Anda di halaman 1dari 9

31.

CEKUNGAN LOMBOK-BALI

31.1 REGIONAL

Nama Cekungan Polyhistory : Paleogen -Neogen Fore- Arc Basin.

Klasifikasi Cekungan : Cekungan Sedimen Dengan Belum Ada Penemuan


Hidrokarbon.

31.1.1 Geometri Cekungan

Dasar penarikan batas cekungan adalah deliniasi data isopach (Gambar 31.1) pada 3.250 m.
Data batimetri dan anomali gaya berat (Gambar 31.2) menunjukkan adanya anomali negatif
yang membentuk cekungan berarah barat - timur.

Cekungan Bali-Lombok merupakan cekungan busur depan, beberapa penulis menyebutnya


sebagai cekungan inter arc-trench yang terbentuk akibat subduksi lempeng. Berada di sebelah
selatan Pulau Bali, Lombok, dan Sumbawa, terletak di antara busur gunung api dan prisma akresi
subduksi. Cekungan busur depan ini dibentuk dari subduksi normal (tegak lurus) lempeng
samudera yang menunjam di bawah busur kepulauan.

Posisi cekungan secara geografis adalah 113o20-117o 10 BT dan 9o 10 - 10o 0 LS. Keseluruhan
wilayah cekungan berada di daerah lepas pantai dengan luas area sekitar 17.980 km 2. Berada di
bagian tenggara batas Paparan Sunda, berbentuk linier dan memanjang berarah barat-timur.
Cekungan ini diperkirakan memiliki karakteristik yang sama dengan Cekungan Selatan Jawa.
Beberapa punggungan hadir di antara kedua cekungan ini, dan memiliki kedalaman air lebih dari
2.000 m. Umumnya endapan sedimen menebal ke arah selatan hingga 3,5 detik (TWT).
Gambar 31.1 Lokasi Cekungan Bali-Lombok Selatan dan isopach.
Gambar 31.2 Peta anomali gaya berat (Pusat Survei Geologi, 2000).
31.2 TEKTONIK REGIONAL

Cekungan Bali-Lombok merupakan cekungan inter arc-trench, yaitu cekungan yang terletak di
antara busur gunung api dan prisma akresi subduksi. Pembentukan cekungan ini diperkirakan
berhubungan dengan subduksi Lempeng Samudera Australia ke bawah Lempeng Benua Eurasia,
yang dimulai sejak Tersier Awal (Eo-Oligosen). Cekungan tersebut berupa graben berarah barat-
timur, interpretasi ini didukung oleh penampang seismik dan model penampang geologi yang
memotong cekungan.

Cekungan inter arc-trench (outer basin) terbentuk oleh graben berarah barat-timur dan dibatasi
oleh pematang/akresi yang terdiri dari sesar-sesar anjakan miring ke utara. Batas timur Cekungan
Lombok-Bali dibentuk oleh Pulau Sumba yang menunjukkan pengangkatan berumur Resen,
yang berasosiasi dengan subduksi Continental Scott Platue. Pulau Sumba juga mewakili adanya
transisi subduksi oceanic argo abyssal plain di bawah Paparan Sunda di sebelah timur, menjadi
tumbukan Lempeng Benua Australia dengan Busur Sunda.
31.3 STRATIGRAFI REGIONAL

Stratigafi cekungan didasarkan pada hasil interpretasi seismik yang dilakukan oleh beberapa
peneliti terdahulu. Bolliger dan de Ruiter (1975), van der Werff (1996) membagi endapan
sedimen di cekungan busur depan selatan Jawa dan Lombok menjadi 3 unit (notasi angka 1-5
dalam seismik) sedimen utama. Data seismik refraksi mengindikasikan bahwa cekungan ini
dialasi oleh kerak dengan variabel yang beragam (5.6 km s-1, 7.0 km s-1) dengan ketebalan 21-
25 km (Curray dkk., 1979 dalam W. van der Werff, 1996).

Unit sedimen yang paling tua (1) diperkirakan terdiri atas endapan Paleogen yang terbentuk
terlebih dahulu sebelum present active margin. Selanjutnya sedimen ini ditutupi oleh unit
sedimen (2 dan 3) yang miring ke utara dan downlap terhadap Sikuen Paleogen tersebut.
Endapan ini tersebar meluas hingga separuh cekungan hingga batas utara cekungan busur depan.
Unit (2 dan 3) ditutupi oleh endapan sedimen unit (4 dan 5) yang berasal dari tinggian magmatik
dan tersebar luas di bagian dalam hingga ke bagian luar cekungan.

Werff (1996), memisahkan cekungan ini menjadi dua bagian yakni daerah yang relatif lebih
dangkal di bagian timur, disebut sebagai Eastern Lombok Basin, dan daerah yang lebih dalam
dan terbentuk terlebih dahulu yang berada di sebelah barat disebut sebagai Western Lombok
Basin.

