Anda di halaman 1dari 16

TELAAH KRITIS

KAJIAN STRUKTUR PENULISAN MAKALAH

1. Judul
Jumlah kata terlalu panjang, terdiri 20 kata
Menggambarkan desain penelitian
Tidak terdapat singkatan
Menggambarkan isi makalah secara utuh

2. Penulis dan Institusi


Nama penulis ditulis sesuai kaidah jurnal
Nama institusi, alamat, waktu publikasi dan alamat email untuk korespondensi
dicantumkan

3. Abstrak
Abstrak terstruktur, terdiri dari komponen objektif, desain, tempat, partisipan,
intervensi, variabel keluaran, hasil, kesimpulan dan kata kunci.
Terdapat singkatan yang lazim digunakan
Cukup informatif

4. Pendahuluan
Terdiri dari dua paragraf
Terdapat latar belakang dan tujuan penelitian yang sistematis dan jelas
Didukung pustaka yang relevan

5. Hipotesis
Tidak disebutkan

6. Metode
Jenis Penelitian : acak, tersamar ganda, uji coba placebo-kontrol
Tujuan penelitian:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek pemberian vitamin
D tunggal dosis tinggi secara oral.
Tempat :
Rumah sakit pelayanan tersier di New Delhi, India
Waktu penelitian :
25 Agustus 2012 hingga 27 Januari 2015
Populasi terjangkau :
Anak-anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun dengan diagnosis pneumonia berat
menurut WHO.

Sampel :
Anak-anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun dengan diagnosis pneumonia berat
menurut WHO yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria
eksklusi.

Tekhnik sampling :
Randomisasi blok dengan komputer

Kriteria inklusi:

- anak usia 6 bulan 5 tahun


- Pneumonia berat menurut WHO
- Keluarga tinggal dalam radius10 km dari rumah sakit

Kriteria eksklusi :

- Anak yang menderita Rakhitis


- Malnutrisi akut berat
- Hipertensi
- Pneumonia dengan penyulit ( abses paru, efusi pleura akut, Empiema
- Penyakit yang memerlukan bantuan pernafasan
- Penyakit pernpasan kronik
- Penyakit jantung
- Gagal ginjal atau hati
- Penyakit neurologis yang menyebabkan kelainan otot/kekuatan motorik
- Imunodefisiensi
- Anak yang sebelumnya telah menerima suplemen Vitamin D atau kalsium
dalam waktu 4 minggu sebelum pendaftaran
- Anak dengan hiperkalsemia
- Alergi vitamin D

2
- Telah mendapat vaksin Pneumokokus/ influenza

Penentuan jumlah sample :


Disebutkan jumlah sampel 364 , dimana jumlah 162 pada masing masing
grup.

Informed consent:
Informed concent diperoleh dari orang tua/ wali

Analisis statistik :
Metode statistik: Model regresi hazard proporsional Cox digunakan
untuk menetapkan waktu untuk kurva kejadian dan memperkirakan
rasio hazard (HR) dengan 95% interval kepercayaan (95% CI)
antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol untuk waktu
pemulihan pneumonia berat, dan disesuaikan untuk kovariat. Rasio
hazard >1 menunjukkan kemungkinan relatif pemulihan penyakit
pada subyek perlakuan dibandingkan subyek kontrol pada setiap
titik waktu tertentu. Kovariat meliputi usia, jenis kelamin, status
gizi (skor WHZ), keparahan penyakit (laju pernapasan), dan kadar
25 (OH) D serum awal. Insidensi pneumonia selama pemantauan
dihitung dengan membagi jumlah total episode baru pneumonia
dengan total waktu risiko, untuk semua anak dalam setiap
kelompok. Risiko relatif untuk insidensi pneumonia berulang
(variabel outcome primer kedua) dibandingkan antara kelompok.
Perubahan-perubahan (pra-pasca) pada penanda biokimia dan
imunologi antara kelompok dibandingkan dengan uji t -2 sampel
independen. Dilakukan transformasi logaritma untuk parameter
yang tidak mengikuti distribusi normal. Uji nonparametrik (Mann
Whitney U) digunakan untuk membandingkan kelompok jika
transformasi yang diterapkan tidak menimbulkan distribusi normal.
Dalam data kelompok pada awal dan follow-up dibandingkan
dengan uji-t berpasangan; atau uji Wilcoxon, jika data tidak
terdistribusi normal. Plot fungsi survival Kaplan-Meier dibangun
untuk membandingkan durasi median waktu pemulihan dari
pneumonia secara keseluruhan, waktu pemulihan demam, dan
durasi rawat inap, antara kedua kelompok (plasebo dan ditambah

