Anda di halaman 1dari 21

Implikasi Harmonisa dalam Sistem Tenaga Listrik dan Alternatif Solusinya

oleh :
Jusmin Sutanto1), Hernadi Buhron2)
1) Dept. Teknik Energi Politeknik Negeri Bandung dan Dept. Teknik Elektro Universitas Siliwangi
Tasikmalaya
2) Staf operasi distribusi PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten
e-mail : yusminz@yahoo.com; hernadi@pln-jabar.co.id

Abstrak
Pergeseran sifat beban yang terjadi dalam selang waktu kira-kira limabelas tahun terakhir dalam
kuantitas besar, yaitu dari beban linier ke beban nonlinier telah menimbulkan berbagai masalah yang
berkaitan dengan introduksi harmonisa, yaitu inkompatibilitas peralatan, peningkatan rugi-rugi dan
penurunan efisiensi sistem, penyimpangan sistem pengukuran dan analisis sistem tenaga, penurunan
keandalan serta masalah policy / tanggung jawab. Secara garis besar, tulisan ini mengulas masalah
pembangkitan harmonisa, masalah yang ditimbulkannya, serta solusi yang dapat diambil, baik secara
teknis maupun kebijaksanaan. Beberapa data empiris, hasil analisis experimental dan quasi-experimental
serta simulasi ditampilkan pula dalam tulisan ini.

Kata kunci : harmonisa, true power factor, displacement power factor, daya aktif, daya reaktif

I. Pendahuluan
v(t) ah cos(ho h) (2)
h1
I.1 Latar Belakang
i(t) bh cos(ho h) (3)
Kecenderungan penggunaan beban-beban h1

elektronik dalam jumlah besar dalam selang waktu dengan :


T
kira-kira duapuluh tahun terakhir pada saat ini 1
telah menimbulkan masalah yang tidak terkirakan
ao
T f(t)dt (4)
0
sebelumnya. Berbeda dengan beban-beban listrik
T
yang menarik arus sinusoidal (sebentuk dengan 2
tegangan yang menyuplainya), beban-beban
ah
T f(t) coshtdt (5)
0
elektronik menarik arus dengan bentuk T
nonsinusoidal, walaupun disuplai dari sumber 2
tegangan sinusoidal. Beban yang memiliki sifat ini
bh
T f(t) sinhtdt (6)
0
disebut sebagai beban nonlinier. dimana h adalah orde harmonisa, yaitu bilangan
Arus yang tidak berbentuk sinusoidal tersebut 1,2,3dst. Pada kasus di sistem tenaga listrik,
mengintrodusir komponen arus frekuensi tinggi umumnya orde yang dominan adalah orde ganjil
yang terinjeksi ke jala-jala, yang dikenal dengan saja (1,3,5, dst.). Orde h=1 menyatakan
nama arus harmonisa (karena itu fenomena ini komponen dasar atau fundamental dari
seringkali disebut dengan polusi harmonisa). Arus gelombang. Suku ao menyatakan komponen dc
harmonisa ini ternyata menimbulkan sangat atau nilai rata-rata dari gelombang, yang mana
banyak implikasi negatif, baik bagi pelanggan umumnya komponen ini tidak muncul dalam
maupun power provider. Kerugian akibat jaringan sistem arus bolak-balik. Bila gelombang
harmonisa mencakup aspek teknis, biaya dan arus atau tegangan berbentuk sinusoidal
keandalan. sempurna, maka orde h=1 saja yang ada.
Gelombang yang cacat (terdistorsi) memiliki
I.2 Deret Fourier koefisien-koefisien dengan indeks h. Amplituda
harmonisa biasa dinyatakan sebagai :
Setiap gelombang periodik, yaitu yang memiliki
bentuk f(t) f(t T) dapat dinyatakan oleh sebuah
ch ah2 bh2 , h1
deret Fourier bila memenuhi persyaratan Nilai-nilai c sebagai fungsi h seringkali
Dirichlet : digambarkan dalam suatu barchart dan dikenal
1. bila gelombang diskontinu, hanya terdapat dengan spektrum frekuensi gelombang.
jumlah diskontinuitas yang terbatas dalam Tingkat kecacatan seringkali dinyatakan
perioda T dengan Total Harmonic Disotortion (THD), yang
2. gelombang memiliki nilai rata-rata yang dinyatakan sebagai (pada contoh ini misalkan
terbatas dalam perioda T untuk arus):
3. gelombang memiliki jumlah maksimum dan 2
minimum yang terbatas dalam perioda T
I rms I12
THDi 100 (8)
Bila syarat-syarat tersebut dipenuhi, deret Fourier I1
dapat dinyatakan dalam bentuk: Dengan Irms dapat dinyatakan dengan identitas

f ( t) a0 an cosnt bn sinnt (1) Parseval:
n1
Secara umum, tegangan dan arus dapat I rms I h2 (9)
h1
dinyatakan dalam deret Fourier sebagai :

1
2
II. Sumber - Sumber Harmonisa yang (a) topologi penyearah tak-terkendali satu
Utama fasa

II.1 Tungku Busur Api (Arc Furnace)


arus
Tungku busur api yang digunakan dalam pabrik
baja menarik arus dengan kandungan harmonisa
yang tinggi, dengan spektrum frekuensi tegangan
sebagaimana diperlihatkan pada gambar 1.

(b) Arus dan tegangan PC+monitor


Catatan:gambar arus telah diperbesar tidak
proporsional terhadap tegangan

Gb.1 Spektrum frekuensi arus tungku busur api


(a) pelelehan (melting) (b) pemurnian (refining)

Dari gambar di atas tampak bahwa pada kondisi (c) Bentuk arus TV Digitec Ninja 20
pemurnian, kandungan harmonisa menurun, yang
berarti tingkat kecacatan berkurang.

II.2 Penyearah teganga


n
Pada saat ini, penyearah adalah sumber utama
harmonisa. Dari sisi pengendalian, secara garis
besar ada tiga jenis penyearah, yaitu ; aru
1. penyearah tak terkendali (dengan dioda) s
2. penyearah terkendali (dengan thyristor)
3. penyearah PWM (dengan transistor)
Penyearah pertama dan kedua mengintrodusir
harmonisa dalam jumlah besar, sedangkan
penyearah ketiga (yang akan dibahas kemudian) (d) Tegangan dan arus penyearah tiga fasa tak
tidak. Penyearah kedua, selain menghasilkan terkendali
harmonisa, juga memiliki faktor daya yang sangat
rendah. Penyearah pertama, khususnya dari jenis Gb. 2 Topologi penyearah tak-terkendali dan
satu fasa adalah penyumbang harmonisa terbesar bentuk gelombang arus yang diintrodusir
dari sektor perumahan dan perkantoran. Semua
peralatan elektronik, yang meliputi televisi, sistem Penyearah jenis kedua, yaitu penyearah terkendali
AV, printer, scanner, UPS dan battery charger, biasa digunakan dalam sektor industri yang
komputer, monitor, oven microwave, lampu menggunakan pengendalian putaran motor dc
fluorescent dengan ballast elektronik, dll dengan penyearah. Pada gambar 3 diperlihatkan
menggunakan penyearah jenis ini pada seksi topologi dan bentuk arus penyearah terkendali
front-end -nya. Pada gambar 2 diperlihatkan tiga fasa.
topologi penyearah pertama dan beberapa contoh
bentuk gelombang yang diintrodusirnya dalam
beberapa kasus. Penyearah tak terkendali tiga
fasa sangat banyak dijumpai dalam sektor
R
industri. Penyearah ini sangat lazim dijumpai pada S Io
seksi front-end pengendali putaran motor-motor
T
asinkron tiga fasa dalam semua sektor industri
(tekstil, baja, kertas, karet, makanan, dll).
induktor perata arus
(optional) Gb. 3 topologi penyearah terkendali tiga fasa
Bentuk arus penyearah terkendali tiga fasa hampir
sama dengan bentuk arus penyearah tak
vs C beban V
terkendali tiga fasa, terkecuali mempunyai beda
o
fasa terbelakang terhadap tegangan.
Dari bentuk-bentuk gelombang di atas, tampak
jelas bahwa kesemuanya sangat menyimpang dari
bentuk sinusoidal, yang secara kualitatif berarti

3
gelombang memiliki kandungan harmonisa yang aktif, tetapi di sisi lain ia mengintrodusir
tinggi. harmonisa dan memperburuk faktor daya serta
efek-efek lain yang merugikan (hal-hal ini akan
II.3 Isu Khusus : Lampu Hemat Energi (LHE) diulas kemudian).
Beberapa profil harmonisa beban-beban
Pada saat ini, berkaitan dengan semakin
lainnya diperlihatkan pada tabel 2.
mahalnya biaya energi, PLN dan produsen lampu
rajin mempopulerkan apa yang disebut dengan
III. Permasalahan Teknis yang Disebabkan
lampu hemat energi (LHE). Sebenarnya, LHE
adalah lampu fluorescent yang dioperasikan pada Harmonisa
frekuensi tinggi (~10-200kHz). Frekuensi tinggi ini
didapat dari inverter kecil dalam ballast elektronik. III.1 Konsep Daya
Inverter ini disuplai dari suatu penyearah yang Bila arus dan tegangan dapat dinyatakan
tidak lain adalah penyearah dari jenis pertama secara umum sebagaimana persamaan (2) dan (3)
sebagaimana telah disinggung di atas. Pada tabel sebagai :
1 diperlihatkan kandungan harmonisa LHE

komersial yang ada di pasaran (Newton, PL, 20W). v(t) ah cos(ho h) (2)
h1
Pada gambar 5 diperlihatkan juga bentuk
gelombang untuk lampu merk lain (Hokiko, PL, i(t) bh cos(ho h) (3)
h1
18W).
maka daya aktif dapat dinyatakan sebagai :

