Anda di halaman 1dari 21

Ners Jurnal Keperawatan Volume 10.

No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

Pemberian Latihan Rentang Gerak Terhadap Fleksibilitas Sendi


Anggota Gerak Bawah Pasien Fraktur Femur Terpasang
Fiksasi Interna Di RSUP. Dr. M. Djamil Padang

Reni Prima Gusty (Fakultas keperawatan Unand)


Armayanti (RSUD M Djamil Padang)
email : renigusty@gmail.com

ABSTRAK : Gangguan fleksibilitas sendi anggota gerak bawah merupakan masalah yang sering terjadi pada
pasien fraktur femur pasca operasi pemasangan fiksasi interna. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah
gangguan ini dintaranya adalah melakukan latihan rentang gerak sendi sedini mungkin. Tujuan penelitian adalah
mengetahui pengaruh pemberian latihan rentang gerak terhadap kelenturan sendi anggota gerak bawah pada pasien
fraktur femur terpasang fiksasi interna. Rancangan penelitian menggunakan Quasy Eksperiment dengan pendekatan
Posttest Only Control Group. Sampel adalah pasien fraktur femur post fiksasi interna hari ke dua sebanyak 20
responden, dibagi dalam dua kelompok yaitu 10 responden mendapat latihan rentang gerak (eksperimen) dan 10
responden melakukan latihan rentang gerak tidak sesuai aturan penelitian (kontrol). Instrument menggunakan
goniometer. Perlakuan Latihan gerak dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore hari selama 5 hari dengan durasi 15
menit. Data dianalisa dengan uji statistik Mann Whitney. Hasil penelitian pada kelompok eksperimen didapatkan
rata-rata kelenturan sendi setelah diberikan latihan rentang gerak yaitu fleksi sendi panggul 68,5 derajat, fleksi sendi
lutut 61 derajat, dorsofleksi pergelangan kaki 12,5 derajat dan plantarfleksi pergelangan kaki 47 derajat, sedangkan
pada kelompok kontrol didapatkan rata-rata fleksi sendi panggul 45,5 derajat, fleksi sendi lutut 15,5 derajat,
dorsofleksi 1,5 derajat dan plantarfleksi 33,5 derajat. Berdasarkan uji statistik Mann Whitney didapatkan p=0,000
<0,05 yang menunjukkan ada perbedaan derajat kelenturan sendi pada kelompok eksperimen dibanding dengan
kelompok kontrol. Kesimpulan lebih besar peningkatan derajat kelenturan sendi pada kelompok eksperimen
dibanding dengan kelompok kontrol. Disarankan lakukan latihan gerak sendi post operasi fiksasi hari kedua (sedini
mungakin) sehingga dapat mencegah terjadinya kekakuan pada sendi pada pasien fraktur femur terpasang fiksasi
interna.

Kata Kunci : Fraktur femur, fiksasi interna, fleksibilitas sendi, latihan rentang gerak.

ABSTRACT : The disturbance of the flexibility of below range of motion joint is one of the problem that common
occur to the Femur Fracture in Patients post-operation lighted Interna Fixation. The attempt to prevent it is doing
range of motion. The goal of this research to know the influence of giving range of motion regarding to the Femur
Fractures patient lighted Interna fixation. The design of the research is using Quasy Experiment and Posttest Only
Control Group Design. The numbers of the samples are 20 fraktur femur patients. Divided into 2 groups : 10
patients get the motion extension training (experiment), 10 patients do the motion extension training not in control
(control). The research has been done in 16 October 2012 Jun 2013, collecting the data have been done in 16
march 2013 13 April 2013. The result of the research, the experiment group gets the averages of hinge flexibility
after giving the range of motion, hip joint flexibility 68,5 degrees, knee joint flexibility 61 degrees, dorsoflexy ankle
joint 12,5 degrees and plantarflexy ankle joint 47 degrees, and the control group gets the averages of joint
flexibility, hip joint flexibility 45,5 degrees, knee joint flexibility 15,5 degrees, dorsoflexy 1,5 degrees and platarflexy
33,5 degrees. Based on Mann Whitney statistic test show that there are significant differences range of motion
between experiment group and control group. Conclusion: giving the range of motion can prevent the disturbance of
joint flexibility to the Femur Fractures patients lighted interna fixation

Key words : Femur Fractures, post-operation, hinge flexibility, motion extension training.

Bibliography : 34 ( 1993-2012)

176
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas pelvic, upper limbs and lower limbs.
jaringan tulang dan / atau tulang rawan yang Principles of fracture treatment include
umumnya disebabkan oleh rudapaksa reduction, immobilization, return of
(Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Fraktur function, and normal strength with
femur adalah suatu patahan pada kontinuitas rehabilitation. Reduction can be done in
struktur tulang paha yang ditandai adanya open or closed. Open reduction (open
deformitas yang jelas yaitu pemendekan reduction) is done surgically by inserting
tungkai yang mengalami fraktur dan fixation devices such as plates, screws, wire
hambatan mobilitas fisik yang nyata or pin into the bone. Internal fixation can be
(Muttaqin, 2008). Fraktur dapat terjadi carried out and ekterna, depending on the
akibat peristiwa trauma langsung, tekanan shape of the fracture (Smeltzer & Bare,
yang berulang-ulang, dan kelemahan 2002).
abnormal pada tulang (fraktur patologik) Fiksasi interna (open reduksi internal
(Salamon dkk, 1995). Fraktur terbagi atas fiksasi) adalah metode pembedahan
fraktur komplet, fraktur tidak komplet, memperbaiki fraktur dengan menggunakan
fraktur tertutup, fraktur terbuka, dan fraktur plate dan screw atau intramedulla nail untuk
patologis. Fraktur bisa terjadi didaerah menstabilkan tulang (Cluett, 2008). Fiksasi
cranium, thorak, pelvis, anggota gerak atas, interna dilaksanakan dalam rangka
dan anggota gerak bawah. Prinsip memperbaiki fungsi dengan mengembalikan
penanganan fraktur meliputi reduksi, gerakan, stabilitas, disabilitas dan
imobilisasi, pengembalian fungsi, dan mengurangi nyeri. Akibat adanya fraktur
kekuatan normal dengan rehabilitasi. mengakibatkan terjadinya keterbatasan
Reduksi dapat dilakukan secara terbuka gerak, terutama di daerah sendi yang fraktur
maupun tertutup. Reduksi terbuka (open dan sendi yang ada di daerah sekitarnya.
reduksi) dilakukan melalui pembedahan Karena keterbatasan gerak tersebut
dengan cara memasukkan alat fiksasi berupa mengakibatkan terjadinya keterbatasan
plat, screw, wire atau pin kedalam tulang. lingkup gerak sendi dan mengakibatkan
Fiksasi dapat dilaksanakan secara interna terjadinya gangguan pada fleksibilitas sendi.
maupun ekterna, tergantung dari bentuk Fleksibilitas sendi adalah luas bidang
frakturnya (Smeltzer & Bare, 2002). gerak yang maksimal pada persendian, tanpa
A fracture is a break of continuity of dipengaruhi oleh suatu paksaan atau tekanan
bone tissue and / or cartilage which is (Fatmah, 2010). Terjadinya gangguan
generally caused by involuntary fleksibilitas sendi akibat suatu keadaan
(Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Femoral antara lain kelainan postur, gangguan
fracture is a fracture in the continuity of the perkembangan otot, kerusakan system saraf
femur structure characterized by a clear pusat, dan trauma langsung pada system
deformity that is shortening the leg fracture musculoskeletal, misalnya fraktur yang
and a real physical mobility barriers menimbulkan respon nyeri pada daerah yang
(Muttaqin, 2008). Fractures may occur as a sakit (Potter & Perry, 2005). Dari hasil
result of direct trauma events, repetitive penelitian Yandri (2011), ditemukan 3 kasus
stress, and abnormal weakness on bone (15%) dari 20 orang pasien fraktur femur
(pathologic fracture) (Salamon et al, 1995). terpasang fiksasi interna mengalami
Divided into fracture complete fracture, the gangguan fleksibilitas sendi lutut. Adapun
fracture is not complete, closed fractures, pencegahan yang dapat dilakukan adalah
open fractures, and pathologic fractures. dengan cara melakukan mobilisasi dini.
Fractures can occur areas cranium, thoracic,