3
vitamin D) dengan menggunakan uji log rank. P <0,05 dianggap
sebagai signifikan. Koreksi Bonferroni diaplikasikan untuk
menjaga kesalahan tipe 1 sebagai 5% pada total. Analisis di atas
juga dilakukan untuk subkelompok peserta kekurangan vitamin D.
Pengaruh suplementasi vitamin D pada variabel-variabel outcome
dianalisis secara intention-to-treat. Data dianalisis dengan
menggunakan software SPSS versi 20,0.
Data and safety monitoring board (DSMB) meninjau dan
mengevaluasi data penelitian yang terakumulasi secara tahunan
untuk keamanan peserta, performa penelitian, manajemen data, dan
kemajuan/perkembangan.

7. Hasil penelitian

Penyajian cukup baik, alur pemikiran mudah diikuti


Menampilkan karakteristik subyek
Hasil penelitian disajikan dalam bentuk narasi, gambar dan tabel

Disebutkan jumlah subyek penelitian yaitu 324 peserta yang dilibatkan dalam
penelitian ini, dimana masing-masing grup dialokasikan 162 peserta, dan pada
akhirnya 6 peserta dari grup yang menerima vitamin D hilang kontak selama
pemantauan, sedangkan pada grup placebo ada 4 peserta.

Disertakan 5 tabel dan 5 gambar:


- Tabel 1 : karakteristik sosio-demografis dan klinis awal dari
peserta dalam dua grup penelitian
- Tabel 2 : kekambuhan pneumonia dalam 6 bulan
pemantauan
- Tabel 3 : outcome sekunder dari kedua grup
penelitian
- Tabel 4 : efek samping obat selama pemantauan
- Tabel Web 1 : pemeriksaan laboratorium dasar peserta
penelitian

4
- Gambar 1 : alur peserta penelitian
- Gambar Web a : waktu pemulihan pneumonia berat dari 2
grup penelitian
- Gambar Web b : durasi rawat inap dari 2 grup penelitian
- Gambar Web c : waktu pemulihan sempurna dari 2 grup
penelitian
- Gambar Web d : waktu pemulihan dari demam dari 2 grup
penelitian

Penulisan tabel sudah tepat


Penulisan judul gambar kurang tepat: judul di bawah gambar tetapi diakhiri titik
Tabel dan gambar informatif
Hasil penelitian yang penting disebutkan dengan jelas
Usia rata-rata adalah 12 bulan , dengan persentase 69,8% adalah laki-laki.
Dengan kategori usia 6 bulan 1 tahun sebanyak 186 anak ( 57,4%), usia 1-
2 tahun sebanyak 75 anak ( 23,2%) dan usia >2 tahun sebanyak 63 anak
( 19,4% ).
Status gizi anak ( WHZ ) paling banyak pada rentang skor WHZ -1 sampai
-2 SD sebesar 121 anak ( 37,3%) , skor WHZ median sampai -1 SD sebesar
89 anak ( 27,5% ) dan skor WHZ -2 sampai -3SD sebesar 69 anak ( 21.3%).
Pada penelitian ini, jumlah prevalensi anak dengan anemia ( Hb < 11 g/dL )
adalah sebanyak 267 anak ( 82,4%); anak dengan hipokalsemia ( kalsium <
8,8 mg/dL ) sebanyak 180 anak ( 55,9% ) dan hypophosphatemia ( Fosfat <
3,8 mg/dL ) sebanyak 101 anak ( 31,4 % ). Terjadi peningkatan serum alkali
phosphatase pada 47 anak pada rentang usia 1-12 bulan ( >283 IU/L ), anak
usia 13-36 bulan ( >345 IU/L, dan anak usia >37 bulan ( >309 IU/L ).
Pada grup suplementasi vitamin D didapatkan defisiensi Vitamin D ( serum
25(OH)D <12 ng/mL ) sebanyak 61 anak ( 37,6 % ) dibandingkan pada grup
plasebo sebanyak 65 anak ( 40,1% ).
Pada pemeriksaan kultur darah didapatkan Staphylococcus aureus pada 27
anak.

