Anda di halaman 1dari 32

TUGAS ELEMEN MESIN I

MAKALAH
PERANCANGAN BAUT DAN MUR

Di Susun Oleh:

Muhamad Fadlin
15-022-014-024

Jabrin M Bolon
15-022-014-064

TEKNIK MESIN
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
2016/2017
Tugas Elemen Mesin I

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
rahmat dan karunia-Nya sehingga Tugas Elemen Mesin I ini dapat terselesaikan
walaupun masih jauh dari kesempurnaan.

Dalam Tugas Elemen Mesin I ini, penulis mencoba merencanakan baut dari
suatu konstruksi yang telah ditentukan. Dalam merencanakan baut ini, penulis
mengambil literatur dari berbagai buku-buku mesin dan masukan dari teman-teman
serta dosen.

Akhir kata penulis mengharapkan adanya sumbang saran yang dapat


beramanfaat bagi penulis untuk memperbaiki isi perencanaan ini.

Makassar, 7 februari 2017

Penulis

Perencanaan Baut
Tugas Elemen Mesin I

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Maksud dan Tujuan Tugas ................................................................ 1
B. Soal Perencanaan .............................................................................. 1
C. Batasan Masalah ............................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Baut, Mur dan Ulir ..........................................................
B. Klasifikasi Ulir ..................................................................................
C. Klasifikasi Baut dan Mur ..................................................................
D. Pembuatan Baut dan Mur .................................................................
E. Jenis-jenis Sambungan Yang Menggunakan Baut ............................
F. Pemilihan Baut dan Mur ...................................................................
BAB III SISTEMATIKA PERANCANGAN
A. Perhitungan Pada Konstruksi ...........................................................
B. Perencanaan Baut ..............................................................................
C. Perencanaan Mur ..............................................................................
D. Pemeriksaan Kekuatan Pada Baut dan Ulir ......................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP..................................................................................................

A. Kesimpulan .......................................................................................
B. Saran .................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................

Perencanaan Baut
Tugas Elemen Mesin I

BAB I
PENDAHULUAN

Tugas Elemen Mesin I adalah tugas awal bagi seorang mahasiswa teknik
mesin untuk membuat suatu rancangan sederhana yang merupakan aplikasi dari mata
kuliah-mata kuliah yang telah didapatkan sebelumnya. Sehingga mahasiswa nantinya
akan mengetahui bagaimana aplikasi dari teori-teori yang selama ini mahasiswa
dapatkan.

A. Maksud dan Tujuan Tugas


Adapun maksud dari Tugas Elemen Mesin I ini adalah untuk menggunakan teori-
teori yang didapatkan pada bangku kuliah dalam perancangan suatu konstruksi
sederhana, dan juga untuk memenuhi salah satu persyaratan kurikulum akademik
Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
Adapun tujuan Tugas Elemen Mesin I ini adalah :
1. Agar mahasiswa dapat menggunakan teori-teori yang selama ini didapatkan di
perkuliahan dalam suatu perancangan sederhana.
2. Melatih mahasiswa agar terbiasa dengan tugas-tugas perancangan, dan
menjadi dasar tugas-tugas berikutnya.
3. Agar mahasiswa mengetahui tata cara penyusunan sebuah laporan tugas
perencanaan.

B. Soal Perencanaan
Dalam tugas ini soal yang diberikan adalah merencanakan sambungan keling dan
baut pada plat lantai dermaga untuk suatu konstruksi yang telah ditentukan.

C. Batasan Masalah
Dalam merencanakan konstruksi tersebut, massa dari bahan konstruksi tersebut
diabaikan dan hanya dipengaruhi oleh gaya vertikal pada ujung konstruksi.
Sambungan yang digunakan adalah sambungan baut dan keling.

Perencanaan Baut
Tugas Elemen Mesin I

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Beberapa jenis sambungan yang biasa digunakan dalam suatu konstruksi


baja antara lain :
1. Baut (Bolt), yang terbagi atas dua yaitu baut ber kekuatan tinggi (HSS) dan
baut hitam.
2. Paku keling ( Rivet )
3. Las ( Welding )
Dari ketiga sambungan diatas maka las merupakan sambungan yang
paling kaku setelah itu paku keling kemudian baut. Selanjutnya pada bab ini
hanya akan dijelaskan masalah sambungan baut.

