Anda di halaman 1dari 12

http://melayuonline.

com/ind/culture/dig/1703

diakses tanggal 6 maret 2014 kapur

Tradisi Bersirih & Nilai Budayanya

Oleh : Mahyudin Al Mudra, SH. MM.

1. Asal-usul Tradisi Makan Sirih

Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya masa silam, lebih dari 3000
tahun yang lampau atau di zaman Neolitik, hingga saat ini. Budaya makan
sirih hidup di Asia Tenggara. Pendukung budaya ini terdiri dari pelbagai
golongan, meliputi masyarakat bawah, pembesar negara, serta kalangan
istana.

Tradisi makan sirih tidak diketahui secara pasti dari mana berasal. Dari
cerita-cerita sastra, dikatakan tradisi ini berasal dari India.

Tetapi jika ditelusur berdasarkan bukti linguistik, kemungkinan besar tradisi


makan sirih berasal dari Indonesia. Pelaut terkenal Marco Polo menulis
dalam catatannya di abad ke-13, bahwa orang India suka mengunyah
segumpal tembakau. Sementara itu penjelajah terdahulu seperti Ibnu
Batutah dan Vasco de Gama menyatakan bahwa masyarakat Timur memiliki
kebiasaan memakan sirih.
Di masyarakat India, sirih pada mulanya bukan untuk
dimakan, tetapi sebagai persembahan kepada para dewa
sewaktu sembahyang di kuil-kuil. Beberapa helai daun sirih
dihidangkan bersama dengan kelapa yang telah dibelah dua
dan dua buah pisang emas.

Pada saat ini sirih sangat dikenal di kalangan masyarakat


Melayu. Selain dimakan oleh rakyat kebanyakan, sirih juga
dikenal sebagai simbol budaya dan menjadi bagian yang tak
terpisahkan dalam adat istiadat Melayu. Sirih dipakai dalam
upacara menyambut tamu, upacara merisik dan meminang,
upacara pernikahan, pengobatan tradisional, dan berbagai
upacara adat yang lain. Dalam upacara pernikahan, sirih
dirangkai dalam bentuk sirih junjung yang cantik, dan
bersama dengan sirih penyeri dipakai sebagai barang
hantaran kepada pengantin perempuan. Di dalam upacara
resmi kebesaran istana, sirih junjung dipakai sebagai hiasan
yang menyemarakkan suasana. Sirih junjung juga dibawa
sebagai kepala suatu arak-arakan adat.

2. Tepak Sirih, Perangkat Berkapur-sirih

Tepak sirih digunakan sebagai perangkat yang tidak boleh dilupakan dalam
upacara-upacara resmi adat. Oleh karena tepak sirih merupakan simbol
yang memiliki arti penting, maka pemakaiannya tidak
boleh sembarangan.

Di dalam tepak sirih terdapat combol (cembul) yang


digunakan untuk menyimpan ramuan sirih pinang. Combol
ini disusun mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

Bagian dalam tepak sirih yang lengkap dibagi menjadi dua


bagian. Di bagian atas ditempatkan empat combol dengan
susunan tertentu, yaitu pinang, kapur, gambir, dan
tembakau. Di bagian bawah disusun cengkih, sirih, dan
kacip. Pada tepak sirih yang berbentuk bulat, combol
disusun melingkar sesuai dengan urutannya. Masyarakat
Melayu menamakan tepak sirih yang berbentuk bujur
sangkar sebagai puan, dan yang berbentuk empat persegi
panjang disebut tepak. Ada kalanya, daun-daun sirih tidak dimasukkan
menjadi satu ke dalam tepak sirih, tetapi ditempatkan dalam suatu wadah
yang disebut bekas sirih. Pengaturan seperti ini memberikan tampilan yang
lebih indah dan rancak.
Bagi masyarakat Melayu, sirih disusun sedemikian rupa untuk menunjukkan
urut-urutan ketika mengapur sirih, yang dahulu didahulukan dan yang
kemudian dikemudiankan. Daun-daun sirih yang disusun dalam tepak sirih
harus dilipat bersisip antara satu dengan yang lain dan disatukan
tangkainya, disusun sebanyak lima atau enam helai dalam satu baris. Satu
tepak sirih selalu berisi empat atau lima susun sirih. Sirih harus disusun
secara berlipat agar tidak terlihat ekornya. Ekor sirih yang terlihat dianggap
kurang sopan dan tidak menghormati tamu. Tepak sirih yang sudah lengkap
dihias dengan bunga dan diberi alas kain songket. Tepak sirih seperti ini
disebut tepak sirih adat.

