Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum KI4051

Pengantar Penelitian Kimia Organik


SINTESIS PEWARNA INDIGO DARI ISATIN

Nama : Ike Purwanti


NIM : 10513018
Tanggal Praktikum : 04 Mei 2016
Tanggal Pengumpulan : 20 Mei 2016

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

1
SINTESIS PEWARNA INDIGO DARI ISATIN

Ike Purwanti

10513018; Kelompok Sintesis Indigo


purwantiike94@yahoo.co.id

Abstrak

Indigo (2,2'-Bis(2,3-dihydro-3- oxoindolyliden) atau Indigotin merupakan salah satu pewarna tertua yang digunakan
oleh umat manusia. Konsumsi pewarna ini sangat besar seiring populernya blue jeans, yang diwarnai indigo.
Konsumsi indigo dan pewarna lain adalah sekitar 33 juta kg tiap tahun. Untuk mensintesis indigo, ada beberapa
metode yang dapat digunakan, untuk sintesis indigo skala besar di industri, di antaranya digunakan material awal
asam sinamat atau o-nitrobenzaldehid. Selain itu, zat warna indigo juga dapat diperoleh dari ekstraksi daun tanaman
indigo (Indigofera tinctoria). Namun, dalam percobaan ini, digunakan material awal isatin (1H-indole-2,3-dione)
dan PCl3 menggunakan metode von Baeyer. Campuran isatin dan PCl3 direfluks selama 2 jam, lalu ditambahkan
padatan Zn dalam asam asetat sampai terbentuk warna biru. Padatan diperoleh setelah menyaring larutan biru
tersebut. Padatan yang didapat dikarakterisasi dengan KLT, uji titik leleh, dan spektrofotometri IR

Kata kunci: isatin, refluks, indigo, PCl3, von Baeyer, asam asetat.
Abstract

Indigo (2,2'-Bis(2,3-dihydro-3- oxoindolyliden) or Indigotin is one of the oldest dyes used by mankind. The
current consumption of the dye is enormous due to the popularity of blue jeans, which are dyed with indigo. The
consumption of indigo and other vat dyes reaches about 33 million kg annually. To synthesize indigo dyes, there
is some method can be used, cinnamic acid or o-nitrobenzaldehyde can be used as starting material. In
addition, indigo dyes can be obtained from extraction from leaves Indigofera tinctoria. In this
experiment,isatin (1H-indole-2,3-dione) and PCl3 as starting material are used (von Baeyer method). A
mixture of isatin and PCl3 refluxed approximately 2 hours, then added by Zn in acetic acid until blue colour
formed.
Product powder can be obtained after filtrated. Products are characterized with TLC, melting point, and
spectroscopy IR.

Keywords: isatin, reflux, indigo, PCl3, von Baeyer, acetic acid

1. PENDAHULUAN
Blue jeans merupakan bahan yang sangat populer
yang dipakai untuk mode pakaian sekarang ini.
Namun, pewarna yang digunakan dalam bahan
tersebut mempunyai sejarah yang cukup panjang. Gambar 1. Reaksi sintesis pewarna indigo dari
Senyawa yang terlibat dalam pemberian warna biru isatin.
tersebut adalah indigo, yang telah dikenal sekitar 4000
tahun. Tanaman indigo (Indigofera tinctoria) yang Sayangnya isatin adalah reagen yang jarang
tumbuh terutama di India. Lahan sebesar 1,7 juta acre dan mahal, tidak cocok digunakan untuk industry.
diperlukan untuk menghasilkan 8000 ton indigo per Pada tahun 1878 Baeyer melengkapi sintesis indigo
tahun, bernilai $ 100 M. Pewarna tersebut diperoleh dari asam fenilasetat (Ph-CH2CO2H). Baeyer
dengan ekstraksi dari daun-daunnya. Bermula pada menghabiskan lima tahun untuk menyempurnakan
tahun 1865, Adolph von Baeyer (Profesor di Munich, proses ini dan memberitahukan kepada temannya
Jerman) yang mengetahui potensi pewarna sintesis, Heinrich Caro pada tahun 1883. Caro adalah kepala
melakukan riset tentang sintesis indigo riset di BASF dan mengetahui potensi dua rute sintesis
(C16H10N2O2) dan menentukan strukturnya pada Baeyer yang berguna untuk industri skala besar.
tahun 1870. Pada tahun yang sama, beliau mensintesis
indigo dari isatin.

