Anda di halaman 1dari 11

FAKTOR YANG MENYEBABKAN GANGGUAN TIDUR

(INSOMNIA) PADA LANSIA


I Nengah Sumirta
AA Istri Laraswati
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Denpasar
mirtakumara@gmail.com

Abstract; The cause of sleep disorders ( insomnia) on technical services for the
elderly. This study aims to know the cause of a disorder of sleep ( insomnia ) on
seniors. The kind of research is descriptive with the approach the subject of cross
sectional, using a technique stratified random sampling the sampling method of
proportional with the total sample 30 people. The results of research for the elderly
was obtained most experienced insomnia category as many as 46,7 % high, most big
amount is 55-74 age group ( 57.1 % ) year, of the female sex 85,7 %, 42.9 % of the
complete primary school, 57.1 % did not work , 50 percent of married and widow /
widower , 78.6 % have habit of drinking coffee , 64,36 % have smoking habit, 57.1 %
have been anxiety being, 78.6 % uncomfortable with the condition of its environment,
and less 78.6 % the status of his health.

Abstrak : Faktor yang Menyebabkan Gangguan Tidur (Insomnia) Pada Lansia.


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan gangguan
tidur (insomnia) pada lansia. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan
subjek cross sectional, menggunakan teknik sampling Stratified Proportional
Random Sampling dengan jumlah sampel 30 orang. Hasil penelitian didapatkan
paling banyak lansia mengalami insomnia kategori tinggi sebanyak 46,7%, kelompok
umur paling banyak adalah 55-74 tahun (57,1%), jenis kelamin perempuan 85,7% ,
42,9% tamat SD, 57,1% tidak bekerja, 50% menikah dan duda/janda, 78,6% memiliki
kebiasaan minum kopi, 64,36% memiliki kebiasaan merokok, 57,1% mengalami
kecemasan sedang, 78,6% tidak nyaman dengan kondisi lingkungannya, dan 78,6%
status kesehatannya kurang.

Kata kunci : Faktor yang menyebabkan, Insomnia, Lansia

Proses menua (aging) adalah proses sebelumnya yang menduduki urutan ke 10


alami yang dihadapi manusia. Dalam proses pada tahun 1980 sebagai jumlah negara
ini, tahap yang paling krusial adalah tahap yang banyak jumlah populasi lansianya. Di
lansia (lanjut usia) dimana pada diri manusia Provinsi Bali tahun 2012 jumlah lansia
secara alami terjadi penurunan atau sekitar 680.114 jiwa, tahun 2013
perubahan kondisi fisik,psikologis maupun diperkirakan tiap tahun 20% - 40% orang
sosial yang saling berinteraksi satu sama dewasa dan lansia mengalami insomnia. Di
lain. Keadaan itu cenderung berpotensi Kabupaten Gianyar, jumlah Lansia pada
menimbulkan masalah kesehatan secara tahun 2013 mencapai sekitar 1452 (10,95
fisik maupun kesehatan jiwa secara khusus %) dari seluruh jumlah lansia (Dinas
pada individu lanjut usia (Sarwono, 2010). Kesehatan Provinsi Bali, 2013).
Pertambahan penduduk lansia di Indonesia Terdapat banyak perubahan fisiologis
diproyeksikan naik melebihi 20 juta orang yang normal pada lansia. Perubahan ini
(Darmono & Martono, 2010). Perkiraan data tidak bersifat patologis, tetapi dapat
tersebut menyebabkan Indonesia menduduki membuat lansia lebih rentan terhadap
urutan ke-5 atau 6 pada tahun 2020 dari beberapa penyakit. Perubahan terjadi terus
menerus seiring usia. Perubahan spesifik beberapa faktor, yaitu dari faktor status
pada lansia dipengaruhi kondisi kesehatan, kesehatan, penggunaan obat-obatan, kondisi
gaya hidup, stressor, dan lingkungan. lingkungan, stres psikologis, diet/nutrisi,
Perawat harus mengetahui proses perubahan gaya hidup Insomnia pada usia lanjut
normal tersebut sehingga dapat memberikan dihubungkan dengan penurunan memori,
pelayanan tepat dan membantu adaptasi konsentrasi terganggu dan perubahan kinerja
lansia terhadap perubahan, salah satunya fungsional. Perubahan yang sangat
adalah perubahan neurologis. Akibat menonjol yaitu terjadi pengurangan pada
penurunan jumlah neuron fungsi gelombang lambat, terutama stadium empat,
neurotransmitter juga berkurang. Lansia gelombang alfa menurun,dan meningkatnya
sering mengeluh kesulitan untuk tidur, frekuensi terbangun di malam hari atau
kesulitan untuk tetap terjaga, kesulitan untuk meningkatnya fragmentasi tidur karena
tidur kembali tidur setelah terbangun di seringnya terbangun. Gangguan juga terjadi
malam hari, terjaga terlalu cepat, dan tidur pada dalamnya tidur sehingga lansia sangat
siang yang berlebihan. Masalah ini sensitif terhadap stimulus lingkungan, kalau
diakibatkan oleh perubahan terkait usia seorang dewasa muda normal akan
dalam siklus tidur-terjaga (Potter & Perry terbangun sekitar 2-4 kali. Tidak begitu
