Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRATIKUM

MK. PENGETAHUAN BAHAN


Penentuan Densitas dan Sudut Curah

KELOMPOK 7
I GEDE ARIE MAHENDRA PUTRA 1411105036
ALMADEA SELA GRACIA GINTING 1411105037
NIDYA ELVIRA 1411105038
NI MADE INTEN KUSUMA DEWI 1411105039
FERDINANDUS OTNIEL SAHILATUA 1411105040
DEWA GEDE EKA PRAYOGA 1411105041
PRANITI RADYA ANDANA ILMA 1411105042

JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2015
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan pangan merupakan hasil dari produksi tumbuh-tumbuhan
dan hewan yang dikonsumsi oleh manusia, sedangkan produk pangan
adalah hasil penanganan atau pengolahan dari suatu bahan pangan. sifat
fisik bahan pangan berkaitan erat dengan sudut curah, densitas, dan
specific gravity. Hal-hal tersebut merupakan bagian dari karakteristik
fisik bahan pangan yang dapat diukur secara kuantitatif. Selain itu, sifat
fisik juga memiliki hubungan dengan mutu bahan pangan karena sebagai
informasi dasar dalam menentukan metode penanganan atau bagaimana
cara mendesain peralatan pengolahan terutama peralatan pengolahan
yang bersifat otomatis agar berjalan efisien.
Secara matematis, specific gravity menunjukkan kerapatan massa
yang dipengaruhi oleh gravitasi. Densitas adalah jumlah atau kuantitas
suatu zat pada suatu unit volume. Maka, untuk mempertahankan mutu
bahan produk pangan diperlukan pemahaman tentang sifat bahan pangan
serta faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan mutu, dan upaya
untuk menghambat penurunan mutu. Pemahaman sifat tersbut baik dari
segi fisik, thermal dan rheologi. Namun, yang dapat dilihat nyata dalam
penentuan sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat fisik.
1.2 Tujuan
Untuk menentukan densitas kamba pada gabah dan beras.
Untuk menentukan densitas nyata pada gabah dan beras.
Untuk menentukan sudut curah pada gabah dan beras.
1.3 Manfaat
Mengetahui jenisjenis pengeringan dan penyimpanan yang tepat
pada pengolahan gabah dan beras pasca panen.
Mampu membuat rancangan silo dan ruang penyimpanan sesuai
volume bahan.

Mampu membuat mesin kompresi mekanikal serta mesin lain yang


membutuhkan spesifikasi perbedaan densitas serta sudut curah
pada suatu bahan.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Densitas kamba (bulk density) merupakan salah satu karakter fisik
bijibijian yang sering kali digunakan untuk merencanakan suatu gudang
penyimpanan, volume alat pengolahan atau sarana transportasi,
mengkonversikan harga dan sebagainya. Densitas kamba adalah
perbandingan bobot bahan dengan volume yang ditempatinya, termasuk
ruang kosong diantara butiran bahan, (Syarief, 1988)
Densitas kamba menunjukkan perbandingan antara berat suatu bahan
terhadap volumenya. Densitas kamba merupakan sifat fisik bahan pangan
khusus biji-bijian atau tepung-tepungan untuk menentukan teknik
pengemasan dan penyimpanan. Bahan dengan densitas kamba yang kecil
akan membutuhkan tempat yang lebih luas dibandingkan dengan bahan
dengan densitas kamba yang besar untuk berat yang sama sehingga tidak
efisien dari segi tempat penyimpanan dan kemasan (Ade et al., 2009).
massa bahan ( gram )
Densitas Kamba=
volume bahan(ml)

Densitas nyata adalah perbandingan bobot bahan dengan volume


yang hanya ditempati oleh butiran bahan, tidak termasuk ruang kosong
diantaranya (Syarief, 1988)
massa bahan(gram)
Densitas Nyata=
selisih volume (ml)

Volume dan Densitas juga dapat berperan sebagai aplikasi-aplikasi,


seperti:
Pengeringan dan penyimpanan
Rancangan silo dan ruang penyimpanan
Mesin kompresi mekanikal
Pemisahan bahan-bahan asing
Penentuan kemurnian benih
Separasi dan grading
Evaluasi kematangan
Tekstur dan kelunakan buah
Estimasi ruang udara di dalam jaringan tanaman
Evaluasi kualitas produk seperti kacang kapri, jagung manis dan
kentang (densitas meningkat jika matang)
Sudut curah adalah sudut yang terbentuk antara bidang datar
dengan sisi miring curahan bila sejumlah biji dituangkan dengan cepat
diatas bidang datar. Sudut respons penting artinya untuk desain wadah,
fasilitas penyimpanan, dan alat-alat pembantu lain dalam pengolahan biji-
bijian.
Besar kecilnya sudut curah dapat dipengaruhi oleh besarnya
gesekan yang terjadi. Gesekan tersebut dapat dipengaruhi oleh ukuran,
bentuk, massa bahan, dan kadar air bahan. Selain pengaruh yang terdapat
pada bahan itu sendiri, sudut curah dipengaruhi pila oleh sifat alas tempat
curah biji-bijian. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi sudut curah
menurut Sahay dan Singh (1994), nilai sudut curah dari suatu bahan di
pengaruhi oleh bentuk, ukuran, kadar air, dan orientasi bahan.
Koefisien friksi antara materi granula sebanding dengan tangen

