Anda di halaman 1dari 20

Pedoman Auditing Produk Halal

Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

PEDOMAN AUDITING PRODUK HALAL


LEMBAGA PENGKAJIAN PANGAN, OBAT-OBATAN,
DAN KOSMETIKA - MAJELIS ULAMA INDONESIA

JAKARTA, OKTOBER 2011 M

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 0/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

KATA PENGANTAR

Dalam rangka pelaksanaan audit LPPOM MUI di seluruh Indonesia, Kami telah
menyusun pedoman pelaksanaan pemeriksaan (auditing) LPPOM MUI yang
mencakup audit bahan dan Sistem Jaminan Halal (SJH). Diharapkan dengan adanya
Pedoman Auditing ini, auditor LPPOM MUI Provinsi dapat melaksanakan audit
sesuai dengan acuan/standar dan tahapan yang telah ditetapkan. Sehingga auditor
mampu memberikan laporan yang akurat dan obyektif kepada Komisi Fatwa MUI
Provinsi.

Pedoman auditing ini juga memuat jalur koordinasi antara LPPOM MUI Pusat dan
LPPOM MUI Provinsi terkait pendampingan audit maupun pelaporan audit.
Pendampingan audit dilakukan untuk memberikan peningkatan pengetahuan tata cara
audit bagi auditor LPPOM MUI Provinsi melalui auditor LPPOM MUI Pusat degan
cara audit bersama di perusahaan nasional yang berlokasi di daerah. Sedangkan
pelaporan audit dilakukan jika audit dilaksanakan oleh semua auditor nasional yang
ada di provinsi atau satu dari dua auditor merupakan auditor nasional yang ada di
provinsi. Sehingga auditor nasional yang ada di provinsi dapat membuat laporan audit
sesuai dengan acuan format yang diberikan untuk dapat dilanjutkan ke Komisi Fatwa
MUI Pusat.

Implementasi Pedoman Auditing ini akan dipantau oleh Bidang Pembinaan LPPOM
MUI Daerah yang dikoordinasikan dengan Bidang Auditing dengan tetap menjaga
sinergi organisasi. Hal ini penting untuk mencapai tujuan organisasi dengan tetap
mempertimbangkan dinamika yang terjadi, baik di Pusat maupun di Provinsi.

Akhirnya, semoga kita semua diberikan keringanan langkah untuk melaksanakan


organisasi LPPOM MUI sebagai perwujudan amanah yang diberikan ummat kepada
kita semua.

Jakarta, Oktober 2011

Ir. Lukmanul Hakim, M.Si


Direktur LPPOM MUI

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 1/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

BAB I
PENDAHULUAN

Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia


(LPPOM MUI) telah menyusun pedoman pelaksanaan pemeriksaan (auditing) produk
halal untuk pelaksanaan sertifikasi halal bagi Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-
obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Provinsi diseluruh wilayah Republik
Indonesia. Pedoman ini dimaksudkan agar proses sertifikasi halal suatu produk oleh
auditor LPPOM MUI Provinsi berjalan dengan baik, terstandardisasi, obyektif,
transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Audit ada dua macam, yaitu audit bahan dan Sistem Jaminan Halal (SJH). Audit
bahan adalah untuk keperluan sertifikasi halal, sedangkan audit SJH adalah untuk
melihat konsistensi perusahaan dalam menjamin kehalalan selama masa berlakunya
sertifikat halal.

Sebagai acuan dalam pelaksanaan auditing halal, maka digunakan standar sertifikasi
halal LPPOM MUI. Standar ini meliputi Persyaratan Bahan, Persyaratan Fasilitas
Produksi, Persyaratan Proses Produksi, Persyaratan Produk dan Persyaratan Sistem
Jaminan Halal.

Pedoman audit produk halal ini meliputi tahap Pra Audit, Proses Audit dan Pasca
Audit. Masing-masing tahapan ini harus dilaksanakan dengan sistematis, sehingga
dapat memberikan informasi yang benar, akurat dan obyektif sebagai dasar penetapan
fatwa oleh Komisi Fatwa MUI Provinsi.

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 2/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

BAB II
DEFINISI-DEFINISI

1. Usaha Mikro (SK Dir BI No. 31/24/KEP/DIR/tgl 5 Mei 1998) adalah Usaha
yang dijalankan oleh rakyat miskin atau mendekati miskin. Dimiliki keluarga,
sumber daya lokal dan teknologi sederhana. Lapangan usaha mudah untuk exit
dan entry.

2. Usaha Kecil (Undang-undang No. 9/1995 tentang usaha kecil) adalah usaha
yang mempunyai aset lebih kecil dari 200 juta diluar tanah dan bangunan,
memiliki omset tahunan lebih kecil dari 1 Milyar, dimiliki oleh orang Indonesia
independen, tidak terafiliasi dengan usaha menengah/besar, serta boleh berbadan
hukum atau tidak.

3. Usaha Menengah (SK Dir BI No. 30/45/Dir/UK tgl 5 Jan 1997) adalah usaha
yang mempunya aset lebih kecil dari 5 Milyar untuk sektor industri, aset lebih
kecil dari Rp 600 Juta diluar tanah dan bangunan untuk sektor non industri
manufaktur serta memiliki omset tahunan lebih kecil dari Rp 3 Milyar.

4. Auditor Provinsi adalah auditor yang mempunyai persyaratan kualifikasi


sebagai auditor provinsi.

5. Auditor Nasional adalah auditor yang mempunyai persyaratan kualifikasi


sebagai auditor nasional.

