Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MAKALAH

FITOKIMIA

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK III

JUNAEDY ( F201601200 )

SUDARSO ( 201601201

FERDAWATI ( 201601202 )

MUSBAN JAYA MAKUASA ( 201601203 )

NELA ARJUNITA M ( 201601204 )

NILUH YENIATI ( 201601205 )

ASRIANTI MADJID ( 201601206 )

PROGRAM STUDI FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MANDALA WALUYA
KENDARI
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena Hidayah-

Nyalah tugas maklah Kimia Medisinal II mengenai Hubungan Struktur Dan

Aktivitas Antidiabetik Oral Turunan Sulfonamida Dan Biguanida ini dapat

terelesaikan.

Dalam penyusunan tugas ini kami sebagai penulis mengambil referensi atau

materi dari internet dan buku panduan yang terkait dengan materi ini, kemudian

kami susun dan rangkum menjadi bentuk yang lebih terperinci.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas makalah ini masih

terdapat kekurangan kekurangan untuk itu kami sebagai penulis mengharapkan

kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penyusun tugas yang berikutnya

bisa lebih baik lagi.

Wassalamualaikum Wr.Wb .

Kendari, 14 Januari 2017

Pe
nyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........ i

KATA PENGANTAR .................. ii

DAFTAR ISI .. iii

BAB I PENDAHULUAN ................. 1

A. Latar Belakang .......... 1

B. Rumusan Masalah ................. 3

C. Tujuan Penulisan ...................... 4

D. Manfaat Penulisan ................ 4

BAB II PEMBAHASAN .............. 5

A. Definisi Diabetes Melitus ....................................... 5

B. Patofisiologi Diabetes Melitus ................. 6

C. Manifestasi Klinik ................................. 7

D. Obat Oral Anti Diabetes ..................................... 8

BAB III PENUTUP ........................ 13

A. Kesiimpulan ........................... 13

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia menduduki peringkat keempat dunia dengan penderita

diabetes mellitus terbesar. Total penderita diabetes mellitus di Indonesia

berdasarkan data WHO, saat ini sekitar 8 juta jiwa, dan diperkirakan

jumlahnya melebihi 21 juta jiwa pada tahun 2025 mendatang. Jumlah tersebut

menjadikan Indonesia sebagai negara peringkat keempat penderita diabetes

terbesar setelah Cina, India, dan Amerika. Sementara jumlah penderita

diabetes di dunia, mencapai 200 juta jiwa. Diprediksi angka tersebut terus

bertambah menjadi 350 juta jiwa pada tahun 2020 (Anonim, 2008).

Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada

seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula

(glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif

(Suyono, 2005). DM merupakan penyakit yang menjadi masalah pada

kesehatan masyarakat. Oleh karena itu DM tercantum dalam urutan

keempat prioritas penelitian nasional untuk penyakit degeneratif setelah

penyakit kardiovaskuler, serebrovaskuler, rheumatik dan katarak (Saraswati,

2009).

Diabetes adalah salah satu diantara penyakit tidak menular yang

akan meningkat jumlahnya dimasa mendatang. Diabetes merupakan

salah satu ancaman utama bagi kesehatan umat manusia abad 21. WHO
membuat perkiraan bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidap diabetes diatas

umur 20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25

tahun kemudian, pada tahun 2005 jumlah itu akan membengkak menjadi

300 juta orang (Suyono, 2005). Diabetes mellitus tipe II merupakan

tipe diabetes yang lebih umum, lebih banyak penderitanya dibandingkan

Diabetes Mellitus tipe I. Penderita diabetes mellitus tipe II mencapai 90-

95 % dari keseluruhan populasi penderita DM (Anonim, 2008).

Diabetes Mellitus (DM) pada geriatri terjadi karena timbulnya

resistensi insulin pada usia lanjut yang disebabkan oleh 4 faktor : pertama

adanya perubahan komposisi tubuh, komposisi tubuh berubah menjadi air

53%, sel solid 12%, lemak 30%, sedangkan tulang dan mineral menurun

1% sehingga tinggal 5%. Faktor yang kedua adalah turunnya aktivitas fisik

yang akan mengakibatkan penurunan jumlah reseptor insulin yang siap

berikatan dengan insulin sehingga kecepatan transkolasi GLUT-4

(glucosetransporter-4) juga menurun. Faktor ketiga adalah perubahan

pola makan pada usia lanjut yang disebabkan oleh berkurangnya gigi geligi

sehingga prosentase bahan makanan karbohidrat akan meningkat. Faktor

keempat adalah perubahan neurohormonal, khususnya Insulin Like

Growth Factor-1 (IGF-1) dan dehydroepandrosteron (DHtAS) plasma

(Nabyl, 2009).

