Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu post partum di komunitas salah


satunya adalah dalam bentuk kelompok. Ibu post partum dikelompokkan dengan
mempertimbangkan jarak antara satu orang ibu post partum dengan ibu post partum
lainnya.
Kadang-kadang ibu yang baru menjalani masa menjadi seorang ibu ingin
mencari kelompok khusus dari orang-orang yang sudah berpengalaman.
Kadangkala ibu postpartum yang sudah pernah bertemu dalam kelas prenatal mulai
bergabung untuk membentuk kelompok pendukung yang saling membantu. Melihat
hal tersebut, ternyata kelompok pendukung merupakan kelompok yang sangat
penting dalam membantu seorang wanita yang mengalami transisinya dalam siklus
kehidupan.
Kelompok pendukung post partum atau yang disebut dengan postpartum group
adalah kumpulan pribadi yang sedang menjalani masa post partum yang mencoba
untuk memuaskan kebutuhan personal, berinteraksi dengan menghargai tujuan
bersama serta untuk mengalami kenikmatan suatu hubungan yang interdipenden.
Para ibu yang mengalami post partum membutuhkan pengalaman yang
sesungguhnya, salah satunya yaitu diberikan dukungan dari kelompok pendukung
seperti dukungan psikologis dan juga dukungan fisik yang harus juga dipenuhi.
Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan
mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan
pengobatan atau istirahat, atau seringkali merasa gembira mendapatkan
pertolongan yang praktis dan dukungan dari kelompok dukungan postpartum.
Dengan bantuan dan dukungan teman ataupun keluarga, mereka mungkin perlu
mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari, atau mungkin
menghilangkan beberapa kegiatan disesuaikan dengan konsep mereka tentang
keibuan dan perawatan bayi.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertian dari postpartum group ?
2. Bagaimana penerapan postpartum group ?

1
3. Bagaimana bentuk penerapan post partum group diluar negeri ?
4. Bagaimana Penerapan post partum group di Indonesia ?
5. Bagaimana hakikat pembelajaran orang dewasa ?
6. Apa tujuan pembelajaran orang dewasa ?
7. Bagaimana bentuk pembelajaran orang dewasa di komunitas ?

1.3 TUJUAN
1. Mengetahui pengertian dari postpartum group
2. Mengetahui bagaimana penerapan postpartum group
3. Mengetahui bagaimana bentuk penerapan post partum group diluar negeri
4. Mengetahui bagaimana Penerapan post partum group di Indonesia
5. Mengetahui bagaimana hakikat pembelajaran orang dewasa
6. Mengetahui apa tujuan pembelajaran orang dewasa
7. Mengetahui bagaimana bentuk pembelajaran orang dewasa di komunitas

BAB II ISI

2.1 Post partum group


A. Definisi Post partum group
Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu post partum di komunitas salah
satunya adalah dalam bentuk kelompok. Ibu post partum dikelompokkan dengan
mempertimbangkan jarak antara satu orang ibu post partum dengan ibu post
partum lainnya. Salah satu bentuk kelompok atau organisasi kecil dari ibu
nifas. Bertujuan untuk mendeteksi, mencegah, dan mengatasi permasalahan-
permasalahan yang timbul masa nifas.
Kelompok pendukung post partum atau yang disebut dengan postpartum
group adalah kumpulan pribadi yang sedang menjalani masa post partum yang
mencoba untuk memuaskan kebutuhan personal, berinteraksi dengan
menghargai tujuan bersama serta untuk mengalami kenikmatan suatu hubungan

