Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM


MUHAMMAD RASYID RIDHA

DISUSUN OLEH
RIDAWATI
KELAS :
XII IPA 2
MADRASAH ALIYAH NEGERI SELAT
KUALA KAPUAS
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Lahirnya gerakan pembaharuan dipengaruhi oleh kemunduran dunia islam yang mencangkup

dalam berbagai bidang, baik bidang keagamaan, social, dan intelektual. Merajalelanya bidah

dan khurafat yang mengotori akidah, sehingga sebagian dari ulam Islam buta terhadap sinar

islam yang orisinil yang terkandung dalam Al- Quran dan Sunnah.

Maka lahirlah para pembaharu dalam Islam yang menyerukan agar umat Islam kembali

kepada al- Quran dan hadits, meninggalkan sikap jumud menuju sikap dinamis, menjauhkan

syirik, bidah dan khurafat menuju aqidah yang shalih, dan memanfaatkan akal yang tinggi.

Menurut fazlur Rahman, gerakan pembaharuan dalam islam muncul pada abad ke- 17, 18 dan 19

pada dasarnya menunjukan karakteristik yang sama seperti pemikiran ibnu Taimiyah, bahwa

gerakan tersebut mengedepankan rekonstruksi social- moral masyarakat islam dan sekaligus

mengoreksi sufisme yang terlalu menekankan individu dan mangabaikan masyarakat.[1]

Salah satu tokoh pembaharu tersebut adalah Rasyid Rida. Kata Syakib Arselan, sebagai

dinukil oleh Al- Syirbas tidaklah mungkin sejarah Islam akan ditulis dalam bentuk yang

sebenarnya serta mencangkup beberapa Ilmu pengetahuan tanpa memberikan tempat terhormat

bagi Sayyid Muhammad Rasyid Ridha didalamnya. [2]

Dalam makalah ini akan dibahas pembaharuan- pambaharuan yang dilakukan Rasyid Ridha

khususnya pembaharuan dalam bidang pendidikan.


B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah Biografi Rasyid Ridha?

2. Apakah karya- karya Rasyid Ridha?

3. Apakah konsep pemikiran pendidikan (tujuan, materi, metode, pendidikk dan peserta didik),

menurut Rasyid Ridha?

4. Bagaimanakah relevansi pemikiran pendidikan islam menurut Rasyid Ridha dengan pendidikan

masa terkini?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Biografi Rasyid Ridha

2. Untuk mengetahui karya- karya Rasyid Ridha

3. Untuk mengetahui konsep pemikiran pendidikan (tujuan, materi, metode, pendidikk dan peserta

didik), menurut Rasyid Ridha

4. Untuk mengetahui relevansi pemikiran pendidikan islam menurut Rasyid Ridha dengan

pendidikan masa terkini


BAB II

PEMBAHASAN

A. Biografi Rasyid Ridha

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dengan nama lengakapnya adalah Muhammad Rasyid bin

Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha'uddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Namun, dunia Islam lebih

mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. Ia lahir didaerah Qalamun (sebuah desa

yang tidak jauh dari Kota Tripoli, Lebanon) pada 27 Jumadil Awal 1282 H bertepatan dengan

tanggal 23 September 1865 M. Dari namananya jelas bahwa beliau merupakan salah satu

keturunan Ahlul-Bait.[3]

Menurut keterangan ia berasal dari keturunan Al- Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.

Karena ia memakai gelar Al- Sayyid di depan namanya, kadang- kadang ia juga dipanggil

syaikh, walaupun gelar demikian sangat jarang dipakai dan lebih popular, ketika orang sering

membuat tambahan tambahan didepan namanya sebagai sayyid. [4]

Semasa kecil ia dimasukan ke Madrasah Tradisional di Al- Qolamun untuk belajar menulis,

berhitung dan membaca al- Quran.Ditahun 1882 ia melanjutkan pelajaran di Madrasah al-

wataniyah Al- Islamiyah (Sekolah Nasional Islam) di Tripoli. Di madrasah ini, selain dari Bahasa

arab diajarkan pula bahasa Turki dan prancis, dan disamping pengetahuan- pengetahuan Agama

juga pengetahuan Modern. rasyid ridha meneruskan pelajarannya di salah satu Sekolah Agama

yang ada di Tripoli. Walaupun pindah sekolah hubungannya dengan Al- Syaikh Husain Al- Jisr

berjalan terus dengan baik.

