Anda di halaman 1dari 22

TEKNIK PANTAI

KELOMPOK 5

Iqbal Arsyad Arfan D111 12 108

Andi Isra Dwi Rahayu D111 13 005

Asni Tandilino D111 13 025

D. Satywirawan Y.T D111 13 041

Tirana Novitri S D111 13 305

Ftri Febriani D111 13 333

Ikhsan Dwi Payana D111 13 535

Yayan Magfirah D111 14 524

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2016
STATISTIK DAN PERAMALAN GELOMBANG

PENDAHULUAN

Teori gelombang digunakan untuk perancangan bangunan pantai.


Gelombang yang ada di alam tidak teratur dan masing-masing gelombang dalam
deretan gelombang miliki sifat-sifat berbeda sehingga harus dianalisa secara
statistik dengan melakukan pencatatan gelombang dalam periode tertentu. Untuk
mendapatkan sifat statistic gelombang dilakukan pencatatan dalam periode
tertentu , yang biasanya 15 sampai 20 menit. Dalam satu hari biasanya
dilakukantiga sampai empat kali pengukuran.

Dalam perencanaan bangunan pantai diperlukan data gelombang yang


mencakup seluruh musim, terutama pada musim di mana gelombang-gelombang
besar terjadi. Pencatatan gelombang tersebut meliputi tinggi, periode, dan arah
datang gelombang. Gelombang-gelombang besar digunakan untuk analisis
stabilitas bangunan-bangunan pantai. Pencatatan gelombang dapat dilakukan
dengan peralatan sederhana berupa pengamatan naik-turunnya muka air yang
berurutan pada papan duga dan stop wacth atau menggunakan pencatatan
gelombang otomatis seperti wave rider, capacitance gage, wave pressure gage.

A. STATISTIK GELOMBANG

Gambar di atas adalah suatu pencatatan gelombang sebagai fungsi waktu


di suatu tempat. Gambar tersebut menunjukkan bahwa gelombang mempunyai
bentuk yang tidak teratur, dengan tinggi dan periode tidak konstan. Pengukuran
gelombang di suatu tempat memberikan pencatatan muka air sebagai fungsi
waktu. Pengukuran ini dilakukan dalam waktu cukup panjang, sehingga data
gelombang akan sangat banyak sehingga perlu dianalisa secara statistic untuk
mendapatkan bentuk gelombang yang bermanfaat. Ada dua metode menentukan
gelombang yaitu zero upcrossing method dan zerodowncrossing method.
Zero Upcrossing Method
- pertama, ditetapkan elevasi rata-rata dari permukaan air berdasarkan
fluktuasi muka air pada waktu pencatatan. Muka air tersebut
didefenisikan sebagai garis nol.
- Kurva gelombang ditelusuri dari awal sampai akhir. Pada metode zero
upcrossing, diberi titik perpotongan antara kurva naik dan garis nol,
dan titik tersebut ditetapkan sebagai awal dari satu gelombang.
- Mengikuti naik-turunnya kurva, penelusuran dilanjutkan untuk
mendapatkan perpotongan antara kurva naik dan garis nol berikutnya
yang ditetapkan sebagai akhir dari gelombang pertama dan awal
gelombang kedua
- Penelusuran dilanjutkan untuk mendapatkan gelombang kedua dan
seterusnya.

Zero Downcrossing Method

Prosedur yang digunakan yang sama dengan zero upcrossing method,


tetapi titik yang dicatat adalah pertemuan antara kurva turun dan garis nol.

GELOMBANG REPRESENTATIVE

Gelombang representatif adalah tinggi dan periode gelombang


individu yang dapat mewakili suatu spectrum gelombang. Apabila tinggi
gelombang dari suatu pencatatan diurutkan dari tertinggi ke rendah atau
sebaliknya, tinggi maka akan ditentukan Hn yang merupakan rerata dari
persen gelombang tertinggi. Misalnya, H10 adalah tinggi rerata dari 10%
gelombang tinggi dari pencatatan gelombang. Bentuk yang paling banyak
digunakan adalah H33 atau tinggi rerata dari 33% nilai tertinggi dari
pencatatan gelombang, yang juga disebut gelombang signifikan. Di dalam
peramalan gelombang, gelombang yang diperoleh adalah gelombang
signifikan.
DISTRIBUSI TINGGI DAN PERIODE GELOMBANG INDIVIDU

Seperti telah dijelaskan bahwa jumlah data dalam setiap kali pencatatan
yang berlangsung sekitar 15-20 menit adalah cukup banyak. Dalam satu hari
dilakukan pencatatan sebanyak 3-4kali. Untuk mengetahui beberapa sifat statistic
gelombang acak dibuat distribusi gelombang.misalnya dalam suatu pencatatan
terdapat 100 gelombang individu. Seperti terlihat pada table 5.2 baris pertama
adalah tinggi gelombang yang dinyatakan dalam interval setiap 0,5 m . baris
kedua adlah jumlah kejadian gelombang (n) untuk setiap interval tinggi
gelombang, dengan jumlah total gelombang adalah N=100. Baris ketiga
menunjukan probabilitas kejadian gelobang, yaitu perbandingan antara jumlah
kejadian gelomban dan jmlah total gelombang n/N.

