Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Elektrokimia
Elektrokimia adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan
antara energi listrik dengan reaksi kimia. Proses elektrokimia adalah proses
yang mengubah reaksi kimia menjadi energi listrik atau energi listrik menjadi
reaksi kimia. Semua proses elektrokimia adalah reaksi redoks. Dalam reaksi
redoks, elektron-elektron dipindahkan dari zat yang dioksidasi ke zat yang
direduksi. Proses elektrokimia terjadi di dalam sel elektrokimia (Petrucci,
1999).
Sel elektrokimia adalah tempat terjadinya reaksi reduksi-oksidasi. Sel
elektrokimia terdiri dari (Achmad, 2001):
1. Elektroda
Elektroda adalah sebuah konduktor yang digunakan untuk bersentuhan
dengan sebuah bagian non logam contohnya elektrolit, dalam suatu sirkuit.
Elektroda tempat terjadinya reaksi oksidasi disebut anoda dan elektroda tempat
terjadinya reduksi disebut katoda.
2. Elektrolit
Elektrolit adalah zat dalam sel yang dapat menghantar listrik. Dalam
elektrolit muatan listrik diangkut oleh ion yang bergerak. Reaksi pada
elektroda berlangsung pada permukaan elektroda. Reaksi ini terjadi pada
daerah antar muka antara elektrodadan elektrolit. Rangkaian listrik dalam sel
elektrokimia terdiri atas dua bagian yaitu rangkaian luar dan rangkaian dalam.
Pada rangkaian luar, elektron mengalir melalui penghantar logam dan pada
rangkaian dalam muatan listrik diangkut oleh ion yang bergerak dalam larutan
elektrolit. Sel elektrokimia ada dua macam yaitu sel galvani dan sel
elektrolisis.
II.2. Potensial Elektroda
Potensial elektroda adalah potensial listrik yang ada pada sebuah
elektroda yang berhubungan dengan bentuk oksidasi dan reduksi dari
beberapa zat.
Suatu elektroda mengandung partikel (ion atau molekul) yang dapat
menarik elektron, atau cenderung tereduksi. Kekuatan tarikan itu disebut
potensial reduksi.
Potensial reduksi dari suatu elektroda dilambangkan dengan E. Dalam
suatu sel elektrokimia, potensial selnya merupakan selisih potensial reduksi
kedua elektrodanya. Yang potensialnya lebih besar akan tereduksi dan
berfungsi sebagai katoda, sedangkan yang lain teroksidasi dan berfungsi
sebagai anoda (Petrucci, 1999).
Esel = Ekatoda - Eanoda
II.2.1 Asal Mula Adanya Potensial Elektroda
Bila sebuah logam dicelupkan ke dalam larutan elektrolit, maka akan
terbentuk beda potensial antara permukaan logam dengan logam tersebut.
Logam yang dicelupkan juga akan mengalami proses pelarutan. Misalnya,
sebuah logam seng dilarutkan dalam air murni, maka sebagian kecil atom
seng akan berubah menjadi ionnya (Lower, 2004).
Zn (s) Zn2+ + 2e-
Bila Zn2+ meninggalkan permukaan logam maka jumlah elektron yang
tertinggal makin lama makin banyak sehingga suatu ketika elektron di
permukaan logam ini akan menghambat keluarnya ion seng dari permukaan
logam dan proses pelarutan logam terhenti. Dalam keadaan normal jumlah
logam seng yang larut akan lebih rendah dari 10-10 M. Sehingga air tersebut
dapat dikatakan dalam keadaan murni. Ketidakseimbangan elektron pada
permukaan logam ini mengakibatkan timbulnya beda potensial antara logam
terhadap larutan.

Beda potensial juga akan terbentuk bila dua logam yang berbeda
saling dihubungkan. Hal ini diakibatkan karena akanterjadi perbedaan tingkat
energi Fermi dari masing-masing logam tersebut. Pada saat atom membentuk
padatan, tingkat orbital dengan berbagai tingkat energi akan melebar dan
bergabung membentuk pita-pita energi. Pita energi yang berhubungan dengan
orbital molekul ikatan disebut sebagai pita valensi. Pita valensi ini biasanya
terisi secara penuh oleh elektron. Pita energi yang berkaitan dengan orbital
molekul nonbonding disebut sebagai pita hantaran, pita energiini tidak terisi
penuh oleh elektron. Pita hantaran merupakan pita yang menyebabkan adanya
hantaran listrik. Elektron akan mengisi pita hantaran hingga tingkat energi
Fermi. Hantaran listrik terjadi saat dua jenis logam berbeda dihubungkan satu
sama lain. Elektron akan mengalir dari tingkat energi Fermi yang tinggi ke
tingkat energi Fermi rendah (Rochliadi, 2007). Beda potensial juga dapat
dibuat bila kedua ujung konduktor dihubungkan dengan sumber arus. Listrik
timbul akibat adanya aliran atau gerakan partikel bermuatan dalam medium
yang disebut konduktor. Yang dapat bertindak sebagai konduktor adalah
logam dan larutan elektrolit. Hantaran listrik dalam logam merupakan aliran
elektron yang disebut hantaran logam atau hantaran elektronik. Larutan
elektrolit dapat bertindak sebagai konduktor karena mengandung partikel
bermuatan, yang disebut ion positif dan negatif. Dalam larutan, listrik
dihantarkan oleh ion-ion sehingga disebut hantaran elektrolit. Larutan akan
menghantarkan listrik bila dicelupkan dua batang logam yang terpisah dan
masing-masing dihubungkan dengan sumber arus searah. Ion positif akan
bergerak ke elektroda negatif yaitu katoda, dan sebaliknya ion negatif ke
elektroda positif yaitu anoda (Syukri, 1999).

