Anda di halaman 1dari 9

1.

PROLAPSUS UTERI
Prolap : proses pembalikan dari uterus setelah terjadi proses kelahiran. Biasanya disertai
dengan fetus yang lahir terbalik
Jenis : Prolap uteri canalis, invertio uteri (uterus keluar)
Predisposisi :
Mesometrial yang panjang sering dijumpai pada hewan tua karena
sudah terlalu sering melahirkan
Uterus lemah, atonik dan kendur. Atonik : kontraksi lemah karena
ototnya sudah tidak kuat, terjadi karena : sering dikandangkan dengan bagian belakang
yang rendah, sering melahrkan
Tarik paksa : fetus kebesaran, terjadi pada sapi yang baru melahirkan
Tanda : uterus menggantung, sering terkontaminasi (hewan payah)
Prognosa : baik/jelek tergantung kecepatan pelaporan kasus dan penanganan. Mukosa
busuk : jejas cicatrix.
Penanganan :
Bungkus dengan kain basah
Dipertahankan sejajar pulva
Kandang bersih dan kering
Anestesi epidural
Dicuci dgn NaCl Fisiologis dan antiseptic
Direposisi
Oxytosin 30-50 satuan, IM
Antiseptic IV
Jahit (flessa/buhner)
Jahitan dibuka setelah 24 jam

2. Piometra - pus (nanah)


Ttertimbunnya nanah dalam rahim sehingga rahim mengembung
pus disebabkan karena kasus metritis karena kelahiran. Pada waktu kelahiran mengalami
infeksi sekunder atau distokia. Infeksi pada endometrium produksi nanah tertampung
pd endometrium. Banyak terjadi setelah melahirkan
Pada keadaan ini uterus simetris karena tidak ada yg memfixir cairan alantois / amnion
sehingga dapat berpindah dari koruna
Atoni (tdk bergerak) kaku tebal
Kasus patologis pada organ tertentu
Slip membran :
Uterus normal 3 lapis : selaput janin, rahim, rectum
Pyometra ada yang bersifat terbuka / tertutup. Terbuka : dari luar sdh terlihat aliran
nanah, diikuti siklus estrus yang normal, estrogen meningkat, servix terbuka, nanah keluar.
Tertutup : siklus estrus tidak normal / tidak estrus karena pada ovariumnya ditemukan CL
persisten
Pendukung diagnosa tidak ada
Pada pyometra awal tidak ada CL gravidatum
Pyometra kronis. Kalau pada sapi terjadi pyometra dengan CL persisten, dalam rahim
terdapat 20 liter nanah (seukuran bunting tua) tapi disini tidak ditemukan fibrasi AUM dan
tidak ada plasentoma
3. RETENSIO SECUNDINAE
Fisiologi : Selaput partus tanggal 3-8 jam post partum kalau lebih disebut retensio
Definisi : kegagalan pelepasan vili kotiledon dari foetal dari karunkula maternal induk
Penyebab :
Infeksi uterus selama kebuntingan (Brucella abortus, Campylobacter
foetus) 20-30 % kasus
Placentitis dan kotiledonitis
Abortus-retensio
Avitaminosa A (69 % dari kasus)
Hiperkeratosis, metritis, abortus, retensio
Gejala ; selaput foetus menggantung keluar > 12 jam
Prognosa : baik
Pengobatan :
Manual + antibiotika dan ---hormon pelepasan vili kotiledon
Antibiotik IV
Hormon : oxytosin, estrogen

4. OVARIA CYSTICA

Ditandai : kista folikuler (degenerasi cystic follikel graaf), kista luteal, kista corpora luteal
Kista Follicular : suatu folikel an ovulatoir yg tetap ada didalam ovarium untuk selama 10
hari dan biasanya lebih lama, diameter 2,5 cm dan tanda sapi yang mengalami keadaan ini :
nymphomania (esrus terus terusan)

Kista Luteal : suatu folikel an ovalotoir yang diameternya lebih dari 2,5 cm yang
sebagiannya mengalami luteinisasi (folikel de graffnya) dan tetap ada dalam periode yang
lama dan biasanya ditandai dengan anestrus

