Anda di halaman 1dari 7

IDENTIFIKASI PESAWAT DENGAN RADAR MSSR THALES RSM 970I

DENGAN METODE PENGKODEAN GILLHAM CODE DI BANDARA


INTERNASIONAL SOEKARNO HATTA

Danur Ilham Khoiruman *), Achmad Hidayatno


Program Studi Sarjana Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Sudharto, SH, Kampus UNDIP Tembalang, Semarang 50275, Indonesia
*)
E-mail: danurilham@gmail.com

Abstrak

Pada AirNav JATSC Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, sistem pengamatan udara dilakukan menggunakan
radar PSR dan SSR. Secondary Surveillance Radar / SSR yang digunakan adalah Monopulse-SSR Thales RSM 970I.
Radar SSR menggunakan prinsip interogasi menggunakan Mode 3/A untuk data identitas pesawat dan Mode C untuk
data ketinggian pesawat. Frekuensi yang digunakan adalah 1030 Mhz untuk sinyal interogasi dan 1090 Mhz untuk sinyal
jawaban. Metode pengkodean yang digunakan untuk navigasi udara khususnya radar adalah metode Gillham Code, yang
digunakan untuk mengkodekan identitas Squawk Code pesawat dan Altimeter pesawat. Dari analisa contoh data radar di
wilayah udara DKI Jakarta, didapatkan hasil Pesawat GIA512 dengan Mode 3/A 101100110011, menunjukkan identitas
dengan kode Squawk 2535 dan Mode C 110001101010 menunjukkan ketinggian 25300 kaki. Pesawat AXM346 dengan
Mode C 011001100001, menunjukkan ketinggian pesawat 35000 kaki dan Mode 3/A 100110110101, menunjukkan
identitas dengan kode Squawk 2157.

Kata Kunci: SSR, Squawk Code, Gillham Code, Mode 3/A , Mode C

Abstract
At AirNav JATSC International Airport Soekarno-Hatta, aerial surveillance system is done using radar PSR and
SSR. The Secondary Surveillance Radar or SSR used is a Monopulse-SSR Thales RSM 970I. The radar SSR uses the
principle of interrogations using Mode 3/A aircraft identity data to and Mode C altitude data for the aircraft. The frequency
of 1030 Mhz is used to signal the interrogation and 1090 Mhz to signal the answer. The encoding method used for air
navigation in particular radar is a method of Gillham Code, which is used to encode the identity of the Squawk Code of
the aircraft and the aircraft Altimeter. Example analysis of radar data in airspace Jakarta, obtained results GIA512 Aircraft
with Mode 3/A 101100110011, showed the identity code Squawk 2535 and Mode C altitude shows 25300 110001101010
away. Aircraft AXM346 with Mode C altitude, shows 011001100001 35000 feet and Mode 3/A 100110110101, showed
the identity code 2157 Squawk.

