Anda di halaman 1dari 26

RESPONSI

PITIRIASIS VERSICOLOR

Oleh :
Berlian Maya Dewi
G99161027

Pembimbing :
dr. Arie Kusumawardhani, Sp. KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN


KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2016
STATUS RESPONSI

ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

Pembimbing : dr. Arie Kusumawardhani, Sp.KK


Nama Mahasiswa : Berlian Maya Dewi
NIM : G99161027

PITIRIASIS VERSICOLOR

A.
DEFINISI
Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur kutis superfisial
yang ditandai dengan perubahan pigmen kulit akibat
kolonisasi stratum korneum oleh jamur pada flora normal kulit
yang dikenal sebagai Malassezia spp.1,2 Pitiriasis versikolor
adalah infeksi kronis, ringan, biasanya tanpa gejala. 1 Jamur ini
merupakan flora normal pada kulit, bersifat lipofilik dimorfik,
namun dapat menyebabkan penyakit jika berubah menjadi
bentuk patogen. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, seperti lingkungan, genetik, dan imunitas penderita.3,4
Lesi diskrit atau konfluen dan bervariasi dalam warna
dari merah, hipopigmentasi, hingga hiperpigmentasi. Daerah
yang biasanya terlibat adalah leher, dada, perut, ekstremitas
atas, punggung, dan pada tempat lain di kulit dengan
pengecualian telapak kaki dan telapak tangan.1-3 Lesi
mungkin papular, nummular, atau konfluen dan sedikit
bersisik.2,3 Selain keluhan utama adalah masalah kosmetik,
sekitar sepertiga dari pasien juga mengeluhkan gatal yang
cukup parah.2
Penyakit ini memiliki sifat rekuren, dan mungkin
memerlukan pengobatan ulang.5 Penyakit ini lebih umum di
daerah tropis karena suhu hangat dan kelembaban yang lebih
tinggi.4 Sedikit yang diketahui tentang keterlibatan daerah
lipatan dengan pitiriasis versikolor, meskipun kelembaban
dan meningkatkan berkeringat biasanya dianggap faktor
predisposisi pitiriasis versikolor.6
Pitiriasis versikolor juga disebut tinea versikolor,
kromofitosis, dermatomikosis, liver spots, tinea flava,
pitiriasis versikolor flava, dan panu.7

B.EPIDEMIOLOGI
Pitiriasis versikolor memiliki distribusi di seluruh dunia.
Hal ini lebih umum di daerah tropis (misalnya, di Western
Samoa, 49% pada orang dewasa, 39% pada anak-anak); di
daerah beriklim sedang, kejadian jauh lebih rendah
(misalnya, 3,7% di Italia; 1,1% di Swedia). Umumnya penyakit
usia pascapubertas dan matang ketika kelenjar sebasea yang
paling aktif dan terlihat pada orang sehat.2
Panu ini sangat umum di daerah beriklim sedang dan
lazim di daerah tropis dan subtropis.2,8 Insiden sebanyak 30-
40% di iklim tropis.1 Kebanyakan kasus terlihat pada musim
panas dan musim gugur.2 Infeksi jamur superfisial yang paling
umum adalah pedis tinea (27,3%), diikuti oleh PV (25,2%) di
Pusat Kulit Nasional, Singapura. PV diamati pada kelompok 20
sampai 30 tahun, tapi jarang terjadi pada anak-anak dan
orang tua. PV tidak jarang di antara anak-anak di daerah
tropis.8 Prevalensi keseluruhan 30% atau lebih mungkin
terjadi di daerah tropis.2

