Anda di halaman 1dari 6

PEMILIHAN POLA PROTEKSI SUTT

SISTEM KETENAGA LISTRIKAN JAWA BALI

Jemjem Kurnaen Syofvi Felienty Innik Kusmarini


PT. PLN UBS P3B PT. PLN UBS P3B PT. PLN UBS P3B
jemjem@pln-jawa-bali.co.id syofvi@pln-jawa-bali.co.id innik@pln-jawa-bali.co.id

ABSTRAK

Sistem proteksi harus memenuhi persyaratan sensitivitas, keandalan, selektivitas dan kecepatan,
yang semuanya bergantung pada ketepatan penerapan pola proteksi dan peralatan proteksinya. Hal
ini akan memberikan dependability index dan security index yang baik sebagaimana dipersyaratkan
dalam konsep Grid Code Jawa Bali. Perkembangan jaringan ketenaga listrikan yang semakin komplek
membutuhkan sistem proteksi yang memenuhi syarat di atas. Disamping itu semakin cepatnya
perkembangan relai numerik dengan berbagai kemampuan yang di tawarkan mengharuskan dibuatnya
suatu aturan sehingga pemanfaatan teknologi tersebut dapat memberikan nilai lebih bagi kebutuhan
sistem proteksi Jawa Bali dan tidak menjadikan Sistem Jawa Bali sebagai ajang percobaan relai-relai
baru.
Hal menarik dalam perkembangan relai adalah relai sebagai Intellegent Electronic Device (IED)
yang dapat dikomunikasikan secara terintegrasi dengan relai maupun peralatan lainnya maupun
secara remote dengan sistem SCADA. Hal mana dalam perkembangan JCC yang akan datang
kemampuan ini sudah akan diterapkan.
Pada paper ini diuraikan persyaratan dan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menerapkan pola
proteksi Saluran Udara Tegangan Tinggi di Sistem Ketenaga Listrikan Jawa Bali.

Keywords : Pola proteksi, relai proteksi, SIR, proteksi utama, proteksi cadangan, IED, RTDS

1. Pendahuluan Sensitif
Dalam hal terjadi gangguan, sistem Ini berarti bahwa sistem proteksi dapat
proteksi dapat mencegah terjadinya kerugian merasakan adanya ketidak normalan /
yang lebih besar, tetapi dapat juga terjadi gangguan pada jaringan tenaga listrik
sebaliknya bila sistem proteksi bekerja tidak betapapun kecilnya gangguan tersebut.
benar. Andal
Relai proteksi sebagai bagian dari sistem, Ini berarti adanya jaminan bahwa sistem
harus dapat merasakan adanya gangguan proteksi akan bekerja bila diperlukan
betapapun kecilnya gangguan tersebut dan (dipendable) dan tidak akan bekerja bila tidak
harus dapat mengetahui letak gangguan serta diperlukan (scure).
dapat bekerja dengan cepat. Dalam keadaan
Selektif
jaringan tenaga listrik beroperasi normal,
sistem proteksi tidak boleh bekerja. Namun Sebelum sistem proteksi memberikan
dapat saja sistem tersebut bekerja sendiri oleh komando yang akan diberikan betul-betul tidak
sebab-sebab yang tidak dikehendaki, misalnya akan menyebabkan pemutusan / pemadaman
terjadi kerusakan atau ada pengaruh luar yang lebih luas.Jadi selektif disini berarti
seperti induksi atau interferensi atau bahkan adanya jaminan bahwa dalam memisahkan
serangga dapat menyebabkan relai bekerja bagian yang terganggu, tidak menyebabkan
sendiri. Hal yang demikian tidak boleh terjadi. pemutusan / pemadaman jaringan yang lebih
luas
Agar mempunyai sifat tersebut, maka
proteksi sebagai bagian dari sistem tenaga Cepat
listrik perlu memenuhi syarat sebagai berikut : Dengan memperhatikan pengertian andal,
dan selektif disini cepat berarti sistem proteksi