sudut dari friksi internal material tersebut. Hal ini dilakukan dengan cara
menuang beras (dengan bobot tertentu) ke atas permukaan rata dari
ketinggian 10-15 cm hingga membentuk sebuah gunungan. Kemudain
sudut curah dapat ditentukan dengan mengukur diameter curahan dan
tinggi curahan.

t 2t
tg= =
0 ,5 d d

Dengan : tg : Sudut curah ( )


t : Tinggi gundukan (cm)
d : Diameter gundukan (cm)
Sudut curah suatu bahan dapat dijadikan suatu indikator kasar
untuk menentukan kemudahan suatu bahan tersebut mengalir dalam sistem
pengepakan dan penyimpanan. Carr dan Peleg (1983) menyatakan bahwa
sudut curah sebesar 35 menandakan bahwa bahan tersebut mudah
mengalir, sudut curah 35-45 menandakan bahwa bahan tersebut sedikit
bersifat kohesi, sudut curah sebesar 45-55 menandakan bahwa bahan
bersifat kohesif (kehilangan sifat mudah mengalir), dan sudut curah 55
menandakan bahan bersifat sangant kohesif dan sulit mengalir.

III. METODE PRATIKUM


3.1 Bahan
Gabah
Beras
3.2 Alat
Timbangan digital Pensil
Gelas ukur Jangka
Gelas beker Kertas milimeter
2 buah penggaris
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Densitas Kamba
Disiapkan alat dan bahan.
Diukur gabah sebanyak 50 ml dengan gelas ukur.
Ditimbang gabah sebanyak 50 ml dengan timbangan digital.
Dicatat hasil pengamatan dan dihitung densitas kambanya.
Diulangi percobaan tersebut dengan menggunakan beras.
3.3.2 Densitas Nyata
Disiapkan alat dan bahan.
Diukur gabah sebanyak 10 gr pada timbangan digital.
Diukur toluene sebanyak 25 ml dengan gelas ukur
Dimasukkan 10 gr gabah ke dalam gelas ukur yang telah berisi
toluene.
Dicatat selisih antara volume awal dan akhir pada gelas ukur
dan dihitung densitas nyata-nya.
Diulangi percobaan tersebut dengan menggunakan beras.
3.3.3 Sudut Curah
Disiapkan alat dan bahan.
Diukur gabah sebanyak 500 ml dengan gelas beker.
Dituang gabah perlahan di atas kertas millimeter.
Diukur tinggi curah pada gabah serta diameternya dirata-
ratakan.
Dicatat hasil pengamatan dan dihitung sudut curahnya.
Diulangi percobaan tersebut dengan menggunakan beras.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
3.1 Densitas Kamba
3.2 N 3.3 B 3.4 Berat Bahan 3.5 Volume Bahan 3.6 Densitas
o ahan (g) (ml) Kamba (gr/ml)
3.8 G
3.7 1 3.9 24,5 3.1050 ml 3.110,49
abah
3.13B
3.122 3.1425,96 3.1550 ml 3.160,52
eras
3.4
3.17Densitas Nyata
3.18N 3.19B 3.20Berat Bahan 3.21Volume Bahan 3.22Densitas
o ahan (g) (ml) Nyata (gr/ml)
3.24G
3.231 3.2510 3.2610 3.271
abah
3.29B
3.282 3.3010 3.317 3.321,42
eras
3.5
3.6 Sudut Curah
3.9 Ti 3.10Diameter Curah (cm)
3.7 N 3.8 B nggi 3.11Sudut
3.16I 3.17I 3.18I 3.19Rata-
o ahan Curah 3.15I Curah (X0)
I II V Rata
(cm)
3.22G 3.235, 3.242 3.251 3.262 3.271
3.211 3.2820,025 3.2928,78
abah 5 cm 0,1 9,8 0,3 9,9
3.31B 3.325, 3.331 3.342 3.351 3.361
3.302 3.3719,8 3.3827,25
eras 1 cm 9,7 0,6 9,5 9,8
4.2 Pembahasan
3.39 Densitas Kamba
3.40 Pada praktikum densitas kamba yang dilakukan
menggunakan 2 bahan berbeda yaitu Gabah dan beras dengan
perbandingan volume bahan yang sama yaitu 50 ml diperoleh hasil berat
bahan yang berbeda yaitu pada gabah 24,5 gram sedangkan pada beras
25,96 gram. Dari hasil tersebut dapat dihitung Densitas Kamba pada
bahan dan mendapatkan hasil perbandingan yaitu Densitas kamba pada
Beras lebih tinggi dibandingkan densitas kamba pada gabah. Ini
dikarenakan perbandingan berat bahan yang didapat dari volume yang
sama dari kedua bahan (50ml) didapat berat bahan pada beras lebih tinggi
daripada gabah, sehingga saat dimasukan ke dalam rumus perhitungan
densitas kamba didapatkan hasil beras memiliki densitas kamba yang
lebih tinggi dibandingkan dengan gabah.
25,96 gr
DK beras : =0,52 gr /ml
3.41 50 ml

