Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH KEBERADAAN FASILITAS PENDIDIKAN TERHADAP POLA

KERUANGAN LAHAN TERBANGUN (Kasus: Kecamatan Depok, Kabupaten


Sleman)

Mathias Angger Yudistira


anggergeografi@yahoo.co.id

Sri Rum Giyarsih


srirum@ugm.ac.id

Jurnal Pengaruh Keberadaan Fasilitas Pendidikan Terhadap Pola Keruangan Lahan


Terbangun merupakan jurnal yang membahas mengenai latar belakang, tujuan dan pengaruh
keberadaan fasilitas pendidikan terhadap pola keruangan lahan terbangun yang terdapat di
Kabupaten Sleman. Perkembangan yang dialami oleh setiap kota disebabkan karena adanya
faktor penentu atau faktor pendukung yang menjadi daya tarik tersendiri dari kota tersebut,
salah satunya kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar yang
perkembangannya di pengaruhi oleh faktor pendidikan. Jurnal ini juga menyebutkan bahwa
kecamatan Depok, kabupaten Sleman mengalami perkembangan fasilitas pendidikan yang
cukup pesat. Hal ini dilihat dari pengaruh fasilitas tersebut terhadap pola keruangan yang
terbangun.

Menurut Yunus (1982) dalam jurnal menyebutkan bahwa kota Yogyakarta merupakan
kota yang berfungsi sebagai pusat kebudayaan. Kota sebagai pusat kebudayaan merupakan
kota yang memiliki fungsi dan potensi kultural yang menonjol termasuk dalam hal
pendidikan. Dalam hal ini, pendidikan dan kebudayaan saling berkaitan satu sama lain. Tidak
dapat dipungkiri bahwa aspek pendidikan merupakan salah satu aspek yang dapat
mempengaruhi perkembangan kota terutama pada kota - kota yang termasuk dalam
klasifikasi kota pendidikan. Jurnal ini tak lupa menyebutkan bahwa perkembangan kota
Yaogyakarta sebagai kota pendidikan terjadi sejak awal kemerdekaan seperti halnya yang
diungkapkan oleh Bintarto (1971) bahwa pertambahan jumlah kota dan pertambahan luas
kota Yogyakarta disebabkan karena berdirinya salah satu universitas yang menjadi daya tarik
kota Yogyakarta itu sendiri, yaitu Universitas Gadjah Mada dan universitas lain yang tiap
tahunnya membuat kota Yogyakarta dipenuhi oleh ribuan mahasiswa baru yang akan
memadati kota Yogyakarta dan menjadi masalah keruangan.
Penelitian yang dilakukan ini secara umum bertujuan untuk memberikan gambaran
yang lengkap mengenai keberadaan fasilitas pendidikan yang ada di tiga desa di Kecamatan
Depok Kabupaten Sleman yang perkembangannya terpengaruh oleh perkembangan Kota
Yogyakarta sebagai kota pendidikan terkait dengan pola keruangan lahan terbangunnya.
Peneliti mempertegas tujuan ini menjadi:

1. Mengkaji keberadaan fasilitas pendidikan di Desa Caturtunggal, Desa Condongcatur


dan Desa Maguwoharjo.
2. Mengkaji pola keruangan lahan terbangun di Desa Caturtunggal, Desa Condongcatur
dan Desa Maguwoharjo.
3. Mengkaji pengaruh keberadaan fasilitas pendidikan terhadap pola keruangan lahan
terbangun di Desa Caturtunggal, Desa Condongcatur dan Desa Maguwoharjo.