munashapsl/plnjasdik/April/2003 1
dapat memberikan respons yang diinginkan 2. Untuk keseragaman dan kesesuaian
oleh sistem tenaga listrik. penerapan filosofi pola proteksi di system
Persyaratan lain yang juga perlu jawa bali maka :
diperhatikan adalah persyaratan ekonomis, a. Fungsi proteksi utama harus terpisah
disini sistem proteksi yang harganya lebih secara hardware dengan fungsi
murah belum tentu lebih ekonomis. proteksi cadangan (misalnya untuk
Perhitungan terhadap masalah ini perlu ditinjau SUTT, distance relay harus terpisah
dari segi aspek yang lebih luas, misalnya dengan OCR) dan fungsi pendukung
faktor resiko (karena tidak andal), lainnya boleh merupakan satu
pemeliharaan dan lain sebagainya. kesatuan hard ware (misalnya auto-
Untuk mendapatkan sistem yang memenuhi recloser, recorder dan lainnya)
syarat seperti yang diuraikan diatas, sering kali b. Spesifikasi teknis harus mengacu
dijumpai kendala yang dapat menyebabkan kepada spesifikasi teknis yang
kaidah praktis yang sudah baku tidak dapat dikeluarkan pln ubs p3b.
diterapkan sepenuhnya. 3. Relai Digital dengan teknologi Intelegent
Untuk menyelesaikan kasus seperti ini Electronic Device (IED) harus memiliki
diperlukan pendekatan dari dua sisi sekaligus, salah satu protocol IEC 60870-5-103 atau
yaitu pendekatan ilmu dan seni proteksi. Seni DNP 3.0 atau Mod Bus agar dapat
disini diartikan sebagai penyelesaian dikomunikasikan dengan sistem SCADA
enjiniring dimana penyelesaian baku yang yang baru dan untuk Otomisasi Gardu
sudah dikenal tidak dapat diterapkan Induk (Automation Substation).
sepenuhnya. 4. Relai digital yang progammable harus
memiliki default setting dan jika relai
2. Persyaratan Relai Proteksi tersebut dapat disetting melalui
komputer/note book maka harus
Sehubungan dengan perkembangan
dilengkapi dengan copy software tersebut
teknologi yang berlangsung cepat termasuk
berupa CD.
dibidang relai proteksi, yang mana banyak
relai-relai jenis/produk baru yang ditawarkan 5. Dilengkapi dengan contoh perhitungan
produsen ke PLN P3B, maka perlu kiranya setting dan penyetelannya termasuk
dibuat aturan/panduan yang seragam di seluruh programnya (bagi relai yang
unit PLN P3B jika akan menggunakan relai programmable) untuk sistem yang akan
tersebut khususnya yang baru pertama kali dipasang relai tersebut.
akan dipasang di sistem ketenagalistrikan pln 6. Terlebih dahulu dilakukan function test
jawa bali. sebelum relai diterima.
Panduan tersebut perlu dibuat dengan
pertimbangan : 3. Proteksi Utama dan Proteksi Cadangan
1. Jaminan terhadap selektifitas dan sekuritas Sistem proteksi suatu peralatan karena
relai baru. berbagai macam faktor dapat mengalami
2. Keandalan kegagalan operasi (gagal operasi). Berdasarkan
3. Kesesuaian dengan pola proteksi sistem hal-hal tersebut maka suatu sistem proteksi
ketenagalistrikan di jawa bali. dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu :
4. Kemampuan sdm pln dalam pengelolaan
relai baru. 3.1. Proteksi Utama(Main Protection)
5. Belum adanya aturan yang baku. Merupakan sistem proteksi yang
Dengan pertimbangan di atas maka relai diharapkan segera bekerja jika terjadi kondisi
yang akan digunakan di sistem Jawa Bali harus abnormal atau gangguan pada daerah
memenuhi kriteria berikut : proteksinya.
1. Untuk relai-relai yang baru pertama kali Ada beberapa jenis relai yang dapat
akan dipasang di sistem ketenagalistrikan digunakan untuk proteksi utama SUTT yang
Jawa Bali harus dilakukan pengujian Real satu sama lainnya mempunyai beberapa
Time Dynamic Simulation (RTDS) untuk kelebihan dan kekurangan masing-masing.
sistem Jawa Bali pada sistem yang sesuai Relai untuk proteksi utama yang dikenal
level tegangannya dengan rencana saat ini :
pemasangan a. Distance Relay
o Basic atau Step
o PUTT

