Anda di halaman 1dari 9

II.

3 Model Eksplorasi
Dibuat penampang tegak atau model penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi hepatitik
kemudian dirancang pengambilan contoh dengan cara acak, pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan
paritan (trenching), dan jika diperlukan dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot
dengan tepat di peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dll.). Dari kegiatan ini akan dihasilkan
model geologi, model penyebaran endapan, gambaran mengenai cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai
untuk menetapkan apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik (prospek) atau tidak.
Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik maka dapat diteruskan dengan tahap eksplorasi
selanjutnya.
Model-model yang disajikan disini berguna dalam beberapa hal, antara lain:
Memungkinkan ahli eksplorasi untuk mengenali dan menemukan dimana "sesuatu" di dalam sistem-sistem
epitermal, dan "sesuatu" tersebut dapat menentukan perluasan mineralisasi secara lateral dan/atau secara
vertikal.
Membantu pengenalan batuan penutup (cap rocks) yang potensial, misalnya, jika hanya tersingkapkan
leached-silica caps atau leached-advanced argillic-altered zones.

II.4 Petunjuk Geologi


Emas bisa terbentuk di urat hidrotermal, dimana magma yang menuju ke atas akan mengisi zona lemah
dan berinteraksi dengan batuan samping dan air. Alterasi hidrotermal berkembang dengan balk
menghasilkan urat-urat kuarsa maupun kalsit (stockwork) yang membawa bijih emas dan mineral-mineral
sulfida lainnya seperti pirit, chalkopirit, sphalerit, hematit, magnetit, kovelit, bornit dan galena. Di
Waterfall terdapat tiga zone alterasi hidrotermal, yaitu zone karbonat-kalsit-serisit/muskovit (zone phillik) ,
zone klorit-kalsit- kuarsa-epidot (zone propilitik dalam) dan zone karbonat- klorit-zeolit-silika (zone sub
propilitik).
Pirit sebenarnya adalah sebagai mineral prospeksi yang dapat menunjukan keberadaan bijih emas. Emas
dan pirit terbentuk pada kondisi yang sama dan terbentuk bersama-sama dalam sebuah batuan. Dalam
beberapa deposit, sejumlah emas terbentuk sebagai inklusi dan substitusi dalam pirit.
Petunjuk Geologi untuk daerah Yang Mempunyai Kandungan Emas Atau Survey Lokasi Adanya Emas. :
Menemukan lokasi daerah pegunungan atau daerah perbukitan yang memiliki granit kuat atau deposito
kristal serta pegunungan atau bukit purba. Biasanya potensi paling besar untuk di daerah wilayah
Indonesia, potensi kandungan mineral logam emas terletak di daerah pegunungan atau bukit yang
berdekatan menuju ke daerah pantai atau mungkin juga sekitar 15 km atau 20 km menuju daerah pantai.
Mencari daerah aliran air atau sungai di bagian bawah atau dasar diantara bukit, Daerah parit atau
cekungan bukit maupun longsoran material batuan dari atas bukit bisa kita survey, karena proses emas
eluvial terjadi saat air yang mengalir turun dari atas bukit atau gunung akan membawa material yang
mengalami erosi dan dengan cepat menuju aliran sungai, atau cekungan.
survey batuan dan arah hilir atau aliran sungai bagian bawah . pada tikungan sungai biasanya bijih emas
sering terjebak di sana. kita dapat mencoba untuk mengambil atau menggali sedimen tanah atau pasir dari
sungai dan kemudian dilakukan pendulangan dengan alat dulang atau panci, serta alat dulang lainnya.
Jika pada aliran sungai yang ada kandungan emasnya hanya berada dilokasi pertama, atau ditemukan
juga dibagian atas aliran sungai, maka dapat disimpulkan kandungan mineral emas berada pada lokasi
bukit yang berada di area ditemukannya titik emas paling akhir tersebut. Kemudian dibukit atau gunung
tersebut bisa di cari longsoran kuarsa atau batuan yang bisa di gunakan identifikasi batuan emas

