Anda di halaman 1dari 20

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi
Tendon achilles merupakan tempat insersi distal dari muskulus gastrocnemius
dan muskulus soleus. Tendon menginseri masuk ke daerah rectangular di bagian
tengah permukaan posterior calcaneus. Ruang antara tendon dan tuberositas
calcaneus diisi oleh bursa retrocalcanea (gambar 1). Tendon achilles tidak terlihat
sampai otot soleus berinsersi masuk ke tendon gastrocnemius sekitar kurang lebih
3-4 cm di bagian distal.

Tendon plantaris berasal dari meniskus lateral dan epikondilus femoralis


lateralis dan berhubungan erat dengan caput muskulus gastrocnemius lateral.
Tendon plantaris menyeberang miring antara muskulus soleus dan muskulus
gastrocnemius dan berlanjut ke medial sampai ke achilles. Terdapat beberapa
insersi plantaris, tetapi sebagian besar berinsersi di aspek medial tuberositas
kalkaneus superior atau 1 cm dari anterior dan medial achilles di kalkaneus.
Kompleks achilles-plantaris disebut "kompleks trisep-surae".

1
Tendon terdiri atas 30% kolagen dan 2% elastin yang terdapat di matriks
proteoglikan ekstraseluler dan terdiri atas 58-70% air. Kolagen berjalan pararel satu
sama lain dan bergabung di tendon achilles. Bagian terkecil dari kolagen adalah
kolagen fibril dan tenosit. Beberapa kolagen fiber terikat bersama membentuk
lapisan dalam tendon disebut fascia. Endotenon mengelilingi fascia untuk
menstabilkan dan mengikat tendon achiles. Endotenon terikat bersama oleh lapisan
tendon terakhir yang disebut peritendon. Peritendon di bentuk oleh 3 lapisan,
epitenon, mesotenon dan paratenon. Epitenon merupakan lapisan terdalam yang
paling dekat dengan endotenon yang terdiri dari saraf, pembuluh darah dan
limfatik. Paratenon merupakan lapisan terluar.

Paratenon terdiri atas beberapa membran tipis dan membentuk area tipis
antara tendon dan fascia crura. Fascia crura di tutup oleh jaringan subkutan dan
kulit. Pada sisi ventral, paratenon terdiri atas jaringan areolar lemak dan terdiri atas
pembuluh darah dan jarinan konektivus. Bagian ventral sampai tendon achilles
merupakan suatu triangular pre-achilles fat pad yang dikenal sebagai kagers fat
pad.

Paratenon memiliki lapisan viseral dan parietal. Paratenon ini analog dengan
sinovium yang menyediakan nutrisi untuk tendon, tapi karena tendon achilles tidak
berubah sumbu gerak, maka tidak digunakan untuk pelumasan seperti fungsi
sinovium. Paratenon ini di proksimal berhubungan dengan fascia dan didistal
dengan periosteum calcaneus.

Dua lapisan jaringan fibrosa dengan pembuluh darah mesotendal internal


membuat paratenon bergerak keatas. Serat anyaman paratenon membuat
tendon 6 meregang hingga beberapa sentimeter dan menyebabkan tendon bergeser
beberapa derajat.

Tendon achilles menerima aliran pembuluh darah dari 3 regio: 1)


musculotendinous junction, 2) paratenon yang mengelilingi tendon dan 3)
osteotendinous junction. Bagian yang kaya pembuluh darah terdapat di anterior
sedangkan yang miskin pembuluh darah terdapat di bagian tengah dan posterior
distal dari tendon achilles. Paratenon mempunyai aliran pembuluh darah yang

2
berlebih. Aliran darah yang rendah terdapat di insersi calcaneus. Sepertiga tengah
tendon dan paratenon menerima aliran darah 35% dari sistem vaskular ekstrinsik
dan 65% dari sistem vaskuler intrinsic.

Tendon achilles di persarafi oleh saraf yang terdapat di muskulus dan sedikit
di fascia saraf kutan, dan sebagian dari saraf sural. Saraf didalam tendon
jumlahnya relatif sedikit, mengikuti aliran pembuluh darah sepanjang aksis tendon,
beranastomosis satu sama lain secara oblik dan transversal mengikuti serat saraf
dan berakhir di saraf sensoris.