Lewat hubungan akrab itulah Rasyid Ridha lebih jauh berkenalan denagan ide- ide

pembaharuan, dan syekh amat berhasrat memompa semangat muda Rasyid Ridha yang memang

meminati berat alur pemikiran baru.


Muhammad Rasyid Rida sebagai ulama yang selalu menambah ilmu pengetahuan dan selalu

pula berjuang selama hayatnya, telah menutup lembaran hidupnya pada tanggal 23 Jumadil Ula

1354 H, bertepatan dengan 22 Agustus 1935 M. [5]

B. Karya- karya Rayid Ridha

1. Majalah al- Manar

Majalah ini termasuk majalah termasyhur, al- manar dalam nomor pertama dijelaskan bahwa

tujuan Al- Manar sama dengan tujuan Al- Urwah Al- Wusqa, antara lain mengadakan

pembaharuan dalam bidang Agama, Sosial, dan Ekonomi, memberantas takhayul dan bidah-

bidah yang masuk kedalam tubuh Islam, menghilangkan paham fatalism yang terdapat

dikalanagan Umat Islam, serta paham- paham yang dibawa tarekat Tasawuf, meningkatkan mutu

pendidikan dan membela umat islam terhadap permainan polotik Negara- Negara Barat.[6]

2. Tafsir Al- Mannar

Rasid Ridha melihat perlunya diadakan tafsir modern dari al- Quran yaitu tafsiran yang

sesuai dengan ide- ide yang dicetuskan gurunyaa. Ia selalu menganjurkan pada Muhammad

Abduh supaya menulis tafsir modern tetapi guru tidak sepaham dengan murid dalam hal itu.

Karena selalu didesak Muhammad Abduh akhirnya setuju untuk memberikan kuliah mengenai

Tafsir Al- Quran di Al- azhar. Kuliah- kuliah itu dimulai di tahun 1899 dan dihadiri oleh rasyid

ridha. Keterangan- keterangan yang diberikan guru ia catat untuk seterusnya disusun dalam

bentuk keterangan teratur. Apa yang ia tulis ia serahkan pada guru untuk deperiksa. Setelah

mendapat persetujuan karangan itu disiarkan dalam Al- Manar. Dengan demikian timbullah apa

yang kemudian dikenal dengan Tafsir al- Manar. Setelah guru meninggal, murid meneruskan

penulisan tafsir sesuai dengan jiwa dan ide yang dicetuskan guru. Muhammad Abduh sepat
memberikan tafsiran sampai dengan ayat125 dari Surat An- Nisa (jilid III dari Tafsir Al- Manar)

dan yang selanjutnya adalah tafsiran Rasyid Ridha sendiri.[7]

3. Tarikh Al-Ustadz Al-Imama Asy-Syaikh 'Abduh (Sejarah Hidup Imam Syaikh Muhammad

Abduh)

4. Nida' Li Al- Jins Al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita), Al-Wahyu Muhammad (Wahyu

Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW)

5. Yusr Al-Islam wa Usul At-Tasyri' Al-'Am (Kemudahan Agama Islam dan dasar-dasar umum

penetapan hukum Islam)

6. Al-Khilafah wa Al-Imamah Al-Uzma (Kekhalifahan dan Imam-imam besar), Muhawarah Al-

Muslih wa Al-Muqallid (dialog antara kaum pembaharu dan konservatif),

7. Zikra Al-Maulid An-Nabawiy (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW), dan Haquq Al-

Mar'ah As-Salihah (hak-hak wanita Muslim)

C. Konsep Pendidikan Islam menurut Rasyid Ridha

1. Tujuan

a. Rasyid Ridha mengatakan salah satu tujuan pembaharuaan pendidikan agar dapat menguasai

ilmu pengetahuan dan teknologi modern kalangan umat islam sekaligus memberikan informasi

yang benar tentang Islam selain itu, untuk menandingi daya tarik sekolah- sekolah Kristen.

b. Memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum dengan metode modern. Hal tersebut

didasari kenyataan sekolah-sekolah yang didirikan bangsa Eropa saat ini banyak diminati oleh

para pelajar dari seluruh penjuru dunia, padahal tidak disajikan pelajaran agama didalamnya.