2
dimasukkan ke dalam labu bundar 50 mL. campuran
tersebut direfluks selama 2 jam dengan suhu 400C.
Setelah 2 jam, labu bundar diangkat lalu didinginkan
pada suhu ruang. Setelah dingin, campuran
ditambahkan Zn yang dilarutkan dengan I mL asam
Gambar 2. Reaksi sintesis indigo dari asam asetat sejumlah 0,4505 gram sampai terbentuk warna
sinamat biru. Endapan yang terbentuk lalu disaring
Bayer mematenkan rute sintesis ini dan menggunakan corong Buchner dan dicuci dengan
menjualnya pada BASF. Rute yang kedua, diklorometana. Padatan yang diperoleh dikarakterisasi
dikembangkan pada tahun 1882 oleh Baeyer dan dengan kromatografi lapis tipis dan dibandingkan
Drewson, namun tidak bisa dilakukan pada waktu itu dengan isatin awal. Padatan diuji titik lelehnya.
karena material awal yang sulit dibuat. Akan tetapi, o- Masing-masing padatan isatin dan padatan yang
Nitrobenzaldehyde sekarang ini banyak tersedia dan didapat diambil sedikit dilarutkan dengan n-
sering digunakan. heksana:etil asetal=7:3 lalu ditotolkan pada pelat KLT.
Pelat KLT dimasukkan dalam chamber yang sudah
berisi eluen. Eluen yang digunakan adalah n-
heksana:etil asetat=7:3. Padatan yang diperoleh dan
isatin juga dikarakterisasi dengan spektrofotometri
inframerah. Spektrum kedua senyawa (isatin dan
produk) dibandingkan untuk dikarakterisasi.

Gambar 3. Sintesis indigo dari o-Nitrobenzaldehyde


dan aseton

Selain dengan metode-metode yang telah


ditemukan di atas, zat warna indigo juga dapat
diperoleh dari ekstraksi daun tanaman indigo
(Indigofera tinctoria). Akan tetapi pada percobaan
ini kami menggunakan metode von Bayer dari
material awal isatin untuk mendapatkan zat warna
indigo.
Gambar 5. Rangkaian alat untuk refluks isatin dan
PCl3

Gambar 4. Bubuk indigo dari tanaman indigo


(Indigofera tinctoria)
Metode ini kami gunakan karena beberapa alas
an, di antaranya karena tidak tersedianya reagen o- 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Nitrobenzaldehyde sementara reagen isatin telah
tersedia di laboratorium. Setelah semua tahap-tahap percobaan
dilakukan dan terbentuk produknya, didapatkan data
pengamatan sebagai berikut:
2. METODE PERCOBAAN
Padatan isatin sebanyak 1,035 gram (1
mmol) dilarutkan dengan 10 mL diklorometana.
Larutan ditambahkan 0,6 mL PCl3 (1 mmol) lalu

3
Table 1. Hasil pengamatan sintesis pewarna indigo dari isatin
NO Aktivitas Hasil Pengamatan
1 1,035 gram isatin (padatan jingga) Campuran berwarna jingga dan belum larut
dilarutkan dalam 10 mL
diklorometana
2 Direfluks 1 jam+ PCl3 Tidak terjadi perubahan warna

3 Suhu hotplat 55OC

4 Setelah direfluks 2 jam Belum larut, larutan jingga

5 Campuran+Zn(dilarutkan dengan Warna campuran memudar menjadi jingga muda


asetat)

6 Massa yang didapat 0,8588 gram

7 Titik leleh 192-200 OC


8 Nilai Rf Rf isatin=0,7/4 (foto KLT milik sendiri tidak dilampirkan)
Rf produk=0,7/4

Gambar 6. Padatan yang diperoleh

8. Spektrum IR

Gambar 7. Spektrum IR dari isatin (merah) dan produk (hitam)