II.5 Tahapan atau Strategi da Metode Tepat Guna


Tahapan eksplorasi dibagi dua, yaitu eksplorasi umum dan eksplorasi rinci. Eksplorasi umum rnerupakan
deliniasi awal dari suatu endapan yang teridentifikasi, setelah itu dilanjutkan dengan tahap eksplorasi rinci
yaitu tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalarn 3-dimensi terhadap endapan mineral yang
telah diketahui dari pencontohan singkapan, paritan, lubang bor, shafts dan terowongan.
Pada dasarnya pekerjaan yang dilakukan pada tahapan eksplorasi ini adalah :
Pemetaan geologi dan topografi skala 1 : 5000 sampai 1 : 1000
Pengambilan conto dan analisis conto
Penyelidikan Geofisika, yaitu penyelidikan yang berdasarkan sifat fisik batuan, untuk dapat
mengetahui struktur bawah permukaan serta geometri cebakan mineral. Pada survey ini dilakukan
pengukuran Topografi, IP, Geomagnit, Geolistrik.
Pemboran inti
Hasilnya sumber daya bijih emas terunjuk dan terukur

Tahap-tahap penting di dalam industri pertambangan suatu endapan bijih meliputi:


Eksplorasi mineral: untuk menemukan tubuh bijih

Studi kelayakan: untuk menentukan apakah secara komersial memenuhi

Pengembangan tambang: membangun seluruh infrastruktur pada lokasi tambang

Penambangan: ekstraksi bijih dari lapisan pembawa bijih

Pengolahan mineral: penghancuran dan penggilingan bijih, pemisahan mineral bijih dari mineral
penyerta/pengotor, pemisahan bijih menjadi konsentrat, seperti pada konsentrat tembaga
Pemisahan logam: pengambilan logam dari konsentrat mineral

Pemurnian: memurnikan logam dari logam ikutannya

Pemasaran: pengiriman produk tambang (konsentrat logam, jika tidak dipisahkan atau dimurnikan di
lokasi tambang) ke pembeli.

Tahapan eksplorasi yang lazim dan umum dilakukan adalah dengan berdasarkan pada peta dasar skala 1 :
250.000 1 : 100.000 hingga tahap detil dengan skala peta 1 : 2000 1 : 5000. Secara umum tahapan
eksplorasi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Studi Pendahuluan

Tahap ini merupakan aktifitas persiapan sebelum melakukan kegiatan dilapangggan yang meliputi studi
literature dari hasil penelitian terlebih dahulu terhadap daerah yang akan diteliti, mempelajari
konsepkonsep geologi, intrepretasu foto udara maupun citra Landsat dan studi model mineralisasi yang
diperkirakan berdasarkan data geologi yang ada, penyiapan peta kerja, peralatan, membuat rencana
percontohan dan melakukan proses perizinan dengan instansi terkait. Studi pendahuluan ini akan sangat
membantu kelancaran kerja selanjutnya di lapangan.
2. Survey Tinjau (Reconnaissance)

Pada tahap ini dilakukan survey peninjauan secara sepintas pada daerah-daerah yang diperkirakan menarik
berdasarkan dari data geologi guna mengetahui indikasi mineralisasi di lapangan.Peninjauan langsung di
lapangan dengan menlakukan pengamatan terhadap endapan sungai aktif. Skala peta yang dipakai adalah
mulai dari 1 : 200.000 1 : 100.000.
3. Prospeksi Umum (General Prospection)

Tahapan prospeksi dilakukan untuk mempersempit daerah yg mengandung cebakan mineral yang
potensial. Kegiatan penyelidikan dilakukan dengan cara pemetaan geologi dan pengambilan percontoh
awal, misalnya paritan dan pemboran yang terbatas, studi geokimia dan geofisika, yang tujuannya adalah
untuk mengidentifikasi suatu Sumberdaya Mineral Tereka (Inferred Mineral Resources) yang perkiraan
kuantitas dan kualitasnya dihitung berdasarkan hasil analisis kegiatan di atas.
4. Eksplorasi

Tahapan ini merupakan tahapan lanjutan setelah survey tinjau dan prospeksi. Tujuan tahap eksplorasi
adalah untuk mengetahui sumber daya cebakan mineral secara rinci, yaitu untuk mengetahui, menemukan,
mengidentifikasi dan menentukan gambaran geologi dan pemineralan berdasarkan ukuran, bentuk,
sebaran, kuantitas dan kualitas suatu endapan mineral untuk kemudian dapat dilakukan analisa/kajian
kemungkinan dilakukannya pengembangan secara ekonomis.

