Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH IV

CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE

Oleh :

DEDI IRAWAN

1401100021

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEPERAWATAN

PRODI D-III KEPERAWATAN MALANG

TAHUN 2017
LEMBAR PENGESAHAN

Tanggal :

Nama mahasiswa : Dedi Irawan

NIM : 1401100021

Mengetahui,

Pembimbing Institusi Pembimbing Lahan

( ) ( )

NIP. NIP.
A. DEFNISI
PPOK adalah penyakit obstruksi saluran nafas kronis dan progresif yang dikarakterisir
oleh adanya keterbatasan aliran udara yang bersifat irreversibel, yang disebabkan oleh
bronkitis kronis, emphysema, atau keduanya. (Ekawati, 2010)
Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a preventable and treatable disease
with some significant extrapulmonary effects that may contribute to the severity in individual
patients. ( Gold, 2008)
Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah suatu penyakit yang dikarakteristikkan
oleh adanya hambatan aliran udara secara kronis dan perubahan-perubahan patologi pada
paru, dimana hambatan aliran udara saluran nafas bersifat progresif dan tidak sepenuhnya
reversibel dan berhubungan dengan respon inflamasi yang abnormal dari paru-paru terhadap
gas atau partikel yang berbahaya.

B.

ETIOLOGI
Etiologi untuk penyakit ini belum diketahui. Namun ada berbagai penyakit yang dapat
menyebabkan penyakit paru obstruksi menahun antara lain:
1. Emfisema Paru
Emfisema paru merupakan suatu definisi anatomik, yaitu suatu perubahan
anatomik parenkim paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran
udara bagian distal bronkus terminalis, yang disertai kerusakan dinding alveolus. Sesuai
dengan definisi tersebut, maka jika ditemukan kelainan berupa pelebaran ruang udara
(alveolus) tanpa disertai adanya destruksi jaringan maka keadaan ini sebenarnya tidak
termasuk emfisema, melainkan hanya sebagai "overinflation". Emfisema akan
menyebabkan defek pada aliran udara. Emfisema paru dapat didiagnosis secara tepat
dengan menggunakan CT scan resolusi tinggi.
2. Bronchitis kronik
Bronchitis adalah penyakit pernapasan dimana selaput lendir pada saluran-saluran
bronchial paru meradang. Ketika selaput yang teriritasi membengkak dan tumbuh lebih
tebal, hal ini menyebabkan penyempitan bronkus, berakibat pada serangan-serangan
batuk yang disertai oleh dahak dan sesak napas. Peradangan ini juga menyebabkan
pembentukan mukus yang berlebihan dalam bronkus dan bermanifestasi sebagai batuk
kronik dan pembentukan sputum selama sedikitnya 3 bulan dalam setahun, sekurang-
kurangnya dalam 2 tahun berturut-turut.
3. Asma bronkiale
Asma merupakan suatu penyakit yang dicirikan oleh hipersensitivitas cabang-
cabang trakeobronkial terhadap berbagai jenis rangsangan. Keadaan ini bermanifestasi
sebagai penyempitan saluran-saluran napas secara periodic dan reversible akibat
bronkospasme
4. Bronkiektasis
Bronkiektasis adalah dilatasi bronkus dan bronkiolus kronik yang mungkin
disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk infeksi paru dan obstruksi bronkus, aspirasi
benda asing, muntahan, atau benda-benda dari saluran pernapasan atas, dan tekanan
terhadap tumor, pembuluh darah yang berdilatasi dan pembesaran nodus limfe.
Bronkiektasis biasanya dimulai saat anak-anak setelah infeksi saluran pernapasan bawah
berulang sebagai komplikasi campak, pertusis, influenza, bronchitis, atau pneumonia.

Ada beberapa faKtor yang menyebabkan keparahan penyakit-penyakit diatas sehingga


berlangsung secara lama atau menahun antara lain :
- Polusi udara
- Infeksi paru berulang
- Merokok sigaret yang berlangsung lama
- Defisiensi alfa-1 antitripsin
- Defisiensi anti oksidan
- Stress
- Infeksi
- Terpapar allergen
- Terpapar bahan kimia