A. Pengertian Baut, Mur dan Ulir


Ulir sekrup digunakan sebagai sarana prnyambung yang dapat dilepas.
Ulir sekrup merupakan sebuah ulir luar pada sebuah batang bulat / tangkai. Jika
tangkai tersebut diberi bagian yang tebal, maka disebut baut sekrup atau biasa
disingkat baut.
Bagian yang tebal disebut kepala baut, yang biasanya berbentuk segi
empat atau segi enam, sehingga baut tersebut dapat dikencangkan dari luar.
Pasangan sebuah baut atau sekrup adalah perkakas berulir dalam yang
disebut mur. Seringkali ulir dalam ini dibuat pada salah satu mur dari kedua
bagian yang dijepit oleh sambungan baut. Dalam hal ini, bagian tersebut berfungsi
sebagai mur.
Gerakan mur terhadap baut dapat dianggap terdiri dari gerak putar dan
gerak lurus.
Bentuk ulir yang terkenal adalah bentuk segitiga (ulir ISO), siku-siku,
trapesium, dan ulir bulat.

Perencanaan Baut
Tugas Elemen Mesin I

Profil ulir dengan kombinasi garis tengah dan kisar merupakan sistem ulir
baut. Selama perkembangannya, muncul sejumlah besar sistem ulir yang berbeda-
beda. Dengan normalisasi, diusahakan untuk secara internasional membatasi
perbedaan dalam sistem ulir baut dan dalam kerangka sistem itu, membatasi
kombinasi kisar dan kombinasi garis tengahnya.
Untuk ulir segitiga, yang pada umumnya dipergunakan untuk pengikatan,
secara internasional telah tercapai suatu persetujuan tentang profil ulir baut yang
sesuai untuk dipakai secara umum. Profil ulir ISO ini mempunyai profil basis
yang berbentuksegitiga sama sisi, berarti dengan sudut puncak 60, dengan alas
yang sama.
Dengan adanya perbedaan antara sistem ukuran di negara-negara yang
menggunakan milimeter, dan yang menggunakan inchi, garis tengah ulir
ditunjukkan dalam pecahan ukuran inchi dan kisar dalam banyaknya ulir setiap
inchi.
Ulir dapat juga dipergunakan untuk memindahkan gerak berputar menjadi
gerak lurus, atau agak jarang gerak lurus menjadi gerak putar (bor-kotrek). Ulir
seperti ini disebut ulir sekrup daya. Yang penting dalam hal ini adalah gesekan
yang harus sekecil mungkin., berlawanan dengan ulir pengerat dimana gesekan
besar diperlukan agar tidak terlepas.
Bentuk ulir dapat terjadi bila sebuah lembaran berbentuk segi tiga
digulung pada sebuah silinder, seperti diperlihatkan dalam Gambar 1. Dalam
pemakaian, ulir selalu bekerja dalam pasangan antara ulir luar dan ulir dalam,
seperti pada Gambar 2. Ulir pengikat pada umumnya mempunyai profil
penampang berbentuk segi tiga sama kaki. Jarak antara satu puncak dengan
puncak berikutnya dari profil ulir disebut jarak bagi.
Ulir disebut tunggal atau satu jalan bila hanya ada satu jalur yang melilit
silinder, dan disebut dua atau tiga jalan bila ada dua atau tiga jalur (Gambar 3).
Jarak antara puncak-puncak yang berbeda satu putaran dari satu jalur, disebut
kisar. Jadi kisar pada ulir tunggal adalah sama dengan jarak baginya, sedangkan

Perencanaan Baut
Tugas Elemen Mesin I

ulir ganda dan tripel, besarnya kisar berturut-turut sama dengan dua kali dan tiga
kali jarak baginya.
Ulir juga dapat berupa ulir kanan dan ulir kiri, di mana ulir kanan akan
bergerak maju bila diputar searah jarum jam, dan ulir kiri akan maju bila diputar
berlawanan dengan arah jarum jam, seperti diperlihatkan dalam Gambar 4.
Umumnya ulir kanan lebih banyak dipakai.

