Anda di halaman 1dari 12

PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI

GOOD CORPORATE GOVERNANCE

PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE ;


ALTERNATIF APLIKASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Deddy Kurniawansyah

This paper examined the growing concern on worldwide regarding


to Islamic principles of corporate governance. This issue is
important particularly for Islamic countries such as Indonesia to
embedded syairah rules in terms of business and commerce. This
papaer try to discuss the nature, application and comparation of
Islamic corporate governance in contrast to what has been applied
by OECD countries. The main differences of both principle are the
dimension of Islamic perspective of corporate governance has a
broader horizon and all actions need to be comply with Islamic
rules. In contrast, OECD implements six different issue and
obligation which put concern on both shareholders and
stakeholders. In additon, this paper can provide new thought for
developing corporeate governance from the Islamic point of view.

Keywords: OECD, good corporate governance, shariah rules

1. Latar Belakang
Sejak pertengahan tahun 1980 good corporate governance merupakan
sebuah isu sentral yang menarik perhatian publik, termasuk di dalamnya praktisi,
pemegang saham, investor, pemerintah dan peneliti. Isu ini menjadi penting
karena good corporate governance merupakan salah satu kunci sukses dalam
menjalankan perusahaan. Selain itu prinsip-prinsip dalam good corporate
governance dapat membantu menjaga kerahasiaan perusahaan dengan
menjalankan fungsi kontrol atas operasional perusahaan.
Seiring dengan meningkatnya kompleksitas bisnis saat ini, prinsip-prinsip
dalam good corporate governance perlu disesuaikan, karena adanya
perkembangan yang sangat cepat terutama di sektor keuangan, khususnya terkait
dengan perkembangan instrumen keuangan dan derivatifnya. Good corporate
governance tidak hanya merupakan sekumpulan aturan yang harus dipatuhi
perusahaan dalam kegiatan operasional, tetapi lebih merupakan pedoman dasar
dan rerangka konseptual yg bisa diapliasikan dalam beragam kondisi dan situasi.
Konsep mengenai corporate governance dapat dikaitkan dengan ajaran
agama islam yang menanamkan nilai-nilai etika bisnis yang baik, bermoral kuat,
integritas, dan kejujuran, sehingga dengan menerapkan nilai-nilai islami
diharapkan dapat menjadi alternatif aplikasi konsep good corporate governance
yang islami yang dapat menjadi pedoman dalam beragam kondisi dan situasi
perekonomian yang tidak menentu. Dengan kata lain konsep good corporate
governance konvensional (kapitalisme), mungkin sudah tidak mampu menjawab
segala kondisi dan situasi ekonomi yang tidak pasti, dan tidak konsisten dengan
nilai-nilai islam.
1
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Good corporate governace dalam terminologi modern, sejatinya berkaitan


dengan hadist Baginda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a yaitu
Sesungguhnya Allah SWT menyukai, apabila seseorang melakukan suatu
perkerjan dilakukan dengan baik. artinya bahwa setiap seseorang atau insan
yang ada didunia diharuskan untuk bekerja atau mengelola perusahaan dengan
jujur, adil, dan, bertanggungjawab atas apa yang dikerjakannya, niscaya Allah
SWT meridhoi dan dipermudah segala urusannya di dunia. Jika dikaitkan dengan
manajer sebagai pemegang amanah dan stakeholder dan shareholder yang
memberi amanah, maka makna dari hadist tersebut adalah, manajer diharuskan
melakukan pekerjaannya dengan penuh amanah dan jujur dalam menjalankan
roda kehidupan perusahaan, agar tercipta keharmonisan dan tatakelola
perusahaan yang baik. sehingga praktek corporate governance sebagai kewajiban
muslim kepada Allah, yang mengarah kepada kontrak implisit dengan Allah
dan kontrak eksplisit dengan manusia. Indonesia sebagai Negara yang notabene
penduduknya mayoritas beragama islam, seharusnya memahami, memperkuat
dan mengaplikasikan nilai-nilai ajaran islam dalam berbisnis.
Manajemen islami telah dikenal sejak ratusan tahun lamanya, sehingga
prinsip-prinsip dalam corporate governance bukan hal yg baru dalam konteks
keislaman. Meskipun demikian masih adanya pengaruh prinsip kapitalisme yang
dipelopori oleh dunia barat, sehingga prinsip-prinisp manajeman perusahaan yg
islami selanjutnya mulai terkikis dan ditinggalkan oleh umat Islam. Prinsip-
prinsip good coprorate governace dalam Islam mengacu pada Al-Quran dan Al-
Hadits yang menjadikannya unik dan berbeda dengan konsep good corporate
governance dalam pandangan kaum kapitalis atau dunia barat seperti prinsip
keadilan, kejujuran, transparansi dan semua pihak mendapatkan hak yang sama
tanpa memandang status dan kekayaan. Salah satu bukti yaitu keadilan terdapat
dalam surah An-Nisa ayat 58, Kejujuran dalam surah As-Syura ayat 38, dan
transparansi dalam surah Al-Baqoroh ayat 282. Selain itu good corporate
governance dalam perspektif islam juga menggabungkan unsur tauhid, taqwa dan
ridha, ekuilibrium (keseimbangan dan keadilan), dan kemaslahatan. Hal ini
diwujudkan dalam keterlibatan individu pada kegiatan usaha dan operasi
perusahaan serta hubungan mereka dengan semua stakeholder dan Sang Maha
Pencipta, Allah SWT. Secara keseluruhan, pandangan islam mengenai corporate
governance lebih komprehensif daripada pandangan kepada stakeholder saja dan
erat kaitannya dengan nilai-nilai etika dalam islam.