Kista Kista
folikel luteal
Bilateral Unilateral
(ke2 (slh 1
ovariumny ovariumn
a) ya)
Berdinding Tebal,
tipis, lunak,
tegang/ (krn ada
mengembu satu
ng lapisan
tipis jar
luteal
Cairan Kuning
didlmnya coklat/
berwarna : jernih
Merah bata
Kuning tua
Coklat
Lebih Lebih
sering sedikit
dijumpai

Kista CL : suatu kista yang terjadi mengikuti suatu ovulasi yang normal tetapi mengandung
suatu rongga sentralyg berdiameter 7-10mm/lebih

Penanganan kelahiran Normal Pada Sapi


Tanda-tanda ternak akan melahirkan pada umumnya hampir sama dari spesies ke spesies.
Tanda-tanda itu misalnya: hewan menjadi gelisah, ligament sacrospinosum et tuberosum
merileks, edema pada vulva, lendir sumbat serviks mencair, kolostrum telah menjadi cair dan
mudah dipencet keluar dari puting susu.
Pada saat terjadi kelahiran normal maupun dengan gangguan pada sapi, penanganan post
partum sangat penting diberikan, karena sangat menentukan proses kembalinya periode
puerperium pada sapi. Terjadinya gangguan reproduksi pasca partum sangat besar
kemungkinann terjadi, baik gangguan fungsional tubuh maupun gangguan infeksi agen
patogen terhadap saluran reproduksi. Gangguan tersebut dapat berupa kejadian endometritis,
piometra atau keluarnya pus pada saluran uterus,

PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG

Dalam ilmu kesahatan, ketosis adalah keadaan organisme yang ditandai dengan
peningkatan kadar badan keton dalam darah, dengan proses lipolisis dan beta-oksidasi.
Badan keton terbentuk dari jumlah kelebihan lemak istirahat turun. Beberapa badan-
badan keton seperti asetoasetat dan -hidroksibutirat juga dapat digunakan untuk
energi. Ketika toko glikogen tidak tersedia dalam sel, lemak (triacylglycerol) dibelah
untuk memberikan 3 rantai asam lemak dan 1 molekul gliserol dalam proses yang
disebut lipolisis. Sebagian besar tubuh mampu memanfaatkan asam lemak sebagai
sumber energi alternatif dalam proses di mana rantai asam lemak yang dibelah oleh
koenzim A (KoA) untuk membentuk asetil-KoA, yang kemudian dapat dimasukkan ke
dalam siklus Krebs.

Asetil-KoA hanya dapat memasuki siklus Krebs terikat oksaloasetat. Ketika persediaan
karbohidrat tidak memadai untuk mempertahankan tingkat glukosa darah, hati secara
alami mengubah oksaloasetat dalam hati menjadi glukosa melalui glukoneogenesis
untuk digunakan oleh otak dan jaringan lainnya. Kelebihan asetil-KoA dalam hati
digunakan untuk menghasilkan benda keton, yang mengarah ke keadaan ketosis.
Selama proses ini, konsentrasi glukagon tinggi hadir dalam serum, yang inactivates
heksokinase dan fosfofruktokinase-1 (regulator dari glikolisis) secara tidak langsung,
menyebabkan sel-sel yang paling dalam tubuh untuk menggunakan asam lemak
sebagai sumber energi utama mereka.

Otak tidak dapat menggunakan asam lemak untuk energi karena asam lemak tidak
dapat melewati sawar darah-otak. Namun, badan-badan keton yang dihasilkan dalam
hati dapat melintasi penghalang darah-otak. Di otak, badan-badan keton ini kemudian
dimasukkan ke dalam asetil-KoA dan digunakan dalam siklus Krebs. Kelebihan badan
keton akan perlahan-lahan decarboxylate ke aseton. Aseton diekskresikan dalam napas
dan urin. Ketosis tidak harus bingung dengan ketoasidosis (ketoasidosis diabetik
ketoasidosis alkohol atau kurang umum), yang parah menyebabkan ketosis pH darah
turun di bawah 7,2.

Ketoasidosis adalah kondisi medis biasanya disebabkan oleh diabetes dan disertai oleh
dehidrasi, hiperglikemia, ketonuria, dan tingkat peningkatan glukagon. Glukagon tinggi,
rendah tingkat insulin serum sinyal tubuh untuk memproduksi lebih banyak glukosa
melalui glukoneogenesis dan glikogenolisis, dan badan-badan keton melalui
ketogenesis. Tingginya kadar glukosa menyebabkan kegagalan reabsorpsi tubulus di
ginjal, menyebabkan air bocor ke dalam tubulus dalam proses yang disebut diuresis
osmotik, menyebabkan dehidrasi dan lebih memperburuk asidosis tersebut.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.2.1 Apa Pengertian Ketosis ?