Tabel 1. Kandungan harmonisa arus lampu PL Ptotal ahbh cos(h h) (10)
h1
Newton
dan daya nyata dinyatakan sebagai :
Irms (A) I1 (A) I3 (A) I5 (A) I7 (A)
0.13 0.08 0.06 0.03 0.02 Stotal ahbh (11)
h1

Tampak bahwa kandungan harmonisa yang Bila daya reaktif diturunkan dengan cara yang
diperlihatkan (orde 3, 5 dan 7) relatif sangat besar sama sebagaimana mendapatkan daya aktif P,
dibandingkan arus fundamentalnya. Kandungan maka didapat :

harmonisa tersebut memberikan kontribusi yang Qtotal ahbh sin( h h) (12)
besar terhadap arus efektif (rms). Pada gambar 4 h1

diperlihatkan arus dan tegangan lampu tersebut. Definisi daya reaktif seperti ini adalah yang
disarankan oleh CIGRE. Walau demikian, definisi
daya reaktif pada persamaan (12) di atas belum
disepakati secara bulat oleh para insinyur listrik.
tegangan Salah satunya dikarenakan apabila kita terapkan
persamaan standar untuk daya tampak
(apparent power) ;
arus S P2 Q2 (13)
ternyata P dan Q tidak memenuhi persamaan di
atas. Untuk itu, diintrodusir satu besaran lain,
yaitu daya distorsi D, yang dinyatakan sebagai :
D S2 P2 Q2 (14)
Dari ulasan singkat di atas, tampak bahwa
definisi daya, khususnya daya reaktif yang
Gb. 4 Arus dan tegangan lampu PL Newton 20W. normal harus ditinjau ulang akibat kehadiran
Catatan:gambar arus diperbesar 500x. harmonisa.

III.2 Konsep Faktor Daya


Bila arus dan tegangan berbentuk sinusoidal,
tegangan maka faktor daya (power factor-pf) didefinisikan
sebagai cosinus sudut yang dibentuk antara
simpangan nol (zero-crossing) tegangan dan
arus
simpangan nol arus, dengan nol tegangan sebagai
acuan. Ilustrasinya diperlihatkan pada gambar 6.
tegangan
arus


0 t
Gb. 5 Bentuk arus dan tegangan lampu PL Hokiko
18W
Catatan:gambar arus diperbesar 600x
Gb 6. Kurva arus dan tegangan pada beban linier
Dengan kandungan harmonisa yang
sedemikian besar Permasalahan muncul apabila salah satu atau
tersebut, LHE sesungguhnya menjadi lebih tampak kedua besaran tidak sinusoidal sebagaimana pada
sebagai pisau bermata dua berupa hidden cost.
Di satu sisi ia dapat menghemat konsumsi daya

4
contoh-contoh di atas, terlebih apabila besaran- induktif, yang disebabkan oleh reaktansi induktif
besaran memiliki beberapa simpangan nol. yang bervariasi terhadap frekuensi, dari nol pada
Bila arus dan atau tegangan tidak sinusoidal, DC hingga infinit pada frekuensi infinit. Dengan
seperti pada contoh-contoh di atas, definisi demikian, elemen induktif memberikan kontribusi
tersebut tidak lagi dapat diterapkan. Untuk jatuh tegangan yang berbeda untuk setiap
menyelesaikan permasalahan mengenai faktor komponen frekuensi. Reaktansi induktif untuk
daya, ada dua definisi yang umum digunakan setiap komponen frekuensi dapat dinyatakan
berkaitan dengan bentuk arus dan atau tegangan sebagai :
yang tidak sinusoidal, yaitu : X n j2..n.50.L j314.n.L
true power factor (tpf atau pf saja) (15)
Jatuh tegangan V untuk setiap komponen dapat
P
tpf totalseluruhfrekuensi (13)
dituliskan sebagai :
Vrms I rms Vn = In.Zn (16)
dimana In adalah nilai-nilai efektif komponen arus
dan displacement power factor (dpf)
harmonisa dan Zn = R + j314.n.L.
P Dari persamaan (16) tersebut tampak bahwa jatuh
dpf fundamenta
l
(14) tegangan bergantung pada nilai efektif komponen-
V1 I1
komponen arus harmonisa dan impedansi pada
tpf merupakan ukuran dari kemampuan daya frekuensi harmonisa.
rangkaian, dengan mencakup seluruh komponen
harmonisa. Nilai tpf adalah selalu lebih kecil atau III.4 Sistem Pengukuran
sama dengan dpf (yaitu dalam kasus arus dan
Peralatan-peralatan ukur untuk sistem arus
tegangan sinusoidal).
bolak-balik dikalibrasikan terhadap gelombang
bolak-balik sinusoidal murni. Penggunaan alat ukur
III.3 Tegangan Sistem
untuk pengukuran gelombang yang mengandung
Arus sumber yang tidak berbentuk sinusoidal harmonisa berpeluang mengandung kesalahan
berpeluang menyebabkan terjadinya cacat pengukuran, khususnya ketika terjadi kondisi
tegangan pada tegangan jala-jala. Dalam domain resonansi dimana terjadi arus atau tegangan yang
waktu, fenomena cacat tegangan berupa puncak tinggi.
dan lembah yang terpotong dapat dijelaskan Alat ukur energi yang paling popular adalah
sebagai berikut : arus yang ditarik dari sumber dari jenis piringan induksi. Ketelitian kWh meter
hanya mengalir ketika gelombang tegangan jenis ini terbatas pada frekuensi fundamentalnya
berada di sekitar puncak dan lembah. Dengan saja. Daya total yang semestinya diukur oleh
demikian, jatuh tegangan pada feeder juga hanya meter adalah :
terjadi ketika tegangan berada di sekitar puncak
dan lembah. Jatuh tegangan ini ditandai dengan Dayatotal VdcI dc V1I1 cos1 VnI n cosn
pemotongan (clipping) tegangan yang hanya
terjadi di sekitar puncak dan lembah. (PT ) (Pdc) (P1) (Pharmonisa)
Dalam domain frekuensi, fenomena cacat (17)
tegangan dapat dijelaskan sebagai berikut : arus
sumber terdiri atas komponen komponen Daya searah Pdc tidak akan terukur oleh meter,
sebagaimana tersirat dalam persamaan (3) di tetapi meter akan sensitif terhadap
atas. Dari persamaan tersebut, tampak bahwa keberadaannya. Daya fundamental P1 akan terukur
arus terdiri atas komponen komponen dengan secara akurat. Daya harmonisa Pharmonisa tidak akan
frekuensi fundamental (50Hz) beserta kelipatan terukur secara akurat karena keterbatasan respon
bulatnya. Dalam sebagian besar kasus, komponen frekuensi meter. Daya harmonisa total didapat
yang muncul hanyalah komponen kelipatan dengan menjumlahkan semua komponen suku-
ganjilnya saja, sehingga komponen arus suku hasil perkalian tegangan dan arus serta beda
harmonisa yang muncul memiliki frekuensi 150Hz, sudutnya pada frekuensi harmonisa yang sama.
250Hz, 350Hz, 450Hz dan seterusnya. Setiap daya searah Pdc yang muncul akan
V menyebabkan kesalahan sebanding dengan rasio
Pdc/PT, dengan tanda kesalahan bergantung pada
in arah aliran daya. Demikian pula dengan daya
harmonisa Pharmonisa yang muncul akan
R j314.n.L menyebabkan kesalahan yang dinyatakan dengan
V V
s PCC
P
K harmonisa, dimana faktor K bergantung pada
PT
Gb. 7 Rangkaian ekivalen feeder karakteristik respon frekuensi meter. Tanda
kesalahan bergantung pada arah aliran daya.
Sebagaimana diperlihatkan pada gambar 7, feeder Daya searah dan daya harmonisa akan
memiliki elemen resistif dan induktif. Apabila efek mengurangi kemampuan meter untuk mengukur
kulit (skin effect) dan efek proximity dapat daya frekuensi fundamental. Arus searah
diabaikan, elemen resistif secara ideal memiliki menyebabkan distorsi fluks dan menggeser
sifat bernilai konstan untuk setiap nilai frekuensi daerah kerja permeabilitas pada komponen
dari DC hingga infinit. Dengan demikian, elemen magnetik. Fluks yang dibangkitkan harmonisa,
resistif memberikan kontribusi jatuh tegangan bersama-sama dengan fluks liar pada frekuensi
yang tetap untuk setiap komponen frekuensi. yang sama menghasilkan torka sekunder pada
Perilaku yang berbeda terjadi pada elemen piringan.