2. Corporate Governance
OECD dan FCGI mendefinisikan corporate governance sebagai
seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara pemegang saham,
manajemen, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang
kepentingan intern dan ekstern lainnya, khususnya sehubungan dengan hak-hak
dan kewajiban mereka. Corporate governance juga bisa didefinisikan sebagai
sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Corporate governance
merupakan mekanisme yang digunakan untuk memastikan bahwa pemegang
saham memperoleh pengembalian (return) dari kegiatan bisnis yang dikelola
manajer dan pemegang saham memiliki kendali penuh atas kegiatan manajer
tersebut. Hubungan anatara manajemen perusahaan (agency) dan pemegang
saham (Principal) sangat rentan terjadi konflik kepentingan yang saling
2
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

bertentangan (agency cost). Sehingga salah satu cara untuk menekan agency cost
maka diperlukan keberadaan peraturan dan mekanisme pengendalian yang secara
efektif mengarahkan kegiatan operasional perusahaan serta kemampuan
pengendalian yang efektif.
Dalton et al (2004) menyatakan bahwa agency cost merupakan masalah
teorititis, yang hanya merupakan wacana dalam penelitian-penelitan terkait
masalah good corporate governance. Oleh karena itu diperlukan sebuah
mekanisme yang tepat, yang bisa menjelaskan hubungan yang baik antara
manajemen dan pemegang saham. Sehingga dapat disimpulkan bahwa corporate
governance merupakan seperangkat mekanisme yang membantu dalam proses
konfirmasi yang adil dan transparan antara manajemen perusahaan dan
pemegang sahamnya.
Banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa good corporate
governance memberikan hasil atas pengelolaan manajeman perusahaan yang
lebih baik. Negara-negara yang telah menerapkan good corporate governance
terbukti telah menunjukkan pertumbuhan negara yang sangat cepat dan
mempunyai kemampuan yang kuat untuk menarik investor asing datang dan
mengivestasikan modalnya di negara bersangkutan. Good corporate governance
menjembatani adanya gap kepentingan antara manajemen (agency) dan
pemegang saham (Principal) perusahaan. Good corporate governance juga
memberikan nilai lebih tinggi terhadap perusahaan yang telah menerapkan good
corporate governance (Coles et al, 2001). Sekalipun demikian, masih terdapat
argumen yang kontra produktif dan menyatakan bahwa corporate governance
tetap perlu dievaluasi meskipun perusahaan telah berjalan baik.