177
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

Mobilisasi adalah kemampuan untuk hasil nyeri berkurang, rentang gerak panggul
bergerak dengan bebas mudah, berirama, kanan aktif dan pasif, kekuatan otot
terarah di lingkungan dan merupakan bagian meningkat, oedema berkurang dan aktifitas
yang sangat penting dalam kehidupan fungsional meningkat dan dapat dievaluasi
(Kozier dkk, 2010). Mobilisasi mengacu bahwa pasien dalam melakukan aktifitas
pada kemampuan seseorang untuk bergerak sehari-hari sudah dapat berjalan sendiri,
dengan bebas, berfokus pada rentang gerak, biarpun masih dibantu dengan kruk. Dari
gaya berjalan, latihan, toleransi aktifitas dan pengalaman peneliti selama bertugas di
kesejajaran tubuh (Potter & Perry, 2006). ruang Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang
Menurut Doherty (2006), pada pasien pasca sejak tahun 1989-2007, pelaksanaan latihan
operasi memerlukan perubahan posisi rentang gerak pada pasien fraktur femur
kecuali melakukannya merupakan terpasang fiksasi interna belum terlaksana
kontraindikasi, posisi pasien diubah setiap dengan baik. Standar Operasional Prosedur
30 menit dari sisi ke sisi sampai sadar dan juga belum tersedia diruangan. Ini diketahui
kemudian dilakukan mobilisasi dini 8-12 dari hasil wawancara dengan SPF dan
jam pertama. Menurut hasil wawancara beberapa orang Kepala Ruangan. Advis
dengan 2 orang dokter residen bedah dokter mengenai mobilisasi ada ditemukan,
mobilisasi sebaiknya dilakukan sedini tapi belum terlaksana dengan baik.
mungkin, sedangkan wawancara dengan ahli Penyuluhan rentang gerak ada dilakukan,
fisioterapis dapat dilaksanakan bila tanda- namun tindak lanjut dan evaluasinya tidak
tanda dari peradangan tidak ada dan dapat berjalan sesuai yang diharapkan.
dilaksanakan 24 jam pasca operasi. Berdasarkan hasil studi pendahuluan
Rentang gerak (Range of Motion) yang dilakukan peneliti pada tanggal 18
adalah pergerakan maksimal yang mungkin Oktober 2012 sampai dengan 27 Oktober
dilakukan oleh sendi tersebut (Kozier dkk, 2012 di Ruang Rawat Inap Trauma Centre,
2010). Rentang gerak merupakan jumlah dari empat orang pasien dengan fraktur
maksimum gerakan yang mungkin femur terpasang fiksasi interna didapatkan
dilakukan sendi pada salah satu dari tiga tiga orang klien mengalami gangguan
potongan tubuh: sagital, frontal, dan fleksibilitas sendi lutut dengan fleksi kurang
transversal (Potter & Perry, 2005). Untuk dari 700. Hasil wawancara dengan pasien
mempertahankan dan meningkatkan gerakan didapat keluhan pasien merasa takut
sendi, latihan rentang gerak harus dimulai melakukan latihan rentang gerak karena
segera mungkin setelah pembedahan, lebih sakit dan juga tidak adanya penyuluhan
baik dalam 24 jam pertama dan dilakukan di mengenai manfaat dilakukan latihan rentang
bawah pengawasan untuk memastikan gerak. Ini dapat dilihat dari perilaku perawat
bahwa mobilisasi dilakukan dengan tepat yang belum melaksanakan latihan rentang
serta dengan cara yang aman (Smeltzer & gerak pada pasien pasca operasi fraktur
Bare, 2002), tapi ini belum berjalan dengan terpasang fiksasi interna. Akibat
semestinya. Hal ini disebabkan karena keterlambatan dalam pendeteksian,
adanya perasaan nyeri akibat dari tindakan mengakibatkan terjadinya gangguan
pembedahan yang dilakukan. Dari hasil fleksibilitas sendi, yang akhirnya pasien
penelitian yang dilakukan oleh Astuti dirujuk ke fisioterapi.
(2006), setelah dilakukan rentang gerak aktif
pada pasien post operasi fraktur femur 1/3 A. Penetapan Masalah
medial dextra dengan pemasangan plate dan Oleh sebab itu peneliti
screw, sebanyak 6 kali latihan didapatkan merumuskan masalah penelitian apakah

178
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

ada pengaruh pemberian latihan rentang rentang gerak dan yang bergerak
gerak terhadap fleksibilitas sendi anggota tidak sesuai aturan penelitian
gerak bawah pada pasien fraktur femur pada pasien fraktur femur
terpasang fiksasi interna di Ruang terpasang fiksasi interna di
Trauma Centre RSUP Dr. M. Djamil ruang rawat Trauma Centre
Padang. RSUP Dr. M. Djamil Padang.

C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian


1. Tujuan Umum 1. Bagi Pelayanan Keperawatan
Diketahui pengaruh pemberian Penelitian ini diharapkan menjadi
latihan rentang gerak terhadap bahan intervensi yang spesifik dalam
fleksibilitas sendi anggota gerak konteks asuhan keperawatan pada
bawah pada pasien fraktur femur pasien dengan fraktur ekstremitas
terpasang fiksasi interna di Ruang bawah dengan mendesiminasikan
Trauma Centre RSUP Dr. M. Djamil dan mensosialisasikan kepada
Padang. pemegang kebijakan serta perawat
2. Tujuan Khusus pelaksana untuk dijadikan acuan
a. Diidentifikasi fleksibilitas sendi guna meningkatkan mutu pelayanan
anggota gerak bawah yang keperawatan khusunya untuk
meliputi fleksibilitas fleksi sendi mencegah terjadinya masalah
panggul, fleksi sendi lutut, gangguan fleksibilitas sendi.
dorsofleksi dan plantarfleksi 2. Bagi Institusi Rumah Sakit
pergelangan kaki pada pasien Hasil penelitian ini diharapkan
fraktur femur terpasang fiksasi memberikan masukan dan bahan
interna setelah diberi latihan pertimbangan dalam penyusunan dan
rentang gerak di ruang rawat pembuatan standar operasional
Trauma Centre RSUP Dr. M. prosedur (SOP) latihan rentang gerak
Djamil Padang. untuk mencegah terjadinya masalah
b. Diidentifikasi fleksibilitas sendi gangguan fleksibilitas sendi.
anggota gerak bawah yang 3. Bagi Penelitian Selanjutnya
meliputi fleksibilitas fleksi sendi Penelitian ini diharapkan dapat
panggul, fleksi sendi lutut, menjadi rujukan dan data dasar bagi
dorsofleksi dan plantarfleksi penelitian berikutnya terutama yang
pergelangan kaki pada pasien terkait dengan pengaruh pemberian
fraktur femur terpasang fiksasi latihan rentang gerak terhadap
interna yang bergerak tidak fleksibilitas sendi anggota gerak
sesuai aturan penelitian di ruang bawah pada pasien fraktur femur.
rawat Trauma Centre RSUP Dr.
M. Djamil Padang.
c. Diidentifikasi perbedaan A. Jenis dan Desain Penelitian
fleksibilitas sendi anggota gerak Penelitian ini adalah penelitian
bawah yang meliputi kuantitatif dengan menggunakan desain
fleksibilitas fleksi sendi panggul, Quasy Eksperiment dengan pendekatan
fleksi sendi lutut, dorsofleksi Posttest Only Control Group Design
dan plantarfleksi pergelangan (Notoatmojo, 2010). Pada kelompok
kaki sesudah diberi latihan eksperimen latihan rentang gerak

179
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

dimulai pada hari kedua pasca operasi. dilakukan selama 3 hari dengan durasi
Latihan rentang gerak dilakukan selama 15 menit, dengan 5 kali pengulangan
3 hari dengan durasi 15 menit, dengan 5 setiap sendi dengan sesi 2 kali sehari
kali pengulangan setiap sendi dengan pagi dan sore hari ada dianjurkan, tapi
sesi 2 kali sehari pagi dan sore hari. dalam penatalaksanaannya latihan
Rentang gerak diukur tingkat rentang gerakdilakukan tidak sesuai
fleksibilitas sendinya (posttest), pada aturan penelitian. Pengukuran
hari kelima post operasi, sedangkan fleksibilitas sendi (posttest) tetap
pada kelompok control, dilakukan. sama dengan kelompok
penatalaksanaan rentang gerak dimulai eksperimen, yaitu hari kelima post
pada hari kedua pasca operasi, operasi.

Rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut:


Subjek Intervensi Posttest

Kelompok Eksperimen X1 O1 (E)


Kelompok Kontrol X2 O2 (P)

Keterangan:
KE : Kelompok Eksperimen
X1 : Pemberian latihan rentang gerak
O1 (E) : Pengukuran nilai fleksibilitas sendi kelompok eksperimen
KP : Kelompok control
X2 : Melakukan latihan rentang gerak tidak sesuai dengan aturan penelitian
O2 (P) : Pengukuran nilai fleksibilitas sendi kelompok kontrol.