3. Kelengkapan Tepak Sirih

Komponen yang melengkapi tepak sirih terdiri atas combol, bekas sirih,
kacip, gobek, celepa, ketur, dan bujam epok. Tetapi pada saat ini, bujam
epok sudah jarang dipakai sebagai peralatan pelengkap tepak sirih.
Sedangkan combol diisi dengan pinang, gambir, tembakau, cengkih, dan
kapur.

a. Combol

Combol merupakan komponen tepak sirih yang berjumlah empat atau lima
buah, untuk menyimpan pinang, kapur, gambir, tembakau, dan bunga
cengkih. Combol berbentuk bulat dan bertutup, pada bagian bawah datar
agar dapat diletakkan dengan baik. Biasanya combol untuk kapur berbentuk
silinder atau agak berbeda dengan yang lain. Combol dibuat dari bahan
logam seperti tembaga, perak, atau berlapis emas. Agar lebih indah, pada
bagian luar dan tutup combol dihias dengan ukiran berbagai corak seperti
bunga petola, sirih emas, daun candik kacang, tampuk manggis, bunga
melur, dan motif-motif lain sesuai dengan kreasi dan kemahiran tukang ukir.
Pada saat ini, motif ukiran sudah berkembang mengikuti zaman dan cita
rasa orang, sehingga banyak dijumpai combol dengan corak grafis serta
objek tertentu dan corak-corak budaya yang lain.

b. Bekas Sirih

Ada kalanya sirih tidak dimasukkan menjadi satu ke dalam tepak sirih, tetapi
ditempatkan tersendiri dalam bekas sirih. Bekas sirih biasanya dibuat dari
logam atau perak, walaupun ada juga yang terbuat dari gading gajah. Agar
bekas sirih tampak cantik, ada kalanya disalutkan emas dan diukir dengan
berbagai corak ukiran Melayu seperti awan larat, bunga kundur, bunga
ketang guri, bunga petola, pucuk rebung, ukiran tebuk, dan corak-corak lain.
Untuk menambah keindahan, pada bagian badan dan di sekeliling mulutnya
dibuat berlekuk-lekuk. Bekas sirih berbentuk pipih, dengan bagian mulut
(atas) agak lebar dan sedikit menguncup di bagian bawah. Ukuran bekas
sirih pada umumnya sekitar 8 cm pada bagian mulut, 6 cm pada bagian
bawah, dan tinggi 10 cm.

c. Kacip

Kacip berupa alat yang berfungsi seperti pisau pemotong terdiri


atas bilah tajam yang dapat bergerak di bagian atas dan
bagian tumpul yang kokoh pada bagian bawah. Kacip
digunakan untuk memotong atau mengiris buah pinang, atau
obat-obat tradisional yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan.

Kacip dibuat dari logam keras, namun ada juga yang dibuat dari tembaga
atau perak sehingga tidak hanya berfungsi sebagai pemotong melainkan
juga sebagai peralatan yang indah. Kacip dibuat dalam berbagai ukuran,
antara 10 cm hingga 22 cm, walaupun ada juga yang berukuran lebih dari
itu. Pada dasarnya bentuk kacip serupa, yaitu terdiri atas dua bilah mata
yang bertaut dan mempunyai hulu atau tangkai pada kedua bilahnya.