5
Pemeriksaan radiologi thoraks didapatkan hasil abnormal pada 292 anak
( 90,1 % ). Konsolidasi dan gambaran radioopak bilateral paru di dapatkan
pada 14 anak, yang lain didapatkan adanya hiperinflasi dan/ infiltrat
minimal.
Median waktu yang diambil untuk pemulihan pneumonia berat adalah 30
(95% CI 29,31) jam pada kelompok vitamin D dibandingkan dengan 31
(95% CI 29,33) jam pada kelompok plasebo. Kemungkinan relatif
pemulihan pneumonia berat pada kelompok yang ditambah vitamin D secara
signifikan lebih tinggi setelah disesuaikan untuk laju pernapasan dan sisa
kovariat (rasio hazard yang disesuaikan: 1,39 (95% CI 1,11, 1,76; P =
0,005). Ini berarti peluang terjadi pemulihan lebih awal sebanyak 58%
(95% CI 52-64%) pada anak yang menderita pneumonia berat .
Proporsi anak dengan pneumonia berulang pada 6 bulan setelah
suplementasi dan jumlah anak yang memiliki beberapa (>1) episode
kekambuhan pneumonia adalah sebanding pada kedua kelompok.

8. Diskusi
Peneliti menjelaskan hal-hal yang relevan dengan penelitian
Peneliti tidak mencantumkan kekuatan penelitian pada jurnal ini
Peneliti tidak mengulang hal yang sudah dikemukakan pada hasil
Peneliti membandingkan penelitian lain sebelumnya yang berkaitan dengan
penelitian ini :
o Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Kabul membuktikan bahwa
suplementasi vitamin D dapat mengurangi frekuensi kekambuhan
pneumonia. Perbedaannya pertama terletak pada kriteria eksklusi ,
dimana pada penelitian Kabul semua anak dengan mengi di eksklusi.
Perbedaaan kedua terletak pada tingkat keparahan pneumonia, dimana
pada penelitian Kabul tingkat keparahan pneumonia lebih rendah.
Peneliti mencantumkan keterbatasan pada penelitian ini. Dimana peneliti
memilih kriteria inklusi sesuai kriteria WHO yang memiliki spesifisitas yang
rendah. Pemeriksaan respon imun pun tidak memiliki outcome yang
berhubungan dengan imunitas seluler. Pemeriksaan parameter imunitas

6
humoral juga tidak secara keseluruhan. Keterbatasan yang lain adalah adanya
kekurangan logistik sehingga flow-cytometry dan evaluasi sitokin tidak dapat
dilakukan.
Peneliti mencantumkan saran penelitian pada jurnal ini. Pengukuran kadar
vitamin D pada bulan ke 6.

9. Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, kami tidak menemukan bukti yang kuat untuk
merekomendasikan suplementasi rutin vitamin D untuk anak-anak dengan
pneumonia berat untuk mempercepat pemulihan penyakit atau untuk mencegah
pneumonia berulang dalam 6 bulan ke depan. Namun masih harus dilihat apakah
hasil yang sama diperoleh pada anak dengan diagnosis pneumonia secara
radiologis, dan mereka yang berada pada kelompok ras dan status gizi lainnya..

