Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

PEMBAHASAN

Berdasarkan pemberian asuhan keperawatan ini dilaksanakan pada


tanggal 05 april 2017 s.d 08 april 2017 mulai dari pengkajian, analisa data,
prioritas diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi, dan
evaluasi. Komponen kunci dan pondasi proses keperawatan adalah pengkajian.
Suatu pengkajian yang mendalam memungkinkan perawat kritikal untuk
mendeteksi perubahan cepat, melakukan intervensi dini dan melakukan asuhan
(Talbot, Marquardt, & Meyers, 2007). Pengkajian dilakukan pada hari Senin
tanggal 05 april 2017 pukul 04.00 pm di ruang Medical Intensive Care Unit, St.
Paul Hospital Tuguegarao Philippines. Data didapatkan dengan cara observasi,
pemeriksaan fisik dan data- data pendukung yang ada seperti hasil lab dan Ct
Scan.
Klien berinisial Tn. R umur 45 tahun, jenis kelamin laki-laki, pekerjaan
swasta, status menikah, dirawat sejak hari sabtu 05 april 2017 jam 14.30 WIB, no
RM 1.23.xx.xx, klien dirawat di ruang Medical Intensive Care Unit, dengan
diagnosa medik CVA (Cerebro Vascular Accident). Keluhan utama Klien pusing
dan tidak dapat berbicara dengan GCS: E3 V1 M3 terpasang oksigen dengan
nasal kanul 2 lpm dan SPO2: 100%.
Riwayat kesehatan sekarang Keluarga klien mengatakan klien tiba-tiba
tidak bisa bicara dan merasakan kelemahan pada ekstremitasnya, kemudian
klien di bawa ke Rumah Sakit St. Paul Hospital.
Riwayat penyakit dahulu, keluarga klien mengatakan sebelumnya klien
tidak pernah dirawat dirumah sakit, klien memiliki riwayat hipertensi 4 tahun yang
lalu, dan klien tidak memiliki penyakit menular seperti TBC, HIV/ AIDS dan
hepatitis.
Riwayat kesehatan keluarga, keluarga klien mengatakan tidak memiliki
anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama sepertinya.
Dalam teori, salah satu penyebab munculnya penyakit stroke yaitu
hipertensi (Kowalak, William, Brenna, 2011). Stroke dapat menyebabkan
kelumpuhan. Kelumpuhan dapat terjadi pada ekstremitas karena ketidakefektifan
perfusi jaringan yang disebabkan oleh trombus dan emboli akan menyebabkan
iskemia pada jaringan yang tidak dialiri oleh darah, jika hal ini berlanjut terus-
menerus maka jaringan tesebut akan mengalami infark dan kemudian akan
mengganggu sistem persyarafan yang ada di tubuh seperti: penurunan kontrol
volunter yang akan menyebabkan hemiplagia atau hemiparese sehingga tubuh
akan mengalami hambatan mobilitas (Price, 2006).
Masalah keperawatan yang utama mucul pada kasus ini adalah risk for
ineffective cerebral tissue perfusion yang ditandai dengan peningkatan tekanan
darah 170/100 mmHg, dan hasil pemeriksaan Ct Scan terdapat pendarahan intra
serebral pada bagian frontal sebanyak 17 cc. Saat diberikan intervensi
keperawatan dan implementasi keperawatan yang dilakukan masalah klien
belum teratasi.
Dalam mengambil tindakan keperawatan, kelompok berkolaborasi
dengan perawat ruangan dan dokter. Untuk rencana keperawatan yang
kelompok seperti berikut: monitor vital sign, monitor headache, monitor level of
awareness and orientation, monitor nystagmus diplopia, blurred vision, visual
acuity, monitor ICT, management of peripheral sensation, collaborative activity:
Keeping the thermodynamic parameters within the recommended range, giving
the drugs to increase intravascular volume, as requested, give the drug which
causes hypertension to maintain cerebral perfusion pressure according to
demand, elevate the head of the bed 0 to 45 degrees, depending on the patient's
condition and medical demands, give loap and osmotic diuretics, according to
demand.
Hasil dari catatan perkembangan klien yang dirawat dari tanggal 04 april
2017 sampai 08 april 2017 secara umum tidak mengalami perkembangan.