munashapsl/plnjasdik/April/2003 2
o POTT 1 2002 untuk sistem 150 kV sebesar 120 ms
o Blocking dan untuk sistem 70 kV sebesar 150 ms.
b. Differential Relay Besaran fault clearing time berhubungan
dengan mutu tenaga listrik di sisi konsumen,
o Pilot batasan Kedip menurut SE Direksi PT PLN
o Current (PERSERO) No. 12.E / 012 / DIR / 2000
o Phase adalah 140 ms untuk bekerjanya proteksi
utama sistem 150 kV dan 170 ms untuk
c. Directional Comparison Relay bekerjanya proteksi utama di sistem 70 kV,
o Impedance sedangkan untuk proteksi cadangan maksimum
o Current sebesar 500 ms.
o SuperImposed Fault clearing time proteksi cadangan
sebesar 500 ms dapat dicapai dengan
memanfaatkan proteksi cadangan zone 2
3.2. Proteksi Cadangan (BackUpProtection) distance relay dari GI remote.
Diperlukan apabila proteksi utama tidak Dari kedua hal di atas maka untuk PLN UBS
dapat bekerja atau terjadi gangguan pada P3B fault clearing time di sistem 150 kV
sistem proteksi utama itu sendiri. adalah 120 ms untuk bekerja proteksi utama
Pada dasarnya sistem proteksi cadangan dan 500 ms untuk bekerja proteksi cadangan,
dapat dibagi menjadi dua katagori, yaitu sedangkan di sistem 70 kV adalah 150 ms
untuk bekerja proteksi utama dan 500 ms
a. Sistem proteksi cadangan lokal (local back untuk bekerja proteksi cadangan.
up protection system)
Proteksi cadangan lokal adalah proteksi yang Untuk memenuhi fault clearing time di atas
dicadangkan bekerja bilamana proteksi maka perlu ditetapkan batasan operating time
utama yang sama gagal bekerja. Contohnya : dari relai itu sendiri. Dengan
penggunaan OCR atau GFR. mempertimbangkan waktu kerja pmt dan
waktu yang diperlukan teleproteksi maka
b. Sistem proteksi cadangan jauh (remote back operating time relai proteksi utama di sistem
up protection system) 150 kV adalah tipikal 30 ms dan pada SIR
Proteksi cadangan jauh adalah proteksi yang 10 dan reach setting 80 % sebesar 40 ms,
dicadangkan bekerja bilamana proteksi sedangkan di sistem 70 kV adalah tipikal 35
utama di tempat lain gagal bekerja. ms dan pada SIR 10 dan reach setting 80 %
Proteksi cadangan lokal dan jauh sebesar 50 ms.
diusahakan koordinasi waktunya dengan
proteksi utama di tempat berikutnya. 5. Auto Recloser
Koordinasi waktu dibuat sedemikian hingga
proteksi cadangan dari jauh bekerja lebih Pengoperasian auto-recloser diharapkan
dahulu dari proteksi cadangan lokal. Hal ini dapat meningkatkan availability (ketersediaan)
berarti bahwa kemungkinan sekali bahwa SUTT, hal ini berarti peluang (lama dan
proteksi cadangan dari jauh akan bekerja lebih frekuensi) konsumen terjadi padam dapat
efektif dari proteksi cadangan lokal. dikurangi. Namun sebaliknya, pengoperasian
A/R secara tidak tepat dapat menimbulkan
Dengan penjelasan di atas berarti bahwa kerusakan pada peralatan, sehingga dapat
waktu penundaan bagi proteksi cadangan lokal menimbulkan dampak pemadaman meluas
cukup lama sehingga mungkin sekali serta waktu pemulihan yang lebih lama.
mengorbankan kemantapan sistem demi
keselamatan peralatan. Dengan demikian Dalam menerapkan pola autoreclose ini
berarti pula bahwa proteksi cadangan lokal harus dipertimbangkan persyaratan berikut,
hanya sekedar proteksi cadangan terakhir demi yaitu : batas stabilitas sistem, kemampuan
keselamatan peralatan. pemutus tenaga (PMT), karakteristik peralatan
proteksi, konfigurasi jaringan dan kondisi
kedua ujung saluran.
4. Operating Time dan Fault Clearing Pola Umum yang diterapkan di SUTT
Time Jawa Bali adalah inisiate oleh gangguan satu
Kecepatan pemutusan gangguan (fault atau dua fasa dan satu kali reclose (single
clearing time) terdiri dari kecepatan kerja shoot).
(operating time) rele, kecepatan buka pemutus Kriteria penerapan pola Autorecloser
tenaga (circuit breaker) dan waktu kirim sinyal dapat dilihat lebih detil pada buku panduan
teleproteksi. Fault clearing time menurut SPLN pola pengoperasian AutoRecloser
52-1 1984 maupun Grid Code Jawa Bali Edisi