2009). halnya dengan lansia, ia lebih sering
Insomnia pada lansia merupakan terbangun (Darmojo, 2005). Gangguan juga
keadaan dimana individu mengalami suatu terjadi pada dalamnya tidur sehingga lansia
perubahan dalam kuantitas dan kualitas pola sangat sensitif terhadap stimulus
istirahatnya yang menyebabkan rasa tidak lingkungan. Selama tidur malam, seorang
nyaman atau mengganggu gaya hidup yang dewasa muda normal akan terbangun sekitar
di inginkan.Gangguan tidur pada lansia jika 2-4 kali. Tidak begitu halnya dengan lansia,
tidak segera ditangani akan berdampak ia lebih sering terbangun. Walaupun
serius dan akan menjadi gangguan tidur demikian, rata-rata waktu tidur total lansia
yang kronis. Secara fisiologis, jika hampir sama dengan dewasa muda. Ritmik
seseorang tidak mendapatkan tidur yang sirkadian tidur-bangun lansia juga sering
cukup untuk mempertahankan kesehatan terganggu. Jam biologik lansia lebih pendek
tubuh dapat terjadi efek-efek seperti pelupa, dan fase tidurnya lebih maju. Seringnya
konfusi dan disorientasi (Asmadi, 2008). terbangun pada malam hari menyebabkan
Menurut National Sleep Foundation tahun keletihan, mengantuk, dan mudah jatuh tidur
2010 sekitar 67% dari 1.508 lansia di pada siang hari, dengan perkataan lain
Amerika usia 65 tahun keatas melaporkan bertambahnya umur juga dikaitkan dengan
mengalami insomnia dan sebanyak 7,3 % kecenderungan untuk tidur dan bangun lebih
lansia mengeluhkan gangguan memulai dan awal. Toleransi terhadap fase atau jadual
mempertahankan tidur atau insomnia. tidur-bangun menurun, misalnya sangat
Kebanyakan lansia beresiko mengalami rentan dengan perpindahan jam kerja.
insomnia yang disebabkan oleh berbagai Adanya gangguan ritmik sirkadian tidur juga
faktor seperti pensiunan, kematian pasangan berpengaruh terhadap kadar hormon yaitu
atau teman dekat, peningkatan obat-obatan, terjadi penurunan sekresi hormon
dan penyakit yang dialami. Di Indonesia pertumbuhan, prolaktin, tiroid, dan kortisol
insomnia menyerang sekitar 50% orang pada lansia. Hormon-hormon ini
yang berusia 65 tahun, setiap tahun dikeluarkan selama tidur dalam. Sekresi
diperkirakan sekitar 20%-50% lansia melatonin juga berkurang. Melatonin
melaporkan adanya insomnia dan sekitar berfungsi mengontrol sirkadian tidur.
17% mengalami insomnia yang serius. Sekresinya terutama pada malam hari.
Prevalensi insomnia pada lansia cukup Apabila terpajan dengan cahaya terang,
tinggi yaitu sekitar 67% (Puspitosari, 2011) sekresi melatonin akan berkurang (Guyton,
Insomnia pada lansia disebabkan oleh 2007).
Dampak Insomnia pada lansia; misalnya Kesehatan Masyarakat Ubud I, diperoleh
mengantuk berlebihan di siang hari, data kunjungan lansia dalam dua bulan
gangguan atensi dan memori, mood depresi, terakhir pada bulan Januari 98 orang dimana
sering terjatuh, penggunaan hipnotik yang sebanyak 36 orang (36,73%), bulan Pebruari
tidak semestinya, dan penurunan kualitas sebanyak 103 orang dimana sebanyak 42
hidup. Beberapa gangguan tidur dapat orang (40,77%) berkunjung dengan keluhan
mengancam jiwa baik secara langsung mengalami gangguan tidur. Hasil studi
(misalnya insomnia yang bersifat keturunan pendahuluan terhadap 10 lansia yang
dan fatal dan apnea tidur obstruktif) atau berkunjung semua dengan keluhan
secara tidak langsung misalnya kecelakaan mengalami gangguan tidur. Sebagai faktor
akibat gangguan tidur. Menurut data WHO, yang mempengaruhi, di dapatkan faktor
di Amerika Serikat, lansia yang mengalami stress psikologis sebanyak 2 responden, 2
kecelakaan akibat gangguan tidur per tahun responden karena faktor status kesehatan
sekitar delapan puluh juta orang, biaya dan 4 responden karena faktor gaya hidup
kecelakaan yang berhubungan dengan meliputi kebiasaan merokok dan konsumsi
gangguan tidur per tahun sekitar seratus juta kopi serta satu responden mengalami
dolar (WHO, 2012). Melihat akibat dari gangguan tidur karena faktor lingkungan
gangguan tidur pada lansia diatas diperlukan tempat tinggal bising (dekat pasar). Tujuan
penanganan atau sikap yang tepat untuk penelitian ini adalah untuk mengetahui
mengatasinya dengan tindakan non faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan
farmakologis seperti hindari dan tidur (insomnia) pada lansia di Unit
meminimalkan penggunaan minum kopi, Pelaksana Teknis Kesehatan Masyarakat
teh, soda dan alkohol, serta merokok Ubud I tahun 2014
sebelum tidur dapat mengganggu kualitas
tidur lansia, hindari tidur siang terutama METODE
setelah pukul 14.00 WIB dan batasi tidur Jenis penelitiannnya adalah deskriptif,
siang, batas untuk satu kali tidur kurang dengan pendekatan subjek cross sectional.