Dalam gambar tersebut absis adalah tinggi gelombang yang dinyatakan


dalam interval setiap 0,5m sedang ordinat adalah probabilitas kejadian gelombang
dalam interval tinggi grlombang. Dalam gambar tersebut probabilitas bahwa H
berada pada kelas 1,0-1,5m adalah 0,19. Jumlah dari semua probabilits gelombang
adalah sama dengan 1.

Distribusi kumulatif, yang berkaitan dengan distribusi probabilitas dari


gambar 5,2 dalam gambar tersebut probabilitas bahwa H kurang dari atau sma
dengan kelas 1,0-1,5m adalah 0,36.

Histrogram seperti ditunjukan dalam gambar 5.2. mempunyai bentuk yang


tidak teratur. Hal ini disebabkan karena jumlah data yang sedikit. Untuk
mendapatkan distribusi tinggi gelombang yang lebih halus, dapat dilakukan
dengan menggabunngkan data dari beberapa pencatatan sehingga julah /data
analisa cukup banyak. Gmbar 5.4 adlah contoh histogram seperti pada gambar 5.2
tetap dengan jumlah data jauh lebih banak, dan memberikan bentuk histogram
yang lebih teratur.
Bentuk histogram yang halus tersebut dapat didekati oleh suatu fungsi distribusi
teoritis. Penelitian yang dilakukan oleh Longuet-Higgins adalah distribusi
Rayleigh, yang dalam gambar 5.4 ditunjukan oleh kurva lengkung. Fungsi
distribusinya adalah sebagai berikut :

Probabilitas bahwa suatu nilai tinggi gelombang H lebih besar dari suatu nilai
tertentu H yang diberi notasi diberikan oleh bentuk berikut:
Dengan , P (H> ) adalah jumlah n gelombang lebih besar dari dibagi
dengan total gelombang N. dengan demikian P mempunyai bentuk n/N. subtitusi
nilai n/N untuk P (H> ) dalam persamaan (5.3) dan kemudian dibuat logaritma
natural ln :

Tinggi gelombang dengan probbilitas tertentu n/N yang dilampui dapat


dihitung dari persamaan (5.4)

Tinggi rerata dari semua gelmban yang lebih besar dari , diberi botasi
H(), dapat dihitung sebgai berikut :

Untuk tinggi gelombang rerata H100, persamaan (5.6) menjadi :


Gambar 5.5 memberikan hubungan antara H/rms dan probabilitas
kumulatif
Grafik a adalah probabilitas bahwa nilai H/rms > nilai nilai yang
ditunjukan dalam grafik (dapat dihitung dengan menggunakan persamaan
5.5)
Grafik b digunakan untuk menghitung perbandingan H/rms berdasarkan
probabilitas dari yang dilampaui P (dapat dihitung dengan persmaan
5.6)

Perkiraan gelombang dengan periode ulang (analysis frekuensi)

Frekuensi gelombang besar merupakan factor yang mempengaruhi


perencanaan bangunan pantai. Untuk menetapkan gelombang dengan
periode ulang dibutuhkan data gelombang dalam waktu pengukuran
jangka panjang. Di Indonesia, pengukuran grlombang dalam jangka waktu
panjang belum banyak dilakukan karena sulit dan juga mahal
Dari setiap tahun pencatatan dapat di tentukan gelombang
representative, berdasarkan data tersebut untuk beberapa tahun
pengamatan dapat diperkirakan gelombng yang diharapkan disamai atau
dilampai dalam T tahun. Dan gelombang tersebut dikenal dengan
gelombang periode ulang T tahun. Misalnya apabila T=50, gelombang
yang diperkirakan adalah gelombang 50 tahunan artina bahwa gelombang
tersebut diharapkan disamai atau dilampaui rata-rata sekali dalam 50
tahun.