10. Ucapan terima kasih


Ucapan terimakasih dicantumkan

11. Daftar pustaka


Cara penulisan rujukan dengan sistem nomor
Penulisan daftar rujukan dengan sistem vancouver

CRITICAL APPRAISAL UJI KLINIS

1. Apakah pertanyaan penelitian atau hipotesis pada penelitian ini?


Pertanyaan dalam penelitian ini adalah Apakah suplementasi vitamin D3 oral dosis
tunggal berpengaruh untuk terapi dan pencegahan pneumonia pada anak balita?

2. Apakah metode penelitian yang digunakan? Apakah metode yang dipilih sesuai
dengan rumusan masalah penelitian?
Penelitian ini adalah uji klinis/eksperimental dengan menggunakan desain
Randomized, double blind, placebo controlled trial
Metode yang dipilih sudah sesuai dengan rumusan masalah.

7
3. Apakah populasi target? Apakah sampling frame dan metode sampling?
Populasi : semua anak yang berusia 6 bulan sampai 5 tahun dengan diagnosis
pneumonia berat menurut WHO yang direkrut pada tanggal 25 Agustus 2012
hingga 27 Januari 2015 di sebuah rumah sakit di New Delhi , India.

Sampel : semua anak yang berusia 6 bulan sampai 5 tahun dengan diagnosis
pneumonia berat menurut WHO yang direkrut pada tanggal 25 Agustus 2012
hingga 27 Januari 2015 di sebuah rumah sakit di New Delhi , India yang
memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.
Metode sampling : randomisasi blok dengan komputer
Kriteria inklusi:

- anak usia 6 bulan 5 tahun


- Pneumonia berat menurut WHO
- Keluarga tinggal dalam radius10 km dari rumah sakit

Kriteria eksklusi :

- Anak yang menderita Rakhitis


- Malnutrisi akut berat
- Hipertensi
- Pneumonia dengan penyulit ( abses paru, efusi pleura akut, Empiema
- Penyakit yang memerlukan bantuan pernafasan
- Penyakit pernpasan kronik
- Penyakit jantung
- Gagal ginjal atau hati
- Penyakit neurologis yang menyebabkan kelainan otot/kekuatan motorik
- Imunodefisiensi
- Anak yang sebelumnya telah menerima suplemen Vitamin D atau kalsium
dalam waktu 4 minggu sebelum pendaftaran
- Anak dengan hiperkalsemia
- Alergi vitamin D
- Telah mendapat vaksin Pneumokokus/ influenza

4. Apakah study factor dan bagaimana cara pengukurannya?


- Suplementasi cholecalsiferol oral 100.000 IU
- Selama tanggal 25 Agustus 2012 hingga 27 Januari 2015, anak-anak direkrut dari
sebuah rumah sakit. Yang terdiagnosa pneumonia berat menurut WHO dan telah
diterapi sesuai protokol Indian Academy of Pediatric. Lalu di lakukan

8
pemantauan selama di rumah sakit untuk melihat durasi perbaikan klinis dari
pneumonia berat, kemudian setelah mengalami perbaikan dan dipulangkan anak
dipantau di rumah selama 180 hari sejak anak direkrut.
- Kriteria perbaikan klinis pneumonia berat adalah hilangnya retraksi dada sampai
24 jam. Anak dipulangkan bila demam dan sesak napas hilang selama 24 jam.
- Hasil utama adalah durasi perbaikan klinis pneumonia berat ( dari awal
perekrutan sampai hilangnya retraksi dada selama 24 jam )

5. Apakah outcome factor dan bagaimana cara pengukurannya?


Hasil utama adalah durasi perbaikan klinis pneumonia yang diukur saat di
rumah sakit serta jumlah episode kekambuhan pneumonia dari pemantauan
selama di rumah
Hasil sekunder adalah perubahan pada kadar 25 (OH) D serum dan PTH
serum setelah dua minggu dan tiga bulan terapi, perubahan pada kadar
serum cathelicidin dan imunoglobulin (IgA, IgG, IgM) setelah dua minggu
terapi; durasi rawat inap; waktu untuk pemulihan lengkap dari pneumonia
(normalnya laju pernapasan), waktu pemulihan demam; dan tingkat
insidensi pneumonia selama masa follow-up.

