Anda di halaman 1dari 9

1

Eksepsi Dalam Perkara Pidana

KANTOR ADVOKAT DAN PENGACARA


NAJMUL KAMAL.SH.
Jln. Makam Syiah Kuala No. 119 Kota Banda Aceh, NAD.

Nota Keberatan Penasehat Hukum Atas Nama Terdakwa Carlos Luis


Dkk Perkara Pidana Nomor: 111/PID.B/2015/PN.KBR
Pada Pengadilan Negeri Kota Banda Aceh.

KEBENARAN AKAN MUNCUL DARI JALAN YANG TIDAK TERDUGA


Atas Nama Terdakwa Terdakwa .
1. Nama Lengkap : Carlos Luis
Tempat lahir : Lam kubu
Umur : 34 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku : Aceh
Pekerjaan : Penjaga Gudang PT.PUSRI Banda Aceh
Warga Negara : Indonesia
Alamat : Lambaro skep Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh.
Agama : Islam
Pendidikan :SMA

2. Nama Lengkap : Rizal Pasha


Tempat lahir : Lam Page
Umur : 33 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku : Aceh
Pekerjaan : Tani
Warga Negara : Indonesia
Alamat : Lambaro skep Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh.
Agama : Islam
Pendidikan : SMA

3. Nama Lengkap : Irwansyah johan


Tempat lahir : Lam paseh
Umur : 30 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku : Aceh
Pekerjaan : Nelayan
Warga Negara : Indonesia
Alamat : Lambaro skep Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh.
Agama : Islam Pendidikan : SD

Majelis Hakim Yang Kami Muliakan, Saudara Penuntut Umum yang kami hormati, dan
Pengunjung Sidang sekalian,
2

I. Pendahuluan.
Sebelum memasuki uraian mengenai Surat Dakwaan Penuntut Umum dan dasar hukum
pengajuan serta materi keberatan kami selaku Advokat/penasihat hukum Terdakwa terhadap
Surat Dakwaan Penuntut Umum, perkenankanlah kepada kami untuk menyampaikan terima
kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan yang diberikan untuk mengajukan
EKSEPSI/keberatan ini.
Adanya kesempatan bagi Terdakwa atau Advokatnya untuk mengajukan
EKSEPSI/KEBERATAN setelah Penuntut Umum mengajukan suatu Surat Dakwaan menjadi
bukti nyata bahwa KUHAP sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan,
dengan cara memberikan kesempatan kedua belah pihak untuk mengemukakan
pandangannya masing-masing.
Memang untuk memperoleh konstruksi tentang kebenaran dari suatu kasus seperti halnya
kasus yang Terdakwa alami tidak ada cara lain kecuali memberi kesempatan yang selayaknya
kepada kedua belah pihak, penuntut umum dan terdakwa, untuk mengemukakan
pandangannya masing-masing (du choc des opinions jaillit la verite).
Oleh karena itu dalam Negara Hukum seperti halnya Negara Republik Indonesia, pengajuan
keberatan terhadap surat dakwaan penuntut umum sama sekali tidak dimaksudkan untuk
mencari-cari kesalahan atau memojokkan posisi penyidik atau penuntut umum yang dalam
menjalankan tugas dan kewajibannya telah bekerja dengan tekun dan gigih serta dengan hati
nurani yang bersih.
Bukan pula semata-mata memenuhi ketentuan pro forma hanya karena hal itu telah diatur
dalam undang-undang atau sekedar menjalani acara ritual yang sudah lazimnya dilakukan
oleh seorang advokat hanya karena advokat itu telah menerima sejumlah honor dari kliennya.
Pengajuan keberatan itu dimaksudkan semata-mata demi memperoleh konstruksi tentang
kebenaran dari kasus yang sedang Terdakwa hadapi. Apabila misalnya ternyata dalam surat
dakwaan penuntut umum atau dari hasil penyidikan yang menjadi dasar dakwaan penuntut
umum terdapat cacat formal atau mengandung kekeliruan beracara (error in procedure), maka
diharapkan majelis hakim yang memeriksa perkara dapat mengembalikan berkas perkara
tersebut kepada penuntut umum yang selanjutnya menyerahkan kepada penyidik untuk
disidik kembali oleh karena kebenaran yang ingin dicapai oleh KUHAP tidak akan terwujud
dengan surat dakwaan atau hasil penyidikan yang mengandung cacat formal atau
mengandung kekeliruan beracara (error in procedure). Mustahil pula suatu kebenaran yang
diharapkan akan dapat diperoleh melalui persidangan ini apabila Terdakwa dihadapkan pada
surat dakwaan penuntut umum yang tidak dirumuskan secara cermat, jelas dan lengkap
mengenai tindak pidana yang didakwakan, oleh karena dalam hal demikian sudah pasti
Terdakwa termasuk advokatnya tidak akan dapat menyusun pembelaan bagi Terdakwa
dengan sebaik-baiknya.
Oleh karena itu melalui kesempatan ini Terdakwa dan advokatnya memohon kepada Majelis
Hakim yang memeriksa perkara ini untuk dapat memberikan tempat yang selayaknya bagi
keberatan ini dalam putusan yang akan diambil oleh Majelis Hakim setelah Penuntut Umum
menyatakan pendapatnya.

