Anda di halaman 1dari 13

Untuk kegunaan lain dari gambir, lihat gambir (disambiguasi).

?
Gambir

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Gentianales
Famili: Rubiaceae
Genus: Uncaria
Spesies: U. gambir
Nama binomial
Uncaria gambir
(Hunt.) Roxb.

Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan
ranting tumbuhan bernama sama (Uncaria gambir Roxb.). Di Indonesia gambir pada umumnya
digunakan pada menyirih. Kegunaan yang lebih penting adalah sebagai bahan penyamak kulit
dan pewarna. Gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bersifat
antioksidan. India mengimpor 68% gambir dari Indonesia, dan menggunakannya sebagai bahan
campuran menyirih.

Gambir dihasilkan pula dari tumbuhan U. acida.

Daftar isi
1 Pemerian tumbuhan

o 1.1 Budidaya
2 Produk

3 Kegunaan dan kandungan

o 3.1 Kegunaan

o 3.2 Kandungan

o 3.3 Penyebaran

4 Referensi

Pemerian tumbuhan
Tumbuhan perdu setengah merambat dengan percabangan memanjang. Daun oval, memanjang,
ujung meruncing, permukaan tidak berbulu (licin), dengan tangkai daun pendek. Bunganya
tersusun majemuk dengan mahkota berwarna merah muda atau hijau; kelopak bunga pendek,
mahkota bunga berbentuk corong (seperti bunga kopi), benang sari lima, dan buah berupa
kapsula dengan dua ruang.[1]

Budidaya

Gambir dibudidayakan pada lahan ketinggian 200-800 m di atas permukaan laut. Mulai dari
topografi agak datar sampai di lereng bukit. Biasanya ditanam sebagai tanaman perkebunan di
pekarangan atau kebun di pinggir hutan. Budidaya biasanya semiintensif, jarang diberi pupuk
tetapi pembersihan dan pemangkasan dilakukan. Di Sumatra kegiatan penanaman ini sudah
mengganggu kawasan lindung.

Produk
Gambir adalah ekstrak air panas dari daun dan ranting tanaman gambir yang disedimentasikan
dan kemudian dicetak dan dikeringkan. Hampir 95% produksi dibuat menjadi produk ini, yang
dinamakan betel bite atau plan masala. Bentuk cetakan biasanya silinder, menyerupai gula
merah. Warnanya coklat kehitaman. Gambir (dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai
gambier) biasanya dikirim dalam kemasan 50kg. Bentuk lainnya adalah bubuk atau "biskuit".
Nama lainnya dalah catechu, gutta gambir, catechu pallidum (pale catechu).

Daerah penghasil utama adalah Sumatra bagian tengah dan selatan. Harga jualnya di tingkat
petani per kg adalah IDR5.000 hingga IDR20.000; di pasaran ekspor harganya berkisar dari
USD1,46 hingga USD2,91. Ekspor gambir juga menunjukkan pertumbuhan yang baik.

Umumnya, gambir dikenal berasal dari Sumatera Barat. Terutama dari Kabupaten 50
Kota,Pesisir selatan(kec koto XI Tarusan Desa siguntur muda). Sebagai sentra penghasil
gambior, Kabupaten 50 Kota merupakan lokasi yang strategis dan cocok untuk investor
perkebunan.
Kegunaan dan kandungan
Kegunaan

Kegunaan utama adalah sebagai komponen menyirih, yang sudah dikenal masyarakat kepulauan
Nusantara, dari Sumatra hingga Papua sejak paling tidak 2500 tahun yang lalu. Diketahui,
gambir merangsang keluarnya getah empedu sehingga membantu kelancaran proses di perut dan
usus. Fungsi lain adalah sebagai campuran obat, seperti sebagai luka bakar, obat sakit kepala,
obat diare, obat disentri, obat kumur-kumur, obat sariawan, serta obat sakit kulit (dibalurkan);
penyamak kulit; dan bahan pewarna tekstil.