Prevalensi DM pada lanjut usia (geriatri) cenderung meningkat,

hal ini dikarenakan DM pada lanjut usia bersifat muktifaktorial yang

dipengaruhi faktor intrinsik dan ekstrinsik. Umur ternyata merupakan salah


satu faktor yang bersifat mandiri dalam pengaruhnya terhadap perubahan

toleransi tubuh terhadap glukosa. Dari jumlah tersebut dikatakan 50%

adalah pasien berumur > 60 tahun (Tjahjadi, 2007).

Pada sebuah penelitian oleh Cardiovascular Heart Study (CHS) di

Amerika dari tahun 1996-1997 didapati hanya 12 % populasi lanjut usia

dengan DM yang mencapai kadar gula darah di bawah nilai acuan yang

ditetapkan American Diabetes Association. Pada penelitian tersebut juga

diketahui 50% dari lanjut usia dengan DM mengalami gangguan pembuluh

darah besar dan 33% dari jumlah tersebut aktif mengkonsumsi aspirin.

Disisi lain banyak dari populasi lanjut usia dengan DM memiliki tekanan

darah > 140/90 mmHg, hanya 8% lanjut usia dengan kadar kolesterol

LDL < 100 mg/dl (Anonim, 2004). Banyaknya obat yang diresepkan untuk

pasien usia lanjut akan menimbulkan banyak masalah termasuk polifarmasi,

peresepan yang tidak tepat dan ketidakpatuhan. Setidaknya 25% obat yang

diresepkan untuk pasien usia lanjut tidak efektif (Anonim, 2008).

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan antidiabetik oral ?


2. Apa saja patofisiologi dari diabetes mellitus ?
3. Apa saja manifestasi dari penyakit diabetes mellitus ?
4. Apa saja farmakoterapi penyakit diabetes mellitus dan jelaskan hubungan

struktur dan aktivitasnya turunan sulfonamida dan biguanida ?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui antidiabetik oral ?


2. Untuk mengetahui patofisiologi dari diabetes mellitus ?
3. Untuk mengetahui manifestasi dari penyakit diabetes mellitus ?
4. Untuk mengetahui hubungan struktur dan aktivitasnya antidiabetik oral

turunan sulfonamida dan biguanida ?

D. Manfaat penulisan

Adapun manfaat penulisan adalah Untuk memberikan informasi

kepada pembaca tentang Apa antidiabetik oral itu, Bagaimana patofisiologi

dari diabetes militus ini, Ada berapa jenis penyakit ini, Apa enyebab

timbulnya penyakit ini, Konplikasi apa saja yang terjadi pada penyakit ini,

serta Bagaimana cara menanganinya dan bagaimana hubungan struktur

aktivitas antidiabetik oral turunan sulfonamida dan biguanida.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Diabetes Melitus


Diabetes mellitus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan

hiperglikemi yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme

karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi

insulin atau penurunana sensitivitas insulin, atau keduanya dan menyebabkan

komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular dan neuropati.


Hubungan Struktur Aktivitas Obat Antidiabetes Oral yaitu:

Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis

dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya

toleransi karbohidrat.
Obat Antidiabetes (Hipoglikemik) oral merupakan

Senyawa kimia yang dapat menurunkan kadar gula darah dan diberikan

secara oral.

Insulin merupakan Senyawa kimia yang dapat menyebabkan efek

hipoglikemia dengan cara meningkatkan penggunaan karbohidrat dan lemak

dalam jaringan perifer, insulin bekerja dengan memudahkan pemasukan

glukosa, asam amino dan ion-ion terutama Ca 2+ dengan mempengaruhi

proses dalam sel.