II. Surat Dakwaan Penuntut Umum


Bahwa pada tanggal 28 Juli 2015 SAUDARA Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri
Banda Aceh , telah membacakan Surat Dakwaan No. Reg. Perkara PDM -99/BA/0710 untuk
selanjutnya disebut juga: SURAT DAKWAAN;
Bahwa dalam Surat Dakwaan tersebut Penuntut Umum telah mendakwa Para Terdakwa
dengan Dakwaan Tunggal Yaitu Melanggar Pasal 362 KUHP yaitu Pada Hari Rabu Tanggal
14 Desember 2014 Sekira Pukul 14.00 WIB melakukan Tindak Pidana Pencurian atau
Mengambil 30 ( Tiga Puluh ) Batang Bambu..Di Katapiang Jorong Pasar Jumat Nagari
Tanjung Bingkung Kecamatan Kubung Kabupaten Solok dan Bambu Yang Diambil Para
3

Terdakwa adalah Milik Saki Korban Maizal DT.Paduko Sutan dan Kaumnya DT.Rajo Indo
Alam .
Terhadap Surat Dakwaan ini Terdakwa mengatakan ,bahwa Dakwaan atau Tuduhan ini
adalah Tidak benar dan Bohong Sama Sekali . Bahwa Surat Dakwaan ini adalah Surat
Dakwaan Palsu dan Jaksa Penuntut Umum telah Membuat Surat Dakwaan Palsu .

III. Dasar hukum mengenai keberatan

Bahwa dasar hukum mengenai keberatan terdakwa atau advokat terhadap Surat Dakwaan
penuntut umum diatur dalam Pasal 156 Ayat (1) KUHAP yang pada pokoknya menyatakan
bahwa terdakwa atau advokatnya dapat mengajukan keberatan bahwa pengadilan tidak
berwenang mengadili perkaranya atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan
harus dibatalkan;
Bahwa oleh karena Terdakwa tidak bermaksud mengajukan keberatan mengenai pengadilan
tidak berwenang mengadili perkaranya, maka yang akan mendapat pembahasan di sini adalah
keberatan mengenai dakwaan tidak dapat diterima atau Tuntutan Penuntut Umum Tidak
Dapat Diterima.
Bahwa yang dimaksud dengan keberatan mengenai dakwaan tidak dapat diterima adalah
keberatan yang diajukan apabila surat dakwaan yang diajukan mengandung cacat formal atau
mengandung kekeliruan beracara (error in procedure).