C. FAKTOR RESIKO
1. Merokok
Pada tahun 1964, penasihat Committee Surgeon General of the United
States menyatakan bahwa merokok merupakan faktor risiko utama mortalitas bronkitis
kronik dan emfisema. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam waktu satu detik
setelah forced expiratory maneuver (FEV ), terjadi penurunan mendadak dalam volume
ekspirasi yang bergantung pada intensitas merokok. Hubungan antara penurunan fungsi
paru dengan intensitas merokok ini berkaitan dengan peningkatan kadar prevalensi
PPOK seiring dengan pertambahan umur. Prevalansi merokok yang tinggi di kalangan
pria menjelaskan penyebab tingginya prevalensi PPOK dikalangan pria. Sementara
prevalensi PPOK dikalangan wanita semakin meningkat akibat peningkatan jumlah
wanita yang merokok dari tahun ke tahun .
PPOK berkembang pada hampir 15% perokok. Umur pertama kali merokok,
jumlah batang rokok yang dihisap dalam setahun, serta status terbaru perokok
memprediksikan mortalitas akibat PPOK. Individu yang merokok mengalami penurunan
pada FEV1 dimana kira-kira hampir 90% perokok berisiko menderita PPOK. Second-
hand smoker atau perokok pasif berisiko untuk terkena infeksi sistem pernafasan, dan
gejala-gejala asma. Hal ini mengakibatkan penurunan fungsi paru (Kamangar, 2010).
Pemaparan asap rokok pada anak dengan ibu yang merokok menyebabkan penurunan
pertumbuhan paru anak. Ibu hamil yang terpapar dengan asap rokok juga dapat
menyebabkan penurunan fungsi dan perkembangan paru janin semasa gestasi.
2. Hiperesponsif saluran pernafasan
Menurut Dutch hypothesis, asma, bronkitis kronik, dan emfisema adalah variasi
penyakit yang hampir sama yang diakibatkan oleh faktor genetik dan lingkungan.
Sementara British hypothesis menyatakan bahwa asma dan PPOK merupakan dua
kondisi yang berbeda; asma diakibatkan reaksi alergi sedangkan PPOK adalah proses
inflamasi dan kerusakan yang terjadi akibat merokok. Penelitian yang menilai hubungan
tingkat respon saluran pernafasan dengan penurunan fungsi paru membuktikan bahwa
peningkatan respon saluran pernafasan merupakan pengukur yang signifikan bagi
penurunan fungsi paru. Meskipun begitu, hubungan hal ini dengan individu yang
merokok masih belum jelas. hiperesponsif saluran pernafasan ini bisa menjurus kepada
remodeling saluran nafas yang menyebabkan terjadinya lebih banyak obstruksi pada
penderita PPOK.
3. Infeksi saluran pernafasan
Infeksi saluran pernafasan adalah faktor risiko yang berpotensi untuk
perkembangan dan progresi PPOK pada orang dewasa. Dipercaya bahwa infeksi salur
nafas pada masa anak-anak juga berpotensi sebagai faktor predisposisi perkembangan
PPOK. Meskipun infeksi saluran nafas adalah penyebab penting terjadinya eksaserbasi
PPOK, hubungan infeksi saluran nafas dewasa dan anak-anak dengan perkembangan
PPOK masih belum bisa dibuktikan
4. Pemaparan akibat pekerjaan
Peningkatan gejala gangguan saluran pernafasan dan obstruksi saluran nafas
juga bisa diakibatkan pemaparan terhadap abu dan debu selama bekerja. Pekerjaan
seperti melombong arang batu dan perusahaan penghasilan tekstil daripada kapas
berisiko untuk mengalami obstruksi saluran nafas. Pada pekerja yang terpapar dengan
kadmium pula, FEV 1, FEV 1/FVC, dan DLCO menurun secara signifikan (FVC, force
vital capacity; DLCO, carbon monoxide diffusing capacity of lung). Hal ini terjadi
seiring dengan peningkatan kasus obstruksi saluran nafas dan emfisema. Walaupun
beberapa pekerjaan yang terpapar dengan debu dan gas yang berbahaya berisiko untuk
mendapat PPOK, efek yang muncul adalah kurang jika dibandingkan dengan efek akibat
merokok.
5. Polusi udara
Beberapa peneliti melaporkan peningkatan gejala gangguan saluran
pernafasan pada individu yang tinggal di kota daripada desa yang berhubungan dengan
polusi udara yang lebih tinggi di kota. Meskipun demikian, hubungan polusi udara
dengan terjadinya PPOK masih tidak bisa dibuktikan. Pemaparan terus-menerus dengan
asap hasil pembakaran biomass dikatakan menjadi faktor risiko yang signifikan
terjadinya PPOK pada kaum wanita di beberapa negara. Meskipun begitu, polusi udara
adalah faktor risiko yang kurang penting berbanding merokok.
6. Faktor genetik
Defisiensi 1-antitripsin adalah satu-satunya faktor genetik yang berisiko untuk
terjadinya PPOK. Insidensi kasus PPOK yang disebabkan defisiensi 1-antitripsin di
Amerika Serikat adalah kurang daripada satu peratus. 1-antitripsin merupakan inhibitor
protease yang diproduksi di hati dan bekerja menginhibisi neutrophil elastase di paru.
Defisiensi 1-antitripsin yang berat menyebabkan emfisema pada umur rata-rata 53
tahun bagi bukan perokok dan 40 tahun bagi perokok.
D. PATOFISIOLOGI
E. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis penyakit paru obstruktif menahun dapat berupa :
1. Bronkitis
Dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan)
b. Sesak nafas ketika melalukan olahraga atau aktivitas ringan
c. Sering menderita infeksi pernafasan (misalnya : flu)
d. Lelah
e. Pembengkakan pergelangan kaki, tungkai kiri dan kanan
f. Wajah telapak tangan atau selaput lendir berwarna kemerahan
g. Pipi tampak kemerahan
h. Sakit kepala
2. Emfisema
Dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Dispnea
b. Takipnea
c. Inspeksi : Barel chest, penggunaan otot bantu pernafasan
d. Perkusi : Hiperseronan, penurunan fremitus traktil pada seluruh bidang paru
e. Auskultasi : Bunyi nafas crackles, ronchi, perpanjangan ekspirasi
f. Hipoksemia
g. Hipercapnia
h. Anoreksia
i. Penurunan BB
j. Kelemahan
3. Asma
Dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Batuk
b. Dispnea
c. Hipoksia
d. Takikardi
e. Berkeringan
f. Pelebaran tekanan nadi

