Anda di halaman 1dari 4

PT.

PLN (PERSERO)
JASA DIKLAT Seminar Proteksi 2001

KEGAGALAN PROTEKSI DISTRIBUSI 20 KV


(pengalaman dalam operasi)
Ir. H Komari , Pribadi Kadarisman

Jaringan distribusi 20 kV PLN diamankan dari gangguan hubung singkat dengan menggunakan proteksi Relai Arus
Lebih (OCR) dan Relai Arus Lebih Gangguan Tanah (GFR) dan dengan sistem pentanahan netral umumnya melalui
Tahanan. Dalam operasinya, telah berulang kali terjadi kerusakan parah pada kubile 20 kV, baik pada kubikel pe-
nyulang keluar atau pada kubikel incoming akibat gangguan di penyulang berkembang menjadi gangguan di dalam
kubikel diikuti kegagalan sistem proteksi, yang kemudian membuat kebakaran berat di kubikel, bahkan meng-
hancurkan beberapa kubikel lain disekitarnya dan Trafo Tenaganya,
Komponen yang masuk dalam sistem proteksi tenaga listrik diantaranya adalah CT (Current Transformator), PT
(Potential Transformer), Relai, PMT (Pemutus Tenaga), Kabel Kontrol (AC atau DC), Sumber tenaga DC (Batere)
untuk trip PMT dll.
Kegagalan sistem proteksi disini bisa terjadi pada CT, PMT, bisa pada Relai pengaman utama atau pengaman
cadangan, bisa pada pengawatan dan atau sumber DC untuk tripping. Secara umum, kegagalan proteksi utama
belumlah sampai merusak peralatan instalasi tenaga karena masih tersedia pengaman cadangan, tetapi kalau
pengaman cadangan juga gagal apalagi sampai beberapa lapis, maka kerusakan parah peralatan instalasi tidak
dapat dihindari.
Pembahasan ini, mencoba mengungkap kemungkinan sebab kegagalan sistem proteksi yang membuat kerusakan
parah pada instalasi distribusi 20 kV PLN.

1 Sistem 20 kV PLN dan pengamanannya -nah. Disepanjang jaringan SUTM terdapat perca -
1.1 Pasokan Daya Distribusi 20 kV bangan yang dibentuk didalam Gardu Distribusi atau
Pasokan daya listrik pada sistem distribusi 20 kV PLN Gardu Tiang. Sementara jaringan SKTM relatif lebih
didapat dari sistem penyaluran 150 kV atau 70 kV pendek dan berada didalam kota besar dengan
melalui Trafo Tenaga yang berfungsi sebagai trafo jumlah gangguan yang relatif sedikit. Bila terjadi
step down 150/20 kV atau 70/20 kV yang terpasang di gangguan itu biasanya pada sambungan yang akan
Gardu Induk dengan kapasitas yang bervariasi antara merupakan gangguan permanen.
5, 10, 20, 30 s/d 60 MVA. Dengan berkembangnya Seperti halnya di jaringan SUTM, di jaringan SKTM
sistem kelistrikan, sistem penyaluran 150 kV PLN juga terdapat Gardu Distribusi untuk percabangan ke
menjadi sudah besar sekali dan terinterkoneksi antara Beban Konsumen atau percabangan SKTM.
area satu dengan area lainnya di Jawa, kondisi ini Seringnya gangguan hubung singkat di jaringan
diikuti pula oleh sistem penyaluran 150 kV diluar Jawa menyebabkan sering pula Relai Proteksi bekerja dan
dengan pola yang mirip. Khusus di Pulau Jawa, sesering itu pula Trafo Daya menderita pukulan hu-
kapasitas saluran 150 kV sudah sampai pada level bung singkat yang dapat memperpendek umur Trafo
1000 s/d 2000 A per sirkit dan kapastas hubung Daya tersebut. Dengan sudah besarnya kapasitas
singkat di Bus 150 kV sudah mencapai ribuan MVA. sistem 150 kV, boleh dikatakan kapasitas hubung
Sedangkan sistem penyaluran 70 kV terkesan tidak singkat di Bus 20 kV tergantung dan dibatasi oleh
dikembangkan lagi. Tetapi saat sekarang masih ada besarnya kapasitas Trafo Daya.
dalam sistem kelistrikan PLN.
1.3 Proteksi sistem Distribusi dan Koordinasinya
1.2 Sistem Distribusi 20 kV. Penyulang Distribusi 20 kV PLN diamankan dari
Keluaran dari Trafo Daya dikumpulkan dulu pada Bus gangguan hubung singkat dengan menggunakan
20 kV di kubikel di Gardu Induk untuk kemudian di Relai Arus Lebih (OCR) dengan tunda waktu dan
distribusikan melalui beberapa Penyulang 20 kV ke OCR yang bekerja seketika, gangguan satu fasa
konsumen dengan jaringan berupa Saluran Udara ketanah diamankan dengan menggunakan Relai Arus
Tegangan Menengah (SUTM) atau Saluran Kabel Lebih Gangguan Tanah (GFR), juga dengan tunda
Tegangan Menengah (SKTM) . Khusus SUTM, jaring- waktu. DC 110 Volt dari Batere digunakan sebagai
an bisa ditarik sepanjang puluhan sampai ratusan km sumber untuk kerja Relai dan mengerjakan tripping
termasuk percabangannya dan biasanya ada diluar coil PMT.
kota besar, Seperti diketahui, apalagi di Indonesia, Di jaringan SUTM adakalanya dilengkapi dengan Re-
jaringan dengan konduktor telanjang yang digelar di closer, Sectionalizer yang berfungsi sebagai alat
udara bebas banyak mengandung resiko terjadi proteksi dan penutup balik bila terjadi tripping akibat
gangguan hubung singkat fasa-fasa atau satu fasa-ta- gangguan hubung singkat temporer disisi hilir. Ada ju-