IV. MATERI EKSEPSI/KEBERATAN

Majelis Hakim Yang kami Muliakan,

Seperti dikemukakan di atas, Terdakwa hanya akan mengemukakan keberatan mengenai


dakwaan tidak dapat diterima tersebut yang kemudian akan diakhiri dengan suatu kesimpulan
dan permohonan.

Keberatan mengenai dakwaan tidak dapat diterima

Bahwa ketentuan Pasal 140 Ayat (1) KUHAP dengan tegas telah menentukan bahwa dalam hal
penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapat dilakukan penuntutan, ia dalam
waktu secepatnya membuat surat dakwaan;

Bahwa ketentuan ini mengisyaratkan bahwa penuntut umum baru boleh membuat surat dakwaan
apabila penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapat dilakukan penuntutan
dan ini berarti apabila dari hasil penyidikan tidak dapat dilakukan penuntutan, ia belum atau
tidak boleh membuat surat dakwaan;

Bahwa ketentuan ini pun mengisyaratkan bahwa hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik
merupakan dasar dalam pembuatan surat dakwaan, sesuai dengan pendapat yang dikemukakan
oleh H.M.A. KUFFAL dalam bukunya Penerapan KUHAP dalam Praktek Hukum (Penerbitan
Universitas Muhammadiyah Malang, Malang, 2003, halaman 221) yang menyatakan:

Surat Dakwaan adalah sebuah akte yang dibuat oleh penuntut umum berisi perumusan tindak
pidana yang didakwakan kepada terdakwa berdasarkan kesimpulan dari hasil penyidikan.

Bahwa oleh karena surat dakwaan itu dibuat berdasarkan disusun berdasarkan kesimpulan dari
hasil penyidikan, maka dengan sendirinya apabila hasil penyidikan itu mengandung cacat formal
4

atau mengandung kekeliruan beracara (error in procedure), maka surat dakwaan itu pun menjadi
cacat formal atau mengandung kekeliruan beracara (error in procedure);

Bahwa oleh karena itu untuk mengukur sejauh mana hak-hak asasi tersangka telah dirugikan
oleh penyidik dalam penyidikan atau untuk mengukur sejauh mana Surat Dakwaan Penuntut
Umum telah mengalami cacat formal atau kekeliruan beracara (error in procedure), maka hal itu
tergantung selain pada sejauh mana penuntut umum dalam membuat surat dakwaannya, juga
pada sejauh mana penyidik dalam melakukan penyidikan telah memenuhi ketentuan-ketentuan
yang telah digariskan dalam KUHAP;

Bahwa oleh karena semua atau sebagian besar hasil penyidikan penyidik telah tertuang dalam
Berkas Perkara yang dibuat oleh penyidik pada Polsek Kuta Alam Nomor : BP /
04/III/2015/Reskrim Tanggal 23 Maret 2015 , selanjutnya disebut juga: BERKAS PERKARA,
maka untuk keperluan penyusunan KEBERATAN ini selain Surat Dakwaan Penuntut Umum,
Berkas Perkara yang dibuat oleh penyidik itu juga akan menjadi bahan analisis yang sangat
penting dalam KEBERATAN ini;

Bahwa oleh karena keterbatasan waktu yang tersedia, maka dalam penyusunan KEBERATAN ini
Terdakwa atau advokatnya tidak dapat menganalisis seluruh bagian dari Berkas Perkara yang
dibuat oleh penyidik tersebut dan karena itu Terdakwa atau advokatnya hanya akan
mengemukakan beberapa cacat formal atau kekeliruan beracara (error in procedure) seperti
diuraikan di bawah ini;

Bahwa akan tetapi Terdakwa atau advokatnya yakin bahwa oleh karena cacat formal atau
kekeliruan beracara (error in procedure) yang terjadi baik dalam Surat Dakwaan Penuntut Umum
maupun selama dalam tahap penyidikan itu cukup mengganggu fondamen penegakan hukum,
khususnya bagi penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia yang telah diamanatkan oleh
pembentuk undang-undang melalui KUHAP, maka sangatlah diharapkan Majelis Hakim mau
memberi tempat yang selayaknya bagi KEBERATAN yang Terdakwa atau advokatnya