dari 30 menit, pergi ke tempat tidur hanya Sampel pada penelitian ini adalah lansia
bila mengantuk, mempertahankan suhu yang yang berkunjung di Unit Pelaksana Terpadu
nyaman di kamar tidur, suara gaduh, cahaya, Kesehatan Masyarakat Ubud I yang
dan temperatur dapat mengganggu tidur memenuhi kriteria inklusi. Tehnik
(Hardiwinoto, 2010). pengambilan sampel yang digunakan jenis
Purposive sampling. Tehnik analisa data
Lansia sangat sensitif terhadap stimulus yang digunakan adalah analisis deskriptif
lingkungannya. Penggunaan tutup telinga yaitu dengan menggambarkan data yang
dan tutup mata dapat mengurangi pengaruh telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa
buruk lingkungan. Selain itu lansia harus bermaksud untuk membuat kesimpulan
membuat kontak sosial dan aktivitas fisik secara umum yang disajikan dalam bentuk
secara teratur di siang hari dan lansia harus table distribusi frekuensi.
pula dibantu untuk menghilangkan
kecemasannya. Membaca sampai HASIL DAN PEMBAHASAN
mengantuk dan mendengarkan lagu-lagu Karakteristik responden berdasarkan
biasanya merupakan salah satu cara untuk umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
menghilangkan kecemasan yang pekerjaan dan status perkawinan disajikan
mengganggu tidur pada lansia (Hardiwinoto, dalam tabel 1, 2, 3, 4, dan 5, sedangkan
2010). tingkat insomnia, tingkat insomnia
berdasarkan karakteristik demografi
Berdasarkan hasil studi pendahuluan responden disajikan dalam tabel 6 s.d 21.
yang dilakukan oleh peneliti pada bulan
Maret 2014 di Unit PelaksanaTeknis
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Umur Berdasarkan Status Perkawinan

Umur f % Status frekuensi persentase


55-74 tahun Perkawinan (f) (%)
14 46,7
Menikah 10 33,3
75-84 tahun 16 53,3 Duda/janda 20 66,7
Jumlah 30 100.0 Jumlah 30 100

Berdasarkan tabel 1, dari 30 responden Berdasarkan tabel 5, dari 30 responden


yang diteliti sebagian besar yaitu 16 orang yang diteliti sebagian besar yaitu 20 orang
(53,3%) berumur 75-84 tahun. (66,7%) status perkawinan responden
duda/janda.
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 6. Distribusi Frekuensi Faktor
Gaya Hidup (Merokok)
Jenis Kelamin f % Responden
Laki-laki 11 36,7
Perempuan 19 63,3 Merokok f %
Jumlah 30 100 Ya 19 60
Tidak 11 40
Berdasarkan tabel 2, dari 30 responden Jumlah 30 100
yang diteliti, tetinggi jumlah responden
perempuan sebanyak 19 orang (63,3%). Dari tabel 6 terlihat bahwa sebagian
besar lansia merokok yaitu sebanyak 19
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden orang (60%)
Berdasarkan Pendidikan
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Faktor
Pendidikan f % Gaya Hidup (Minum kopi)
Responden
SD 17 56,7
SMP 8 26,7
Minum kopi f %
SMA 5 16,6
Ya 24 80
Jumlah 30 100
Tidak 6 20
Jumlah 30 100
Berdasarkan tabel 3, dari 30 responden
yang diteliti sebagian besar yaitu 17 orang
Dari tabel 7 terlihat bahwa sebagian
(56,7%) tamat SD.