munashapsl/plnjasdik/April/2003 3
o Penghantar pendek p < 3 km
6. Media Telekomunikasi o Penghantar sedang 3 km < p < 20 km
Media telekomunikasi yang digunakan o Penghantar panjang p > 20 km
untuk sistem proteksi harus disesuaikan
dengan kebutuhan sistem proteksi pada SUTT
yang bersangkutan. b. Sistem 150 kV
Media telekomunikasi yang ada di pln P3B o Penghantar pendek p < 6 km
saat ini adalah PLC, Fibre Optic, Micro Wave o Penghantar sedang 6 km < p < 50 km
dan kabel Pilot. o Penghantar panjang p > 50 km
a. Media PLC dapat digunakan untuk
distance relay, relai directional
comparison, dan relai phase comparison. 8. Pemilihan Pola Proteksi SUTT
b. Media Fibre Optic dapat digunakan Pemilihan pola proteksi SUTT secara
untuk distance relay, relai directional praktis dapat mengacu pada pengelompokan
comparison, relai phase comparison, dan panjang penghantar di atas, yaitu untuk SUTT
relai current differential. pendek, sedang dan panjang.
c. Media Micro Wave dapat digunakan
untuk distance relay, relai directional a. Penghantar Pendek
comparison, relai phase comparison, dan Penghantar pendek menghasilkan
relai current differential. perbedaan arus dan perbedaan drop tegangan
d. Kabel Pilot dapat digunakan untuk yang kecil antara kedua ujung saluran sehingga
relai pilot differential. sulit dicapai selektifitas untuk membedakan
gangguan di dalam atau di luar penghantar jika
menggunakan distance tanpa teleproteksi atau
7. Source to Line Impedance Ratio (SIR).
distance dengan pola yang menggunakan
SIR adalah perbandingan impedansi setting zonenya lebih kecil dari impedansi
sumber terhadap impedansi penghantar, penghantar seperti pola PUTT.
sehingga panjang penghantar menjadi salah
Untuk penghantar pendek pola proteksi
satu faktor terhadap besaran SIR. SIR
SUTT yang direkomendasikan adalah Current
menunjukan kekuatan sistem yang akan
Differential, Phase Comparison, Directional
diproteksi, makin kecil SIR makin kuat sumber
comparison. Pola ini tidak menyediakan
yang memasok SUTT tersebut.
proteksi cadangan jauh untuk GI di depannya
Dari uraian di atas terlihat bahwa SIR sehingga perlu ditambahkan proteksi cadangan
menjadi pertimbangan dalam menentukan pola jauh berupa step distance.
proteksi SUTT khususnya yang kinerjanya
Jika satu dan lain hal tidak dapat
dipengaruhi oleh besaran SIR.
dihindarkan pemakaian distance relay untuk
Pemilihan pola proteksi untuk SUTT SUTT pendek maka distance relay tersebut
tergantung dari panjang penghantar yang akan dipilih pola POTT atau Blocking.
diproteksi atau dengan kata lain tergantung
dari besarnya SIR, menurut IEEE Std C17.113-
1999 tentang Guide for Protective Relay b. Penghantar Sedang
Applications to Transmission Lines, panjang Diskriminasi untuk membedakan gangguan
penghantar dikelompokan menjadi : di dalam atau di luar penghantar sudah lebih
a. Penghantar Pendek dengan SIR > 4 bisa dirasakan sehingga keterbatasan
pemakaian distance relay sudah tidak berlaku
b. Penghantar Sedang dengan 0.5 < SIR < 4
lagi.
c. Penghantar Panjang dengan SIR < 0.5
Untuk penghantar sedang pola proteksi
Untuk sistem tegangan yang lebih besar SUTT yang direkomendasikan adalah Current
dengan SIR yang sama akan diperoleh panjang Differential, Phase Comparison, Directional
penghantar yang lebih besar, dengan demikian comparison, Distance Relay dengan pola
pengelompokan penghantar pendek, sedang PUTT atau POTT.
dan panjang akan berbeda untuk sistem
tegangan yang berbeda. Dari data sistem 70
kV dan 150 kV Jawa Bali maka berdasarkan c. Penghantar Panjang
SIR untuk sistem 70 kV dan 150 kV Jawa Bali Sama seperti penghantar sedang, pada
pengelompokan panjang penghantar adalah : penghantar panjangpun sudah tidak ada
a. Sistem 70 kV keterbatasan untuk pemakaian distance relay.
Keterbatasan justru untuk relay current