Pembuatan Surat Dakwaan telah dilakukan oleh Penuntut Umum secara menyimpang dari hasil
penyidikan, sehingga penuntutan dalam perkara ini merupakan pelanggaran terhadap ketentuan
Pasal 140 Ayat (2) Huruf a KUHAP dan Pasal 8 Ayat (4) Undang-undang No. 16 Tahun 2004
tentang Kejaksaan Republik Indonesia

Bahwa ketentuan Pasal 140 Ayat (1) KUHAP dengan tegas telah menentukan:

Dalam hal penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapat dilakukan penuntutan,
ia dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan.

Bahwa ketentuan ini membawa konsekuensi juridis bahwa surat dakwaan penuntut umum harus
dibuat berdasarkan hasil penyidikan, sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh H.M.A.
KUFFAL dalam bukunya Penerapan KUHAP dalam Praktek Hukum (Penerbitan Universitas
Muhammadiyah Malang, Malang, 2003, halaman 221) yang menyatakan:
Surat Dakwaan adalah sebuah akte yang dibuat oleh penuntut umum berisi perumusan tindak
pidana yang didakwakan kepada terdakwa berdasarkan kesimpulan dari hasil penyidikan.

Bahwa yang lebih tegas lagi adalah seperti yang dikemukakan oleh Leden Marpaung dalam
bukunya Proses Penanganan Perkara Pidana. Bagian Kedua di Kejaksaan dan Pengadilan
Negeri, Upaya Hukum dan Eksekusi (Sinar Grafika, Jakarta, 1992, halaman 434) sebagai
5

berikut:

Hasil penyidikan yang dihimpun dalam bundel/ berkas disebut berkas perkara. Berkas perkara
tersebut tidak dapat dipisahkan dengan surat dakwaan karena surat dakwaan tersebut bermula
dari berkas perkara. Jika surat dakwaan dengan berkas tidak nampak keterkaitannya maka
dakwaan tersebut dapat dinyatakan Hakim/pengadilan negeri tidak dapat diterima.

Bahwa apakah Penuntut Umum telah membuat Surat Dakwaannya dalam perkara ini dengan
mendasarkan pada hasil penyidikan tanpa menghilangkan bagian-bagian tertentu yang menurut
Terdakwa dapat menguntungkan Terdakwa atau dengan menambahkan bagian-bagian tertentu
yang menurut Terdakwa dapat merugikan Terdakwa;

Bahwa untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus dilihat pada Surat Dakwaan Penuntut Umum
dan membandingkannya dengan hasil penyidikan sebagaimana tertuang dalam Berkas Perkara
yang dibuat oleh penyidik;

Bahwa dari hasil pembandingan yang telah dilakukan secara cermat ternyata terdapat bagian-
bagian tertentu yang dihilangkan atau disembunyikan oleh Penuntut Umum dan terdapat pula
bagian-bagian tertentu yang ditambahkan oleh Penuntut Umum sehingga seolah-olah memang
demikianlah fakta hukum yang terjadi dalam perkara ini;

Bahwa apabila dikaji lebih dalam ternyata bagian-bagian tertentu yang dihilangkan atau
disembunyikan oleh Penuntut Umum adalah bagian-bagian yang sangat merugikan posisi
Terdakwa, dan sebaliknya bagian-bagian tertentu yang ditambahkan oleh Penuntut Umum adalah
bagian-bagian yang dapat menguntungkan posisi Saksi Korban Maizal Dt.Panduko Sutan.
Bahwa Didalam Proses Penyidikan Para Terdakwa telah menerangkan ,bahwa Bambu Bambu
yang mereka Ambil Tersebut terletak di Jorong Pasar ikan penayong Kecematan Kuta Alam Kota
Banda Aceh dan Selama ini mereka yang menguasainya dan Keluarga Mereka lah Yang
membayar Pajak Bumi Bangunannya .