6. Auditor Internasional adalah auditor yang mempunyai persyaratan kualifikasi


sebagai auditor internasional.

7. Pre audit memorandum adalah catatan yang dibuat oleh Bidang Auditing
setelah mempelajari dokumen permohonan sertifikasi halal dari perusahaan yang
akan diaudit.

8. Audit memorandum adalah catatan yang dibuat oleh auditor setelah


melakukan audit lapangan untuk diperbaiki oleh perusahaan yang diaudit.

9. Tahapan audit meliputi: Pra Audit, Audit dan Pasca Audit.

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 3/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

BAB III
STANDAR SERTIFIKASI HALAL

1. Tujuan :

1.1 Menjadi pedoman kegiatan audit dalam proses sertifikasi halal


1.2 Menjadi pedoman perusahaan dalam mempersiapkan untuk mendapatkan
sertifikat halal dari MUI
1.3 Menjadi pedoman perusahaan dalam mempertahankan sertifikat halal MUI
yang telah diperolehnya.

2. Ruang Lingkup :

Ruang lingkup persyaratan umum untuk memperoleh sertifikat halal MUI


meliputi :
2.1 Persyaratan Bahan
2.2 Persyaratan Fasilitas Produksi
2.3 Persyaratan Proses Produksi
2.4 Persyaratan Produk
2.5 Persyaratan Sistem Jaminan Halal

3. Definisi :

Sertifikasi Halal adalah suatu proses untuk memperoleh sertifikat halal melalui
beberapa tahap untuk membuktikan bahwa bahan, fasilitas produksi, proses
produksi, produk, dan sistem jaminan halal memenuhi persyaratan LPPOM MUI.

4. Persyaratan :

4.1 Bahan
4.1.1 Semua bahan (bahan baku, bahan pembantu, dan bahan penolong)
yang digunakan harus halal. Bahan halal adalah bahan yang
bersertifikat halal MUI atau lembaga lain yang diakui MUI atau
berdasarkan spesifikasi bahan/diagram alir proses produksi bahan
dapat digunakan atau merupakan bahan yang tidak kritis (lihat
persyaratan persetujuan bahan)
4.1.2 Bahan yang berupa intermediet atau raw product tidak boleh
dihasilkan dari fasilitas produksi yang juga digunakan untuk
membuat produk yang menggunakan babi atau turunannya sebagai
salah satu bahannya.
4.1.3 Pengkodean
Perusahaan yang menerapkan pengkodean terhadap bahan atau
produk harus dapat menjamin masih dapat ditelusuri dengan jelas
baik terhadap bahan yang digunakan, produsen maupun status halal

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 4/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

dari masing-masing bahan. Pengkodean juga harus menjamin


barang dengan kode yang sama berstatus halal yang sama.
4.1.4 Seluruh bahan (baku, tambahan, dan penolong) yang digunakan
perusahaan dan telah disetujui oleh LPPOM MUI didokumentasikan
dalam bentuk Daftar (Matrik) Bahan yang ditandatangani oleh pihak
perusahaan dan Direktur LPPOM MUI.

4.2 Fasilitas produksi


4.2.1 Lini produksi dan peralatan pembantu tidak boleh digunakan secara
bersama atau bergantian untuk menghasilkan produk halal dan
produk yang mengandung babi atau turunannya.
4.2.2 Lini produksi dan peralatan pembantu yang pernah digunakan untuk
menghasilkan produk yang mengandung babi atau turunannya, jika
akan digunakan untuk menghasilkan produk halal, maka harus
dicuci tujuh kali dengan air dan salah satunya dengan tanah atau
bahan lain yang dapat menghilangkan rasa, bau, dan warna.
4.2.3 Lini produksi dan peralatan pembantu yang digunakan secara
bersama untuk menghasilkan produk yang disertifikasi dan produk
yang tidak disertifikasi (tetapi bahannya tidak berasal dari
babi/turunannya) harus dicuci/dibersihkan sedemikian rupa sehingga
menjamin tidak terjadi kontaminasi.
4.2.4 Seluruh fasilitas produksi yang digunakan untuk menghasilkan
produk yang disertifikasi harus didaftarkan.

4.3 Maklon
Perusahaan yang membuat produk di tempat lain (maklon), harus
mewajibkan pabriknya menerapkan SJH dan mendokumentasikannya
secara khusus.

4.4 Proses
Proses produksi yang hanya berupa pengenceran, standardisasi, pemurnian,
dapat didaftarkan untuk sertifikasi bila produknya bersertifikat halal MUI.

4.5 Produk
4.5.1 Nama/orientasi/deskripsi produk tidak boleh merupakan atau
mengarah pada sesuatu yang haram/ritual agama lain.
4.5.2 Jika suatu produk dengan merk tertentu didaftarkan untuk
sertifikasi, maka semua produk dengan merk yang sama juga harus
didaftarkan.
4.5.3 Produk repacking/relabeling dapat didaftarkan untuk disertifikasi
hanya jika produk tersebut bersertifikat halal MUI atau dilakukan
audit di tempat produksi.
4.5.4 Khusus untuk restoran, semua menu harus didaftarkan untuk
sertifikasi.

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 5/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

4.6 Sistem Jaminan Halal


4.6.1 Perusahaan harus menerapkan Sistem Jaminan Halal (SJH).
4.6.2 Sistem Jaminan Halal adalah suatu jaringan kerja dimulai dari
komitmen manajemen puncak dan prosedur-prosedur yang disusun
saling berhubungan, diterapkan, dan dipelihara untuk menghasilkan
produk halal, menghindari kontaminasi terhadap produk halal dan
menjamin tidak adanya penyimpangan pada proses pengembangan
produk atau reformulasi atau maklon.
4.6.3 SJH perusahaan harus didokumentasikan dalam bentuk Manual
SJH.
4.6.4 Manual SJH harus didokumentasikan secara terpisah dari manual
sistem yang lain sedangkan prosedur, instruksi kerja dan form dapat
diintegrasikan dengan sistem mutu yang lain.