C. ETIOLOGI
Genus Malassezia saat ini termasuk sembilan spesies
lipofilik jamur basidiomiseta: M. furfur, M. pachydermatis, M.
sympodialis, M. globosa, M. restricta, M. sloofflae, M. obtusa,
M. dermatis, dan M. equi. Sebelumnya, M. furfur, M.
pachydermatis, dan M. sympodialis adalah satu-satunya
anggota dari genus. Pada tahun 1996, klasifikasi taksonomi
baru berdasarkan morfologi, ultrastruktur, dan biologi
molekuler telah diusulkan bahwa menambahkan empat
spesies baru. Baru-baru ini, ditemukan kemungkinan
identifikasi spesies baru M. japonica, M. nana, dan M.
yamatoensis yang membuat total menjadi 12. Ragi ini
menyebabkan spektrum yang luas dari penyakit kulit yang
dangkal, termasuk tinea (pitiriasis) versikolor, Pitirosporum
folikulitis, dan dermatitis seboroik, dengan kontribusi kepada
dermatitis atopik dan psoriasis.9
Beberapa studi telah menunjukkan M. globosa, M.
Sympodialis dan M. furfur sebagai tiga spesies dominan
Malassezia yang diisolasi dari lesi PV. 1 Sebuah studi di
Indonesia adalah yang pertama yang melaporkan isolasi dan
identifikasi Malassezia spp. dari PV di negara tropis. Isolat
yang ditemukan adalah Malassezia furfur (42,9%), M.
sympodialis (27,5%), M. globosa (13,3%), M. slooffiae (7,7%),
M. obtusa (7,7%) dan M. restricta (2,2%) , dan 7,14%
spesimen tidak teridentifikasi.1
Malassezia furfur (sebelumnya dikenal sebagai
Pityrosporum ovale, P. orbiculare) adalah ragi lipofilik yang
biasanya berada di keratin kulit dan folikel rambut individu
pada masa pubertas dan setelahnya. Ini adalah organisme
oportunistik, menyebabkan pitiriasis versikolor dan
Malassezia folikulitis dan terlibat dalam patogenesis
dermatitis seboroik.10

D.PATOGENESIS
Malassezia furfur dapat dikultur dari kulit yang terinfeksi
pitiriasis versikolor maupun kulit sehat dan merupakan flora
normal yang umumnya berada pada kulit yang kaya akan
sebum.9 Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan
dengan timbulnya pitiriasis versikolor ialah Pityrosporum
orbiculare yang berbentuk bulat atau Pityrosporum ovale
yang berbentuk oval.7 Malassezia furfur merupakan
organisme dismorfik dan lipofilik yang tumbuh in vitro hanya
dengan penambahan asam lemak C12 sampai C14 seperti
minyak zaitun dan lanolin.9Malassezia furfur merupakan fase
spora dan miselium.7,10 Malassezia berubah dari bentuk
blastospora menjadi bentuk miselial dibawah pengaruh faktor
predisposisi.10 Faktor yang memengaruhi perubahan tersebut
meliputi lingkungan hangat, lembab, kontrasepsi oral,
herediter, penggunaan kortikosteroid sistemik, penyakit
Cushings, imunosupresan, hiperhidrosis, dan malnutrisi. 10
Patogenesis dari makula hipopigmentasi oleh adanya toksin
yang langsung menghambat pembentukan melanin dan
adanya asam dekarbosilat yang dihasilkan oleh Pityrosporum
yang merupakan inhibitor kompetitif dari tirosinase.
Tirosinase adalah enzim yang berpran dalam pembentukan
melanin.10

E. GAMBARAN KLINIS
Temuan khas adalah makula, berbatas tegas (Gambar 1,
Gambar 2, Gambar 3), bulat atau oval, ukuran bervariasi,
bersisik hiperpigmentasi (PV nigra) atau hipopigmentasi (PV
alba), biasanya pada trunkus, lengan atas, leher, perut,
aksila, lipat paha, paha, alat kelamin. Wajah, leher, dan/atau
lesi kulit kepala terjadi pada pasien yang menggunakan
krim/salep glukokortikoid topikal.10,8
Karakteristik skuama terlihat seperti debu atau bulu
halus.9 Skuama paling baik didapat dengan pisau scalpel
no.15 atau tepi sebuah slide mikroskop. 10 Ada sedikit gatal
tapi hampir tidak ada gejala subjektif.8 Individu dengan PV
biasanya berobat karena kekhawatiran kosmetik tentang
pigmentasi.10 Pada kulit tidak coklat, lesi coklat muda. Pada
kulit kecokelatan, putih. Dalam berkulit gelap individu,
makula coklat gelap. Seiring waktu, lesi individu dapat
membesar, konfluen, membentuk wilayah geografis yang
luas.10

Gambar 1. Makula coklat berbatas tegas pada regio trunkus.