3. Prinsip corporate governance dalam perspektif Islam


Islam mengatur seluruh sendi kehidupan, tidak hanya terkait masalah
religius keagamaan, tetapi juga masalah-masalah sosial seperti ekonomi dan
perdagangan (bisnis). Umat Islam diperintahkan untuk menjalankan bisnisnya
sesuai dengan kaidah-kaidah agama Islam seperti keadilan dan kejujuran dalam
berbisnis antar sesama. Saed (1996) menyatakan bahwa harta merupakan titipan
dan juga bisa dianggap sebagai ujian. Titipan karena pada hakekatnya dalam
ajaran Islam semua harta yang ada di dunia ini adalah milik Allah SWT. Harta
juga bisa menjadi ujian, karena kesalahaan dalam pengelolaan harta bisa
membawa celaka di dunia maupun akhirat. Riba dalam ajaran Islam adalah
haram, karena riba atau dalam bahasa ekonomi bisa diartikan sebagai bunga
merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan harta titipan Allah (Haqqi, 1999).
Islam mengatur bahwa setiap bisnis dan perdagangan yang dijalankan oleh umat
Islam, harus dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip dalam ajaran Islam.
Pengaruh negara-negara barat yang cukup kuat menyebabkan nilai-nilai
ajaran Islam dalam berbisnis kurang dipahami dengan baik. Terdapat beberapa
Negara-negara islam yang dapat dipengaruhi oleh konsep good corporate
governance salah satunya adalah Indonesia, dimana Negara Indonesia mayoritas
penduduknya menganut agama Islam. Tulisan ini mencoba memberikan solusi
alternative aplikasi bisnis khususnya terkait dengan konsep good corporate
governance dalam perspektif Islam. Diharapkan dengan adanya prinsip-prinsip
corporate governance yang mengadopsi nilai-nilai ajaran Islam, dapat
meningkatkan kinerja perusahaan yang berimplikasi pada peningkatan nilai
3
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

perusahaan itu sendiri dan keimanan muslim pada khususnya. Sehingga secara
nyata, pengaruh barat (prinsip kapitalisme) atas prinsip-prinsip bisnis dan
perdagangan dapat dikurangi, utamanya untuk negara-negara Islam seperti
halnya Indonesia. Dengan jumlah penduduk muslim yang cukup besar
merupakan lahan yang potensial dalam pengembangan corporate governance
yang berbasis Islami, jika seseorang yang menjalankan bisnis di dalam
perusahaan berlandaskan nilai-nilai keislaman, akan tercipta suatu Rahmatan
lilalamin, yaitu dapat mensejahterakan dan kebahagian bagi sekitarnya, hal ini
yaitu para shareholder dan stakeholder.
Dalam aturan Islam, kekuasaan yang paling tinggi dan utama adalah Allah
SWT. Muslim seharusnya menjalankan aktivitas bisnisnya sesuai dengan
atuaran-aturan Islam yang mendorong agar setiap pelaku bisnis selalu mematuihi
prinsip-prinsip dalam syariah Islam dan bersifat adil dan jujur. Seorang muslim
terikat untuk selalu menjalankan bisnis dengan menjujung tinggi asas tersebut
dan tidak hanya mengejar keuntungan/profit semata (Abu Tapanjeh, 2009). Kerja
keras adalah keharusan bagi setiap muslim, tetapi harus dengan niat untuk
beribadah kepada Allah.
Prinsip pengelolaan bisnis dalam Islam juga sesuai dengan prinsip-prinsip
dalam good corporate governance yang dirumuskan oleh OECD. Bahkan di
dalamnya dimuat aturan-aturan yang lebih luas dan lengkap karena memuat etika
berbisnis yang Islami. Etika bisnis yang Islami ini merupakan komponen utama
dalam corporate governance. Di dalam etika bisnis ini memprioritaskan prinsip
keadilan, kejujuran, transparansi dan semua pihak mendapatkan hak yang sama
tanpa memandang status dan kekayaan.
Corporate governance dalam pandangan islam diwujudkan melalui
kerangka syariah islam dalam pelaksanaan bisnis, keadilan dan kesetaraan demi
kemaslahatan serta berorientasi pada Allah SWT sebagai pemilik dan orotitas
tunggal di dunia. Dalam pandangan Islam, manusia merupakan makhluk ciptaan
Allah yang bertugas sebagai pemimpin di dunia. Sebagai pemimpin di dunia,
maka Allah mewajibkan manusia untuk beribadah kepada Allah yang memiliki
alam dan seisinya. Oleh karena itu bisnis yang dijalankan oleh seorang muslim
pada khususnya harus bisa menjalin kerja sama yang adil dan jujur kepada
sesama.
Islam mempunyai konsep yang jauh lebih lengkap dan lebih komprehensif
serta akhlaqul karimah dan ketaqwaan kepada Gusti Allah SWT yang menjadi
benteng yang kokok untuk tidak terperosok pada praktek yang illegal dan tidak
jujur dalam mengemban amanah. Konsep good corporate governance sangat
berkaitan dengan hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a yang
berarti Sesungguhnya Allah SWT menyukai, apabila seseorang melakukan
sesuatu pekerjaan dilakukan dengan baik. jika dikaitkan dengan good
corporate governance antara manajer sebagai pemegang amanah dan
stakeholder dan shareholder yang memberi amanah, makna dari hadist tersebut
adalah, manajer diharuskan melakukan pekerjaannya dengan penuh amanah dan
jujur dalam menjalankan roda kehidupan perusahaan, agar tercipta keharmonisan
dan saling percaya antara manajer dan para stakeholder dan shareholder
(principal). Manajer yang memiliki akhlaqul karimah yang baik dan taat kepada
ajaran-ajaran islam, akan melaksanakan pekerjaannya dengan penuh kesadaran
dan integritas yang tinggi, sebab segala harta yang ada di dunia ini terutama
4
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

