat
Darurat, Ruang operasi, Ruang bersalin, Poli rawat jalan, Laboratorium,
Radiologi, kotak emergensi.

38. Obat didistribusikan pada pasien secara akurat setelah memastikan 7 benar yaitu
benar obat, benar pasien, benar dosis, benar aturan pemakaian, benar cara
pemberian, benar waktu pemberian dan benar pendokumentasian

39. Obat didistribusikan dalam bentuk yang paling siap untuk digunakan termasuk
obat-obatan yang memerlukan pengenceran seperti sirup kering dan lain-lain

40. Obat-obatan yang disalurkan tidak dalam kemasan aslinya atau disalurkan dalam
bentuk/wadah yang berbeda ( dan obat tidak segera diberikan) , maka obat obat
harus diberi label dengan nama obat, dosis/konsentrasi, tanggal penyiapan dan
tanggal kadaluwarsa obat

41. Waktu tunggu pelayanan resep pasien rawat jalan untuk sediaan jadi adalah 15
menit, sediaan racikan adalah 30 menit terhitung dari pasien telah menyelesaikan
administrasi/ pembayaran

42. Permintaan obat pasien rawat inap berdasarkan sistem one daily dose (kebutuhan
obat untuk satu hari).Permintaan diserahkan ke bagian farmasi maksimal pukul
24.00 WIB, bagian farmasi menyerahkan obat ke bagian rawat inap maksimal
pukul 05.00 WIB

43. Permintaan cito unit lain dilayani menggunakan resep atau permintaan obat, bila
tidak memungkinkan permintaan menggunakan resep, maka resep dapat
disusulkan maksimal 1x 24 jam sejak obat diserahkan