B. Populasi dan Sampel Penelitian Sampel adalah bagian dari


1. Populasi Penelitian populasi yang diambil dari
Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti
keseluruhan objek penelitian atau dan dianggap mewakili seluruh
objek yang akan diteliti populasi (Notoatmodjo, 2010).
(Notoatmodjo, 2010). Populasi Sampel yang digunakan dalam
dalam penelitian ini adalah penelitian ini adalah klien dengan
seluruh pasien fraktur femur yang fraktur femur terpasang fiksasi
terpasang fiksasi interna di ruang interna dan memenuhi kriteria
rawat inap Trauma Centre RSUP inklusi.
Dr. M. Djamil Padang selama Teknik sampling yang
bulan Oktober 2012 sampai digunakan dalam penelitian ini
dengan Desember 2013 dengan adalah Non Probability Sampling
rata-rata perbulan 10 - 15 orang yaitu Purposive Sampling.
pasien. Purposive Sampling adalah teknik
penetapan sampel berdasarkan
2. Sampel Penelitian pertimbangan tertentu yang

180
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

dibuat oleh peneliti sendiri Penelitian ini dilaksanakan di


berdasarkan ciri-ciri atau sifat- ruang rawat inap Trauma Centre
sifat populasi yang sudah RSUP Dr. M. Djamil Padang. Waktu
diketahui sebelumnya penelitian dilaksanakan pada bulan
(Notoatmodjo, 2010). Jumlah Oktober 2012 - Mei 2013, dan
sampel yang ditetapkan menurut pengumpulan data telah
Sugiyono (2010) untuk penelitan dilaksanakan pada 16 Maret 2013
eksperimen sederhana adalah 13 April 2013.
antara 10 sampai 20 sampel. Pada
penelitian ini jumlah sampel yang D. Variabel dan Defenisi Operasional
telah diambil adalah 10 orang 1. Variabel Penelitian
kelompok eksperimen dan 10 a. Variabel bebas atau variabel
orang kelompok kontrol. independen yaitu veriabel
3. Kriteria Sampel yang mempengaruhi. Variabel
a. Kriteria Inklusi independen dalam penelitian
1) Bersedia menjadi ini adalah pemberian latihan
responden dan diberi rentang gerak.
perlakuan latihan b. Variabel terikat/dependen
rentang gerak dan yang yaitu yang dipengaruhi.
melakukan latihan Variabel terikat dalam
rentang gerak tidak penelitian ini adalah
sesuai aturan penelitian. fleksibilitas sendi.
2) Dapat berkomunikasi
dengan baik. E. Instrumen Penelitian
3) Pasien pasca operasi Instrumen penelitian yang dipakai
fraktur femur terpasang adalah Goniometer yang digunakan
fiksasi interna lebih dari dalam pengukuran sendi pasien yang
48 jam. mengalami fraktur femur terpasang
4) Pasien yang belum fiksasi interna yang telah dilakukan
melakukan latihan latihan rentang gerak dan yang
rentang gerak. bergerak tidak sesuai aturan
5) Pasien tidak ada penelitian.
menderita penyakit 1) Latihan gerak dilakukan
system musculoskeletal dengan durasi 15 menit,
seperti tumor tulang. dengan 5 kali
6) Pasien tidak ada pengulangan setiap sendi
menderita penyakit dengan sesi 2 kali sehari
neurologis pagi dan sore hari.
7) Pasien berumur 15-45 F. Teknik Analisa Data
tahun. 1. Analisa Univariat
b. Kriteria Eklusi Analisis univariat
1) Pasien pulang sebelum dilakukan untuk menjelaskan
terapi selesai dilakukan. karakteristik masing-masing
2) Pasien terpasang traksi. variabel yang diteliti. Variabel
yang dianalisis dalam penelitian ini
C. Tempat dan Waktu Penelitian adalah umur, jenis kelamin,

181
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

diagnosa medis dan gambaran untuk mengetahuinya dilakukan


fleksibilitas sendi panggul, lutut, uji normalitas. Uji statistik untuk
dan pergelangan kaki pada pasien seluruh analisis tersebut diatas
fraktur femur terpasang fiksasi dianalisis dengan tingkat
interna. Penyajian data kategorik kemaknaan 95% (alpha 0.05%).
seperti umur, jenis kelamin, dan Uji statistik non parametrik
diagnosa medis menggunakan yang digunakan untuk menguji
persentase atau proporsi. Kategori perbedaan mean antara dua
umur menurut Depkes RI, (2009) kelompok yang independen
adalah 15-25 tahun (masa remaja memakai uji Mann Whitney.
akhir, 26-35 tahun (masa dewasa
awal), dan 36-45 tahun (masa HASIL PENELITIAN
dewasa akhir). Sedangkan
diagnosa medis meliputi fraktur
femur 1/3 proximal, tengah dan
A. Gambaran Umum Penelitian
distal. Penyajian data numerik
Penelitian dilakukan terhadap
seperti gambaran fleksibilitas
pasien fraktur femur terpasang
sendi panggul, lutut, dan
fiksasi interna yang dirawat di ruang
pergelangan kaki menggunakan
rawat Trauma Centre RSUP Dr. M.
nilai mean, standar deviasi,
Djamil Padang dari tanggal 16 Maret
minimum, dan maksimum.
2013 sampai dengan 13 April 2013
2. Analisa Bivariat
dengan jumlah responden 20 orang
Analisis bivariat dilakukan
yang memenuhi kriteria sampel yang
untuk membuktikan hipotesis
telah ditentukan. Responden dibagi
penelitian yaitu pemberian latihan
menjadi dua kelompok, yaitu 10
rentang gerak berpengaruh
responden dijadikan kelompok
terhadap fleksibilitas sendi
eksperimen yang diberikan latihan
anggota gerak bawah pada pasien
rentang gerak dan 10 responden
fraktur femur terpasang fiksasi
dijadikan kelompok kontrol yang
interna. Sebelum menentukan
melakukan latihan rentang gerak
jenis analisis bivariat yang
tidak sesuai aturan penelitian.
digunakan, terlebih dahulu
Responden adalah pasien fraktur
dilakukan uji normalitas untuk
femur terpasang fiksasi interna yang
jenis data numerik dengan Shapiro
dirawat di ruang rawat inap Trauma
Wilk.
Centre RSUP Dr. M. Djamil Padang
Data numerik sebagai hasil
Tahun 2013. Selanjutnya ditampilkan
penelitian umumnya mengikuti
data karakteristik pasien
distribusi normal, namun tidak
berdasarkan umur, jenis kelamin,
mustahil sekumpulan data
dan diagnosa medik.
numerik tidak mengikuti asumsi
distribusi normal, oleh karena itu

182
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Karakteristik Umur, Jenis Kelamin dan
Diagnosis Medis pada Kedua Kelompok Pasien Di Ruang Rawat Trauma Centre
RSUP Dr.M.Djamil Padang Tahun 2013

Kelompok Kelompok
No Karakteritik Kriteria Eksperimen Kontrol
f % F %
1 Umur 15-25 tahun 5 50 4 40
26-35 tahun 2 20 1 10
36-45 tahun 3 30 5 50
Jumlah 10 100 10 100
2 Jenis Kelamin Laki-laki 7 70 7 70
Perempuan 3 30 3 30
Jumlah 10 100 10 100
3 Diagnosa Fraktur Femur 1/3 Distal 2 20 3 30
Medik Fraktur Femur 1/3 Tengah 6 60 4 40
Fraktur Femur 1/3 Proksimal 2 20 3 30
Jumlah 10 100 10 100

Berdasarkan tabel 3, pada kelompok usia 36-45 tahun.


memperlihatkan karakteristik dari 20 Proporsi pasien dilihat dari jenis kelamin
orang pasien penelitian yang terdiri dari pada kedua kelompok adalah sama yaitu
10 orang pasien kelompok yang diberikan 70 % pasien berjenis kelamin laki-laki.
latihan rentang gerak dan 10 orang Terakhir, proporsi pasien dilihat dari
pasien yang melakukan latihan rentang diagnosa medik, pada kelompok
gerak tidak sesuai dengan aturan eksperimen lebih dari seperuh pasien 60
penelitian. Proporsi pasien berdasarkan % dengan diagnosa fraktur femur 1/3
usia, pada kelompok eksperimen separuh tengah, begitu juga dengan kelompok
pasien (50 %) dengan kelompok usia 15- kontrol hampir separuh pasien 40 %
25 tahun, sedangkan pada kelompok dengan diagnosa medik fraktur femur 1/3
kontrol separuh pasien (50 %) berada tengah.