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosis
Diagnosis PPOK dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan foto toraks dapat menentukan
PPOK Klinis. Apabila dilanjutkan dengan pemeriksaan spirometri akan dapat menentukan
diagnosis PPOK sesuai derajat penyakit.

Anamnesis
a. Ada faktor risiko
Faktor risiko yang penting adalah usia (biasanya usia pertengahan), dan adanya riwayat
pajanan, baik berupa asap rokok, polusi udara, maupun polusi tempat kerja. Kebiasaan
merokok merupakan satu - satunya penyebab kausal yang terpenting, jauh lebih penting
dari faktor penyebab lainnya. Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan
apakah pasien merupakan seorang perokok aktif, perokok pasif, atau bekas perokok.
Penentuan derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah
rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun. Interpretasi
hasilnya adalah derajat ringan (0-200), sedang (200-600), dan berat ( >600) (PDPI, 2003).
b. Gejala klinis
Gejala PPOK terutama berkaitan dengan respirasi. Keluhan respirasi ini harus diperiksa
dengan teliti karena seringkali dianggap sebagai gejala yang biasa terjadi pada proses
penuaan. Batuk kronik adalah batuk hilang timbul selama 3 bulan yang tidak hilang
dengan pengobatan yang diberikan. Kadang-kadang pasien menyatakan hanya berdahak
terus-menerus tanpa disertai batuk. Selain itu, Sesak napas merupakan gejala yang sering
dikeluhkan pasien terutama pada saat melakukan aktivitas. Seringkali pasien sudah
mengalami adaptasi dengan sesak napas yang bersifat progressif lambat sehingga sesak ini
tidak dikeluhkan. Untuk menilai kuantitas sesak napas terhadap kualitas hidup digunakan
ukuran sesak napas sesuai skala sesak menurut British Medical Research Council (MRC)
(Tabel 2.1) (GOLD, 2009).

Tabel 2.1. Skala Sesak menurut British Medical Research Council (MRC)
Skala Keluahan Sesak Berkaitan dengan Aktivitas

1 Tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat

2 Sesak mulai timbul jika berjalan cepat atau naik tangga 1 tingkat

3 Berjalan lebih lambat karena merasa sesak

4 Sesak timbul jika berjalan 100 meter atau setelah beberapa menit

5 Sesak bila mandi atau berpakaian

Pemeriksaan Fisik
Temuan pemeriksaan fisik mulai dari inspeksi dapat berupa bentuk dada seperti tong (barrel
chest), terdapat cara bernapas purse lips breathing (seperti orang meniup), terlihat
penggunaan dan hipertrofi otot-otot bantu napas, pelebaran sela iga, dan bila telah terjadi
gagal jantung kanan terlihat distensi vena jugularis dan edema tungkai. Pada perkusi biasanya
ditemukan adanya hipersonor. Pemeriksaan auskultasi dapat ditemukan fremitus melemah,
suara napas vesikuler melemah atau normal, ekspirasi memanjang, ronki, dan mengi (PDPI,
2003).

Pemeriksaan Penunjang
a. Spirometri (VEP1, VEP1 prediksi, KVP, VEP1/KVP)
Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi (%) dan atau VEP1/KVP (%). VEP1
merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan
memantau perjalanan penyakit. Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin
dilakukan, APE meter walaupun kurang tepat, dapat dipakai sebagai alternatif dengan
memantau variabilitas harian pagi dan sore, tidak lebih dari 20%.
b. Radiologi (foto toraks)
Hasil pemeriksaan radiologis dapat ditemukan kelainan paru berupa hiperinflasi atau
hiperlusen, diafragma mendatar, corakan bronkovaskuler 1 meningkat, jantung pendulum,
dan ruang retrosternal melebar. Meskipun kadang-kadang hasil pemeriksaan radiologis
masih normal pada PPOK ringan tetapi pemeriksaan radiologis ini berfungsi juga untuk
menyingkirkan diagnosis penyakit paru lainnya atau menyingkirkan diagnosis banding
dari keluhan pasien (GOLD, 2009).
c. Laboratorium darah rutin
d. Analisa gas darah
e. Mikrobiologi sputum (PDPI, 2003)

Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan spirometri dapat ditentukan klasifikasi (derajat)
PPOK, yaitu (GOLD, 2009) :