1.2.2 Apa penyebab munculnya Ketosis dan Gejala yang tampak?

1.2.3 Bagaimana Diagnosis dan Terapi pada Ketosis?

1.3 TUJUAN

1.3.1 Untuk menjelaskan pengertian Ketosis.

1.3.2 Untuk menjelaskan penyebab munculnya Ketosis dan Gejala yang Tampak.

1.3.3 Untuk mengetahui Diagnosis dan Terapi pada Ketosis .

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KETOSIS

Ketosis merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di sapi perah.Ketosis terjadi
akibat kekurangan glukosa di dalam darah dan tubuh. Peristiwa ini biasanyasering terjadi
pada sapi yang bunting tua (masa kering) atau sapi-sapi habis melahirkan (Masa awal
laktasi) dengan produksi susu yang tinggi.

2.2 PENYEBAB MUNCULNYA KETOSIS DAN GEJALANYA

Penyebab:

Pada masa kebuntingan tua kebutuhan akan glukosa meningkat karena glukosa pada
masa itu sangat dibutuhkan untuk perkembangan pedet dan persiapan kelahiran.
Sedangkan pada masa awal laktasi glukosa dibutuhkan sekali untuk pembentukan
Laktosa (gula susu) dan lemak, sehingga jika asupan karbohidrat dari pakan kurang
maka secara fisiologis tubuh akan berusaha mencukupinya dengan cara
glukoneogenesis yang biasanya dengan membongkar asamlemak dalam hati. Efek
samping dari pembongkaran asam lemak di hati untuk di dapatkan hasil akhir glukosa
akan meningkatkan juga hasil samping yang disebut benda2 keton (acetone,
acetoacetate, -hydroxybutyrate (BHB)) dalam darah.

Ketosis dapat bersifat primer, seperti pada sapi yang mempunyai produksi susu tinggi
dengan pemberian karbohidrat dalam pakan yang kurang. Tetapi ketosis juga bisa
bersifat skunder, yaitu akibat gangguan penyakit tertentu yang menyebabkan terjadinya
gangguan metabolisme karbohidrat meskipun karbohidrat dalam pakan yang diberikan
cukup. Kejadian ketosis yang bersifat skunder dapat terjadi akibat kasus Displasia
Abomasum, Metritis, Peritonitis, Mastitis atau penyakit-penyakit yang menyebabkan
penurunan nafsu makan dalam waktu yang lama.

Gejala

Ada dua bentuk, yaitu adanya pembuangan benda2 keton dan gangguan syaraf. Pada
awalnya biasanya hewan akan mengalami penurunan nafsu makan lebih dari 2 atau 5
hari, kemudian malas bergerak, kaki gemetar, jalan sempoyongan atau bahkan tidak
kuat berdiri. Pengeluaran benda2 keton bisa dideteksi dengan adanya bau khas keton
pada urine, susu atau dari nafas sapi yang menderita. Gejala gangguan syaraf kadang-
kadang dapat terlihat, ditandai dengan sering menjilat, memakan benda2 asing
disekitarnya dan kadang kala bisa mengalami kebutaan.

2.3 DIAGNOSIS DAN TERAPI KETOSIS

Diagnosis :

Dengan melihat gejala klinis pada sapi2 yang menderita, pemeriksaan adanya
pengeluaran benda2 keton pada susu, urine dan nafas serta pemeriksaan kadar keton
pada urine, susu atau darah. Pemeriksan cepat benda2 keton untuk dilapangan
biasanya menggunakan dipstick.

Nova Test urine test strips

Terapi

Pada intinya terapi yang dilakukan adalah untuk mengembalikan kadar gula
dalam darah ke level normal dan mengurangi kadar keton. Terapi yang dapat dilakukan
adalah pemberian infus larutan Glukosa 50% sebanyak 500ml, Propylene Glycol 250-
400 g/dosis, PO 2x sehari. Injeksi Glukokortikoid (Dexametason) 5-20 mg/dosis, IM. Ada
juga yang menyarankan dengan terapi insulin 150-200 IU/hari, IM.