6. Apa saja bias yang relevan pada penelitian ini?


Bias seleksi : tidak ada. Peneliti melakukan randomisasi untuk menentukan
sampel dari penelitian ini.
Bias pengukuran : tidak ada, karena dijelaskan tentang pengukuran kadar
vitamin D pada anak-anak yang dicurigai memiliki defisiensi Vit D.
Bias perancu (confounding bias) tidak ada, karena karakteristik dasar pasien
dalam setiap kelompok tidak ada perbedaan yang signifikan.
Bias perlakuan : Tidak ada, karena dijelaskan dilakukan penyamaran dalam
intervensi yang dilakukan.
Bias Ketaatan : tidak ada, karena kedua grup mengikuti prosedur pemberian
vitamin D secara oral.

7. Bagaimana cara penghitungan sampel? Apakah kekuatan penelitian


disebutkan?

9
Ukuran sampel telah dihitung untuk kedua outcome primer, dengan menggunakan
data dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Manaseki-Holland, dkk. Ukuran
sampel 104 anak pada masing masing grup dapat mendeteksi perubahan dalam
waktu 24 jam pemulihan pneumonia berat antara kelompok vitamin D (SD 2,22)
dan plasebo (SD 2,89), dengan kekuatan 80% dan = 0,05. Untuk menghitung
penurunan sebanyak 10%, minimum ukuran sampel yang dibutuhkan adalah 115
untuk setiap kelompok. Untuk pengukuran outcome sekunder, dibutuhkan ukuran
sampel sebesar 162 anak dalam setiap kelompok untuk mendeteksi penurunan
relatif 30% dalam proporsi anak yang menderita episode berulang pneumonia
dalam enam bulan ke depan pada kelompok yang ditambah vitamin D, dengan
memperhitungkan 20 % penurunan.

8. Apakah metode statistik dijelaskan?


Metode statistik dipaparkan dengan jelas.
Model regresi hazard proporsional Cox digunakan untuk menetapkan waktu untuk
kurva kejadian dan memperkirakan rasio hazard (HR) dengan 95% interval
kepercayaan (95% CI) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol untuk
waktu pemulihan pneumonia berat, dan disesuaikan untuk kovariat. Rasio hazard
>1 menunjukkan kemungkinan relatif pemulihan penyakit pada subyek perlakuan
dibandingkan subyek kontrol pada setiap titik waktu tertentu. Kovariat meliputi
usia, jenis kelamin, status gizi (skor WHZ), keparahan penyakit (laju pernapasan),
dan kadar 25 (OH) D serum awal. Insidensi pneumonia selama pemantauan
dihitung dengan membagi jumlah total episode baru pneumonia dengan total
waktu risiko, untuk semua anak dalam setiap kelompok.

9. Apa kesimpulan yang didapatkan oleh peneliti dari pertanyaan penelitiani?


Apakah mereka menemukan hipotesis baru?
Tidak ditemukannya bukti yang kuat untuk merekomendasikan suplementasi rutin
vitamin D pada anak-anak dengan pneumonia berat untuk mempercepat
pemulihan penyakit atau untuk mencegah pneumonia berulang dalam 6 bulan ke
depan.

10
Hipotesis baru:
Suplementasi vitamin D pada anak dengan pneumonia dapat meningkatkan kadar
vitamin D dan memiliki efek yang kecil dalam mengurangi tingkat keparahan dan
kekambuhan pneumonia.

11
EVIDENCE BASED MEDICINE

1. Apakah pertanyaan peneltian atau hipotesis penelitian ini?


Pertanyaan dalam penelitian ini adalah Apakah suplementasi vitamin D3 oral
dosis tunggal berpengaruh untuk terapi dan pencegahan pneumonia pada anak balita?