Akhir saraf berbeda tergantung stimulus. Fungsi mekanoreseptor merupakan


tranduser energi fisik, mengekspresikan tekanan atau tegangan dalam saraf
aferen. Nosiseptor merupakan resepor yang merespon stimulus dan menyebabkan
kerusakan jaringan, banyak terdapat di kulit, paratenon dan tendon.

Imobilisasi menyebabkan atropi tendon, tetapi karena tendon mempunyai


metabolisme yang rendah, maka pengaruh yang dirasakan lama dan tidak
sedramatis di otot betis.

BAB II

3
PATOFISIOLOGI

A. Definisi
Ruptur tendon achilles merupakan pecahnya atau terpisahnya serabut tendon
sehingga tendon achilles tidak dapat lagi menjalankan fungsinya. Tendon adalah
bagian tubuh yang menyatukan tulang dengan otot/muskulus. Tendon achilles
merupakan tendon yang melekatkan otot gastrocnemius dan otot soleus ke salah
satu tulang penyusun pergelangan kaki yaitu calcaneus.
Tendon achilles merupakan tendon terbesar di tubuh manusia. Tendon achilles
menghubungkan otot betis sampai ke tulang tumit, yang fungsinya digunakan untuk
berjalan, berlari dan melompat. Meskipun tendon achilles dapat menahan tekanan
besar saat berlari dan melompat, namun tendon achilles rentan terhadap cedera.
Ruptur tendon achilles pertama kali dijelaskan oleh Ambroise Pare pada
tahun 1575 dan pertama kali dilaporkan dalam literatur medis di tahun 1633.
Ruptur tendon achilles jarang dilaporkan sampai tahun 1950-an. Sebelum 1929,
kurang dari 70 kasus dilaporkan. Nama Achilles diambil dari nama seorang
pahlawan mitologi kuno yang bernama Achilles yang meninggal karena tusukan
didaerah tendon ini.
Ruptur tendon achilles (parsial atau komplet), merupakan salah satu
gangguan pada tendon achilles yang disebabkan karena trauma atau karena
penggunaan berlebih dari tendon Achilles.

B. Epidemiologi
Insiden ruptur tendon achilles meningkat hingga 50% di negara maju.
Robekan tendon achilles paling umum terjadi di negara-negara maju dengan
prevalensi bervariasi. Insiden meningkat dari 18/100.000 pada tahun 1984
menjadi 37/100.000 pada tahun 1996. Insiden tertinggi pada kelompok umur 30-39
tahun.

Tujuh puluh tiga persen cedera berhubungan dengan olah raga. Puncak cedera
yang berhubungan dengan olah raga terjadi pada usia rata-rata 53 tahun.

. Gangguan pada tendon achilles lebih umum terjadi di sebelah kiri dari pada
sisi kanan dengan alasan yang tidak diketahui.4 Terjadi peningkatan 200 kali lipat
resiko pada tendon kontralateral pada pasien yang sebelumnya pernah menderita

4
ruptur tendon achilles. Ruptur tendon paling banyak terjadi pada laki-laki dengan
rasio antara laki-laki dan perempuan kira-kira 10:1.

C. Etiologi ruptur tendon achilles


Etiologi ruptur tendon achilles multifaktorial. Diantaranya terdapat
beberapa bukti perubahan degeneratif, hipoksia degeneratif (nekrotik) pada tendon
yang ruptur. Umur mengurangi diameter serat kolagen. Perubahan ini disertai
tingkat aktivitas yang tinggi, dan hal ini menjelaskan kenapa puncak kejadian
berhubungan dengan olahraga pada kelompok umur paruh baya. Keausan mekanis
dan kekuatan berlebih (mikrotrauma) menyebabkan kelemahan tendon permanen
dan regenerasi tendon yang tidak lengkap.Terdapat bukti penggunaan
kortikosteroid sistemik dan lokal merupakan faktor risiko terjadinya ruptur tendo
achilles. Terdapat laporan kasus fluorokuinolon terkait ruptur tendon dan bukti
laboratorium tentang efek negatif 8 fluorokuinolon pada tenosit. Namun tidak
ada kesimpulan yang jelas tentang perannya dalam manusia. Ruptur tendon
achilles dapat dikaitkan dengan penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, gout,
lupus eritematosus, rheumatoid arthritis, dan hiperparatiroid. Mikro trauma yang
berulang juga merupakan faktor resiko terjadinya ruptur tendon Achilles.