c. Pendidikan Islam bertujuan memahami ajaran islam yang sebenarnya


Rasyid ridha berpendapat bahwa umat muslim mundur karena tidak memahami ajaran

pendidikan islam dengan sebenarnya, yang mencangkup pendidikan sepiritual dan kemakmuran

dunia. Jika mereka memahami dengan betul dan menjalankannya, mereka akan maju sampai

akhir zaman, jika tidak akan mundur. Kemunduran itu tidak akan hanya meninpai individu

melainkan juga masyarakat islam.

d. Tidak memisahkan antara pendidikan Agama (sepiritual) dengan Pendidikan umum (keduniaan)

Ketika umat Islam dapat memadukan antara ajaran spiritual dengan ajaran keduniaan secara

baik, maka mereka akan mendapatkan kekuatan yang tangguh, kehormatan, peradaban yang

tinggi dan kesejahteraan hidup. Mereka akan menjadi pusat peradaban dunia selama mereka

menjadi muslim yang sebenarnya. [8]

e. Pendidikan Islam tidak melenceng dari ajaran yang sebenarnya

kemunduran umat islam pada masa klasik terjadi kerena ajaran/ pendidikannya telah

menyeleweng dari ajaran yang sebenarnya. Ajaran- ajaran islam telah banyak masuk bidah, di

antara bidah itu adalah pendapat bahwa islam itu terdapat ajaran kekuatan batin yang membuat

pemiliknya dapat memperoleh segala apa yang dikehendaki. Bidah yang berpendapat tentang

syekh tarekat yang menganggap hidup di dinia tidak penting, tentang tawakal dan pujaan serta

kepatuhan yang berlebihan kepada syaikh dan wali. [9]

2. Materi

Menurut Rasyid Ridha materi yang diajarkan di samping fiqh, tafsir, hadits dan sebagainya

yang biasa diberikan di Madrasah- madrasah Tradisional, perlu adanya penambahan kurikulum

mata pelajarannya yang mencangkup bidang teknologi, moral, sosiologi, ilmu bumi, sejarah,

ekonomi, hitung, kesehatan, bahasa asing, dan Ilmu mengatur Rumah tangga (kejahteraan

keluarga).
Alasan pembaharuan itu karena pada masa ini, telah bercokolnya politik kerajaan Turki

Utsmani di Dunia Arab yang tidak banyak menggantungkan perkembangan peradaban Islam

secara utuh, sehingga masa itu merupakan priode kebekuan, keruntuhan dan kehancuran

pendidikan Islam. [10]

Dengan semangat motivasi itulah Rasyid Ridha berpendirian bahwa umat islam harus

merebut kembali peradaban Islam dalam berbagai bidangnya, sepertihalnya peradaban modern.

Jalan untuk memiliki kekuatan hanyalah berusaha untuk menguasai ilmu pengetahuan dan

teknologi modern, sebagaimana yang dimiliki barat. Peradaban barat modern menurutnya

didasarkan atas ilmu pengetahuan dan teknlologi yang tidak bertentangan sama sekali dengan

ajaran islam.

Kemajuan umat islam di zaman klasik adalah karena penguasaan ilmu pengetahuan. Barat

berhasil mencapai kemajuan adalah karena mereka berhasil mengambil alih ilmu pengetahuan

yang dikembangkan oleh orang islam. Dengan demikian, sejalan dengan pemikiran Al- tahtawi

dan khayr aal- din, Rasyid Ridha menganggap bahawa mengambil ilmu pengetahuan moder

sebenarnya mengambil kembali pengetahuan yang pernah dimiliki umat islam.orang- orang barat

hanya mengembangkan peradaban itu setelah mereka memperoleh dari islam melalui sepanyol

dan tanah suci. [11]

3. Metode

Metode yang digunakan diantaranya yaitu:

a. Pembelajaran mandiri

Jika pada zaman klasik metode mengajar yang sering digunakan adalah metode ceramah yang

intinya proses KBM terpusat pada guru, dengan adanya pembelajaran mandiri ini siswa dituntut

untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Dengan pembelajaran mandiri ini pengetahuan yang
didapat tidak terbatas dari guru saja, malah pengetahuan secara langsung dapat diperoleh oleh

siswa.

b. Belajar melalui pengalaman

Penerapan metode visitasi melalui metode ini guru dapat member pengalaman kepada pelajar.