Fungsi yang tengah dikembangkan juga adalah sebagai perekat kayu lapis atau papan partikel.
Produk ini masih harus bersaing dengan sumber perekat kayu lain, seperti kulit kayu Acacia
mearnsii, kayu Schinopsis balansa, serta kulit polong Caesalpinia spinosa yang dihasilkan
negara lain.

Kandungan

Kandungan yang utama dan juga dikandung oleh banyak anggota Uncaria lainnya adalah
flavonoid (terutama gambiriin), katekin (sampai 51%), zat penyamak (22-50%), serta sejumlah
alkaloid (seperti gambirtannin dan turunan dihidro- dan okso-nya.[2] Selain itu gambir dijadikan
obat-obatan modern yang diproduksi negara jerman, dan juga sebagai pewarna cat, pakaian.

Penyebaran

Bila ditinjau dari ketersediaan lahan di Sumatera Barat maka terlihat adanya keterbatasan.
Sekitar 60 persen dari lahan yang ada merupakan perbukitan dan lahan miring dan 15 persen saja
yang telah disepakati untuk lahan pertanian. Secara keseluruhan hanya tersedia sekitar 450000 ha
lahan yang potensial untuk perluasan tanaman perkebunan.

Di Sumatera Barat tanaman gambir tumbuh dengan baik didaerah Limapuluh Kota, Pesisir
Selatan (kecamatan Koto XI Tarusan, dari Siguntur sampai ke Sungai Tawar) dan daerah tingkat
II lainnya. Di Kabupaten Limapuluh Kota sebanyak 11937 Ha dengan produksi 7379 ton
pertahun. Di Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 2469 Ha dengan produksi 688 ton pertahun dan
Kabupaten lainnya seluas 175 Ha yang sebahagian besar belum berproduksi.

Luas di atas potensial dan memenuhi skala ekonomi untuk dikembangkan. Jumlah unit usaha
pengolahan gambir di Sumatera Barat tercatat sebanyak 3571 unit dengan tenaga kerja 6908
orang dan investasi Rp 1029614000. Data produksi gambir di Sumatera Barat sebenarnya belum
tersedia dengan lengkap, khususnya untuk konsumsi dalam negeri. Bila berpedoman kepada
angka produksi tahun 1997 dan angka ekspor pada tahun yang sama maka 98 persen produksi
gambir diekspor dan 2 persen dikonsumsi dalam negeri.

Di negara lain juga ada produk sejenis gambir yang ditawarkan seperti tannin dari kulit kayu
Acacia mearnsii, kayu Schinopsis balansa. Pada tahun 1983 diproduksi 10000 ton perekat
berbasis tannin Acacia mearnsii di Afrika Selatan. Di New Zealand telah mulai produksi tiap
tahunnya 8000 ton perekat berbasis tannin dari kulit kayu Pinus radiata. Di Peru diproduksi Tara
tannin dari kulit buah Caesalpinia spinosa yang juga akan dijadikan bahan baku perekat.

Prospek gambir sebagai bahan baku perekat untuk bahan berbasis kayu atau bahan
berlignosellulosa lainnya terlihat ada. Sebagai langkah awal penulis telah mendaftarkan paten
pada Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan judul Proses
gambir sebagai bahan baku perekat dengan nomor P 00200200856 dengan memanfaatkan
insentif dari Kementerian Riset dan Teknologi.

Gambir dapat juga dijadikan sebagai bahan baku utama perekat perekat kayu lapis dan papan
partikel. Bila gambir yang diekspor tersebut digunakan sebagai bahan baku perekat kayu lapis di
dalam negeri maka baru akan memenuhi kebutuhan tiga pabrik kayu lapis yang berkapasitas
5000-6000 m3/bulan. Hal ini akan masih tetap terlalu sedikit dibanding kebutuhan pabrik kayu
lapis dan papan partikel yang ada di Pulau Sumatra. Dan gambir dapat diolah di dalam negeri
menjadi bentuk yang lain dari sekarang, seperti bentuk biskuit dan tepung gambir sesuai dengan
permintaan pasar dunia. Negara India saja membutuhkan gambir sebanyak 6000 ton pertahun.
Terlihat bahwa prospek luar negeri masih terbuka.