Grass Tetany adalah suatu penyakit metabolik pada ternak sapi baik sapi perah maupun
sapi potong, terutama pada kebuntingan tua atau sedang pada puncak laktasi,
,merumput pada ladang rumput yang subur dan diberikan pupuk secara intensif.
Penyakit ini menyerang pada daerah dan tipe tanah tertentu.
Grass tetany ditandai oleh hipokalsemia beserta hipomagnesia ataupun hipomagnesia
tersendiri. Penyebabnya adalah konsumsi rumput secara berlebih, terutama rumput
muda pada lahan yang terpupuk dengan baik. Hipomagnesia juga dapat menyerang sapi
yang hanya diam saja dikandang dan diberi makanan dengan kadar magnesium yang
rendah.
Gejala grass tetany sama dengan paresis puerpuralis jika hanya terdapat hipomagnesia.
Akan tetapi bila terdapat juga hipokalsemia, maka gejala yang muncul seperti pada
trismus, hiperestesia, tachichardia, nystagmus. Penyakit ini timbul secara lambat bila
dibandingkan dengan paresis puerpurealis.
Prognosa dari penyakit sapi ini umumnya baik bila segera dilakukan pengobatan, terapi
bisa dilakukan dengan pemberian 750 sampai 1500ml 20 persen cairan gluconas calcius
secara intra vena, dan juga subcutan. Hewan yang menderita harus segera dipindahkan
dari lahan rumput tempat sapi biasa makan. Setelah dipindahkan maka sapi diberi
makan campuran yang mengandung kalsium fosfat dalam ransumnya.
Penyakit tetani (grass tetany) dikenal juga sebagai grass staggers atau lactation tetany.Para petemak
sapi perah telah mengenal penyakit ini selama bertahun-tahun bahwa penyakit tetani biasanya terjadi
segera sesudah musim semi. Penyakit tetani hanya terbatas pada hewan yang merumput di padang
rumput (pastures) saja, atau hewan laktasi tetapi merupakan kondisi rendahnya kadar magnesium
dalam darah(hypomagnesemia). Kecenderungan yang besar bahwa penyakit tersebut terjadi pada sapi
bunting atau sapi laktasi atau pada domba betina yang bunting dan sedang laktasi, akibat kebutuhan
magnesium yang meningkat selama periode tersebut.
Hypomagnesemia juga banyak terjadi di negara-negara dengan empat musim di sebelahutara Eropa,
Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru, dimana produksi susu mengakibatkan meningkatnya
kualitas hijauan yang baik, hasil panenan yang tinggi dan jenis hijauan yang cepat masak (dewasa).

Defisiensi Magnesium
1. Defisiensi kronis, sedang :
Pertumbuhan hewan normal
Terjadinya kalsifikasi pada jaringan lunak
Terjadinya kalsifikasi pada pembuluh vaskuler
Penimbunan kalsium dalam tubuh ginjal
2. Defisien Akut
Terjadinya vasodilatasi pembuluh darah (pada tilnis dan hewanhewan lain).
Terjadi kepucatan
Terjadi cyanosis
Peningkatan rangsangan hyperirritability
Kematian
Pada beberapa macam ransum yang defisien magnesium, hewan-hewan menunjukkan kondisi
peningkatan sel-sel darah merah (hyperemia) dan vasodilatasi pada pembuluh perifer dalam waktu
beberapa hari. Dalam waktu dua minggu hewan-hewan akan peka terhadap rangsangan
penyakit audiogenic seivrres dan hewan dapat mati karena kejang.
Pada manusia, defisiensi magnesium dapat terjadi akibat gangguan absorpsi(malabsorption) yang parah,
keracunan alkohol yang kronis, pemberian makanan melalui infusi, penyakit ginjal yang kronis atau
akut, laktasi yang berlebihan dan pembengkakan kelenjar paratiroid (hyperparathyroidism).