1
PT.PLN (PERSERO)
JASA DIKLAT Seminar Proteksi 2001

2
PT.PLN (PERSERO)
JASA DIKLAT Seminar Proteksi 2001
-ga yang hanya menggunakan Sekering sebagai alat -si kubikel ini sering terabaikan, sehingga berakibat
proteksi. mempercepat terpolusinya peralatan didalam kubikel
Untuk jaringan SUTM atau SKTM yang mempunyai setelah beroperasi beberapa waktu, Kubikel 20 kV
instalasi percabangan di Gardu Distribusi, ada yang di- yang demikian dapat menimbulkan masalah yang
persiapkan dengan alat proteksi yang mengunakan serius dimana polusi didalam kubikel dapat menurun-
OCR+GFR dan PMT dengan sumber untuk tripping- kan ketahanan isolasi dari isolator penyangga rel
nya memanfaatkan arus gangguan yang dipungut di didalam kubikel misalnya terpolusi partikel garam
sekunder CT, tetapi hal terakhir ini tidak begitu banyak. (untuk kubikel yang dipasang dekat pantai), atau
Dengan paket perhitungan sederhana, koordinasi trip- terpolusi partikel kimia yang menjembatani terjadinya
ping antara OCR/GFR yang terpasang di sebelah hilir flashover (hasil pemanasan bahan isolasi kabel akibat
dan yang terpasang disebelah hulu sudah dapat dila- terminasi yang tidak baik atau lokasi kubikel di Gardu
kukan staf PLN, baik karakteristik waktu OCR/GFR itu Induk yang berdekatan dengan suatu pabrik) dll.
definite atau Inverse. Kalau pengotoran permukaan isolator didalam kubikel
Pada awalnya (sekitar tahun 1970 an), OCR yang 20 kV itu terjadi, maka transient over voltage akibat
digunakan umumnya dengan karakteristik waktu pemutusan arus gangguan oleh PMT penyulang atau
definite, dimana perhitungan koordinasinya mudah. saat terjadi gangguan satu fasa ketanah di jaringan,
Namun dengan berkembangnya sistem penyaluran walaupun tegangan transient itu tidak terlalu tinggi,
dan distribusi, dimana kapasitas hubung singkat sudah sudah dapat membuat flashover didalam kubikel.
menjadi lebih besar, persoalan perlunya menekan
komulasi waktu trip Relai disisi hulu pada penggunaan Konstruksi Kubikel 20 kV
OCR dari jenis definite, mulai bergeser ke karakteristik Secara umum, konstruksi kubikel 20 kV yang terpa-
waktu dari jenis Inverse. sang di instalasi PLN sekilas dapat dilihat pada gam-
Demikian pula GFR, karena kurva arus gangguan ta- bar dibawah ini
nah di sepanjang jaringan distribusi 20 kV yang landai,
Relai
karakteristik waktu GFR juga pada awalnya dari jenis Proteksi
definite. Kurva arus yang landai ini diperoleh dari pem-
batasan besar arus gangguan tanah maksimum sebe-
sar arus beban nominal trafo daya terbesar pada wak-
tu itu, yaitu dengan menerapkan pentanahan Netral Kabel
Trafo Daya sisi 20 kV melalui Tahanan. Sensitivity kontrol