Ditinjau dari aspek konservasi ditemui juga penanaman pada lahan termasuk areal kawasan
lindung dengan salah satu ciri kelerangan diatads 40 persen. Di Kabupaten Limapuluh Kota
terutama perkebunan gambir ada di Kecamatan Kapur IX, Mahat, Pangkalan Koto Baru dan
Suliki Gunung Mas. Kapur IX merupakan kecamatan penghasil gambir terbesar (hampir 2/3 total
produksi) dengan wilayah utama yaitu Nagari Sialang. Areal penanaman gambir tersebut
sebahagian besar berasal pada Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar Kanan dan DAS Mahat.

Berdasarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), fungsi kawasan hutan kedua Sub DAS
tersebut adalah 64,30 persen sebagai kawasan lindung dan 35,70 persen sebagai kawasan yang
boleh diusahakan (kawasan eksploitasi). Kawasan lindung tersebut terdiri dari 61,37 persen
(204412 Ha) sebagai hutan lindung dan 2,93 persen sebagai hutan suaka alam.
Pinang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belum Diperiksa

Langsung ke: navigasi, cari


?
Pinang

Lukisan dari Koehler

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Liliopsida

Ordo: Arecales

Famili: Arecaceae

Genus: Areca
Spesies: A. catechu

Nama binomial

Areca catechu
L.

Pinang adalah sejenis palma yang tumbuh di daerah Pasifik, Asia dan Afrika bagian timur.
Pinang juga merupakan nama buahnya yang diperdagangkan orang. Pelbagai nama daerah di
antaranya adalah pineung (Aceh), pining (Batak Toba), penang (Md.), jambe (Sd., Jw.), bua, ua,
wua, pua, fua, hua (aneka bahasa di Nusa Tenggara dan Maluku) dan berbagai sebutan lainnya.[1]

Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Betel palm atau Betel nut tree, dan nama ilmiahnya adalah
Areca catechu.

Daftar isi

1 Deskripsi

2 Kegunaan

3 Perdagangan

4 Budaya

5 Rujukan

6 Pranala luar

Deskripsi
Pohon pinang. Benggala barat, India

Batang lurus langsing, dapat mencapai ketinggian 25 m dengan diameter lk 15 cm, meski ada
pula yang lebih besar. Tajuk tidak rimbun.

Pelepah daun berbentuk tabung dengan panjang 80 cm, tangkai daun pendek; helaian daun
panjangnya sampai 80 cm, anak daun 85 x 5 cm, dengan ujung sobek dan bergerigi.

Tongkol bunga dengan seludang (spatha) yang panjang dan mudah rontok, muncul dibawah
daun, panjang lebih kurang 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap, sumbu ujung
sampai panjang 35 cm, dengan 1 bunga betina pada pangkal, di atasnya dengan banyak bunga
jantan tersusun dalam 2 baris yang tertancap dalam alur. Bunga jantan panjang 4 mm, putih
kuning; benang sari 6. Bunga betina panjang lebih kurang 1,5 cm, hijau; bakal buah beruang 1.

Buah buni bulat telur terbalik memanjang, merah oranye, panjang 3,5 - 7 cm, dengan dinding
buah yang berserabut. Biji 1 berbentuk telur, dan memiliki gambaran seperti jala.[2]

Di Jawa, pinang tumbuh hingga ketinggian 1.400 m dpl.

Kegunaan

Buah pinang yang masak

Pinang terutama ditanam untuk dimanfaatkan bijinya, yang di dunia Barat dikenal sebagai betel
nut. Biji ini dikenal sebagai salah satu campuran orang makan sirih, selain gambir dan kapur.