2
yang interdipenden. Para ibu yang mengalami post partum membutuhkan
pengalaman yang sesungguhnya, salah satunya yaitu diberikan dukungan dari
kelompok pendukung seperti dukungan psikologis dan juga dukungan fisik yang
harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan
pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga
mereka membutuhkan pengobatan atau istirahat, atau seringkali merasa
gembira mendapatkan pertolongan yang praktis dan dukungan dari kelompok
dukungan postpartum. Dengan bantuan dan dukungan teman ataupun keluarga,
mereka mungkin perlu mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari,
atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan disesuaikan dengan konsep
mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. Bila memang diperlukan dapat
diperlukan dorongan dan pertolongan dari para ahli, misalnya dari seorang
psikologi atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Para ahli
obstetrik memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita
kemungkinann terjadinya gangguan mental post partum dan segera memberikan
penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut, bahkan merujuk para ahli
psikologi atau konseling bila memang diperlukan. Kelompok pendukung yang
memadai dari para petugas obstetrik yaitu dokter dan bidan atau perawat sangat
diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai atau
adekuat tentang proses persalinan dan kehamilan, termasuk penyulit-penyulit
yang mungkin timbul dalam masa-masa tersebut serta penanganannya.
Dibutuhkan penanganan menyeluruh atau holistik dan dukungan dari kelompok
pendukung dari penanganan para ibu yang mengalami post partum. Pengobatan
medis, konseling, emosional, dan bantuan-bantuan praktis dan pemahaman
secara intelektual tentang pengalaman dann harapan-harapan pada saat
tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dapat dibutuhkan
penanganan ditingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis serta
bersama-sama dengan melibatkan lingkungannya yaitu suami, keluarga, dan
juga teman dekatnya

B. Penerapan post partum group


Kegiatan dapat dilaksanakan di salah satu rumah ibu post partum/
posyandu dan polindes. Kegiatannya dapat berupa penyuluhan dan
konseling.tentang :
1. Kebersihan diri
2. Istirahat

3
3. Gizi
a Nasi 200 gram (1 piring sedang)
b Lauk 1 potong sedang
c Tahu/tempe 1 potong sedang
d Sayuran 1 mangkuk sedang
e Buah1 potong sedang
f Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
g Makanan dengan diet berimbang: protein, mineral, vitamin yang cukup
h Minum sedikitnya 3 liter per hari (8 gelas sehari)
i Meminum pil zat besi selama 40 hari pasca persalinan
j Minum kapsul vitamin A
4. Menyusui
a Nasi 200 gram (1 piring sedang)
b Lauk 1 potong sedang
c Tahu/tempe 1 potong sedang
d Sayuran 1 mangkuk sedang
e Buah1 potong sedang
f Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
g Makanan dengan diet berimbang: protein, mineral, vitamin yang cukup
h Minum sedikitnya 3 liter per hari (8 gelas sehari)
i Meminum pil zat besi selama 40 hari pasca persalinan
j Minum kapsul vitamin A
5. Lochea
Pembagian lochea antara lain:
a Lochea rubra (1-3 hari postpartum) : warna merah segar dan berisi
gumpalan darah, sisa selaput ketuban, sisa vernik, lanugo.
b Lochea sanguolenta (3-7 hari postpartum) : berwarna merah
kekuningan, berisi darah dan vernik kaseosa.
c Lochea serosa (7-14 hari postpartum) : Berwarna kekuning-kuningan,
berisi serum
d Lochea alba ( 14-40 hari post partum) : berwarna putih.
6. Involusi uterus
Setelah bayi dilahirkan, uterus yang selama persalinan mengalami
kontraksi dan retraksi akan menjadi keras, sehingga dapat menutup
pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas implantasi placenta.
Pada involusi uteri, jaringan ikat dan jaringan otot mengalami proses
proteolitik, berangsur-angsur akan mengecil sehingga akhir kala nifas
besarnya seperti semula dengan berat 30 gram.
7. Senggama
Secara fisik untuk memulai hubungan suami istri, begitu darah merah
berhenti, ibu dapat memasukkan satu atau dua jari ke dalam vagina tanpa
rasa nyeri. Memulai hubungan suami istri tergantung pada pasangannya.
8. Keluarga berencana