5
Konsumen yang membangkitkan harmonisa h

pada jaringan sistem tenaga akan terbebani


iS I S1 sin(t 120o ) I h sinh(t 120o )
3,5,7
dengan tagihan konsumsi energi yang lebih besar, (20)
sementara kerugian untuk penyedia adalah rugi- h
rugi jaringan yang meningkat. iT I T1 sin(t 240o ) I h sinh(t 240o ) (21)
3,5,7
Pada kWh meter jenis piringan induksi,
ketidakseimbangan fasa yang disebabkan Arus netral adalah penjumlahan dari arus-arus
harmonisa juga menyebabkan kesalahan fasa, dinyatakan sebagai :
h
pengukuran. iN iR iS iT 3 I h sinh(t)
Pengukuran tegangan atau arus yang cacat 3,9,15

dengan menggunakan meter-meter PMMC standar (22)


menunjukkan penyimpangan yang hingga Dari persamaan (22) tampak bahwa pada
beberapa persen. Penyimpangan yang sangat kawat netral akan mengalir arus-arus harmonisa
besar (bisa mencapai puluhan persen, terutama yang mempunyai urutan nol, yaitu harmonisa
bila bentuk gelombang berupa impuls-impuls ketiga, kesembilan, kelimabelas dan seterusnya.
pendek bolak-balik) terjadi pada meter-meter Dari persamaan ini juga, ada peluang bahwa arus
digital murah. Pada meter-meter digital murah, netral dapat berharga lebih besar dari arus
gelombang bolak-balik diukur dengan fasanya. Padahal, dalam kebanyakan desain
menyearahkannya terlebih dahulu, kemudian instalasi, kawat netral hanya dibuat sedikit lebih
dilakukan penapisan secara sederhana dengan besar dari kawat fasa atau bahkan lebih kecil dari
kapasitor perata. Akibatnya, meter hanya akan kawat fasa bila instalatur mengasumsikan beban
sensitif terhadap nilai puncak gelombang, dan seimbang. Akibatnya, kawat netral akan
bukannya nilai efektif gelombang. mengalami pemanasan yang sangat berlebih.
Transformator arus untuk pengukuran dan relay Panas yang dibangkitkan dapat memutuskan
proteksi, tidak terpengaruh oleh tingkat harmonisa konduktor, menimbulkan kebakaran atau merusak
yang umum terjadi. komponen lain seperti isolator busbar dan
Pengukuran faktor daya secara konvensional di sebagainya.
industri umumnya adalah pengukuran dalam Untuk verifikasi, telah dilakukan pengujian di
bandwidth yang sempit, sehingga pembacaan laboratorium. Pada gambar 8 diperlihatkan arus
yang ditunjukkan adalah mendekati dpf fasa dan spektrum arus dari suatu sistem tiga fasa
(perhatikan bahwa dpf hanya mencakup empat kawat yang mensuplai tiga buah penyearah
komponen - komponen fundamentalnya saja). dioda dengan beban seimbang terhubung bintang.
Keberadaan harmonisa juga menimbulkan Arus ketiga fasa dalam hal ini adalah sama
permasalahan pada pengukuran daya reaktif, sebesar 10.2Arms. Pada spektrum frekuensi arus
karena meter-meter yang umum digunakan di fasa tampak bahwa arus sangat kaya dengan
lapangan dikalibrasikan untuk bentuk gelombang harmonisa orde ganjil. Bentuk dan spektrum arus
arus dan tegangan sinusoidal. fasa lainnya teramati identik dengan fasa R. Pada
gambar 9 diperlihatkan arus netral sistem beserta
III.5 Rugi-rugi pada Konduktor dan Kabel dan spektrum frekuensinya.
Kawat Transmisi

Apabila sistem mengalami resonansi akibat


harmonisa, tegangan pada sistem dapat
mengalami peningkatan. Akibatnya kabel dan
isolator lainnya akan mengalami stress tegangan
berlebih dan korona, yang dapat menyebabkan
kegagalan dielektrik isolasi atau mempercepat
penuaan (aging).
Harmonisa arus menyebabkan kabel (a) Kurva arus fasa R
mengalami pemanasan berlebih. Efek kulit (skin
effect) dan efek proximity menyebabkan resistansi
bolak-balik RAC naik melebihi resistansi arus searah
RDC terlebih pada konduktor besar. Kedua efek ini
merupakan fungsi dari frekuensi. Apabila arus
yang mengalir banyak mengandung harmonisa
frekuensi tinggi, rugi-rugi I2RAC yang dibangkitkan
juga akan semakin besar. Secara umum, rugi-rugi
pada kabel, kawat transmisi dan konduktor dapat
dinyatakan dengan persamaan 18. (b) Spektrum frekuensi arus fasa R
Gb. 8 Arus fasa penyearah dan spektrum
Ploss I hRh (18) frekuensinya
h1
Pada sistem tiga fasa empat kawat, beban-
beban non linear menyebabkan arus urutan nol Pada kawat netral terukur arus sebesar 17.7 Arms.
mengalir pada konduktor netral, walaupun ketiga Faktor daya pf sistem juga terukur sangat rendah
beban seimbang. Arus-arus fasa sistem seimbang menjadi hanya 0.62 padahal dpf atau cos1 terukur
yang mengandung harmonisa dapat dinyatakan sebesar 0.99. Dari spektrum frekuensi pada
sebagai : gambar 9.(b) tampak bahwa arus yang mengalir
h pada kawat netral adalah arus-arus urutan nol,
iR I R1 sint I h sinh(t) yaitu arus harmonisa ketiga, kesembilan dan
3,5,7

(19) kelimabelas. Frekuensi fundamental arus netral

6
adalah frekuensi harmonisa ketiga dari arus fasa, berlebih bila dibandingkan dengan operasi dengan
yaitu 150Hz. gelombang sinus murni.
Rugi-rugi transformator dapat dibagi atas rugi-
rugi berbeban dan rugi-rugi tanpa beban. Rugi-rugi
berbeban dapat dibagi atas rugi-rugi belitan dan
rugi-rugi bocor. Rugi-rugi bocor mencakup rugi-
rugi arus eddy yang disebabkan kebocoran fluks
magnetik dalam inti besi, belitan, klem inti, perisai
(shield) magnetik, dinding rumah trafo, dan
bagian-bagian struktural lainnya. Sedangkan rugi-
rugi bocor belitan mencakup rugi-rugi eddy
(a) Kurva arus netral current pada kawat konduktor dan rugi-rugi akibat
arus sirkulasi antara rangkaian belitan yang
paralel satu sama lain. Peningkatan rugi-rugi ini
sebanding dengan kuadrat arus dan kuadrat
frekuensi. Temperatur pada bagian-bagian
struktural juga akan naik karena arus eddy, yang
besarnya juga hampir sebanding dengan kuadrat
arus dan kuadrat frekuensi. Untuk mendapatkan
operasi yang aman, maka transformator harus
memiliki rating yang lebih tinggi untuk
(b) Spektrum frekuensi arus netral mengantisipasi rugi-rugi tambahan akibat
Gb. 9 Arus netral dan spektrum frekuensinya harmonisa. Besarnya rating tambahan yang
dibutuhkan bergantung pada orde harmonisa yang
Kondisi seperti di atas jelas sangat muncul dan magnituda dari harmonisa tersebut.
membahayakan instalasi perkawatan/perkabelan. Pada transformator daya, arus urutan nol yang
Penyelesaian sementara untuk mengurangi bersirkulasi pada belitan delta dapat
pemanasan adalah memperbesar konduktor netral menyebabkan arus yang besar dan pemanasan
dengan cara memparalel atau mengganti, berlebih. Dengan demikian, arus sirkulasi ini harus
walaupun hal ini hampir-hampir tak mengurangi diperhitungkan keberadaannya pada saat
resiko kerusakan atau gangguan lainnya yang perancangan. Untuk mengatasi pemanasan
disebabkan oleh harmonisa. berlebih akibat harmonisa, seringkali perancang
Penulis berhipotesa bahwa kebakaran listrik sistem memperbesar kapasitas daya
yang banyak terjadi pada instalasi tiga fasa, lebih transformator untuk memperbesar kapasitas
banyak disebabkan karena arus netral yang pendinginan. Tetapi cara ini menimbulkan masalah
berlebih, daripada akibat hubung singkat. Karena lebih lanjut. Konduktor yang lebih besar
apabila terjadi hubung singkat, maka paling tidak menyebabkan pemanasan yang lebih besar juga
salah satu dari beberapa komponen proteksi arus yang diakibatkan harmonisa frekuensi tinggi.
lebih (circuit breaker NFB, MCB dan fuse) akan Selain itu, memperbesar kapasitas transformator
mengalami trip, sehingga mencegah arus lebih berarti memperbesar arus harmonisa yang
pemanasan lebih lanjut. Lain halnya arus lebih dan mungkin mengalir dalam sistem. Penurunan
pemanasan lebih yang terjadi pada penghantar efisiensi transformator akibat harmonisa dapat
netral yang notabene tidak memiliki pengaman. mencapai sekitar 6%.
Bila sampai terjadi penghantar netral putus Ada kalanya, akibat kegagalan satu atau
akibat pemanasan berlebih, maka dapat terjadi beberapa dioda (atau thyristor) suatu penyearah
hunting pada tegangan beban. Akibatnya dapat yang disuplai dari transformator, maka arus yang
terjadi kerusakan beban akibat tegangan tak stabil ditarik dari sumber mengandung komponen arus
dan berlebih. searah. Arus searah ini dapat meningkatkan
Dari kasus yang pernah dilakukan penulis magnituda semua komponen harmonisa dari arus
pertama, pada tahun 1995, dilakukan pengukuran eksitasi bolak-balik sehingga menambah tingkat
arus pada sistem kelistrikan salah satu stasiun TV pemanasan. Selain itu, transformator dapat
swasta terkemuka di Jakarta. Ternyata ditemukan terseret ke dalam daerah saturasi, sehingga dapat
arus netral yang besarnya mencapai 1.61 kali arus merusakkan transformator, mengaktifkan sistem
fasa dengan frekuensi 150Hz. Walaupun belum proteksi, dan merusakkan komponen saklar statik
menyebabkan kerusakan pada instalasi dan pada konverter daya statik.
peralatan, tetapi dengan arus sebesar ini, sistem Pada transformator keluaran dari suatu
menghadapi resiko tinggi terhadap fault. konverter, transformator seringkali
membangkitkan titik panas (hot spot) pada
III.6 Rugi-rugi pada Transformator rumahan.
Harmonisa juga menyebabkan peningkatan
Pada transformator, rugi-rugi yang disebabkan
noise audio yang dibangkitkan transformator.
harmonisa arus dan tegangan bergantung pada
frekuensi. Peningkatan frekuensi menyebabkan
III.7 Kapasitor Kompensasi Daya Reaktif
peningkatan rugi-rugi. Harmonisa frekuensi tinggi
akan lebih merupakan penyebabkan pemanasan Cacat atau distorsi tegangan menghasilkan
utama dibandingkan harmonisa frekuensi rendah. rugi-rugi tambahan pada kapasitor, dan
Harmonisa arus menyebabkan peningkatan rugi- dinyatakan dengan persamaan :
rugi tembaga dan rugi-rugi fluks. Sedangkan

harmonisa tegangan menyebabkan peningkatan


Ploss ChVh2 tan
n1
rugi-rugi besi bocor dan peningkatan stress pada (23)
isolasi. Efek keseluruhannya adalah pemanasan