Skuama tipis terlihat ketika lesi terkena gesekan ujung slide
mikroskop.10
Gambar 2.Makula hipopigmentasi multipel, berukuran kecil-
sedang, berbatas tegas pada regio punggung dari individu
berkulit kecoklatan.10

Gambar 3. Makula Eritematous pada aksila9

F. DIAGNOSIS

PV didiagnosis dengan penampilan klinis dan


pengamatan banyak sel ragi dan hifa (disebut spaghetti and
meatball) dalam skuama diwarnai dengan metilen biru atau
Parker KOH dalam pemeriksaan mikroskopis (Gambar 4).8
Skuama terbaik diperoleh dengan dua slide mikroskop,
menggunakan salah satu untuk meningkatkan skuama dan
memindahkannya ke yang lain. Skuama dipanen dipindahkan
ke tengah slide dan ditutup dengan kaca penutup. Solusi KOH
(15 sampai 20%) ditambahkan di tepi coverslip tersebut. Hifa
berserabut dan bentuk ragi bulat disebut spaghetti and
meatball(lihat Gambar 4).9,10
Kisaran perubahan patologis diamati oleh fluoresensi
dalam lampu pemeriksaan Wood.8 Pemeriksaan lampu Wood
mungkin menunjukkan fluoresensi kekuningan dari skuama,
mungkin negatif pada individu yang telah mandi baru karena
bahan kimia neon larut dalam air. Vitiligo memiliki gambaran
depigmentasi, putih, dan tidak berskuama.9,10

A B

Gambar 4. A. Mikroskop langsung pasien PV,


menunjukkan sel ragi dan miselia (methylene blue).8 B.
Pengecatan KOH: Bentuk ragi bulat dan bentuk pseudohifa
memanjang, disebut "Spaghetti and meatball".10

Pada pemeriksaan biopsi menunjukkan stratum korneum


yang tipis bersama dengan hifa dan spora (Gambar 5). Pada
lesi, terdapat hiperkeratotik dan koloni hifa dan spora,
subepidermal fibroplasias, tidak ada melanosit dan minimal
infiltrat sel radang.11
Gambar 5. Gambaran histopatologi pada pitiriasis
versikolor dengan pewarnaan HE11

G. DIAGNOSIS BANDING

Penyakit yang menyerupai PV adalah vitiligo, pitiriasis


alba, hipopigmentasi post inflamasi, morbus hansen, tinea
corporis, dermatitis seboroik, pitiriasis rosea, psoriasis
guttate, eksim nummular.10 Hal yang paling penting untuk
diagnosis adalah untuk mendeteksi sel-sel ragi dan hifa
dengan pemeriksaan mikroskopis.8
1. Morbus Hansen

Kusta adalah penyakit granulomatosa kronis yang


disebabkan oleh M. leprae, terutama yang diperoleh
selama masa kanak-kanak/dewasa muda. Kulit, sistem
saraf perifer, saluran pernapasan bagian atas, mata, dan
testis adalah organ utama yang terlibat. Beberapa
terdefinisi dengan baik sebagai makula hipopigmentasi
hipoestesi (Gambar 6) dengan tepi meninggi dan
bervariasi dalam ukuran dari beberapa milimeter hingga
lesi yang sangat besar yang mencakup seluruh tubuh.
Berbatas eritematosa atau keunguan dan tengah
hipopigmentasi. Berbatas tegas, sering anular, membesar
di perifer. Daerah pusat menjadi atrofi / tertekan. Lesi
lanjut mengalami anestesi, tanpa kelenjar keringat, folikel
rambut.10