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 6/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

BAB IV
TAHAPAN AUDIT

1. PRA AUDIT

1.1 LPPOM MUI menyampaikan pemberitahuan kepada perusahaan yang akan


di audit: tentang jadwal audit dan persyaratan lainnya.

1.2 LPPOM MUI menerbitkan surat tugas pemeriksaan yang berisi:


1.2.1 Nama Tim Auditor dengan jumlah minimal dua auditor.
1.2.2 Penetapan hari dan tanggal audit.
1.2.3 Lingkup tugas Tim Auditor.

1.3 Sekretariat LPPOM MUI mempersiapkan :


1.3.1 Dokumen perusahaan dan manual SJH.
1.3.2 Dokumen perusahaan tahun sebelumnya (untuk perusahaan dengan
status perpanjangan)
1.3.3 Daftar isian pemeriksaan (audit).
1.3.4 Tiket dan dokumen perjalanan lainnya, jika diperlukan.
1.3.5 Honor auditor.
1.3.6 Wadah sampel, jika dianggap perlu.

1.4 Auditor mempersiapkan :


1.4.1 Mempelajari dokumen pendaftaran yang akan diaudit paling lambat
satu hari sebelum pelaksanaan audit dan mengkaji dokumen baru
serta dokumen tahun sebelumnya (untuk perusahaan dengan status
perpanjangan).
1.4.2 Membuat resume titik kritis dan informasi yang perlu dilengkapi
sebelum audit dilaksanakan untuk dijadikan pegangan pada saat
audit.
1.4.3 Menyiapkan kelengkapan-kelengkapan lain yang harus dibawa.

2. PROSES AUDIT

2.1 Pada waktu yang telah ditentukan Tim Auditor yang telah dilengkapi
dengan surat tugas mengadakan pemeriksaan (auditing) ke lokasi
perusahaan.

2.2 Transportasi mulai dari berangkat hingga pulang serta akomodasi selama
audit ditanggung oleh perusahaan. Pelaksanaannya diatur bersama antara
perusahaan dan LPPOM MUI.

2.3 Lokasi audit :


2.3.1 Audit dilakukan di lokasi produksi, termasuk untuk :

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 7/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

i. Produk kemas ulang (repacking product/relabel product kecuali


yang sudah ber SH MUI) atau produk yang didaftarkan oleh
distributor.
ii. Produk dengan bahan baku berupa base yang diproduksi di lokasi
lain atau dibeli dari pihak lain yang sudah ber SH MUI atau yang
bersertifikat halal dari lembaga yang telah diakui oleh MUI,
dimana pihak yang mengajukan sertifikasi halal hanya
melakukan proses lanjutan sederhana seperti proses pengenceran
(contoh: flavor) atau standardisasi mutu.
2.3.2 Audit dilakukan di setiap pabrik/cabang untuk perusahaan yang
memiliki beberapa lokasi pabrik atau cabang, dapur, gudang, dan
seluruh gerai restoran, termasuk pabrik maklon (toll manufacturing).
2.3.3 Jika dinilai perlu dapat dilakukan audit ke lokasi supplier untuk
bahan-bahan yang dinilai kritis dan perlu pemeriksaan proses
produksi atau fisik kemasan (pencocokan kode internal, lokasi
produsen, dll).

2.4 Audit dilakukan secara menyeluruh sesuai tahapan-tahapan audit halal. Jika
beban audit cukup banyak dan tidak dapat diselesaikan pada satu hari maka
dapat dilanjutkan pada hari yang lain.

2.5 Jika produsen mengajukan tambahan produk di luar yang dituliskan dalam
formulir pendaftaran, maka auditor dapat menerimanya dan tetap
melakukan audit sesuai waktu yang tersedia. Jika waktu tidak mencukupi
dapat dilanjutkan pada hari lain. Produsen tetap mengisi formulir baru
untuk produk tambahan yang diajukan dan harus diserahkan sebelum rapat
komisi fatwa dilaksanakan.

2.6 Audit dilakukan pada saat proses produksi sedang berlangsung, dengan
beberapa kondisi sebagai berikut :
2.6.1 Jika produk yang diaudit banyak dan beragam, maka tidak setiap
produk harus diproduksi pada saat diaudit, cukup diwakili tiap
kelompok produknya. Akan tetapi auditor harus memeriksa seluruh
formula produk dan dokumen pelaksanaan produksi secara
keseluruhan.
2.6.2 Bila pada saat audit dilakukan perusahaan belum dapat
melaksanakan proses pada skala produksi, maka audit dapat
dilakukan pada skala laboratorium.

2.7 Tahap-tahap audit :


2.7.1 Pertemuan Pembukaan (Entrance Meeting)
i. Auditor memperkenalkan diri dan mempresentasikan lembaga,
prosedur sertifikasi halal, kewajiban Sistem Jaminan Halal, dan
Standar Halal Haram menurut Fatwa.
ii. Auditor meminta perusahaan untuk mempresentasikan tentang:
a. Kondisi umum perusahaan dan alur proses produksi.
b. Bahan-bahan yang digunakan.