Keywords: SSR, Squawk Code, Gillham Code, Mode 3/A, Mode C

1. Pendahuluan mencapai 1200 penerbangan per hari. Maka untuk


memantau dan mengatur lalu lintas udara dibutuhkan
Bandara sebagai fasilitas umum yang menyelenggarakan fasilitas navigasi yang vital salah satunya adalah radar.
jasa angkutan udara mempunyai tugas pokok dalam Radar adalah salah satu alat navigasi udara yang
pelayanan dan keselamatan penerbangan. Mengingat mempunyai fungsi untuk mendeteksi target dalam hal ini
pentingnya unsur keselamatan dalam jasa penerbangan, pesawat terbang di kawasan udara. Jenis radar yang
pada tahun 2012 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 77 digunakan untuk lalu lintas penerbangan adalah Primary
tahun 2012 dibuatlah Perusahaan Umum (Perum) Surveillance Radar (PSR) dan Secondary Surveillance
Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Radar (SSR).
Indonesia (LPPNPI) di bawah Kementerian BUMN.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta adalah salah satu Radar PSR sudah tidak mampu untuk mengatasi
bandara tersibuk di dunia dengan jumlah penerbangan pengamatan lalu lintas udara di kawasan Bandara
1
Internasional Soekarno-Hatta, oleh karena itu dibutuhkan umumnya menentukan lokasi sebuah objek pada jarak
teknologi yang disebut Radar SSR. Radar SSR mempunyai dan sudut tertentu. Keluaran pada receiver akan
kemampuan untuk menginterogasi pesawat untuk ditampilkan pada display, kemudian operator akan
mendapatkan informasi ketinggian, identitas, jarak dan menentukan apakah objek yang dideteksi tersebut ada
azimut dari pesawat. Fungsi dari SSR inilah yang sangat atau tidak.
penting untuk memantau dan mengatur lalu lintas udara.
Ada 2 jenis mode interogasi yang digunakan oleh SSR pada 2.1.1 Secondary Surveillance Radar (SSR)
penerbangan sipil, yaitu mode 3/A untuk identifikasi
pesawat dan mode C untuk ketinggian pesawat. Radar SSR menggunakan prinsip aktif radar yaitu prinsip
interogasi kepada target dalam hal ini pesawat
Tujuan penulisan laporan kerja praktek ini adalah penerbangan sipil. Dalam interogasi tersebut, didapatkan
membahas sistem pengkodean pada identifikasi pesawat jawaban dari transponder pesawat berupa informasi
terbang di wilayah udara DKI Jakarta menggunakan radar ketinggian dan identitas kode Squawk.
THALES MSSR RSM 970I menggunakan mode 3/A dan
mode C dengan metode kode Gillham. Metode penelitian Ada 2 jenis mode interogasi yang digunakan oleh SSR
yang digunakan adalah metode observasi, metode pada penerbangan sipil, yaitu mode 3/A untuk identifikasi
wawancara, dan metode studi literatur. pesawat dan mode C untuk ketinggian pesawat. Sistem
interogasi ini menggunakan frekuensi 1030 Mhz dan
2. Dasar Teori menerima jawaban dari transponder pesawat dengan
2.1. Prinsip Dasar Radar frekuensi 1090 Mhz. Berikut gambar 2. adalah ilustrasi
prinsip kerja radar SSR [2].
Radio Detection And Ranging (Radar) merupakan sistem
komunikasi yang menggunakan gelombang
elektromagnetik untuk mendeteksi lokasi, kecepatan, dan
identifikasi suatu objek yang berada dalam jangkauan
sistem radar. Radar menggunakan frekuensi dari 3 MHz
hingga 110 GHz, yang digunakan untuk keperluan
penerbangan sipil adalah 1-2 Ghz atau yang disebut
sebagai band L. Radar yang banyak digunakan sebagai
pengatur lalu lintas udara dikelompokkan dalam jenis radar
ATC, pulse doppler radar, moving target indication [1].

Gambar 2. Prinsip dasar SSR

Gambar 1. Blok Diagram Radar Secara Umum Gambar 3. Sinyal Pulsa Mode Interogasi SSR

Sinyal radar yang berupa deretan pulsa pendek yang Sinyal interogasi yang dipancarkan oleh interrogator
berulang-ulang (repetitive) dihasilkan oleh transmitter terdiri dari beberapa pulsa, yaitu pulsa P1, P2 dan P3, untuk
dan dipancarkan ke angkasa dengan menggunakan mengetahui jenis pertanyaan yang ada pada sinyal
antena. Duplexer berfungsi untuk mengatur sebuah interogasi tersebut tergantung dari jarak/interval antara
antena yang dapat digunakan untuk mengirimkan dan pulsa P1 dan pulsa P3 yang biasa disebut sebagai mode.
menerima sinyal. Objek yang dideteksi dapat Pulsa P1 dan P3 ini dikeluarkan oleh pancaran interogasi
menangkap sinyal yang dikirimkan oleh radar dan untuk mengetahui identitas dan ketinggian pesawat.
dipantulkan kembali sebagian dari sinyal tersebut ke Sedangkan khusus untuk pulsa P2 digunakan untuk
arah radar. Gema yang dipantulkan, semuanya mengontrol sinyal jawaban yang dipancarkan juga oleh
dikumpulkan pada antena radar dan kemudian dikuatkan side lobe pancaran interogasi. Hal tersebut dapat dilihat
oleh bagian penguat di dalam receiver. Radar pada pada gambar 3.

2
2.3. Kode Squawk
Kode Squawk atau kode transponder adalah kode yang
terdiri 4 digit dari 0000 7777 dengan variasi kode
sebanyak 4096. Kode ini diberikan oleh petugas ATC
kepada pilot untuk identifikasi pesawat sebelum terbang,
melalui kode ini SSR dan alat navigasi di wilayah
Gambar 4. Pulsa Jawaban Transponder penerbangan yang di akan dilalui pesawat akan dapat
mengidentifikasi pesawat seusai dengan data penerbangan
Gambar 4. menunjukkan sinyal jawaban yang dipancarkan
yang terintegrasi. Kode ini juga dapat digunakan untuk
oleh pesawat untuk merespons sinyal interogasi. Dua pulsa
pemberitahuan keadaan darurat seperti pembajakan
yang ada pada sinyal jawaban adalah F1 dan F2 yang
pesawat dan hilang kontak.
disebut sebagai pulsa frame atau bracket. Data dari pulsa-
pulsa yang ada di dalam frame sebanyak 12 pulsa berupa
pulsa A, B, C dan D yang masing-masing terdiri dari pulsa
1, 2 dan 4. Pulsa yang ada di bagian tengah disebut pulsa
X, akan tetapi pulsa X ini tidak digunakan dalam sinyal
jawaban. Pulsa yang terakhir adalah pulsa Special Position
Indicator (SPI) yang digunakan hanya pada saat-saat
tertentu. Dua belas pulsa yang digunakan terdiri dari 4096
kode yang menunjukkan data jawaban [3].