GFR ditetapkan sebesar 10% Arus nominal CT.
Namun dalam perjalanan operasi distribusi, beban
konsumen yang tersebar, menyebabkan tambahan P
percabangan jaringan yang secara tidak sadar me- M
T
nambah besarnya arus kapasitif jaringan yang dapat
membuat GFR di beberapa penyulang salah kerja
sewaktu terjadi gangguan satu fasa ketanah di satu
Kabel
penyulang 20 kV. Kejadian terakhir ini dikenal dengan
istilah Simpatetik trip. Gambar 1 Kabel
Duct
Kembali pemilihan karakteristik waktu GFR dari jenis
definite mulai bergeser ke karakteristik waktu GFR dari Biasanya partikel yang membuat polusi didalam ku-
Gelombang
jenis Inverse. Walaupun demikian ada penyelesaian bikel masuk
IR ISmelalui
IT lubangarus
antara kabel duct dan ru-
tiga fasa
lain dari masalah simpatetik trip ini yaitu dengan Relai ang bagian dalam kubikel (cable gland) yang tidak
Arah Gangguan tanah. tertutup rapat sejak awal pemasangannya, sehingga
mempercepat proses penumpukan patrikel tertentu di-
1.4 Kubikel 20 kV di Gardu Induk. permukaan isolator di dalam kubikel. Demikian pula.tbi-
Kubikel 20 kV yang terpasang di Gardu Induk PLN la terminasi kabel kurang baik, pemanasan dan peng-
dibuat oleh beberapa pabrikan yang biasanya sudah uapan bahan isolasi kabel juga akan mengotori per-
lulus dalam pengujian
transient Vjenis V
yang dilakukan LMK (PLN mukaan isolator penyangga rel melalui lubang ini.
SR
JASTEK). TR
Batere Kondisi lain yang juga Batere
Tegangan menjadi masalah adalah
110 V
110 V
Indeks proteksi dari Kubikel ini juga sudah menjadi pentanahantransient
kubikel. Pentanahan yang
Gelombang tidak baik bisa
MCB Utama
VR VS PLN
pertimbangan VT dalam memilih MCB Utama
Kubikel yang akan menaikan potensial kubikel tegangan
< 1000 150
terhadaptiga fasa referens
tanah
A kV
dipakai, namun dalam pemasangannya di Gardu Induk bila terjadi flashover. Power follow current (dari sistem)
Bus DC
Bus DC 110 V < 2000
atau di Gardu Distribusi, penjagaan
110 atas
V Indeks protek yang bertahan lama akan menghancurkan + kubikel.
+ A 20
- VR V VT - kV
CT S
< 1000
1.5 Pasokan DC 110 V untuk Proteksi dan Kontrol CT
1000/
dengan1000/
Terbangkitnya
< 1000tegangan lebih 150
transient
.. A
< 1000 kVTegangan 20.t
di Gardu Induk .. A 2060
kV MVAkV
A
MCB MCB Z=
Pembagi Pembagi 10%
3 60 < 15
MVA
Ke Panel Ke Kubikel CT Z =kA
1000/ < 1000
150 kV 20 kV .. < 1000 10%
Gambar 4 : tegangan transient fasa sehat ketanah A
Ke Panel A Ke Kubikel< 2000Gambar<515
Gambar 2satu fasa ketanah
saat gangguan 150
Gambar 3 ;kVteganganGambar
transient 20 kV
Gambarsaat pemutusan arus
A kA
PT.PLN (PERSERO)
JASA DIKLAT Seminar Proteksi 2001