44. Insiden Keselamatan Pasien (IKP) yang meliputi Kejadian Potensial Cedera
(KPC), Kejadian Nyaris Cedera (KNC), Kejadian Tidak Diinginkan (KTD),
Sentinel Event dimonitor, didokumentasikan dan dilaporkan maksimal 2 x 24 jam
sejak kejadian ditemukan
45. Pemesanan dan penerimaan gas medis dilakukan oleh bagian farmasi sedangkan
distribusi dan penyimpanan gas medis dilaksanakan oleh bagian IPSRS (Instalasi
Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit
46. Rumah sakit memiliki perencanaan atau dokumen lain yang mengidentifikasi
bagaimana penggunaan obat diorganisir dan dikelola
47. Semua penataan pelayanan dan petugas yang mengelola proses obat dilibatkan
dalam struktur organisasi
48. Kebijakan mengarahkan semua tahapan manajemen obat dan penggunaan obat
dalam rumah sakit
49. Sekurang-kurangnya ada satu review atas sistem manajemen obat yang
didokumetasikan selama 12 bulan terakhir
50. Pelayanan farmasi dan penggunaan obat sesuai dengan undang-undang dan
peraturan yang berlaku
51. Sumber informasi obat yang tepat selalu tersedia bagi semua yang terlibat dalam
penggunaan obat
52. Seorang petugas yang mempunyai izin, sertifikat dan terlatih mensupervisi semua
aktivitas
53. Petugas tersebut memberikan supervisi terhadap proses yang diuraikan
54. Ada daftar obat yang dalam stok obat rumah sakit atau siap tersedia dari sumber
luar
55. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk mengembangkan daftar tersebut
(kecuali ditetapkan oleh peraturan atau otoritas diluar rumah sakit)
56. Ada proses yang disusun untuk menghadapi bilamana obat tidak tersedia, berikut
pemberitahuan kepada pembuat resep serta saran substitusinya.
57. Ada metode untuk mengawasi penggunaan obat dalam rumah sakit
58. Obat dilindungi terhadap kehilangan atau pencurian di seluruh rumah sakit
59. Para praktisi pelayanan kesehatan dilibatkan dalam proses pemesanan,
penyaluran, pemberian dan proses monitoring pasien, juga diikutsertakan dalam
mengevaluasi dan menjaga daftar obat
60. Keputusan untuk menambah atau mengurangi obat dari daftar dipandu dengan
kriteria
61. Bila ada obat yang baru ditambahkan dalam daftar, ada proses atau mekanisme
untuk memonitor bagaimana obat digunakan dan KTD yang tidak diantisipasi
62. Daftar ditelaah sekurang-kurangnya setahun sekali berdasarkan atas informasi
tentang safety dan efektivitas
63. Ada proses untuk persetujuan dan pengadaan obat yang dibutuhkan tapi tidak ada
dalam stok atau yang secara normal tersedia dirumah sakit.
64. Ada proses untuk mendapatkan obat pada saat dimana farmasi tutup atau
persediaan obat terkunci
65. Staf memahami proses
66. Obat disimpan dalam kondisi yang sesuai bagi stabilitas produk
67. Bahan yang terkontrol dilaporkan secara akurat sesuai undang-undang dan
peraturan yang berlaku
68. Obat-obatan dan bahan kimia yang digunakan untuk menyiapkan obat diberi label
secara akurat menyebutkan isi, tanggal kadaluarsa dan peringatan
69. Seluruh tempat penyimpanan obat diinspesi secara berkala sesuai kebijakan rumah
sakit untuk memastikan obat disimpan secara benar.
70. Kebijakan rumah sakit menjabarkan cara identifikasi dan penyimpanan obat yang
dibawa oleh pasien
71. Kebijakan rumah sakit menjabarkan cara penyimpanan yang tepat bagi produk
nutrisi
72. Kebijakan rumah sakit menjabarkan cara penyimpanan obat radioaktif, untuk
keperluan investiasi dan sejenisnya
73. Kebijakan rumah sakit menjabarkan cara obat sampel disimpan dan dikendalikan
74. Semua penyimpanan sesuai dengan kebijakan rumah sakit
75. Obat emergensi tersedia pada unit-unit dimana akan diperlukan atau dapat
terakses segera dalam rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat
emergensi
76. Kebijakan rumah sakit menetapkan bagaimana obat emergensi disimpan, dijaga
dan dilindungi dari kehilangan atau pencurian
77. Obat emergensi dimonitor dan diganti secara tepat waktu sesuai kebijakan rumah
sakit setelah digunakan atau bila kadaluwarsa atau rusak
78. Ada sistem penarikan obat
79. Kebijakan dan prosedur mengatur setiap penggunaan obat yang diketahui
kadaluwarsa atau ketinggalan jaman
80. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan / dilaksanakan
81. Kebijakan dan prosedur dirumah sakit mengarahkan peresepan, pemesanan dan
pencatatan obat yang aman dirumah sakit
82. Kebijakan dan prosedur mengatur tindakan yang terkait dengan penulisan resep
dan pemesanan yang tidak tidak terbaca
83. Adanya proses kerjasama untuk mengembangkan kebijakan dan prosedur
84. Staf yang terkait terlatih secara benar untuk praktek-praktek penulisan resep,
pemesanan dan pencatatan
85. Rekam medis pasien memuat daftar obat yang sedang dipakai sebelum dirawat
inap dan informasi ini tersedia di farmasi dan para praktisi pelayanan kesehatan
86. Order pertama obat dibandingkan dengan daftar obat sebelum masuk rawat inap,
sesuai prosedur yang ditetapkan rumah sakit
87. Pesanan obat atau penulisan resep yang akseptabel dijabarkan dan sekurang-
kurangnya elemen a sampai dengan i diatur dalam kebijakan
88. Pesanan obat atau penulisan resep lengkap sesuai kebijakan rumah sakit
89. Hanya orang yang diijinkan oleh rumah sakit dan badan pemberi lisensi terkait,
undang-undang dan peraturan dapat menuliskan resep atau memesan obat
90. Ada proses untuk menetapkan batas bagi petugas, bila perlu, untuk praktek
penulisan resep atau pemesanan obat
91. Petugas yang diijinkan untuk menuliskan resep dan memesan obat dikenal oleh
unit pelayanan farmasi atau orang lain yang mengeluarkan obat-obat
92. Obat yang diresepkan atau dipesan dicatat untuk setiap pasien
93. Pemberian obat dicatat untuk setiap dosis
94. Informasi obat disimpan dalam rekam medis pasien atau diselipkan kedalam status
pasien saat pemulangan atau dipindahkan
95. Obat dipersiapkan dan disalurkan dalam area yang bersih dan aman dengan
peralatan dan suplai yang memadai
96. Persiapan penyaluran obat harus memenuhi undang-undang peraturan dan standar
praktek profesional
97. Staf yang menyiapkan produk steril dilatih dalam hal teknik aseptik
98. Rumah sakit menjabarkan informasi spesifik pasien apa yang dibutuhkan untuk
proses penelaahan yang efektif
99. Terlepas dari adanya perkecualian yang ditetapkan pada maksud dan tujuan ,
setiap resep atau pesanan obat ditelaah ketepatannya sebelum dilakukan
penyaluran dan pemberian serta meliputi element a) sampai dengan g) tersebut
dalam maksud dan tujuan. Jadi setiap resep atau pesanan obat dievaluasi untuk
ditelaah ketepatanya
100. Ada proses untuk menghubungi petugas yang menuliskan resep atau memesan
obat bila timbul pertanyaan
101. Petugas yang diijinkan untuk menelaah pesanan obat atau resep dinilai
kompetensinya untuk tugas ini
102. Penelaahan difasilitasi dengan catatan (profil) dari semua pasien yang
menerima obat
103. Bila digunakan software komputer, untuk mengcross-check obat, untuk
interaksi obat dan alergi, harus di update secara berkala
104. Ada sistem yang seragam dirumah sakit dalam penyaluran dan pendistribusian
obat
105. Setelah disiapkan, obat diberi label secara tepat, dengan nama
obat,dosis/konsenstrasi, tanggal penyiapan, tanggal kadaluarsa, dan nama pasien
106. Obat disalurkan dengan bentuk yang paling siap diberikan
107. Sistem mendukung penyaluran obat secara akurat
108. Sistem mendukung penyaluran obat tepat waktu
109. Rumah sakit mengidentifikasi petugas, melalui uraian jabatannya atau proses
pemberian kewenangan, mendapatkan otorisasi untuk memberikan obat
110. Hanya mereka yang mempunyai ijin dari rumah sakit dan pemberi lisensi yang
terkait, undang-undang dan peraturan bisa memberikan obat
111. Ada proses untuk menetapkan batasan, bila perlu, terhadap pemberian obat
oleh petugas
112. Obat diverifikasi berdasarkan resep atau pesanan
113. Jumlah dosis obat diverifikasi dengan resep pesanan obat
114. Route pemberian diverifikasi dengan resep atau pesanan obat
115. Obat diberikan secara tepat waktu
116. Obat diberikan sebagaimana diresepkan dan dicatat dalam status pasien
117. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan untuk mengatur penggunaan obat
sendiri oleh pasien
118. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan untuk mengatur pendokumentasian
dan pengelolaan setiap obat yang dibawa kedalam rumah sakit untuk atau oleh
pasien
119. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan untuk mengatur ketersedian dan
penggunaan sampel obat
120. Efek pengobatan terhadap pasien dimonitor, termasuk efek yang tidak
diharapkan (adverse effect)
121. Proses monitoring dilakukan secara kolaboratif
122. Rumah sakit mempunyai kebijakan yang mengidentifikasikan efek yang tidak
diharapkan yang harus dicatat dalam status pasien dan yang harus dilaporkan ke
rumah sakit
123. Efek yang tidak diharapkan didokumentasikan dalam status pasien
sebagaimana diharuskan oleh kebijakan
124. Efek yang tidak diharapkan dilaporkan dalam kerangka waktu yang ditetapkan
oleh kebijakan
125. Kesalahan obat dan KNC ditetapkan melalui porses kerjasama
126. Kesalahan obat dan KNC dilaporkan tepat waktu menggunakan prosedur baku