7
C sama dengan tegangan harmonisa pada bus. Bila
dimana tan merupakan faktor rugi-rugi. V h arus yang mengalir ke dalam sistem kecil tetapi
R harmonisa tegangan tinggi, dapat dipastikan
dinyatakan dalam nilai efektif komponen terjadi resonansi paralel pada sistem. Misalkan
harmonisa tegangan. arus harmonisa yang tinggi mengalir pada beban
Daya reaktif total, mencakup komponen ZL, dan menimbulkan harmonisa tegangan pada
fundamental dan harmonisa telah dituliskan pada bus PCC, maka telah terjadi resonansi antara
persamaan (12). Daya reaktif Q tidak boleh kapasitor beban dengan induktansi sistem L s.
melebihi rating daya reaktif yang dipersyaratkan
produsen kapasitor. Resonansi Seri
Pada jaringan sistem tenaga listrik seringkali
digunakan kapasitor untuk mengkompensasi daya Resonansi seri terjadi apabila sumber
reaktif. Dalam kondisi normal, arus harmonisa harmonisa menghadapi suatu impedansi rendah.
mengalir dari sumber harmonisa menuju Impedansi yang terbentuk dari induktansi saluran
komponen-komponen lainnya dalam sistem. atau induktansi bocor transformator serta
Proporsi terbesar biasanya mengalir menuju kapasitor kompensasi faktor daya berpeluang
sumber daya, yang biasanya memiliki impedansi menimbulkan rangkaian resonan.
paling rendah dalam sistem, dibandingkan dengan Pada gambar 11.a diperlihatkan impedansi
lintasan paralel lain misalkan beban. Walaupun rangkaian seri sebagai fungsi frekuensi dan pada
demikian, harmonisa-harmonisa orde tinggi gambar 11.b diperlihatkan diagram suatu sistem
memiliki kecenderungan mengalir menuju tenaga yang berpeluang mengalami resonansi
kapasitor-kapasitor karena memiliki impedansi seri. Resonansi seri menyediakan lintasan
rendah pada frekuensi tinggi. Pada kondisi berimpedansi rendah untuk arus harmonisa.
tertentu, dapat terjadi resonansi pada sistem, Resonansi seri berpeluang menyebabkan arus
yang disebabkan interaksi antara arus harmonisa yang besar mengalir pada kapasitor apabila
dengan impedansi yang dibentuk antara kapasitor, tegangan mengandung harmonisa walaupun
induktansi transformator (baik induktansi dalam magnituda yang kecil. Pada sistem yang
magnetisasi ataupun induktansi bocor). Arus menggunakan pengubah tap trafo, ada kalanya
lebih dan tegangan lebih yang disebabkan pada posisi tap tertentu (dengan kata lain pada
resonansi dapat menimbulkan pemanasan lebih harga induktansi bocor tertentu) terjadi resonansi
pada kapasitor sehingga mengurangi umur sementara pada posisi tap lainnya tidak terjadi
kapasitor. Resonansi paralel terjadi bila arus resonansi. Besarnya arus yang mengalir
harmonisa. bergantung pada faktor kualitas rangkaian
Penyearah-penyearah dioda memiliki dpf resonan.
mendekati satu, sehingga tidak memerlukan
perbaikan faktor daya untuk komponen III.8 Motor-motor Listrik
fundamental. Penyearah terkendali (dengan Harmonisa arus atau tegangan menyebabkan
thyristor) memiliki faktor daya yang besarnya peningkatan rugi-rugi pada belitan stator,
bergantung pada sudut kelambatan penyalaan rangkaian rotor serta laminasi stator dan rotor
thyristor-thyristornya. Pemasangan kapasitor sehingga efisiensi mesin menurun. Akibat efek
perbaikan faktor daya akan memperbaiki faktor kulit dan arus eddy, rugi-rugi ini lebih besar
daya fundamentalnya, tetapi memberikan lintasan dibandingkan rugi-rugi yang disebabkan arus DC.
pendek bagi arus harmonisa yang ditimbulkannya.
impedansi

Resonansi paralel
Resonansi paralel terjadi bila arus harmonisa
menghadapi suatu impedansi tinggi. Impedansi
tinggi dapat disebabkan oleh resonansi pada
frekuensi harmonisa tersebut. Pada gambar 10.a
diperlihatkan impedansi rangkaian paralel LC
sebagai fungsi frekuensi dan pada gambar 10.b
diperlihatkan suatu sistem tenaga yang fres frekuensi
berpeluang mengalami resonansi paralel. (a) Impedansi rangkaian LC paralel sebagai fungsi
Dimisalkan Ls adalah induktansi sistem yang frekuensi
dilengkapi dengan kapasitor kompensasi faktor bus PCC
daya Cs. Apabila frekuensi resonansi jaringan
paralel Ls dan Cs dekat dengan frekuensi arus
harmonisa In, maka dapat terjadi penguatan arus
yang bersirkulasi antara Ls dan Cs. Arus osilasi In sumber ZL
LS CS CL
yang tinggi ini dapat menyebabkan terbangkitnya harmonisa beban
tegangan tinggi sehingga menimbulkan cacat
tegangan bus Point of Common Coupling (PCC).
Resonansi juga dimungkinkan dengan komponen-
komponen resonansi adalah induktansi sistem Ls (b)
dengan kapasitansi beban CL, atau antara Gb.10 Resonansi paralel
induktansi beban LL (dari ZL) dengan kapasitor
kompensasi Cs. impedansi

Untuk mengetahui apakah terjadi kondisi


resonansi, perlu dilakukan pengukuran harmonisa
arus pada setiap beban dan sumber, bersama-

f res frekuensi
Panas tambahan yang diakibatkan harmonisa
merupakan pengaruh paling serius
pada mesin arus bolak-balik. Motor
induksi rotor belitan mengalami
pemanasan yang lebih serius
daripada jenis rotor sangkar. Untuk
(a) Impedansi rangkaian LC paralel sebagai fungsi rotor sangkar, jenis deep-bar lebih
frekuensi terpengaruh daripada jenis standar.
transformator Mesin induksi dengan rotor sangkar
atau saluran
lebih tahan terhadap pemanasan
lebih pada rotor dibandingkan
dengan mesin induksi rotor belitan.
kapasitor
v n atau i n ~ kompensasi
beban Pemanasan pada belitan umumnya
VAR lebih mendapat perhatian daripada
pemanasan inti. Pemanasan akibat
(b) Sistem yang berpeluang mengalami resonansi harmonisa dapat mengurangi
seri kinerja hingga 90-90% dari
Gb. 11 Resonansi seri kinerja apabila pada motor
diaplikasikan gelombang sinusoidal
Medan bocor pada stator dan rotor juga murni.
menyebabkan rugi-rugi tambahan. Pada mesin
induksi dan mesin sinkron, rugi-rugi panas III.9 Penyearah Terkendali
tambahan paling banyak dibangkitkan pada rotor.
Penyearah-penyearah terkendali sangat rawan
Kemampuan mesin akan menurun akibat
terhadap kehadiran harmonisa. Harmonisa arus
pemanasan berlebih karena harmonisa. Selain itu
dan notching berpotensi menimbulkan cacat
umur mesin juga akan menurun.
tegangan. Cacat tegangan akibat harmonisa dapat
Pada motor induksi, harmonisa kelima yang
menyebabkan pergeseran simpangan nol (zero
merupakan komponen urutan negatif berputar
crossing) dan sudut penyalaan yang tidak sesuai
dalam arah melawan komponen fundamental.
dengan ekspektasi. Padahal, harmonisa arus dan
Akibat harmonisa kelima, pada rotor akan
notching sendiri terutama ditimbulkan oleh
dibangkitkan arus harmonisa yang frekuensinya
penyearah terkendali. Pada kondisi yang parah,
sebanding dengan beda net frekuensi antara
dapat terjadi lebih dari dua perlintasan nol
frekuensi fundamental celah udara dengan
sekaligus dalam satu perioda. Penyearah
harmonisa kelima, dalam hal ini yaitu harmonisa
terkendali standar hampir bisa dipastikan akan
keenam. Sedangkan harmonisa ketujuh yang Vs = tegangan sumber, is = arus sumber, vPCC = tegangan
mengalami kesalahan
pada PCC, Coperasi akibat
= kapasitor perata kegagalan
tegangan keluaran, I DC = model
merupakan komponen urutan positif, akan
sinkronisasi pada kondisi
ekivalen seperti
beban DC, VDCini.
= tegangan keluaran penyearah
membangkitkan arus harmonisa pada rotor yang
frekuensinya merupakan beda net antara
III.10 Sistem Proteksi
frekuensi fundamental pada celah udara dan
harmonisa ketujuh, atau dalam hal ini adalah Peralatan proteksi paling sederhana, yaitu fuse
frekuensi harmonisa keenam. Dengan demikian, dan mini circuit breaker mengalami penurunan
harmonisa kelima dan ketujuh secara bersama- rating (derating) akibat pemanasan yang terjadi
sama membangkitkan harmonisa keenam pada akibat harmonisa.
rotor. Demikian juga dengan pasangan harmonisa Harmonisa juga menyebabkan peningkatan
yang lain, misalkan harmonisa kesebelas dan pemanasan dan rugi-rugi pada switchgear,
ketigabelas bersama-sama membangkitkan sehingga mengurangi kemampuan mengalirkan
harmonisa ketigabelas, dan seterusnya. Akibat arus dan mempersingkat umur beberapa
yang ditimbulkan dari harmonisa rotor tersebut komponen isolator.
adalah pemanasan rotor dan torka yang berkurang Relay proteksi umumnya tidak merespon
atau berpulsasi. Selain itu, bila frekuensi resonansi semata-mata hanya terhadap satu parameter
mekanis berada dekat pada frekuensi elektrik identifikasi, misalkan nilai efektif atau komponen
stimulus tersebut, gaya mekanis yang besar dapat frekuensi fundamental. Kinerja suatu relay proteksi
terbangkitkan. pada suatu frekuensi tertentu bukan merupakan
indikasi bagaimana relay tersebut akan merespon
suatu gelombang cacat yang mengandung
frekuensi tersebut. Dalam kasus relay proteksi,
tidak berlaku prinsip superposisi. Relay dengan
banyak masukan akan mengalami kondisi yang
lebih sulit diperkirakan. Respon relay pada kondisi
kuantitas yang terdistorsi dapat bervariasi,
bergantung pada produsen dan waktu pembuatan
(walaupun dari produsen yang sama), walaupun
relay-relay yang diamati memiliki karakteristik
frekuensi fundamental nominal yang sama.
Relay-relay yang bekerja berdasarkan secara
elektromagnetik lebih sensitif daripada relay-relay
yang bekerja secara elektromekanik. Relay
elektromekanik memiliki inersia yang relatif besar,
sehingga kurang sensitif terhadap harmonisa.
Torka elektromagnetik yang dibangkitkan kadang-