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 8/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

iii. Melakukan diskusi dengan pihak perusahaan atas uraian-uraian


dalam presentasi yang diberikan.
iv. Auditor meminta agar pihak perusahaan mempersiapkan daftar
seluruh bahan yang ada dalam pabrik, formula, dan bukti
pemesanan atau penerimaan barang yang digunakan untuk
produksi.
2.7.2 Pemeriksaan Dokumen
Dokumen yang diperiksa oleh auditor meliputi :
i. Matrik bahan yang didasarkan pada data base produk halal
LPPOM MUI Pusat dan Provinsi dalam direktori halal
MUI/Jurnal Halal.
ii. Catatan pembelian (tiga bulan terakhir) dan catatan
penyimpanan
iii. Formula produk.
2.7.3 Pemeriksaan Proses Produksi
i. Industri Pengolahan
a. Memastikan secara ainul yaqin jalannya proses produksi
mulai dari masuknya bahan sampai proses pengemasan
produk jadi.
b. Memastikan bahwa alat yang digunakan untuk proses
produksi halal tidak bergantian dengan alat yang digunakan
untuk proses produksi non sertifikasi halal.
c. Memeriksa kesesuaian bahan-bahan yang digunakan dan
formula produksi dengan bahan-bahan yang dilaporkan
(dilampirkan) dalam formulir permohonan sertifikat halal.
d. untuk perusahaan yang memproduksi produk-produk non
sertifikasi auditor harus melakukan analisis kesetimbangan
massa (material balance) untuk mencocokkan kesesuaian
antara bahan baku dan hasil produksi akhir dengan formula
yang ditetapkan.
e. Memeriksa kebersihan lingkungan produksi (bebas dari
kemungkinan tercemar barang-barang najis/haram).
f. Memeriksa traceability bahan terutama untuk yang sangat
kritis.
ii. Industri Restoran
a. memastikan bahwa restoran yang diaudit tidak menjual
produk yang haram.
b. Memastikan bahwa bahan, proses, alat, dan tempat penyajian
tidak bergantian dengan produk non sertifikasi halal.
(biasanya restoran di hotel)
c. Memastikan secara ainul yaqin jalannya proses pengolahan
menu mulai dari masuknya bahan sampai penyajian menu di
restoran.
d. Memeriksa kesesuaian bahan-bahan yang digunakan dan
formula produksi dengan bahan-bahan yang dilaporkan
(dilampirkan) dalam formulir permohonan sertifikat halal.

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 9/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

e. Memeriksa kebersihan lingkungan produksi (bebas dari


kemungkinan tercemar barang-barang najis/haram).
f. Memeriksa traceability bahan terutama untuk yang sangat
kritis.
iii. Rumah Potong Hewan
a. Memeriksa identitas penyembelih yaitu dengan melihat kartu
tanda penduduknya dan memastikan bahwa penyembelih
beragama Islam.
b. Menanyakan bacaan yang diucapkan oleh juru sembelih
sebelum menyembelih hewan dan memastikan bahwa juru
sembelih membaca Bismillah Allah Akbar saat melakukan
penyembelihan.
c. Memeriksa apakah perusahaan melakukan stunning atau
tidak.
d. Memastikan hewan yang telah di stunning tidak mati
sebelum penyembelihan, dengan jumlah sample untuk
unggas berjumlah 10 (sepuluh) ekor dan untuk hewan besar
berjumlah 1 (satu) ekor.
e. Memastikan darah dari hewan yang disembelih keluar
sempurna.
f. Memastikan hewan telah benar-benar mati sebelum
dilakukan proses lebih lanjut.
g. Memastikan bahwa darah tidak dimanfaatkan untuk
konsumsi manusia.
h. Memastikan bahwa bangkai hewan sembelihan dimusnahkan
tidak dimanfaatkan untuk konsumsi manusia.
i. Memastikan bahwa daging halal ditandai dan disimpan pada
tempat yang baik dan tidak bercampur dengan daging non
sertifikasi halal.
2.7.4 Pemeriksaan Fisik Persediaan Bahan Industri Kecil dan Industri
Rumah Tangga
i. Memeriksa identitas seluruh bahan-bahan yang terdapat di
dalam gudang mencakup :
a. Nama bahan
b. Nama produsen
c. Alamat produsen
d. Tanda halal atau informasi lain yang dipersyaratkan dalam
sertifikat halal pada kemasan atau produk.
ii. Memeriksa catatan pembelian, catatan penyimpanan.
iii. Memeriksa kesesuaian antara matrik bahan dengan kondisi di
lapangan dan membuat catatan jika terdapat ketidaksesuaian.
iv. Memastikan bahwa perusahaan hanya memproduksi produk
halal saja.
2.7.5 Pemeriksaan Fisik Persediaan Bahan Industri Menengah
i. Memeriksa identitas seluruh bahan-bahan yang terdapat di
dalam gudang mencakup :
a. Nama bahan