Teori mekanik disebut sebagai penyebab terutama pada pasien muda dan
sehat. Pada teori ini tendon sehat dapat ruptur oleh karena makrotrauma pada
kondisi fungsi dan anatomi tertentu.

D. Mekanisme ruptur
Mekanisme cedera yang paling umum pada ruptur tendon achilles
diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama. Mekanisme pertama, pasien push-
off dengan menumpu pada kaki sementara lutut merenggang. Mekanisme ini terjadi
pada sebagian besar pasien. Mekanisme ini terjadi saat sprint, melompat dan
olahraga raket. Mekanisme kedua pada keadaan pergelangan kaki yang dorsofleksi
secara tiba-tiba dan tak terduga, misalnya saat pasien tergelincir ke lubang atau
jatuh menuruni tangga. Mekanisme ketiga dorsofleksi kaki plantar-fleksi yang
terjadi saat jatuh dari ketinggian.

E. Klasifikasi

5
Berdasar area anatomi, klasifikasi cedera pada tendon achilles dibagi menjadi
area noninsersional dan area insersional. Ruptur tendon achilles termasuk area
noninsersional. Selain ruptur tendon Achilles, yang termasuk area noninsersional
adalah noninsersional tendinosis achilles, paratendinitis achilles, dan tendinopati
adesif. Sedangkan yang termasuk area insersional adalah insersional tendinosis
achilles, bursitis retrocalcanea, bursitis retro-achilles, fascitis tendo achilles distal,
fraktur avulsi calcaneus.

Ruptur tendon achilles dapat terjadi secara komplet maupun sebagian. Ruptur
dapat dibagi menjadi ruptur traumatik akut, ruptur kronis, dan ruptur kronik
attritional. Namun ruptur tendon sering disebabkan karena gabungan dari keausan
karena umur dan adanya insiden traumatik akut.

Berdasarkan keparahan dan derajat retraksinya, ruptur tendon achilles dibagi


menjadi 4 tipe. Tipe 1 ruptur parsial kurang dari sama dengan 50%. Tipe II ruptur
komplet dengan celah tendo kurang dari sama dengan 3 cm. Tipe III ruptur komplet
dengan celah tendon 3-6 cm. Tipe IV ruptur komplet dengan defek lebih dari 6 cm
(ruptur yang terabaikan).

F. Manifestasi klinis
Pasien dengan ruptur tendon achilles memiliki riwayat nyeri sifatnya tiba-tiba
tanpa gejala sebelumnya. Sering dilaporkan pasien merasa seolah-olah telah
dipukul sesuatu dari belakang. Pada kasus tertentu, diagnosis sangat jelas.
Diagnosis berdasarkan klinis adanya celah yang teraba di daerah ruptur selama
minggu pertama disertai kemampuan fleksi plantar di pergelangan kaki tidak ada
atau sangat lemah.
G. Diagnosis
1. Pemeriksaan klinis

Beberapa tes digunakan untuk diagnosis ruptur achilles. Tes calfsqueeze


(gambar 5) dan tes matles (gambar 6) memiliki sensitivitas tinggi, masing-
masing 10 0.96 dan 0.88 dan spesifisitas 0.93 dan 0.85. Kedua tes ini sifatnya
non-invasif, sederhana dan tidak mahal. Tes calfsqueeze dikenal juga sebagai tes
Simmond atau Thompson. Pasien posisi terlentang dan pemeriksa meremas otot

6
betis yang terkena cedera. Jika tendon utuh, kaki akan plantar-fleksi, tetapi jika
tendon ruptur akan ada reaksi minimal atau tidak ada reaksi di kaki dan tes
dikatakan positif. Pada uji Matles, pasien disuruh memfleksikan kedua lutut dan
diamati perubahan posisi kaki. Tes ini positif jika kaki di sisi cedera bergerak
netral atau dorsofleksi.