Gambar 6.MH tipe tuberkuloid10

2. Vitiligo

Vitiligo ditandai dengan makula yang sangat putih, secara


mikroskopis disebabkan tidak adanya melanosit,
berukuran 5 mm sampai 5 cm atau lebih (Gambar 7). Lesi
berwarna "kapur" atau putih pucat, berbatas tegas.
Vitiligo inflamasi memiliki batas eritematosa yang
meninggi dan mungkin gatal, serta memiliki tepi cembung
(seolah-olah proses patologis depigmentasi yang mengalir
ke kulit berpigmen).10
Gambar 7. Vitiligo.10

3. Hipopigmentasi Post Inflamasi

Hipopigmentasi post inflamasi selalu berhubungan


dengan hilangnya melanin. Ini adalah gambaran khusus
dari pitiriasis versikolor, di mana hipopigmentasi juga bisa
menetap selama berminggu-minggu setelah infeksi aktif
menghilang. Lesi biasanya tidak berwarna kapur putih,
seperti dalam vitiligo, dan memiliki batas yg tak diskret
(Gambar 8).10

Gambar 8. Hipopigmentasi Post Inflamasi.10


4. Pitiriasis Alba

Jenis umum dari hipopigmentasi dikaitkan dengan


pitiriasis alba (Gambar 9). Ini adalah makula
hipopigmentasi, yang terjadi sebagian besar di wajah
anak-anak, dengan skuama halus. Skuama dan batas
yang relatif tidak jelas di bawah cahaya Wood
membedakan dermatitis eksematosa dari vitiligo. Pitiriasis
alba merupakan penyalkit swasirna.10

Gambar 9. Pitiriasis alba pada anak-anak.10

5. Tinea Korporis

Tinea korporis mengacu pada infeksi dermatofit badan,


kaki, lengan, dan/atau leher. Plak berukuran kecil hingga
besar, berskuama, berbatas tegas, dengan atau tanpa
pustula atau vesikel. Lesi aktif di bagian perifer dan
menyembuh di tengah (central healing) (Gambar 10).
Beberapa lesi tunggal dan kadang-kadang tersebar.10
Gambar 10. Tinea Korporis.10

6. Pitiriasis Rosea

Pitiriasis rosea merupakan erupsi eksantematosa akut


dengan morfologi yang khas dan sering dengan
karakteristik swasirna. Awalnya, satu (utama, atau
"herald") lesi plak berkembang, biasanya pada badan, dan
1 atau 2 minggu kemudian erupsi sekunder umum
berkembang dalam pola distribusi yang khas (Gambar
11); seluruh proses sembuh spontan dalam 6 minggu.10

Gambar 11. Pitiriasis Rosea.10


7. Dermatitis numularis

Dermatitis numularis adalah dermatitis inflamasi kronis,


gatal, yang terjadi dalam bentuk plak berbentuk koin
terdiri dari kelompok papula kecil dan vesikel dengan
dasar eritematosa, umumnya terjadi pada kaki bagian
bawah laki-laki yang lebih tua saat musim dingin, dan
sering terlihat pada individu atopik. Vesikel kecil
berkelompok dan papula yang bergabung menjadi plak,
sering lebih dari 4 sampai 5 cm, dengan dasar
eritematosa dengan batas yang berbeda (Gambar 12).
Plak dapat menjadi eksudatif dan kerak. Ekskoriasi
sekunder timbul karena pasien menggaruk. Plak bersisik
kering yang dapat likenifikasi.10

Gambar 12. Dermatitis numularis.10

8. Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik adalah dermatitis kronis yang sangat


umum yang ditandai dengan kemerahan dan skuamasi
dan terjadi di daerah di mana kelenjar sebasea yang
paling aktif, seperti wajah dan kulit kepala, daerah
presternal, dan lipatan tubuh (Gambar 13). Dermatitis
seboroik ringan pada kulit kepala menyebabkan
pengelupasan, yaitu, ketombe.10
Gambar 13. Dermatitis seboroik.10