Ragam hias pada bagian hulu dan badan kacip amat unik, ada kalanya
menyerupai kepala binatang seperti kuda, kerbau, gajah, monyet, burung,
ayam, manusia, atau dewa-dewa. Terdapat juga kacip yang diukir dengan
motif flora pada tangkai dan badannya dengan menggunakan salutan perak
atau emas. Kacip juga dikenal sebagai kacip jantan dan betina, walaupun
ada juga yang tidak jelas jenisnya dengan bentuk segi atau kebulat-bulatan.
Masyarakat Melayu menamakan alat pemotong ini kacip, sementara di Bali
masyarakat menamakannya caket. Di negeri Deccani (India), Kannada
(Karnataka) alat ini disebut adakottu, sedangkan di Marathi (Maharastra)
dinamakan adekitta, walaupun banyak juga yang lebih mengenalnya dengan
nama serota. Masyarakat Bengali menamakan alat ini yanti, sedangkan
orang Gujarat menyebutnya sudi atau sudo. Di Sri Langka, kacip disebut
gire atau giraya.

Di dalam tepak sirih, kacip disusun bersebelahan dengan daun sirih yang
tersusun rapi. Kacip merupakan perkakas penting selain gobek untuk
melengkapi keserasian sebuah tepak sirih.

Kacip juga dijadikan sebagai perkakas penting dalam perbagai upacara adat
resam Melayu. Dalam adat melenggang perut, kacip digunakan sebagai
persyaratan yang harus ada. Ketika bayi baru lahir, kacip diletakkan di
bagian atas kepala atau di bawah bantal pada saat si bayi tidur. Ada
kepercayaan, bahwa kacip akan menjauhkan bayi dari segala macam
gangguan makhluk halus.

d. Gobek

Gobek terbuat dari logam dan terdiri atas dua komponen. Komponen
pertama berbentuk silinder yang berlubang di bagian tengahnya. Pada
bagian ujung, silinder ini ditutup dengan sumbat kayu dengan ukuran yang
sama besarnya dengan lubang silinder. Komponen ini disebut ibu gobek.
Komponen yang satu lagi dinamakan anak gobek, memiliki ukuran yang
lebih kecil, terdiri atas besi padu yang di bagian ujungnya berbentuk seperti
mata kapak serta mempunyai hulu di bagian pangkalnya. Pada bagian ibu
dan hulu anak gobek diukir dengan berbagai corak yang menarik, sesuai
dengan budaya setempat. Alat ini berfungsi seperti antan dan lesung. Daun
sirih yang telah dilengkapi dengan pinang, gambir, kapur, dan cengkih
dimasukkan ke dalam gobek dan ditumbuk hingga lumat. Setelah lumat,
tutup kayu di ujung silinder didorong dengan anak gobek, sehingga bisa
dikeluarkan dan siap dimakan. Gobek dipakai oleh para nenek yang sudah
tidak mempunyai gigi dan tidak bisa lagi mengunyah
sirih.

e. Ketur

Ketur adalah tempat untuk berludah. Sirih yang dimakan


dengan kapur, gambir, dan pinang akan menghasilkan
ludah yang berwarna merah, pekat, dan kotor, sehingga
orang yang makan sirih harus sering meludah.

Ketur berbentuk seperti labu sayung, dengan bagian mulut agak lebar
berkeluk-keluk atau bulat seperti pinggan makan, menggelembung di bagian
tengah serta mempunyai kaki yang berbentuk setengah bola. Tetapi ada
kalanya, bekas kaleng yang terbuat dari seng atau timah dipakai sebagai
ketur. Ketur yang khusus dibuat untuk tempat berludah biasanya dibuat dari
tembaga.

Tinggi ketur antara 20 cm hingga 25 cm, cukup berat


karena terbuat dari bahan logam tembaga.Bobot yang
berat ini diperlukan, agar ketur tidak mudah terguling,
yang akan membuat isinya tumpah dan mengotori
lantai. Ketur hanya digunakan jika orang makan sirih di
dalam rumah, tidak pada waktu bepergian. Setiap hari
ketur harus dibersihkan, agar tidak menimbulkan bau
yang tidak sedap.

4. Ramuan (Bahan) Berkapur-sirih

a. Sirih

Sirih adalah tanaman yang tumbuh di kawasan tropika Asia, Madagaskar,


Timur Afrika, dan Hindia Barat. Sirih yang terdapat di Semenanjung Malaysia
terdiri atas empat jenis, yaitu sirih Melayu, sirih Cina, sirih Keling, dan sirih
Udang. Dalam bahasa Indonesia, dikenal berbagai nama spesies sirih seperti
sirih Carang, Be, Bed, Siyeh, Sih, Camai, Kerekap, Serasa, Cabe, Jambi,
Kengyek, dan Kerak.