munashapsl/plnjasdik/April/2003 4
differential karena adanya keterbatasan media Berbeda dengan sistem transmisi 70 kV
komunikasi. dimana terdapat 2 (dua) macam pentanahan
Untuk penghantar panjang pola proteksi netral sistem, pada sistem transmisi 150 kV ini
SUTT yang direkomendasikan adalah Phase terdapat hanya satu macam pentanahan netral
Comparison, Directional comparison, sistem yaitu pentanahan efektif.
Distance Relay dengan pola PUTT atau POTT. Untuk sistem 150 kV ini sebagai proteksi
cadangan dipakai OCR dan GFR.
9. Sistem Pentanahan
Pada sistem 70 kV wilayah kerja PLN P3B 10. Disturbance Fault Recorder (DFR)
terdapat dua macam pentanahan netral sistem, DFR sangat membantu dalam menentukan
yaitu : jenis gangguan, lokasi gangguan, besaran
a. Pentanahan netral dengan tahanan rendah, gangguan, waktu dan lamanya gangguan, dan
misalnya terdapat di wilayah Jawa Barat besaran lainnya dengan bantuan software
dan Jakarta Raya. seperti besaran harmonik.
b. Pentanahan netral dengan tahanan tinggi, File rekaman gangguan yang berupa
misalnya terdapat di wilayah Jawa Timur. COMTRADE (Common Format for Data
Exchange) dapat diolah lebih lanjut seperti
Pada sistem dengan tahanan rendah, relai
untuk kebutuhan uji ulang rekaman gangguan
jarak dapat dipakai sekaligus untuk gangguan
terhadap relai tersebut atau relai lainnya.
fasa maupun gangguan tanah, tetapi pada
sistem dengan tahanan tinggi dimana arus Relai IED umumnya memiliki kemampuan
gangguannya kecil yang menyebabkan relai merekam gangguan dan file rekaman dalam
jarak tidak bekerja, sehingga harus dipasang file COMTRADE. File gangguan tersebut
relai gangguan tanah tersendiri. dapat diambil secara remote dari tempat lain
sehingga memudahkan dalam menganalisa
Untuk gangguan tanah pada sistem dengan
gangguan dari tempat lain.
tahanan tinggi dipakai dua jenis proteksi,
yaitu :
a. Relai tanah selektif (selection ground 11. Kesimpulan
relay) Sistem proteksi harus memenuhi
b. Relai tanah terarah (directional ground persyaratan sensitivitas, keandalan, selektivitas
relay) dan kecepatan, yang semuanya bergantung
pada ketepatan penerapan pola proteksi dan
yang akan bekerja sebagai proteksi utama dan
peralatan proteksinya.
proteksi cadangan secara timbal balik antara