9
kadang berbalik arah, bergantung pada Gb. 14 Spektrum frekuensi arus sumber
kandungan harmonisa.
Relay jarak, yang diset berdasarkan impedansi
fundamental saluran transmisi, dapat mengalami
kesalahan pengukuran akibat adanya harmonisa,
khususnya harmonisa ketiga.
Relay-relay tegangan rendah solid-state model-
model lama bereaksi terhadap nilai puncak
gelombang. Model-model ini rawan terhadap
kemunculan harmonisa, khususnya pada
penyearah dengan kapasitor perata.
Relay-relay digital yang mengandalkan
perlintasan nol rawan terhadap kehadiran
harmonisa dan notching.
Secara umum, untuk kebanyakan relay, operasi
tidak terpengaruh secara berarti untuk tingkat
harmonisa di bawah 20%.

III.11 Simulasi Kinerja Sumber Tegangan


yang Menyuplai Penyearah Dioda Satu
Fasa dengan Perata Tegangan

Untuk melengkapi pembahasan pada bab ini,


ditampilkan simulasi kinerja suatu sumber
tegangan sinusoidal yang menyuplai penyearah
satu fasa dengan perata tegangan. Sistem yang
disimulasikan diperlihatkan pada gambar 12.

impedansi feeder

is

R t
Lt
C
V s
~ V PCC V DC
I DC

Gb. 12 Sistem yang disimulasikan


Parameter simulasi adalah sebagai berikut :
Vs=1pu, IDC=1pu, Xc,1 = 3,18.10-6 pu,
Zfeeder,1 = 0.01+j0.01 [pu]
Sbase=1MVA dan Vbase = 10kV.
Hasil-hasil simulasi diperlihatkan pada gambar 13
20.

Gb. 13 Arus dan tegangan sumber

10
Gb. 15 Tegangan dc keluaran
Gb.19 Komponen-komponen arus sumber

Rugi-rugi daya aktif pada feeder [pu]


0.0035
Gb. 16 Tegangan PCC
0.003
Beban
Daya penyearah
beban [pu]
0.0025
Tegangan efektif [pu]

Gb. 20 Rugi-rugi sebagai fungsi beban


0.002
selisih
0.04 Hasil terpenting dari simulasi di atas adalah :
0.0015
0.035 V5
0.001Faktor daya tpf jauh lebih rendah daripada
dpf. Implikasinya adalah tagihan kVARh yang
0.03 0.0005 rendah dari seharusnya, apabila
lebih Beban resistif
V3
0.025 menggunakan
0 meter-meter piringan putar
V7
Selisih
0 rugi-rugi
0.2 0.4 yang
0.6 sangat
0.8 besar,
1 antara
1.2
0.02
beban penyearah dan beban resistif. Akibatnya
0.015 V9 adalah kerugian finansial karena daya hilang
dan penurunan kapasitas jaringan
0.01
Tegangan pada PCC mengalami
0.005 kecacatan. Kecacatan ini akan dirasakan juga
oleh pelanggan lain yang bersih
Gb.0 17 Tegangan harmonisa sebagai fungsi beban
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
IV. Permasalahan Nonteknis yang
Daya beban DC [pu]
1 Disebabkan Harmonisa
dp
Faktor daya [ ]

f IV.1 Implikasi terhadap Analisis Sistem


0.8
Tenaga
0.6 Analisis sistem tenaga klasik mendasarkan
tpf perhitungan aliran daya pada pembentukan
0.4 matriks admitansi jaringan, pembentukan matriks
Jacobian dan solusi persamaan diferensial dengan
metoda Fast Decoupled Newton-Raphson. Metoda
0.2
klasik mengasumsikan bentuk arus dan tegangan
yang sinusoidal, sehingga komponen frekuensi
0 yang muncul hanyalah komponen fundamentalnya
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 saja. Juga, metoda klasik mengasumsikan tidak
adanya arus urutan negatif dan urutan nol pada
Daya beban DC [pu]
kondisi beban seimbang.
Gb.18 Faktor daya sebagai fungsi beban Kehadiran harmonisa menyebabkan komponen
frekuensi yang muncul tidak hanya komponen
fundamentalnya. Pada kondisi normal, komponen-
komponen kelipatan ganjil muncul. Karena matriks
Arus efektif [pu]

2 admitansi jaringan dan matriks Jacobian adalah


1.8 fungsi dari frekuensi, maka analisis aliran daya
1.6 Itotal harus dilakukan satu persatu untuk setiap
1.4 komponen frekuensi. Harmonisa arus
1.2 I1 menyebabkan kondisi seimbang sesaat tidak
pernah tercapai. Akibatnya, walaupun secara rata-
1
I3
0.8
I5
0.6
I7
0.4
I9 11
0.2
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2

Daya beban DC
rata kondisi seimbang tercapai, komponen arus konvensional yang digunakan PLN), tetapi tpf
urutan negatif dan urutan nol akan selalu muncul. ternyata berharga sangat rendah, sekitar 0.4-
0.7. Ini berarti telah terjadi tagihan yang
IV.2 Implikasi terhadap Standar Energi hilang
tpf yang rendah juga berarti menurunkan
Di negara-negara maju seperti Amerika, Eropa,
Selandia Baru, Australia, Jepang, dan lain-lain kapasitas pembebanan PLN. Implikasinya
telah ditetapkan suatu standar yang mengatur adalah jumlah kemampuan melayani
tingkat harmonisa yang dibangkitkan oleh pelanggan lebih sedikit dari seharusnya
peralatan atau tingkat harmonisa yang
diperkenankan berada dalam sistem. Sebagai V.2 Analisis Harmonisa Jaringan GI Nusa Dua
contoh, di Amerika diberlakukan standar IEEE 519- downstream
1992 sedangkan di Eropa diterapkan standar IEC
1000-3-2. Penulis telah melakukan analisa terhadap
kinerja GI Nusa Dua downstream. Topologi jaringan
IV.3 Implikasi terhadap Energy Policy (single-line diagram) diperlihatkan pada gambar
21.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, kehadiran
harmonisa telah menyebabkan perubahan dalam
~
20kV/11.55kV 50Hz
cara pandang terhadap daya aktif dan daya reaktif Z=0.01+j0.14
20MVA
serta introduksi term daya distorsi. Untuk masa
mendatang, perlu dipikirkan apakah perusahaan
power provider menerapkan tarif bagi : terminal xfrmr

daya aktif fundamental atau daya aktif total


busbar Z=0.032+j0.019
daya reaktif fundamental atau daya reaktif
total PMT

daya distorsi Z=0.025+j0.015


400kVA
R c = 530k
Berkaitan dengan perhitungan faktor daya, perlu Z=11.5+j39.9
Ampi Theater
juga dipertimbangkan apakah power provider 50.4kVA/phase
dpf = 0.9
menerapkan perhitungan untuk faktor 3200MVA
Z=0.074+j0.045 R c = 112k
penalti/insentif berdasarkan konsep true power Z=5.2+j8.8 Amenity Core
factor ataukah displacement power factor. 581.7kVA/phase
dpf = 0.9
Penetapan metoda perhitungan yang akan 2500kVA
diambil, pada akhirnya akan bermuara pada Z=0.148+j0.090 R c =152k
Z=2.16+j8.988 Balisol
ketersediaan teknologi, dalam hal ini teknologi 457.8kVA/phase
instrumentasi/pengukuran yang sesuai. Penerapan 2000MVA
dpf = 0.9

teknologi lama (elektromekanik) perlu digantikan Z=0.198+j0.121 R c = 181k


Z=2.0+j6.0
dengan teknologi instrumentasi berbasis Sheraton
363.3kVA/phase
mikroprosesor dan DSP yang saat ini telah 3200MVA
dpf = 0.9