Metode-metode eksplorasi Emas antara lain :


1. Metode Geofisika

Gambar 4. Geiger counters dan scintillometers


Instrumen- instrumen geofisika memainkan peran besar dalam mengumpulkan data geologi yang
digunakan dalam eksplorasi mineral. Instrumen-instrumen yang digunakan dalam survei geofisika untuk
memeriksa variasi gravitasi, magnetisme, elektromagnetisme (resistivitas dari batuan-batuan) dan sejumlah
variabel lain yang berbeda di daerah tertentu. Metode yang paling efektif dan luas mengumpulkan data
geofisika adalah melalui geofisika udara terbang.
2. Penginderaan Jauh
Foto udara adalah sebuah alat penting dalam penilaian petak-petak (tenements) eksplorasi mineral, karena
memberikan informasi orientasi kepada si pengeksplorer lokasi-lokasi trek, jalan, pagar, tempat tinggal,
serta kemampuan untuk setidaknya memetakan secara kualitatif terhadap singkapan-singkapan dan
sistematika-sistematika regolith dan tutupan vegetasi di suatu daerah. Fotografi udara pertama kali
digunakan pasca Perang Dunia II dan diadopsi pada tahun 1960 dan seterusnya.
3. Metode Geokimia

Pengertian eksplorasi geokimia dapat diartikan sebagai penerapan praktis prinsip-prinsip geokimia teoritis
pada eksplorasi mineral dengan tujuan agar mendapatkan endapan mineral baru dari logam-logam yang
dicari dengan metoda kimia. Metoda tersebut meliputi pengukuran sistematik satu atau lebih unsur kimia
pada batuan, stream sediment, tanah, air, vegetasi dan udara. Metoda ini dilakukan agar mendapatkan
beberapa dispersi unsur di atas (di bawah) normal yang disebut anomali, dengan harapan menunjukkan
mineralisasi yang ekonomis.
Tujuan dilakukan metoda geokimia adalah:
Menemukan dan melokalisir tubuh mineralisasi

Menentukan ukuran (size) dan nilai (value) dari tubuh mineralisasi

Mengetahui adanya anomali unsur target, penyebaran kadar, indikasi mineralisasi, dan melacak batuan
sumber.

Gambar 6. Sampling Tanah Penunjang Eksplorasi

4. Metode Sedimen Sungai


Beberapa pertimbangan dan alasan pemilihan metoda sedimen sungai adalah:
Dipakai dalam eksplorasi tahap awal (regional geochemical reconnaissance) diareal yang luas

Menangkap dispersi geokimia sekunder di sepanjang aliran sungai

Keuntungan: mampu menjangkau daerah yang luas dalam waktu yang singkat, jumlah conto yang relatif
sedikit, dan biaya yang relatif murah.

5. Metode Percontoan Tanah ( Soil Sampling )


Situasi dimana survei soil dilakukan antara lain :
Survei pendahuluan dilakukan di daerah yang pola pengalirannya tidak berkembang

Survei lanjutan dilakukan di daerah anomali yang dilokalisir oleh survei sedimen sungai

Survei lanjutan di daerah anomali yang dilokallisir oleh survei geofisika

Survei lanjutan di sekitar lokasi Gossan

Mendeliniasi target bor uji di sekitar mineralisasi yang diketahui

6. Hydrogeochemistry ( Water Sampling )


Metoda ini merupakan metoda untuk menganalisis/menghitung komposisi kimia material yang terlarut
dalam air. Jenis-jenis air (natural water ) yang dapat dipakai sebagai media sampling yaitu air sungai,
danau, air tanah, mata air, dan lain-lain.
7. Biogeochemistry Surveys
Metoda ini memanfaatkan komposisi kimia tumbuhan yang dipakai sebagai media conto. Akar tumbuhan
potensial sebagai media sampling karena sifatnya yang menyerap larutan dalam air tanah. Larutan ini
mungkin membawa garam-garam anorganik yang dapat diendapkan di berbagai tumbuhan, seperti daun,
kulit kayu, buah dan bunga.
8. Gas Surveys
Survei gas ini didasarkan dari banyakya cebakan mineral yang mengandung volatile. Karena mobilitasnya
tinggi, material volatile ini dapat mencapai permukaandan dilepaskan ke atmosfer.
Contoh :
Mercury di atas cebakan logam dasar (base metals) dan emas epitermal

Radon sebagai hasil peluruhan U-238 dalam cebakan uranium

Helium dari cebakan U dan Th

SO2 terdeteksi sebagai hasil oksidasi sulfida

Berbagai hidrokarbon volatile dalam survei minyak dan gas bumi

KESALAHAN-KESALAHAN DI DALAM KEGIATAN EKSPLORASI (Popoff, 1966):