Dalam ilmu biologi, sirih dikenal dengan nama Piper Betle Linn dalam
keluarga Piperaceae. Nama betel adalah dari bahasa Portugis - betle, berasal
dari kata vettila dalam bahasa Malayalam di negeri Malabar. Dalam bahasa
Hindi, sirih lebih dikenal dengan nama pan atau paan dan dalam bahasa
Sunskrit disebut tambula. Bahasa Sri Lanka menyebut sirih dengan bulat,
sedangkan dalam bahasa Thai disebut plu.
Sirih tumbuh menjalar dan memanjat pada batang pohon atau para-para.
Bentuk daunnya bulat lonjong dengan ujung agak lancip. Daun sirih yang
subur memiliki ukuran lebar 8 cm - 12 cm, dan panjang 10 cm - 15 cm. Sirih
sesuai ditanam di cuaca tropis, di tanah yang gembur dan tidak terlalu
lembap, serta cukup air.

Sirih Udang memiliki urat daun dan gagang


berwarna merah. Sirih Cina mempunyai rasa yang
lebih lembut dibanding sirih Melayu. Namun sirih
Melayu adalah jenis yang digemari oleh kalangan
yang makan sirih, juga banyak dipakai dalam adat
resam. Sirih Melayu berdaun lebar dan warnanya
hijau pekat. Jenis sirih yang lain, sirih Keling,
berukuran kecil dan warnanya hijau gelap, rasanya
lebih pedas dan daunnya agak keras.

Rasa pedas sirih disebabkan oleh sejenis minyak


yang mengandung fenol dan bahan-bahan terpene.
Zat-zat lain yang terkandung dalam daun sirih
adalah kalsium nitrat, sedikit gula, dan tanin. Rasa enak daun sirih
ditentukan oleh jenis daun sirih itu sendiri, umurnya, cahaya matahari, serta
letak daun pada batang sirih. Daun sirih yang paling enak adalah yang
terdapat di bagian atas dahan-dahan sisi, dan yang berukuran paling besar.
Sirih hutan tidak boleh dimakan, karena selain daunnya keras, juga rasanya
tidak enak. Sirih hutan tumbuh di pohon yang terdapat di hutan hujan
tropis.

Daun-daun sirih yang terdapat di bagian bawah dan berukuran kecil dipakai
sebagai obat oleh dukun-dukun Melayu. Sirih bertemu urat adalah jenis yang
dipilih oleh bidan untuk pengobatan tradisional. Pada saat ini, sirih masih
menjadi bagian penting bagi masyarakat Melayu, walaupun tidak banyak lagi
orang yang memakannya.

b. Pinang

Pinang adalah tumbuhan tropis yang ditanam karena keindahannya, serta


untuk mendapatkan buahnya. Tingginya bisa mencapai 10 meter, bentuknya
runcing pada bagian pucuk. Garis tengah batangnya antara 15 cm hingga 20
cm. Buah pinang berwarna hijau pada waktu masih muda, dan apabila sudah
masak akan berubah menjadi kuning serta merah.
Nama ilmiah pinang adalah Areca catechu. Dalam
bahasa Hindi buah ini disebut supari, dan pan-
supari untuk menyebut sirih-pinang. Bahasa
Malayalam menamakannya adakka atau adekka,
sedang dalam bahasa Sri Lanka dikenal sebagai
puvak. Masyarakat Thai menamakannya mak, dan
orang Cina menyebutnya pin-lang.

Pohon pinang dibiakkan dengan cara menanam


bijinya yang sudah cukup masak. Biasanya biji yang
akan ditanam disemai dulu, baru kemudian ditanam
dalam pot atau tas plastik. Jika masih kecil, pohon
pinang cocok ditanam di dalam pot, tetapi jika
sudah besar sebaiknya ditanam di tanah bebas.

Buah pinang bisa dipakai sebagai obat. Pucuk Areca


catechu dan pucuk-pucuk Areca borneensis serta Areca trianda bisa
dimakan. Pucuk Areca hutchinsoniana digunakan untuk menghilangkan
jamur. Untuk mengobati luka-luka, dapat digunakan ampas pinang yang
sudah direbus.

