Anda di halaman 1dari 4

RIZA ADY S.

10/299051/SA/15266

Lahir pada tahun 1966 di Etterbeek, Belgia, Amlie Nothomb merupakan seorang
penulis yang lahir dari keluarga diplomat Belgia untuk negara asing. Ia mengaku telah lahir di
Kobe, Jepang pada tahun 1967 walaupun pada kenyataannya Ia baru menetap di sana sejak
berumur 2 tahun. Semenjak kecil, ia dan keluarganya sering berpindah di negara-negara yang
jauh dari tanah kelahirannya seperti Jepang, China, Bangladesh, Burma, dan Amerika Serikat.
Hal tersebut nampaknya mempengaruhi kondisi psikologisnya yang kelihatan aneh mwnurut
kebanyakan orang. Hal itu tergambarkan melalui karya-karya yang ditulisnya. Salah satu
diantaranya adalah Stupeur et Tremblements.
Stupeur et Tremblements merupakan sebuah novel yang bercerita tentang pengalaman
hidupnya di Tokyo, Jepang sebagai seorang karyawan yang bekerja di Yumimoto -- sebuah
perusahaan raksasa yang bergerak di bidang ekspor-impor. Di sana, Ia bertemu dengan Mori
Fubuki, atasan yang bertanggung jawab terhadap Amlie secara langsung. Fubuki
digambarkan sebagai sosok yang elegan dan cerdas. Dan secara fisik, Fubuki memang terlihat
anggun dengan tingginya yang mencapai 180 cm ukuran yang bahkan laki-laki di Jepang
jarang untuk mencapainya. Sering kali Amlie mengagumi wajah Fubuki yang membuatnya
selalu terpana; Amlie sering terlena akan perintah-perintah yang diberikan Fubuki
karenanya.
Pekerjaan yang diberikan oleh Fubuki kepada Amlie berkenaan dengan pembukuan
keuangan perusahaan. Tugas tersebut sebenarnya merupakan pengganti dari tugas yang harus
dilakukannya, yaitu interpret. Ia mendapati tugas tersebut mudah untuk dikerjakan walaupun
pada akhirnya Ia tidak pernah menyelesaikannya dengan sempurna. Oleh karena
ketidakmampuannya itu, Ia merasa bosan.
Di tengah kebosanannya, Amlie tetap merasakan kebahagiaan dengan menatap wajah
atasannya yang digambarkan bagaikan sebuah pertunjukan seni yang mempesona. Ia
menggunakan kata-kata seperti splendeur dan captivant untuk mempertegas gambaran
perasaannya.
Hari demi hari yang dijalani Amlie sebagai karyawati di Yumimoto selalu penuh
dengan prahara. Ia harus berjuang untuk menghadapi sikap-sikap atasannya yang represif dan
kaku dengan susah payah. Terlepas dari kenyataan pahit tersebut, Amlie tetap mencoba
untuk menjadi orang Jepang dengan bersikap sesuai kode etik yang ada; Stupeur dan
Tremblements dapat berarti ketakjuban dan ketakutan yang merupakan sikap orang Jepang
saat menghadapi orang yang lebih dihormati khususnya kaisar pada zaman samurai dulu.
Mengutip dari Groucho Marx dalam film Annie Hall yang ditulis oleh Woody Allen,
Aku tidak ingin masuk ke dalam klub yang di dalamnya ada anggota yang seperti saya.
RIZA ADY S. 10/299051/SA/15266

Menurut saya, kecantikan yang dapat mengalihkan dunia ada pada seseorang yang memiliki
kecantikan fisik yang menawan: Badan yang proposional, wajah yang cantik, dan sehat
jasmani rohani. Namun, semua akan percuma jika ia tidak memiliki karakter dan
berkepribadian buruk.