Duri, September 2015


Direktur,

dr. Resfaldi Putra


NIK : 021.2002
Bismillaahirrahmaanirrahiim

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT THURSINA


NOMOR : /RSTHUR/SK-DIR/VI/2015
TENTANG
PEMBENTUKAN TIM PENYUSUNAN PEDOMAN PELAYANAN
FARMASI RUMAH SAKIT
DIREKTUR RUMAH SAKIT THURSINA

Menimbang :
1. Bahwa rumah sakit menyelenggarakan pelayanan farmasi yang bermutu untuk
menunjang pelayanan kesehatan secara terpadu
2. Bahwa untuk mewujudkan pelayanan farmasi yang bermutu di rumah sakit perlu
dibuat Pedoman Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit THURSINA
3. Bahwa sehubugan dengan hal tersebut diatas maka perlu dibentuk Tim Penyusun
Pedoman Pelayanan Farmasi Rumah Sakit THURSINA

Mengingat :
1. UU NO. 36 TAHUN 2009 Tentang Kesehatan
2. UU NO. 44 TAHUN 2009 Tentang Rumah Sakit
3. PP NO. 51 TAHUN 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian
4. Permenkes NO. 1197/Menkes/SK/X/2004 Tentang Standar Pelayanan Farmasi Di
Rumah Sakit
MEMUTUSKAN

Menetapkan :
KESATU : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT THURSINA TENTANG
PEMBENTUKAN TIM PENYUSUN PEDOMAN PELAYANAN
FARMASI RUMAH SAKIT

KEDUA : Membentuk Tim penyusun Pedoman Pelayanan Farmasi Rumah Sakit


Thursina dengan susunan sebagai berikut:
Ketua :
Sekretaris :
Anggota :

KETIGA : Tim bertugas membuat kebijakan, menyusun Pedoman Pelayanan


Farmasi Rumah Sakit, program kerja serta Stadar Prosedur Operasioal

KEEMPAT : Dalam melaksanakan tugasnya Tim dapat mengundang organisasi profesi


atau pihak-pihak lain yang terkait untuk mendapatkan hasil yang
maksimal.
KELIMA : Dalam melaksanakan tugasnya Tim dapat mengundang organisasi profesi
atau pihak-pihak lain yang terkait untuk mendapatkan hasil yang
maksimal.

Duri, September 2015


Direktur

dr. Resfaldi Putra


NIK 0212002