Fungsi Distribusi Probabilitas

Berikut ini diberikan dua metode untuk memprediksi gelombang dengan


periode ulang tertentu, yaitu distribusi Gumbel dan distribusi Weibull. Dalam
metode ini prediksi dilakukan untuk memperkirakan tinggi gelombang signifikan
dengan berbagai periode ulang. Tidak ada petunjuk yang jelas untuk memilih
salah satu dari kedua metode tersebut. Biasanya pendekatan yang dilakukan
adalah mencoba beberapa metode tersebut untuk data tersedia dan kemudian
dipilih yang kemudian memberikan hal terbaik.
1. Distribusi Gumbel (Fisher-Tippett Type I)

2. Distribusi Weibull

- Statistik dan Peramalan Gelombang

Data masukan disusun dalam urutan dari besar ke kecil. Selanjutnya


probabilitas ditetapkan untuk setiap tinggi gelombang sebagai berikut:
1. Distribusi Fisher Tippett Type I
2. Distribusi Weibull

dengan:

Parameter A dan B dihitung dati metode kuadrat terkecil untuk setiap


tipe distribusi yang digunakan. Hitungan didasarkan pada analisis
regresi linier dari hubungan berikut:

Periode Ulang
Tinggi gelombang signifikan untuk berbagai periode ulang dihitung dari
fungsi distribusi probabilitas dengan rumus:

dimana yr diberikan oleh bentuk berikut:


untuk distribusi Fisher Tippett Type I

Untuk distribusi Weibull

dengan
Hnr : Tinggi gelombang signifikan dengan periode ulang Tr
Tr : Periode ulang (tahun)
K : Panjang Data (tahun)
L : Rata-rata jumlah kejadian pertahun

Interval Keyakinan
Interval keyakinan adalah penting dalam analisis gelombang
ekstrim. Hal ini mengingat bahwa biasanya periode pencatatan gelombang
adalah pendek dan tingkat ketidak pastian yang tinggi dalam perkiraan
gelombang ekstrim. Batas keyakinan sangat dipengaruhi oleh penyebaran
data sehingga nilainya tergantung pada deviasi standar. Deviasi standar
yang dinormalkan dihitung dengan persamaan berikut:
1. Statistik dan Permasalahan Gelombang

dengan
nr : standar deviasi yang dinormalkan dari tinggi
gelombang signifikan dengan periode ulang Tr
N : Jumlah data tinggi gelombang signifikan.

Koefisien untuk menghitung deviasi standar

dengan rumus:

dimana,

Batas interval keyakinan tinggi gelombang signifikan ekstrim


Contoh 1

Suatu pencatatan gelombang selama 15 tahun berturut-turut dengan tinggi


gelombang signifikan maksimum tiap tahunnya diberikan dalam Tabel 5.6. hitung
tinggi gelombang dengan beberapa periode ulang dengan menggunakan metode
Fisher- Tippett Type 1 dan Weibull.

Tabel 5.6. Gelombang signifikan untuk 15 tahun pencatatan

1. Metode Fisher-Tippett Type 1

Hitungan dilakukan dengan menggunakan Tabel 5.7.. Dalam table tersebut


kolom 1 adalah nomor urut m, sedang kolom 2 adalah data gelombang yang
diurutkan dari besar ke kecil sesuai dengan kolom 1. Kolom 3 adalah nilai P
(Hs<Hsm) yang dihitung dengan Persamaan (5.9). Kolom 4 adalah nilai ym yang
dihitung dengan PErsamaan (5.11.a). Kolom 5 dan 6 adalah nilai-nilai yang
digunakan untuk analisis regresi linear guna menghitung parameter A dan B,
Kolom 7 dugunakan untuk menghitung deviasi standar gelombang signifikan.
Kolom 8 adalah perkiraan tinggi gelombang yang dihitung dengan persamaan
regregi linier yang dihasilkan, yaitu H^sm = A^ym + B^. Kolom 9 adalah
perbedaan antara Hsm dan Hsm perkiraan, yaitu Hsm H^sm
Tabel 5.7. Hitungan gelombang dengan periode ulang

Dari data seperti diberikan dalam Tabel 5.6, didapat beberapa parameter
berikut ini :

N = 15 K = 15

NT = 15 =1

V = 15/15 = 1

Hsm = 2,817 m ym = 0,551

Deviasi standar data tinggi gelombang signifikan:


Dari beberapa nilai tersebut delanjutnya dihitung parameter A^ dan B^
berdasarkan data Hsm dan ysm seperti terlihat dalam kolom 2 dan 4 dengan
menggunakan persamaan berikut

Hsm = A^ ym B^

Dengan :

Persamaan regresi yang diperoleh adalah:

Hsm = 0,5201ym + 2,5299

Selanjutnya hitungan tinggi gelombang signifikan dengan beberapa


periode ulang dilakukan dalam Tabel 5.8. (persamaan %.12).