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 10/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

b. Nama produsen
c. Alamat produsen
d. Tanda halal atau informasi lain yang dipersyaratkan dalam
sertifikat halal pada kemasan atau produk.
ii. Memeriksa kesesuaian antara matrik bahan dengan stok nyata
bahan di lapangan.
iii. Memeriksa kartu stok gudang dan memeriksa kesesuaian kartu
stok dengan persediaan nyata yang ada terutama untuk bahan-
bahan yang dinilai kritis dan mencatat jumlanya.
iv. Memeriksa dokumen penerimaan dan pengeluaran bahan di
gudang untuk mengetahui barang masuk dan barang yang
digunakan dalam proses produksi (tanggal dan jumlah
penerimaan barang) terutama untuk bahan-bahan yang dinilai
kritis.
v. Mencatat bahan-bahan yang terdapat di dalam gudang namun
tidak tercantum dalam daftar bahan dalam kartu stok ataupun
dalam pendaftaran.
vi. Memastikan adanya pemisahan antara bahan produksi
sertifikasi halal dan non sertifikasi halal jika produsen juga
memproduksi produk non sertifikasi halal.
2.7.6 Pemeriksaan Gudang Produk Akhir IKM dan Usaha Rumah Tangga
i. Penyimpanan
a. Memeriksa tempat/gudang penyimpanan hasil produksi dan
memastikan bahwa penyimpanan produk sertifikasi halal
tidak tercampur dengan produk non sertifikasi halal yang
memungkinkan terjadinya kontaminasi silang.
b. Memeriksa kebersihan lingkungan produksi (bebas dari
kemungkinan tercemar barang-barang najis/haram).
ii. Pengiriman Barang Hasil Produksi
Memeriksa kemungkinan tercampurnya hasil produksi dengan
barang-barang haram/najis selama proses pengiriman.
2.7.7 Pemeriksaan Gudang Produk Akhir Penyembelihan Hewan
i. Penyimpanan
a. Memeriksa tempat/gudang penyimpanan daging dan produk
sampingannya tidak bercampur dengan tempat penyimpanan
daging dan produk sampingan daging non sertifikasi halal.
b. memeriksa bahwa dalam gudang tersebut tidak ada daging
yang haram atau tidak jelas kehalalannya.
c. Memeriksa kebersihan lingkungan gudang (bebas dari
kemungkinan tercemar barang-barang najis/haram).
ii. Pengiriman Barang Hasil Produksi
a. Memastikan bahwa alat transportasi untuk daging halal tidak
digunakan untuk mengangkut daging non sertifikasi halal.
b. Memastikan bahwa alat transportasi untuk daging halal tidak
digunakan untuk mengangkut daging haram.
2.7.8 Pemeriksaan Penyajian Menu di Restoran
i. Penyajian

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 11/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

a. Memastikan bahwa menu halal disajikan tidak bersamaan


dengan menu tidak halal.
b. Memeriksa kebersihan lingkungan restoran (bebas dari
kemungkinan tercemar barang-barang najis/haram).
ii. Pesan antar Menu
a. Memastikan bahwa menu yang dikirim tidak mungkin
ditambah dengan menu yang tidak halal selama dalam
perjalanan.
b. Memastikan bahwa alat transportasi yang digunakan dapat
mencegah cemaran dari bahan yang haram.
2.7.9 Pembuatan Laporan Hasil Audit
Setelah selesai pemeriksaan, auditor membuat laporan hasil audit
dengan cara mengisi Pedoman dan Daftar Isian Pemeriksaan (Audit)
Produk Halal yang telah disediakan.
2.7.10 Pertemuan Penutup (Exit Meeting)
i. Tim Auditor melakukan pertemuan penutup dengan pihak
perusahaan setelah audit selesai dilakukan.
ii. Dalam pertemuan ini dibicarakan mengenai hasil pemeriksaan
dan temuan-temuan yang telah dituangkan dalam laporan hasil
audit.
iii. Tanggapan-tanggapan auditee atas temuan-temuan tersebut
dicatat.
iv. Auditor menjelaskan bagaimana komunikasi selanjutnya antara
LPPOM MUI dengan perusahaan harus dilakukan secara resmi
melalui surat yang ditujukan kepada Direktur LPPOM MUI.
Auditor menyampaikan kewajiban perusahaan mengenai Sistem
Jaminan Halal (SJH).
v. Auditor menyampaikan bahwa sebelum penyerahan Sertifikat
halal, perusahaan diwajibkan menyampaikan matriks (aturan
dan format terlampir).
vi. Pihak perusahaan/auditee diminta menandatangani laporan
yang telah dibuat.
vii. Auditor menandatangani laporan hasil audit yang telah
dilaksanakan.

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 12/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

PASCA AUDIT

2.8 Berkas audit segera dikembalikan kepada petugas pengarsipan. Untuk


kepentingan pembuatan laporan auditor hanya boleh meminjam berkas
untuk dibawa keluar kantor LPPOM MUI selama 3 (tiga) hari dengan
mengikuti Prosedur Peminjaman Berkas.

2.9 Hasil audit didiskusikan di dalam rapat auditor.

2.10 Permasalahan yang belum selesai dikomunikasikan kepada perusahaan


melalui Audit Memorandum. Konsep Audit Memorandum dibuat oleh
auditor kemudian disiapkan dan dikirimkan ke perusahaan oleh sekretariat
LPPOM MUI. Jawaban atas Audit Memorandum ditindaklanjuti oleh
auditor sesuai dengan keputusan rapat auditor sebelumnya. Audit
Memorandum beserta jawaban didokumentasikan oleh sekretariat.

2.11 Hasil audit yang sudah dinyatakan tidak bermasalah dalam rapat auditor,
dibuatkan laporannya oleh auditor untuk diajukan ke Rapat Komisi Fatwa.
Laporan ditulis sesuai dengan format yang telah ditetapkan oleh LPPOM
MUI (harap ditampilkan formatnya) dengan melampirkan dokumen yang
diperlukan dalam laporan tersebut dan matrik bahan terkini sesuai dengan
perkembangan selama audit yang ditandatangani oleh Auditor Halal
Internal dan diketahui oleh pimpinan perusahaan serta diparaf oleh auditor
yang melakukan pemeriksaan.