Tabel 2.2. Klasifikasi PPOK


Klasifikasi Penyakit Gejala klinis Spirometri

PPOK Ringan -Dengan atau tanpa -VEP1 80% prediksi


batuk (nilai normal spirometri)
- Dengan atau tanpa -VEP1/KVP < 70%
produksi sputum
- Sesak napas derajat
sesak 1 sampai derajat
sesak 2

PPOK Sedang - Dengan atau tanpa -VEP1/KVP < 70%


-50% = VEP1 < 80%
batuk
- Dengan atau tanpa prediksi
produksi sputum
- Sesak napas derajat 3

PPOK Berat - Sesak napas derajat -VEP1/KVP < 70%


-30% = VEP1 < 50%
sesak 4 dan 5
prediksi
- Eksaserbasi lebih
sering terjadi

PPOK Sangat Berat -Sesak napas derajat -VEP1/KVP < 70%


-VEP1 < 30% prediksi,
sesak 4 dan 5 dengan
atau
gagal napas kronik
-VEP1 < 50% dengan
- Eksaserbasi lebih
gagal napas kronik
sering terjadi
- Disertai ko mplikasi
kor pulmonale atau
gagal jantung kanan

Pemeriksaan khusus (tidak rutin)


1. Faal paru
Volume Residu (VR), Kapasiti Residu Fungsional (KRF), Kapasiti Paru Total (KPT),
VR/KRF,VR/KPT meningkat
DLCO menurun pada emfisema
Raw meningkat pada bronkitis kronik
Sgaw meningkat
Variabiliti Harian APE kurang dari 20 %
2. Uji latih kardiopulmoner
Sepeda statis (ergocycle)
Jentera (treadmill)
Jalan 6 menit, lebih rendah dari normal
3. Uji provokasi bronkus
Untuk menilai derajat hipereaktiviti bronkus, pada sebagian kecil PPOK terdapat
hipereaktiviti bronkus derajat ringan
4. Uji coba kortikosteroid
Menilai perbaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid oral (prednison atau
metilprednisolon) sebanyak 30 - 50 mg per hari selama 2minggu yaitu peningkatan VEP
pascabronkodilator > 20 % dan minimal 250 ml. Pada PPOK umumnya tidak terdapat
kenaikan faal paru setelah pemberian kortikosteroid
5. Analisis gas darah
Terutama untuk menilai :
Gagal napas kronik stabil
Gagal napas akut pada gagal napas kronik
6. Radiologi
CT - Scan resolusi tinggi
Mendeteksi emfisema dini dan menilai jenis serta derajat emfisema atau bula yang tidak
terdeteksi oleh foto toraks polos
Scan ventilasi perfusi
Mengetahui fungsi respirasi paru

7. Elektrokardiografi
Mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai oleh Pulmonal dan hipertrofi ventrikel
kanan.
8. Ekokardiografi
Menilai funfsi jantung kanan
9. Bakteriologi
Pemerikasaan bakteriologi sputum pewarnaan Gram dan kultur resistensi diperlukan untuk
mengetahui pola kuman dan untuk memilih antibiotik yang tepat. Infeksi saluran napas
berulng merupakan penyebab utama eksaserbasi akut pada penderita PPOK di Indonesia.
10. Kadar alfa-1 antitripsin
Kadar antitripsin alfa-1 rendah pada emfisema herediter (emfisema pada usia muda),
defisiensi antitripsin alfa-1 jarang ditemukan di Indonesia.

G. PENATALAKSANAAN
Secara umum penatalaksanaan PPOK adalah:
1. Usaha-usaha pencegahan, terutama ditujukan terhadap memburuknya penyakit.
2. Mobilisasi dahak.
3. Mengatasi bronkospasme
4. Memberantas infeksi.
5. Penanganan terhadap komplikasi.
6. Fisioterapi, inhalasi terapi dan rehabilitasi.

Dimulai dari pencegahan maka yang dilakukan adalah :