2. Pemeriksaan radiologis

Foto polos radiografi menyediakan informasi yang terbatas pada


struktur jaringan lunak sehingga tidak di rekomendasikan untuk pemeriksaan
rutin pada semua pasien dengan suspek gangguan tendon achilles. Sebelum ada
pemeriksaan USG dan MRI, pemeriksaan radiografi jaringan lunak merupakan
pemeriksaan yang paling sering dilakukan untuk mencari adanya tanda Kagers
triangle fat pad pada gangguan tendon Achilles.

Foto polos radiografi banyak tersedia di layanan kesehatan, terjangkau,


murah dan terkadang memberi informasi pada beberapa pasien dengan nyeri
pada tumit. Pada foto polos radiografi proyeksi lateral, normalnya, tepi
tendon achilles dan fat pad disekitar pre-achilles (Kagers triangle fat pad)
tampak sebagai gambaran radiolusen dengan batas tegas terutama di anterior
(volar) tepi tendon (gambar 7).

7
Secara morfologi, tendon achilles mempunyai tebal tidak lebih dari 8 mm
dimensi AP, dengan bagian proksimal paling tebal dan menipis secara bertahap
di 1/3 bagian 11 distal sampai berinsersi di tuberkulum calcaneus. Bursa
retrocalcaneus tampak sebagai area radiolusen di anterior sampai insersi distal
tendon achilles kurang lebih 2 mm di bawah permukaan superior calcaneus.

Pemeriksaan foto polos radiografi ruptur tendon achilles menunjukkan


adanya pembengkakan soft tissue dan pengaburan di daerah Kagers triangle
fat pad (gambar 8). Namun, selain pada kasus ruptur tendon achilles,
pengaburan Kagers triangle fat pad tampak pada tendinopati dan
inflamasi/perdarahan di dalam fat pad pre-achilles. Adanya kalsifikasi atau
osifikasi pada tendon Achilles yang terlihat pada foto polos. merupakan ciri
tendinosis kronis atau menunjukkan adanya riwayat ruptur tendon
sebelumnya. Penonjolan di calcaneus merupakan salah satu tanda bursitis
retrocalcanea.

Pemeriksaan USG dan MRI dapat digunakan untuk menegakkan


diagnosis secara akurat, namun jarang diperlukan pada kasus dengan temuan
klinis yang khas. Pemeriksaan USG dan MRI diperlukan untuk membantu

8
ketika diagnosis meragukan. Sehingga pemeriksaan USG dan MRI tidak
direkomendasikan untuk penggunaan rutin. Pemeriksaan USG membantu
membedakan tendinitis, paratendinitis, degenerasi, ruptur sebagian (parsial)
maupun ruptur komplet.6,7

H. Diagnosa Banding
1. Tendinopati

Tendinopati merupakan kelompok cedera pada tendon achilles yang


masuk pada kelompok noninsersional. Sering klinisi menggunakan istiah
tendinosis atau tendinitis, yang sebenarnya diagnosis tendinitis dan tendinosis
digunakan setelah terdapat pemeriksaan histopatologi. Tendinopati merupakan
kondisi yang menyebabkan nyeri, bengkak, kekakuan dan kelemahan pada
tendon achilles. Histopatologi tendinopati berhubungan dengan abnormalitas
yang sama dengan tendinosis, yang merepresentasikan suatu degenerasi tendon
bukan inflamasi. Tendinosis didefinisikan sebagai degenerasi intratendon
berupa hipoksia, mukoid atau miksoid, lemak, fibrinoid, kalsifikasi atau
gabungan yang disebabkan karena beberapa penyebab (proses umur,
mikrotrauma, gangguan vaskuler). Insidensinya meningkat seiring
meningkatnya aktivitas kompetisi olahraga dan rekreasi. Lebih banyak terjadi
pada atlet lari dengan kejadian 10 kali lebih banyak. Selain itu sering terjadi
pada atlet olah raga raket, bola voley, dan sepak bola. Temuan USG pada
tendinopati sulit dibedakan dengan ruptur tendon achilles parsial. Terdapat 3
grade berdasarkan pemeriksaan USG. Grade 1, tendon normal; grade 2,
pembesaran tendon; grade 3, tendon berisi area hipoekoik. Area hipoekoik dapat
berupa nodul, difus, atau multifokal.