perusahan yang dikelola oleh manajer sejatinya titipan dari Allah SWT, sehingga
bentuk pertanggungjawaban yang keluarkan tidak hanya kepada para stakeholder
dan shareholder saja (horizontal) melainkan kepada sang pencita dan pemilik
alam semesta yaitu Gusti Allah SWT (Vertikal).
Good corporate governance dalam Islam tidak semata-mata hanya
mengatur hubungan antara manajemen, shareholder dan stakeholder, tetapi juga
pertanggungjawaban yang lebih tinggi yaitu kepada Allah SWT. Dalam beretika
bisnis telah diatur dalam kitab suci Al-Quran dan Hadist. Diantaranya surah An-
Nisa Ayat 58 mengenai keadilan (Fairness) :

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang


berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (4: 58)

Berdasarkan ayat diatas dapat dimaknai bahwa setiap amanah


memiliki pemiliknya yang harus diserahkan kepadanya. Disini pihak manajer
sebagai penerima amanah dari principal (pemilik) atas perusahaanya, harus
dilaksanakan dengan penuh amanah. Sebab amanah tersebut merupakan perantara
secara tidak langsung dari Allah SWT, sehingga seorang muslim dalam
menjalankan amanah senantiasa ingat kepada Allah SWT, dengan menjalankan
praktek-praktek bisnis yang baik, dan adil, sehingga tidak merugikan pihak lain.
Seorang muslim harus memilihara keadilan dalam segala bentuk, seperti manajer
harus adil dalam memberikan informasi yang terdapat dari dalam perusahaan,
tidak ada informasi yang disembunyikan dari dalam kepada pihak principal,
sehingga tidak menimbulkan asimetris informasi. Selain itu manajer harus adil
dalam memenuhi hak-hak para stakeholder dan shareholder yang timbul
berdasarkan perjanjian dan aturan-aturan yang berlaku, perlindungan terhadap hak
seluruh pemegang saham, termasuk saham minoritas untuk memperoleh informasi
secara tepat waktu dan teratur, memberikan suara dalam RUPS, memilih direksi
dan komisaris, dan pembagian laba perusahaan. Dalam memelihara amanah dan
menjaga keadilan di dalam perusahaan, pengawasan akan kegiatan manajer tidak
hanya dipantau oleh dewan direksi atau dewan independen yang ada didalam
perusahaan, melainkan Allah SWT sebagai pengawas atas tindakan dan perilaku
manajer, karena Dia Maha Mendengar dan Melihat.

Prinsip keadilan ini tidak saja merupakan nilai penting dalam etika
kehidupan sosial dan bisnis, tetapi juga merupakan nilai inheren yang melekat

5
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

dalam fitrah manusia. Hal ini berarti bahwa manusia itu pada dasarnya memiliki
kapsitas dan energi untuk berbuat adil dalam setiap aspek kehidupannya.