B. Analisa Univariat

183
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

Tabel 4 Gambaran Fleksibilitas Sendi Panggul, Lutut dan Pergelangan Kaki pada Pasien
Fraktur Femur Terpasang Fiksasi Interna yang Mendapatkan Latihan Rentang
Gerak di Ruang Rawat Trauma Center RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2013

Kelompok Eksperimen
Panggul Lutut Pergelangan Kaki
NO Derajat Derajat Derajat Derajat
Fleksi Fleksi Dorsofleksi Plantarfleksi

1 60 65 15 45
2 75 50 20 50
3 75 65 10 45
4 60 70 15 45
5 80 60 10 45
6 60 60 10 50
7 75 70 15 45
8 65 70 15 45
9 75 50 10 50
10 60 50 5 50
Minimum 60 50 5 45
Maximum 80 70 20 50
Mean 68.5 61 12.5 47.0
Std. 8.18 8.43 4.25 2.58
deviation

Berdasarkan tabel 4, rata-rata 50 derajat. Rata-rata fleksibilitas


fleksibilitas fleksi sendi panggul adalah dorsofleksi adalah 12.5 derajat dengan
68.5 derajat dengan rentang tertinggi rentang tertinggi 20 dan terendah 5
adalah 80 derajat dan terendah adalah derajat, sedangkan rata-rata
60 derajat. Rata-rata fleksibilitas fleksi fleksisibilitas plantarfleksi adalah 47.0
sendi lutut adalah 61 derajat dengan derajat dengan rentang tertinggi 50
rentang tertinggi 70 derajat dan terendah derajat dan terendah 45 derajat.

Tabel 5 Gambaran Fleksibilitas Sendi Panggul, Lutut dan Pergelangan Kaki pada Pasien
Fraktur Femur Terpasang Fiksasi Interna yang Melakukan Latihan Rentang
Gerak Tidak Sesuai Dengan Aturan Penelitian di Ruang Rawat Trauma Center
RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2013

Kelompok Kontrol
No
Panggul Lutut Pergelangan Kaki

184
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

Derajat Derajat Derajat Derajat


Fleksi Fleksi Dorsofleksi Plantarfleksi

1 45 15 0 35
2 40 20 5 30
3 50 20 0 45
4 50 10 0 30
5 45 15 0 25
s6 45 20 5 30
7 50 20 0 30
8 50 15 5 45
9 40 10 0 35
10 40 10 0 30
Minimum 40 10 0 25
Maximum 50 20 5 45
Mean 45.5 15.50 1.5 33.5
Std. 4.4 4.3 2.4 6.7
deviation

Berdasarkan tabel 5, rata-rata derajat. Dan rata-rata fleksibilitas


fleksibilitas fleksi sendi panggul adalah dorsofleksi adalah 1.5 derajat dengan
45.5 derajat dengan rentang tertinggi rentang tertinggi 5 dan terendah 0
adalah 50 derajat dan terendah adalah 40 derajat, sedangkan rata-rata fleksibilitas
derajat. Rata-rata fleksibilitas fleksi sendi plantarfleksi adalah 33.5 derajat dengan
lutut adalah 15.5 dengan rentang rentang tertinggi 45 derajat dan terendah
tertinggi 20 derajat dan terendah 10 25 derajat.

C. Analisa Bivariat < 0.05 dapat disimpulkan data


Sebelum analisa bivariat, berdistribusi tidak normal, maka
dilakukan uji normalitas untuk uji non parametrik yang
menentukan uji yang akan dilakukan digunakan adalah uji Mann
baik pada kelompok eksperimen yang Whitney.
diberikan latihan rentang gerak, 2. Hasil uji normalitas pada tabel
maupun pada kelompok kontrol yang Shapiro-Wilk untuk variabel
melakukan latihan rentang gerak fleksibilitas fleksi sendi lutut pada
tidak sesuai dengan aturan kelompok eksperimen nilai p=
penelitian. 0.041 sedangkan pada kelompok
1. Hasil uji normalitas pada tabel kontrol nilai p = 0.017 karena
Shapiro-Wilk untuk variabel kedua kelompok mempunyai
fleksibilitas fleksi sendi panggul, kemaknaan < 0.05 dapat
didapatkan pada kelompok disimpulkan data berdistribusi
eksperimen nilai p= 0.012 tidak normal, maka uji non
sedangkan pada kelompok kontrol parametrik yang digunakan
nilai p = 0.017 karena kedua adalah uji Mann Whitney.
kelompok mempunyai kemaknaan

185
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

3. Hasil uji normalitas pada tabel 4. Hasil uji normalitas pada tabel
Shapiro-Wilk untuk variabel Shapiro-Wilk untuk variabel
fleksibilitas dorsofleksi pada fleksibilitas plantarfleksi pada
kelompok eksperimen nilai p= kelompok eksperimen nilai p=
0.258 sedangkan pada kelompok 0.000 sedangkan pada kelompok
kontrol nilai p = 0.000 karena kontrol nilai p = 0.021 karena
salah satu nilai mempunyai kedua kelompok mempunyai
kemaknaan < 0.05 dapat kemaknaan < 0.05 dapat
disimpulkan data berdistribusi disimpulkan data berdistribusi
tidak normal, maka uji tidak normal, maka uji non
parametrik yang digunakan parametrik yang digunakan
adalah uji Mann Whitney. adalah uji Mann Whitney.

Tabel 6 Analisis Perbedaan Fleksibilitas Fleksi Sendi Panggul Pasien pada Kelompok
Eksperimen yang diberikan Latihan Rentang Gerak dan pada Kelompok Kontrol yang
Melakukan Latihan Rentang Gerak tidak Sesuai Aturan Penelitian Pada Pasien Fraktur
Femur Di Ruang Rawat Trauma Center RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2013

Kelompok
N Mean Rank Z p value
Responden
Fleksibilitas Eksperimen 10 15.5
Fleksi Sendi 0 -3.84 0,000
Panggul Variabel 10 5.5

Hasil analisis data didapatkan rata- antara kelompok eksperimen yang diberikan
rata rentang gerak fleksi sendi panggul pada latihan rentang gerak dan kelompok kontrol
kelompok eksperimen adalah 15.5 derajat, yang melakukan latihan rentang gerak tidak
sedangkan pada kelompok kontrol adalah sesuai aturan penelitian (p value = 0.000 <
5.5 derajat. Hasil uji statistic Mann Whitney 0.05).
dapat disimpulkan ada perbedaan yang
signifikan rentang gerak fleksi panggul

Tabel 7 Analisis Perbedaan Fleksibilitas Fleksi Sendi Lutut Pasien pada Kelompok Eksperimen
yang diberikan Latihan Rentang Gerak Sendi dan pada Kelompok Kontrol yang
Melakukan Latihan Rentang Gerak tidak Sesuai Aturan Penelitian Pada Pasien Fraktur
Femur Di Ruang Rawat Trauma Center RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2013

Kelompok Mean
Variabel N Z p value
Responden Rank
Fleksibilitas Eksperimen 10 15.5
Fleksi Sendi 0 -3.82 0,000
Lutut Kontrol 10 5.5

186
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

Hasil analisis data didapatkan rata- kelompok eksperimen yang diberikan


rata rentang gerak fleksi lutut pada latihan rentang gerak dan kelompok kontrol
kelompok eksperimen adalah 15.5 derajat, yang melakukan latihan rentang gerak tidak
sedangkan pada kelompok kontrol adalah sesuai aturan penelitian (p value= 0.000
5.5 derajat. Hasil uji statistik Mann Whitney <0.05).
dapat disimpulkan ada perbedaan yang
signifikan rentang gerak fleksi lutut antara

Tabel 8 Analisis Perbedaan Fleksibilitas Dorsofleksi Pergelangan Kaki Pasien pada Kelompok
Eksperimen yang diberikan Latihan Rentang Gerak dan pada Kelompok Kontrol yang
Melakukan Latihan Rentang Gerak tidak Sesuai Aturan Penelitian Pada Pasien Fraktur
Femur Di Ruang Rawat Trauma Center RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2013

Kelompok Mean
Variabel N Z p value
Responden Rank
Fleksibilitas Eksperimen 10 15.35
Dorsofleksi 0 -3.791 0,000
Pergelangan Kaki Kontrol 10 5.65

Hasil analisis data didapatkan rata- disimpulkan ada perbedaan yang signifikan
rata rentang gerak dorsofleksi pada rentang gerak dorsofleksi antara kelompok
kelompok eksperimen adalah 15,35 derajat, eksperimen dan kelompok control (p
sedangkan pada kelompok kontrol adalah value= 0.000 <0.05).
5.65. Hasil uji statistic Mann Whitney dapat

Tabel 9 Analisis Perbedaan Fleksibilitas Plantarfleksi Pergelangan Kaki Pasien pada Kelompok
Eksperimen yang diberikan Latihan Rentang Gerak dan pada Kelompok Kontrol yang
Melakukan Latihan Rentang Gerak tidak Sesuai Aturan Penelitian Pada Pasien Fraktur
Femur Di Ruang Rawat Trauma Center RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2013

Kelompok Mean
Variabel N Z p value
Responden Rank
Fleksibilitas Eksperimen 10 14.9
Plantarfleksi 0 -3.48 0,000
Pgelangan Kaki Kontrol 10 6.10

Hasil analisis data didapatkan rata- 6.1. Hasil uji statistic Mann Whitney dapat
rata rentang gerak plantarfleksi pada disimpulkan ada perbedaan yang signifikan
kelompok eksperimen adalah 14.9 derajat, rentang gerak plantarfleksi antara kelompok
sedangkan pada kelompok kontrol adalah

187
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

eksperimen dan kelompok kontrol (p value= 0.000 <0.05).