Biji pinang mengandung alkaloida seperti misalnya arekaina (arecaine) dan arekolina
(arecoline), yang sedikit banyak bersifat racun dan adiktif, dapat merangsang otak. Sediaan
simplisia biji pinang di apotek biasa digunakan untuk mengobati cacingan, terutama untuk
mengatasi cacing pita. [3] Sementara itu, beberapa macam pinang bijinya menimbulkan rasa
pening apabila dikunyah. Zat lain yang dikandung buah ini antara lain arecaidine, arecolidine,
guracine (guacine), guvacoline dan beberapa unsur lainnya.

Secara tradisional, biji pinang digunakan dalam ramuan untuk mengobati sakit disentri, diare
berdarah, dan kudisan. Biji ini juga dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna merah dan
bahan penyamak.[1]

Perkebunan pinang di Taiwan

Akar pinang jenis pinang itam, di masa lalu digunakan sebagai bahan peracun untuk
menyingkirkan musuh atau orang yang tidak disukai. Pelepah daun yang seperti tabung (dikenal
sebagai upih) digunakan sebagai pembungkus kue-kue dan makanan. Umbutnya dimakan
sebagai lalapan atau dibikin acar.

Batangnya kerap diperjual belikan, terutama di kota-kota besar di Jawa menjelang perayaan
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, sebagai sarana untuk lomba panjat pinang. Meski kurang
begitu awet, kayu pinang yang tua juga dimanfaatkan untuk bahan perkakas atau pagar. Batang
pinang tua yang dibelah dan dibuang tengahnya digunakan untuk membuat talang atau saluran
air.

Pinang juga kerap ditanam, di luar maupun di dalam ruangan, sebagai pohon hias atau
ornamental.

Perdagangan
Buah pinang yang masih muda di pohonnya

Saat ini biji pinang sudah menjadi komoditi perdagangan. Ekspor dari Indonesia diarahkan ke
negara-negara Asia selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, atau Nepal. Negara-negara
pengekspor pinang utama adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Myanmar.

Pohon pinang (tengah) di Setra Gandamayit, tempat bersemayam Batari Durga


(membawa pedang). Relief Candi Sukuh dari abad ke-15.

Biji pinang yang diperdagangkan terutama adalah yang telah dikeringkan, dalam keadaan utuh
(bulat) atau dibelah. Di negara-negara importir tersebut biji pinang diolah menjadi semacam
permen sebagai makanan kecil.

Budaya

Pinang sudah sangat lama menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara. Relief
pada Candi Borobudur dan Candi Sukuh, keduanya berselisih sekitar delapan abad,
menampilkan pohon pinang secara jelas. Di Bandar Udara Sentani, ada tanda larangan memakan
buah pinang di bandara karena membuat masalah, yaitu bercak-bercak merah bekas ludah. [1]

Pinang juga menjadi bahan pepatah, yaitu:

Bagai pinang dibelah dua



Yakni perumpamaan yang sering digunakan untuk menunjukkan rupa atau perilaku yang mirip.
Tembakau
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Ini adalah artikel tentang produk tanaman dari genus Nicotiana

Perkebunan tembakau

Tembakau adalah hasil bumi yang diproses dari daun tanaman yang juga dinamai sama.
Tanaman tembakau terutama adalah Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica, meskipun
beberapa anggota Nicotiana lainnya juga dipakai dalam tingkat sangat terbatas.

Tembakau adalah produk pertanian semusim yang bukan termasuk komoditas pangan, melainkan
komoditas perkebunan. Produk ini dikonsumsi bukan untuk makanan tetapi sebagai pengisi
waktu luang atau "hiburan", yaitu sebagai bahan baku rokok dan cerutu. Tembakau juga dapat
dikunyah. Kandungan metabolit sekunder yang kaya juga membuatnya bermanfaat sebagai
pestisida dan bahan baku obat[1].

Tembakau telah lama digunakan sebagai entheogen di Amerika. Kedatangan bangsa Eropa ke
Amerika Utara memopulerkan perdagangan tembakau terutama sebagai obat penenang.
Kepopuleran ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat bagian selatan. Setelah
Perang Saudara Amerika Serikat, perubahan dalam permintaan dan tenaga kerja menyebabkan
perkembangan industri rokok. Produk baru ini dengan cepat berkembang menjadi perusahaan-
perusahaan tembakau hingga terjadi kontroversi ilmiah pada pertengahan abad ke-20.