C. Bentuk penerapan post partum group


sebikny

4
2.2 Pembelajaran orang dewasa
A. Hakikat pembelajaran orang dewasa
Istilah andragogi adalah suatu teori mengenai cara mengajar orang
dewasa. Istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani yaitu andr yang berarti orang
dewasa dan agogos berarti memimpin dan membimbing. Maka dengan demikian
andragogi dirumuskan sebagai suatu ilmu dan seni dalam membantu orang
dewasa belajar. Dalam perkembangan makna selanjutnya, andragogi difahami
dalam cakupan yang lebih luas, yaitu sebagai sebuah pendekatan pembelajaran
yang memandang warga belajar sebagai orang dewasa dengan segala
konsekuensinya (kaya pengalaman, memiliki citra diri tertentu, kesiapan tertentu
untuk belajar, dsb). Berbicara mengenai pembelajaran atau pendidikan orang
dewasa, masalahnya adalah luas hdak hanya sekedar mengajarkan orang
dewasa pandai membaca dan menulis. Menurut batasan yang direkomendasikan
UNESCO sebagaimana dikutip oleh A.G.Lunandi dapat diterjemahkan sebagai
berikut: "Istilah Pendidikan Orang Dewasa berarti keseluruhan proses pendidikan
yang diorganisasikan, apa pun isi, tingkatan dan metodenya, baik formal maupun
tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah,
kolese dan universitas serta latihan kerja, yang membuat orang yang dianggap
dewasa oleh masyarakat mengembangkan kemampuannya, memperkaya
pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi tektis atau profesionalnya, dan
mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam perspektif rangkap
perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam perkembangan sosial,
ekonomi dan budaya yang seimbang dan bebas".13
Pendekatan pembelajaran orang dewasa (pendekatan andragogi)
dibangun di atas beberapa asumsi, yaitu : Pertama, Orang dewasa memiliki
konsep diri sebagai pribadi yang mandiri, artinya bahwa dia memandang dirinya
sudah mampu untuk sepenuhnya mengatur dirinya sendiri. Kedua, Orang
dewasa memiliki banyak (kaya) pengalaman yang cenderung berbeda sebagai
akibat dari latar belakang kehidupannya. Ketiga, Orang dewasa memiliki
kesiapan tertentu (sesuai dengan peran sosialnya) untuk belajar. Keempat,
Orang dewasa cenderung untuk mempunyai perspektif untuk secepatnya
mengaplikasikan apa yang mereka pelajari. Kelima, bagi orang dewasa belajar
adalah suatu proses dari dalam (bukan ditentukan kekuatan-kekuatan dari luar).

5
Semua asumsi tersebut membawa implikasi tertentu yang sangat penting untuk
diperhatikan dalam upaya pembelajaran orang dewasa.

B. Tujuan pembelajaran orang dewasa


Mengikut Ruud dan Preece (2005), potensi bagi pembelajaran dewasa
bukan setakat literasi atau pembelajaran asas sahaja, tetapi tujuan pembelajaran
dewasa menjangkau lebih daripada itu.Jadi, apakah tujuan pembelajaran
dewasa? Beberapa penulis telah mengemukakan tujuan pembelajaran dewasa
yang menampakkan perbezaan antara satu sama lain. Mazanah (2001)
menegaskan perbezaan tujuan pembelajaran dewasa disebabkan oleh konteks
dan sejarah pembelajaran dewasa yang berbeza antara satu Negara dengan
negara lain. Pendapat Mazanah disokong oleh Burke (2005) yang mengatakan
tujuan pembelajaran dewasa dipengaruhi oleh faktor sejarah, politik dan
ekonomi. Sebagai contoh Rogers (1993) mengatakan tujuan pembelajaran
dewasa di Negara membangun untuk memenuhi keperluan sosial dan
perkembangan ekonomi.Manakala bagi negara maju pula pembelajaran dewasa
bertujuan menyediakan sumber tenaga manusia yang berilmu pengetahuan dan
cekap (Jarvis, 1985).Menurut Merriam dan Caffarella (1999), tujuan
pembelajaran dewasa sentiasa berubah.Sebagai contoh, pembelajaran dewasa
yang berasaskan agama semasa penjajahan pada pertengahan abad ke-18 di
Amerika Syarikat bertujuan menyedarkan rakyat supaya bangun
memperjuangkan kemerdekaan.Tiga puluh tahun selepas itu, pembelajaran
dewasa di Amerika Syarikat bertujuan melatih tenaga kerja bagi menghadapi
perkembangan teknologi yang pesat.Manakala pembelajaran dewasa pada hari
ini adalah menyediakan sumber tenaga manusia bagi menghadapi cabaran
globalisasi dan ekonomi (Merriam dan Caffarella, 1999).Walau pun ramai penulis
telah mengemukakan tujuan pembelajaran dewasa, tetapi empat tujuan
pembelajaran dewasa yang dikemukakan oleh Titmus (1989) adalah lebih
komprehensif.Empat tujuan tersebut adalah; (i) peluang pendidikan kali kedua.
(ii) pendidikan peranan dan (iii) pendidikan vokasional
C. Bentuk pembelajaran orang dewasa di komunitas
Sebagaimana yang dikemukakan Knowles (1970), andragogi sekurang-
kurangnya didasarkan pada empat asumsi, yakni:
1. Konsep dirinya bergerak dari pribadi yang tergantung kearah pribadi yang
mandiri,
2. Manusia mengakumulasikan banyak pengalaman yang diperolehnya,
sehingga menjadi suatu sumber belajar yang berkembang,