Klasifikasi Ulir
Penggolongan ulir menurut jenis, kelas, dan bahannya akan diuraikan
seperti di bawah ini:
1. Jenis ulir
Ulir digolongkan
menurut bentuk profil
penampangnya sebagai
berikut: ulir segitiga,
persegi, trapesium, gigi
gergaji, dan bulat.
Bentuk persegi, dan gigi

Perencanaan Baut
Tugas Elemen Mesin I

gergaji pada umumnya dipakai untuk penggerak atau penerus gaya, sedangkan
ulir bulat dipakai untuk menghindari kemacetan karena kotoran. Tetapi bentuk
yang paling banyak dipakai adalah ulir segitiga.
Ulir segitiga diklasifikasikan lagi menurut jarak baginya dalam ukuran metris
dan inch, dan menurut ulir kasar dan ulir lembut sebagai berikut:
a. Seri ulir kasar metris (Tabel 1) b. Seri ulir kasar UNC (Tabel 2)

Perencanaan Baut
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.
t.
u.
v.
w.
x.
y.
z.
aa.
ab.
ac.
ad.
ae.
af.
ag.
ah.
ai.
aj.
ak.
al.
am.
an.
ao.
ap.
aq.
ar.
as.
at.
au.
av.
aw.
ax.
ay.
az.
2. Seri ulir kasar dipakai untuk keperluan umum, seperti baut dan
mur. Seri ulir lembut mempunyai jarak bagi yang kecil dan
dipergunakan pada bagian-bagian yang tipis serta untuk keadaan di
mana getaran besar (karena ulir lembut tidak mudah kendor
sendiri). Ulir seri UNC, UNF dan UNEF merupakan gabungan
antara standar Amerika dan Inggris. Dalam Gambar 5 diperlihatkan
perbandingan ulir kasar dan ulir lembut dengan diameter luar yang
sama.
3. Ada juga ulir pipa yang dipakai untuk menyambung pipa dan
bagian-bagiannya. Termasuk dalam golongan ini adalah ulir halus
yang dipakai untuk mengikat dan ulir kerucut atau tirus untuk
sambungan yang harus rapat. Ulir ini mempunyai jarak bagi yang
tinggi dan lebih kecil dari pada ulir kasar.
4. Kelas ulir
ba. Ukuran ulir luar dinyatakan dengan diameter luar, diameter
efektif (diameter dimana tebal profil dan tebal alur dalam arah sumbu
adalah sama) dandiameter inti. Untuk ulir dalam, ukuran tersebut
dinyatakan dengan diameter efektif, ukuran pembatas yang diizinkan dan
toleransi.
bb. Atas dasar besarnya toleransi, ditetapkan kelas ketelitian
untuk ulir luar:
bc. Untuk ulir metris: Kelas 1, 2 dan 3
bd. Untuk ulir UNC, UNF, UNEF:
Kelas 3A, 2A dan 1A untuk ulir luar
be. Kelas 3B, 2B dan 1B untuk
ulir dalam
bf. Perlu diterangkan bahwa ketelitian tertinggi dalam standar
JIS adalah kelas 1 dan dalam standar Amerika adalah kelas 3A dan 3B.
bg. Patokan yang diakai untuk pemilihan kelas adalah sebagai
berikut:
bh. Kelas teliti (kelas 1 dalam JIS) untuk ulir teliti.
bi. Kelas sedang (kelas 2 dalam JIS) untuk pemakaian umum.
bj. Kelas kasar (kelas 3 dalam JIS) untuk ulir yang
sukar dikerjakan, misalnya ulir dalam dari lubang yang
panjang.
5. Bahan ulir
bk. Penggolongan ulir menurut kekuatannya distandarkan
dalam JIS seperti terlihat dalam Tabel 3.Arti dari bilangan kekuatan untuk
baut dalam tabel tersebut adalah sebagai berikut: Angka di sebelah kiri
tanda titik adalah 1/10 harga minimum kekuatan tarik a (kg/mm2), dan di
sebelah kanan titik adalah 1/10 (y/a). Untuk mur, bilangan yang
bersangkutan menyatakan 1/10 tegangan beban jaminan.
bl.
bm.
bn.
bo.
bp.
bq.
br.
bs.
bt.
B. Klasifikasi Baut dan Mur
bu. Baut digolongkan menurut bentuk kepalanya, yaitu
segienam, soket segienam, dan kepala persegi. Baut dan mur dapat dibagi
sebagai berikut: baut penjepit, baut untuk pemakaian khusus dan mur
seperti diuraikan di bawah ini.
bv.
bw.
bx.
by.
bz.
ca.
cb.
cc.
cd.
a. Baut penjepit (Gambar 6), dapat berbentuk:
ce.
- Baut tembus, untuk menjepit dua bagian melalui lubang tembus,
dimana jepitan diketatkan dengan sebuah mur.
- Baut tap, untuk menjepit dua bagian, dimana jepitan diketatkan
dengan ulir yang ditapkan pada salah satu bagian.
- Baut tanam, merupakan baut tanpa kepala dan diberi ulir pada
kedua ujungnya. Untuk dapat menjepit dua bagian, baut ditanam
pada salah satu bagian yang mempunyai lubang berulir, dan jepitan
diketatkan dengan sebuah mur.
b. Baut untuk pemakaian khusus (Gambar 7) dapat berupa:
cf.
cg.
- Baut pondasi, untuk memasang mesin atau bangunan pada