Prinsip kejujuran dalam berbisnis juga telah diatur dalam Al-quran, yang
terdapat di dalam dalam surat As Shura ayat 38 :

Diterjemahkan ayat diatas bahwa siapa saja yang menjalankan bisnis


dengan mengutamakan kerjasama yang baik akan mendapat ganjaran surga. Ini
berarti bahwa muslim diharapkan dapat menjalankan kaidah-kaidah bisnis yang
mengutamakan perdagangan yang jujur dan adil, pengendalian bisnis yang baik,
menghindari korupsi dan kontrak-kontrak ilegal, pasar yang bebas tetapi tetap
menjamin hak-hak keadilan bagi semua pihak. Manajemen perusahaan tidak
hanya bertanggungjawab kepada pemegang saham dan stakeholder, tetapi harus
mempertanggungjawabkan pengelolaan harta yang telah dipercayakan Allah.
Konsep transparansi dalam berbisnis juga telah diungkapkan oleh Allah
SWT dalam firmanNYA yang tertuang dalam Al-quran surah Al-Baqoroh ayat
282 :

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu menjalankan sesuatu urusan


dengan hutang piutang yang diberi tempo hingga ke suatu masa yang tertentu,
maka hendaklah kamu menulis (hutang dan masa bayarnya) itu. Dan hendaklah
seorang penulis di antara kamu menulisnya dengan adil (benar). Dan janganlah
seorang penulis enggan menulis sebagaimana Allah telah
mengajarkannya(Q.S. Al-baqarah:282).

6
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Makna dari surah diatas adalah seorang muslim dalam menjalankan


praktek-praktek bisnis, diharuskan mencatat segala transaksi keuangan tersebut
dengan tepat dan benar, sehingga informasi yang disediakan kepada pihak yang
berkepentingan dapat akurat dan tepat waktu. Informasi tersebut berupa keadaan
keuangan, kinerja keuangan, kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. hal ini
guna para pihak yang berkepentingan dapat mengetahui kondisi perusahaan.
Prinsip good corporate governance dalam perspektif Islam juga
mengadopsi prinsip akuntabilitas. Akuntabilitas tidak hanya terbatas pada
pelaporan keuangan yang jujur dan wajar, tetapi yang lebih mengedapankan
esensi hidup manusia yang yaitu merupakan bentuk pertanggungjawaban
manusia kepada Allah sebagai Dzat pemilik seluruh alam semesta. Konsep Islam
yang fundametal meyakini bahwa alam dan seluruh isinya sepenuhnya milik
Allah dan manusia dipercaya untuk mengelola sebaik-baiknya demi kemslahatan
umat. Gray et.al (1996) mendefinisikan akuntabilitas sebagai kewajiban untuk
mempertanggungjawabkan kepada pihak yang memberikan wewenang semua
kegiatan dan tindakan yang melekat pada jabatan seseorang.
Lebih lanjut Gray et.al (1996) mendefinisikan akuntabilitas sebagai berikut:

Accountability is the duty to provide an account or reckoning of those


actions for which one held responsible. This definition takes accountability
as a form of principal agent relationship. In this form, an Accountee
(principal) enters into contractual relationship with an Accountor (agent).
The Accountee gives the power over resources along with instruction about
action and rewards to the Accountor. On the other hand, the Accountor is
supposed to take certain action and refrain from others in managing
resources given to him to meet certain objectives and to account to his
principal by giving information about his action.

Konsep akuntabilitas dalam Islam diturunkan dari konsep Khilafah


(Faruqi; 1992) dimana dalam konsep khilafah dinyatakan bahwa manusia adalah
wakil Allah di bumi dimana Allah telah memberikan amanah atau kepercayaan
kepada manusia, dan manusia harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah
dilakukannya kepada Allah. Allah telah berfirman:

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:


Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".
(Al-Quran 2:30)

Ayat tersebut di atas merupakan sebagian ayat dalam Al-Quran yang


menjelaskan posisi manusia sebagai khalifah yang harus memenuhi
pertanggungjawabannya segala amal perbuatannya di dunia. Dalam hal ini konsep
pertanggungjawaban/akuntabilitas tidak hanya terbatas dalam konteks spiritual
saja, tetapi mencakup proses yang lebih praktis seperti yang tercantum pada Al
Baqarah ayat 282:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak
secara tunai untuk waktu yang tidak ditentukan, hendaklah kamu
menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu
menuliskannya dengan benar
7
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Pertanggungjawaban keuangan perusahaan juga perlu disampaikan dalam