2.2. Kode Gillham


Kode Gillham adalah kode digital yang menggunakan 12
digit biner yang digunakan untuk mentransmisikan nilai
perhitungan dari altimeter dan identifikasi kode squawk
atau transponder. Kode ini adalah pengembangan dari Gambar 5. Sinyal Jawaban Kode Squawk
kode Gray yang ditujukan khusus untuk pengkodean pada
navigasi radar. Berikut ini contoh tiga kode khusus yang secara umum
digunakan untuk keadaan darurat, yaitu:
Pada pesawat terbang memiliki altimeter, yaitu alat untuk
mengukur ketinggian terbang pesawat. Hasil pengukuran 1. 7700 Darurat.
alat ini dikodekan dengan metode kode Gillham dengan 2. 7600 Gangguan Radio.
informasi berjumlah 12 digit biner, yaitu D2 D4 A1 A2 A4
B1 B2 B4 C1 C2 C4, tetapi kode D1 pada prakteknya 3. 7500 Pembajakan atau Perampokan.
belum digunakan. Kode-kode khusus ini sangat berguna untuk menunjukkan
suatu kesulitan kepada ground station setempat ketika pilot
Dari format data kode Gillham tersebut, sistem radar dapat tidak dapat berkomunikasi menggunakan channel suara
mengidentifikasi ketinggian dan kode Squawk untuk secara normal [5].
mengenali identitas pesawat. Berikut contoh tabel konversi
ketinggian pada kode Gillham [4].
2.4. Monopulse-SSR Thales RSM 970I
Tabel 1. Contoh kode untuk ketinggian
Penggunaan Monopulse Surveillance Secondary Radar
(MSSR) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta
didasarkan pada keterbatasan jarak jangkau radar yang ada,
karena MSSR dapat memberikan jaminan kelangsungan
keselamatan penerbangan Jakarta-FIR.

Radar MSSR RSM 970I ini dapat mendeteksi pesawat


dengan jarak jangkau minimum 0,5 Nauticalmile (Nm)
atau sekitar 926 meter, sehingga dengan jarak kurang dari
jarak jangkau maka pesawat sulit terdeteksi. Sedangkan
jarak jangkau maksimum radar mencapai 250 Nm atau
sekitar 463 kilometer. Gambar 6 menunjukkan bentuk
MSSR RSM 907I.

3
Gambar 7. Antena MSSR RSM 907I
Untuk dapat mentransmisikan pulsa-pulsa interogasi
MSSR RSM 9701 menggunakan daya sebesarnya 1,5 kW
belum termasuk dengan penguatan antena yang
maksimumnya mencapai 27 dBi. Pulsa-pulsa interogasi
akan dihasilkan oleh perangkat Interrogator, IR 2000,
dengan jenis mode 3/A dan C secara simultan untuk setiap
rotasi. Pada rotasi pertama maka pulsa-pulsa interogasi
mode 3/A akan dilepaskan oleh antena sekunder AS 909
dengan kecepatan 10 rotasi per menit. Pada rotasi
berikutnya pulsa-pulsa dengan mode jenis C akan
dilepaskan oleh antena tersebut, dan seterusnya secara
bergantian. Selain itu MSSR juga mampu menangkap
gerakan 400 pesawat per scanning serta dilengkapi solid
state [6].
Gambar 8. Pola Radiasi Antena MSSR
Pada MSSR, ada 3 jenis antena yang digunakan, berbeda
dengan SSR yang hanya 2 jenis antenna. Antena ini Antena AS 909 merupakan jenis antena radar sekunder.
dirancang untuk dapat meradiasikan sinyal yang Antena radar yang digunakan pada MSSR 9701 merupakan
dibangkitkan oleh interogator ke luar angkasa dan jenis antena phased array. Secara fisik AS 909 ditunjukkan
menerima jawaban dari transponder yang dipasang pada pada gambar 7 [8].
pesawat. Antena ini mempunyai tiga bentuk radiasi :
a. Satu bentuk sum ( ) atau bentuk interogasi. 4. Identifikasi Pesawat
b. Satu bentuk difference ( ). 4.1 Data ATC MSSR CGK2 MSSR RSM 907I
c. Satu bentuk control ( ).
Pola radiasi antena AS 909 ditunjukkan pada gambar 8. Gambar 11 adalah tampilan beberapa target data radar
CKG2 MSSR RSM 970I hasil identifikasi radar MSSR
RSM 907I pada hari Selasa tanggal 31 Januari 2017 dari
tampilan berikut dapat diperoleh informasi kecepatan, call
sign, ketinggian (mode C), tujuan, tipe pesawat, kode
squawk (mode 3/A).