pondasinya. Baut ditanam pada pondasi beton, dan jepitan pada
bagian mesin atau bangunan diketatkan dengan mur.
- Baut penahan, untuk menahan dua bagian dalam jarak tetap.
- Baut mata atau baut kait, dipasang pada badan mesin sebagai
kaitan untuk alat pengangkat.
- Baut T, untuk mengikat benda kerja atau alat pada meja atau dasar
yang mempunyai alur T, sehingga letaknya dapat diatur.
- Baut kereta, banyak dipakai pada badan kendaraan. Bagian persegi
di bawah kepala dimasukkan ke dalam lubang persegi yang pas
sehingga baut tidak ikut berputar pada waktu mur diketatkan atau
dilepaskan.
- Di samping baut khusus yang telah disebut di atas masih banyak
jenis yang lain. Tetapi di sini tidak akan dikemukakan semuanya.
c. Mur (Gambar 10).
ch. Pada umumnya mur mempunyai bentuk segi enam. Tetapi untuk
pemakaian khusus dapat dipakai mur dengan bentuk yang bermacam-
macam seperti mur bulat, mur flens, mur tutup, mur mahkota dan mur
kuping.
ci.
cj.
ck.
cl.
cm.
cn.
co.
cp.
cq.
cr. Di Indonesia baut yang sering digunakan adalah jenis baut hitam
sedangkan di luar negeri jenis baut HSS yang sering digunakan.
cs.
ct.
cu.
cv.
1. Baut berkekuatan tinggi
cw. Baut yang banyak digunakan adalah baut A325 dan A490. Kepala
baut berbentuk segi enam. Baut ini dibedakan atas 3 type
cx. Type 1 : Baut baja karbon sedang
cy. Type 2 : Baut baja karbon rendah
cz. Type 3 : Baut baja tahan karat
2. Baut Hitam
da. Dibuat dari baja kabon rendah memenuhi standart ASTM 307.
Dipakai pada struktur ringan seperti rangka batang yang kecil, rusuk
dinding.
db. Baut hitam dibagi atas dua jenis yaitu :
a. Baut yang tidak diulir penuh
dc. Ulir tidak ada pada bidaang geser
b. Baut diulir penuh
dd. Ulir baut ada pada bidang geser
de.
C. Pembuatan Baut dan Mur
df. Bahan pembuatan baut dan mur berkaitan dengan sifat mekanik
baja dan pemberian tanda pada alat pengikat tersebut. Dewasa ini baut dan
mur kebanyakan dibuat dengan cara press dingin atau press panas. Ulir
biasanya dirol dan seringkali baut mengalami perlakuan permukaan untuk
mencegah karat. Yang paling umum adalah dengan cara memfosfatkan baut
dan mur, karena itulah warnanya menjadi hitam.
dg. Dipasaran bebas dapat juga dijumpai baut yang permukaanya
dilapis seng, kadmium atau khrom. Pengolahan tak bersudip memberikan sifat
baut dan mur yang lebih baik jika dipress, dibandingkan jika dibubut. Karena
pembubutan batang utuh tidak saja menimbulkan banyak kerugian bahan,
melainkan dengan membubut juga memotong serat sejajar yang searah dengan
arah gilasan batang, hal ini merupakan pengaruh yang buruk pada kepala dan
tangkai.
dh.
D. Jenis-jenis Sambungan Yang Menggunakan Baut
1. Lap Joint (Sambungan Overlap)
di. Pada keadaan ini baut memikul 1 irisan. Gaya yang bekerja pada
baut adalah tegak lurus sumbunya menimbulkan tegangan geser.
2. Butt Joint
dj. Baut bekerja 2 irisan. Gaya yang bekerja pada baut adalah tegak
lurus sumbunya menimbulkan tegangan geser dan sejajar sumbunya yang
menimbulkan tegangan tarik.
3. Baut yang dibebani sejajar sumbu
dk. Gaya yang bekerja pada baut adalah sejajar sumbunya yang
menimbulkan tegangan tarik.
dl.
E. Pemilihan Baut dan Mur
dm. Baut dan mur merupakan alat pengikat yang sangat penting.
Untuk mencegah kecelakaan, atau kerusakan pada mesin, pemilihan baut dan
mur sebagai alat pengikat harus dilakukan dengan seksama untuk
mendapatkan ukuran yang sesuai. Dalam Gambar 11. diperlihatkan macam-
macam kerusakan yang dapat terjadi pada baut.
dn. Untuk menentukan ukuran baut dan mur, berbagai faktor harus
diperhatikan seperti sifat gaya yang bekerja pada baut, syarat kerja, kekuatan
bahan, kelas ketelitian, dll.
do. Adapun gaya-gaya yang bekerja pada baut dapat berupa:
dp.
a. Beban statis aksial murni
b. Beban aksial bersama dengan beban puntir
c. Beban geser
d. Beban tumbukan aksial
dq.
dr.
ds.
dt. Pertama-tama akan ditinjau kasus dengan pembebanan aksial
murni. Dalam hal ini, persamaan yang berlaku adalah:
du. ................................................................................................