2. Kemana penelitian ini ditujukan ?


Penelitian ini ditujukan sebagai bukti klinis terhadap durasi perbaikan klinis
pneumonia berat dan kekambuhan pneumonia 6 bulan kedepan dengan pemberian
suplementasi oral vitamin D dosis tinggi pada anak dengan pneumonia berat

3. Apakah PICO pada penelitian ini sudah cukup ?


PICO penelitian ini sudah cukup untuk menjawab pertanyaan penelitian
Population : semua anak yang berusia 6 bulan sampai 5 tahun dengan diagnosis
pneumonia berat menurut WHO yang direkrut pada tanggal 25 Agustus 2012
hingga 27 Januari 2015 di sebuah rumah sakit di New Delhi , India.
Intervensi: pemberian suplementasi Vitamin D oral 100.000 IU dosis tunggal
Control: kelompok pasien yang tidak mendapatkan suplementasi vit D oral
(placebo)
Outcome: Hasil utama adalah durasi perbaikan klinis pneumonia yang diukur saat
di rumah sakit serta jumlah episode kekambuhan pneumonia dari pemantauan
selama di rumah
Hasil sekunder adalah perubahan pada kadar 25 (OH) D serum dan PTH serum
setelah dua minggu dan tiga bulan terapi, perubahan pada kadar serum cathelicidin
dan imunoglobulin (IgA, IgG, IgM) setelah dua minggu terapi; durasi rawat inap;
waktu untuk pemulihan lengkap dari pneumonia (normalnya laju pernapasan),
waktu pemulihan.
4. Seberapa jauh penelitian ini sudah dilakukan?
Enam tahun yang lalu, Manaseki-Holland dkk menyimpulkan bahwa vitamin D
dosis tinggi dapat mengurangi risiko kekambuhan pneumonia dalam waktu 90
hari.

12
Pada tahun 2012, Manaseki-Holland dkk kembali meneliti tentang pengaruh
suplementasi vitamin D dosis tinggi terhadap insidensi pneumonia.
Peneliti yang sama meneliti pengaruh suplementasi vitamin D terhadap waktu
perbaikan klinis pneumonia berat ,akan tetapi dengan dosis vitamin yangberbeda
dan tidak didapatkan perbedaan dalam waktu perbaikan klinis.

5. Apa hasil penelitian ini ?


Disebutkan jumlah subyek penelitian yaitu 324 peserta yang dilibatkan
dalam penelitian ini, dimana masing-masing grup dialokasikan 162
peserta, dan pada akhirnya 6 peserta dari grup yang menerima vitamin D
hilang kontak selama pemantauan, sedangkan pada grup placebo ada 4
peserta.
Usia rata-rata adalah 12 bulan , dengan persentase 69,8% adalah laki-laki.
Dengan kategori usia 6 bulan 1 tahun sebanyak 186 anak ( 57,4%), usia
1-2 tahun sebanyak 75 anak ( 23,2%) dan usia >2 tahun sebanyak 63 anak
( 19,4% ).
Status gizi anak ( WHZ ) paling banyak pada rentang skor WHZ -1
sampai -2 SD sebesar 121 anak ( 37,3%) , skor WHZ median sampai -1 SD
sebesar 89 anak ( 27,5% ) dan skor WHZ -2 sampai -3SD sebesar 69 anak
( 21.3%).
Pada penelitian ini, jumlah prevalensi anak dengan anemia ( Hb < 11
g/dL ) adalah sebanyak 267 anak ( 82,4%); anak dengan hipokalsemia
( kalsium < 8,8 mg/dL ) sebanyak 180 anak ( 55,9% ) dan
hypophosphatemia ( Fosfat < 3,8 mg/dL ) sebanyak 101 anak ( 31,4 % ).
Terjadi peningkatan serum alkali phosphatase pada 47 anak pada rentang
usia 1-12 bulan ( >283 IU/L ), anak usia 13-36 bulan ( >345 IU/L, dan
anak usia >37 bulan ( >309 IU/L ).
Pada grup suplementasi vitamin D didapatkan defisiensi Vitamin D
( serum 25(OH)D <12 ng/mL ) sebanyak 61 anak ( 37,6 % ) dibandingkan
pada grup plasebo sebanyak 65 anak ( 40,1% ).
Pada pemeriksaan kultur darah didapatkan Staphylococcus aureus pada 27
anak.