bentuk pengungkapan yang jujur dan wajar atas kondisi keuangan perusahaan.
Sehingga pemegang saham dan stakeholder dapat mengambil keputusan yang
tepat. Pelaporan keuangan yang benar dan akurat, juga akan mengahasilkan
keakuratan dalam pembayaran zakat. Karena dari setiap keuntungan yang
diperoleh muslim dalam kegiatan bisnisnya, setidaknya ada 2,5% yang menjadi
hak kaum fakir miskin. Masalah zakat menjadi penting dalam perspektif Islam
karena merupakan ciri diimplementasikannya good corporate governance.
Pengelolaan perusahaan yang baik tidak hanya bertujuan untuk memakmurkan
manajemen dan pemegang saham, tetapi juga masyarakat di sekitar perusahaan
tersebut khususnya kaum fakir dan miskin.
Keakuratan juga menjadi prinsip penting dalam pelaksanaan corporate
governance yang Islami. Informasi yang akurat dapat diperoleh jika sistem yang
ada di perusahaan dapat menjamin terciptanya keadilan dan kejujuran semua
pihak. Kondisi ini dapat dicapai jika setiap perusahaan menjalankan etika bisnis
yang Islami dan didukung dengan sistem akuntansi yang baik dalam
pengungkapan yang wajar dan transparan atas semua kegiatan bisinis.
Prinsip pencatatan yang jujur, akurat dan adil juga telah diatur dalam Al
Quran (2:282 ). Al-Quran 2:283 dan Al Quran 21:47 juga menekankan bahwa
pencatatan atas transaksi keuangan harus dilakukan dengan baik dan benar.
Orang yang bertanggungjawab atas pencatatan harus dipilih mereka yang jujur
dan adil . Sekali lagi, ini menunjukkan Islam menghendaki diselenggarakannya
bisnis secara adil dan jujur bagi semua pihak.
Lewis (2005) menyatakan bahwa keunggulan utama coporate governance
dalam perspektif Islam yaitu orientasi utama pertanggungjawaban manajemen
perusahaan adalah Allah sebagai pemilik alam beserta isiny. Penerapan etika
Islam dalam berbisnis yang menjamin perlakuan jujur, adil terhadap semua
pihak juga menjadi acuan utama pengelolaan perusahaan yang baik. Good
corporate governance dijalankan tidak hanya sebagai bentuk
pertanggungjawaban manajemen terhadap pemilik modal, tetapi lebih pada
kebutuhan dasar setiap muslim untuk menjalankan syariat Islam secara utuh dan
sempurna. Dengan dasar keyakinan kepada Allah maka good corporate
governance akan memotivasi transaksi bisnis yang jujur, adil dan akuntabel.
Selain itu, good corporate governance dalam perspektif islam harus
mengacu pada tauhid, taqwa dan ridha, ekuilibrium (keseimbangan dan keadilan),
dan kemaslahatan. Tauhid merupakan fondasi utama ajaran islam. Tauhid
menjadi dasar seluruh konsep dan seluruh aktivitas umat islam, baik dibidang
ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa tauhid
merupakan filsafat fundamental dari ekonomi islam, sebagaimana firman Allah
SWT dalam QS Az-zumar ayat 38 :

8
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Dan demi sesungguhnya! Jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada


mereka (yang musyrik) itu: "Siapakah yang mencipta langit dan bumi?" Sudah
tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah (kepada mereka): "Kalau
demikian, bagaimana fikiran kamu tentang yang kamu sembah yang lain dari
Allah itu? Jika Allah hendak menimpakan daku dengan sesuatu bahaya,
dapatkah mereka mengelakkan atau menghapuskan bahayaNya itu; atau jika
Allah hendak memberi rahmat kepadaku, dapatkah mereka menahan rahmatNya
itu?" Katakanlah lagi: "Cukuplah bagiku: Allah (yang menolong dan
memeliharaku); kepadaNyalah hendaknya berserah orang-orang yang mahu
berserah diri".

Maka berdasarkan ayat tersebut, pada hakikatnya tauhid juga berarti


penyerahan diri yang bulat dan penuh kepada kehendak Allah SWT. Baik
menyangkut ibadah maupun muamalah. Sehingga semua aktivitas yang
dilakukan adalah dalam rangka menciptakan pola kehidupan yang sesuai
kehendak Allah SWT. Manajer yang dalam melaksanakan kegiatan bisnis yang
diamanahkan oleh stakeholder dan shareholder, terlebih dahulu harus
mengetahui dengan baik hukum agama islam yang mengatur perdagangan dan
corporate governance agar tidak melakukan aktivitas yang haram dan merugikan
para stakeholder dan shareholder. Dengan demikian manajer harus menerapkan
nilai-nilai ketuhanan di dalam perusahaan yang dikelolanya, agar menciptakan
suasana dan kondisi yang baik dalam suatu perusahaan.
Taqwa dan ridha, menjadi prinsip utama tegaknya sebuah perusahaan
islam dalam bentuk apapun taqwa kepada Allah SWT dan ridha-Nya, Corporate
governance dalam islam juga harus ditegakkan di atas fondasi taqwa kepada
Allah SWT dan ridha-Nya dalam QS At-Taubah 109 :