Kesalahan interpretasi: kesalahan analogi, sangat tergantung pengalaman explorationist
Interpretasi itu ilmiah karena mengungkap sesuatu dibalik fakta, jadi personil eksplorasi harus
bekerja berdasarkan konsep eksplorasi, secara terencana, berpikir kritis. Kesalahan interpretasi
tergantung dari pengalaman explorationist, antara lain:
1. Kesalahan hipotesa yang diyakini explorationist mengenai kejadian endapan mineral.
2. Anggapan adanya kesamaan mengenai kondisi geologi endapan mineral.
3. Anggapan status data harus jelas. Sebagai contoh data ketebalan dapat diperoleh dari
berbagai sumber, mana yang paling akurat?
4. Korelasi log bor yang tidak mengindahkan kenya-taan sesungguhnya obyek geofisika di
lapangan.
5. Perubahan yang seragam tubuh obyek geologi sepanjang jurus dan kemiringannya.
6. Anggapan mengenai data, karena data bisa benar atau salah.
7. Anggapan kemenerusan kedudukan lapisan batuan sepanjang on strike maupun cross
strike.
8. Perubahan skala peta topografi atau geologi harus memperhatikan kaidah kartografi.
9. Interpretasi perubahan seragam tubuh obyek geologi. Kasus penampang perhitungan
cadangan.
10. Korelasi log bor yang tidak mengindahkan kenya-taan sesungguhnya obyek geofisika di
lapangan.
11. Model geologi obyek geofisika yang tidak sesuai, karena anggapan kesamaan kondisi
geologi.
12. Penerapan model lingkungan pengendapan yang masih bersifat umum, Tentukan
lingkungan pengendapan yang langsung mempengaruhi aspek kualitas dan geometri obyek
geofisika.
13. Kesamaan anggapan antara model geologi regional dan rinci. Wujud dan dimensi obyek
geologi, keadaan obyek geologi atau letaknya dalam kerangka geologi tidaklah sama.

Kesalahan teknis: kurang sempurnanya alat dan teknik yang digunakan.Sekalipun alat dan
teknik yang digunakan sudah sempurna, tetapi pelaksana di belakang alat tetap merupakan
faktor yang mengandung kesalahan.
Anggapan bahwa penggunaan alat yang canggih, teknik yang mutakhir. dan mahal dapat
mengatasi permasalahan obyek geofisika. Padahal ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Obyek geologi merupakan obyek non-linier karena dikendalikan oleh faktor genetik dan
proses-proses geologi yang menyertainya, .
2. Alat dan teknik tetap harus dikoreksi (kalibrasi) untuk menghindari kenaikan atau
penurunan nilai dan diterapkan sesuai karakteristik alat.
3. Pengukuran topografi: peletakan prisma atau rod, penentuan interval kontur berdasarkan
aturan 1/2.000 kali skala peta.
4. Penarikan garis-garis kesamaan nilai: isopach, isocal, isosulphur, isoash, isomoist dll.
5. Pengukuran kedudukan perlapisan antara cara dip direction dan east (umum digunakan
geologist).
6. Pengukuran stratigrafi terukur antara metode kompas-tali dan metode Jacob staff.
7. Pengukuran ketebalan lapisan batuan pada saat dilakukan lintasan penampang stratigrafi
teru-kur, apakah variasi kemiringan dirata-rata atau tidak.
8. Pengukuran tebal lapisan batuan, apakah pada singkapan, inti bor atau alat ukur.
9. Plotting kedudukan dan simbol litologinya, apakah kedudukan diletakkan di titik
pengukuran atau tidak.
10. Rekonstruksi penampang geologi menggunakan tabel koreksi (umum beredar di kalangan
geologist) dan penerapan hukum V dengan kontur struktur.
11. Standarisasi perekaman data, misal pada saat deskripsi, pembuatan profil, kedudukan
lapisan dll.
12. Peta lintasan dan lokasi pengamatan adalah fakta lapangan, belum ada analisis di
dalamnya.

Kesalahan analitis: Kesalahan yang ditimbulkan akibat kesalahan analisis, yaitu akibat
anggapan bahwa obyek geofisika dapat di statistik atau dirata-rata tanpa memperhatikan:
1. Aspek genetik dari obyek geofisika tersebut.
2. Obyek geofisika adalah obyek yang non linier.