II.2.2 Perbedaan potensial


pada daerah antarmuka Lapisan ganda listrik adalah daerah peralihan antara
dua fase yang muatannya tidak seimbang. Pada lapisan ganda listrik, lapisan bagian
dalam menyerap molekul air dan ion, dan bagian luarnya merupakan daerah difusi.
Pada peristiwa logam dimasukkan ke dalam air murni, aliran elektron dalam logam
menyebabkan molekul air yang polar teradsorpsi pada permukaan dan membentuk
dua bidang tipis bermuatan positif dan negatif. Jika air mengandung ion-ion terlarut,
anion-anion besar dengan kepolaran yang besar akan berikatan secara lemah pada
logam, menyusun lapisan dalam bermuatan negatif yang diimbangi dengan kelebihan
kation dalam lapisan luar. Elektrokimia mempelajari reaksi-reaksi pada partikel
bermuatan yaitu ion dan elektron yang melewati antar muka dua fasezat, yaitu fase
logam atau elektroda dan larutan penghantar atau elektrolit. Proses ini ditunjukkan
sebagai reaksi kimia yang dikenal dengan proses elektroda. Proses elektroda terjadi
dalam lapisan ganda listrik dan menghasilkan sedikit ketidakseimbangan muatan
listrik pada elektroda dan elektrolit (Lower, 2004).
II.3 Kespontanan Reaksi Redoks
Secara termodinamika, suatu reaksi spontan dapat berlangsung apabila G
< 0, atau dalam sel elektrokimia, suatu reaksi dapat berlangsungjika reaksi itu
Esel > 0. Sebaliknya reaksi tidak spontan, G > 0 dan Esel< 0. Contoh reaksi
spontan adalah reaksi dalam sel Volta dan reaksi yang tidak spontan adalah
reaksi elektrolisis (Petrucci, 1999).
II.4 Persamaan Nernst
Untuk reaksi redoks dengan persamaan umum (Achmad, 2001):
aA + bB cC + dD
II.5 Elektrolisis
Elektrolisis adalah suatu proses reaksikimia yang terjadi
pada elektroda yang tercelup dalam elektrolit ketika dialiri arus listrik dari suatu
sumber potensial luar (Dogra, 1990). Komponen terpenting dari proses
elektrolisis adalah elektroda dan elektrolit. Sedangkan sel elektrolisis adalah
sebuah sel elektrokimia yang menggunakan sumber energi listrik dariluar untuk
menjalankan suatu reaksi yang tidak spontan.Energi listrik berfungsi se
bagai pompa elektron yang menggerakkan elektron ke katoda, dan menarik
elektron dari anoda (Chang, 2005). Elektron mengalir dari a
noda ke katoda dalam rangkaian luar seperti pada Gambar II.4.

Adanya aliran elektron dalam sel elektrolisis menyebabkan


di katoda terjadi reaksi reduksi dan di anoda terjadi reaksi oksidasi. Pada sel
elektrolisis, katoda merupakan kutub negatif karena dihubungkan dengan kutub
negatif sumber arus dan merupakan target bermigrasinya ion positif, sedangkan anoda
merupakan kutub positif karena dihubungkan dengan kutub positif sumber arus dan
merupakan target bermigrasinya ion negatif. Proses elektrolisis berhubungan dengan
besarnya potensial yang digunakan. Besarnya potensial yang digunakan dalam
elektrolisis bergantung pada:

1. Potensial Penguraian
Potensial penguraian adalah tegangan luar terkecil yang harus
dikenakan untuk menimbulkan elektrolisis kontinu. Pada sel elektrolisis,
potensial yang digunakan harus mampu mengatasi potensialsel galvani yang
dihasilkan dan harus pula mengatasi tahanan larutan terhadap aliran arus
(Basset, 1994).
2. Potensial Lebih atau Polarisasi Kinetika
Potensial lebih adalah potensial pada anoda atau katoda yang nilainya
lebih tinggi dari potensial penguraian akibat terbentuknya gas disekitar
elektroda (Petrucci, 1999). Potensial lebih menyebabkan harga potensial
menjadi lebih negatif pada katoda dan menjadi lebih positif pada anoda.
Potensial lebih timbul akibat adanya tahanan dari larutan. Besarnya potensial
lebih pada anoda atau katoda dipengaruhi oleh:
a. Sifat dan keadaan fisik dari logam yang dipakai sebagai elektroda.
b. Keadaan fisik dari zat yang diendapkan.
c. Rapat arus yang dipakai.
d. Perubahan konsentrasi di sekitar elektroda.
3. Polarisasi Konsentrasi
Reaksi pada permukaan elektroda berlangsung seketika, kecepatan
tercapainya kesetimbangan antara elektroda dengan larutan tergantung
dari besarnya arus yang mengalir. Kurang cepatnya migrasi ion ke
permukaanelektroda disebut polarisasi konsentrasi.Polarisasi konsentrasi
timbul apabila gaya difusi, gaya tarik menarik elektrostatik dan
pengadukan mekanik tidak cukup untuk mengangkut pereaksi menuju atau
dari permukaan elektroda (Buchari, 1990). Polarisasi konsentrasi dapat
diperkecil dengan cara pengadukan dan menggunakan rapat arus kecil.
4. Potensial Ohmik atau Potensial Jatuh
Potensial ohmik atau potensial jatuh adalah potensial listrik yang
dihasilkan pada saat arus listrik dilewatkan dalam sel elektrolisis. Potensial
ohmik terjadi karena adanya tahanan dalam larutan yang dialami oleh ion-ion
yang bergerak menuju anoda atau katoda. Besarnya potensial ohmik
sebanding dengan arus yang lewat dan tahanan larutan. Pengaruh potensial
ohmik menyebabkan potensial yang dibutuhkan pada sel elektrolisis lebih
besar dibanding potensial teoretisnya. Untuk menentukan jenis zat yang
dihasilkanpada anoda dan katoda, maka harus diketahui: jenis kation dan
anion dalam larutan, keadaan ionnya yaitu bentuk cairan (lelehan) atau
larutan, jenis elektrodanya tidak bereaksi (inert) atau ikut bereaksi (aktif)
dalam larutan, dan konsentrasi larutan elektrolitnya pekat atau sangat encer
(Achmad, 2001).

II.6 Reaksi Pada Elektroda


Pada permukaan elektroda terjadi persainganreaksi antara ion-ion dari
elektrolit dan ion dari air. Yang akan bereaksi pada permukaan elektroda
ditentukan dari nilai potensial elektrodanya.
Dalam larutan yang mengandung ion Cu2+ dan ion Ag+
dengan konsentrasi yang sama, maka ion Ag+ akan lebih dahulu mengalami
reduksi karena memiliki nilai potensial elektroda yang lebih positif. Jadi
reaksi dengan potensial elektroda lebih positif akan lebih mudah mengalami
reduksi. Sebaliknya, reaksi oksidasi akan mudah terjadi jika potensial
elektrodanya lebih negatif (Achmad, 2001).
II.7 Elektrolisis Dengan Elektroda Tidak aktif (Inert)
Elektroda tidak aktif adalah elektroda yang tidak ikut bereaksi dalam
elektrolisis.Yang termasuk elektroda tidak aktif adalah platina (Pt) dan karbon
(C).
II.7.1 Elektrolisis Lelehan Senyawa Ion Sel
elektrolisis bentuk lelehan atau cairan hanya berlaku untuk
senyawaion. Sel elektrolisis bentuk cairan tidak mengandung zat pelarut atau
air, yang ada hanya kation dan anion dari senyawa ion tersebut. Pada reaksi
elektrolisis, senyawa ion bentuk cairan akan terurai menjadi ion-ionnya. Ion
positif atau kation akan tertarik ke katoda dan mengalami reduksi. Sedangkan
ion negatif atau anion akan tertarik ke anoda dan mengalami reaksi oksidasi.
Yang dapat bertindak sebagai kation adalah ion logam, baik golongan utama
maupun golongan transisi, sedangkan anion dapat berupa ion monoatom (F-,
Cl-, O2-) atau ion poliatom (SO42-, NO3-). Contoh reaksi elektrolisis lelehan
NaCl dengan elektroda platina (Chang, 2005).
II.8 Elektrolisis Larutan Elektrolit
Dalam sel elektrolisis bentuk larutan dengan elektroda tidak aktif,
pengaruh elektroda tidak ada, hanya di samping kation dan anion yang ada
perlu diperhitungkan juga adanya zat pelarut yaitu air.
II.9 Elektrolisis Dengan Elektroda
Bereaksi atau Elektroda Aktif Elektroda aktif adalah elektroda yang
turut bereaksi pada saat elektrolisis. Elektroda aktif contohnya adalah logam
tembaga (Cu), perak (Ag), nikel (Ni), besi (Fe), dan sebagainya. Elektroda
logam mempengaruhi reaksi oksidasi di anoda. Jadi elektroda aktif hanya
bereaksidi anoda, sedangkan di katoda tidak akan bereaksi (Achmad, 2001).