besar lansia minum kopi yaitu sebanyak 24
Orang (80%)
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Faktor
psikologis yang Menyebabkan
Pekerjaan f %
Gangguan Tidur pada Lansia
Tidak bekerja 18 60
Kecemasan f %
Bekerja 12 40
Tidak cemas 4 14
Jumlah 30 100
Cemas ringan 10 33
Berdasarkan tabel 4, dari 30 responden Cemas sedang 10 33
yang diteliti sebagian besar yaitu 18 orang Cemas berat 6 20
(60%) adalah tidak bekerja. Jumlah 30 100
Dari tabel 8 diketahui bahwa kecemasan Tabel 12. Distribusi Frekuensi Terjadinya
ringan dan sedang paling banyak ditemukan Insomnia Berdasarkan Faktor
pada lansia yaitu masing-masing 10 orang Umur Responden
(33%)
Umur Responden
Tingkat Total
Tabel 9. Distribusi frekuensi faktor 55-74 th 75-84 th
Insomnia
lingkungan yang menyebabkan f % f % f %
gangguan tidur pada lansia Insomnia
2 29 5 71 7 100
rendah
Lingkungan f % Insomnia
4 44 5 56 9 100
Nyaman 8 30 sedang
Tidak nyaman 22 70 Insomnia
8 57 6 43 14 100
Jumlah 30 100 tinggi
Berdasarkan tabel 12 terlihat bahwa dari
Dari tabel 9 diketahui bahwa lingkungan 14 responden yang mengalami insomnia
yang tidak nyaman ditemukan paling banyak kategori tinggi paling banyak yaitu 8 orang
yaitu 22 orang (70%) (57%) berumur 55-74 tahun.
Tabel 10. Distribusi Frekuensi Faktor Tabel 13. Distribusi Frekuensi Terjadinya
Status Kesehatan Yang Insomnia Berdasarkan Jenis
Menyebabkan Gangguan Tidur Kelamin Responden
Responden
Jenis Kelamin
Tingkat jumlah
Status f % Laki-laki Perempuan
Insomnia
kesehatan f % f % f %
Baik 11 60 Insomnia
Kurang 19 40 4 57,1 3 42,9 7 100
rendah
Jumlah 30 100 Insomnia
5 55,5 4 44,5 9 100
sedang
Dari tabel 10 dapat diketahui paling Insomnia
2 14,3 12 85,7 14 100
banyak status kesehatan lansia kurang yaitu tinggi
sebanyak 19 orang (60%)
Berdasarkan tabel 13 memberikan
Tabel 11. Distribusi Frekuensi Klasifikasi gambaran bahwa dari 14 responden yang
Insomnia Pada lansia mengalami insomnia kategori tinggi paling
banyakyaitu 12 orang (85,7%) perempuan.
Tingkat Insomnia f %
Tabel 14. Distribusi Frekuensi Terjadinya
Insomnia rendah 7 23 Insomnia Berdasarkan Pendidikan
Insomnia sedang 9 30 Pada lansia
Insomnia tinggi 14 47 Pendidikan
Tingkat Total
Jumlah 30 100 Insomnia SD SMP SMA
f % f % f % f %
Dari tabel 11 terlihat bahwa sebagian Insomnia 4 57 1 14 2 29 7 100
besar responden yaitu 14 orang (47%) rendah
Insomnia 7 78 2 22 0 0 9 100
mengalami tingkat insomnia tinggi sedang
Insomnia 6 43 5 36 3 21 14 100
tinggi
Berdasarkan tabel 14 memberikan Tabel 17. Distribusi Frekuensi Terjadinya
gambaran bahwa dari 14 responden yang Insomnia BerdasarkanGaya
mengalami insomnia kategori sedang paling Hidup Pada lansia
banyak yaitu 7 orang (43%) tamat SD.
Gaya Hidup
Tabel 15. Distribusi Frekuensi Terjadinya Tingkat Ti Total
Insomnia Berdasarkan Ya
Insomnia dak
pekerjaan Responden f % f % f %
Insomnia 71,4 28,6
Pekerjaan 5 2 7 100
Tingkat Jumlah rendah
Bekerja Tidak Insomnia 88,9 1 11,1
Insomnia 8 9 100
f % f % f % sedang
Insomnia Insomnia 78,6
2 28,6 5 71,4 7 100
rendah 11 3 21,4 14 100
tinggi
Insomnia
4 44,4 5 55,6 9 100
sedang
Insomnia Berdasarkan 17 memberikan gambaran
6 42,9 8 57,1 14 100 bahwa dari 14 responden yang mengalami
tinggi
insomnia kategori tinggi paling banyak yaitu
Berdasarkan tabel 15 memberikan 11 orang (78,6%) memiliki gaya hidup
gambaran bahwa dari 14 responden yang merokok dan minum kopi.