Mekanisme kerja tempat kerja insulin adalah pada permukaan luar

membran sel. Pengaruh insulin terhadap siklik nukleotida tidak jelas,

penurunan kadar siklik AMP pada beberapa jaringan telah di rangsang oleh

hormon lain. Secara tersendiri, penurunan kadar AMP tidak jelas. Beberapa

penelitian mendapatkan bahwa adeniksiklase dihambat, sedangkan enzim

fosfodiesterase dirangsang. Sintesa glikogen dan glikogenalisis tergantung


dari rangkaian reaksi fosforilasi protein. Siklik AMP mengaktivasi

proteinkinase dengan akibat perangsangan dan hambatan glukoneogenesis.

Insulin bekerja sebaliknya yaitu ke arah sintesis glikogen, insulin

medefosfiorilasi enzim-enzim tertentu dengan akibat terjadi penghambatan

glikogenilisis dan lipolisis insulin meningkatkan K+ ke dalam sel, efek serupa

sampai terjadi pada Mg++, dan diduga ion-ion bertindak second messenger

yang memperantarai kerja insulin. Kerja insulin dibagi 2 golongan yaitu yang

pertama berperan pada transport beberapa zat, dan mempengaruhi suatu

enzim. Berdasarkan struktur kimianya obat antidiabetes terbagi atas 3

golongan yang diantaranya, Turunan Sulfonilurea, Turunan Biguanida dan

Turunan Lain-lain.

B. Patofisiologi Diabetes Melitus


Diabetes mellitus terdiri dari beberapa tipe yakni :
1. Diabetes Melitus Tipe 1 (IDDM)
DM tipe 1 terjadi pada 100% dari semua kasus diabetes. Secara

umum disebabkan oleh kerusakan sel -pankreas akibat autoimun,

sehingga terjadi defisiensi insulin absolut. Reaksi autoimun umunya terjadi

setelah waktu panjang (9-13 tahun) yang ditandai pleh adanya parameter-

parameter sistem imun rusak. Penyakit DM dapat menjadi penyakit

menahun dengan resiko komplikasi dan kematian, Faktor-faktor yang

menyebabkan terjadinya autoimun tidak diketahuim tetapi proses itu

diperantai oleh makrofag dan limfosit T dengan autoantibodi yang

betsirkulasi ke berbagai antigen sel (misalnya antibodi sel islet,

antibody insulin.
2. Diabetes Melitus Tipe 2 (NIDDM)
DM tipe 2 terjadi pada 90% dari semua kasusu diabetes dan

biasanya deitandai dengan resistensi insulin dan defisiensi insulin relative.

Resistensi insulin ditandai dengan peningkatan lipolysis dan produksi

asam lemak bebas peningkatan produksi glukosa hepatik, dan penurunan

pengambilan glukosa pada otot skelet. Disfungsi sel mengakibatkan

gangguan pada pengontrolan glukosa darah. DM tipe 2 lebih disebabkan

karena gaya hidup penderita diabtes (kelebihan kalori, kurangnya

olehraga, dan obesitas) dibandingkan pengaruh genetic.


3. Diabetes yang disebabkan oleh faktor lain
Diabetes yang disebabkan oleh faktor lain (1-2% dai semua kasus

diabetes) termasuk golongan enddokrin (misalnya akromegali, sindrom

Cushing), diabetes mellitus gestational (DMG), penyakit pankreas

eksokrin (pankreatitis), dank arena obat (glukortikoid, pentamidinm niasin

dan interferon)

C. Manifestasi Klinik
1. Diabetes Tipe 1
Penderita DM tipe 1 biasanya memiliki tubuh yang kurus den

cenderung berkembang menjai diabetes ketoasidosis (DKA)


Sejumlah 20-40% pasien mengalami DKA setelah beberapa hari

mengalami polyuria, polydipsia, polifagia dan kehilangan bobot badan


Gejala klink dari sedang dampai berat berkembang dengan cepat
Relatif keitannya dengan genetika dan terjadi dibawah usia 30 tahun

2. Diabetes Tipe 2
Pasien dengan DM tiep 2 sering simptomatik. Munculnya komplikasi

dapat megindikasikan bahwa pasien telah menderita DM selama

bertahun-tahun, umumnya muncul neuropati


Pada diagnosis umumnya terdeteksi adnanya letargi, poliuriam

nokturiam dan polydipsia sedangkan penurunana bobot badan secara

signifikan jarang terjadi.