semakin murah. Z=0.247+j0.150


R c = 112k
Z=5.2+j8.8 Nusa Indah
581.7kVA/phase
IV.4 Implikasi terhadap Skim Multi-Seller dpf = 0.9
Gb.
Multi Buyer
21 Jaringan GI Nusa Dua downstream
Skim multi-seller multi-buyer, membutuhkan
Hasil analisa diperlihatkan pada tabel 37 dan gb.
persyaratan yang ketat terhadap kualitas daya
22. Analisa dilakukan untuk dua skenario, yaitu
yang dihasilkan masing-masing pembangkit. Tidak
skenario beban linear, yaitu beban motor-motor
sekedar pada sisi pembangkit, harmonisa yang
dan lampu listrik serta beban linear+nonlinear
dibangkitkan sisi pelanggan juga harus diawasi
dengan komposisi :
dengan lebih ketat, karena harmonisa bersifat
Air Handling Unit (AHU) = 60%
menyebar ke mana-mana. Aliran daya pada
frekuensi harmonisa berpeluang mengacaukan Lampu incandescent = 15%
perhitungan load flow, pengukuran energi serta Lampu TL dengan ballast elektronik = 20%
perhitungan rugi-rugi (losses). (Phillips Essential)
TV = 4%
V. Studi Kasus Komputer = 1%
Agar pembandingan antara skenario beban linear
V.1 Survey Profil Harmonisa Beberapa dan beban nonlinear fair, ada satu besaran yang
Peralatan Perkantoran dijadikan parameter, yaitu daya aktif beban.
Verifikasi atas introduksi harmonisa oleh
peralatan-peralatan elektronik komersial, telah Tabel 3. Arus-arus pada cabang pelanggan, dalam
dilakukan. Beberapa hasil survey diperlihatkan A
dalam tabel 2. Hal yang patut dicermati dari hasil Arus Irms I1 I3 I5 I7 I9 I11 I13 THDI tpf
IAmpitheatr 4.52 4.43 0.6 0.3 0.3 0.2 0.1 0.1 20.0 0.8
survey ini adalah : 7 9 5 3 6 3 % 8
e
Tingkat harmonisa yang sangat tinggi, IAmenity 54.1 52.8 7.8 4.5 4.2 5.4 1.9 1.5 22.1 0.8
ditandai dengan komponen arus orde 3, 5 dan 1 3 2 1 4 8 2 5 % 8
IBalisol 42.2 40.9 7.5 4.3 4.1 2.6 1.9 - 25.2 0.8
7 yang relatif besar terhadap arus fundamental
5 7 5 1 8 2 2 % 8
Kesenjangan antara tpf dan dpf. Walaupun ISheraton 32.9 32.3 4.7 2.8 2.5 1.6 1.1 0.9 19.8 0.8
dpf umumnya berharga sekitar 0.9 hingga 1.0 3 9 6 9 5 9 5 % 8
(yang berarti tidak dikenai tagihan kVARh-bila INusaIndah 54.3 53.3 7.8 6.6 4.2 2.7 1.9 1.6 19.9 0.8

menggunakan teknologi pengukuran 5 % 8

12
Tabel 4. Tegangan pada cabang pelanggan, dalam
V
Teganga Vrms V1 V3 V5 V7 V9 V11 V13 THD
n V

VAmpitheatre 1145 1145 81 78 10 82 72 68 1.9%


3 1 0
VAmenity 1112 1110 21 19 26 43 18 17 5.9%
8 9 4 9 4 6 9 7
VBalisol 1130 1129 20 19 26 21 19 17 4.6%
8 6 6 5 4 2 0 8
VSheraton 1143 1143 88 86 11 89 78 74 2.3%
4 1 0
VNusaIndah 1105 1103 21 20 26 21 18 17 4.9%
1 8 1 4 1 2 8 7

13
L D

is
+

~ V s
V 1 C beban
Q -
Tabel 5. Rugi-rugi pada penghantar, dalam kW penambahan rugi-rugi pada penghantar netral
Seksi Rugi-rugi Selisih rugi-rugi
adalah sangat signifikan. I1
dengan skenario
faktor daya tpf turun menjadi sebesar 0.88 dari
beban linear
Busbar trafo 20kV - 3.40 0.13 0.9. Apabila digunakan alat ukur energi
PMT (kWhmeter dan kVARhmeter) yang bekerja
PMT Ampi Theatre 2.66 0.1 secara benar, dalam kasus ini, penyimpangan
Ampi Theatre Amenity 7.49 0.29
Amenity Balisol 7.45 0.28 pengukuran yang terjadi belum menyebabkan
Balisol Sheraton 4.52 0.13 pelanggan dikenai tagihan kVARh, karena faktor
daya tpf masih lebih besar dari 0.85
Tabel 6. Rugi-rugi transformator dan selisihnya walaupun kandungan harmonisa arus masih
dengan skenario beban linear, dinyatakan dalam relatif rendah, tetapi tampak bahwa tegangan
kW PCC telah mulai terdeformasi akibat arus
Xfrmr Rugi-rugi Rugi- Rugi- Selisih Rugi-
harmonisa
tembaga rugi Rugi Rugi dengan
besi total skenario beban
linear
VI. Penanganan Harmonisa
Trafo Ampi 0.7 0.75 1.45 0.02
Ada beberapa cara penanganan harmonisa,
Theatre
Trafo Amenity 45.7 3.57 49.27 1.8 yang secara umum dapat dibagi atas dua :
Trafo Balisol 11.6 2.63 14.23 0.6 pencegahan dan eliminasi harmonisa. Sistem yang
Trafo Sheraton 6.5 2.2 8.7 0.2
Trafo Nusa 46.1 3.6 49.7 1.4 tingkat harmonisanya telah diperbaiki, umumnya
Indah memiliki rugi-rugi yang lebih rendah, tagihan kWh
dan kVARh yang lebih rendah (tanpa mengurangi
Tabel 7. Arus urutan nol dan rugi-rugi yang penggunaan normalnya). Berikut adalah beberapa
diakibatkan metoda dalam penanganan harmonisa.
Cabang Arus urutan nol Rugi-rugi pada
penghantar netral VI.1 Penyearah PWM
Ampi Theatre 0.9 9.3
Amenity 13.3 919.8 Berbeda dengan penyearah konvensional yang
Balisol 10.17 223.4
Sheraton 6.44 82.9 menarik arus berupa pulsa-pulsa pendek dengan
Nusa Indah 10.5 573.3 amplituda tinggi (penyearah dioda dengan
Total 41.31 1808.7
kapasitor perata) ataupun berupa pulsa-pulsa
gelombang persegi (penyearah thyristor atau
dioda dengan perata arus atau beban induktif),
penyearah dengan teknik modulasi lebar pulsa
menarik arus dengan bentuk yang mendekati
sinusoidal sempurna. Selain itu, arus yang ditarik
juga sefasa dengan tegangan sumbernya. Dengan
demikian penyearah dapat dimodelkan sebagai
beban resistif, sehingga untuk apapun jenis
bebannya, penyearah tidak membutuhkan
kapasitor perbaikan faktor daya. Ada terdapat
beberapa topologi dasar penyearah PWM,
salahsatunya adalah penyearah dengan topologi
dasar boost (KazeraniL et.al.,
D 1991), yang
diperlihatkan pada gambar 23.
is
Gb. 22 Bentuk tegangan dan arus pada cabang +
Balisol ~ V s
V 1 C beban
Q -
Hal-hal yang dapat disimpulkan dari hasil analisa
adalah: I1
tegangan yang menyuplai transformator
memiliki THD rata-rata kurang dari 5%. Dengan
nilai THD yang relatif rendah ini, dianggap bahwa (a) topologi rangkaian daya
penambahan rugi-rugi eddy akibat harmonisa
tegangan dapat diabaikan, sehingga rugi-rugi V 1
+

besi dianggap tetap - comp Q


Selisih rugi-rugi menyatakan perbedaan rugi-rugi
antara skenario beban nonlinear dan beban I1
linear. Selisih yang didapat relatif tidak terlalu (b) topologi kontrol
besar. Selisih baru akan tampak secara signifikan Gb. 23 Penyearah PWM dengan topologi boost
apabila transformator dibebani penuh. Dalam
kenyataannya, transformator dibebani kurang Dalam rangkaian ini, arus sumber digunakan
dari 55% (disebabkan load factor sebesar 63% sebagai sinyal umpan balik, sementara tegangan
dan safety margin transformator sekitar 10%). berperan sebagai nilai referensi. Dengan cara
Pada kondisi beban penuh, diestimasikan selisih seperti ini, maka bentuk arus sumber akan
rugi-rugi akan mencapai empat kali lebih besar, dipaksa sama dengan bentuk tegangan. Apabila
karena penambahan rugi-rugi sebanding dengan bentuk tegangan masukan sinusoidal, maka
kuadrat arus beban bentuk arus juga akan sinusoidal. Akibat proses
switching yang terjadi, arus akan memiliki

14
komponen-komponen frekuensi tinggi di sekitar VI.3 Zero-Sequence Blocking & Passing
frekuensi switchingnya. Komponen-komponen Transformer
frekuensi tinggi ini dapat dengan mudah
dihilangkan dengan filter frekuensi tinggi Metoda ini digunakan untuk mengurangi arus
sederhana. Pada gambar 24.(a) dan 24.(b) urutan nol yang mengalir di penghantar netral.
diperlihatkan simulasi arus dan tegangan masukan Pada gambar 25 diperlihatkan metoda yang
serta spektrum frekuensi arus masukan. Tampak dimaksud. Ada berbagai teknik zero-passing dan
bahwa arus telah sangat mendekati bentuk zero-blocking, salahsatunya sebagaimana
sinusoidal serta sefasa dengan tegangan. diperlihatkan berikut.