4
9. Kromatografi Lapis Tipis

Setelah endapan terbentuk semakin banyak,


disaring menggunakan corong Buchner dan dicuci
dengan diklorometana. Digunakan diklorometana
karena merupakan pelarut dalam reaksi. Produk yang
dihasilkan masih berbentuk pasta lalu dikeringkan
menggunakan hair dryer. Massa produk kering yang
didapat dalam percobaan ini adalah 0,8588 gram dan
mempunyai rendemen 93,0972%.
Gambar 8. KLT dari isatin (noda bawah) dan Produk yang dihasilkan berwarna jingga dan
produk (noda atas) tidak seperti diharapkan dimana seharusnya pewarna
Keterangan: Foto KLT/TLC di atas indigo berwarna biru jeans. Dari karakterisasi warna
merupakan KLT kelompok lain (eluen yang yang diperoleh, produk indigo yang diharapkan belum
digunakan adalah n-heksana:etil asetat=3:7) terbentuk karena warna padatan masih sama dengan
Rendemen = massa yg didapat / massa literatur reaktan awal (isatin) yang berwarna jingga.
x 100% Dari karakterisasi menggunakan TLC, nilai Rf
2C8H5NO2 C16H10N2O2 yang didapat adalah 0,7/4 baik isatin maupun produk
Isatin Pewarna Indigo yang dihasilkan. Ini menandakan bahwa produk yang
Jumlah mol isatin=1,035 gram/147,1308g/mol diperoleh memiliki kepolaran yang sama persis dengan
= 7,03 mmol isatin. Produk dan reaktan (isatin) cenderung lebih
Jumlah mol indigo = 1/2 mol isatin polar dari n-heksana karena jarak elusi noda yang
= 3,52 mmol pendek (tertahan). Isatin bersifat lebih polar daripada
Massa teoritis= 3,52 mmolx262,27 g/mol n-heksana karena memiliki dua atom O dari karbonil
dan atom H yang dapat berikatan hidrogen, sedangkan
= 922,476 mg n-heksana merupakan alkan rantai panjang yang
bersifat nonpolar. Isatin akan lebih berinteraksi kuat
= 0,9225 gram dengan etil asetat yang juga memiliki gugus karbonil
%rendemen =( 0,8588/0,9225) x 100% =93,0972% sehingga akan lebih tertahan karena etil asetat memiliki
komposisi yang lebih kecil dibandingkan n-heksana.
Pada foto KLT yang dilampirkan (foto milik kelompok
Pada percobaan ini, disintesis pewarna indigo lain), jarak elusi noda besar karena menggunakan
dari isatin dengan metode Baeyer. Padatan isatin komposisi etil asetat yang lebih besar sehingga isatin
ditambahkan diklorometana. Fungsi diklorometana lebih terelusi (Rf besar).
adalah untuk melarutkan isatin. Campuran direfluks Titik leleh produk yang didapatkan adalah 192-
agar campuran larut dan reaksi dapat terjadi. Setelah
200 OC. Berdasarkan literatur, pewarna indigo standar
refluks berjalan selama sejam ditambahkan reagen PCl3
memiliki titik leleh 390 sampai 392 C sedangkan
yang berfungsi sebagai agen pengklorinasi pada
isatin standar memiliki titik leleh sekitar 200 OC. Dari
molekul isatin dimana atom O pada karbonil
uji titik leleh, produk yang dihasilkan sama dengan
digantikan dengan Cl. Klorida merupakan gugus pergi
isatin.
yang baik sehingga nantinya akan lebih mudah untuk
Karakterisasi yang terakhir dilakukan adalah
diserang molekul isatin lainnya membentuk senyawa
menggunakan spektrofotometri IR. Spektrum yang
indigo. Setelah refluks berjalan 2 jam, campuran
dihasilkan berdasarkan energi yang diserap oleh
didinginkan pada suhu ruang lalu ditambahkan tetes
molekul karena perubahan momen dipol akibat vibrasi
demi tetes Zn yang sudah dilarutkan dalam asam
molekul tersebut. Ada dua daerah pada spektrum IR,
asetat. Zn ditambahkan asam asetat agar terbentuk
yaitu daerah gugus fungsi (4000-1500 cm-1) dan
Zinc asetat yang merupakan agen pereduks isatin
daerah sidik jari (sebelah kanan 1500 cm-1). Pada
menjadi indigo. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
daerah gugus fungsi, dapat ditentukan gugus fungsi
berikut:
yang terdapat dalam senyawa berdasarkan puncak
serapan tertentu. Daerah sidik jari merupakan daerah
dengan pola puncak spesifik untuk tiap senyawa.
Senyawa yang berbeda dapat memiliki gugus fungsi
yang sama, namun dapat dibedakan dari pola puncak
daerah sidik jari yang berbeda. Analisis spektrum IR
dilakukan dengan membandingkan spektrum isatin
Gambar 9. Reaksi pembentukan pewarna indigo dari (reaktan) dan produk yang diperoleh serta
isatin dibandingkan pula dengan spektrum IR standar isatin
dan pewarna indigo.