Maka adakah orang yang membangunkan masjid yang didirikannya di atas dasar
taqwa kepada Allah dan (untuk mencari) keredaan Allah itu lebih baik, ataukah
orang yang membangunkan masjid yang didirikannya di tepi jurang yang
(hampir) runtuh, lalu runtuhlah ia dengan yang membangunkannya ke dalam api
neraka? Dan (ingatlah) Allah tidak akan memberi hidayah petunjuk kepada
orang-orang yang zalim.

Berdasakan ayat diatas dapat diartikan bahwa dalam melakukan suatu


bisnis, hendaklah atas dasar suka sama suka atau sukarela. Tidaklah dibenarkan
bahwa suatu bisnis perdagangan dilakukan dengan pemaksaan ataupun penipuan.
Artinya, didalam mengelola perusahaan, diharuskan bekerja dengan penuh
sukarela dan untuk kepentingan ummat atau khalayak umum. Sehingga tidak
diperbolehkan untuk mendahulukan kepentingan pribadi yang berdampak pada
9
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

penipuan, yang berakibat pada tata kelola perusahaan tidak baik (kehancuran).
Jika hal tersebut terjadi dapat membatalkan perbuatan tersebut yaitu prinsip ridha,
hal ini menunjukkan keihklasan dan Itikad baik dari para pihak dalam suatu
perusahaan dapat meminimalisir kejadian-kejadian tersebut terjadi.
Ekuilibrium (keseimbangan dan keadilan), Tawazun atau mizan
(keseimbangan) dan al-adalah (keadilan) adalah dua buah konsep tentang
ekuilibrium dalam islam. Tawazun lebih banyak digunakan dalam menjelaskan
fenomena fisik, sekalipun memiliki implikasi sosial yang kemudian sering
menjadi wilayah al-adalah atau keadilan sebagai manifestasi tauhid khusunya
dalam konteks sosial kemasyarakatan termasuk keadilan ekonomi dan bisnis.
Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Rahman ayat 7-9 :

Dan langit dijadikannya (bumbung) tinggi, serta Ia mengadakan undang-undang


dan peraturan neraca keadilan, Supaya kamu tidak melampaui batas dalam
menjalankan keadilan; Dan betulkanlah cara menimbang itu dengan adil, serta
janganlah kamu mengurangi barang yang ditimbang.

Dalam konteks keadilan (sosial), para pihak yang melakukan perikatan


dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan kehendak dan keadaan,
memenuhi perjanjian yang telah mereka buat, dan memenuhi kewajibannya.
Kemaslahatan, secara umum diartikan sebagai kebaikan (kesejahteraan)
dunia dan akhirat. Para ahli ushul fiqh mendefinisikan sebagai segala sesuatu
yang mengandung manfaat kebaikan dan menghindarikan diri dari mudharat,
kerusakan dan mufsadah. Imam Ghazali menyatakan bahwa maslahat adalah
upaya untuk mewujudkan dan memilihara lima kebutuhan dasar yaitu agama,
jiwa, akal, keturunan, dan harta benda.

4. Simpulan
Corporate governance merupakan suatu mekanisme yang dapat digunakan
untuk memastikan bahwa supplier keuangan atau pemilik modal perusahaan
memperoleh pengembalian dari kegiatan yang dijalankan oleh manajer. Ada
empat prinsip dasar pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate
governance) yaitu: keadilan, transparansi, akuntabilitas dan pertanggungjawaban.
OECD juga telah merumukan 6 prinsip yang banyak diadopsi oleh negara-negara
di dunia. Keenam prinsip tersebut adalah: Kerangka dasar dari corporate
governance harus efektif dan efisien, prioritas utama adalah pemegang saham,
asas kesetaraan dan kewajaran dalam perlakuan manajemen terhadap pemegang
saham, peranan penting stakeholder dalam corporate governance, pengungkapan
dan transparansi serta tanggungjawab dari manajemen perusahaan. Good
corporate governance dalam perspektif Islam merupakan wacana baru yang
penting sebagai bahan pertimbangan alternatif bagi Indonesia khususnya sebagai
10
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