D. Obat Oral Anti Diabetes


1. Sulfonilurea
a. Mekanisme kerja hubungan aktivitas
Golongan sufonilura, dapat merangsang pengeluaran insulin dari

sel -islet pankreatik, menurunkan pemasukan insulin endogen ke hati

dan menekan secara langsung pengeluaran glukogen. Pada umumnya

turunan sulfonylurea digunakan sebagai penunjang diet untuk

menurunkan kadar glukosa darah pada penderita dengan Non-Insulin-

Dependent Diabetes Melitus (NIDDDM). Efek samping turunan

sulfonylurea anatara lain reaksi alergi dan hipoglikemi, hioglikemi

dapat menyebabkan debil, ketauaan dan malnourished

b. Hubungan struktur dan aktivitas


Struktur umum :

Interaksi obat reseptor lebih serasi karena fungsi jarak khas

antara atom N substituen dengan atom N sulfonamida.


Keterangan:
R = gugus alifatik (asetil, amino, kloro, metil, metitio dan

trifluorometil) akan berpengruh terhadap masa kerja obat dan

meningkatkan aktivitas hipoglikemik. Bila R adalah gugus -

aril karboamidoetil (Ar-CONH-CH2-CH2-), seperti pada


glibenklamid dan glipizid, senyawa mempunyai aktivitas lebih

besar dibanding senyawa awal. Ini merupakan antidiabetes oral

generasi kedua. Diduga hal ini disebabkan oleh fungsi jarak

khas antara atom N substituent dengan atom N sulfonamide

sehingga interaksi obat reseptor lebih serasi.


R1 = Gugus aliftaik lain, yang berpengaruh terhadap sifat lipofil

senyawa
R1 = Metil, senyawa relatif tidak aktif
R1 = Etil, senyawa aktivitasnya lemah, dan bila senyawa

mengandung 3-6 atom C, aktivitasnya maksimal aktivitas

senyawa hilang bila mengandung atom C=12 rantai lebih.


R1 = Dapat pula berupa gugus alisiklik atau cincin heterosiklik yang

terdiri dari 5-7 atom, Bila berupa gugus aril senyawa

mnimbulkan toksisitas cukup besar. Beberapa gugus atau atom

pada struktur umum dapat diganti dengan gugus atau atom

isosteriknya.

c. Sifat farmakokinetik ADO turunan sulfnilurea contohnya:


1. Tolbutamid (Rastinon), diserap secara cepat dalam saluran cerna,

kadar obat dalam darah minimum dicapai setelah 5-8 jam pemberian

oral. Masa kerja tolbutamid relative pendek karena cepat mengalami

oksidasi pada gugus p-metil menjadi gugus karboksilat yang tidak

aktif. Dosis awal oral : 500 mg 1-2 dd, sebelum makan dan

kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan espons

penderita.
2. Klorpropamid (Diabenese), diserap secara cepat dalam saluran cerna.

Kadar maksimum obat dalam darah dicapai dalam 2-4 jam stelah

pemberian oral, waktu paro biologisnya 36 jam. Klorpropamid

menunjukkan efek hipoglikemik 1 jam setelah pemberian secara

oral, mencapai maksimum setelah 3-6 jam dan efeknya hilang

setelah 24 jam. Aktivitasnya kurang lebih 6 kali lebih besar

disebanding tolbutamid. Senyawa mempunyai masa kerja panjang

karena dimetabolisis dalam tubuh secara lambat. Dosis awal oral :

250 mg 1 dd, pada orang tua dosisnya diperkecil antara 100-125 mg

1 dd. Setelah 5-7 hari, kadar darah klorpromid akan mendatar dan

kemudian dosis diatur, dapat ditambah atau dikurangi, antara 50-125

mg, pada interval 3-5 hari untuk mendapatkan control yang optimal

3. Glikasid (Diamieron, Glikamel), diserap secara cepat dalam saluran

cerna, 85% obat terikat oleh protein plasma. Kadar obat dalam darah

maksimum dicapai setelah 2-4 jam pemberian oral, dengan waktu

paru eliminasi 10-12 jam. Dosis awal oral : 40-80 mg 1-2 dd,

sebelum makan, kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai

dengan respons penderita.