Penyebab dan Terjadinya Penyakit


Grass Tetani atau Tetani Rumput adalah penyakit gangguan metabolisme yang di tandai adanya
hypomagnessemia. Penyebab hypomagnessemia pada ternak ruminansia tidak diketahui dengan
pasti. Akan tetapi,yang jelas penyakit ini ada hubungannya dengan rendahnya Magnesium (Mg)
dalam darah.
Penyakit ini sering terjadi ternak sapi dewasa terutama yang berproduksi susu tinggi dan
digembalakan di padang rumput yang maih muda atau tanaman makanan butiran.
Penyakit dapat berlangsung akut, dalam kejadiaan akut, Mg dalam darah sangat rendah,
sehingga Mg tubuh tidak mampu untuk mobilisasinya. Kadar normal Mg dalam darah berkisar dari
1,7 sampai 4 mg tiap 100 cc serum darah. Tetapi terjadi apabila kadar Mg erum darah turun sampai
0,5 mg per 100 cc. Dalam kejadiaan kronis penurunan Mg darah terjadi perlahan-lahan.
Gejala Klinis dan Diagnosis Penyakit
Tanda-tanda khusus defisiensi magnesium dapat terlihat dari gangguan yang terjadi pada sistem syaraf
antara lain kepala ditarik ke atas, mata melotot, kaku dan mengarah ke atas. Hewan berjalan tidak
normal (terhuyung-huyung) dengan otot terpelintir. Dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari,
hewan akan menunjukkan gejala-gejala kekejangan, koma dan mati. Pada saat kematian biasanya sapi
mengeluarkan suara yang sangat keras. Mortalitas akibat defisiensi sangat tinggi.
Kejadian tersebut temyata lebih banyak terjadi pada hewan-hewan yang dipelihara di padang rumput
dengan pemupukan timggi akan kadar nitrogen dan kalium yang menyebabkan menunumya konsentrasi
magnesium dan natrium.
Pada kejadiaan yang sangat akut, penderita kelihatan merumput secara normal, akan tetapi tiba-tiba
kepalanya digerakkan ke atas, menguak, berjalan atau berlari seperti dalam kebutaan, kelihatan seperti
gila, jatuh, dan kejang-kejang. Kejadian ini bisa hilang dan muncul lagi dalam waktu yang singkat.
Kematian biasanya terjadi dalam beberapa jam saja.
Gangguan metabolisme ini banyak menimbulkan kematian ternak di padang gembalaan tanpa diketahui
gejalanya. Pada kejadian yang ringan, ternak tampak kurang sehat, ketika berjalan terlihat kaku, peka
terhadap sentuhan dan bunyi, ternak mengalami polyuria. Gejala yang ringan ini dapat menjadi akut.
Penyakit ini kadang-kadang bersama-sama dengan gangguan metabolime lainnya.
Diagnosis didasarkan atas gejala klinis yang tampak dan riwayat penyakit yang bersangkutan.

Terapi dan Pencegahan


Pengobatan dapat dilakukan dengan penyuntikan Magnesium Sulfat secara subkutan. Apabila
tidak terlambat, pengobatan ini kemungkinan dapat menolong penderita.
Untuk mencegah Tetani Rumput, maka di dalam ransum perlu dilengkapi mineral suplemen.
Suplemen Mg yang banyak di jual secara komersial adalah Oksida Magnesium (MgO). Sapi perlu
diberi 50 gr MgO tiap ekor per hari sebagai usaha pencegahan. Dosis untuk anak sapi untuk
pencegahan Hypomagnesemia adalah 7-15 gr MgO. Suplemen ini diberikan ke dalam makanan
penguat.

Milk Fever atau parturient paresis merupakan penyakit metabolik yang sering terjadi pada sapi
perah. Milk fever disebabkan kondisi hypocalcemia dimana kadar Ca di dalam darah rendah (<8>

Sapi hypocalcemia umumnya disertai gangguan lain berupa produksi susu yang rendah, displaced

abomasum, placenta tertahan, ketosis, mastitis, serta gangguan lainnya (Hutjens, 2003 &

Jackson, 2007). Hypocalcemia menyebabkan kelemahan dan rebah terutama pada sapi yang lebih

tua. Survey di AS pada tahun 2002 terhadap 1400 sapi perah ditemukan kadar Ca dibawah 8

mg/dl pada sapi laktasi I, II dan III masing-masing sebanyak 25, 42 dan 53 persen (Hutjens,

2003). Hypocalcemia jarang terjadi pada sapi potong. Periparturient hypocalcemia pada sapi

potong terutama berkaitan dengan kondisi tetany karena kekurangan magnesium (Moisan, 1994).