5
Gambar 10. Spektrum IR standar isatin. (Sumber: http://www.chemicalbook.com/SpectrumEN_91-56-
5_IR1.htm)

Gambar 11. Spektrum IR percobaan.

Gambar 12. Spektrum IR standar Pewarna Indigo. (Sumber:


http://webbook.nist.gov/cgi/cbook.cgi?ID=C482893&Mask=80)

6
Spektrum IR isatin dari percobaan menunjukkan merupakan reagen awal. Pada percobaan ini, isatin
serapan (daerah gugus fungsi) di sekitar daerah yang tidak bereaksi untuk membentuk pewarna indigo.
sama dengan spektrum standarnya. Selain itu, pola Ada beberapa kemungkinan-kemungkinan yang
puncak di daerah sidik jari juga sama dengan spektrum menyebabkan pewarna indigo tidak berhasil disintesis.
standar. Terdapat puncak serapan di daerah sekitar Kemungkinan pertama, pelarut yang digunakan tidak
3400 cm-1 yang merupakan gugus N-H. Puncak pada sesuai dimana pelarut yang digunakan adalah
bilangan gelombang 1726 cm-1 yang menunjukkan diklorometana. Ketika ditambahkan diklorometana,
bahwa pada isatin terdapat gugus karbonil C=O. isatin tetap tidak bisa larut bahkan ketika direfluks. Hal
Gugus =C-H aromatik yang dimiliki isatin juga ini mengakibatkan isatin mengendap dan tidak bereaksi
memiliki puncak serapan pada bilangan gelombang dengan reagen lain. Kemungkinan kedua, agen
1619 cm-1. Puncak serapan pada bilangan gelombang klorinasi yang digunakan, PCl3, tidak cukup kuat
1460 cm-1 menunjukkan adanya gugus C=C aromatik. untuk mengganti atom O pada karbonil dengan Cl.
Spektrum IR dari reaktan (isatin) dibandingkan dengan Agen klorinasi yang seharusnya digunakan adalah PCl5
spektrum produk yang didapat dan mempunyai puncak yang lebih kuat untuk klorinasi. Kemungkinan ketiga,
serapan yang sangat mirip (sama) baik pada daerah suhu refluks yang digunakan tidak sesuai. Suhu refluks
gugus fungsi maupun sidik jari. Dua senyawa dapat yang seharusnya digunakan adalah sekitar 40OC. Suhu
memiliki puncak serapan gugus fungsi yang sama, ini merupakan titik didih diklorometana. Dalam
namun jika pada daerah sidik jari pola spektrum yang percobaan ini suhu hanya diatur lewat suhu hotplate
dihasilkan juga sama persis, maka dapat disimpulkan yaitu sekitar 50-60 OC, dan tidak digunakan
bahwa 2 senyawa tersebut adalah senyawa yang sama. thermometer untuk mengukur suhu dalam campuran
Pewarna indigo seharusnya mempunyai perbedaan dalam labu sehingga kemungkinan suhu dalam
puncak serapan daerah gugus fungsi selain pola campuran terlalu rendah. Suhu yang tidak sesuai dapat
puncak sidik jari yang pasti berbeda dengan isatin. menyebabkan reaksi tidak maksimal atau bahkan tidak
Puncak serapan tersebut berada pada bilangan terjadi. Kemungkinan keempat, isatin tidak dapat
gelombang sekitar 1650 cm-1 yang menunjukkan gugus direduksi oleh Zn asetat karena ketika ditambah Zn
C=C alkena penghubung 2 siklik yang terdapat pada asetat, Zn asetat tidak larut dan tetap terendapkan
senyawa indigo. Jika dibandingkan antara spektrum sebagai endapan abu-abu. Senyawa isatin yang
produk yang didapat dan spektrum standar, pola digunakan sebagai starting material sudah sesuai
puncak pada daerah sidik jari berbeda. Oleh karena itu, dengan isatin standar setelah dianalisis dengan
dengan analisis berdasarkan spektrum IR ini semakin spektrofotometri IR dan dibandingkan dengan
memperkuat bahwa produk yang didapat bukan indigo spektrum IR standar isatin. Hal ini menandakan bahwa
melainkan masih merupakan senyawa isatin. memang kesalahan mungkin disebabkan oleh reagen
lainnya atau langkah percobaan yang dilakukan.
Dari analisis produk segi warna, uji titik leleh,
jarak elusi, dan diperkuat dengan spektrum IR-nya,
produk yang dihasilkan bukanlah pewarna indigo yang
diharapkan namun masih berupa isatin yang
harganya kepada penulis dari kampung halaman
penulis. Dan juga kepada dosen pengampu mata
4. KESIMPULAN kuliah Pengantar Penelitian Kimia Organik, Bapak
Dari percobaan sintesis pewarna indigo Didin Mujahidin dan Ibu Deana Wahyuningrum
dari isatin, didapatkan padatan jingga dengan yang telah banyak membantu selama percobaan
rendemen 93,0972%. Dari analisis warna yang praktikum serta memberikan saran metode
seharusnya biru jeans, uji titik leleh, karakterisasi percobaan ini. Terimakasih juga kepada petugas
dengan TLC dan spektrofotometeri IR, dapat laboratorium organik, Ibu Sri dan Pak Yadi yang
disimpulkan pewarna indigo tidak berhasil disintesis telah membantu menyediakan alat dan bahan yang
dan produk yang diperoleh merupakan isatin diperlukan. Begitu banyak bantuan yang mereka
(starting material). Dari analisis dan karakterisasi berikan, semoga dibalaskan lebih baik oleh-Nya.
tersebut (warna padatan, jarak elusi, titik leleh, Dan tidak lupa kepada seluruh teman-teman
spektrum IR), sifat produk yang didapatkan sama kelompok praktikum sintesis indigo, atas semua
dengan isatin. bantuan yang telah diberikan, baik selama praktikum
maupun dalam pembuatan laporan ini.
UCAPAN TERIMAKASIH