Untuk menetapkan interval keyakinan digunakan persamaan 5.13, 5.14,


5.5. Dengan menggunakan koefisien 1, 2, c, , seperti diberikan dalam table
5.4. Untuk distribusi Fisher-Tippet Type 1

Hitungan selanjutnya diberikan dalam table 5.8.

Tabel 5.8. Gelombang dengan periode ulang tertentu


2. Metode Weibull

Hitungan perkiraan tinggi gelombang ekstrim dilakukan dengan cara yang


sama seperti pada metode Fisher-Tippett Type I; hanya persamaan dan koefisien
yang digunakan disesuaikan untuk metode Weibull. Hitungan dilakukan dengan
menggunakan Tabel 5.9. Dan 5.10. Beberapa parameter yang diperoleh:

Tabel 5.9. Hitungan gelombang dengan periode ulang (metode Weibull)


Tabel 5.10. Gelombang dengan periode ulang tertentu (Metode Weibull)
5.4. Pembangkitan Geombang

Dalam sub bab ini akan dipelajari pembangkitan gelombang oleh angin .
Angin yang beerhembus di atas permukaan air dengan memindahkan energinya ke
air. Kecepatan angin akan menimbulkan tegangan pada permukaan laut, sehingga
permukaan air yang semula tenang akan terganggu dan timbul riak gelombang
kecil diatas permukaan air. Apabila kecepatan angin bertambah, riak tersebut
menjadi semakin besar, dan apabila angin berhembus terus akhirnya akan
terbentuk gelombang. Semakin lama dan semakin kuat angin berhembus, semakin
besar gelombang yang terbentuk.

Tinggi dan periode gelombang yang dibangkitkan dipengaruhi oleh angin yang
meliputi kecepatan angin U, lama hembus angin D, arah angin, dan fetch F. Fetch
adalah daerah di mana kecepatan dan arah angin adalah konstan. Arah angin
masih bisa dianggap konstan apabila perubahan-perubahannya tidak lebih dari
150. Sedangkan kecepatan angin masih dianggap konstan jika perubahannya tidak
lebih dari 5 knot (2,5 m/d) terhadap kecepatan rerata. Panjang fetch membatasi
waktu yang diperlukan gelombang untuk terbentuk karena pengaruh angin, jadi
mempengaruhi waktu untuk mentransfer energy angin kegelombang. Fetch ini
berpengaruh pada periode dan tinggi gelombang yang dibangkitkan. Gelombang
dengan periode panjang akan-terjadi jika fetch besar. Gelombang di lautan bisa
mempunyai periode 20 detik atau lebih, tetapi pada umumnya berkisar antara 10
dan 15 detik.

5.4.1. Angin

1. Distribusi Kecepatan angin

Distribusi kecepatan angin di atas permukaan laut diberikan dalam gambar


5.6., yang terbagi dslam tiga daerah sesuai dengan elevasi di atas permukaan. Di
daerah geostropik yang berada di atas 1000 m kecepatan angin adalah konstan. Di
bawah elevasi tersebut terdapat dua daerah yaitu daerah Ekman yang berada pada
elevasi 100 m sampai 1000 m dan daerah di mana tegangan konstan yang berada
pada elevasi 10 sampai 100 m. Di kedua daerah tersebut kecepatan dan arah angin
berubah sesuai dengan elevasi, karena adanya gesekan dengan permukaan laut dan
perbedaan temperature antara air dan udara.

Di daerah tegangan konstan, profil vertical dari kecepatan angin


mempunyai bentuk berikut:
(5.13)

Gambar 5.6. Distribusi vertical kecepatan angin

Dengan :

U0 : kecepatan geser

K : koefisien von Karman ( = 0,4)

Y : elevasi terhadap permukan air

Y0 : tinggi kekasaran permukaan

L : panjang campur yang tergantung pada perbedaan tempertaur antara air


dan udara (tas)

: fungsi yang tergantung pada perbedaan temperature antar air dan udara.
Di Indonesia, mengingat perbedaan temperature antara air laut dan udara
kecil, maka parameter ini bisa diabaikan.