.......................................................................................(1)
dv. di mana W (kg) adalah beban tarik aksial pada baut, t adalah
tegangan tarik yang terjadi di bagian yang berulir ada diameter inti d1 (mm).
Pada sekrup atau baut yang mempunyai diameter luar d 3 (mm), umumnya
besar diameter inti d1 0,8 d, sehingga (d1/d)2 0,64. Jika a (kg/mm2) adalah
tegangan yang diizinkan, maka:
dw. ................................................................................................

Dari persamaan (1) dan (2) diperoleh


dx. ................................................................................................

(3)
dy. Harga a tergantung pada macam bahan, yaitu SS, SC atau SF. Jika
difinis tinggi, faktor keamanan dapat diambil sebesar 6 8, dan jika difinis
biasa, besarnya antara 8 10.
dz. Untuk baja liat yang mempunyai kadar karbon 0,2 0,3 (%),
tegangan yang diizinkan a umumnya adalah sebesar 6 (kg/mm2) jika difinis
tinggi, dan 4,8 (kg/mm2) jika difinis biasa.
ea. Dalam hal mur, jika tinggi profil yang bekerja menahan gaya
adalah h (mm) seperti dalam Gambar 12, jumlah lilitan ulir adalah z, diameter
efektif ulir d2, dan gaya tarik pada baut W (kg), maka besarnya tekanan kontak
pada permukaan ulir q (kg/mm2) adalah
eb. ................................................................................................