Kesalahan dapat muncul pada saat:


Memperoleh/mengumpulkan data, yaitu meliputi sumber data, cara pengambilan data,
pemilahan jenis data, hingga pemrosesan data, analisis data, dan interpretasi hasil analisis,
Representasi data, yaitu meliputi: kerapatan/ kepadatan, jumlah dan sebaran data yang
semata-mata bukan hanya berdasarkan hitungan statistik belaka, tetapi harus memperhatikan
aspek genetiknya.
Terakhir adalah sintesa dan upaya membangun model geologi dan menentukan model
eksplorasinya.

Kesalahan-kesalahan dapat berlanjut sampai tahap:


1. Penentuan strategi eksplorasi (tahapan)
2. Pemilihan metode eksplorasi yang tepat-guna.
3. Penentuan karakteristik kualitas
4. Perhitungan sumberdaya atau cadangan
5. Arahan penambangan
Apabila demikian kejadiannya, maka hasil akhir suatu kegiatan eksplorasi dapat merupakan
akumulasi kesalahan dari setiap tahapan eksplorasi.
RESIKO DAN KETIDAKPASTIAN DALAM EKSPLORASI
Resiko dapat diartikan sebagai potensi penyimpangan antara tujuan/sasaram dengan hasil dari
sebuah rencana akibat dari kejadian yang tidak direncanakan.
1. Kemungkinan yang dihadapi yang dapat menimbulkan kerugian yang tidak diperhitungkan.
2. Ketidakmampuan mencapai hasil, bila dipaksanakanKemungkinan akan menghadapi risiko.
3. Keberanian untuk mengambil tindakan yang dapat berakibat pada hasil yang tidak pasti, lebih
tinggi atau lebih rendah dari yang direncanakan.
4. Dikaitkan dari sisi fluktuasi seseorang menghadapi risiko, artinya dia menghadapi
ketidakpastian hasil.
Risiko Dalam Eksplorasi
Risiko tersebut menurut Peters (1978) adalah:
Risiko politik: tingginya pajak/pungutan-pungutan terhadap produksi obyek geologi,
kestabilan politik daerah hingga nasional.
Risiko teknologi: adanya masalah di dalam pene-rapan metode eksplorasi (termasuk metode
geologi), hingga operasi penambangan/pemompaan, hingga pengolahan yang makin
menambah ketidakpastian atau keraguan di dalam eksplorasi.
Risiko tenologi dapat disebabkan oleh:
1. Ketidakmampuan alat.
2. Kurang sempurnanya alat.
3. Kesalahan pada teknik yang digunakan untuk menentukan variabel.
Risiko pemasaran: jika harga obyek geologi turun, sehingga membuat penemuan obyek
geologi yang baru dari eksplorasi dapat dikatakan tidak berhasil.
Risiko geologi: Kondisi geologi akan berpengaruh terhadap metode, peralatan, kualitas,dan
sumberdaya serta terhadap masalah lingkungan yang ditimbulkan.
Ketidakpastian merupakan resiko yang tidak dapat diprediksi, serta mempunyai nilai yang besar.
Ketidakpastian eksplorasi : berada diantara pengetahuan geologi (target permukaan) dan geofisika
(target bawah permukaan) sehubungan dengan upaya pencarian endapan mineral. Agar kegiatan
eksplorasi dapat terencana, terprogram, dan efisien, maka dibutuhkan pengelolaan kegiatan eksplorasi
yang baik dan terstruktur. Untuk itu dibutuhkan pemahaman konsep eksplorasi yang tepat dan terarah
oleh para pelaku kegiatan eksplorasi (eksplorasionist)

KONSEP EKSPLORASI, meliputi:

1. Perumusan sasaran: bentuk tujuan yang telah terkuantifikasi.

Sasaran bersifat (1) lebih spesifik dari tujuan, (2.) dibatasi oleh waktu, (3) dapat diukur, (4)
dapat dikuantifikasi:

a. Kondisi transportasi seperti apa yang disyaratkan?

b. Jenis sasaran eksplorasi seperti apa yang diinginkan?

c. Apa kriteria atau spesifikasi minimal dari target kualitas?

d. Berapa besar sumberdaya dan cadangan yang dinginkan?