mengalami insomnia kategori tinggi paling
banyakyaitu 8 orang (57,1%) tidak bekerja. Tabel 18. Distribusi Frekuensi Terjadinya
Insomnia Berdasarkan Faktor
Tabel 16. Distribusi Frekuensi Psikologis Responden
Terjadinya Insomnia
Berdasarkan Status Faktor Psikologis
Tingkat Jumlah
Perkawinan Responden Kecemasan Kecemas- Kecemas-
Insom
ringan an Sedang an Berat
nia
f % f % f % f %
Perkawinan
Insom
Tingkat Menikah Duda/ Jumlah nia 5 71,4 2 28,6 0 0 7 100
Insomnia Janda rendah
f % f % f % Insom
Insomnia nia 1 11,1 8 88,9 0 0 9 100
1 14,3 6 85,7 7 100 sedang
rendah +Insom
Insomnia nia 0 0 8 57,1 6 42,9 14 100
2 22,2 7 77,8 9 100
sedang tinggi
Insomnia
7 50 7 50 14 100
tinggi Berdasarkan tabel 18 memberikan
gambaran bahwa dari 14 responden yang
Berdasarkan tabel 16 memberikan mengalami insomnia kategori tinggi paling
gambaran bahwa dari 14 responden yang banyak yaitu masing-masing 8 orang
mengalami insomnia kategori tinggi paling, (57,1%) mengalami kecemasan sedang.
masing-masing 7 orang (50%) menikah dan
duda/janda.
Tabel 19. Distribusi Frekuensi (2009) lansia banyak mengalami perubahan
Terjadinya Insomnia salah satunya adalah perubahan neurologis.
Berdasarkan Faktor Akibat penurunan jumlah neuron fungsi
Lingkungan Responden neurotransmitter juga berkurang. Lansia
sering mengeluh meliputi kesulitan untuk
Faktor Lingkungan tidur, kesulitan untuk tetap terjaga, kesulitan
Tingkat Jumlah untuk tidur kembali tidur setelah terbangun
Nyaman Tidak
Insomnia di malam hari, terjaga terlalu cepat, dan
f % f % f %
tidur siang yang berlebihan.Masalah ini
Insomnia 28,6 71,4
2 5 7 100 diakibatkan oleh perubahan terkait usia
rendah
Insomnia 33,3 6 66,7
dalam siklus tidur-terjaga
3 9 100 Hasil penelitian yang didapat didukung
sedang
Insomnia 21,4 oleh teori Darmojo, (2005). insomnia
3 11 78,6 14 100 merupakan gangguan tidur paling sering
tinggi
pada usia lanjut, yang ditandai dengan
Berdasarkan tabel 19 memberikan ketidakmampuan untuk mengawali tidur,
gambaran bahwa dari 14 responden yang mempertahankan tidur, bangun terlalu dini
mengalami insomnia kategori tinggi paling atau tidur yang tidak menyegarkan.Insomnia
banyakyaitu 11 orang (78,6%) tidak nyaman pada lansia disebabkan oleh beberapa faktor,
dengan kondisi lingkungannya. yaitu dari factor status kesehatan,
penggunaan obat-obatan, kondisi
Tabel 20. Distribusi Frekuensi Terjadinya lingkungan, stres psikologis, diet/nutrisi,
Insomnia Berdasarkan Faktor gaya hidup menyumbangkan insomnia pada
Status Kesehatan Responden usia lanjut. Insomnia pada usia lanjut
dihubungkan dengan penurunan memori,
Status Kesehatan konsentrasi terganggu dan perubahan kinerja
Tingkat Total fungsional. Perubahan yang sangat menonjol
Baik Kurang
Insomnia yaitu terjadi pengurangan pada gelombang
f % f % f %
Insomnia lambat, terutama stadium 4, gelombang alfa
4 57,1 3 42,9 7 100 menurun,dan meningkatnya frekuensi
rendah
Insomnia terbangun di malam hari atau meningkatnya
4 44,4 5 55,6 9 100 fragmentasi tidur karena seringnya
sedang
Insomnia terbangun (Darmojo, 2005).