Dalam Bahasa Indonesia tembakau merupakan serapan dari bahasa asing. Bahasa Spanyol
"tabaco" dianggap sebagai asal kata dalam bahasa Arawakan, khususnya, dalam bahasa Taino di
Karibia, disebutkan mengacu pada gulungan daun-daun pada tumbuhan ini (menurut Bartolome
de Las Casas, 1552) atau bisa juga dari kata "tabago", sejenis pipa berbentuk y untuk menghirup
asap tembakau (menurut Oviedo, daun-daun tembakau dirujuk sebagai Cohiba, tetapi Sp. tabaco
(juga It. tobacco) umumnya digunakan untuk mendefinisikan tumbuhan obat-obatan sejak 1410,
yang berasal dari Bahasa Arab "tabbaq", yang dikabarkan ada sejak abad ke-9, sebagai nama dari
berbagai jenis tumbuhan. Kata tobacco (bahasa Inggris) bisa jadi berasal dari Eropa, dan pada
akhirnya diterapkan untuk tumbuhan sejenis yang berasal dari Amerika.

Daftar isi

1 Jenis dan daerah penghasil tembakau

o 1.1 Indonesia

2 Referensi

3 Rujukan

Jenis dan daerah penghasil tembakau

Dua orang pegawai perusahaan perkebunan tembakau "Deli-Maatschappij" di awal


abad ke-20 di Deli.

Tembakau adalah produk yang sangat sensitif terhadap cara budidaya, lokasi tanam,
musim/cuaca, dan cara pengolahan. Karena itu, suatu kultivar tembakau tidak akan menghasilkan
kualitas yang sama apabila ditanam di tempat yang berbeda agroekosistemnya. Produk tembakau
sangat khas untuk suatu daerah tertentu dan kultivar tertentu. Akibatnya, macam-macam produk
tembakau biasanya dinamai sesuai lokasi tanam.

Indonesia
Di Indonesia, macam-macam tembakau komersial yang baik hanya dihasilkan di daerah-daerah
tertentu. Kualitas tembakau sangat ditentukan oleh kultivar, lokasi penanaman, waktu tanam, dan
pengolahan pascapanen. Akibatnya, hanya beberapa tempat yang memiliki kesesuaian dengan
kualitas tembakau terbaik, tergantung produk sasarannya.

Berdasarkan cara pengolahan pascapanen, dikenal tembakau kering-angin (air-cured), kering-


asap (fire-cured), kering-panas (flue-cured), dan kering-jemur (sun-cured).

Macam-macam tembakau kualitas tinggi di Indonesia

Macam/tipe Daerah Kegunaan

Deli Deli wrapper cerutu

Temanggung, Parakan,
Srintil Temanggung rokok (rajangan), kunyah
Ngadirejo

Klaten, Sleman, Boyolali,


Virginia-Vorstenlanden sigaret
Sukoharjo

filler, binder, dan wrapper


Vorstenlanden Klaten, Sleman
cerutu

Madura Madura rajangan rokok

Besuki Voor-Oogst
Jember, ditanam musim hujan,
(VO, "sebelum panen rajangan rokok
panen awal kemarau
padi")

Besuki Na-Oogst Jember, ditanam akhir musim


filler, binder, dan wrapper
(NO, "setelah panen hujan,
cerutu
padi") panen akhir kemarau

Virginia-Lombok Timur rajangan sigaret

Selain itu, terdapat beberapa daerah penghasil tembakau kualitas menengah ke bawah, biasanya
ditanam untuk pasar domestik atau rokok kualitas rendah, tingwe ("linting dhewe"), atau
tembakau kunyah, seperti tembakau Kaponan dari Ponorogo.
http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1703

diakses tanggal 6 maret 2014 kapur