Metode yang digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini yaitu peneliti
melakukan pengecekan lapangan dari data sekunder mengenai jenis, jumlah dan lokasi
fasilitas pendidikan dilakukan pada penelitian ini sehingga dapat diplot pada peta dasar dan
menghasilkan informasi berupa sebaran fasilitas pendidikan. Penelitian ini menggunakan
pendekatan keruangan dengan menggambarkan gejala yang terjadi di permukaan bumi sesuai
kondisi fisik/morfologi. Data sekunder maupun data primer yang telah diolah peneliti
membutuhkan teknik analisis untuk menjabarkan permasalahan yang terjadi. Teknik analisis
yang digunakan oleh peneliti dalan penelitian ini adalah teknik deskriptif - eksplanasi yaitu
proses pendeskripsian tentang kondisi yang terjadi di lapangan dalam hal ini keberadaan
fasilitas pendidikan dengan pola keruangan lahan terbangun yang terbentuk.

Hasil yang dibahas dalam jurnal ini menyebutkan bahwa fasilitas pendidikan yang ada
memiliki jenjang yang berbeda beda, namun tidak semua fasilitas pendidikan yang ada
dapat berpengaruh terhadap lingkungan sekitarnya, hal ini bergantung pada fungsi fasilitas
pendidikan tersebut. Keberadaan fasilitas pendidikan tidak hanya mempertimbangkan aspek
kuantitas, namun juga harus mempertimbangkan aspek kualitasnya sehingga dapat
berpengaruh terhadap aspek keruangan.

Jurnal ini menjelaskan bahwa fasilitas pendidikan jenjang TK tidak mempengaruhi


pola ruangan terbangun di sekitarnya. Kondisi ini disebabkan karena fasilitas pendidikan
jenjang TK memang layak berada di sekitar kelompok permukiman, yang dapat membantu
anak anak yang berusia TK dapat menjangkau atau memanfaatkan fasilitas tersebut dengan
baik dan aman. Fasilitas jenjang TK ini sama halnya dengan fasilitas jenjang SD yang tidak
memiliki pengaruh terhadap elemen elemen pola keruangan terbangun terhadap kondisi
permukiman disekitarnya. Hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya permukiman yang
terdapat disekitar fasilitas jenjang SD ini, dan tidak adanya bangunan khusus yang
mendukung atau yang mempengaruhi pola ruangan terbangun disekitarnya. Hal ini juga yang
terjadi pada fasilitas pendidikan jenjang SMP yang tidak berpengaruh terhadap pola
keruangan terbangun karena umumnya masyarakat melanjutkan pendidikan jenjang SMP di
kota atau kabupaten tunggal, sehingga tidak mempengaruhi pola keruangan terbangun.

Berbeda dengan fasilitas penddikan jenjang TK, SD, dan SMP yang umumnya tidak
berpengaruh terhadap pola keruangan terbangun, fasilitas pendidikan jenjang SMA dan
perguruan tinggi justru memberi dampak terhadap pola keruangan terbangun. Fasilitas
pendidikan jenjang SMA memberikan elemen elemen pembentuk ruang sekitar SMA
tersebut. Sedangkan fasilitas pendidikan jenjang perguruan tinggi merupakan fasilitas
pendidikan yang yang paling berpengaruh terhadap pola keruangan terbangun disekitarnya.
Jurnal ini menjelaskan bahwa kota pendidikan merupakan kota kota tujuan utama para
mahasiswa yang ingin mendapatkan perguruan tinggi favorit. Oleh karena itu jelas bahwa
fasilitas pendidikan jenjang perguruan tinggi yang ada di kota pendidikan akan berpengaruh
terhadap pola keruangan lahan terbangun di sekitarnya. Kualitas dan kuantitas dari fasilitas
pendidikan jenjang perguruan tinggi akan mempengaruhi kuatnya pengaruh terhadap pola
keruangan lahan terbangun. Sehingga hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa fasilitas
pendidikan yang berpengaruh terhadap pola keruangan terbangun.