Untuk memperkirakan pengaruh kecepatan angin terhadap pembangkitan


gelombang, parameter tas, U0 dan y0 harus diketahui. Beberapa rumus atau grafik
untuk memprediksi gelombang didasarkan pada kecepatan angin yang diukur pada
y = 10 m. Apabila angin tidak diukur pada elevasi 10 m, maka kecepatan angin
harus dikonversi pada elevasi tersebut. Untuk itu bisa digunakan persamaan
(5.13), tetapi pemakaian persamaan tersebut agak sulit karena terlebih dahulu
harus ditentukan parameter U0, y0 dan (y/L). Untuk memudahkan hitungan dapat
digunakan persamaan yang lebih sederhana berikut ini.

yang berlaku untuk y lebih kecil dari 20

2. Data Angin
Data angin yang digunakan untuk permalan gelombang adalah data
di permukaan laut pada lokasi pembangkitan. Data tersebut dapat
diperoleh dari pengukuran langsung di atas permukaan laut atau
pengukuran di darat di dekat lokasi peramalan yang kemudian di konversi
menjadi data angin di laut. Kecepatan angin di ukur dengan anemometer,
dan biasanya dinyatakan dalam knot. Satu knot adalah panjang satu menit
garis bujur melalu khatulistiwa yang ditempuh dalam satu jam, atau 1 knot
= 1,852 km/jam = 0,5 m/d. Data angin dicatat tiap jam dan biasanya
disajikan dalam tabel. Dengan pencatatan angin jam-jaman tersebut akan
dapat diketahui angin dengan kecepatan tertentu dan durasinya, kecepatan
angin maksimum, arah angin, dan dapat pula dihitung kecepatan angin
rerata harian.
Jumlah data angin seperti yang ditunjukkan dalam tabel tersebut
untuk beberapa tahun pengamatan adalah sangat besar. Untuk itu data
tersebut harus diolah dan disajikan dalam bentuk tabel (ringkasan) atau
diagram yang disebut dengan mawar angin. Dengan tabel atau mawar
angin tersebut maka karateristik angin dapat dibaca dengan cepat.
3. Konversi Kecepatan Angin
Sudah dijelaskan di depan bahwa data angin dapat diperoleh dari
pencatatan di permukaan laut dengan menggunakan kapal yang sedang
berlayar atau pengukuran di darat yang biasanya di bandara (lapangan
terbang). Pengukuran data angin di permukaan laut adalah yang paling
sesuai untuk peramalan gelombang. Data angin dari pengukuran dengan
kapal perlu dikoreksi dengan menggunakan persamaan berikut:

7
Us
U = 2,16 9

Dengan :
Us
: Kecepatan angin yang di ukur oleh kapal (knot)
U : Kecepatan angin terkoreksi (knot)

Biasanya pengukuran angin dilakukan di daratan, padahal di dalam


rumus-rumus pembangkitan gelombang data angin yang digunakan adalah
yang ada di atas permukaan laut. Oleh karena itu diperlukan transformasi
dari data angin di atas daratan yang terdekat dengan lokasi studi ke data
angin di atas permukaan laut.
Hubungan antara angin di atas laut dan angin di atas daratan
RL Uw UL
terdekat diberikan = / seperti dalam Gambar 5.8.
Gambar tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan di Great Lake,
Amerika Serikat. Grafik tersebut dapat digunakan untuk daerah lain
kecuali apabila karaterisktik daerah sangat berlainan.

Rumus- rumus
dan grafik-
grafik

UA
pembangkitan gelombang mengandung variable ,yaitu factor tegangan
angin (wind-stress factor) yang dapat dihitung dari kecepatan angin. Setelah
dilakukan berbagai konversi kecepatan angin seperti yang dijelaskan di atas,
kecepatan angin dikonversikan pada factor tegangan angin dengan menggunakan
rumus berikut :

UA 1,23
= 0,71 U

Dimana U adalah kecepatan angin dalam m/d.


Fetch

Di dalam tinjauan pembangkitan gelombang di laut, dibatasi oleh bentuk


daratan yang mengelilingi laut. Di daerah pembentukan gelombang, gelombang
tidak hanya dibangkitkan dalam arah yang sama dengan arah angin tetapi juga
dalam berbagai sudut terhadap arah angin. Fetch rerata efektif diberikan oleh
persamaan berikut.

Xi cos
Feff
= cos

Dengan :

Feff
: fetch rerata efektif
Xi : panjang segmen fetch yang diukur dari titik observasi
gelombang ke ujung akhir fetch
: deviasi pada kedua sisi dari arah angin, dengan
menggunakan p pertambahan 6 sampai sudut sebesar 42
pada kedua sisi dari arah angin.

Peramalan Gelombang di Laut Dalam

Berdasarkan pada kecepatan angin, lama hembus angin dan fetch


seperti yang telah dibicarakan di depan, dilakukan permalan gelombang
dengan menggunakan grafik pada gambar 5.10.
Dari grafik tersebut apabila panjang fetch (F), factor tegangan
UA
angin dan durasi diketahui maka tinggi dan periode gelombang
signifikan dapat dihitung.