1. Pencegahan
a. Hubungan dokter dan penderita. Penerangan yang jelas kepada penderita mengenai
sebab-sebab, faktor-faktor yang dapat memperburuk keadaan harus diberikan sejelas-
jelasnya, agar penderita dapat turut aktif dalam tindakan pencegahan sering diperlukan
dan pengobatan, motivasi yang terus-menerus.
b. Ditujukan kepada faktor-faktor yang dapat memperburuk penyakit : rokok merupakan
satu-satunya faktor penyebab terpenting dalam etiologi bronkitis menahun, yang juga
merupakan tujuan pencegahan utama. Asap rokok menyebabkan iritasi yang menahun
pada mukosa saluran nafas yang mengakibatkan batuk, bertambahnya produksi sputum
dan spasme bronkus, merusak silia dan menggangu pengeluaran sekret yang wajar.
Menghentikan merokok pada penderita walaupun sangat susah, harus diusahakan
semaksimal mungkin. Penghentian merokok secara total adalah lebih berhasil dari
secara pelan-pelan.
c. Bahan irritasi lainnya, polusi udara di pabrik-pabrik, lingkungan sekitar jalan sedapat
mungkin dihindari.
2. Mobilisasi dahak
Ditujukan untuk mengurangi keluhan, batuk-batuk, ekspektorasi,sesak dengan cara
memberikan obat-obat yang memudahkan pengeluaran sputum dan yang melebarkan
saluran nafas.
a. Ekspektoransia
Pengenceran dan mobilisasi dahak merupakan tujuan pengobatan yang penting pada
keadaan eksaserbasi dan juga pada keadaan-keadaan menahun dan stabil yang disertai
jalan nafas yang berat. Ekspektoran oral kecuali glyseril guaicolat dalam dosis tinggi
hanya mempunyai nilai sedikit saja. Obat ini yang mengandung antihistamin malahan
menyebabkan pengentalan dahak. Antitusif tidak dianjurkan pada penderita ini. Hidrasi
yang cukup merupakan yang paling efektif, penderita diharuskan untukcukup banyak
air. Cairan kadang-kadang perlu diberikan perenteral pada penderita dengan obstruksi
jalan nafas yang berat disertai kesulitan mengeluarkan dahak.
b. Obat-obat mukoliti (dua jenis mukolitik yang paling banyak dipakai)
Asetil cystein yang diberikan pada oral, memberikan efek mukolitik yang cukup banyak
efek sampng dibandingkan aerosol yang sering menimbulkan bronkospasme.
Bromhexin sangat populer oleh penggunanya yang mudah (tablet, elixir,sirup).
c. Nebulisasi
Inhalasi uap air atau dengan aerosol melalui nebuliser, dan juga ditambahkan dengan
obat-obat bronkodilator dan mukolitik dengan atau tanpa Intermittent Positive Pressure
Breathing (IPPB).
3. Obat-obat bronkodilator
Merupakan obat utama dalam mengatasi obstruksi jalan nafas. Adanya respon terhadap
bronkodiator yang dinilai dengan spirometri merupakan petunjuk yang dapat digunakan
untuk pemakaian obat tersebut.
a. Simpatomimetik amine, (metaproterenol, terbutalin, salbutamol, dll)
Obat-obat ini merangsang reseptor beta--2 di otot-otot polos bronkus yang melalui
enzim adenyl cyclase yang bekerja sebagai bronkodilator. Obat ini selain bekerja
sebagai bronkodilator juga bekerja merangsang mobilisasi dahak terutama pada
pemberian secara inhalasi dalam bentuk aerosol.
b. Derivat Xanthin (aminofilin, teofilin)
Pemahaman baru mengenai cara kerja methyl xanthine yang bertindak sebagai
penghambat ensim fosfodiesterase. (menginaktifasi Cyclic AMP). Cyclic AMP dapat
dipertahankan pada tingkat yang tinggi, sehingga tetap mempunyai efek bronkodilator.
Paduan obat golongan simpatomimetika dengan golongan methyl zanthin
meningkatkan kadar C. AMP secara lebih efektif hingga masing-masing dapat diberikan
dalam dosis rendah. Dengan efek terapeutis yang sama apabila obat diberikan sendiri-
sendiri dalam dosis tinggi, efek samping menjadi lebih kecil (Snider). Beberapa dengan
asma bronkial, pada penderita PPOK pemberian aminofilin harus dihentikan bila tidak
menunjukkan perbaikan objektif.
c. Kortikosteroid
Manfaat kortikosteroid masih dalam perdebatan pada pengobatan terhadap obstruksi
jalan nafas pada PPOK namun mengingat banyak penderita bronkitis yang juga
menunjukkan gejala, seperti asma disertai hipertrofi otot polos bronkus Snider,
menganjurkan percobaan dengan obat steroid oral dapat dilakukan pada setiap penderita
PPOK terutama dengan obstruksi yang berat apabila menunjukkan tanda-tanda sebagai
berikut :
Riwayat sesak dan wheezing yang berubah-ubah, baik spontan maupun setelah
pengobatan.
Riwayat adanya atopi, sendiri maupun keluarga.
Polip hidung.
4. Antibiotika
Peranan infeksi sebagai faktor penyebab timbulnya PPOK terutama pada bronkitis
menahun masih dalam perdebatan namun jelas infeksi berpengaruh terhadap perjalanan
penyakit bronkitis menahun dan terutama pada keadaan-keadaan dengan eksaserbasi.
Penyebab eksaserbasi tersering adalah virus, yang sering diikuti infeksi bakterial S.
Pneumonia. Selain itu Influenza merupakan kuman yang paling sering ditemukan pada
penderita bronkitis menahun terutama pada masa eksaserbasi. Antibiotika yang efektif
terhadap eksaserbasi infeksi ampicillin, tetracyclin, cotrimoxazole, erythromycin,
diberikan 1 - 2 minggu. Antibiotik profilaksik pemah dianjurkan oleh karena dapat
mengurangi eksaserbasi, tidak dapat dibuktikan kegunaannya dalam pemakaian yang luas.
Pengobatan antibiotik sebagai profilasi, hanya bermanfaat pada mereka yang sering
eksaserbasi harus pada musim dingin/hujan. Perubahan dari sifat dahak merupakan
petunjuk penting ada tidaknya infeksi, dahak menjadi hijau atau kuning.
5. Pengobatan tehadap komplikasi
Komplikasi yang sering ialah Hipoksemia dan Cor pulmonale. Pada penderita PPOK
dengan tingkat yang lanjut, telah terjadi gangguan terhadap fungsi pernapasan dengan
manifestasi hipoksemia dengan atau tanpa hiperkapnia. Pemberian oksigen dosis rendah 1
- 2 liter/menit selama 12 - 18 jam sering dianjurkan, karena dapat memperbaiki
hipoksemia tanpa terlalu menaikkan tekanan CO2 darah akibat depresi pernapasan.
Diuretik merupakan pilihan utama pada penderita dengan cor pulmonale yang disertai
gagal jantung kanan. Pemberian digitalis harus hati-hati oleh karena efek toksis mudah
terjadi akibat hipoksemia dan gangguan elektrolit.
6. Fisioterapi dan inhalasi terapi.
Prinsip fisioterapi dan terapi inhalasi adalah :
mengencerkan dahak
memobilisasi dahak
melakukan pernafasan yang efektif
mengembalikan kemampuan fisik penderita ketingkat yang optimal
Pendekatan psikis
Pada penderita bronkitis menahun yang lanjut terutama yang sudah menjalani gangguan
pernafasan perlu dilakukan pendekatan hubungan dokter-penderita yang lebih baik dengan
cara penerangan mengenai tujuan pengobatan dengan mengemukakan hal-hal yang
positif. Kurang berat, lebih dari 20% (Rodman Sterling).
Penyebab kematian utama (Rodman Sterling).
a. Cor pulmonale (53%)
b. Kegagalan pernafasan akut (sub akut 30%)
c. Aritemia J