3 21,4 11 78,6 14 100
tinggi Berdasarkan hasil penelitian
memberikan gambaran bahwa 14 responden
Berdasarkan tabel 20 memberikan yang mengalami insomnia kategori tinggi
gambaran bahwa dari 14 responden yang paling banyak yaitu 8 orang (57,1%)
mengalami insomnia kategori tinggi paling berumur 55-74 tahun. Hasil penelitian ini
banyakyaitu 11 orang (78,6%) status didukung oleh teori Darmojo (2005) umur
kesehatannya kurang. merupakan salah satu faktor yang dapat
Berdasarkan hasil penelitian mempengaruhi kesehatan seseorang. Hal ini
menunjukkan paling banyak lansia terkait dengan sel maupun organ tubuh telah
mengalami insomnia kategori tinggi yaitu mengalami penurunan fungsi seiring dengan
sebanyak 14 orang (46,7%) dengan skor peningkatan usia. Seperti halnya pola tidur
tertinggi adalah 23 termasuk tingkat normal yang mulai berubah sesuai
insomnia tinggi, sedangkan skor terendah pertambahan usia, akibat reduksi saraf yang
adalah 4 termasuk kategori insomnia rendah. mempengaruhi gelombang tidur atau oleh
Hasil penelitian yang menunjukkan sebagian karena deficit sistem saraf pusat yang
besar responden mengalami insomnia menyebabkan berkurangnya reaksi terhadap
kategori tinggi menurut Potter & Perry alarm ekstrinsik dan disfungsi biorhythm
serta berkurangnya pengeluaran substansi secara psikologis memiliki mekanisme
melatonia. Hasil penelitian ini sejalan koping yang lebih rendah dibandingkan
dengan teori Nugroho (2010) gangguan tidur dengan laki-laki dalam mengatasi suatu
merupakan keluhan utama yang sering masalah, dengan adanya gangguan secara
dialami lansia, dengan perkiraan lebih dari fisik maupun secara psikologis tersebut
setengah jumlah lansia yang berusia diatas maka wanita akan mengalami suatu
60 tahun mengalami kesulitan tidur dan kecemasan, jika kecemasan itu berlanjut
terjadi perubahan pola tidur seiring maka akan mengalami suatu kecemasan,
bertambahnya usia seperti perubahan jika kecemasan itu berlanjut maka akan
arsitektur tidur, tidur malam lebih mudah mengakibatkan seseorang lansia lebih sering
terganggu, kondisi mutu dan durasinya juga mengalami kejadian insomnia dibandingkan
terganggu, lansia cenderung mempunyai dengan laki-laki.
keinginan untuk tidur siang yang lebih besar Berdasarkan hasil penelitian
dibandingkan orang muda. Seorang lansia memberikan gambaran bahwa dari 14
sering terbangun dimalam hari dan responden yang mengalami insomnia
membutuhkan banyak waktu untuk jatuh kategori tinggi paling banyak yaitu 6 orang
tertidur dan selama penuaan, pola tidur (42,9%) tamat SD. Hasil penelitian ini
mengalami perubahan yang khas, yang didukung oleh teori Darmojo (2005) tingkat
membedakan dari orang-orang muda pendidikan, merupakan salah satu faktor
perubahan-perubahan itu mencakup sosiokultural yang bisa mempengaruhi
kelatenan tidur, terganggu pada dini hari, insomnia. Tingkat pendidikan yang tinggi
dan peningkatan jumlah tidur siang serta bisa memungkinkan individu untuk
jumlah waktu yang dihabiskan untuk tidur mengakses dan memahami informasi
lebih dalam menurun tentang kesehatan sehingga pasien memiliki
Berdasarkan hasil penelitian pengetahuan untuk memilih strategi dalam
memberikan gambaran bahwa dari 14 mengatasi insomnia.
responden yang mengalami insomnia Berdasarkan hasil penelitian
kategori tinggi paling banyak yaitu 12 orang memberikan gambaran bahwa dari 14
(85,7%) perempuan. Hasil penelitian ini responden yang mengalami insomnia
didukung oleh teori Darmojo (2005) jenis kategori tinggi paling banyakyaitu 8 orang
kelamin merupakan faktor yang (57,1%) tidak bekerja. Hasil penelitian ini
memperlihatkan adanya perbedaan biologis didukung oleh teori Darmojo (2005)
pada individu yang menyebabkan terjadinya pekerjaan, merupakan salah satu faktor
perbedaan pola tidur antar keduanya, dalam sosiokulutural yang bisa mempengaruhi
beberapa literatur disebutkan bahwa pria dan insomnia dengan bekerja memungkinkan
wanita memiliki perbedaan dalam individu untuk mengakses dan memahami
karakteristik tidur, dimana pria memiliki informasi tentang kesehatan sehingga pasien
gangguan tidur yang lebih bervariasi dan memiliki pengetahuan untuk memilih
lebih cepat dibandingkan wanita. Pada usia strategi dalam mengatasi insomnia.
dewasa, pria mulai mengalami penurunan Menurut pendapat peneliti, lansia yang
tidur REM (Rapid Eye Movement), mereka masih aktif bekerja akan cepat merasakan
sering terbangun akibat kongesti semen lelah dan capeksehingga kebutuhan istirahat
dalam penis sehingga mengganggu siklus juga meningkat, namun karena rasa capek
tidur selama tidur REM. dan letih tersebut juga dapat menyebabkan
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori lansia sulit untuk tidur karena tubuh yang
Nugroho (2010) prevalensi insomnia lebih merasa sakitakibat dari pekerjaannya.