keduanya sesuai dengan jenis dan keadaan Relai yang akan digunakan di Sistem Jawa
serta macam (tempat) gangguan. Bali harus diseleksi secara benar sehingga
sesuai dengan kebutuhan sistem proteksi Jawa
Seperti halnya pada proteksi utama maka
Bali.
pada proteksi cadangan inipun sistem dengan
tahanan rendah dan sistem dengan tahanan Kinerja sistem proteksi harus memenuhi
tinggi mempunyai proteksi gangguan fasa yang ketentuan yang dituangkan dalam SPLN 521-1
sama, tetapi mempunyai proteksi gangguan 1984, Grid Code Jawa Bali dan SE Direksi PT
tanah yang berbeda. PLN (PERSERO) No. 12.E / 012 / DIR / 2000.
Untuk proteksi cadangan gangguan fasa Jenis proteksi yang dipilih harus
sebaiknya dipilih relai arus lebih waktu disesuaikan dengan panjang penghantar yang
terbalik (invers time overcurrent), tak terarah akan diproteksi, yang terlebih dahulu telah
(non-directional) karena relai ini sederhana dan ditetapkan berdasarkan SIR jaringan tersebut.
murah tetapi dianggap cukup mampu bekerja Relai proteksi yang akan dipakai harus
sesuai dengan fungsinya. Sebaliknya, untuk merupakan relai IED agar dapat diintegrasikan
proteksi gangguan tanah diperlukan relai arus dengan sistem SCADA.
lebih terarah, waktu-terbalik atau waktu
tertentu (definite time) tergantung pentanahan
Daftar Pustaka
netralnya. Pada sistem dengan tahanan rendah
dipilih relai waktu terbalik bilamana arus 1. Anderson P.M, Power System Protection,
gangguan akan sangat berbeda pada pelbagai IEEE Press, McGraw-Hill, New York,
tempat atau relai waktu tertentu,bilamana arus 1999.
gangguan dimana-mana hampir sama. Sedang 2. IEEE Guide for Protective Relay
pada sistem dengan tahanan tinggi dipilih relai Applications to Transmission Lines, IEEE
waktu tertentu karena arus gangguan yang Inc, New York, February 2000.
kecil dimana-mana.

munashapsl/plnjasdik/April/2003 5
3. Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral Republik Indonesia, Aturan
Jaringan Jawa Bali, Edisi 1, Jakarta, 2002
4. Panduan Pengoperasian Auto Recloser
Sistem Jawa Bali, PLN P3B, Jakarta, 2002
5. Pola Pemilihan Sistem Proteksi, PLN
P3B, Jakarta, 2002
6. Jemjem, Syofvi, Innik, Materi kursus
Sistem Proteksi Jawa Bali, Jakarta, 2001

munashapsl/plnjasdik/April/2003 6