(4)
ec.
ed.
ee.

ef. di mana qa adalah tekanan kontak


yang diizinkan, dan besarnya tergantung pada kelas ketelitian dan kekerasan
permukaan ulir seperti diberikan dalam Tabel 4. Jika persyaratan dalam
persamaan (4) tersebut dipenuhi, maka ulir tidak akan menjadi lumur atau dol.
Ulir yang baik mempunyai harga h paling sedikit 75 (%) dari kedalaman ulir
penuh; ulir biasa mempunyai h sekitar 50 (%) dari kedalaman penuhnya.
eg. Jumlah ulir z dan tinggi mur H (mm) dapat dihitung dari
persamaan:
eh. ................................................................................................z
W/(d2hqa) (5)
ei. ................................................................................................H =
zp, p = jarak bagi .......................................................................................(6)
ej. ................................................................................................
Menurut standar: H = (0,8 1,0) d ..............................................................(7)
ek. Dalam Gambar 13 diperlihatkan bahwa gaya W juga akan
menimbulkan tegangan geser pada luas bidang silinder (d1.k.p.z) di mana k.p
adalah tebal akar ulir luar. Besar tegangan geser ini, b (kg/mm2) adalah:
el. ................................................................................................

(8)
em.Jika tebal akar ulir pada mur dinyatakan dengan j.p, maka tegangan
gesernya adalah:
en.
eo. ................................................................................................

(9)
ep. Untuk ulir metris dapat diambil k 0,84 dan j 0,75. Untuk pembebanan
pada seluruh ulir yang dianggap merata, b dan n harus leih kecil dari pada
harga yang diizinkan a.
eq.
er. Bila beban yang bekerja pada baut
merupakan
gabungan antara gaya tarik aksial
dan momen
puntir, maka sangat
perlu untuk menentukan cara

memperhitungkan pengaruh puntiran tersebut. Jika gaya aksial dinyatakan dengan


W (kg), maka harus ditambahkan W/3 pada gaya aksial tersebut sebagai pengaruh
tambahan dari momen puntir. Cara ini merupakan perhitungan kasar, dan dipakai
bila perhitungan yang lebih teliti dianggap tidak diperlukan.
es. Bila terdapat gaya geser murni W (kg), tegangan geser yang terjadi
masih dapat diterima selama tidak melebihi harga yang diizinkan. Jadi (W/
(/4)d2) a, untuk satu penampang yang mendapat beban geser. Seperti telah
diuraikan di muka, tegangan geser yang diizinkan diambil sebesar a = (0,5
0,75) a, di mana a adalah tegangan tarik yang diizinkan. Perlu diperhatikan
bahwa tegangan geser harus ditahan oleh bagian badan baut yang tidak berulir,
sehingga gaya geser yang ada dibagi oleh luas penampang yang berdiameter d.
et. Baut yang mendapat beban tumbukan dapat putus karena adanya
konsentrasi tegangan pada bagian akar profil ulir. Dengan demikian diameter
inti baut harus diambil cukup besar untuk mempertinggi faktor keamanannya.
Baut khusus untuk menahan tumbukan biasanya dibuat panjang, dan bagian
yang tidak berulir dibuat dengan diameter lebih kecil daripada diameter
intinya, atau diberi lubang pada sumbunya sepanjang bagian yang tak berulir,
seperti dalam Gambar 14.
eu.
ev.
ew.
ex.
ey.
ez. Panjang l dari baut tap atau baut benam yang disekrupkan ke dalam
lubang ulir, tergantung bahan lubang ulir tersebut sebagai berikut: untuk baja
atau perunggu l = d, untuk besi cor l = 1,3 d, untuk logam lunak l = (1,8 2,0)
d. Kedalaman lubang ulir harus sama dengan l ditambah 2 10 (mm).
fa. Permukaan di mana kepala baut atau mur akan duduk, harus dapat
menahan tekanan permukaan sebagai akibat dari gaya aksial baut. Untuk
menghitung besarnya tekanan ini, dianggap bahwa luas bagian kepala baut
atau mur yang akan menahan gaya adalah lingkaran yang diameter luarnya
sama dengan jarak dua sisi sejajar dari segienam B (mm), dan diameter
dalamnya sama dengan diameter-diameter luar baut d (mm). Jika beban aksial
baut adalah W (kg), maka besarnya tekanan permukaan dudukan adalah:
fb. ................................................................................................