Cekungan Lombok bagian timur (Eastern Lombok Basin, Gambar 31.3) mulai terbentuk sejak
Miosen yang ditunjukkan oleh pentarikhan umur radiometri pada batuan volkanik di Sumbawa
dan Flores Tengah (Abbott dan Chamalaun,1981; Nishimura dkk., 1981 dalam van der Werff,
1996). Sumba Ridge, yang berada di barat dan timur Pulau Sumba, membentuk struktur tinggian
yang memotong prisma akresi di sebelah selatan Pulau Sumba.

Cekungan ini menunjukkan penstrukturan yang intensif yang terjadi pada awal pembentukan
cekungan, serta ditutupi oleh sedimen dengan ketebalan maksimum 1 detik TWT. Struktur
tinggian Sumba Ridge ini membatasi cekungan sehingga tidak dapat menerima suplai sedimen
busur magmatik yang tertransportasikan ke arah barat cekungan oleh submarine canyon dan
channel turbidite berarah barat-timur. Cekungan mendapatkan sedimen melimpah dari Sumba
Ridge itu sendiri oleh aktifitas mass wasting sebagai konsekuensi pengangkatan cepat dan
termiringkan akibat tumbukan Busur Banda dan Lempeng Benua Australia di sebelah selatan
Sumba.

Cekungan busur depan bagian luar terbentuk dari penurunan batuan dasar dan pengangkatan
prisma akresi. Batuan dasar akustik (acoustic basement) dicirikan oleh pensesaran intensif dan
berdasarkan interpretasi seismik van Weering dkk. (1989) batuan dasar ini berumur Paleogen.
Batuan dasarnya ditutupi oleh sedimen unit (1) dengan ketebalan sekitar 0.25 s TWT, yang
kemungkinan mewakili sedimen pelagik berumur Miosen Awal terendapkan sebelum dan segera
setelah inisiasi arc-trench. Pengangkatan dan kemiringan yang berbeda dari unit (1) ke arah utara
outer-arc high, menggambarkan sifat kompresif bagian busur depan. Unit sedimen selanjutnya
(2) berbentuk lensa dan masih tetap miring ke utara. Unit ini terdiri dari endapan submarine fan
yang terbentuk di belakang prisma akresi yang berevolusi, diperkirakan terbentuk di awal
pembentukan cekungan. Prisma akresi ini merupakan sumber utama sedimen cekungan busur
depan.

Cekungan Lombok bagian barat (Western Lombok Basin Gambar 31.3) diperkirakan merupakan
bagian yang lebih berkembang dalam dalam sejarah pembentukan cekungan dan terdiri dari
sedimen dengan tebal maksimum mencapai 4 s TWT. Lima unit seismik utama dapat dikenali,
unit terbawah (1) diperkirakan terdiri dari endapan sedimen synrift yang lebih tua dari awal
pembentukan arc-trench. Sedimen ini ditutupi oleh unit sedimen (2) dan (3) yang mewakili
pengendapan prograding ke utara endapan submarine fan yang mirip dengan dengan yang terjadi
di utara prisma akresi jauh di timur cekungan. Unit sedimen tersebut diperkirakan berumur
Oligosen Akhir-Miosen Awal dan berhubungan dengan fase suksesif pembentukan prisma akresi
(van der Werff dkk., 1994). Dua unit sedimen terakhir (4) dan (5) memiliki umur Miosen
Tengah-Akhir dan Pliosen-Resen onlaping di atas sikuen submarine fan serta merefleksikan
pengangkatan dan evolusi busur magmatik. Pengangkatan ini berasosiasi dengan tidak stabilnya
lereng dan hadirnya longsoran sedimen yang terendapkan sepanjang lereng busur magmatik (van
der Werff dkk., 1994).
Gambar 31.3 Penampang seismik daerah Cekungan Lombok-Bali dan sekitarnya.
31.4 SISTEM PETROLEUM

Belum diketahui adanya potensi hidrokarbon di daerah ini. Daerah ini merupakan daerah laut
dalam dan endapannya didominasi oleh endapan Kuarter yang berafinitas dengan endapan
volkanik, sehingga diperkirakan akan sulit sekali didapatkan batuan induk dan batuan reservoir.

Belum ada sumur pemboran yang ditemukan di daerah ini dan hanya dua buah penampang
seismik regional yang memotong cekungan serta sebuah penampang di sebelah timur cekungan
(dekat dengan Cekungan Sawu).
DAFTAR PUSTAKA

AudleyCharles, M.G., 2004, Ocean Trench Blocked and Obliterated by Banda


Fore-arc Collision with Australian Proximal Continental Slope,
Tectonophysics, hal. 65-79.
Bolliger, W., De Ruiter, P.A.C., 1975, Geology Of The South Central Java Offshore Area,
Indonesian Pet. Assoc., 4th Annual Convention Proceeding.
Hardi Prasetyo, 1992, The Bali-Flores Basin: Geological Transition From Extensional To
Subsequent Compressional Deformation, Indonesian Pet. Assoc., 31st Annual
Convention Proceeding.
Werff, W., van der, 1996, Variation In Forearc Basin Development Along The Sunda Arc,
Indonesia, Centre of Marine Earth Sciences, Vrije Universiteit, De Boelelaan
1085, 1081 HV Amsterdam, The Netherlands.