Bahwa Pohon Bambu Tersebut mereka jual kepada Saksi Farida setelah dapat izin dari Mamak
Kepala Waris Dalam Kaumnnya Asli Dt.Paduko Alam .
Bahwa Didalam Surat Dakwaannya Penuntut Umum mengatakan pada pokoknya Mereka
Terdakwa I ,II,III tersebut telah mengambil sesuatu barang berupa 30 ( Tiga Puluh ) Batng
bambu , bambu tersebut seluruhnya atau sebagiannya adalah Milik dari Saksi Korban MAIZAL
DT.Paduko Sutan dan kaumnya yaitu kaum Dt.Rajo Indo Alam yang diperoleh secara turun
temurun. .
Para Terdakwa Mengambil Bambu tersebut tanpa setahu dan seizin dari pemiliknya Yaitu Maizal
DT.Paduko Sutan Sebagai Mamak Kepala Waris Dalam KaumDT.Rajo Indo Alam Suku Caniago
Pinang Taba Nagari Tanjung Bingkuang .
Bahwa Pohon Bambu Tersebut bukanlah Milik dari Maizal Dt.Paduko Sutan akan Tetapi Milik
dari Asli Dt.Paduko Alam dan Kaumnya dan Terdakwa adalah Anggota Kaumnya .
Bahwa MAIZAL DT.PADUKO SUTAN tidak menguasai secara fisik dan Secara Yuridis Tanah
Tempat dari Bambu bambu tersebut Tumbuh dan selama ini yang menguasai dan Mengolah
Bambu tersebut adalah Kaum Asli Dt.Paduko Alam Suku Caniago Pinang Taba Nagari Tanjung
Bingkuang karena Bambu tersebut berada di Tanah Ulayat Kaum Mereka dan Diatas Tanah
Ulayat Kaum Asli Dt.Paduko Alam Yang Telah Dikuasai Secara Turun Temurun terdapat Pohon
Bambu ,Pohon Kopi Dan Tanaman Keras Lainnya serta ada Pandam Perkuburan ada Rumah
Gadang dan Juga Ada Rumah Anggota Kaum lainnya dan Pihak Saksi Korban MAIZAL
DT.Paduko Sutan Tidak Menguasai Tanah Lokasi Bambu tersebut Tumbuh .
6