9. Psoriasis gutata

Lesi klasik psoriasis adalah papula eritematosa berbatas


tegas dengan skuama putih keperakan. skuama yang
pipih, longgar, dan mudah terkelupas oleh garukan
(Gambar 14). Pengelupasan skuama menyebabkan bintik
perdarahan (tanda Auspitz). Lesi yang diskrit, skuama
eritematosa, papula kecil dan plak di batang tubuh,
muncul setelah faringitis Streptokokus kelompok A. Ada
riwayat keluarga psoriasis.10
Gambar 14. Psoriasis Gutata.10

H. TERAPI

Berbagai macam obat topikal dapat digunakan dalam


mengobati tinea versikolor. Obat yang paling sering
digunakan adalah sampo selenium sulfid 2,5%, digunakan
setiap hari selama 2 minggu dengan cara didiamkan selama
10 menit lalu dicuci. Selanjutnya dapat digunakan satu
sampai dua kali sebulan untuk mencegah kekambuhan.8,9
Seluruh obat antifungi golongan azol topikal efektif dalam
terapi tinea versikolor. Sampo ketokonazol 2% digunakan
pada area yang terinfeksi dan didiamkan selama 5 menit,
ulangi selama 3 hari. Solusio terbinafin topikal 1% digunakan
2 kali sehari pada lesi selama 7 hari memberikan angka
kesembuhan hingga lebih dari 80%.9
Walaupun terapi topikal ideal untuk lesi lokal, terapi
sistemik mungkin dibutuhkan untuk pasien dengan lesi luas
atau kekambuhan, atau untuk lesi yang tidak membaik
dengan obat topikal. Ketokonazol oral (200 mg sehari selama
7 hari) atau itrakonazol oral (200-400 mg sehari selama 3-7
hari) hampir sepenuhnya efektif. Bahkan dosis sekali minum
itrakonazol 400 mg oral lebih efektif 75% dan sama efektif
dengan pemberian itrakonazol selama 7 hari. Flukonazol juga
efektif dan dapat diberikan dengan dosis sekali minum 400
mg.9 Untuk melihat pilihan terapi pitiriasis versikolor, lihat
Tabel 1.
Obat topikal
Selenium sulfid Pemakaian setiap hari pada area
(2.5%) losion atau yang terinfeksi selama 10-15 menit,
sampo bilas, selama 1 minggu
Ketokonazol sampo Pemakaian seperti selenium sulfid
Azol krim Pemakaian 1-2 kali sehari selama 2
(ketokonazol, minggu
ekonazol, mikronazol,
klotrimazol)
Terbinafin 1% 2 kali sehari selama 7 hari
solusio

Terapi sistemik
Ketokonazol 400 mg (1 jam sebelum olahraga)
Flukonazol 400 mg
Itrakonazol 400 mg

Profilaksis Ketokonazol sampo 1-2 kali


sekunder seminggu
Selenium sulfid (2.5%) losion atau
sampo
Asam salisilat/sulfur sabun
Pyrithione zinc (sabun atau sampo)
Ketokonazol 400 mg PO tiap bulan
Tabel 1. Terapi pada Pitiriasis Versikolor.10
I. PROGNOSIS
Prognosis dari penyakit ini adalah baik jika dilakukan
pengobatan secara holistik, tekun, dan konsisten. Pengobatan
ini harus diteruskan selama 2 minggu hingga fluoresensi
negatif dengan pemeriksaan lampu Wood dan tidak
ditemukan hifa pada pemeriksaan sediaan langsung kerokan
kulit.7,9 Infeksi berlangsung menahun jika faktor predisposisi
tidak dihindari. Dispigmentasi berlangsung selama berbulan-
bulan setelah infeksi sembuh.10

J. PENCEGAHAN

Pencegahan dapat dilakukan dengan selalu menjaga


higienitas perseorangan, hindari kelembaban kulit yang
berlebihan, dan menghindari faktor predisposisi terjadinya
pitiriasis versikolor.10 Penyakit ini merupakan penyakit yang
memiliki angka keambuhan sangat tinggi sehingga diperlukan
pengobatan yang berkelanjutan dan pencegahan dengan
menggunakan sampo selenium sulfid 2,5% satu sampai dua
kali dalam sebulan untuk membantu mencegah angka
kekambuhan penyakit tersebut.8,9