2.12 Setelah dinyatakan halal oleh Komisi Fatwa MUI maka hasil ini
dikembalikan ke sekretariat untuk pencetakan sertifikat halal sesuai dengan
fatwa yang ada. Sertifikat ini kemudian ditandatangani oleh Direktur
LPPOM MUI Provinsi, Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi dan Ketua
Umum MUI Provinsi.

2.13 Sertifikat yang telah ditandatangani diserahkan kepada pimpinan


perusahaan di kantor LPPOM MUI Provinsi atau ditempat lain yang
dianggap mungkin.

2.14 Sekretariat membuat dokumentasi penyerahan sertifikat halal dan membuat


salinan sertifikat halal yang telah dikeluarkan.

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 13/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

BAB V
PERSYARATAN DAN KLASIFIKASI AUDITOR LPPOM MUI

Untuk melaksanakan proses auditing halal dibutuhkan auditor LPPOM MUI yang
sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang dibutuhkan.

1. Definisi

1.1 Auditor provinsi adalah auditor LPPOM MUI yang mempunyai persyaratan
kualifikasi sebagai auditor provinsi.
1.2 Auditor nasional adalah auditor LPPOM MUI yang mempunyai persyaratan
kualifikasi sebagai auditor nasional.
1.3 Auditor internasional adalah auditor LPPOM MUI yang mempunyai
persyaratan kualifikasi sebagai auditor internasional.

2. Persyaratan Auditor Halal

2.1 Umum
2.1.1 Muslim atau muslimah.
2.1.2 Mempunyai wawasan keislaman dengan selalu mendahulukan
kepentingan umat di atas kepentingan pribadinya.
2.1.3 Menerapkan akhlakul karimah dalam bertugas dan bersosialisasi
dengan lingkungannya.

2.2 Pendidikan/Pelatihan
2.2.1 Minimum berpendidikan S1 (Sarjana) yang memiliki keahlian ilmu
dasar dan aplikasi di bidang industri pangan, obat, dan kosmetik.
2.2.2 Telah mengikuti dan lulus dari Pelatihan Auditor Halal yang
diselenggarakan oleh LPPOM MUI.

3. Klasifikasi Auditor

3.1 Auditor Provinsi


3.1.1 Memenuhi persyaratan auditor halal
3.1.2 Memiliki SK pengangkatan sebagai auditor dari LPPOM MUI
Provinsi setempat

3.2 Auditor Nasional


3.2.1 Memenuhi persyaratan auditor halal
3.2.2 Memiliki SK sebagai auditor dari LPPOM MUI Provinsi
3.2.3 Telah aktif sebagai auditor daerah minimal 1 tahun
3.2.4 Telah melaksanakan audit ke perusahaan minimal 6 kali
3.2.5 Lulus pelatihan dasar SJH yang dilaksanakan LPPOM MUI Pusat

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 14/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

3.2.6 Lulus evaluasi yang diselenggarakan LPPOM MUI Pusat dan


mendapat SK pengangkatan sebagai auditor nasional dari LPPOM
MUI Pusat.

3.3 Auditor Internasional


3.3.1 Memiliki SK pengangkatan sebagai auditor nasional dari LPPOM
MUI Pusat
3.3.2 Telah aktif sebagai auditor nasional min 1 tahun
3.3.3 Telah melaksanakan audit ke perusahaan nasional min 10 kali
3.3.4 Mampu berbahasa Inggris/bahasa asing lainnya
3.3.5 Lulus evaluasi yang diselenggarakan LPPOM MUI Pusat dan
mendapat SK pengangkatan sebagai auditor internasional dari
LPPOM MUI Pusat.

4. Kode Etik Auditor

4.1 Melaksanakan tugas audit sebagai ibadah kepada Allah dan amanah umat
yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.

4.2 Jujur dan berani dalam mengungkapkan data dan informasi yang terkait
dengan bahan-bahan yang haram, najis, syubhat sesuai dengan ilmu dan
pengetahuan yang dimilikinya untuk kepentingan hasil auditing.

4.3 Obyektif, kritis, dan transparan dalam menganalisis dan menyimpulkan


temuan-temuan tanpa membuat tekanan kepada pihak perusahaan.

4.4 Amanah dan dapat menjaga kerahasiaan perusahaan dan tidak


menyampaikan kepada pihak lain.

4.5 Pandai dan menguasai bidangnya serta selalu ingin tahu perkembangan
ilmu terkait.

4.6 Teliti dan cermat dalam memeriksa data yang diperlukan dalam rangka
mencari kebenaran.

4.7 Tidak menerima suap.

4.8 Tidak menyalahgunakan hak dan wewenangnya sebagai auditor LPPOM


MUI untuk kepentingan pribadi.

4.9 Selalu menjaga citra LPPOM MUI.

4.10 Hal-hal yang belum diatur di atas, akan diatur kemudian.

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 15/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

BAB VI
PEDOMAN AUDIT PUSAT DAN DAERAH

LPPOM MUI selalu berupaya memberikan pelayanan sertifikasi halal yang terbaik,
cepat, dan akurat bagi produsen, baik di pusat maupun di daerah. LPPOM MUI telah
membuat mekanisme dan pedoman sertifikasi terhadap perusahaan dan produk yang
tersebuar di seluruh Indonesia, baik dalam skala daerah, nasional maupun
internasional. Mengingat luasnya wilayah Republik Indonesia, maka sudah dipandang
perlu untuk membuat pedoman sertifikasi yang lebih melibatkan peran LPPOM MUI
yang ada di setiap propinsi di Indonesia. Dengan demikian pelayanan tersebut
berlangsung lebih cepat, murah dan tetap sesuai dengan standard pemeriksaan Halal.