PEMBAHASAN sedangkan untuk plantarfleksi dengan


rentang normal 45-50 derajat didapat
A. Fleksibilitas Sendi Pada Pasien peningkatan nilai yang sangat signifikan.
Fraktur Femur Terpasang Fiksasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Interna Setelah Pemberian Latihan setelah diberikan latihan rentang gerak
Rentang Gerak (Kelompok selama 3 hari dengan frekuensi 2 kali sehari
Eksperimen) selama 15 menit menunjukkan hasil yang
memuaskan dalam mengatasi gangguan
Berdasarkan hasil analisis penelitian fleksibilitas sendi. Hasil penelitian ini
dari 10 orang pasien kelompok eksperimen, berkorelasi dengan penelitian yang
didapatkan hasil dari fleksi sendi panggul dilakukan oleh Astuti (2006), setelah
dengan nilai maximum 80 derajat dan dilakukan rentang gerak aktif pada pasien
minimum 60 derajat, pada fleksi sendi lutut post operasi fraktur femur 1/3 medial dextra
di dapatkan nilai maximum 70 derajat dan dengan pemasangan plate dan screw,
minimum 50 derajat. Selanjutnya dorsofleksi sebanyak 6 kali latihan didapatkan hasil,
sendi pergelangan kaki didapatkan nilai rentang gerak panggul kanan aktif dan pasif,
maximum 20 derajat dan minimum 5 kekuatan otot meningkat, nyeri berkurang,
derajat. Sedangkan untuk plantarfleksi sendi oedema berkurang dan aktifitas fungsional
pergelangan kaki di dapat nilai maximum 50 meningkat dan dapat dievaluasi bahwa
derajat dan minimum 45 derajat. pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hari
Berdasarkan teori yang dikemukakan sudah dapat berjalan sendiri, walaupu masih
oleh Potter dan Perry (2005), rentang normal dibantu dengan kruk.
fleksi sendi panggul adalah 90- 120 derajat, Hasil penelitian Astuti (2006) ini
jika dibandingkan dengan hasil yang didapat juga perkuat oleh Werner (2009) yang
ada peningkatan nilai yang signifikan dan menyatakan bahwa latihan rentang gerak
mendekati nilai normal. Pada sendi lutut di yang dilakukan secara teratur dapat
dapatkan rentang normal 120-130 derajat meningkatkan kekuatan otot pada klien yang
dan dibandingkan dengan hasil latihan yang mengalami gangguan atau keterbatasan
diberikan pada sendi lutut terdapat fungsi motorik. Latihan rentang gerak yang
peningkatan, walaupun sebahagian. dilakukan secara kontinyu sepanjang hidup
Selanjutnya, dorsofleksi pergelangan kaki dapat mempertahankan fungsi sendi serta
dengan rentang normal 20-30 derajat mencegah terjadinya gangguan fleksibilitas
dibandingkan hasil yang didapat lebih dari dan deformitas.
separuh pasien mendekati normal,

188
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

Nilai fleksibilitas sendi pada Menurut teori yang dikemukakan


kelompok eksperimen yang diberikan oleh Tseng dkk (2007) dan Smeltzer dan
latihan rentang gerak menunjukkan dari Bare (2002), latihan rentang gerak bertujuan
keempat nilai fleksibilitas sendi (sendi untuk mempertahankan fleksibilitas dan
panggul, lutut dorsofleksi dan plantarfleksi mobilitas sendi, mengembalikan kontrol
pergelangan kaki), fleksibilitas sendi lutut motorik, meningkatkan/ mempertahankan
mendapat hasil yang kurang memuaskan. integritas sendi dan jaringan lunak,
Hal ini dapat disebabkan oleh adanya trauma membantu sirkulasi dan nutrisi sinovial dan
langsung pada system musculoskeletal yang menurunkan pembentukan kontraktur
menyebabkan terjadinya fraktur, dan adanya terutama pada ekstremitas yang mengalami
perasaan nyeri akibat adanya incisi (luka paralisis. Manfaat lain yang didapatkan dari
operasi) di daerah paha tempat fraktur latihan rentang gerak yaitu dapat
terjadi. Setelah pembedahan nyeri mungkin memaksimalkan fungsi aktifitas kehidupan
sangat berat, edema, hematom, dan spasme sehari-hari, mengurangi atau menghambat
otot, sehingga hal ini dapat berdampak nyeri, mencegah bertambah buruknya sistem
terjadinya gangguan pada kontraksi dan neuromuscular, mengurangi gejala depresi
relaksasi otot. Otot-otot yang penting dalam dan kecemasan, meningkatkan harga diri,
kontraksi dan relaksasi, bila tidak meningkatkan citra tubuh dan memberikan
digerakkan mengakibatkan salah satunya kesenangan.
adalah gangguan fleksibilitas sendi (Potter & Latihan rentang gerak pasif
Perry, 2005). Selain itu gangguan merupakan salah satu jenis metode dalam
fleksibilitas juga dipengaruhi akibat adanya melakukan latihan rentang gerak. Jenis
masa inflamasi dalam proses penyembuhan metode ini dalam pelaksanaannya
luka yang berlangsung selama 2-3 hari pasca memerlukan bantuan untuk memberi latihan
operasi (Smeltzer & Bare, 2002). kepada sendi yang akan dilatih. Dalam
Setelah pembedahan nyeri mungkin pelaksanaannya, latihan rentang gerak
sangat berat, adanya edema, hematom dan memerlukan bantuan untuk memberi
spasme otot sehingga hal ini dapat pergerakan pada sendi yang akan diregang.
berdampak terjadinya gangguan pada Peregangan dilakukan oleh pasien secara
kontraksi dan relaksasi otot. Otot-otot yang perlahan-lahan sampai limit rasa sakit (rasa
penting dalam kontraksi dan relaksasi, bila sakit yang pertama) dan bukan sampai terasa
tidak digerakkan mengakibatkan salah sakit yang maksimal. Setelah itu barulah
satunya adalah gangguan fleksibilitas sendi peneliti memberi regangan secara perlahan-
(Potter & Perry, 2005). lahan sampai titik fleksibilitas maksimum
Dilihat dari karakteristik pasien pada tercapai (rasa sakit kedua). Pada saat itulah
kelompok eksperimen berdasarkan jenis (antara rasa sakit pertama dan rasa sakit
kelamin lebih dari lebih separuh pasien kedua) reflex muscle spindle terjadi,
(70%) adalah laki-laki. Berdasarkan hasil sehingga pemanjangan otot tidak
penelitian yang dilakukan oleh Phillips dimungkinkan lagi (Dharma, 1984/1993 ;
(1955), Kirchner dan Glines (1957), dalam Ganong, 1995).
Bloomfield, dkk (1994:212), jenis kelamin Muscle spindle merupakan suatu
berpengaruh juga terhadap fleksibilitas sendi receptor yang menerima rangsang dari
seseorang. Wanita lebih lentur daripada laki- regangan otot. Regangan yang cepat akan
laki karena tulang-tulangnya lebih kecil dan menghasilkan impuls yang kuat pada muscle
otot-ototnya lebih sedikit daripada laki-laki. spindle. Rangsangan yang kuat akan
menyebabkan refleks muscle spindle yaitu