4.2. Decoding Mode 3/A


Berikut adalah cara decoding Mode 3/A dari target pesawat
GIA512

Gambar 6. MSSR Thales RSM 907I

Gambar 9. Tampilan Target Pesawat GIA512

F253 adalah menunjukkan flight level 25300 kaki atau


8400 meter. 2535 adalah menunjukkan identitas kode
Squawk pada pesawat tersebut.

4
Gambar 11. Tampilan data radar CGK2 MSSR RSM 907I

Tabel 5. Hasil Decoding target radar CGK2 MSSR RSM 907I

Call Sign Kode Mode 3/A Ketinggian Mode C


Squawk (kaki)
GIA512 2535 101100110011 25300 110001101010
AXM346 2157 100110110101 35000 011001100001
LNI871 5613 110001011110 6900 001111000000
NIH083 7220 011101001000 4200 100001101010
CTV802 6315 100101111001 10100 101101100010

Dari hasil decoding di atas dapat dilihat bahwa kode


Squawk yang teridentifikasi adalah 2535, kode ini
menunjukkan kode penerbangan pada tampilan layar ATC
yang sudah diintegrasikan dengan data penerbangan yaitu
penerbangan pesawat Garuda Indonesia Airlines dengan
Gambar 10. Pulsa jawaban mode 3/A GIA512 kode GIA512.

Dari data pulsa di atas kemudian masukan bit pulsa ke 4.3. Decoding Mode C
dalam bentuk tabel 2 di bawah ini. Setelah itu ubah ke
dalam bentuk desimal, jumlah nilai desimal setiap karakter
huruf Gillham menandakan identitas kode Squawk
pesawat.

Tabel 2. Decoding mode 3/A GIA512 metode Gillham

A B C D Gambar 12. Pulsa Jawaban Mode C GIA512


1 (20) 0 1 1 1
2 (21) 1 0 1 0
4 (22) 0 1 0 1
Total
2 5 3 5
(Squawk)

5
Tabel 3. Decoding mode C GIA512 metode Gillham
Dari tabel 5 hasil analisa dapat dilihat bahwa jawaban
transponder pesawat Mode 3/A dan Mode C dari data biner
diolah menjadi data yang dibutuhkan oleh petugas ATC
yaitu berupa ketinggian dan kode squawk yang
diintegrasikan ke data penerbangan menjadi call sign
pesawat.