Pertimbangan pelaksanaan pedoman ini adalah pendaftar sertifikasi halal yang


semakin banyak dan lokasi pabrik yang tersebar di berbagai daerah. Oleh karena itu,
perlu peningkatan efektivitas dan efisiensi guna memberikan pelayanan auditing dan
proses pengawasan yang maksimal di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini semakin
menunjukkan perlunya peningkatan pembinaan dan standardisasi pelaksanaan SOP
LPPOM MUI Provinsi.

Kondisi yang berlaku saat ini adalah LPPOM MUI Provinsi melakukan audit dan
sertifikasi perusahaan daerah (sesuai SK PM No. 164). Sedangkan untuk perusahaan
nasional, Auditor LPPOM MUI Provinsi mendampingi auditor pusat pada saat
pelaksanaan audit di daerah untuk perusahaan yang mendaftar ke pusat. Mekanisme
ini dirasakan belum dapat menjawab berbagai persoalan sertifikasi halal dan dinamika
perusahaan yang sangat bervariasi. Oleh karena itu, untuk kasus-kasus yang berbeda
disusun pedoman sertifikasi, auditing dan pengawasan yang berbeda untuk mencapai
hasil yang optimal.

1. Mekanisme Audit

Tabel Mekanisme Audit


Keuangan untuk
No. Bentuk Perusahaan Pendaftaran Komposisi Auditor Sertifikat
Provinsi
1. Perusahaan nasional Pusat Auditor nasional Sertifikat - Biaya Audit untuk
dengan lokasi kantor di baik pusat maupun Pusat daerah
pusat dan pabrik di daerah. - Biaya Pengawasan
daerah
2. Perusahaan nasional Pusat atau Auditor nasional baik Sertifikat - Biaya administrasi
dengan lokasi kantor dibantu Daerah pusat maupun daerah. Pusat pendaftaran (jika
di pusat dan pabrik melalui daerah)
di daerah - Biaya Audit untuk
daerah
- Biaya Pengawasan

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 16/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

3. Perusahaan nasional Pusat Auditor nasional Sertifikat - Biaya Audit untuk


dengan cabang baik pusat maupun Pusat daerah
pabrik/outlet di daerah daerah. - Biaya Pengawasan

4. Perusahaan yang ada di Masing-masing Auditor daerah Sertifikat - Biaya Pendaftaran


banyak daerah dengan daerah, tapi yang telah Provinsi - Biaya Audit
manajemen terpisah semua daerah mendapat - Biaya Sertifikat
dan brand yang sama harus didaftarkan sertifikat dengan - Biaya Pengawasan
berkoordinasi - (seluruh biaya
pusat (Auditing sertifikasi)
dan Pembinaan
Daerah).
5. Perusahaan nasional Pusat atau Auditor nasional Sertifikat - Biaya administrasi
dengan lokasi kantor dibantu daerah di daerah. Pusat pendaftaran (jika
dan pabrik di daerah melalui daerah)
dengan produk - Biaya Audit untuk
sederhana daerah
- Biaya Pengawasan
6. Perusahaan Luar Pusat atau Auditor nasional Sertifikat - Biaya Pendaftaran
Negeri (produk impor) dibantu Daerah baik pusat maupun Pusat (jika melalui
dengan pemasaran daerah. daerah)
daerah tertentu - Biaya Audit untuk
daerah
7. Konversi perusahaan Pusat atau Auditor nasional Sertifikat - Biaya administrasi
Daerah ke Nasional dibantu Daerah baik pusat maupun Pusat pendaftaran (jika
daerah. melalui daerah)
- Biaya Audit untuk
daerah
- Biaya Pengawasan
- Biaya sertifikat akan
di share ke LPPOM
MUI Provinsi

1. Untuk perusahaan nasional dengan lokasi kantor di Pusat (Jakarta) dan lokasi
pabrik di daerah:
Pendaftaran sertifikasi halal dilakukan di Kantor LPPOM MUI Pusat, Jakarta
dengan menggunakan Borang Pendaftaran Pusat
Perusahaan harus melengkapi dokumen kehalalan bahan dan manual SJH (jika
dilakukan audit implementasi SJH) yang akan diperiksa sebagai proses pra
audit.
Pra audit yang terpenuhi merupakan prasyarat penjadwalan audit
Perusahaan akan mendapatkan Surat Akad Biaya Sertifikasi yang dikirimkan
oleh Bagian Keuangan LPPOM MUI. Setelah proses akad selesai, baru
dilakukan proses penjadwalan audit.
Jadwal audit dapat ditentukan oleh pihak LPPOM MUI/kesepakatan dengan
perusahaan/pihak BPOM (untuk perusahaan yang memasukkan registrasi di
BPOM)
Pemberitahuan resmi jadwal audit disampaikan dengan Surat Kunjungan dari
LPPOM MUI Pusat

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 17/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