H. PENCEGAHAN
1. Pencegahan primer:
a. Pendidikan terhadap penderita dan keluarganya
Mereka harus mengetahui faktor-faktor yang dapat mencetus eksaserbasi serta faktor
yang memperburuk penyakit ini. Ini perlu peranan aktif penderita untuk usaha
pencegahannya.
b. Menghindari rokok dan zat-zat inhalasi lain yang bersifat iritasi
Rokok merupakan faktor pertama yang dapat memperburuk perjalanan penyakit.
Penderita harus tidak merokok. Di samping itu zat-zat inhalasi yang bersifat iritasi
harus dihindari. Karena zat itu menimbulkan ekserbasi atau memperburuk perjalanan
penyakit.
c. Menghindari infeksi
Infeksi saluran nafas sedapat mungkin dihindari karena dapat menimbulkan suatu
ekserbasi.
d. Lingkungan sehat dan kebutuhan cairan yang cukup.
e. Imunoterapi.
2. Pencegahan sekunder:
Pencegahan sekunder meliputi diagnosis dini (pemeriksaan penyakit) dan pengobatan yang
tepat.
a. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan meliputi pasien tampak kurus dengan barrel shape chest (diameter
anteoposterior dada meningkat), fermitus taktil dada tidak ada atau berkurang, perkusi
dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih rendah, tukak jantung
berkurang, dan suara nafas berkurang dengan ekspirasi panjang.

b. Pemeriksaan rutin.
Pemeriksaan fungsi paru terdiri dari pemeriksaan spirometri dan uji bronkodilator.
Pemeriksaan ini merupakan parameter yang paling umum. Juga terdapat pemeriksaan
darah rutin meliputi pemeriksaan Hb, Ht, dan leukosit. Pada pemeriksaan radiologi,
foto dada berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain.
c. Pemerksaan khusus.
Pemeriksaan meliputi pemeriksaan fungsi paru, uji latih pulmoner, uji provokasi
bronkus, uji coba kortikosteroid, analisa gas darah, CT scan resolusi tinggi, EKG,
ekokardiografi, bakteriologi dan pemeriksaan kadar alfa-1 antitripsin.
Pengobatan yang sesuai.
3. Pencegahan tertier
Pencegahan ini berupa rehabilitasi, disebabkan pasien cenderung menemui kesulitan
bekerja, merasa sendiri dan terisolasi, untuk itu perlu dilakukan kegiatan sosialisasi agar
terhindar dari depresi.

I. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada PPOK adalah :
1. Hipoxemia
Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg, dengan
nilai saturasi Oksigen <85%. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood,
penurunan konsentrasi dan pelupa. Pada tahap lanjut timbul cyanosis.
2. Asidosis Respiratory
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). Tanda yang muncul antara lain :
nyeri kepala, fatique, lethargi, dizzines, tachipnea.
3. Infeksi Respiratory
Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus, peningkatan
rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. Terbatasnya aliran udara akan
meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea.
4. Gagal jantung
Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus diobservasi
terutama pada klien dengan dyspnea berat. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan
bronchitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini.
5. Cardiac Disritmia
Timbul akibat dari hipoxemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis respiratory.
6. Status Asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial. Penyakit ini
sangat berat, potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap
therapi yang biasa diberikan. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher
seringkali terlihat.
7. Gagal Nafas
Gagal nafas kronik. Dimana hasil analisis gas darah PO 2 < 60 mmHg dan PCO 2 > 60
mmHg, dan pH normal
Gagal Nafas Akut pada Gagal Nafas Kronik yang ditandai oleh:
a. Sesak napas dengan atau tanda sianosis
b. Sputum bertambah dan purulen
c. Kesadaran menurun
d. Demam
Yang ditandai oleh sesak nafas dengan atau tanpa sianosis, sputum bertambah dan purulen,
demam serta penurunan kesadaran.
8. Kor Pulmonal
Ditandai oleh P pulmonal pada EKG, hematokrit > 50%, dapat disertai gagal jantung
kanan.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Identitas klien
Nama, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama/suku, warga Negara, bahasa
yang digunakan, penanggung jawap meliputi : nama, alamat, hubungan dengan klien.

2. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan.


Kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien, apa upaya dan dimana kliwen
mendapat pertolongan kesehatan, lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien
menurun.

3. Pola nutris metabolik.


Tanyakan kepada klien tentang jenis, frekuensi, dan jumlah klien makan dan minnum
klien dalam sehari. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang, kaji adanya mual
muntah ataupun adanyaterapi intravena, penggunaan selang enteric, timbang juga berat
badan, ukur tinggi badan, lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk
memperoleh gambaran status nutrisi.

4. Pola eliminasi.

o Kaji terhadap rekuensi, karakteristik, kesulitan/masalah dan juga pemakaian alat


bantu seperti folly kateter, ukur juga intake dan output setiap sift.

o Eliminasi proses, kaji terhadap prekuensi, karakteristik,


kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam Bab.

5. Pola aktivitas dan latihan


Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga
penggunaan alat bantu seperti tongkat, kursi roda dan lain-lain. Tanyakan kepada klien
tentang penggunaan waktu senggang. Adakah keluhanpada pernapasan, jantung seperti
berdebar, nyeri dada, badan lemah.

6. Pola tidur dan istirahat


Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari, jumlah jam tidur, tidur siang. Apakah
klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca, minum susu, menulis,
memdengarkan musik, menonton televise. Bagaimana suasana tidur klien apaka terang
atau gelap. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri, gatal, berkemih, sesak dan
lain-lain.
7. Pola persepsi kognitif
Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan, pendengaran.
Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu, bagaimana klien mengatasi tak nyaman :
nyeri. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur, pendengaran
terganggu. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang.

8. Pola persepsi dan konsep diri


Kaji tingkah laku mengenai dirinya, apakah klien pernah mengalami putus
asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya.

9. Pola peran hubungan dengan sesama


Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga, bagaimana hubungan klien di
masyarakat dan keluarga dn teman sekerja. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal
dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain.

10. Pola produksi seksual


Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul.
Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien.

11. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress.


Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri, tempat klien
bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini. Kaji keadaan klien
saat ini terhadap penyesuaian diri, ugkapan, penyangkalan/penolakan terhadap diri
sendiri.

12. Pola system kepercayaan


Kaji apakah klien dsering beribadah, klien menganut agama apa?. Kaji apakah ada nilai-
nilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan.

B. Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkokonstriksi,


peningkatan pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopulmonal.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan fungsi paru
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, produksi sputum, efek samping obat, kelemahan, dispnea
4. Gangguan pola tidur berhubungan ketidaknyamanan karena batuk terus
menerus
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dengan kebutuhan oksigen.
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi/tindakan berhubungan dengan kurang
informasi.

C. Perencanaan Keperawatan.

1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan


pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopulmonal.
Tujuan: Pencapaian bersihan jalan napas klien

Intervensi keperawatan:

a. Beri pasien 6 sampai 8 gelas cairan/hari kecuali terdapat kor pulmonal.


b. Ajarkan dan berikan dorongan penggunaan teknik pernapasan diafragmatik dan
batuk.
c. Bantu dalam pemberian tindakan nebuliser, inhaler dosis terukur, atau IPPB
d. Lakukan drainage postural dengan perkusi dan vibrasi pada pagi hari dan malam
hari sesuai yang diharuskan.
e. Instruksikan pasien untuk menghindari iritan seperti asap rokok, aerosol, suhu
yang ekstrim, dan asap.
f. Ajarkan tentang tanda-tanda dini infeksi yang harus dilaporkan pada dokter
dengan segera: peningkatan sputum, perubahan warna sputum, kekentalan sputum,
peningkatan napas pendek, rasa sesak didada, keletihan.
g. Beriakn antibiotik sesuai yang diharuskan.
h. Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan imunisasi terhadap influenzae
dan streptococcus pneumoniae.