DAFTAR PUSTAKA

1. Krisanty RIA, Bramono K, Wisnu IM. Identification of


Malassezia species from pityriasis versicolor in Indonesia and
its relationship with clinical characteristics in: Mycoses.
Indonesia. 2008. p:257-262
2. U.S. National Health Survey. Tinea versicolor (Pityriasis
versicolor) in: Global Incidence And Prevalence. United
States. 2013.
3. Renati S, Cukras A, Bigby M. Pitiriasis versicolor. BMJ 2015;
350: 1394
4. Kyriakis KP, Terzoudi S, Palamaras I, Pagana G, Michailides C,
Emmanuelides S. Pityriasis versicolor prevalence by age and
gender in: Mycoses. Greece. 2006. p: 517-518
5. Gupta AK, Nicol K, Johnson A. Pityriasis versicolor: quality of
studies in: Journal of Dermatological Treatment. Canada.
2004. P: 40-45
6. Aljabre SHM. Intertriginous lesions in pityriasis versicolor in:
JEADV. Saudi Arabia. 2003. P: 659-662
7. Budimulja U. Mikosis : Pitiriasis Versikolor dalam: Djuanda A.
Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Ed.VI. Jakarta : balai
Penerbit FKUI. 2010. hal 100-1
8. Morishita N, Sei Y. Microreview of Pityriasis versicolor and
Malassezia species in: Mycopathologia. Japan. 2006. p: 373-
376
9. Heffernan MP, Janik MP. Yeast Infections: Candidiasis, Tinea
(Pityriasis) Versicolor. in: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI,
Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ. Fitzpatricks Dermatology in
General Medicine 7th Ed. New York. : McGraw Hill. 2008. p:
1822-30
10. Wolff K, Johnson RA.Fitzpatricks Color Atlas & Synopsis of
Clinical Dermatology 5th Ed. New York. 2007.
11. Hinshaw M, Longley JB. Fungal Diseases in: Elder DE,
Johnson B, Elenitsas R. Levers Histopathology of the Skin
9thEd. 2005. P: 608

LAPORAN KASUS
PITIRIASIS VERSICOLOR

A. ANAMNESIS
1. Identitas
Nama : Ny. EM
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 65 Tahun
Alamat : Perum Ngringo, Jaten, Karanganyar
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
Agama : Islam
No RM : 006617XX
Tanggal Pemeriksaan : 10 Oktober 2016

2. Keluhan Utama
Muncul bercak-bercak putih dan gatal.

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien merupakan konsulan dari bagian jantung dengan
keluhan muncul bercak-bercak putih dan gatal pada kulit
tangan kanan dan kiri, dada, punggung, serta paha sejak 5
bulan yang lalu. Bercak putih dan gatal awalnya muncul
pada daerah punggung kemudian meluas pada daerah
tangan kanan dan kiri, dada, serta paha. Gatal dirasakan
terus-menerus dan memberat terutama saat berkeringat.
Pasien mengaku telah mengatasi rasa gatalnya degan salep
Kalpanax yang dioles 2 kali sehari. Setelah diberikan salep
ini, kelurahan mereda namun muncul lagi saat pemberian
salep tersebut dihentikan.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit serupa : Disangkal
Riwayat atopi : Disangkal
Riwayat alergi obat : Disangkal
Riwayat alergi makanan : Disangkal
Riwayat diabetes melitus: Disangkal
Riwayat hipertensi : (+) terkontrol

5. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit serupa : Disangkal
Riwayat atopi : Disangkal
Riwayat alergi obat : Disangkal
Riwayat alergi makanan : Disangkal
Riwayat diabetes melitus: Disangkal
Riwayat hipertensi : Disangkal

6. Riwayat Sosial-Ekonomi
Pasien merupakan ibu rumah tangga dengan aktivitas
sedang dan cenderung berkeringat. Pasien berobat dengan
pembiayaan BPJS.