tinggi pada wanita dibandingkan pria. Berdasarkan hasil penelitian
Wanita lebih memiliki kemungkinan untuk memberikan gambaran bahwa dari 14
mengalami mimpi buruk, kesulitan tidur dan responden yang mengalami insomnia
sering terbangun dibandingkan pria. Wanita kategori tinggi paling banyak yaitu masing-
masing 5 orang (50%) menikah dan responden yang mengalami insomnia
duda/janda. Hasil penelitian yang kategori tinggi paling banyak yaitu masing-
menunjukkan responden yang mengalami masing delapan orang (57,1%) mengalami
insomnia kategori rendah sebagian besar kecemasan sedang. Hasil penelitian ini
lansia duda/janda didukung oleh teori didukung oleh teori Darmojo (2005)
Darmojo (2005) keberadaan pasangan kecemasan merupakan bagian di dalam
hidup akan mengurangi tingkat kecemasan kehidupan manusia sehari-hari. Bagi orang
yang dialami lansia, karena pasangan hidup yang penyesuaiannya baik maka kecemasan
dapat menjadi sumber koping yang adekuat dapat cepat diatasi dan ditanggulangi,
dalam menghadapi stressor. namun bagi orang yang penyesuaian dirinya
Berdasarkan hasil penelitian kurang baik, maka kecemasan merupakan
memberikan gambaran bahwa dari 14 bagian terbesar di dalam kehidupannya,
responden yang mengalami insomnia sehingga kecemasan menghambat
kategori tinggi paling banyakyaitu 11 orang kegiatannya sehari-hari. Kecemasan yang
(78,6%) memiliki gaya hidup merokok dan dialami pasien dapat merangsang sistem
minum kopi. Hasil penelitian ini didukung saraf simpatis untuk mengeluarkan
oleh teori Darmojo (2005) faktor gaya katekolamin, glucagon dan hormon kortisol-
hidup seperti kebiasaan merokok merupakan steroid yang mempengaruhi SSP dalam
faktor terjadinya insomnia karena nikotin meningkatkan rasa gelisah, frustasi, nafas
yang terkandung dalam asap rokok bekerja cepat, hipertensi dan ketegangan otot.
sebagai stimulant yang membuat Demikian juga dapat menstimulasi fungsi
penghisapnya tetap terbangun dan waspada. RAS (Reticular Activating System) yang
Efek stimulant nikotin juga bisa mengatur seluruh fase siklus tidur,
menyebabkan individu mengalami nicotine meningkatkan sleep latency dan
withdrawal setiap malam sehingga bisa menurunkan efisiensi tidur yang meliputi
menyebabkan gangguan tidur atau insomnia. peningkatan frekuensi bangun di malam hari
Masalah lain yang bisa terjadi dari (Puspitosari, 2011). Hasil penelitian yang
kebiasaan merokok adalah batuk dan didapat juga didukung Perry dan Potter
masalah yang berhubungan dengan kesulitan (2009), yang mengungkapkan salah satu
bernafas di malam hari yang akhirnya penyebab terjadinya insomnia pada lansia
membuat gangguan tidur. Faktor gaya hidup adalan adanya faktor psikologi. Kecemasan
lainnya adalah konsumsi kopi, di dalam yang berkepanjangan sering menjadi
tubuh, kafein yang terkandung dalam kopi penyebab dari insomnia jenis kronis,
bisa diserap dengan cepat dan hampir sedangkan berita-berita buruk gagal rencana
sempurna. Efek perilaku dari kafein meliputi dapat menjadi penyebab insomnia transient.
perasaan meningkatnya energi, tetap Berdasarkan hasil penelitian
waspada, menurunnya tingkat fatique dan memberikan gambaran bahwa dari 14
rasa kantuk. Mekanisme aksi kafein responden yang mengalami insomnia
berhubungan dengan kemampuannya dalam kategori tinggi paling banyakyaitu 11 orang
menghambat pengeluaran adenosine. Kafein (78,6%) tidak nyaman dengan kondisi
menyebabkan peningkatan pengeluaran lingkungannya. Hasil penelitian ini
norepinefrin, epinefrin, dopamine dan didukung oleh teori Perry dan Potter (2009)
serotonin, sehingga dapat membuat orang lingkungan fisik tempat seseorang berada
tetap waspada. Jika kafein dikonsumsi > 250 dapat mempengaruhi tidurnya. Ukuran,
mg dapat menyebabkan terjadinya sindrom kekerasan, dan posisi tempat tidur
intoksikasi yang meliputi gejala cemas, mempengaruhi kualitas tidur. Seseorang
tegang, diuresis, takikardia, agitasi dan lebih nyaman tidur sendiri atau bersama
insomnia. orang lain, teman tidur dapat mengganggu
Berdasarkan hasil penelitian tidur jika ia mendengkur. Suara juga
memberikan gambaran bahwa dari 14
mempengaruhi tidur, butuh ketenangan SIMPULAN
untuk tidur, hindari dari kebisingan. Klasifikasi insomnia pada lansia paling
Teori diatas juga didukung oleh banyak mengalami insomnia kategori tinggi
Nugroho (2010) lingkungan fisik tempat yaitu sebanyak 14 orang (46,7%). Lansia
seseorang tidur berpengaruh pada yang mengalami insomnia kategori tinggi
kemampuan seseorang untuk tertidur. Suara, paling banyak yaitu 8 orang (57,1%)
tingkat pencahayaan, suhu ruangan kamar berumur 55-74 tahun. Lansia yang
dapat mempengaruhi kualitas tidur. mengalami insomnia kategori tinggi paling
Perbedaan terjadi mungkin karena hanya ada banyak yaitu 12 orang (85,7%) perempuan.