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan fungsi paru


Tujuan: Perbaikan dalam pertukaran gas

Intervensi keperawatan:

a. Deteksi bronkospasme saat auskultasi .


b. Pantau klien terhadap dispnea dan hipoksia.
c. Beriakn obat-obatan bronkodialtor dan kortikosteroid dengan tepat dan waspada
kemungkinan efek sampingnya.
d. Berikan terapi aerosol sebelum waktu makan, untuk membantu mengencerkan
sekresi sehingga ventilasi paru mengalami perbaikan.
e. Pantau pemberian oksigen.

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, produksi
sputum, efek samping obat, kelemahan, dispnea
Tujuan: Kebutuhan nutrisi tubuh terpenuhi

Intervensi keperawatan:

a. Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Evalusi berat badan
b. Auskultasi bunyi usus
c. Berikan perawatan oral sering
d. Berikan porsi makan kecil tapi sering
e. Hindari makanan penghasil gas dan minuman berkarbonat
f. Hindari makanan yang sangat panas dan sangat dingin
g. Timbang BB
h. Konsul ahli gizi untuk memberikan makanan yang mudah dicerna
i. Kaji pemeriksaan laboratorium seperti albumin serum
j. Berikan vitamin/mineral/elektrolit sesuai indikasi
k. Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi

4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan karena batuk terus menerus
Tujuan : Kebutuhan istirahat tidur terpenuhi
Interversi keperawatan :
a. Bantu klien latihan relaksasi ditempat tidur.
b. Lakukan pengusapan punggung saat hendak tidur dan anjurkan keluarga untuk
melakukan tindakan tersebut.
c. Atur posisi yang nyaman menjelang tidur, biasanya posisi high fowler.
d. Lakukan penjadwalan waktu tidur yang sesuai dengan kebiasaan pasien.
e. Berikan makanan ringan menjelang tidur jika klien bersedia.

5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan


kebutuhan oksigen.
Tujuan: Memperlihatkan kemajuan pada tingkat yang lebih tinggi dari aktivitas yang
mungkin.

Intervensi keperawatan:

a. Kaji respon individu terhadap aktivitas; nadi, tekanan darah, pernapasan.


b. Ukur tanda-tanda vital segera setelah aktivitas, istirahatkan klien selama 3 menit
kemudian ukur lagi tanda-tanda vital.
c. Dukung pasien dalam menegakkan latihan teratur dengan menggunakan treadmill
dan exercycle, berjalan atau latihan lainnya yang sesuai, seperti berjalan perlahan.
d. Kaji tingkat fungsi pasien yang terakhir dan kembangkan rencana latihan
berdasarkan pada status fungsi dasar.
e. Sarankan konsultasi dengan ahli terapi fisik untuk menentukan program latihan
spesifik terhadap kemampuan pasien.
f. Sediakan oksigen sebagaiman diperlukan sebelum dan selama menjalankan aktivitas
untuk berjaga-jaga.
g. Tingkatkan aktivitas secara bertahap; klien yang sedang atau tirah baring lama mulai
melakukan rentang gerak sedikitnya 2 kali sehari.
h. Tingkatkan toleransi terhadap aktivitas dengan mendorong klien melakukan aktivitas
lebih lambat, atau waktu yang lebih singkat, dengan istirahat yang lebih banyak atau
dengan banyak bantuan.
i. Secara bertahap tingkatkan toleransi latihan dengan meningkatkan waktu diluar
tempat tidur sampai 15 menit tiap hari sebanyak 3 kali sehari.

6. Kurang pengetahuan tentang kondisi/tindakan berhubungan dengan kurang informasi.


Tujuan : Pasien mengerti tentang penyakitnya
Intervensi Keperawatan :
a. Jelaskan proses penyakit
b. Jelaskan pentingnya latihan nafas, batuk efektif
c. Diskusikan efek samping dan reaksi obat
d. Tunjukkan teknik penggunaan dosis inhaler
e. Tekankan pentingnya perawatan gigi /mulut
f. Diskusikan pentingya menghindari orang yang sedang infeksi
g. Diskusikan faktor lingkungan yang meningkakan kondisi seperti udara terlalu kering,
asap, polusi udara. Cari cara untuk modifikasi lingkungan
h. Jelaskan efek, bahaya merokok
i. Berikan informasi tentang pembatasan aktivitas, aktivitas pilihan dengan periode
istirahat
j. Diskusikan untuk mengikuti perawatan dan pengobatan
k. Diskusikan cara perawatan di rumah jika pasien diindikasikan pulang
DAFTAR PUSTAKA

DEPKES RI. 2008. Pedoman Pengendalian Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Gedhe N., Cristantie. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Klien Dengan Gangguan Sistem
Pernafasan. Jakarta: EGC.

Irman Somantri. 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika.

Nurhasan. 2010. Faktor-Faktor Resiko yang Berhubungan dengan Penyakit Paru Obstruktif
Kronik (PPOK) di Irna Embun Pagi dan Non Bedah RSUP. DR. M. Djamil. Program
Studi Ilmu Keperawatan Universitas Andalas.

Dewi, M. 2016. Laporan Pendahuluan COPD, (online), (https://www.scribd.com), diakses pada


2 Maret 2017