189
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

mengirim impuls ke spinal cord menuju lutut di dapatkan rentang normal 120-130
jaringan otot dengan cepat, menyebabkan derajat dan dibandingkan dengan hasil
kontraksi otot yang cepat dan kuat. Muscle latihan yang diberikan pada sendi lutut
spindle sangat berperan dalam proses terlihat tidak terdapat peningkatan yang
pergerakan atau pengaturan motorik (Potter memuaskan. Selanjutnya, dorsofleksi
& Perry, 2005). pergelangan kaki dengan rentang normal 20-
Berdasarkan hasil penelitian, pada 30 derajat dibandingkan hasil yang didapat
klien fraktur femur terpasang fiksasi interna juga kurang memuaskan, sedangkan untuk
yang sedang melakukan bedrest atau plantarfleksi dengan rentang normal 45-50
mengalami keterbatasan dalam pergerakan, derajat, dibandingkan dengan hasil
latihan pasif sangat tepat dilakukan dan akan penelitian yang didapat terlihat hanya
mendapatkan manfaat seperti terhindarnya sebagian saja pasien yang mengalami
dari kemungkinan terjadinya gangguan peningkatan rentang gerak mendekati
fleksibilitas sendi. Setiap gerakan yang normal.
dilakukan dengan rentang yang penuh, maka Selain disebabkan oleh adanya
akan meningkatkan kemampuan bergerak trauma langsung pada system
dan dapat mencegah keterbatasan dalam musculoskeletal yang menyebabkan
beraktivitas. Ketika pasien tidak dapat terjadinya fraktur, juga didapatkan adanya
melakukan latihan secara aktif maka perawat perasaan nyeri akibat adanya incisi (luka
bisa membantu untuk melakukan latihan. operasi) di daerah paha tempat fraktur
terjadi disertai dengan dekatnya daerah
operasi tersebut dengan daerah sendi
B. Fleksibilitas Sendi Pada Pasien anggota gerak bawah, terutama sendi lutut.
Fraktur Femur Terpasang Fiksasi Hal ini terjadi akibat dalam proses
Interna Yang Melakukan Latihan penyembuhan luka masih dalam tahap
Rentang Gerak Tidak Sesuai Dengan inflamasi yang berlangsung selama 2-3 hari
Aturan Penelitian (Kelompok pasca operasi (Smeltzer & Bare, 2002).
Kontrol) Setelah pembedahan nyeri mungkin
sangat berat, adanya edema, hematom dan
Berdasarkan hasil analisis penelitian spasme otot sehingga hal ini dapat
dari 10 orang pasien kelompok kontrol, berdampak terjadinya gangguan pada
didapatkan hasil dari fleksi sendi panggul kontraksi dan relaksasi otot. Otot-otot yang
dengan nilai maximum 50 derajat dan penting dalam kontraksi dan relaksasi, bila
minimum 40 derajat, pada fleksi sendi lutut tidak digerakkan mengakibatkan salah
di dapatkan nilai maximum 20 derajat dan satunya adalah gangguan fleksibilitas sendi
minimum 10 derajat. Selanjutnya dorsofleksi (Potter & Perry, 2005).
sendi pergelangan kaki didapatkan nilai Latihan rentang gerak yang
maximum 5 derajat dan minimum 0 derajat. dilakukan tidak sesuai aturan penelitian yang
Sedangkan untuk plantarfleksi sendi dilakukan pasien menampakkan hasil yang
pergelangan kaki di dapat nilai maximum 45 kurang menuaskan dalam mengatasi
derajat dan minimum 25 derajat. gangguan fleksibilitas sendi. Hal ini dapat
Berdasarkan teori yang dikemukakan dibuktikan dari hasil yang didapat setelah
oleh Potter & Perry (2005), rentang normal dilakukan pengukuran. Penyuluhan dan cara
fleksi sendi panggul adalah 90- 120 derajat latihan rentang gerak (lefleat) ada diberikan
dibandingkan dengan hasil yang didapat ada oleh peneliti, tapi sebagian besar pasien
peningkatan sepertiga bagiannya. Pada sendi tidak ada melaksanakan. Selain dari hasil

190
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

yang di dapat kurang memuaskan terutama penurunan stabilitas. Pengaruh lain dari
untuk sendi lutut dan dorsofleksi, hal ini keterbatasan mobilisasi adalah gangguan
ditambah dengan adanya perasaan nyeri metabolisme kalsium dan gangguan
yang dialami oleh pasien sendiri dan mobilisasi sendi. Immobilisasi dapat
mengakibatkan pasien malas melakukan mempengaruhi fungsi otot dan skeletal.
latihan rentang gerak. Akibat pemecahan protein pada otot, klien
Dilihat dari karakteristik pasien mengalami kehilangan massa tubuh yang
kelompok kontrol berdasarkan umur dan membentuk sebagian otot.
jenis kelamin separuh pasien (50%) berusia Oleh karena itu penurunan massa
36-45 tahun (dewasa akhir) dan lebih dari otot tidak mampu mempertahankan aktifitas
separuh responden (70%) dengan jenis tanpa peningkatan kelelahan. Massa otot
kelamin laki-laki. Hal ini sesuai dengan teori menurun akibat metabolisme dan otot yang
yang dikemukakan oleh Pudjiastuti dan tidak digunakan. Jika imobilisasi berlanjut
Utomo, 2003 usia mempengaruhi sistem dan otot tidak dilatih maka akan terjadi
tubuh termasuk muskuloskeletal. Semakin penurunan massa yang berkelanjutan (Potter
bertambah usia maka fungsi muskuloskeletal & Perry, 2005). Penurunan mobilisasi dan
akan semakin berkurang. Setelah mencapai gerakan mengakibatkan kerusakan
puncaknya maka perlahan-lahan terjadi muskuloskeletal yang besar dengan
perubahan fungsi ke arah penurunan. perubahan patofisiologi utamanya adalah
Kolagen dan elastin sebagai protein atrofi.
pendukung utama pada kulit, tulang, tendon, Atrofi adalah suatu keadaan sebagai
kartilago dan jaringan pengikat mengalami respons tehadap penyakit dan penurunan
perubahan menjadi bentangan cross linking aktifitas sehari-hari seperti pada imobilisasi
yang tidak teratur. Selain kolagen, unsur lain dan tirah baring (Kasper dkk, 1993 dalam
juga berkurang seiring bertambahnya umur. Potter & Perry, 2005). Penurunan stabilitas
Menurunnya kepadatan tulang, berubahnya terjadi akibat kehilangan daya tahan,
struktur otot dan sendi yang lama kelamaan penurunan massa otot, atrofi dan kelainan
mengalami penurunan elastisitas sendi yang aktual sehingga klien tidak
menyebabkan kekuatan dan fleksibilitas otot mampu bergerak terus menerus dan beresiko
sendi menjadi menurun sehingga terjadi untuk jatuh. Seperti yang telah dijelaskan
penurunan luas gerak sendi. Dan diatas, bahwa imobilisasi dapat
berdasarkan jenis kelamin, wanita cenderung menyebabkan gangguan metabolisme
lebih fleksibel dari pada laki-laki pada usia kalsium dan sendi. Akibatnya resorpsi
yang sama sepanjang hidup. Perbedaan ini tulang menjadi meningkat sehingga jaringan
umumnya dikaitkan dengan variasi anatomi tulang kehilangan kepadatannya dan terjadi
dalam struktur sendi. osteoporosis (Holm, 1989 dalam Potter &
Secara teori, apabila otot-otot Perry, 2005).
termasuk otot ekstremitas bawah tidak Dampak imobilisasi juga dapat
dilatih terutama pada klien yang mengalami mengakibatkan kontraktur sendi yaitu suatu
gangguan fungsi motorik kasar dalam jangka kondisi abnomal dan permanen yang
waktu tertentu maka otot akan kehilangan ditandai dengan fleksi sendi dan terfiksasi.
fungsi motoriknya secara permanen. Hal ini Hal ini terjadi akibat sendi tidak digunakan,
terjadi karena otot cenderung dalam keadaan atrofi dan terjadi pemendekan serat otot. Jika
immobilisasi. Keterbatasan mobilisasi terjadi kontraktur maka sendi tidak dapat
mempengaruhi otot klien melalui kehilangan mempertahankan rentang geraknya dengan
daya tahan, penurunan massa otot, atrofi dan penuh. Besarnya keuntungan yang didapat