RSUM

Amlie telah memutuskan untuk bekerja di Jepang setelah menyelesaikan studinya di


Belgia. Kemampuannya berbahasa Jepang dengan fasih dan pengetahuannya akan budaya
Jepang yang mendalam membuatnya diterima untuk bekerja di salah satu perusahaan
multinasional terbesar di dunia Yumimoto, sebuah perusahaan raksasa di bidang ekspor dan
impor. Pada awalnya, Amlie direkrut sebagai interpret perusahaan, walaupun pada
kenyataannya ia tidak pernah merasa melakukan pekerjaan itu.
Selama satu tahun bekerja di Yumimoto, Amlie tidak pernah sungguh-sungguh
merasa bahagia, walaupun ia dapat menemukan sebuah pelarian dari kejenuhaanya, yaitu
dengan memandang wajah atasaannya Fubuki. Fubuki lah yang bertanggung jawab atas
kinerja Amlie di perusahaan. Ia merupakan wanita Jepang dengan kondisi fisik yang
menarik. Tinggi badannya yang mencapai 180 cm semakin membuatnya terlihat elegan dan
penuh dominasi. Wajahnya yang anggun membuat Amlie selalu terpana. Bahkan, ia
membandingkan hidung Fubuki dengan hidung Cleopatra yang menurutnya sama-sama dapat
mengubah bentuk dunia.
Saat mendapat tugas pertamanya untuk menyediakan teh untuk para klien perusahaan,
Amlie telah mendapat peringatan tentang kinerjanya yang tidak memuaskan Saito, atasan
Fubuki yang juga atasan Amlie berpendapat bahwa sikapnya telah membuat klien
perusahaan merasa tidak nyaman. Menurut Amlie, kekhawatiran itu timbul karena
kondisinya sebagai gai-jin yang terlalu paham budaya Jepang.
Beberapa hari setelahnya, Amlie bertemu dengan Tenshi yang memberikannya
sebuah tawaran menarik. Kali ini, Tenshi membutuhkan bantuannya untuk membuat laporan
tentang bisnis perusahaan yang berhubungan dengan negara asal Amlie. Namun, setelah
pekerjaan tersebut selesai, ia malah mendapat teguran keras dari Saito. Nampaknya Fubuki
telah melaporkan Amlie dengan alasan bahwa ia tidak profesional karena melanggar hirarki
perusahaan.
Kejadian itu membuatnya untuk mendapat pekerjaan baru, yaitu pembukuan
sederhana tentang keuangan perusahaan di bagiannya. Ia merasa tugas yang didapatkannya
RIZA ADY S. 10/299051/SA/15266

kali ini mudah, walaupun pada kenyataannya tugas tersebut tidak pernah diselesaikannya
dengan baik. Tugas yang dapat diselesaikan Fubuki dalam hitungan menit sedangkan Amlie
membutuhkan waktu lebih dari 12 jam.
Hari demi hari di bagian keuangan pun berlalu. Amlie merasa terbius dengan tugas-
tugas pembukuan yang diberikannya. Ia tidak pernah merasa hidup dan proses itu disebutnya
sebagai hibernasi. Hingga suatu hari, drama baru di bagian keuangan pun terjadi. Sang
wakil-direktur, Omochi, masuk ke dalam kantor dengan menggebrak pintu. Ia berteriak
kepada semua orang. Kemarahannya kali ini khusus ditujukan kepada Fubuki. Suaranya yang
keras terasa menggetarkan seluruh bangunan. Setelah amarah yang ditumpahkannya kepada
Fubuki, ia berlalu kembali ke ruangannya. Amlie mengetahui apa yang akan dilakukan
Fubuki selanjutnya. Ia menghampiri Fubuki di toilet untuk berusaha bersimpati. Namun, ia
malah dihardik dan Fubuki menegaskan bahwa semua yang terjadi bukan merupakan hal
yang patut dibicarakan sesama rekan kerja.
Keesokan harinya, Fubuki menghampiri Amlie. Tentu saja, dengan tugas baru yang
ditujukan kepada Amlie. Amlie tidak habis pikir mengapa tugasnya kali ini begitu nista:
memastikan kebersihan dan ketersediaan kebutuhan toilet karyawan. Tetapi, ia selalu
berusaha tenang dalam menjalani berbagai siksaan yang diterimanya.
Satu tahun berlalu, Amlie kembali ke Belgia. Setelah kepulangannya, ia mencoba
untuk fokus pada tugasnya sebagai penulis. Pengalaman hidupnya menjadi bahan utama
cerita pada novel-novel yang ditulisnya, khususnya penderitaannya sewaktu hidup di Jepang.
Setelah novelnya terbit pada tahun 1992, ia menerima sepucuk surat dari Jepang. Tampaknya
surat itu ditulis oleh Fubuki. Surat itu membuatnya bernostalgia dan hal yang paling
membahagiakan adalah surat tersebut ditulis dalam bahasa Jepang.

Daftar Pustaka
Nothomb, Amlie. 1999. Stupeur et Tremblements. Paris : dition Albin Michael.

Daftar Laman
RIZA ADY S. 10/299051/SA/15266

http://rosannadelpiano.perso.sfr.fr/ONPA_Nothomb_html.htm (diakses 26 April 2015 pukul


07.40 WIB)