4. Glibenklamid (gliburil, Daonil, Eugleuon, Renabetik), adalah

turunan sulfonylurea yang mempunyai efek antidiabetes cukup kuat.

Dosis awal oral : 2,5 mg 1 dd, sebelum makan, dan kemudian

ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan respons penderita,

dengan dosis maksimum 10 mg/hari


5. Glipizid (Minidiab), merupakan turunan sulfonylurea dengan efek

antidiabetes yang kuat dicapai 30 menit setelah cepat dalam saluran

cerna, kadar obat dalam darah maksimum dicapai 30 menit setelah

pemberian oral. Dosisi awal oral : 2,5-5 mg 1 dd, sebelum makan,

dan kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan respons

penderita, maksimum 15 mg/hari, diberikan dalam dosis terbagi.

6. Glikuidon (Glurenorm), merupakan turunan sulfonylurea dengan

efek antidiabetes cukup kuat. Aktivitasnya kurang lebih 3 kali lebih

besar disbanding tolbutamid. Dosis awal oral : 15-30 mg 1 dd,

sebelum makan, kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai

dengan respons penderita, maksimum 90 mg/hari, diberikan dalam

dosis terbagi

2. Biguanid
a. Mekanisme Kerja hubungan aktivitas
Bekerja sebagai antidiabetes dengan cara menghambat

glukoneogenesis hepatik, menurunkan absorpsi glukosa di usus,

meningkatkan kesensitifsn reseptor terhadap insulin dan meningkatkan

glikolisis anaerobik sehingga meningkatkan penggunaan glukosa.

Biguanid tidak menyebabkan rangsangan sekresi insulin. Biguanid

bekerja dengan menurunkan produksi glukosa di hepar dan

meningkatkan sensitivitas jaringan otot dan adi posa terhadap insulin.

b. Hubungan struktur dan aktivitas


Struktur kimia :
Metformin memiliki subsituen 2 metil memberikan lipofilitas

lebih rendah daripada rantai sisi feniletil di phenformin, sehingga

metformin memiliki sifat yang kurang non polar dibanding phenformin.

Pada phenformin memiliki 10 atom karbon yang mengikat fenil dan

etil. Buformin memiliki 6 atom carbon dan mengikat metil dan etil.

Metformin memiliki 4 atom karbon dan mengikat 2 metil. Bila

diurutkan mulai dari senyawa polar hingga non polar, yaitu metformin,

buformin dan phenformin. Saat ini penggunaan buformin dan

phenformin dibeberapa Negara dilarang penggunaannya karena dapat

menyebabkan asidosis laktat.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Diabetes mellitus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan

hiperglikemi yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme


karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi

insulin atau penurunana sensitivitas insulin, atau keduanya dan menyebabkan

komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular dan neuropati.


Ada dua jenis diabetes yaitu diabetes tipe l dan diatetes tipe ll.

Diabetes tipe I diakibatkan karena tejadinya kerusakan pankreas sehingga

insulin harus di datangkan dari luar. Diabates tipe II atau disebut juga DM

yang tidak tergantung pada insulin yang disebabkan karena insulin yang tidak

dapat bekerja dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. Peran DIIT Dalam Penanggulangan Diabetes, Depkes RI

Guyton, A. C. 1990. Fisiologi Manusia Dan Mekanisme Penyakit. Edisi Ketiga.


Jakarta: EGC.

Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dan Klinik. Edisi Kedua. Surabaya:


Universitas Airlangga Press.
Mycek, M. J., Harvey, R.A., Champe, P. C. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar.
Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Widya Medika.

RA, Nabyl, 2009. Cara Mudah Mencegah Dan Mengobati Diabetes Militus.
Yongyakarta: Aulia Publishing.

Schunak. W. 1990. Senyawa Obat. Edisi Kedua. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

Saraswati, Sylvia, 2009. Diet Sehat Untuk Penyakit Asamurat Diabetes Hipertensi
Dan Stroke. Yongyakarta: UI Press.

Suyono, Slamet,. et Al, 2005. Penatalaksanaan Diabetes Militus Terpadu. Jakarta:


FKUI.

Tjahjadi, Vicynthia 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek


Sampingnya. Edisi Keenam. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit PT Elex
Media Komputindo Kelompok Gramedia.