Tabel 5 menjelaskan bahwa, pada jawaban transponder


pesawat Garuda Indonesia Airlines GIA512, Mode 3/A
= operasi XOR nya adalah 101100110011 menandakan bahwa kode
squawk pesawat ini 2535 dan Mode C nya adalah
Langkah pertama :
110001101010 menunjukkan bahwa ketinggian saat itu
1. 0 XOR 0 = 0
25300 kaki. Pada pesawat Air Asia AXM346, Mode 3/A
2. 0 XOR 1 = 1
nya adalah 100110110101 menandakan bahwa kode
3. 1 XOR 0 = 1
squawk pesawat ini 2157 dan Mode C nya adalah
4. 1 XOR 1 = 0
011001100001 menunjukkan bahwa ketinggian saat itu
5. 0 XOR 1 = 1
35000 kaki. Pada pesawat Lion Air LNI871, Mode 3/A nya
6. 1 XOR 1 = 0
adalah 110001011110 menandakan bahwa kode squawk
7. 0 XOR 1 = 1
pesawat ini 5613 dan Mode C nya adalah 001111000000
Langkah kedua : menunjukkan bahwa ketinggian saat itu 6900 kaki. Pada
Dari cara di atas didapatkan kode Gillham pesawat NAM Air NIH083, Mode 3/A nya adalah
00110101 100, kemudian ubah kode Gillham 011101001000 menandakan bahwa kode squawk pesawat
tersebut tanpa nilai biner anggota C ke nilai desimal ini 7220 dan Mode C nya adalah 100001101010
00110101 biner = 53 desimal menunjukkan bahwa ketinggian saat itu 4200 kaki. Pada
pesawat Citilink Airlines CTV802, Mode 3/A nya adalah
Langkah ketiga :
100101111001 menandakan bahwa kode squawk pesawat
Kalikan nilai desimal di atas dengan nilai 500 ft
ini 6315 dan Mode C nya adalah 101101100010
53 x 500ft = 26500 ft
menunjukkan bahwa ketinggian saat itu 10100 kaki.
Hasil di atas kurangkan dengan 1000ft
26500ft 1000ft = 25500 feet
5. Kesimpulan
Langkah keempat :
Dari hasil langkah ketiga dilihat apakah bernilai Dari hasil pengamatan di lapangan tentang prinsip kerja
kelipatan 1000 atau 500, kemudian lihat tabel di dan sistem radar MSSR RSM 907I didapatkan bahwa radar
bawah ini untuk menentukan perhitungan ini menggunakan 3 jenis radiasi antena yaitu sum ( ) ,
selanjutnya. difference ( ) , omni/control ( ), radar ini juga dapat
mendeteksi 400 pesawat per scanning, menggunakan mode
Tabel 4. Aturan perhitungan pulsa C1,C2,C4 3/A dan mode C dalam mode interogasi nya, menggunakan
sistem pengkodean kode Gillham yang terdiri dari
ATURAN C1, C2, DAN C4
A1,A2,A4 ; B1,B2,B4 ; C1,C2,C4 ; D1,D2,D4, dan hasil
KELIPATAN 500 KELIPATAN 1000 analisa pengkodean dapat dilihat pada tabel 5. Penggunaan
100 -200 100 +200 radar ini dibatasi dengan jumlah kode squawk yang
110 -100 110 +100 berjumlah 4096 kode, untuk itu diperlukan teknologi baru
010 0 010 0 yaitu radar SSR dengan sistem Mode S untuk memenuhi
011 +100 011 -100 kapasitas surveillance di Bandara Internasional Soekarno-
Hatta.
001 +200 001 -200
Referensi
Karena biner dari C1, C2, C4 adalah 100 dan nilai hasil
perhitungan langkah ketiga adalah kelipatan 500 maka [1]. Merrill I. Skolnik. Radar Handbook : Third Ed,
untuk menghitung nilai akhir ketinggian dikurang 200. Mc.Graw Hill Book, 2008.
Ketinggian : 25500 ft - 200ft = 25300 feet [2]. Michael C. Stevens, Secondary Surveillance Radar,
Artech House, 1988
Dari hasil decoding di atas dapat dilihat bahwa ketinggian [3]. Merrill I. Skolnik, Introduction to Radar System :
pesawat adalah 25300 feet atau 7711,5 meter di atas Second Edition, Mc,Graw Hill Book Company,
permukaan laut hal ini sesuai dengan tabel ANNEX 10 1981.
volume 4 tentang surveillance yaitu 25250 25350 [7].

6
[4]. http://www.en.wikipedia.org/wiki/Gillham_code
diakses pada Januari 2017.
[5].aaahttp://www.en.wikipedia.org/wiki/Transponder_(ae
ronautics) diakses pada Januari 2017.
[6]. Technical Documentation Aerial and Ancillaries
Book : Volume 1. THALES, La Dfense, France,
2000.
[7]. Annex 10 Volume 4 : Surveillance and Collision
Avoidance Systems, ICAO Standard, 2007.

Biodata
Danur Ilham Khoiruman
(21060114130117) adalah
mahasiswa Jurusan Teknik Elektro,
Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro Semarang angkatan
2014 dengan pilihan Konsentrasi
Telekomunikasi. Ia lahir di
Semarang, pada tanggal 18
September 1995. Ia telah
menempuh pendidikan di SDN
Siliwangi Semarang, SMPN 3
Semarang, dan SMAN 3 Semarang. Ia memiliki mimpi
menjadi orang yang soleh, mempunyai rezeki melimpah
agar mampu bersedekah banyak untuk umat, dan menebar
manfaat di setiap tempat ia berada.

Saya menyatakan bahwa segala informasi yang tersedia di


makalah ini adalah benar, merupakan hasil karya sendiri,
bebas dari plagiat, dan semua karya orang lain telah
dikutip dengan benar.

Danur Ilham Khoiruman


21060114130117

Pengesahan
Telah disetujui untuk diajukan pada seminar Kerja Praktik

Semarang, 9 Maret 2016

Pembimbing

Achmad Hidayatno, S.T., M.T.


NIP. 196912211995121001