(10)
fc. di mana qsa adalah tekanan permukaan yang diizinkan seperti dalam Tabel
4.
fd. Baut atau mur dapat menjadi kendor atau lepas karena getaran.
Untuk mengatasi hal ini perlu dipakai penjamin. Di bawah ini diberikan
beberapa contoh yang umum dipakai.
1. Cincin penjamin (Gambar 15) yang dapat berbentuk cincin pegas, cincin
bergigi luar, cincin cekam dan cincin berlidah.
2. Mur penjamin (Gambar 16) yang menggunakan dua buah mur, yang
bentuknya dapat bermacam-macam. Dalam Gambar (16a), mur A akan
mencegah mur B menjadi kendor.
3. Pena penjamin, sekrup mesin, atau sekrup penetap (Gambar 17).
4. Macam-macam penjamin lain (Gambar 18) seperti dengan cincin nilon
yang disisipkan pada ujung mur untuk memperbesar gesekan dengan baut,
menipiskan dan membelah ujung mur yang berfungsi sebagai penjepit baut,
dll.
fe.
ff.
fg.
fh.
fi.
fj.
fk.
fl.
fm.
fn.
fo.
fp.
fq.
fr.
fs.
ft.
fu.
fv.
fw.
fx.
fy.
fz.
ga.
gb. BAB III
gc.SISTEMATIKA PERANCANGAN
gd.
ge. 1m
gf.
gg.
gh.
gi.
gj.
gk.
gl.
P = 650 kg
gm.
gn.
go.
3m

gp.
gq.
gr.
gs.
gt.
gu.
gv.
gw.
gx.
gy.
gz.
ha.
hb.
hc. Gambar Perencanaan
A. Perhitungan Pada Konstruksi
hd. Tiang pada konstruksi di atas berbentuk tabung dengan penampang
bujur sangkar yang mempunyai dimensi luar (b) = 150 mm = 0,150 m, tebal
dinding (t) = 5 mm = 0,005 m. Tumpuan diikat oleh baut sehingga dapat
diasumsikan sebagai sambungan jepit yang mempunyai sebuah gaya vertikal,
gaya horizontal dan momen yang berlawanan arah dengan jarum jam seperti
diperlihatkan pada diagram bebas berikut ini.
he.
hf. Diagram benda bebas (DBB)
hg. 1m

hh. B C P=650 kg x 9,8 m/s2


=6370 N
hi. =6,37 kN
hj.
P = 650 kg
hk.
3m

hl.
hm.
hn. MA
A
ho. FAx

hp. FAy

hq.
1. Gaya tekan aksial (P1) berlawanan arah dengan FAy
hr. FH = 0 FAy P = 0
hs. FAy = 6,37 kN ke arah atas
ht. Jadi, P1 = 6,37 kN = 650 kg ke arah bawah
2. Gaya geser (P2) berlawanan arah dengan arah FAx
hu. FV = 0 FAx = 0 P2 = 0
3. Momen lentur di A (MA)
hv. MC = 0
hw. (FAy x1) (FAx x 3) MA = 0 MA = 1 x FAy = 6,37 kN.m = 630
kg.m
hx. atau dengan cara lain
P2

P1

hy. MA =Pxd dimana d = jarak lengan = 1 m


hz. = 650 x 1 = 650 kg.m

y4. Tegangan tekan aksial (p)


ia. p = P1/A dimana A = b2 (b 2t)2 = 4t ( b t)
ib. = (4 x 0,005) (0,15 0,005) = 0,0029
p m2
ic. = 650/0,0029 = 2,241 x 10-5 kg/m2
id. 0,224 kg/mm2
5. Tegangan lentur (M)

M
ie.