Tanda khas USG tendinopati achilles adalah penebalan tendon dan adanya
area hipoekoik dengan batas tidak jelas di dalam tendon, dengan atau tanpa
peningkatan vaskuler pada pemeriksaan doppler (gambar 16).

9
Normalnya tendon achilles mempunyai tebal 4-7 mm dan tanpa adanya
aliran darah yang terdeteksi. Adanya neovaskularisasi pada tendinopati
berhubungan dengan sakit yang menyangat, fungsi yang jelek, dan gejala yang
lama.PE Pada paratendinopati achilles akut, USG menunjukkan adanya cairan
disekitar tendon. Pada adesi peritendinosa terlihat adanya penebalan paratenon
yang hipoekoik, biasanya terjadi pada gangguan tendon kronis.

2. Peritendinitis

Peritendinitis oleh banyak penulis disebut sebagai paratenonitis. Adanya


krepitasi di paratenon disebut sebagai "peritendinitis crepitans ". Pada
peritendinitis achilles akut tampak adanya reaksi sel inflamasi, edema,
ekstravasasi protein plasma, dan akumulasi fibrin di paratenon. Pada kasus
kronis, ditemukan adanya penebalan paratenon, proliferasi daerah jaringan ikat,
bentukan adesi, dan perubahan obliterasi di pembuluh darah. Nyeri mungkin
terasa di mana saja di sekitar tendon achilles, tetapi paling sering disepertiga
tengah. Sering teraba nodul disekitar tendo achilles pada peritendinitis kronis
disertai penebalan fokal atau difus di jaringan subkutan. Biasanya peritendinitis
timbul bersama dengan tendinosis. Secara klinis sangat sulit membedakan
tendinosis dari paratenonitis kecuali pada palpasi teraba nodul khas
tendinosis akut.

Gambaran USG peritendinitis adalah tampak struktur intratendinosa


sedikit berubah dengan tanda inflamasi, batas tak tegas. Tendon achilles dapat
disertai atau tanpa adanya akumulasi cairan semisirkuler (Gambar 17).

10
Hasil operasi didapatkan adanya paratenon achilles hiperemi menebal dan
fibrosis dengan adesi disekitar struktur tendon.

I. Penatalaksanaan
Pada saat cedera atau setelahnya, tubuh memulai proses penyembuhan.
Penyembuhan tendon adalah proses yang sangat kompleks dengan interaksi antara
darah dan sel asal jaringan, mediator inflamasi dan matriks molekul. Tujuannya
adalah menyembuhkan dan memperbaiki proses untuk mencapai hemostasis,
integritas jaringan dan dapat memberikan dukungan terhadap beban.

Proses penyembuhan dapat dibagi menjadi tiga tahap penyembuhan. Tahap


pertama mencakup hemostasis yang berlangsung selama beberapa hari. Fase ini
dimulai segera setelah cedera. Terjadi pembentukan bekuan darah, trombosit aktif
dan terjadi vasodilatasi. Terdapat kaskade mediator pro-inflamasi yang mengarah
ke angiogenesis dan perekrutan sel inflamasi ke daerah cedera dan sel-sel ini mulai
dengan penghancuran bekuan darah dan debris. Tahap kedua, dikenal sebagai
proliferasi atau perbaikan, dimulai hari ke dua setelah cedera dan berlangsung
hingga 6-8 minggu. Fase ini ditandai dengan aktifitas sintetis oleh makrofag dan
fibroblas. Terjadi pada beberapa hari setelah cedera dan menyebabkan perekrutan
sel dan melepaskan faktor pertumbuhan. Fibroblas memproduksi sebagian besar
kolagen tipe III untuk stabilitas sementara. Tahap ketiga, yang dikenal sebagai
renovasi atau fase 18 pematangan. Dimulai pada bulan 1-2 setelah cedera dan
dapat berlangsung selama lebih dari satu tahun. Selama fase ini, kolagen tipe I
mulai mendominasi dan struktur menjadi lebih teratur. Pada akhir fase ini jaringan

11
parut matur terbentuk, namun tendon akan menyembuh lambat namun mungkin
tidak lengkap.