v RS zS zJ
R i RS i RB
tegangan

v SS zS S i SS zJ i SB
n Zero-
Blocking
arus v TS zS T (ZB) i TS
zJ i TB

Jala-jala
Sumber Tegangan
i hTB i hSB i hRB

(a) (b) i RZP


i SZP
i TZP
i NS
i NB Beban Nonlinier
Gb. 24.(a) Arus dan tegangan masukan i NS (kombinasi beban satu fasa
dan tiga fasa) sebagai

penyearah i ZP
sumber arus harmonisa

(b) Spektrum frekuensi arus masukan Zero-


Passing
( ZP )
VI.2 Transformator Penggeser Fasa i ZP
(Penyearah Polifasa)
(a) Metoda zero-blocking dan zero-passing
Penggunaan transformator penggeser fasa
pada aplikasi penyearah polifasa merupakan salah z So z Bo z Jo I So
satu cara yang ampuh dalam meminimisasi i Bo
Jala-jala
harmonisa yang dibangkitkan oleh penyearah
tersebut. Metoda ini mengubah sistem tiga fasa Zero-Passing
menjadi sistem dengan fasa banyak; enam, ( ZP ) z Po
sembilan atau duabelas fasa. Ada banyak
konfigurasi penggeser fasa yang dapat digunakan. i ZPo i ho
i NSo i NBo
Secara umum semakin banyak fasa yang
digunakan dalam penyearahan, semakin rendah n
Sumber Tegangan Beban nonlinier
kandungan harmonisa yang dibangkitkan. Contoh
topologi transformator penggeser fasa dari sistem (b) Model satu fasa zero-blocking dan zero-
tiga menjadi enam fasa diperlihatkan pada passing
gambar
R vL
T S i Z PR i Z PS i Z PT
T'
interphase T
R'
reactor n oR2 oS2 oT2
S'
T" T'
R"
R n n n
R2 S2 T2
zag winding
15 o C
S R dc
3-phase line voltage

15 o
load n T2
T n R1 n n
zig winding i ZPR
S1 T1

phase winding R'


S' R" i ZPR
n
S"
R1 oR1
oS1
oT1
n
interphase S1
T" N
reactor
n i ZPS n R2
S" T1
S
n
i ZPT i ZPS i Z PR i Z PS i Z PT
S2

(a) i ZPT
i ZP

iZ P

(c) transf zero passing dg hub zigzag (d)


voltag hub. belitan
e Gb. 25 Transformator zero passing
curren
t
IRS
IRS
ISS
IRS ITS
n2 n3
IRS n1

(b) profil tegangan dan arus

Gb.25 Penyearah 12 pulsa dengan transformator Gb. 26 Transformator zero-blocking


penggeser fasa
Pada gambar diperlihatkan arus yang ditarik dari Pada prinsipnya, teknik zero-sequence passing &
jala-jala sudah lebih mendekati bentuk sinusoidal, blocking adalah memubat perangkap bagi arus
sehingga kandungan harmonisanya relatif rendah. urutan nol. Arus urutan nol dihambat masuk ke
Bandingkan dengan gambar 2.(d). jaringan, dan disirkulasikan pada transformator
zero-passing. Hasil eksperimen yang dilakukan

15
oleh Syafrudin menunjukkan efektifitas metoda ini,
diperlihatkan pada tabel 27. Tanpa menguruangi
kinerja beban, arus netral dapat dikurangi sangat
drastis, dari sekitar 57A menjadi hanya sekitar 3A
saja.

16
Tabel 8. Efektifitas metoda zero-blocking+zero- solusi yang adil bagi semua pihak, baik bagi
passing pelanggan besar, kecil dan produsen energi.
Besaran Sebelum Dengan zero- Suatu standar dapat ditetapkan secara tidak
passing
dan zero-blocking permanen. Umumnya standar mengacu kepada
Arus Jala-jala 40,6 A 32,97 A pemahaman terhadap sistem yang sedang berlaku
THD 80,9 % 34,9 % saat itu. Karena itu, dengan peningkatan
pf 0,75 0,98
Arus Netral 56,81 A 3,43 A pemahaman melalui peningkatan sistem
instrumentasi dan analisis sistem, standar yang
VI.4 Filter Aktif berlaku masih memungkinkan diubah.
Menurut penulis, seperti halnya dalam
Metoda-metoda yang telah diketengahkan di penetapan standar kualitas untuk faktor daya,
atas kesemuanya merupakan upaya-upaya untuk idealnya pemakai dan produsen peralatan yang
mencegah timbulnya harmonisa yang berlebihan memenuhi standar, dikenai insentif oleh
pada sistem tenaga elektrik. Ada kalanya pemerintah atau produsen energi. Dalam hal ini
harmonisa yang telah ada dalam sistem harus pemakai yang menginjeksi arus harmonisa di
diminimisasi dengan tanpa memodifikasi elemen- bawah standar yang ditetapkan, mendapatkan
elemen yang ada dalam sistem. Untuk itu insentif. Permasalahan yang dihadapi di banyak
pemecahan yang dapat diambil adalah dengan negara adalah, dalam kebanyakan aplikasi,
penambahan kompensator harmonisa yang insentif yang diberikan belum cukup untuk
umumnya berupa filter aktif dalam sistem. mengkompensasi biaya peningkatan desain
Ada beberapa topologi kontrol dan daya untuk peralatan yang bebas harmonisa.
kompensator harmonisa. Kesemuanya Untuk memenuhi kebutuhan standarisasi di
menawarkan topologi dan pengendalian yang atas, Institute of Electrical and
kompleks. Umumnya kompensator harmonisa Electronics Engineer (IEEE) telah
bekerja secara paralel. Pada gambar 27 mengeluarkan IEEE Recommended
ditunjukkan prinsip kerja kompensator paralel. Practices and Requirements for
Pada gambar 28 diperlihatkan contoh suatu Harmonic Control in Electrical Power
rangkaian filter aktif beserta bentuk gelombang Systems pada tahun 1992, yang
aarus yang dihasilkannya. Tampak bahwa arus dikenal dengan nama IEEE Std. 519-
yang ditarik dari jala-jala dapat dikembalikan 1992. Standar ini praktis telah
menjadi bentuk sinusoidal dengan cara diadopsi oleh Amerika, dalam hal ini
menginjeksikan arus kompensasi. oleh ANSI (American National
L s
Standard Institute). Di Eropa,
International Electrotechnical
Committee yang berpusat di Paris
v s, harmonisa juga mengeluarkan standar sejenis,
detektor harmonisa
~ yang dikenal dengan IEC 555 yang
kemudian diupdate sebagai IEC
vs i kompensator
i* kompensator i beban 1000-3-2. Selain itu, negara-negara
~ maju lain seperti Australia, Selandia
v s, fundamental Baru, Swiss, Jerman, Prancis, Jepang,
Malaysia dll telah menerapkan
standar nasional masing-masing.
Gb. 27 Prinsip kerja kompensator paralel
IEEE Std. 519-1992
VI.5 Regulasi
IEEE telah menetapkan standar pada Point of
Kehadiran harmonisa telah melatarbelakangi Common Coupling (PCC) dengan rating tegangan
terbitnya beberapa standar atau regulasi. Standar- 120V hingga 69kV sebagaimana ditunjukkan pada
standar tersebut berfungsi untuk : tabel 9.
membatasi cacat arus dan tegangan yang
masih dapat ditolerir oleh sistem dan komponen- Tabel 9. Standar IEEE 519-1992 untuk arus
komponen sistem, khususnya kapasitor harmonisa
kompensasi daya reaktif, power line carrier (PLC) orde harmonisa dalam % terhadap IL
dan peralatan-peralatan yang bekerja Isc/IL <11 11h1 17h23 23h35 35h
berdasarkan bentuk gelombang 7
memenuhi persyaratan bentuk tegangan 20* 4.0 2.0 1.5 0.6 0.3
yang dibutuhkan oleh pemakai untuk keperluan- 2050 7.0 3.5 2.5 1.0 0.5
keperluan tertentu 50100 10.0 4.5 4.0 1.5 0.7
memastikan bahwa sistem tenaga tidak 1001000 12.0 5.5 5.0 2.0 1.0
mempengaruhi sistem lainnya, seperti misalnya 1000 15.0 7.0 6.0 2.5 1.4
jaringan telepon dimana :
harmonisa genap dibatasi hingga 25% dari batas
Suatu standar harus menjamin bahwa semua
harmonisa ganjil di atasnya
konsumen mendapatkan energi elektrik dalam cacat arus yang menyebabkan terjadinya DC offset, tidak
kualitas yang masih berada dalam batas-batas diperkenankan
toleransi, yang dengan demikian konsekuensinya Isc = arus maksimum hubung singkat pada Point of
adalah standar juga harus menjamin bahwa tidak Common Coupling (PCC)
ada pelanggan yang menginjeksi harmonisa dalam IL = arus beban maksimum (komponen fundamental) pada
jumlah yang melewati batas aman. Menurut PCC
semua peralatan pembangkitan ditetapkan pada nilai ini,
penulis, pembatasan level arus harmonisa absolut untuk berapapun nilai Isc/IL sebenarnya
terhadap setiap konsumen tampaknya adalah