191
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

dari latihan rentang serta dampak yang Hasil analisis data pada table 9 didapatkan
ditimbulkan, maka jelaslah bahwa latihan rata-rata rentang plantarfleksi pada
rentang gerak sangat dianjurkan untuk kelompok eksperimen adalah 14.9 derajat,
dilakukan secara teratur terutama pada klien sedangkan pada kelompok kontrol adalah
dengan gangguan fungsi motorik termasuk 6.1. Hasil uji statistic Mann Whitney dapat
pada pasien fraktur femur terpasang fiksasi disimpulkan ada perbedaan yang signifikan
interna. Karena dengan latihan ini maka rentang gerak plantarfleksi antara kelompok
fungsi motorik menjadi meningkat sehingga eksperimen dan kelompok control (p
pasien dapat melakukan mobilisasi dengan value= 0.001 < 0.05).
lebih baik untuk menunjang aktifitas sehari- Berdasarkan hasil analisis diatas
harinya. maka dapat disimpulkan bahwa latihan
rentang gerak yang dilakukan selama tiga
C. Perbedaan Fleksibilitas Sendi Pada hari berturut turut dengan frekuensi 2 kali
Pasien Fraktur Femur Terpasang sehari dapat meningkatkan fleksibilitas sendi
Fiksasi Interna Setelah Pemberian panggul, lutut, dorsofleksi dan plantarflksi
Latihan Rentang Gerak Dengan pergelangan kaki secara bermakna pada
Yang Melakukan Latihan Rentang pasien fraktur femur terpasang fiksasi
Gerak Tidak Sesuai Dengan Aturan interna yang mengalami gangguan motorik.
Penelitian Walaupun kenaikan nilai rentang tidak
terlalu besar tetapi hasil ini cukup
Hasil analisis data pada table 6 membuktikan bahwa intervensi yang
didapatkan rata-rata rentang fleksi pinggul dilakukan memberikan hasil yang
pada kelompok eksperimen adalah 15.5 diharapkan. Hal ini berbeda dibandingkan
derajat, sedangkan pada kelompok kontrol dengan kelompok kontrol yang hanya
adalah 5.5. hasil uji statistic Mann Whitney melakukan latihan rentang gerak tidak sesuai
dapat disimpulkan ada perbedaan yang dengan aturan penelitian dimana setelah
signifikan rentang fleksi pinggul antara dilakukan pengukuran nilai fleksibilitas
kelompok eksperimen dan kelompok control sendi terdapat kenaikan tetapi kenaikannya
(p value= 0.001 < 0.05). Hasil analisis data sangat kecil dibandingkan dengan kelompok
pada table 7 didapatkan rata-rata rentang intervensi.
fleksi lutut pada kelompok eksperimen Penelitian ini sejalan dengan
adalah 15.5 derajat, sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Kelln, et al
kelompok kontrol adalah 5.5 derajat. Hasil (2009) yang menyatakan bahwa pelaksanaan
uji statistik Mann Whitney dapat program latihan rentang gerak secara dini
disimpulkan ada perbedaan yang signifikan pada klien pasca pembedahan menghasilkan
rentang fleksi lutut antara kelompok suatu peningkatan yang signifikan bagi
eksperimen dan kelompok kontrol (p value pemulihan yang lebih cepat. Peningkatan
= 0.001 < 0.05). Hasil analisis data pada yang terlihat diantaranya adalah cara
table 8 didapatkan rata-rata rentang gerak berjalan yang lebih baik, peningkatan dalam
dorsofleksi pada kelompok eksperimen fleksi panggul, lutut, dorsofleksi dan
adalah 15,35 derajat, sedangkan pada plantarfleksi kearah normal, walaupun
kelompok kontrol adalah 5.65. Hasil uji secara statistik tidak memberikan pengaruh
statistic Mann Whitney dapat disimpulkan yang signifikan terhadap peningkatan
ada perbedaan yang signifikan rentang gerak ketebalan ekstremitas dan luas gerak sendi
dorsofleksi antara kelompok eksperimen dan lutut. Kesimpulannya adalah intervensi ini
kelompok control (p value= 0.000 < 0.05). memberikan efek positif dan harapan bagi

192
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

klien dengan gangguan sendi bahwa dengan gerak terhadap fleksibilitas sendi panggul,
latihan rentang gerak secara dini yang lutut, dorsofleksi, dan plantarfleksi
dilakukan minimal selama 3 hari pasca pergelangan kaki dan masing-masing
pembedahan dapat mempercepat pemulihan kelompok, pada penelitian ini juga
kearah normal. membandingkan bagaimana pengaruh
Secara teori, latihan rentang gerak latihan rentang gerak antara kelompok
yang dilakukan secara rutin sangat penting intervensi dan kelompok kontrol. Hasilnya
karena tujuan utama latihan rentang gerak menunjukkan bahwa ada perbedaan rentang
adalah untuk memelihara sendi agar tetap gerak antara kelompok intervensi dan
fleksibel. Latihan ini juga dapat membantu kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa
sendi agar tidak kaku, kontraktur serta rata-rata nilai fleksibilitas sendi panggul,
menghindari deformitas. Bahaya paling sendi lutut, dorsofleksi dan plantarfleksi
besar ketika terjadi paralisis atau spastis sendi pergelangan kaki kelompok intervensi
yang menyebabkan ketidakseimbangan otot, lebih tinggi bila dibandingkan dengan
dimana sendi tertarik lebih kuat ke satu arah kelompok control.
sehingga menekuk secara terus menerus Berdasarkan hasil penelitian diatas,
(Werner, 2009). Keadaan ini akan maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa
mengakibatkan sendi kehilangan latihan rentang gerak efektif harus
elastisitasnya sehingga fleksibilitas sendi dilaksanakan dalam membantu mencegah
menjadi menurun. terjadinya gangguan fleksibilitas sendi pada
Kontraktur merupakan gangguan pasien pasca operasi terpasang fiksasi
yang umum terjadi pada klien dengan pasien interna. Latihan rentang gerak merupakan
fratur femur pasca pembedahan. Kontraktur salah satu intervensi keperawatan
bisa berupa kontraksi otot yang permanen, Gangguan mobilitas fisik dimana pasien
tahanan yang tinggi pada peregangan pasif, mengalami ketidakseimbangan atau
hipoekstensibilitas, berkurangnya rentang keterbatasan dalam menggerakkan satu atau
peregangan pasif dan pemendekan otot. lebih bagian sendi (Ellis & Bent, 2007). Hal
Untuk mencegah terjadinya kontraktur dan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan
deformitas, latihan rentang gerak harus oleh Jogi (2010) yang melakukan intervensi
dilakukan secara kontinyu. Penting bagi latihan rentang gerak sendi pada klien post
pasien fraktur femur terpasang fiksasi Total Hip Arthroplasty (THA) dan Total
interna untuk menggerakan tubuhnya Knee Arthroplasty (TKA) kepada 30 pasien.
melalui pergerakan sendi secara penuh Latihan dilakukan sebanyak 1-2 kali
dalam aktifitas kehidupan sehari-hari seminggu selama 5-7 minggu. Hasilnya
(Werner, 2009). Menurut Bowden & terjadi peningkatan secara signifikan pada
Greenberg (2008) agar sendi tidak keseimbangan dan kekuatan otot terutama
kehilangan fungsinya, maka latihan rentang pada saat posisi berdiri.
gerak sebaiknya dilakukan setidaknya 2 kali Latihan rentang gerak dapat
dalam sehari. Jika sendi telah kehilangan diberikan pada pasien yang mengalami
gerakannya, maka latihan dilakukan lebih keterbatasan mobilisasi, dan tidak mampu
sering dan lebih lama. Latihan rentang gerak melakukan beberapa atau semua latihan
harus dilakukan sedini mungkin sebelum rentang gerak dengan mandiri. Untuk itu
sendi kehilangan rentang geraknya. Memulai perawat harus membuat jadwal kapan
latihan sedini mungkin dapat mengurangi latihan rentang gerak harus dilakukan.
dan mencegah terjadinya keterbatasan. Berdasarkan obsevasi peneliti dilapangan
Selain melihat pengaruh latihan rentang hal-hal yang menghambat dalam