6
3. Kesiapan belajar manusia secara meningkat diorientasikan pada tugas
perkembangan peranan sosial yang dibawa, dan
4. Perspektif waktunya berubah dari suatu pengetahuan yang tertunda
penerapannya menjadi penerapan yang segera secara seiring orientasinya
terhadap belajar beralih dari suatu orientasi terpusat pada mata pelajaran
kepada orientasi terpusat pada mata pelajaran kepada orientasi terpusat
pada masalah.
Jenis-jenis pendidikan dilaksanakan oleh pusat kegiatan belajar masyarakat
(PKBM). PKBM merupakan pusat (centra) dan atau wadah seluruh kegiatan
belajar masyarakat dalam rangka meningkatkan pengetahuan,
keterampilan/keahlian, hobi atau bakatnya yang dikelola/diselenggarakan oleh
diri dan untuk masyarakat. PKBM diharapkan sebagai wahana untuk
mempersiapkan warga masyarakat untuk lebih aktif dalam memilih kebutuhan
hidupnya, termasuk dalam hal peningkatan masyarakatnya. PKBM juga
merupakan salah satu upaya untuk lebih memberdayakan masyarakat sekaligus
menyongsong diberlakukannya otonomi daerah secara lebih luas. Kegiatan-
kegiatan PLS (Pendidikan Luar Sekolah) yang dilaksanakan PKBM adalah:
1. Life Skill
Pendidikan kecakapan hidup merupakan satu upaya pendidikan untuk
meningkatkan kecakapan seseorang untuk melaksanakan hidup dan
kehidupannya secara tepat guna dan berdaya guna. Kecakapan hidup
adalah sebagai pengetahuan yang luas dan interaksi kecakapan yang
diperkirakan merupakan kebutuhan esensial bagi manusia dewasa untuk
dapat hidup secara mandiri di masyarakat. Pendidikan yang berorientasi
pada pengembangan kecakapan hidup (life skill) merupakan bagian dalam
pengembangan kurikulum terpadu, karena pengembangan kecakapan hidup
seharusnya tidak berdiri sendiri melainkan terintegritas dengan disiplin ilmu
atau mata pelajaran yang lain. Supaya tidak menjadi dangkal, maka
substansi pengembangan kecakapan hidup harus terpadu dengan beberapa
mata pelajaran yang sesuai dengan struktur kurikulum di suatu lembaga
pendidikan, jadi bukan sekedar pendidikan keterampilan atau vokasional
dasar yang terpisah-pisah.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang dituntut untuk memiliki sekaligus
jenis kecakapan (Life Skill), yaitu:
a. Kecakapan Pribadi