Puji dan syukur pertama kali penulis ucapkan


kepada Allah SWT yang karena kehendakNya lah
laporan praktikum ini dapat selesai tepat pada
waktunya. Selanjutnya kepada kedua orang tua yang
senantiasa memberikan motivasi yang tak ternilai

7
DAFTAR PUSTAKA

[1] Adolf Baeyer, "Ueber die Verbindungen der


Indigogruppe" [On the compounds of the indigo
group], Berichte der Deutschen chemischen
Gesellschaft zu Berlin, 16 : 2188-2204 ; see
especially p. 2204 (1883)
[2] da Silva, J. F. M.; Garden, S. J.; Pinto, A. C.
(2001). "The Chemistry of Isatins: a Review
from 1975 to 1999" (pdf). Journal of the
Brazilian Chemical Society 12 (3): 273324.
[3] Elmar Steingruber "Indigo and Indigo
Colorants" Ullmann's Encyclopedia of Industrial
Chemistry 2004, Wiley-VCH,
Weinheim.doi:10.1002/14356007.a14_149.pub2
[4] McKee, James R.; Zanger, Murray (1991). "A
microscale synthesis of indigo: Vat dyeing".
Journal of Chemical Education 68: A242.
doi:10.1021/ed068pA242.
[5]webbook.nist.gov/cgi/cbook.cgi?ID=C482893&
Mask=80 diakses pada tanggal 19 mei 2016
pukul 08.56
[6] www.chemicalbook.com/SpectrumEN_91-56-
5_IR1.htm diakses pada tanggal 19 Mei 2016
pukul 08.15