PROSES TERJADINYA PARESIS PUERPURALIS


Kalsium di dalam tubuh sapi berperan penting dalam fungsi persyarafan. Oleh karena itu,
apabila kadar Kalsium dalam darah turun dengan drastis maka pengaturan urat syaraf akan
berhenti, sehingga fungsi otak pun terganggu. Hal ini dapat menyebabkan kelumpuhan pada
ternak.

Pada akhir masa kebuntingan, kebutuhan sapi akan Kalsium cukup tinggi, sebab jumlah Kalsium
yang dibutuhkan cukup besar. Oleh karenanya apabila Kalsium dalam ransum tidak mencukupi,
maka Kalsium yang berada dalam tubuh akan dimobilisasikan untuk memenuhi kebutuhan
tersebut.

Pada awal laktasi, kebutuhan Kalsium juga meningkat, sebab setiap kg air susu mengandung
Kalsium 1,2 sampai dengan 1,4 gram. Sedangkan Kalsisum dalam darah adalah 9 12
mg/100ml, sehingga sekresi susu yang mendekati 2 kg akan memerlukan semua Ca yang
terdapat dalam darah, padahal jumlah Kalsium dalam darah tidak dapat kurang. Jika keadaan
Kalsium dalam darh tidak dapat dipertahankan maka sapi akan mengalami Paresis Puerpuralis
atau Milk Fever.

Adapun faktor-faktor predisposisi yang menyebabkan gangguan ini meliputi umur, produksi serta
persistensi produksi susu. Pemberian Kalsium dengan kadar tinggi dan perbandingan Kalsium
dan Posfor yang tinggi di dalam ransum kepada sapi perah pada periode kering dapat
merangsang pelepasan calcitonin dari sel-sel parafolikuler pada kelenjar thyroid, sehingga
menghambat penyerapan (resorbsi) Kalsium ke dalam tulang oleh parathormon.

Hypercalcemia (tingginya kadar Kalsium dalam darah) menghambat sekresi parathormon dan
merangsang sekresi (pengeluaran) calcitonin. Calcitonin merupakan suatu zat yang dapat
menurunkan konsentrasi Kalsium dalam darah dengan jalan menghambat resorbsi oleh tulang.
Pengauh ini cenderung menghambat adaptasi normal sapi tersebut terhadap kekurangan
Kalsium pada permulaan partus dan laktasi yang menyebabkan terjadinya kelumpuhan.
Kelumpuhan (paralisa) ini biasanya berhubungan dengan kadar Kalsium dalam darah di bawah
5 mg/100 ml serum.

GEJALA PENYAKIT
Gejala penyakit pada tingkat masih rendah, sapi masih dapat berdiri, tetapi nafsu makan hilang,
kurang peka terhadap lingkungan,kaki dan telinga dinging, suhu badan rendah kurang lebih
35C, kaki belakang lemah dan sulit berkurang atau berhenti sehingga terjadi penimbunan gas di
dalam rumen. Kalau semakin parah sapi hanya mampu bertahan 6 sampai dengan 24 jam saja.
Sebenarnya angka kesembuhannya cukup baik dan tingkat mortalitas kurang dari 2-3 % apabila
segera diketahui dan diberikan pertolongan.

PENGOBATAN
Pengobatan sapi yang menampakkan gejala adalah penyuntikan 750 s/d 1500 ml Gluconas
calcium 20 % secara intravena pada vena jugularis. Suntikan dapat diulangi kembali setelah 8
sampai 12 jam kemudian.

Apabila belum menampakkan hasil hewan dapat diberikan preparat yang mengandung
magnesium. Hanya sedikit air susu yang boleh diperah selam 2 sampai 3 hari. Pengosongan
ambing sebaiknya dihindarkan selama waktu tersebut.
Untuk mencegah terjadinya Paresis peurpuralis, kadar Kalsium dalam ransum harus dikurangi
pada akhir periode laktasi. Pemberian kosentrat dapat diberikan + 2 kg/hari atau selama periode
kering kandang dengan mengurangi pemberian legum atau suplemen mineral. Peningkatan
pemberian konsentrat baru dapat dilakukan 2 minggu menjelang sapi akan melahirkan.