beberapa faktor lingkungan yang digunakan Lansia yang mengalami insomnia kategori
dalam instrumen penelitian seperti tinggi paling banyak yaitu 6 orang (42,9%)
kebisingan, cahaya dan teman tidur. Faktor tamat SD. Lansia yang mengalami insomnia
lingkungan tidak hanya didapat dari tiga kategori tinggi paling banyak yaitu 8 orang
komponen yang disebutkan sebelumnya (57,1%) tidak bekerja Lansia yang
namun juga bisa didapat dari suhu ruangan, mengalami insomnia kategori tinggi paling
ventilasi kamar, ukuran, kekerasan dan banyak yaitu masing-masing 5 orang (50%)
posisi tempat tidur. menikah dan duda/janda. Lansia yang
Berdasarkan hasil penelitian mengalami insomnia kategori tinggi paling
memberikan gambaran bahwa dari 14 banyak yaitu 11 orang (78,6%) memiliki
responden yang mengalami insomnia gaya hidup merokok dan minum kopi Lansia
kategori tinggi paling banyakyaitu 11 orang yang mengalami insomnia kategori tinggi
(78,6%) status kesehatannya kurang. Hasil paling banyak yaitu masing-masing delapan
penelitian ini didukung oleh teori Perry dan orang (57,1%) mengalami kecemasan
Potter (2009) setiap penyakit yang sedang. Lansia yang mengalami insomnia
menyebabkan ketidaknyamanan (seperti kategori tinggi paling banyak yaitu 11 orang
nyeri, kesulitan bernafas), penyakit (78,6%) tidak nyaman dengan kondisi
pernafasan seringkali mempengaruhi tidur, lingkungannya. Lansia yang mengalami
klien yang berpenyakit paru kronik, insomnia kategori tinggi paling banyak yaitu
penyakit jantung koroner, hipertensi, 11 orang (78,6%) status kesehatannya
nokturia atau berkemih pada malam hari, kurang.
mengganggu tidur dan siklus tidur. Lansia
yang mempunyai sindrom kaki tak berdaya DAFTAR RUJUKAN
yang terjadi pada saat sebelum tidur mereka Asmadi, 2008, Teknik Prosedural
Keperawatan: Konsep dan Aplikasi
mengalami berulang kali kambuh gerakan Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta:
berirama pada kaki dan tungkai. Dorongan Salemba Medika.
isi perut ke esophagus (sering disebut perut
panas, karena nyeri atau mulas di tengah Darmono & Martono, 2010, Buku Ajar
Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia
dada) dapat membangunkan orang beberapa Lanjut). Jakarta: Balai Penerbit FKUI
kali di malam hari. Menurut Hardiwinoto
(2010) menyatakan dalam sebuah penelitian, Darmojo, 2005, Proses Menua Dan
15% orang Amerika dilaporkan menderita Implikasi Kliniknya. Buku Ajar
Penyakit Dalam Jilid I (ed. 5),
penyakit kronis dan dua per tiganya Fakultas Kedokteran UI, Jakarta
dilaporkan mengalami masalah tidur. Sakit
punggung, sakit kepala dan sindrom sendi Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2013,
rahang (masalah dengan otot rahang) Laporan Tahunan Data Kesehatan
Provinsi Bali. Denpasar : Sub. Bagian
merupakan penyebab utama kurangnya Pencatatan dan pelaporan Dinas
tidur. Kesehatan Provinsi Bali
Guyton, 2007, Aktivitas Otak-Tidur. Dalam
Buku Ajar Fisiologi kedokteran-ed.9.
Jakarta: EGC.
Hardiwinoto, 2010, Panduan Gerontologi
Tinjauan dari BeberapaAspek.
Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama
Nugroho, 2010, Keperawatan gerontik dan
geriatrik. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Perry & Potter, 2009, Buku Ajar
Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, Dan Praktik. Jakarta: EGC.
Puspitosari, 2011, Gangguan Pola Tidur
Pada Kelompok Usia Lanjut, Journal
Kedokteran Trisakti, Januari-April,
Vol.21, No 1.
Sarwono, 2010, Psikologi kogitif, edisi ke-
8. Jakarta: Erlangga
World Health Organization, 2012, Helping
the Poor Manage Risk Better: The
Role of Social Funds, Social
Protection Discussion Paper Series.
Online) available : http://www. world
health organitation.com