Jurnal ini membagi hasil penelitian mengenai keberadaan fasilitas pendidikan yang
berpengaruh terhadap pola keruangan tersebut yang terjadi di desa Caturtunggal, desa
Condongcatur, dan desa Maguwoharjo

1. Keberadaan fasilitas pendidikan di Desa Caturtunggal, Desa Condongcatur, dan Desa


Maguwoharjo untuk jenjang TK, SD, dan SMP tersebar merata. Keberadaan fasilitas
pendidikan jenjang SMA ada yang berlokasi saling berdekatan yakni di daerah
Demangan Baru. Keberadaan Fasilitas pendidikan jenjang perguruan tinggi ada yang
berlokasi saling berdekatan yakni di daerah Demangan Baru dan Mancasan.
2. Pola keruangan lahan terbangun Desa Caturtunggal adalah padat di sisi barat dan
membentuk kelompok-kelompok besar yang saling terhubung di sisi timur. Pola
keruangan lahan terbangun Desa Condongcatur adalah padat di sisi barat, mengumpul
membentuk kelompok-kelompok besar yang saling terhubung dengan adanya pola
memanjang di sepanjang jalan di sisi tengah, serta cukup padat di sisi timur. Pola
keruangan lahan terbangun Desa Maguwoharjo adalah memanjang sepanjang jalan di
sisi utara, padat di sepanjang ringroad di sisi tengah, serta sedikit bangunan tunggal di
sisi selatan.
3. Fasilitas pendidikan di Desa Caturtunggal yang memberikan pengaruh terhadap pola
keruangan lahan terbangun di sekitarnya adalah fasilitas pendidikan jenjang SMA dan
perguruan tinggi yang berada di daerah Demangan Baru, Mrican, Karangmalang dan
Bulaksumur serta perguruan tinggi yang berada di daerah Babarsari. Fasilitas
pendidikan di Desa Condongcatur yang memberikan pengaruh terhadap pola
keruangan lahan terbangun adalah perguruan tinggi yang berada di sisi timur
sedangkan kepadatan pola keruangan lahan terbangun di sisi barat dipengaruhi oleh
Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta dari Desa Caturtunggal.
Fasilitas pendidikan di Desa Maguwoharjo yang memberikan pengaruh terhadap pola
keruangan lahan terbangun adalah Universitas Sanata Dharma di daerah Paingan
sedangkan kepadatan pola keruangan lahan terbangun di sepanjang ringroad dan di
utara Bandara Adisucipto tidak disebabkan oleh keberadaan fasilitas pendidikan.

Jurnal ini secara umum menjelaskan bahwa tidak semua fasilitas pendidikan dapat
berpengaruh terhadap pola keruangan terbangun. Fasilitas pendidikan yang mampu
mempengaruhi pola keruangan terbangun disekitarnya yaitu fasilitas pendidikan yang bisa
menjadi daya tarik serta dapat membuat elemen bangunan terbangun disekitarnya yang
mendukung fasilitas pendidikan yang lain.

Jurnal ini memiliki kelebihan yang menjadi daya tarik, diantaranya:

1. Metode yang digunakan yaitu sensus dan survei lapangan dengan interpretasi citra
secara visual yang menghasil peta dengan teknik penampalan
2. Adanya penjelasan yang rinci dalam membahas hasil penelitian yang
memudahakan pembaca dalam memahami isi dari jurnal
3. Adanya beberapa peta fasailitas pendidikan yang terdapat di beberapa desa dan
dapat menjadi bukti atau tambahan informasi dalam jurnal

Selain kelebihan, tentunya jurnal ini tidak lepas dari kelemahan atau kesalahan yang
dilakukan oleh peneliti, baik dari segi tata bahasa atau penulisan. Sebagian jurnal ini terdapat
beberapa penulisan kata yang salah, sehingga pembaca bingung dalam memahami maksud
dari tulisan tersebut. Kelemahan dari jurnal ini, tentunya dapat menjadi patokan dalam
pembuatan jurnal selanjutnya.
Adanya jurnal ini diharapkan masyarakat atau pemerintah dapat memahami aspek
penting yang menjadi daya tarik tersendiri guna mempengaruhi pola keruangan terbangun,
khususnya terkait keberadaan fasilitas pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Alfana, Muhammad Arif Fahruddin. Sri Rum Giyarsih. Kanthi Aryekti. Ayu Rahmaningtias.
2016. Fertilitas Dan Migrasi: Kebijakan Kependudukan Untuk Migran Di Kabupaten
Sleman. NATAPAJA, 3 (1), 2016