if. = 1,017 x 10-5 m4

ig. =
y ih. = 4,794 x 106 kg/m2 = 4,794 kg/mm2
6. Tegangan tarik (y)
ii. A = M + M = 0,224 + 4,794 = 5,018 kg/mm2
p
ij. y = A = 5,018 kg/mm2
ik. = 5,018 kg/mm2 ke arah atas
il.
im.
in. M

io.
ip.
iq.
ir.
is.
it.
p
y
M
y
M

iu.
iv.
B. Perencanaan Baut
1. Beban yang terjadi (W)
iw. W = P1 = 650 kg
2. Beban yang terjadi pada tiap baut (Wt)

ix. Wt = dimana n = Jumlah baut yang


digunakan
iy. = 4 dipilih

iz. =
ja. = 162,5 kg
3. Beban yang direncanakan pada tiap baut (Wd)
jb. Wd = Wt x fc dimana fc = Faktor koreksi = 1,2
jc. = 162,5 x 1,2
jd. = 195 kg
4. Bahan baut: Baja liat dengan 0,22 %C.
je. Tegangan tarik (B) = 42
kg/mm2
jf. Tegangan yang diizinkan (a)
= 3 kg/mm2
jg. Tegangan geser yang
diizinkan (a) = (0,5 0,75) a dipilih
0,5
jh. = 0,5 x 3 = 1,5
kg/mm2
5. Diameter inti baut (d1)

ji.
jj. Tegangan tarik yang terjadi di bagian yang berulir (t) harus lebih
kecil dari tegangan yang diizinkan (a) agar baut dapat bekerja dengan
aman.

jk.

jl.
jm. 9,100 mm
jn.
6. Ulir pada baut (ulir luar) dipilih ulir metris kasar (M11) dari Tabel 1b.
jo. Diameter inti (d1) =
9,376 mm 9,100 mm
jp. Diameter ulir (d) =
11,000 mm
jq. Jarak bagi (p) = 1,5 mm
jr.
C. Perencanaan Mur
1. Bahan mur: Baja liat dengan 0,22 % C
js. Tegangan tarik (B) = 42
kg/mm2
jt. Tegangan yang diizinkan (a)
= 3 kg/mm2
ju. Tegangan geser yang
diizinkan (a) = (0,5 0,75) a dipilih
0,5
jv. = 0,5 x 3 = 1,5
kg/mm2
jw. Tegangan permukaan yang
diizinkan (qa) = 3 kg/mm2
2. Ulir pada mur (ulir dalam) dipilih ulir metris kasar (M11) dari Tabel 1b.
jx. Diameter luar ulir dalam (D)
= 11,000 mm
jy. Diameter efektif ulir dalam
(D2) = 10,026 mm
jz. Tinggi kaitan gigi (H1)
= 0,812 mm
3. Jumlah ulir mur yang diperlukan (z)

ka.
kb. 5,085 6 buah
4. Tinggi mur yang diizinkan (H)
kc. H z . p 6 x 1,5
kd. 9 mm
5. Tinggi mur yang direncanakan (Hd)
ke. Hd (0,8 1,0) dm dimana dm =

kf. = 11,374 mm
kg. Hd 0,9 x 11,374
kh. 10,237 mm (yang akan dipakai)
6. Jumlah ulir mur (z)
ki. z = Hd / p = 10,237 / 2
kj. = 5,119 buah
7. Tegangan geser akar ulir baut (b)

kk.
kl. = 1,027 kg/mm2
8. Tegangan geser akar ulir mur (n)
km.
kn. = 0,980 kg/mm2
9. Tekanan kontak pada permukaan ulir (q)

ko.
kp. = 0,807 kg/mm2
kq.
D. Pemeriksaan Kekuatan Pada Baut dan Ulir
1. Baut dan mur dianggap aman karena
a. Tegangan geser akar ulir baut (b) dan tegangan geser akar ulir mur (n)
kurang dari tegangan geser yang diizinkan (a)
kr. b dan n a atau 1,0207 kg/mm2 dan 0,980 kg/mm2
1,5 kg/mm2
b. Tekanan kontak pada permukaan ulir (q) kurang dari tekanan kontak
yang diizinkan (qa)
ks. q qa atau 0,807 kg/mm2 3 kg/mm2
c. Tegangan tarik pada kontruksi (kurang dari tegangan tarik pada baut
kt. y B atau 5,018 kg/mm2 42 kg/mm2
2. Bahan baut dan mur: Baja liat dengan 0,22 %C dengan ukuran M11.
ku.
kv. BAB IV
kw.HASIL DAN PEMBAHASAN
kx.