7. Riwayat Kebiasaan
Pasien tinggal dirumah seorang diri, rutin mandi 2 kali sehari
setiap pagi dan sore. Pasien tidak mengganti pakaian saat
berkeringat. Kebiasaan makan pasien teratur 3 kali sehari.

B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
Keadaan Umum : Baik, Composmentis
Vital Sign : BP : 160/90 mmHg RR : 20 x/Menit
HR : 86 x/menit t : 36,4
o
C
Status Gizi : BB : 71 kg TB : 165
cm
IMT : 26,1 kg/m2 (obesitas tipe 1)
Kepala : Dalam Batas Normal
Wajah : Dalam Batas Normal
Leher : Dalam Batas Normal
Mata : Dalam Batas Normal
Telinga : Dalam Batas Normal
Axilla : Dalam Batas Normal
Truncus Anterior : Lihat Status Dermatologis
Abdomen : Dalam Batas Normal
Truncus Posterior : Lihat Status Dermatologis
Inguinal : Dalam Batas Normal
Genital : Dalam Batas Normal
Ekstermitas Superior : Lihat Status Dermatologis
Ekstermitas Inferior : Lihat Status Dermatologis
Finger nail test : (+)
Tes sensitivitas : Hipoestesi (-)

2. Status Dermatologis
Regio truncus anterior tampak makula dan patch
hipopigmentasi multiple diskret sebagian konfluens,
ukuran bervariasi diameter 1-2 cm, tepi ireguler, polisiklik,
dengan skuama tipis di atasnya.
Gambar 1. Regio Truncus Anterior
Regio truncus posterior tampak makula dan patch
hipopigmentasi multiple diskret sebagian konfluens,
ukuran bervariasi diameter 1-2 cm, tepi ireguler, polisiklik,
dengan skuama tipis di atasnya.

Gambar 2. Regio Truncus Posterior


Regio ekstremitas superior tampak makula dan patch
hipopigmentasi multiple diskret sebagian konfluens,
ukuran bervariasi diameter 1-2 cm, tepi ireguler, polisiklik,
dengan skuama tipis di atasnya.
Gambar 3. Regio Ekstremitas Superior

Regio ekstremitas inferior tampak makula dan patch


hipopigmentasi multiple diskret sebagian konfluens,
ukuran bervariasi diameter 1-2 cm, tepi ireguler, polisiklik,
dengan skuama tipis di atasnya.

Gambar 4. Regio Ekstremitas Inferior

C. DIAGNOSIS BANDING
Pitiriasis versicolor, vitiligo
Pitiriasis alba
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. KOH Parker : (+) spaghetti and meatball
appearrance

ss

Gambar 5. Hasil pemeriksaan KOH

2. Lampu Wood : (+) Kuning keemasan

Gambar 6. Hasil pemeriksaan Lampu Wood

E. DIAGNOSIS
Pitiriasis versicolor

F. TERAPI
1. Non Medikamentosa
a. Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit, rencana
terapi, dan prognosis.
b. Menggunakan handuk yang berbeda untuk mengeringkan
kulit dengan bercak-bercak putih setelah mandi.
c. Mengganti pakaian setiap selesai mandi, atau jika pasien
sudah mulai berkeringat, menggunakan pakaian yang
bersifat menyerap keringat.
d. Menjaga pakaian agar tetap kering dan tidak lembab,
hindari keringat berlebihan.
e. Mencuci barang-barang pribadi (sprei, pakaian, dan lain-
lain) secara berkala.
f. Edukasi tidak berbagi perlengkapan, seperti handuk dan
pakaian dengan orang lain.
g. Edukasi tidak menggaruk atau menggosok lesi dan
memotong kuku untuk menghindari garukan.
2. Medikamentosa
a. Ketokonazole tab 1 x 200 mg selama 5-10 hari
b. Ketomed SS shampoo, dioleskan ke seluruh tubuh,
diamkan 10-15 menit kemudian dibilas, 2 kali sehari
sebelum mandi, selama 1 minggu
c. Cetirizin tab 1 x 10 mg

G. PROGNOSIS
Ad Vitam : Bonam
Ad Sanam : Bonam
Ad Fungsionam : Bonam