193
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

pelaksanaan latihan retang gerak seperti 3. Adanya perbedaan yang bermakna


adanya nyeri pasca pembedahan dan daerah fleksibilitas sendi anggotak gerak
trauma dapat ditepis dengan cara melakukan bawah antara kelompok eksperimen
latihan rentang gerak pasif secara perlahan yang diberikan latihan rentang gerak
dan lembut sehingga tidak menimbulkan dengan kelompok kontrol yang
perasaan nyeri pada pasien. (Potter & Perry, melakukan latihan rentang gerak
2005). tidak sesuai aturan penelitian.
Latihan rentang gerak yang diberikan
dalam penelitian ini cukup mendapat respon
yang baik dari responden, keluarga dan
petugas Trauma Centre sendiri. Pelaksanaan B. Saran
latihan rentang gerak ini juga didukung 1. Bagi Profesi Keperawatan
dengan pedoman yang disertai gambar, Adanya peningkatan
sehingga memudahkan responden dan pengetahuan perawat khususnya
petugas untk melaksanakannya. untuk orthopedi melalui pelatihan
atau seminar sehingga mendapatkan
keterampilan yang sama dalam
KESIMPULAN DAN SARAN merawat pasien pasca operasi
ekstremitas bawah terutama
A. Kesimpulan bagaimana mengoptimalkan latihan
Berdasarkan hasil penelitian yang rentang gerak untuk mencegah
dilakukan tentang pengaruh pemberian terjadinya masalah gangguan
latihan rentang gerak terhadap fleksibilitas sendi.
fleksibilitas sendi anggota gerak bawah 2. Bagi Instansi Rumah Sakit
pada pasien fraktur femur terpasang Hasil penelitian ini dapat
fiksasi interna di Ruang Trauma Centre dilanjutkan sebagai intervensi
RSUP Dr. M. Djamil Padang, maka dirumah sakit untuk menerapkan
dapat diambil kesimpulan sebagai pelaksanaan latihan rentang gerak
berikut: secara terstruktur dan terencana dan
1. Pada kelompok eksperimen membuat kebijakan dalam bentuk
didapatkan rata-rata fleksibilitas SOP.
sendi setelah 3. Bagi penelitian selanjutnya
diberikan latihan rentang gerak yaitu a. Perlunya penelitian tentang
pada fleksi sendi panggul 68,5 terapi lain untuk meningkatkan
derajat, fleksi sendi lutut 61 derajat, fleksibilitas sendi dan rentang
dorsofleksi pergelangan kaki 12,5 gerak ekstremitas bawah pada
aderajat dan plantarfleksi pasien fraktur femur, misalnya
pergelangan kaki 47 derajat. penggunaan biofeeback,
2. Pada kelompok kontrol didapatkan akupuntur, atau continuous
rata-rata fleksibilitas sendi setelah passive motion.
dilakukan gerakan tidak sesuai aturan b. Perlunya penelitian tentang
penelitian yaitu fleksi sendi panggul perbandingan tingkat efektifitas
45,5 derajat, fleksi sendi lutut 15,5 latihan rentang gerak dengan
derajat, dorsofleksi pergelangan kaki terapi lainya seperti latihan
1,5 derajat dan plantarfleksi rentang gerak dengan akupresur
pergelangan kaki 33,5 derajat. dalam meningkatkan

194
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

fleksibilitas sendi ekstremitas l. Iryani, D. (2010). Fisiologi


bawah pada pasien fratur femur anatomi otot rangka: Mata
post operasi. kuliah pengantar. Diakses
KEPUSTAKAAN tanggal 9 Januari 2013, dari
fkunand
Berger & Williams. (1992). 2010.files.wordpress.com
Fundamental of nursing: m. Kelln, B.M, (2009). Effect of
Collaborating for optimal early active range of motion
helath. USA: Apleton & Lange rehabilitation on outcome
c. Bowden, V.R & Greenberg, C.S. measures after partial
(2008). Pediatric nursing meniscectomy. Knee Surg
procedures. second edition. Sports Traumatol Arthrosc, 17
Philadelphia: Lipincot William (35), 607616.
and Wilkins. n. Kozier, B., dkk. (2010). Buku
d. Cluett, J. (2008). Open ajar fundamental keperawatan:
Reduction Internal Fixation. Konsep, proses, & praktik (7th
Diakses pada tanggal 8 ed, 2nd vol.). Jakarta: Buku
November 2012, dari Kedokteran EGC.
http://orthopedics.about.com/ o. Lewis, S. L, dkk. (2011).
cs/brokenbones Medical-surgical nursing:
e. Dahlan, M. S. (2011). Statistik Assessment and management of
untuk kedokteran dan kesehatan: clinical promlems (8th ed, 2nd
Deskriptif, bivariat, dan vol.). America: Elsevier Mosby.
multivariat , dilengkapi aplikasi p. Muttaqin, A. (2008). Buku ajar
dengan menggunakan SPSS. asuhan keperawatan klien
Jakarta: Salemba Medika. gangguan sistem
f. Ellis, JR & Bentz, PM. (2007). muskuloskeletal. Jakarta: Buku
Modules for basic nursing skills. Kedokteran EGC.
Philadelphia: Lippincoat q. Notoatmodjo, S. (2010).
Williams & Wilkins. Metodologi penelitian
g. Fakultas Keperawatan. (2012). kesehatan. Jakarta: Rineka
Pedoman penulisan skripsi. Cipta.
Padang: Universitas Andalas. r. Nursalam. (2008). Konsep dan
h. Faridaryany. (2010). Anatomi penerapan metodologi
fisiologi sistem muskuloskeletal: penelitian ilmu keperawatan:
Mata kuliah biomedik II. pedoman skripsi, tesis, dan
Diakses tanggal 9 Januari 2013, instrumen penelitian
dari files.wordpress.com/ keperawatan. Jakarta: Salemba
2012/06/anfis-muskuloskeletal. Medika.
i. Fatmah. (2010). Gizi usia lanjut. s. Oldmeadow, dkk. (2006). No
Jakarta: Erlangga. rest for the wounded: early
j. Ganong. (1995). Anatomi ambulation after hip surgey
Fisiologi. Jakarta: EGC accelerates recovery. Diakses
k. Hastono, S.P. (2007). Analisis pada tanggal 5 Mei 2013 dari
data kesehatan. Jakarta: FKM http://proquest.umi.com/pqdweb
UI

195
Ners Jurnal Keperawatan Volume 10. No 1, Oktober 2014 : 176 - 196

t. Pearce, E. C. (2000). Anatomi Lippincoat Williams and


dan fisiologi untuk paramedis. Wilkins
Jakarta: PT Gramedia. dd. Tseng, dkk. (2007). Effects of a
u. Potter, P. A., & Perry,A. G. range of-motion exercise
(1993). Fundamental of nursing: programme. Journal of
concepts, proces, & practice Advanced Nursing, 57(2), 181-
(3rd ed.). America: Mosby-Year 191.
Book, Inc. ee. Ulliya, S. (2010). Pengaruh
v. Potter, P. A., & Perry, A. G. latihan range of motion (rom)
(2005). Buku ajar fundamental terhadap fleksibilitas sendi
keperawatan: konsep, proses, & lutut pada lansia di Panti Wreda
praktik. Jakarta: Buku Wening Wardoyo Ungaran.
Kedokteran EGC. Diakses tanggal 10 Februari
w. Pudjiastuti, S. S & Utomo, B. 2013, dari
(2003). Fisioterapi pada lansia. http://ejournal.undip.ac.id/index
Jakarta: EGC. ff. Werner, D. (2009). Disabled
x. Riwidikdo, H. (2012). Statistik village children a guide for
kesehatan: Belajar mudah teknik community health workers,
analisis data dalam penelitian rehabilitation workers, and
kesehatan. Jakarta: EGC families. California: The
y. Sjamsuhidajat, R., & Jong, W. d. Hesperian Foundation.
(2005). Buku-ajar ilmu bedah gg. Widyawati, I. Y. Pengaruh
(2nd.). Jakarta: Buku latihan rentang gerak sendi
Kedokteran EGC. bawah secara aktif (Active
z. Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. lower range of motion exercise)
(2002). Buku ajar keperawatan terhadap tanda dan gejala
medikal-bedah brunner & neuropati diabetikum pada
suddarth (8th, 3rd vol.). Jakarta: penderita DM tipe II Di
Buku Kedokteran EGC. Persadia Unit RSU Dr. Soetomo
aa. Solamon, L., Warwick, D., & Surabaya. Diakses pada tanggal
Nayagam, S. (2001). Apleys 20 April 2013, dari
System of Orthopaedics and lontar.ui.ac.id/file?file=digit
Fractures (8th ed.). New York: al/137247 pdf
Oxford University Press, Inc. hh. Yandri, E. (2011). Faktor-faktor
bb. Astuti. (2006). Pengaruh latihan yang mempengaruhi kontraktur
rentang gerak terhadap sendi lutut pada penanganan
kekuatan otot dan luas rentang fraktur femur secara operatif
gerak pada pasien stroke di RSU dan non operatif. Padang:
Soetomo Surabaya. Diakses Fakultas Kedokteran Universitas
pada tanggal 20 April 2013, dari Andalas
lontar.ui.ac.id/file?file=digital/1 ii. Yanwirasti. (2010). Tulang dan
37247 pdf persendian extremitas inferior.
cc. Timby, B.K. (2009). Diakses pada tanggal 9 Januari
Fundamental nursing skills and 2013, dari files.wordpress.com.
concepts. Philadelphia:

196