Bahwa Benar MAIZAL DT.PADUKO SUTAN telah membuat Pernyataan sepihak yang belum
diuji kebenarannya secara Hukum bahwa Dia adalah Mamak Kepala waris ,bahwa Dia Adalah
Waris Dari DT.Rajo Indo Alam dan Maizal Dt.Paduko Sutan juga membuat Pernyataan sepihak
bahwa Tanah Tempat Bambu ini tumbuh adalah Miliknya dan MAIZAL DT.Paduko Sutan Yang
Menguasainya .
Bahwa Benar Antara Pihak Asli Dt.Paduko Alam dan Kaumnya dan Maizal Dt.Paduko Sutan dan
Kaumnya terlibat sengketa Perdata yang dikenal dengan Perkara Perdata
No.01/PDT.G/2014/PN.BA dan Perkara ini dalam Pemeriksaan Kasasi dan berkekekuatan
Hukum tetap .
Berdasarkan Uraian kami diatas maka Surat Dakwaan Dari Penuntut Umum masih terlalu
Prematur ( Belum Waktunya ) untuk Diajukan kedepan Persidangan Pengadilan Negeri Kota
Banda Aceh dan Perkara Pidana ini terkandung Sengketa Kepemilikan dan harus Diperjelas dulu
secara Hukum Perdata .
Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1956 (Perma 1/1956). dalam pasal 1 Perma 1/1956
tersebut dinyatakan:
Apabila pemeriksaan perkara pidana harus diputuskan hal adanya suatu hal perdata atas suatu
barang atau tentang suatu hubungan hukum antara dua pihak tertentu, maka pemeriksaan perkara
pidana dapat dipertangguhkan untuk menunggu suatu putusan Pengadilan dalam pemeriksaan
perkara perdata tentang adanya atau tidak adanya hak perdata itu.
Jadi, apabila ada suatu perkara pidana yang harus diputuskan mengenai suatu hal perdata atau
ada tentang suatu hubungan hukum antara dua pihak tertentu, pemeriksaan perkara pidana
tersebut dapat ditangguhkan, menunggu putusan Pengadilan.
Penundaan perkara pidana tersebut di atas juga dapat didasarkan pada yurisprudensi MA,
putusan No. 628 K/Pid/1984. Dalam putusan ini, MA memerintahkan Pengadilan Tinggi
Bandung untuk menunggu adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, yang
memutuskan mengenai status kepemilikan tanah.
Berdasarkan fakta ini, kami sebagai Penasehat hukum Terdakwa menilai tuntutan JPU masih
bergantung kepada badan peradilan lain sehingga tuntutan dinilai prematur. Karenanya,
penuntutan dinyatakan tidak dapat diterima dan terdakwa harus lepas dari segala tuntutan
hukum,
Karena itu kami sependapat dengan Ahli Hukum Pidana Hoenagels yang menyebutkan
Jangan menggunakan Hukum Pidana untuk mempidana Perbuatan yang tidak jelas korbannya
dan Kerugiannya.
Jika ada Sengketa mengenai Hak Milik atas Atas Tanah /Bambu yang menjadi Objek Sengketa
dimana ada 2 ( Dua ) Orang atau lebih sama sama mengaku berhak atas Tanah /Bambu Tersebut
,maka terlebih dahulu harus diselesaikan secara perdata hingga mendapatkan kekuatan hokum
tetap karena proses secara pidana merupakan upaya terakhir .

Bahwa Sudah Menjadi Pengetahuan Umum bahwa Yang Tinggal Di Lokasi Tempat Pohon
Bambu tersebut tumbuh adalah Keluarga dan Kaum Terdakwa Dengan Mamak Kepala waris atau
Lelaki Tertuanya adalah ASLI DT.PADUKO ALAM .
Bahwa andaikata Sdr.MAIZAL DT.PADUKO SUTAN merasa berhak atas Pohon Bambu
Tersebut seharusnya yang bersangkutan menempuh Jalur Hukum Perdata dengan Mengajukan
Gugatan ke Pengadilan bukan dengan cara cara seperti ini yaitu secara tidak langsung telah
melakukan PERAMPASAN KEBEBASAN SESEORANG .
Bahwa Hukum kita tetap memberikan Perlindungan kepada Seseorang yang menguasai sesuatu
barang dan Pihak MAIZAL DT.PADUKO SUTAN telah Main Hakim sendiri karena tidak ada
Satu Putusan Pengadilan Yang Berkekuatan Hukum Tetap Yang Mengatakan bahwa Tanah
tempat Bambu tersebut tumbuh adalah Miliknya dan Main Hakim Sendiri tidak dibenarkan
dalam suatu Masyarakat yang Teratur .
7