7
Kecakapan pribadi mencakup kecakapan untuk mengenal diri sendiri,
kecakapan berfikir secara rasional dan kecakapan untuk tampil dengan
percaya diri yang mantap. Sebagai contoh bentuk kecakapan pribadi
adalah sebagai berikut :
1) Kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan
makhluk
lingkungan.
2) Kesadaran akan potensi diri dan terdorong untuk
mengembangkannya.
3) Kecakapan untuk menggali informasi.
4) Kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan.
5) Kecakapan memecahkan masalah secara arif dan kreatif.
b. Kecakapan Sosial
Kecakapan sosial mencakup kecakapan untuk berkomunikasi,
melakukan kerja sama, bertenggang rasa, dan memiliki kepedulian
serta tanggungjawab sosial dalam hidup bermasyarakat. Adapun
contoh bentuk kecakapan sosial adalah sebagai berikut :
1) Kecakapan mendengarkan
2) Kecakapan membaca
3) Kecakapan berbicara
4) Kecakapan menulis
5) Kecakapan menulis gagasan atau pendapat
6) Kecakapan sebagai teman kerja yang menyenangkan
7) Kecakapan sebagai pimpinan yang berempati
c. Kecakapan Akademik
Kecakapan akademik adalah kecakapan untuk merumuskan dan
memecahkan masalah yang dihadapi melalui proses berpikir kritis,
analitis, dan sistematis. Demikian yang bersangkutan memiliki
kemampuan untuk melakukan penelitian, eksplorasi, inovasi dan
kreasi melalui pendekatan ilmu, selain itu memiliki kemampuan untuk
memanfaatkan hasil-hasil teknologi untuk mendukung kegiatannya.
Contoh kecakapan akademik yaitu sebagai berikut :
1) Kecakapan mengidentifikasi variable dan hubungan
2) Kecakapan merumuskan hipotesis
3) Kecakapan merancang dan melaksanakan penelitian
d. Kecakapan Vocational
Kecakapan vocational mencakup kecakapan yang berkaitan dengan
bidang keterampilan-keterampilan professional tertentu dalam dunia
usaha dan industri, baik untuk dipergunakan bekerja sebagai
karyawan/karyawati maupun usaha mandiri.

2. Majelis Taklim

8
Majelis taklim adalah sekelompok masyarakat, atau sekumpulan
orang-orang yang ingin mendalami ajaran agama Islam, biasanya
majelis taklim ini ada di kelurahan atau di kenagarian ataupun jorong.
Pada kegiatan majelis taklim ini, materi yang dipelajari meliputi:
ibadah, syariat, dan muamalat. Kehadiran majelis taklim ini, sudah
jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama dalam rangka
meningkatkan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan
hubungan sesama manusia, meningkatkan keimanan dan mendalami
syariat Islam.
Tujuan diadakannya majelis taklim ini diantaranya yaitu :
a. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang
Maha
Esa,
b. Meningkatkan kualitas pemahaman agama,
c. Memperkokoh dakwah Islamiyah,
d. Beramal sesuai dengan ilmu dan agama yang dipelajari,
e. Meningkatkan syariat agama Islam,
f. Memberikan pelajaran dan pembinaan terhadap masyarakat,
g. Menyemarakkan dan memakmurkan masjid-masjid.
Adapun cara mengelola kegiatan majelis taklim ini yaitu :
a. Perencanaan
Kegiatan majelis taklim ini direncanakan oleh pengurus serta
anggota. Perencanaan disusun atas dasar kebutuhan belajar
anggota-anggota. Pada umumnya kegiatan-kegiatan
direncanakan dalam bentuk jangka pendek dan jangka
panjang. Perencanaan jangka pendek direncanakan untuk
memenuhi kebutuhan mendalam ajaran agama biasanya 5
kali seminggu.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan pada kelompok majelis taklim ini sangat
ditentukan dari tersedianya waktu anggota dan disepakati
secara bersama.
c. Evaluasi
Kegiatan evaluasi pada majelis taklim ini tidak ada evaluasi
yang berprogram, sesuai dengan ciri pendidikan luar sekolah,
evaluasi banyak diarahkan kepada self evaluation (evaluasi
diri).

BAB III PENUTUP

9
3.1 Kesimpualn
postpartum group adalah kumpulan pribadi yang sedang menjalani masa post partum
yang mencoba untuk memuaskan kebutuhan personal, berinteraksi dengan menghargai
tujuan bersama serta untuk mengalami kenikmatan suatu hubungan yang interdipenden.
Para ibu yang mengalami post partum membutuhkan pengalaman yang sesungguhnya,
salah satunya yaitu diberikan dukungan dari kelompok pendukung seperti dukungan
psikologis dan juga dukungan fisik yang harus juga dipenuhi.
andragogi dirumuskan sebagai suatu ilmu dan seni dalam membantu orang
dewasa belajar. Andragogi difahami dalam cakupan yang lebih luas, yaitu sebagai
sebuah pendekatan pembelajaran yang memandang warga belajar sebagai orang
dewasa dengan segala konsekuensinya.

3.2 Saran

Makalah kami masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kami. Besar
harapan kami kepada para pembaca untuk bisa memberikan kritik dan saran yang
bersifat membangun agar makalah ini menjadi lebih sempurna.

10