Terapi kasus ruptur tendon dapatberupa operasi maupun non operasi


(tindakan konservatif). Berdasar klasifikasi menurut keparahannya, ruptur tendon
achilles tipe I dengan tindakan konservatif, tipe II dengan end to end anastomosis,
tipe III dengan tendon graft flap, possible synthetic graft, V-Y advancement,
Bosworth turndown, tendon transfer atau kombinasi. Sedang tipe IV dengan resesi
gatrocnemius, turndown, tendon transfer, free endon graft, synthetic graft atau
kombinasi.

1. Tindakan non operasi

Tindakan dengan konservatif sangat bervariasi. Secara klasik


menggunakan gips panjang di kaki dengan lutut tertekuk/fleksi dan tumit di
equinus (selama 2-3 minggu), pemasangan gips pendek di kaki (selama 8
minggu). Pasien tidak boleh menumpu beban selama 6 minggu pertama.

Pendekatan terkini dengan menggunakan bruce fungsional dengan


penahan beban sedang. Tindakan ini merupakan protokol yang agresif, yaitu
dengan menggunakan penjepit fungsional atau boot pra-fabrikasi (Gambar 18).
Pasien dimulai dengan menaikkan pergelangan kaki plantar fleksi sampai 45
derajat. Kemudian secara bertahap diturunkan menjadi netral (6 sampai 12
minggu). Latihan plantar fleksi aktif dengan dorsofleksi selama beberapa
waktu dan kemudian menjalani protokol penguatan yang lebih agresif.

2. Tindakan operasi

Tindakan operasi meliputi teknik operasi terbuka, operasi terbuka


terbatas, dan perkutaneus. Tindakan operasi terbuka dengan membuat sayatan
memanjang sekitar 1 cm di medial ke tendon dengan menghindari iritasi dialas
kaki. Sayatan dilakukan melalui kulit dan jaringan subkutan selubung tendon
(paratenon). Perawatan yang hati-hati diparatenon penting untuk proses
penyembuhan tendon. Ujung tendon dilakukan debridement dan kemudian
dijahit dengan nonabsorbable. Terdapat kontraversi untung rugi dilakukan

12
jahitan di epitenon. Perlu diperhatikan tekanan akibat tindakan sehingga harus
dipikirkan adanya kolateral dari bagian sisi yang lain.

Plantaris sering digunakan sebagai suplemen lokal jika jaringan achilles


miskin nutrisi. Gangguan yang signifikan dan ruptur yang kronis
mengakibatkan fungsi tendon dialihkan ke fleksor longus digitorum, fleksor
longus hallucis, atau peroneal.

Teknik perkutan lebih populer. Beberapa perangkat (Integra Achillon,


Teno-Lig) dipromosikan untuk meminimalkan risiko terjepitnya saraf sural
yang merupakan komplikasi utama tindakan perkutan ini. Biasanya insisi
kecil (1 cm) dibuat di lokasi ruptur (baik melintang atau membujur) yang
memungkinkan ruptur dapat terlihat. Tendon bagian proksimal dijepit dan
dijahit perkutan melalui tendon yang lebih proksimal dan ditarik masuk ke
selubung tendon. Proses ini diulang di bagian distal dan kemudian jahitan ini
diikat bersama-sama.

Teknik terbuka yang terbatas menggunakan elemen hibrid terbuka dan


teknik perkutan untuk meminimalkan gangguan jaringan. Prinsip fiksasi stabil,
panjang tendon yang tepat, penanganan jaringan lunak secara hati-hati, dan
perlindungan terhadap struktur saraf harus selalu dilakukan.

J. Komplikasi
Komplikasi dari tindakan konservatif pada ruptur tendon achilles antara lain
terjadinya ruptur ulang dan penurunan kemampuan fleksi dari plantar. Sedangkan
komplikasi tindakan operasi perkutaneus atau operasi terbuka adalah adanya infeksi
kulit superfisial, infeksi dalam, ulkus pada tumit, ruptur achilles ulang parsial
ataupun komplit. Namun kejadian ruptur ulang pada tindakan operasi lebih rendah
dibandingkan dengan tindakan hanya dengan konservatif.