Bahwa Kasus ini adalah merupakan Kasus Rekayasa Mereka pelakunya adalah Segilintir
Orang yang Profesional Litigator ( Tukang Pembuat Perkara ).Sangat disayangkan Saudara
Penuntut Umum dalam kasus Terdakwa ini ikut hanyut dalam Permainan Tukang Pembuat
Perkara dengan memperkosa kaedah-kaedah Hukum untuk Maksud maksud tertentu dan
dengan Tujuan Tertentu..
Kegagalan Pengakan keadilan adalah merupakan Persoalan Universal dan Aktual yang dihadapi
oleh Hampir semua bangsa dalam menegakkan Sistem Peradilan Pidananya .Seorang Pejabat
yang mempunyai kuasa dan Wewenang menegakkan Hukum dan Keadilan ,ternyata
menggunakan Kuasa dan Wewenang yang ada pada nya justru untuk memberi ketidak adilan .
Seharusnya Saudara Penuntut Umum tidak mengeluarkan P.21 ( Menyatakan Berkas Lengkap )
dalam Perkara ini karena Sdr. Penuntut Umum mengetahui dari awalnya Kejadian Perkara ini
dan Tidak perlu juga Jaksa Penuntut Umum Meminta Penyidik Melakukan Penahanan setelah
Berkas Perkara Dinyatakan Lengkap .
Bahwa Perkara Pidana Terdakwa Terdakwa ini telah menjadi Masalah Nasional dan Beberapa
Media Massa memberikan Perhatian terhadap masalah ini .
Beberapa Keanehan dalam Perkara ini adalah :
1. Bahwa Penyidik Melakukan Penahananan setelah Berkas Perkara Dinyatakan Lengkap .
( P.21 ) 23 Juli 2015 S/d 26 Juli 2015.
2. Bahwa Penuntut Umum Didalam Proses Penuntut Umum hanya melakukan Penahanan
selama 2 ( Dua ) Hari yaitu dari Tanggal 27 Juli 2015 S/D 28 Juli 2015.
Bahwa Pada Tanggal 29 Juni 2010 salah seorang Anggota Devisi Hukum Mabes Polri didalam
Wawancara Ekselusif dengan Wartawan mengatakan Seharusnya Penyidik dari Polsek Kuta
Alam tidak Melakukan Penahanan karena Berkas Perkara Sudah Lengkap dan Penyidikan
Telah Berakhir dan Tugas Penyidik Hanya menyerahkan Tersangka kepada Jaksa Penuntut
Umum Di Kejaksaan Negeri Kota Banda Aceh .

Bahwa diduga ada Makelar Kasus Dalam Perkara ini dari Investigasi dilapangan ditemukan
beberapa Kali Hubungan telepon antara Saksi Korban MAIZAL DT.PADUKO SUTAN dan
Beberapa Petinggi di Kejaksaan Negeri Solok dan Markus Perkara ini ( Mr . BB MSC )
Untuk Membuktikan Persoalan ini supaya jangan ada Dusta Diantara Kita beberapa Nomor
Telepon Telah dalam Proses Penyadapan Pihak Yang Berwajib dan Kita Tunggu Hasilnya Nanti
karena Kebenaran akan Muncul dari Hal Yang Tidak Terduga .

Majelis Hakim dan Saudara Penuntut Umum Yang kami Hormati.


Pesan Junjungan Kita Nabi Muhammad S.A.W.
Menegakkan Keadilan satu jam sama dengan beribadah 60 Tahun. Berbuat Tidak Adil Satu Jam
Sama Dengan berbuat Maksiat 60 Tahun ( Hadist )..
Bahwa Didalam Perkara Pidana Atas Nama CARLOS LUIS ini kami ingin menyampaikan suatu
pesan kepada Terdakwa dan Keluarganya Maka Bersabarlah ,sesungguhnya Janji Allah itu pasti
dan benar Serta Keadilan dan Kebenaran pasti akan muncul besok pagi dan Kepada Sdr.Jaksa
Penuntut Umum karena Saudara Telah tersesat dalam Perkara ini dan telah menzalimi Terdakwa
CARLOS LUIS dan Keluarganya Mohon Ampun lah bagi dosamu dan bertasbihlah dengan
memuji Tuhanmu diwaktu Petang dan Pagi Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang ( Q.S. Annisa ). .

Majelis Hakim dan Saudara Penuntut Umum dan Persidangan yang kami hormati.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa eksepsi merupakan bagian dari Pleidoi dan merupakan
Ujung Tombak dari Pleidoi yang amat penting untuk mematahkan Argumentasi-argumentasi
Saudara Penuntut Umum yang telah membawa suatu yang tidak mempunyai dasar hukum untuk
diajukan sebagai perkara pidana.,bukan rahasia lagi bahwa banyak Oknum Penyidik
8

menggunakan Peradilan Pidana sebagai alat Untuk untuk memuaskan rasa dendamnya kepada
seseorang yang tidak memenuhi keinginannya..