13
Pemeriksaan radiologi thoraks didapatkan hasil abnormal pada 292 anak
( 90,1 % ). Konsolidasi dan gambaran radioopak bilateral paru di dapatkan
pada 14 anak, yang lain didapatkan adanya hiperinflasi dan/ infiltrat
minimal.
Median waktu yang diambil untuk pemulihan pneumonia berat adalah 30
(95% CI 29,31) jam pada kelompok vitamin D dibandingkan dengan 31
(95% CI 29,33) jam pada kelompok plasebo. Kemungkinan relatif
pemulihan pneumonia berat pada kelompok yang ditambah vitamin D
secara signifikan lebih tinggi setelah disesuaikan untuk laju pernapasan
dan sisa kovariat (rasio hazard yang disesuaikan: 1,39 (95% CI 1,11, 1,76;
P = 0,005). Ini berarti peluang terjadi pemulihan lebih awal sebanyak 58%
(95% CI 52-64%) pada anak yang menderita pneumonia berat .
Proporsi anak dengan pneumonia berulang pada 6 bulan setelah
suplementasi dan jumlah anak yang memiliki beberapa (>1) episode
kekambuhan pneumonia adalah sebanding pada kedua kelompok.

VALIDITAS
1. Apakah pasien yang diberikan perlakuan dilakukan secara acak? Dan apakah
daftar pengacakan tersembunyi?
Ya, pasien dikelompokkan secara acak dan pengacakan dilakukan secara
tersembunyi.

2. Apakah semua pasien yang ikut dalam penelitian diperhitungkan hingga


akhir? Dan apakah mereka dianalisis dalam kelompok-kelompok yang mereka
acak?
Ya. semua pasien yang ikut dalam penelitian diperhitungkan hingga akhir
dan mereka dianalisis dalam kelompok-kelompok yang mereka acak.

3. Apakah pasien dan peneliti dalam keadaan blind terhadap terapi yang
mereka terima?
Ya

14
4. Karakteristik dasar pasien
1. Apakah pasien memiliki karakteristik dasar yang sama pada awal
penelitian?
Ya. Pada kedua kelompok penelitian mempunyai karakteristik klinik
dasar yang sama yaitu
Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam usia, jenis kelamin antara
kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

5. Perlakuan yang sama


Di luar perlakuan eksperimental, apakah semua pasien mendapatkan
perlakuan yang sama ?
Ya, setiap subjek mendapatkan perlakuan yang sama yaitu pemberian
vit D 100.000 IU dosis tunggal dan juga mendapat pemeriksaan yang
sama.

IMPORTANCY

Seberapa besar efek dari penelitian ini ?


Pemberian Vit D 100.000 IU dosis tunggal pada anak dengan pneumonia berat
dapat meningkatkan kadar vitamin D dan mengurangi derajat keparahan dan
kekambuhan pneumonia.

APPLICABILITY
1. Apakah keadaan pasien saya sangat berbeda dengan penelitian tersebut hingga
hasil penelitian ini tidak dapat diterapkan ?
Tidak berbeda, hasil penelitian ini dapat diterapkan
2. Apakah perlakuan yang diberikan dapat dilakukan dengan mudah di
lingkungan saya ?
Ya. Pemberian Vitamin D bisa dilakukan dengan mudah di lingkungan RSDK,
namun untuk pemeriksaan laboratorium seperti kadar Vitamin D , PTH,
cathelicidin, IgA, IgG, IgM itu sendiri harus dilakukan di laboratorium swasta
diluar RSUP Dr. Kariadi..

15
3. Apakah potensi manfaat yang ada pada terapi ini lebih besar dari potensi
bahaya untuk pasien saya ?
Ya. Pemberian suplementasi kolekalsiferol 100.000 IU oral tidak
menimbulkan potensi bahaya untuk pasien.

16