3.42
24,5 gr
DK gabah : =0,49 gr /ml
3.43 50 ml

3.44 Densitas Nyata


3.45 Pada praktikum atau percobaan yang dilakukan terhadap
gabah dan beras menunjukkan bahwa densitas nyata beras lebih tinggi
daripada densitas nyata gabah hal ini karena celah pada beras lebih kecil
daripada celah pada gabah sehingga bulir beras menjadi lebih rapat dan
membuat volumenya lebih kecil daripada gabah sehingga densitas
nyatanya lebih besar daripada gabah.
10 gr
Densitas Nyata beras = =1,42 gr /ml
3.46 7 ml
10 gr
Densitas Nyata gabah = =1 gr / ml
3.47 10 ml

3.48 Sudut Curah


3.49 Pada pratikum atau percobaan didapatkan hasil lebih besar sudut
curah pada gabah dibandingkan dengan sudut curah beras sebesar 1,530.
Namun, pada teori-teori yang ada seharusnya lebih besar sudut curahnya
adalah beras. Namun pada tingkat kemiringan sudut curah masih di
bawah 350 akan membuat bahan pangan lebih mudah mengalir.
Perbedaan hasil ini bisa terjadi karena adanya beberapa faktor kesalahan.
Kesalahan yang selalu muncul saat pratikum adalah human error.
Pengukuran tinggi dan diameter yang kurang tepat serta pengaruh
ketinggian penuangan gabah dan beras yang berbeda-beda sehingga
hasilnya berbeda. Dimana penuangan gabah jaraknya lebih jauh dan lebih
pelan penuangannya dibanding dengan beras yang agak rendah
dituangkan serta penuangannya lebih cepat. Hal ini terjadi karena orang
yang melakukan pratikum berbeda-beda.
5,5 2 x 5,5
tg gabah= = =28,78
3.50 0 , 5 x 20,025 20,25
5,1 2 x 5,5
tgberas = = =27,25
3.51 0 , 5 x 19,8 19,8

3.52
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
3.53 Berdasarkan pembahasan dalam laporan pratikum ini, dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
Beras memiliki densitas kamba lebih tinggi dibandingkan dengan
gabah.
Beras memiliki densitas nyata lebih tinggi dibandingkan dengan
gabah.
Gabah memiliki sudut curat lebih besar dibandingkan dengan beras.
3.54
5.2 Saran
3.55 Berdasarkan pembahasan dalam laporan pratikum ini, dapat
diajukan saran sebagai berikut:
Penelitian yang dilakukan harus lebih teliti dan jeli saat pengamatan.
Diuji bahan lainnya non-serealia agar bisa membandingkan dengan
densitas nyata dan kamba.
Adanya publikasi hasil pratikum sehingga dapat dipelajari oleh
orang lain.
3.56 DAFTAR PUSTAKA
3.57 Sofiatulandariah. 2011. Penyemangat Hidup Laporan IBM serealia dan
umbi-umbian. Diakses pada 1 Mei 2015.
3.58 Syarief, Rizal dan Anies Irawati. 1988. Pengetahuan Bahan Untuk Industri
Pertanian. PT.mediyatama sarana perkasa. Jakarta
3.59
3.60
3.61
3.62 LAMPIRAN
3.63 3.64

3.65 Gambar 1 3.66 Gambar 2


Pengukuran Densitas Pengukuran Gabah
Nyata Beras untuk Mengukur
Densitas Kamba
3.67 3.68

3.69 Gambar 3 3.70 Gambar 4


Pengukuran Sudut Curah Pengukuran Sudut Curah
pada Beras pada Gabah
3.71 3.72

3.73 Gambar 5 3.74 Gambar 6


Pengukuran Densitas Pengukuran Densitas
Kamba pada Beras Kamba pada Gabah
3.75