Alkaloid dalam pinang termasuk arekolin,


arekaidin, arekain, guvacin, arekolidin,
guvakolin, isoguvakolin, dan kolin.
Arekolin yang toksid bersifat sebagai obat
bius nikotin bagi sistem saraf. Zat ini
menyebabkan penyakit ayan yang berakhir
dengan kelumpuhan. Akibat lebih fatal
adalah kematian, yang terjadi jika
pernafasan terhenti.

Arekolin adalah pembasmi parasit dan cacing, serta bersifat seperti asetil
kolin. Pinang mengandung lebih kurang 15% tanin merah dan 14% lemak.
Buah pinang muda dikunyah dan airnya ditelan untuk mengobati darah
dalam air kencing. Jus pinang muda digunakan sebagai obat luar untuk
rabun.

c. Gambir

Gambir adalah tumbuhan yang terdapat di Asia Tenggara, termasuk dalam


keluarga Rubiaceae. Daunnya berbentuk bujur telur atau lonjong, dan
permukaannya licin. Bunga gambir berwarna kelabu. Gambir biasanya
dimakan dengan sirih. Gambir juga dimanfaatkan sebagai obat, antara lain
untuk mencuci luka bakar dan kudis, mencegah penyakit diare dan disentri,
serta sebagai pelembap dan menyembuhkan luka di
kerongkongan.

d. Tembakau

Tembakau adalah tumbuhan herba semusim yang ditanam


untuk diambil daunnya, digunakan untuk membuat rokok
dan cerutu. Tumbuhan ini termasuk dalam keluarga
Solanaceae. Tembakau bisa tumbuh dalam iklim yang berbeda-beda. Pada
masa awal pertumbuhan, tembakau membutuhkan suhu yang panas dan
lembap dengan banyak hujan. Akan tetapi menjelang dipetik, tembakau
harus berada pada musim kering agar diperoleh daun-daun yang baik.
Daun-daun tembakau yang bermutu tinggi hanya bisa dihasilkan di
kawasan-kawasan tertentu saja. Jenis tembakau yang sama jika ditanam di
tempat lain bisa menghasilkan mutu daun yang lebih rendah.

Tanah liat yang padat dan subur akan menghasilkan daun-daun tembakau
yang berukuran lebar. Daun tembakau seperti ini cocok untuk dibuat cerutu
dan tembakau pipa. Pada tanah yang berpori serta berhumus akan
dihasilkan daun-daun tembakau yang kecil serta lembut, yang cocok untuk
tembakau rokok. Pohon tembakau yang subur bisa mencapai ketinggian 2
meter, dengan lebar daun 30 cm - 40 cm serta
panjang 40 cm - 50 cm.

Daun tembakau yang baik untuk rokok adalah yang


berwarna kuning muda atau kuning keemasan,
mempunyai bau wangi, rasa yang sedap, serta
mengeluarkan asap yang mengandung asam. Daun
seperti ini banyak mengandung karbohidrat dan sedikit
amida, nitrogen, banyak fosfat dan kalsium.
Sedangkan daun tembakau yang baik untuk cerutu
adalah yang berwarna kuning tua, mengeluarkan asap yang mengandung
alkali, dan mempunyai urat-urat daun yang halus.

e. Cengkih

Cengkih adalah sejenis rempah yang berasal dari Maluku, Indonesia.


Cengkih juga banyak terdapat di Zanzibar, Madagaskar. Pohon cengkih
tumbuh setinggi 8 - 12 meter. Daunnya runcing dan bergagang pendek.
Bunga cengkih muncul pada setiap ujung ranting. Kuncup bunga cengkih
dipetik sebelum sempat mengembang menjadi bunga.

Nama ilmiah bunga cengkih adalah Eugenia aromatika.


Pohon cengkih membutuhkan iklim panas serta lembap dengan curah hujan
sebanyak

150 - 250 mm per tahun, dan suhu 15o - 38oC. Tanah yang paling cocok
untuk cengkih adalah tanah gembur yang mengandung humus dan tanah
laterit.