Pengajaran akan tekesan karena pelajar itu dapat merasakan sendiri serta dapat menguatkan

pemahaman mereka.

c. Menggunakan alat batu atau media dalam mengajar

Media merupakan segala kelengkapan yang digunakan oleh guru untuk membantu

menyampaikan dan mempermudah peserta didik dalam menerima pelajaran. Alat ini tidak

terbatas pada buku teks, papan tulis dan gambar saja melainkan juga meliputi segala benda yang

digunakan dalam yang dapat dilihat, didengar, dipegang, dibaca, dirasai, digunakan dan

sebagainya.

4. Pendidik

a. Seorang pendidik harus senantiasa menambah ilmu pengetahuan

b. Dalam mengajar pendidik menggunkan metode yang bervariasi

c. Dalam mengajar pendidik harus melibatkan peserta didik agar mereka dapat menjelaskan secara

kusus menurut penelitian mereka sendiri (pendidik sebagai pembimbing bagi peserta didik)

d. Pendidik tidak hanya dituntut untuk mengajar masalah agama saja tetapi juga dituntut untuk

memberi pengetahuan masalah teknologi, moral, sosiologi, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, hitung,

kesehatan, bahasa asing, dan Ilmu mengatur Rumah tangga (kejahteraan keluarga).

5. Peserta Didik
Peserta didik merupakan makhluk allah SWT. Yang memiliki fitrah jasmani maupun rohani

yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran, maupun perimbangan pada bagian-

bagin lainnya.

a. Peserta didik tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan guru tetapi juga dituntun untuk

terlibat aktif dalam suatu pembelajaran.

b. Penuntut ilmu dalam usaha mendalami suatu disiplin ilmu tidak dilakukan sekaligus, akan tetapi

perlu bertahap dan memprioritaskan yang terpenting.

c. Peserta didik tidak membusungkan dada terhadap orang alim (guru), melainkan bersedia patuh

dalam segala urusan dan bersedia patuh terhadap tata tertib.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam masa, telah bercokolnya politik kerajaan Turki Utsmani di Dunia Arab yang tidak

banyak menggantungkan perkembangan peradaban Islam secara utuh, sehingga masa itu

merupakan priode kebekuan, keruntuhan dan kehancuran pendidikan Islam. dengan semangat

motivasi itulah Rasyid Ridha berpendirian bahwa umat islam harus merebut kembali peradaban

Islam dalam berbagai bidangnya, sepertihalnya peradaban modern. Jalan untuk memiliki

kekuatan hanyalah berusaha untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern,

sebagaimana yang dimiliki barat. Peradaban barat modern menurutnya didasarkan atas ilmu

pengetahuan dan teknlologi yang tidak bertentangan sama sekali dengan ajaran islam.

B. Penutup

Demikianlah penyusunan makalah ini, kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah masih

banyak kekurangan, Karena keterbatasan kemampuan kami atapun kurangnya referensi. Maka

dari itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sangat kami harapkan

untuk perbaikan dalam pembuatan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah inni berguna

bagi para pembacanya dan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi kita semua. Amiiin
DAFTAR PUSTAKA

[1] Amin Rais , Islam dan Pembaruan, dalam john J. Donohue dan John L. (Ed.),(ter.

Machnun Husein ), (Jakarta: Rajawali, 1984) hlm. 10

[2] Ahmad al- Syirbasi, Rasyid Ridha, Shahibu al- Manar, (Mesir: Lajnah al- tarif bi al-

Islam, 1970) hlm. 69

[3] Murodi, Sejarah Kebuidayaan Islam, (Semarang : PT.Karya Toha Putra, 1994), hlm. 179

[4] Harun Nasition, pembaharuan dalam islam, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hlm. 59

[5] Asmuni, Muhammad Yusran, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia

Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1994). hlm. 27

[6] Lihat As- Syayid Muhammad rasyid Ridha dalam tarikh Al- Ustd Al- Imam As-

Sayyid Muhammad Abduh, Al- Manar, 1350/ 1931, hlm.1003

[7] Ibid, hlm. 71

[8] Albert Hourani, Arabic Thought in the Liberal Age 1798- 1939, (Oxford University,

London, New York, Toronto, 1962), hlm. 228

[9] Harun Nasition,op. cit, h. 72- 73

[10] Hasan Langgulung, Asas- asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al- Husna, 1987),

hlm. 98

[11] Albert Hourani, op. cit, 236

[12] Rusman, model- model pembelajaran, (Jakarta: RajaGrafindo, 2014 ) hlm, 382

Diposkan oleh Ganda Rusman Maulana Zebua di 2:47:00 AM