salah satu negara Islam terbesar di dunia. Corporate governance dalam perspektif
Islam memiliki keunggulan dibandingkan prinsip-prinsip dasar yang ada
termasuk di dalamnya prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh OECD. Dalam
perspektif Islam good corporate governance dijalankan tidak hanya sebagai
bentuk pertanggungjawaban manajemen terhadap pemilik modal, tetapi lebih
pada kebutuhan dasar setiap muslim untuk menjalankan syariat Islam secara utuh
dan sempurna serta memiliki konsep yang lebih komprehensif serta akhlaqul
karimah dan ketaqwaan pada Allah SWT yang menjadi tembok kokok untuk
tidak tergelincir dalam praktek illegal dan tidak jujur dalam menerima amanah di
suatu perusahaan. Good corporate governance dalam islam memiliki acuan pada
prinsip-prinsip tauhid, taqwa dan ridha, kemaslahatan dan ekuilibrium.

Daftar Pustaka

Abu-Tapanjeh AM (2009), Corporate Governance from The Islamic Perspective,


Critical Perspective on Accounting, Vol 20:556-567
Coles JW, Mc Willams VB, Sen N (2001) An Examination of The Relationship of
Governance Mechanism to Performance, Journal of Management , Vol
29(1):23-50
Dalton DR, Daily CM , Certo SJ, Roengpitya R (2003) Meta-analaysis of
Financial Performance and Equity: Fusion or Confusion, Academy of
Management Journal, Vol 46 (1):269-290
Daniel B (2003) Experiences with the OECD Corporate Governance Principles,
In: Middle East and North Africa Corporate Governance Workshop
Darman MG, (2005) Corporate Governance Worldwide, Internatioanl Chamber of
Commerce
Haqqi ARA (1999) The Philosophy of Islamic Law of transaction, Univision
Press, Kuala Lumpur
Hakim SR (2002) Islamic Banking, Challenges and corporate governance,
Prentice Hall, New Jersey
Khalifa AS, (2003) The multidimensional nature and purpose of business in Islam,
accounting, commerce dan finance, The Islamic Perspective Journal, Vol
7:1-25
OECD (2004) OECD Principles of Corporate Governance,
www.oecd.org/daf/governance/principles/html, diakses tgl 1 Desember
2009.
Saeed A (1996) Islamic Banking and Interest: a Study of The Prohibition of Riba
and Its Contemporary Interpretation in Studies Law and Society , E J Brill,
Australia.

http://scholar.google.com/scholar?
q=Corporate+Governance+from+The+Islamic+Perspective&btnG=&hl=en&as_sdt=0%2C5

11
PANDANGAN ISLAM TENTANG CORPORATE GOVERNANCE: ALTERNATIF APLIKASI
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

http://scholar.google.com/scholar?hl=en&as_sdt=0,5&q=Meta-
analysis+of+Financial+Performance+and+Equity%3A+Fusion+or+Confusion

http://scholar.google.com/scholar?
q=An+Examination+of+The+Relationship+of+Governance+Mechanism+to+Performance&btnG=
&hl=en&as_sdt=0%2C5

Makalah ini membahas berkembangnya kekhawatiran di seluruh dunia


mengenai prinsip-prinsip Islam dari tata kelola perusahaan. Masalah ini
penting terutama untuk negara-negara Islam seperti Indonesia dengan
aturan syairah yang tertanam dalam hal bisnis dan perdagangan. Tulisan
ini mencoba membahas sifat, penerapan dan perbandingan tata kelola
perusahaan Islam yang berbeda dengan apa yang telah diterapkan oleh
negara-negara OECD. Perbedaan utama dari kedua prinsip adalah
dimensi perspektif Islam tata kelola perusahaan yang memiliki cakrawala
yang lebih luas dan semua tindakan harus sesuai dengan aturan Islam.
Sebaliknya, OECD menerapkan enam isu yang berbeda dan kewajiban
yang menempatkan perhatian pada kedua pemegang saham dan
stakeholder. Selain itu, makalah ini dapat memberikan pemikiran baru
untuk mengembangkan tata kelola perusahaan dari sudut pandang Islam.

http://indonesian.irib.ir/al-quran/-/asset_publisher/b9BB/content/id/5181563

12