Giyarsih, Sri Rum. 1999. Mobilitas Penduduk Daerah Pinggiran Kota. Majalah Geografi
Indonesia, 13 (1999), 1999

Giyarsih, Sri Rum. 2002. Dampak Non Ekonomi Migrasi Tenaga Kerja Wanita Keluar Negeri
Di Daerah Asal: Laporan Penelitian, Penelitian Ilmu Pengetahuan Terapan, Kajian
Wanita. Lembaga Penelitian, Universitas Gadjah Mada, 2002

Giyarsih, Sri Rum. 2010. Urban Sprawl Of The City Of Yogyakarta, Special Reperence To The
Stage Of Spatial Transformation (Case Study At Maguwoharjo). Indonesia Journal Of
Geography, 42 (1), 49 60, 2010

Giyarsih, Sri Rum. 2011. Gejala Urban Sprawl Sebagai Pemicu Proses Densifikasi
Permukiman Di Daerah Pingiran Kota (Urban Fringe Area) Kasus Pinggiran Kota
Yogyakarta. Jurnal Perencanaan Wilayah Dan Kota, 12 (1), 39 45, 2011

Giyarsih, Sri Rum. Muhammad Arif Fachruddin Alfana. 2013. The Role Of Urban Area As The
Determinant Factor Of Population Growth. Indonesian Journal Of Geography, 45 (1),
2013

Giyarsih, Sri Rum. 2015. Dampak Transmigrasi Terhadap Tingkat Kesajahteraan Warga
Transmigran Didesa Tanjung Kukuh Kecamatan Semendawai Barat Kebupaten Ogan
Komering Ulu Timur Provinsi Sumatera Selatan. Universitas Gadjah Mada, 2015

Giyarsih, Sri Rum. 2015. Pemetaan Kelembagaan Dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis
DAS Bengawan Solo Hulu. Jurnal Sains Dan Teknologi Lingkungan, 2 (2), 2015

Giyarsih, Sri Rum. 2016. Koridor Antar Kota Sebagai Penentu Sinargisme Spasial: Kajian
Geografi Yang Semakin Penting. TATALOKA, 14 (2), 90 97, 2016

Harini, Rika. Sri Rum Giyarsih. Sri Rahayu Budiani. 2005. Analisis Sector Unggulan Dalam
Penyerapan Tenaga Kerja Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Majalah Geografi
Indonesia, 19 (2005), 2005

Oryza, Hidayat. Sri Rum Giyaersih. 2012. Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Universitas Gadjah
Madatentang Bahaya Penyakit AIDS. Jurnal Bumi Indonesia, 1 (2), 2012
Ridwan, Ucok Heriady. Sri Rum Giyarsih. 2010. Kajian Kualitas Lingkungan Permukiman
Masyarakat Pesisir Suku Bajo Di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara.
Universitas Gadjah Mada, 2010

Saputra, Iwan Alim. Sri Rum Giyarsih. 2014. Studi Komperatif Transformasi Wilayah
Dikabupaten Klaten. Universitas Gadjah Mada, 2014

Setyono, Jawoto Sih. Hadi Sabari Yunus. Sri Rum Giyarsih. 2016. The Spatial Pattern Of
Urbanization And Small Cities Development In Central Java: A Case Study Of
Semarang - Yogyakarta - Surakarta Region. Geoplaning: Journal Of Geomatics And
Planning, 3 (1). 53 66, 2016

Yudistira, Mathias Angger. Sri Rum Giyarsih. 2012. Pengaruh Keberadaan Fasilitas
Pendidikan Terhadap Pola Keruangan Lahan Terbangun (Kasus: Kecamatan
Depok, Kabupaten Sleman). Jurnal Bumi Indonesia. 1 (3), 2012