Auditor yang ditugaskan adalah auditor nasional baik yang berada di Pusat
dan/atau auditor nasional yang berada di Provinsi berdasarkan penunjukkan
oleh Kepala Bidang Auditing LPPOM MUI Pusat
Surat Tugas Auditor dikeluarkan oleh LPPOM MUI Pusat
Setelah dilakukan proses audit, auditor menyampaikan hasil audit pada Rapat
Auditor. Jika terdapat temuan, maka akan disampaikan dalam bentuk Surat
Audit Memorandum. Jika hasil audit tidak ada yang bermasalah, maka auditor
membuat Berita Acara untuk Komisi Fatwa MUI Pusat
Jika auditor yang ditugaskan semuanya auditor nasional yang berada di
Provinsi, maka auditor menyampaikannya melalui telekonferens. Jika tidak
memungkinkan maka Berita Acara dan Laporan Audit SJH dikirimkan ke
Bidang Pembinaan LPPOM Daerah untuk disampaikan pada Rapat Auditor
dan Komisi Fatwa
Perusahaan yang lolos Komisi Fatwa akan mendapatkan Sertifikat Halal
LPPOM MUI Pusat

2. Untuk perusahaan nasional dengan lokasi kantor di Pusat (Jakarta) dan lokasi
pabrik di daerah:
Untuk mempermudah perusahaan dalam mendapatkan Sertifikat Halal,
pendaftaran sertifikasi halal dapat dilakukan di LPPOM MUI Provinsi dengan
menggunakan Borang Pendaftaran Pusat
LPPOM MUI Provinsi kemudian menginformasikan pendaftaran tersebut ke
LPPOM MUI Pusat untuk mendapatkan nomor registrasi
Surat Akad Biaya Sertifikasi dikeluarkan oleh LPPOM MUI Pusat
Proses Pra audit dilakukan oleh Kepala Bidang Auditing LPPOM MUI
Provinsi. Selanjutnya hasil periksa dokumen/hasil pre audit diinformasikan ke
Kepala Bidang Auditing LPPOM MUI Pusat dan Kepala Bidang Pembinaan
LPPOM MUI Daerah
Auditor yang ditugaskan adalah auditor nasional baik yang berada di Pusat
dan/atau auditor nasional yang berada di Provinsi berdasarkan penunjukkan
oleh Kepala Bidang Auditing LPPOM MUI Pusat
Surat Tugas Auditor dikeluarkan oleh LPPOM MUI Pusat
Setelah dilakukan proses audit, auditor menyampaikan hasil audit pada Rapat
Auditor. Jika terdapat temuan, maka akan disampaikan dalam bentuk Surat
Audit Memorandum. Jika hasil audit tidak ada yang bermasalah, maka auditor
membuat Berita Acara untuk Komisi Fatwa MUI Pusat
Jika auditor yang ditugaskan semuanya auditor nasional yang berada di
Provinsi, maka auditor menyampaikannya melalui telekonferens. Jika tidak
memungkinkan maka Berita Acara dan Laporan Audit SJH dikirimkan ke
Bidang Pembinaan LPPOM Daerah untuk disampaikan pada Rapat Auditor
dan Komisi Fatwa
Perusahaan yang lolos Komisi Fatwa akan mendapatkan Sertifikat Halal
LPPOM MUI Pusat

3. Untuk perusahaan nasional dengan cabang pabrik/outlet di daerah:

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 18/19


Pedoman Auditing Produk Halal
Edisi : 2 Revisi : 2
Pedoman Auditing Produk Halal Nomor Berkas :
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, LPPOM MUI/PD/X/2011
dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia Tgl. Dokumen : 24 / 10 /2011

Pendaftaran sertifikasi halal harus dilakukan di Kantor LPPOM MUI Pusat,


Jakarta dengan menggunakan Borang Pendaftaran Pusat
Auditor yang ditugaskan adalah auditor nasional baik yang berada di Pusat
dan/atau auditor nasional yang berada di Provinsi berdasarkan penunjukkan
oleh Kepala Bidang Auditing LPPOM MUI Pusat
Surat Tugas Auditor dikeluarkan oleh LPPOM MUI Pusat
Proses pra audit, akad biaya, audit, hingga perusahaan memperoleh Sertifikat
Halal dilakukan oleh LPPOM MUI Pusat

4. Untuk perusahaan yang ada di banyak daerah dengan manajemen terpisah dan
brand yang sama:
Pendaftaran sertifikasi halal dilakukan di masing-masing daerah, LPPOM
MUI Provinsi, menggunakan Borang Pendaftaran Daerah dengan syarat semua
lokasi harus didaftarkan
Auditor yang ditugaskan adalah auditor yang berada di Provinsi berdasarkan
penunjukkan oleh Kepala Bidang Auditing LPPOM MUI Provinsi
Surat Tugas Auditor dikeluarkan oleh LPPOM MUI Provinsi
Proses pra audit, akad biaya, audit, hingga perusahaan memperoleh Sertifikat
Halal Daerah dilakukan oleh LPPOM MUI Provinsi

5. Untuk perusahaan nasional dengan lokasi kantor dan pabrik di daerah dengan
produk sederhana:
Pendaftaran dapat dilakukan di LPPOM MUI Pusat atau LPPOM MUI
Provinsi
Proses sertifikasi sama dengan point 1 dan point 2 hingga perusahaan
memperoleh Sertifikat Halal Pusat

6. Untuk perusahaan Luar Negeri (produk impor) dengan pemasaran daerah


tertentu:
Pendaftaran dapat dilakukan di LPPOM MUI Pusat atau LPPOM MUI
Provinsi
Proses sertifikasi sama dengan point 1 dan point 2 hingga perusahaan
memperoleh Sertifikat Halal Pusat

7. Untuk konversi perusahaan Daerah ke Nasional:


Pendaftaran dapat dilakukan di LPPOM MUI Pusat atau LPPOM MUI
Provinsi
Proses sertifikasi sama dengan point 1 dan point 2 hingga perusahaan
memperoleh Sertifikat Halal Pusat

Pedoman Auditing Produk Halal-LPPOM MUI 19/19