2. Membangun model geologi dari obyek geologi yang dicari (bangun model geologi regional
dan detil) serta faktor-faktor pengendalinya.
Menggunakan model geologi regional untuk pemilihan daerah target eksplorasi,

Menentukan model geologi lokal berdasarkan keadaan lapangan,

Mendiskripsikan petunjuk-petunjuk geologi yang akan dimanfaatkan,

3. Menentukan model eksplorasi dari petunjuk-petunjuk geologi yang sesuai dan diturunkan dari
model geologi atau aplikasi model geologi terhadap geologi daerah terpilih.\
Dari uraian diatas, pemahaman konsep eksplorasi menjadi sangat penting karena akan menentukan
strategi dan keekonomian eksplorasi.

Petunjuk geologi dalam eksplorasi

1. Petunjuk stratigrafi
Petunjuk stratigrafi digunakan jika suatu endapan mineral ditemukan dalam lapisan stratigrafi.
Tugas utama dalam tahap prospeksi yaitu menentukan secara stratigrafi kedudukan endapan
mineral, seperti determinasi singkapan dan menentukan luas horison (singkapan horison diikuti
sepanjang strike dan dip), kemudian dipetakan secara detail.
2. Petunjuk litologi
Petunjuk litologi terbagi menjadi dua, pada endapan primer dan pada endapan sekunder. Pada
endapan primer, dilihat secara genetik (dari komposisi endapan mineral yang terbentuk). Pada
endapan sekunder, contohnya seperti endapan placer, litologi batuan sangat penting karena variasi
litologi awal yang tererosi akan mempengaruhi produk/akumulasi mineral berat yang terbentuk.
3. Petunjuk struktur
Struktur pada kerak bumi sering merupakan faktor pengontrol dalam formasi endapan mineral
(seperti perlipatan yang diiringi dengan intrusi).

4. Petunjuk geomorfologi
Petunjuk geomorfologi memiliki peranan yang penting pula, sebagai contoh dalam prospeksi
endapan placer/letakan.

5. Petunjuk paleogeografi
Petunjuk paleogeografi dapat diterapkan pada eksplorasi endapan placer, nikel laterit dan
sebagainya. Sebagai contoh untuk mengetahui perkembangan lembah.

6. Petunjuk paleoklimat
Petunjuk paleoklimat diterapkan pada endapan mineral yang mengalami pengkayaan akibat
pelapukan. Contoh, kaolin yang merupakan hasil lapukan batuan feldspatik, dan timah sekunder di
P. Bangka.

7. Petunjuk historis
Kriteria sejarah meliputi laporan tambang tua, peta terdahulu, bekas-bekas penambangan, dan
nama-nama/sebutan masyarakat lokal untuk endapan mineral tersebut.

Korelasi fenomena geologi


Dalam melakukan kegiatan eksplorasi, korelasi gejala-gejala geologi yang terdapat di daerah
penyelidikan merupakan hal yang sangat penting untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk daerah yang
mengalami mineralisasi (Darijanto, 1992). Fenomena geologi yang ada di alam perlu dicermati untuk
mengetahui gejala geologi yang mengendalikan terdapatnya endapan mineral sehingga kita dapat
melokalisir daerah yang mempunyai indikasi kuat akan terdapatnya mineral tertentu.
PERLUNYA MEMBANGUN MODEL GEOLOGI SASARAN EKSPLORASI DAN
MENENTUKAN MODEL EKSPLORASINYA.
Ahlli geologi yang bekerja dibidang eksplorasi dituntut memiliki pengetahuan geologi yang kuat
mengenai cara terdapat dan proses pembentukan obyek geofisika adalah landasan mutlak bagi
konsep, strategi dan taktik eksplorasi dalam menggunakan metode dan teknologi eksplorasi secara
efektif, efisien dan benar.
Tanpa menggunakan pengetahuan geologi, maka teknologi eksplorasi secanggih apapun akan sia-sia
(baca: tidak efisien, tidak efektif dan tidak ekonomis).
Ahli geologi juga harus mampu menjelaskan:
1. Bagaimana proses terjadinya serta faktor-faktor geologi apa saja yang mengendalikannya?
2. Mengapa endapan batubara tersebut ada disana?
3. Bagaimana geometri dan kualitas lapisan batubara ?
4. Bagaimana cara melakukan eksplorasinya?
Untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas, maka perlu dibangun model genetik batubara
dan sekaligus menentukan model eksplorasinya.
Selain itu, ahli geologi harus dapat menghasilkan peta geologi yang baik dan benar mulai dari peta
berskala kecil hingga besar yang menggambarkan keadaan geologi pada waktu dilaksanakan pemetaan
dan pendataan geofisika. Jadi peta geologi merupakan catatan fakta geologi yang didapat dari
lapangan dan bukan dari teori.