13
BAB III
MANAJEMEN FISIOTERAPI CHARTS

Anamnesis Umum Vital Sign

Nama : Ny. S TD :130/70 mmHg

Jenis Kelamin : Perempuan P : 20x / menit

Umur : 32 tahun DN : 72x / menit

Alamat : Morowali S : 36o C

Agama : Islam

Pekerjaan : Wiraswasta

Hobby : Olahraga

Chief Of Complain

Nyeri pada pergelangan kaki akibat kecelakaan 1 minggu yang lalu.

History Taking

Pasien mengalami kecelakan saat dibonceng memakai motor sekitar satu minggu yang
lalu. Kaki pasien lalu masuk ke bagian terali motor dan merobek pergelangan kaki
pasien bagian belakang. Pasien lalu dibawa ke rmah sakit morowali dan dilakukan
tindakan operasi. Dua hari setelah operasi pasien kemudian dirujuk ke RSWS dan akan
dilakukan tindakan operasi kembali. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit lain.

Assimetrical

1. Inspeksi Statis:

Wajah pasien tampak cemas

Tungkai dekstra diimobilisasi

2. Inspeksi Dinamis:
Pasien bisa berjalan dengan menggunakan tongkat

14
3. Palpasi
Suhu : Normal
Tenderness : -
Terdapat oedem pada pergelangan kaki
4. PFGD
Knee

Aktif Pasif
Gerakan
Dekstra Sinistra Dekstra Sinistra

Fleksi Dapat dilakukan Dapat dilakukan Dapat Dapat dilakukan


full ROM full ROM dilakukan full full ROM
ROM

Ekstensi Dapat dilakukan Dapat dilakukan Dapat Dapat dilakukan


full ROM full ROM dilakukan full full ROM
ROM

Ankle : tidak dapat dilakukan

Restrictive

ROM : limitasi ROM regio ankle

ADL : Limitasi ADL walking, toiletting.

Pekerjaan : terbatas

Rekreasi : terbatas

Tissue Impairment

Psikogen : cemas
Muskulotendinogen : ruptur tendon achilles dekstra
Neurogen :-
Osteoarthrogen :-

Spesific Test

1. HRS-A
Hasil : 14
IP : Kecemasan sedang

15
2. VAS
Hasil : Nyeri gerak 7
Nyeri tekan
Nyeri diam -
3. Tes Thompson
Hasil : tes positif ditunjukkan dengan tidak adanya fleksi plantar ketika otot
diperas
4. Romberg Test
Hasil : Pasien kurang mampu mempertahankan keseimbangan
Interpretasi : terdapat gangguan keseimbangan
5. MMT
Hasil: tidak dapat dilakukan karena ankle pasien diimobilisasi
6. ADL Test Indeks Katz
Hasil: Indeks Katz F
Interpretasi: Mandiri kecuali bathing, dressing, toiletting, transfering.
7. Radiologi/MRI
Hasil: Ruptur tendon achilles
Diagnosis FT
Gangguan aktifitas fungsional ankle akibat ruptur tendon achilles 1 minggu yang
lalu.

Problem FT

Problem primer : Nyeri, cemas

Problrm sekunder : Keterbatasan ROM ankle joint, Muscle weakness

Problem kompleks : ADL walking

Tujuan FT:

Tujuan jangka pendek:

1. Mengurangi nyeri & edema


2. Memelihara & meningkatkan kekuatan otot
3. Mengembalikan fungsi soft tissue yg telah mengalami lesi/injury
4. Meningkatkan sirkulasi darah
Tujuan jangka panjang:
1. Mengatasi keterbatasan gerak pada ankle joint
2. Memperkuat otot
3. Mengembalikan kapasitas fisik & kemampuan fungsional gerak pada ankle joint

16
Intervensi FT
Pre-operasi

No Problem Ft Modalitas Ft Dosis

1 Nyeri RICE
Rest F : setiap hari
I : konstan
T : lying
T : 1x24jam
Ice F : setiap hari
I : 3 menit
T : intermitten (3/2)
T : 20-30 menit
Compression F : setiap hari
I : konstan
T : pressure bandage
T : 1x24jam
Elevation F : setiap hari
I : konstan
T : Lokal
T : 1x24jam