17
tagihan yang hilang dan biaya yang terbuang
IEC 1000-3-2 kelas D percuma.
Sedikit berbeda dengan IEEE yang menerapkan Beberapa solusi teknis dan solusi kebijaksanaan
standar pada PCC, IEC menetapkan standar yang mungkin diambil, masih membutuhkan
langsung terhadap beban-beban yang terhubung penelaahan lebih lanjut untuk memperhitungkan
ke sistem. Standar IEC 1000-3-2 kelas D konsekuensi untung-ruginya.
ditunjukkan pada tabel 10.
Tabel 10. Standar IEC 1000-3-2 kelas D UCAPAN TERIMA KASIH
Orde Batas harmonisa Arus harmonisa
harmonisa relatif maksimum yang Ucapan terima kasih sebesar-besarnya
mA (rms/W) diijinkan (A) disampaikan kepada Kantor Menteri Negara Riset
3 3.4 2.30 dan Teknologi. Studi ini merupakan sebagian dari
5 1.9 1.14 program RUT IX-2001 Implikasi variabel Harmonisa
7 1.0 0.77
terhadap struktur biaya distribusi tenaga listrik
9 0.5 0.40
11 0.35 0.33 yang dibiayai oleh KMNRT dan dikelola oleh
13 0.296 0.21 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
15n39 3.85/n 2.25/n
VII. DISKUSI Daftar Pustaka
Pada saat ini penggunaan peralatan elektronik [1] Badan Standarisasi Nasional, Konservasi Energi Sistem
semakin meningkat seiring dengan semakin Pencahayaan pada Bangunan Gedung (BSN : SNI 03-
murahnya harga peralatan elektronik. Terlebih 6197-2000)
dengan kemajuan teknologi informasi dan hiburan, [2] Badan Standarisasi Nasional, Prosedur Audit Energi pada
Bangunan Gedung (BSN : SNI 03-6196-2000)
penggunaan komputer, monitor, printer dan [3] D Daniel Sabin et.al., Quality Enhances Reliability, IEEE
peralatan audio-video mengalami peningkatan Spectrum, Feb. 1996
yang sangat pesat. Peningkatan ini masih akan [4] Dennis H. Wilfong, Different Types of Power Quality
terus berlanjut di masa mendatang. Pada kondisi Conditioning Equipment Available Today, Power Quality
tertentu, kandungan harmonisa pada sistem online Bulletin, date n.a.
[5] Fang Zheng Peng et.al., Harmonic and Reactive Power
tenaga akan mencapai titik kritis. Untuk itu perlu Compensation Based on the Generalized Instantaneous
diambil langkah-langkah yang diperlukan untuk Reactive Power Theory for Three-Phase Four-Wire
mencegah terjadinya kegagalan sistem. Langkah- Systems, IEEE Trans. on Power Electronics, vol.13 no.6,
langkah yang perlu diambil adalah sebagai berikut Nov. 1998
[6] Fang Zheng Peng, et.al., A New Approach to Harmonic
:
Compensation in Power Systems - A Combined System
1. Pengukuran kualitas daya listrik di sistem of Shunt Passive and Series Active Filters, IEEE Trans. on
Distribusi dan sosialisasi masalah kualitas daya Industry Appl., vol.26 no.6, Nov/Dec. 1990
listrik di pembangkit, transmisi, distribusi, [7] I Kasikci et.al., A New Method for Harmonic/Reactive
konsumen, produsen peralatan. Adanya kerja Power Reduction, IEEE PEDS'99 Conf. Rec., Hongkong
1999
sama dalam mengantisipasi masalah ini di [8] IEEE Std. 519-1992, IEEE IAS & Power Eng. Soc., 1993
masa depan, karena akibat buruk yang [9] J. Arrilaga et.al., Power System Harmonics, New Delhi :
ditimbulkan oleh masalah kualitas daya akan John Wiley & Sons, 1985
ditanggung oleh semua pihak yang telah [10] JD Irwin, Industrial Electronics Handbook, IEEE
disebutkan di atas, khususnya oleh konsumen Press/CRC Press
[11] John Grainger & William Stevenson, Power System
besar dan perusahaan pembangkit maupun Analysis, McGraw-Hill, 1988
perusahaan Distribusi. [12] Joseph Subjak et.al., Harmonics Causes, Effects,
2. Pengukuran dan Pengumpulan data harmonisa Measurements and Analysis : An Update, IEEE Trans. on
belum banyak dilakukan saat ini . Analisis Industry Appl., vol.26 no.6, Nov/Dec 1990
[13] Jusmin Sutanto Analysis of Reactive Power
mengenai dampak harmonisa terhadap sistem
Compensation for Electric Energy Compensation :
tenaga listrik di tanah air membutuhkan data Nonlinear Loads Constraint, Spektrum Politeknik Negeri
yang akurat sehingga analisa akan lebih Bandung, Oct. 2001
mendalam. Studi-studi yang telah dilakukan di [14] Jusmin Sutanto and Ali Mashar, A Novel Method of
luar negeri menunjukkan kerugian teknis dan Bipolar Output PWM Rectifier, (to be presented),
Industrial Electronics Seminar Conf. Rec., Oct. 2000
finansial yang cukup signifikan akibat Surabaya, Indonesia
kehadiran harmonisa yang dibangkitkan [15] Jusmin Sutanto et.al., A Novel Method of Bipolar
peralatan elektronik Output PWM Rectifier, Industrial Electronic Seminar 2000,
3. Tindak lanjut dari langkah di atas adalah Surabaya, Oct. 2000
penetapan standar dalam lingkup nasional dan [16] Jusmin Sutanto et.al., Losses Analysis of Single--
Phase Transformer Supplying Nonlinear Loads, Proc.
diikuti dengan pengembangan teknologi clean Research Seminar, Bandung Public Polytechnic, April
power yang antara lain mencakup teknologi 2001
PWM rectifier, teknologi polyphase rectifier dan [17] Jusmin Sutanto, A Novel 12-Pulse Rectifier,
teknologi filter aktif dan pasif Industrial Electronic Seminar IES2001, Politeknik
Elektronika Negeri Surabaya, Nov. 2001
[18] Kazerani et.al., " A Novel Active Current
VII. KESIMPULAN Waveshaping Technique for Solid-State Input Power
Conditioners", IEEE Trans. on Industrial Electronics,
Kemajuan teknologi, yang ditandai dengan vol.IE38, no.1, 1991
[19] Kazerani, Ziogas and Joos, A Novel Active Current
luasnya penggunaan peralatan elektronik, Waveshaping Technique for Solid State Input Power
menyimpan masalah harmonisa yang ternyata Factor Conditioners, IEEE Trans. on Industrial Electronics,
dapat merugikan terhadap semua pihak. Kerugian vol.38, no.1, Feb. 1991
mencakup gangguan dan kegagalan operasi, [20] Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral,
penurunan keandalan, peningkatan rugi-rugi dan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
nomor 1772 K/46/MEM/2001, 30 Juni 2001
penurunan efisiensi, penurunan kapasitas layanan, [21] PT PLN, Tarif Dasar Listrik 2002

18
[22] Richard Redl et.al., Power Electronics' Polluting
Effects, IEEE Spectrum, May 1997
[23] Serge Bernard et.al, Active Filter Design and
Specification For Control of Harmonics in Industrial and
Commercial Facilities, Power Quality online Bulletin, date
n.a.
[24] Sewan Choi et.al., Polyphase Transformer
Arrangements with Reduced kVA Capacities for Harmonic
Current Reduction in Rectifier-Type Utility Interface, IEEE
Trans. on Power Electronics, vol.11, no.5 Sept. 1996
[25] Syafrudin, Jusmin Sutanto & Y Haroen, Prediksi
Pengaruh Beban Non Linear Terhadap Sistem Distribusi
Tenaga Listrik, 3rd Workshop on Electro Communication
and Information Conf. Rec., sponsored by IECI and IEEE
Indonesia Section, Bandung 1999
[26] Syafrudin et.al., Rectifier Tiga Fasa 12 Pulsa dengan
Rating kVA Transformatro Rendah, IES 99 Surabaya, Okt.
1999
[27] Vernon F. Padaca et.al., Resonant Interaction and
Additive Harmonic Effects of Multiple Paralleled AC Drives
in Forest Products Processing, Power Quality online
Bulletin, date n.a.

19
(a) topologi filter aktif

Arus
sumber Arus
beban

Arus
filter

(b) Bentuk gelombang

Gb. 28 Filter aktif

20
Tabel 2 Profil daya dan harmonisa beberapa beban elektronik
Item V P S DPF TPF Irms I1 I3 I5 I7
Lampu PL Newton 20W, ballast 224 15 29 0.88 0.54 0.13 0.08 0.06 0.03 0.02
elektronik
Lampu PL Hokiko 18W ballast 222 10 23 0.88 0.44 0.11 0.05 0.04 0.03 0.02
elektronik
TL Chiyoda, ballast elektronik 225 11 24 0.88 0.48 0.11 0.06 0.05 0.03 0.02
TV Panasonic 2088 24 218 81 106 1.00 0.76 0.49 0.38 0.27 0.12 0.02
TV Sony 3D Trinitron SS 14 229 70 120 1.00 0.6 0.51 0.31 0.24 0.2 0.15
TV Sony Trinitron 14 229 49 79 0.99 0.62 0.34 0.22 0.19 0.14 0.09
TV Toshiba 14 218 49 67 0.93 0.72 0.31 0.24 0.16 0.09 0.03
TV Digitec Ninja 20 224 58 81 0.99 0.72 0.36 0.27 0.19 0.13 0.05
TV Digitec Sumo 20 219 56 81 0.97 0.68 0.37 0.27 0.2 0.13 0.05
TV JVC 20 215 74 105 0.99 0.71 0.49 0.36 0.28 0.17 0.05
TV Polytron 17 218 62 87 0.99 0.71 0.4 0.3 0.22 0.11 0.02
PC : Seasonic 224 50 80 0.98 0.63 0.36 0.24 0.2 0.14 0.07
PC : Java 217 68 96 1.00 0.71 0.44 0.33 0.24 0.14 0.05
PC : ATK 220 52 86 0.98 0.6 0.39 0.24 0.21 0.15 0.09
PC : Jabert 220 48 71 1.00 0.68 0.32 0.23 0.18 0.11 0.04
Monitor : Wearnes VGS1480GL 14 219 52 86 0.93 0.60 0.4 0.26 0.21 0.16 0.09
Monitor : Mugen Low Radiation 14 220 57 93 0.92 0.61 0.43 0.29 0.23 0.17 0.1
Monitor GTC auto 14 220 49 80 0.98 0.61 0.37 0.23 0.2 0.15 0.1
Montor ALR Flexview14 229 61 93 0.94 0.66 0.41 0.29 0.22 0.15 0.06
Monitor Phillips 15C 15 219 46 78 0.93 0.59 0.36 0.23 0.2 0.15 0.08

21