Suatu perkara yang tidak ada dasar hukumnya untuk dipidanakan ,dibawa ke Pengadilan dengan
dalih Nanti Pengadilan saja yang membuktikan bahwa sdr.bersalah atau tidak
Sebaliknya Sdr.Penuntut Umum kadang-kadang juga lupa ,bahwa adakalanya karena merasa
sesama Pegawai Negeri harus ada tenggang rasa ,sehingga berusaha tidak mengecewakan oknum
penyidik dan menruskan Perkara Pengadilan..
Rupanya mereka lupa bahwa Allah mengamati Tingkah laku mereka..

Majelis Hakim Yang Terhormat. Saudara Penuntut Umum dan persidangan yang kami hormati.
Kami Penasehat Hukum Terdakwa ,memohon dengan sangat agar majelis Hakim dapat meneliti
Perkara TERDAKWA CARLOS LUIS Dkk yang diajukan oleh Sdr.jaksa Penuntut Umum yang
nyata-nyata telah memaksakan Suatu keadaan sehingga terlihat benar-benar suatu tindak pidana
telah dilakukan Terdakwa..
Sekiranya Majelis Hakim meyakini Dakwaan Saudara Penuntut Umum tidak mempunyai dasar
hukum atau kabur /tidak jelas untuk diajukan kepersidangan dan Mohon Dikabulkan Eksepsi ini
dan kami menuntut keadilan Formil .
Dengan alasan sebagai berikut , dalam keadilan formal atau keadilan hukum acara , Majelis
hakim harus memberikan perlakukan yang sama kepada pihak..berlainan dalam
Keadilan subtantif ,tidak boleh memperlakukan sama ,melainkan harus sesuai dengan bagian
yang wajar dan patut. Keadilan Subtantif tidak boleh menyama ratakan Tiap kasus harus
dipertimbangkan sendiri-sendiri..

V. KESIMPULAN DAN PERMOHONAN.


Bahwa Dakwaan Penuntut Umum harus Dinyatakan Tidak Dapat Diterima atau Tuntutan
Penuntut Umum harus Ditanguhkan Terlebih dahulu karena ada Perselisihan Prayudisial
sebagai mana diatur dalam Pasal 81 KUHP.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut diatas karena Eksepsi atau Keberatan dari Penasehat
Hukum Terdakwa beralasan ,maka mohon dengan hormat agar majelis Hakim memberikan
Putusan Yang amarnya berbunyi :
Menyatakan Eksepsi dari Penasehat Hukum Terdakwa dapat diterima.
Menyatakan Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Tidak Dapat Diterima .
Menyatakan Perkara ini tidak dapat dilanjutkan pemeriksaannya atau Setidak- tidaknya
Menunda Pemeriksaan Perkara Pidana Carlos Luis.Dkk karena ada Perselisihan
Prayudisial.
Menetapkan Mengembalikan Berkas Perkara kepada Penuntut Umum dari Kejaksaan
Negeri Banda Aceh.
Menetapkan Perkara A.n.Terdakwa Carlos Luis,Dkk ,dicoret dari Register Perkara.
Pidana
Memerintahkan agar Terdakwa dibebaskan dari Tahanan.
Membebankan Biaya Perkara Kepada Negara.
Demikianlah eksepsi atau Keberatan ini kami bacakan pada persidangan hari ini ,atas
perhatian dan pertimbangan Majelis hakim diucapkan terima kasih. Semoga Tuhan yang
Maha Esa selalu memberkahi kita semua.

Kota Banda Aceh , 5 Agustus 2015.


Hormat kami.
Penasehat Hukum Terdakwa .

Najmul Kamal.SH.
9