Post operasi

No Problem Modalitas Dosis

1. Gangguan Breathing exercise F: setiap hari


I : 3 x 6 repetisi
pernapasan
T: Deep breathing
T: 60 sekon

17
2 Nyeri Exercise therapy F: setiap hari
I : 3 hit x 6 repetisi
.
T: Statik kontraksi
T: 2 menit

3. Limitasi ROM ROM Exercise F: 1 kali/hr


I: 8 x pengulangan/1 x terapi
pada ankle joint
T: Pasif ROM pd ankle joint
T: 2 menit

4 Penurunan Exercise therapy F : setiap Hari


I : 6 hit, 8x pengulangan
kekuatan otot
T : strengthening exercise
T : 2 menit

5 Gangguan berjalan Exercise therapy F : setiap hari


I : 3x8 pengulangan
T : walking eexercise
T : 5 menit

Functional training F : setiap hari


I : 3x8 pengulangan
T : pasien fokus
T : 5 menit

DAFTAR PUSTAKA

18
1. Bleakney RR, White LM, Maffuli N. Imaging of the Achilles tendon. [cited 20 july
2014]. Available from http://www.springer.com/978-1-84628-628-5.

2. Kvist M, Jarvinen M. The operative treatmen of chronic calcaneal peritonitis. J Bone


Joint Surg (Br): 1980; 62: 353-57

3. Kane V. Ruptur tendon Achilles. [cited 28 august 2014]. Available from


http://www.kerjanya.net/faq/5475-ruptur-tendon-achilles.html.

4. Schweitzer ME, Karasick D. MR imaging of disorders of the Achilles tendon. AJR:


2000; 175: 613-25

5. Jozsa L, Kannus L. Human tendons anatomy, physiology, and pathology. Human


kinetics. Champaign, Illinois. 1997

6. Olsson N. Acute achilles tendon rupture: outcome, prediction and optimized


treatment. 2013. Gothenburg, Sweden.

7. Anonim. Achilles tendon rupture. [cited 01 september 2014]. Available from


https://www.aofas.org/education/OrthopaedicArticles/Achillesruptures

8. Buono AD, Chan O, Maffulli. Achilles tendon: functional anatomy and novel
emerging models of imaging classification. 2012. International Orthopaedics

9. Wijesekera NT, Calder JD, Lee JCL. Imaging in the assessment and management of
achilles tendinopathy and paratendinitis. Seminars in musculoskeletal radiology: 2011;
5(1): 89-100

10. Strauss EJ, Ishak C, Jazrawi L, Sherman O, Rosen J. Operative treatment of acute
achilles tendon rupture: an institutional review of clinical outcomes. Inj J.Care Injured:
2006; 1-7. [cited 01 September 2014]. Available from www.elsevier.com/locate/injury

11. Adler RS, Finzel KC. The complementary roles of MR imaging and ultrasound of
tendons. Radiol Clin N Am: 2005; 771-807

12. Martino F, Silvestri E, Grassi W, Garlasci G. Musculoskeletal sonography:


technique, anatomy, semeiotics and pathologica findings in rheumatic disease. 2007.
Springer-Verg, Italy.

13. Kayser R, Mahlfeld K, Heyde CE. Partial rupure of the proximal Achilles endon: a
differential diagnostic problem in ultrasound imaging. Br L Sport Med: 2005; 39: 838-
42

14. Karjalainen PT. Magnetic resonance imaging of Achilles tendon. Academic


Dissertation: 2000. University of Hesinki, Finland.

19
15. Ohberg L. The chronic painful Achilles tendon sonographic finding and new
methods for treatment. Dissertation: 2003. Umea University, Sweden. 37

16. Hodgson RJ, Oconnor PJ, Grainger AJ. Tendon and ligament imaging. The British
Journal of Radiology: 2012; 85: 1157-72

17. Robertson BL, Jamadar DA, Jacobson JA, Brigido MK, Caoili EM, Margaliot Z, et
al. Extensor retinaculum of the wrist: sonographic characterization and
pseudotenosynovitis appearance. AJR: 2007; 188: 198-202

18. Peer S, Kovacs P, Harpf C, Bodner G. High-resolution sonography of lower


extremity peripheral nerves. J Ultrasound Med: 2002; 21; 315-22

19. Pillen S. Skeletal muscle ultrasound. European Journal Translation Myology: 2010;
1(4): 145-55

20