Cara membiakkannya adalah dengan menanam biji benih. Benih cengkih


ditanam hingga umur 1,5 - 2 tahun di ladang dengan jarak 5 m. Cengkih
bisa dipanen untuk pertama kali jika sudah berumur tujuh atau delapan
tahun. Pohon cengkih akan terus berbunga hingga umur 60 tahun, ada
kalanya bahkan sampai 130 tahun.

Bunga cengkih mengeluarkan aroma yang khas, digunakan sebagai rempah


dalam beberapa masakan, juga dimakan bersama daun sirih untuk
menambah rasa manis dan enak. Minyak cengkih digunakan dalam
pembuatan obat dan minyak wangi. Di beberapa negara, cengkih
dicampurkan dengan tembakau dalam rokok.

f. Kapur

Kapur berwarna putih, liat seperti krim yang dihasilkan dari cangkang siput
laut yang telah dibakar. Serbuk cangkang tersebut dicampur air agar mudah
dioleskan di atas daun sirih. Selain kapur jenis ini, terdapat kapur yang tidak
bisa dimakan, yaitu kapur yang digunakan dalam bangunan rumah.
Kapur juga bisa diperoleh dengan membakar batu kapur
(kalsium karbonat/CaCO3). Apabila dibakar dengan suhu
tertentu kapur akan mengeluarkan gas yang disebut
karbon dioksida (CO2) dan menjadi kalsium oksida (CaO).
Kalsium oksida ini jika dicampur dengan sedikit air akan
mengembang serta menjadi serbuk kapur yang dikenal
sebagai kalsium hidroksida (Ca(OH)2).

5. Makna / Filosofi Bahan Berkapur-sirih

a. Sirih

Sirih melambangkan sifat rendah hati, memberi, serta senantiasa


memuliakan orang lain. Makna ini ditafsirkan dari cara tumbuh sirih yang
memanjat pada para-para, batang pohon sakat, atau batang pohon api-api
yang digemarinya, tanpa merusakkan batang atau apapun tempat ia hidup.
Daun sirih yang lebat dan rimbun memberi keteduhan di sekitarnya.

b. Kapur

Kapur melambangkan hati yang putih bersih serta tulus, tetapi jika keadaan
memaksa, ia akan berubah menjadi lebih agresif dan marah. Kapur
diperoleh dari hasil pemrosesan cangkang kerang atau pembakaran batu
kapur. Secara fisik, warnanya putih bersih, tetapi reaksi kimianya bisa
menghancurkan.

c. Gambir

Gambir memiliki rasa sedikit pahit, melambangkan kecekalan/keteguhan


hati. Makna ini diperoleh dari warna daun gambir yang kekuning-kuningan
serta memerlukan suatu pemrosesan tertentu untuk memperoleh sarinya,
sebelum bisa dimakan bersama sirih. Dimaknai bahwa sebelum mencapai
sesuatu, kita harus sabar melakukan proses untuk mencapainya.

d. Pinang

Pinang merupakan lambang keturunan orang yang baik budi pekerti, jujur,
serta memiliki derajat tinggi. Bersedia melakukan suatu pekerjaan dengan
hati terbuka dan bersungguh-sungguh. Makna ini ditarik dari sifat pohon
pinang yang tinggi lurus ke atas serta mempunyai buah yang lebat dalam
setandan.

e. Tembakau
Tembakau melambangkan hati yang tabah dan bersedia berkorban dalam
segala hal. Ini karena daun tembakau memiliki rasa yang pahit dan
memabukkan bila diiris halus sebagai tembakau, dan tahan lama disimpan.

(MAM/bdy/01/26-07)

Mahyudin Al Mudra, SH. MM., adalah pendiri dan pemangku Balai Kajian dan
Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), serta pemimpin Umum (PU)
MelayuOnline.com

Sumber :

Tepak Sirih. Mahyudin Al Mudra. BKPBM Yogyakarta. 2006.

Koleksi Kacip Samuel Eilenberg, London, dan koleksi BKPBM


Yogyakarta.

Alam Melayu. E. Rahman, dkk. Unri Press 2003.

http://www.pnm.my.

Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu