Anda di halaman 1dari 29

SKENARIO

Kepada siapa saya meminta ijin

Seorang suami, usia 45 tahun menginginkan dilakukan euthanasia untuk istrinya yang
sudah lima tahun tergeletak harus dengan bantuan alat medis dan oksigen, keuangannya sudah
tidak cukup untuk membiayai pengobatannya. Laki-laki ini sudah meminta dokter untuk melepas
alat medis yang ditubuhnya, laki-laki ini juga sudah berkonsultasi dengan ulama, tetapi ulama
pun menolak permintaannya dokter yang merawat menolak dan laki-laki ini disarankan untuk
meminta izin kepada Kemenkes untuk mengijinkan permintaannya.

SEVEN JUMP

Step 1 : Klarifikasi Istilah

1. Euthanasia

2. Tergeletak

3. Oksigen

4. Konsultasi

5. Ulama

6. Kemenkes

Klarifikasi Istilah:

1. Euthanasia : tindakan untuk mempermudah mati dengan tenang dan mudah.1


2. Alat medis : alat untuk menangani masalah kesehatan.2
3. Ulama : orang yang ahli dibidang agama.2

1
4. Berkonsultasi: bertukar pikiran / meminta pertimbangan untuk memutuskan sesuatu
(tentang usaha dagang, dsb).2
5. Kemenkes : akronim dari Kementrian Kesehatan.
6. Tergeletak :terlentang/terkapar/terletak begitu saja.2
7. Oksigen : gas dengan rumus O2, tidak berasa, tidak berbau, dan komponen dari kerak
bumi.2
8. Pengobatan : proses, perbuatan, cara mengobati.2
9. Melepas : lepas/lari.2
10. Merawat : memelihara, menjaga, mengurus.2

Step 2 : Identifikasi Masalah

1. Apakah Euthanasia di Indonesia di perbolehkan, apa yang menjadi landasan hukumnya?

2. Mengapa alasan ulama tidak memperbolehkan Euthanasia?

3. Apakah hukum Islam mengenai Euthanasia?

4. Bagaimana seorang dokter menyikapi pasien yang akan melakukan Euthanasia?

5. Apa alasan dokter menyuruh pasien meminta izin kepada Kemenkes?

6. Apa tindakan seorang dokter menghadapi kasus tersebut, agar tidak merugikan semua pihak?

7. Apakah melepas alat medis itu disebut Euthanasia?

8. Apa sajakah jenis-jenis Euthanasia?

9. Apa yang menjadi landasan di sebagian negara yang memperbolehkan Euthanasia?

10. Siapa yang bertanggung jawab apabila seorang suami atau keluarga sudah tidak mampu
membiayai pasien?

Step 3: Analisis Masalah

1. Apakah Euthanasia di Indonesia di perbolehkan, apa yang menjadi landasan hukumnya?

2
Berdasarkan hukum di Indonesia maka euthanasia adalah sesuatu perbuatan yang melawan
hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang ada yaitu pada Pasal
344, 338, 340, 345, dan 359 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Dari ketentuan tersebut,
Kitab Undang-undang Hukum Pidana mengatur seseorang dapat dipidana atau dihukum jika
ia menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja ataupun karena kurang hati-hati.
Ketentuan pelanggaran pidana yang berkaitan langsung dengan euthanasia aktif terdapat pada
pasal 344 KUHP.

Pasal 344 KUHP:


Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang
disebutnya dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya
dua belas tahun.

Pasal 338 KUHP:

Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, dihukum karena makar mati,
dengan penjara selama-lamanya lima belas tahun.

Pasal 340 KUHP:

Barang siapa dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain,
dihukum, karena pembunuhan direncanakan (moord) dengan hukuman mati atau penjara
selama-lamanya seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.

Pasal 359 KUHP:

Barang siapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-
lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.

Pasal 345 KUHP:

Barang siapa dengan sengaja menghasut orang lain untuk membunuh diri, menolongnya
dalam perbuatan itu, atau memberikan daya upaya itu jadi bunuh diri, dihukum penjara
selama-lamanya empat tahun.3

3
2. Mengapa alasan ulama tidak memperbolehkan Euthanasia? Karena jika euthanasia diartikan
sebagai qatl al-nafs maka yang pertama adalah merujuk pada masalah tersebut kepada al-
Quran. Dalam hal ini, hukum euthanasi disebut dalam QS. al-Nisa (4): 29:
Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.
Ayat di atas, menegaskan bahwa bunuh diri dengan cara apapun adalah sesuatu yang
dilarang. Dalam kaidah ushul dikatakan bahwa bahwa ; ( pada dasarnya,
pelarangan adalah untuk mengharam-kan). Berdasar pada ayat tersebut dan kaitannya
dengan kaidah usul ini, maka penulis merumuskan bahwa euthanasi dalam Islam adalah
haram hukumnya.4

3. Apakah hukum Islam mengenai Euthanasia?


Landasan hukum Islam
a. Menurut al-quran
Dalam moralitas Islam, Euthanasia aktif diharamkan dengan dilandaskan pada quran
berikut ini Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk
membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (QS Al-Anaam : 151),
Dan tidak layak bagi seorang mu`min membunuh seorang mu`min (yang lain), kecuali
karena tersalah (tidak sengaja) (QS An-Nisaa`: 92) Dan janganlah kamu
membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS An-
Nisaa`: 29). Berdasarkan ayat-ayat tersebut tindakan seseorang mengakhiri nyawa orang
lain secara aktif tidaklah dapat dibenarkan atau haram.
b. Menurut Fiqih

Allah menganjurkan kepada manusia itu untuk merawat dirinya dan menjaga
keselamatannya. Bukan hanya manusia, menurut al-Quran bahwa binatang, dan tumbuh-
tumbuhan pun harus dirawat secara ihsan, bahkan terhadap benda mati sekalipun harus
dirawat secara ihsan.

Dalil yang bersumberkan hadis yang terkait dengan usaha pengobatan atau
penyembuhkan adalah sabda Nabi saw ;

4
Berobatlah wahai hamba Allah, karena sesungguhnkan Allah tidak tidak membuat
penyakit melainkan Allah (juga) mencipta-kan penawarnya, kecuali satu penyakit. Lalu
ditanyakan, apa penyakit itu, wahai Rasulullah ? jawab beliau, ketuaan (hadis ini
berkualitas ahh)

Jadi, jika kembali teks hadis Nabi saw dijadikan patokan sebagaimana dikutip di atas
maka dapat dipahami bahwa semua penyakit pasti ada obatnya. Berdasarkan hal ini, maka
pada sesungguhnya pada dokter tidak boleh putus asa dalam mengobati pasiennya.
Dengan mengamalkan Maqashid al-Syariat seperti yang terkonsep dalam al-Quran dan
hadis tersebut, maka praktek euthanasia dengan sendirinya akan dapat dihindari.5

c. Menurut Hadist

Barangsiapa yang menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung hingga dia membunuh
dirinya sendiri, maka tempatnya di neraka jahanam. Ia masuk ke salamnya, kekal untuk
selama-lamanya, dan barang siapa meminum racun sehingga ia membunuh dirinya
sendiri, maka racun itu dipegang di tangannya ia meminumnya di neraka jahanam, ia
kekal di dalamnya selama-lamanya, dan barang siapa membunuh dirinya dengan benda
tajam, maka benda tajam itu dipegangkan di tangannya dan dipukulkannya pada dirinya
di neraka jahanam dan ia kekal di dalamnya selama-lamanya(H.R.Al-Bukhari dan
Muslim dari Abu Hurairah).6

4. Bagaimana seorang dokter menyikapi pasien yang akan melakukan Euthanasia? Sikap
seorang Dokter terhadap pasien yang akan melakukan Euthanasia adalah dokter harus
menghargai pendapat keluarga pasien, menjelaskan masalah yang terjadi kepada pasien
dengan tenang.
Dimana seorang juga dokter terikat dengan sumpah dokter yang telah diucapkan. Pada poin
ke tujuh lafal sumpah dokter Indonesia menyebutkan bahwa saya akan menghormati setiap
hidup insan mulai dari saat pembuahan, sedangkan poin ke delapan menyebutkan bahwa saya
akan mengutamakan kesehatan penderita. Pada sumpah dokter muslim terdapat lafal untuk

5
melindungi jiwa manusia dalam semua tahap dan semua keadaan serta melakukan semampu
mungkin untuk menyelamatkan dari kematian, penyakit dan kecemasan.7

5. Apa alasan dokter menyuruh pasien meminta izin kepada Kemenkes? Dokter menyuruh
pasien meminta izin kepada Kemenkes karena Indonesia negara hukum sehingga semua
harus sesuai dengan hukum yang berlaku, euthanasia sudah sangat jelas dijelaskan bahwa
tidak diperbolehkan jadi harus meminta izin ke Kemenkes sebagai lembaga yang dapat
menentukan kebijakan.
Sesuai dengan KODEKI tentang Kewajiban Dokter Terhadap Pasien dimana dalam
penjelasan sikap dan pedoman pelaksanaanya yaitu untuk menghindar terjadinya hal yang
tidak diinginkan, maka dalam melakukan pemeriksaan perlu ada orang ketiga yakni petugas
kehatan penjaga praktek atau salah satu keluarga pasien. Dimana dalam masalah ini dokter
berarti memberitahukan informed consent kepada keluarga pasien, agar tidak ada pihak yang
dirugikan.8

6. Apa tindakan seorang dokter menghadapi kasus tersebut, agar tidak merugikan semua pihak?
Tindakan seorang dokter dalam Euthanasia agar tidak merugikan semua pihak adalah harus
ada konfirmasi, penjelasan dan alasan tepat, konfirmasi dgn rekam medis, bukti perjanjian,
inform consent, lembaga keprofesian.9
7. Apakah melepas alat medis itu disebut Euthanasia?
Tindakan melepas alat medis belum tentu Euthanasia, karena jika melepas alat medis pada
pasien yang sudah sembuh tidak termasuk Euthanasia.

8. Apa sajakah jenis-jenis Euthanasia? Jenis-jenis Euthanasia bila ditinjau dari cara
pelaksanaannya, euthanasia dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu eutanasia agresif,
eutanasia non agresif, dan eutanasia pasif.
a. Eutanasia agresif, disebut juga eutanasia aktif, adalah suatu tindakan secara sengaja
yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya untuk mempersingkat atau
mengakhiri hidup seorang pasien. Eutanasia agresif dapat dilakukan dengan pemberian
suatu senyawa yang mematikan, baik secara oral maupun melalui suntikan. Salah satu
contoh senyawa mematikan tersebut adalah tablet sianida.
b. Eutanasia non agresif, kadang juga disebut eutanasia otomatis (autoeuthanasia)
digolongkan sebagai eutanasia negatif, yaitu kondisi dimana seorang pasien menolak
secara tegas dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis meskipun mengetahui

6
bahwa penolakannya akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Penolakan tersebut
diajukan secara resmi dengan membuat sebuah "codicil" (pernyataan tertulis tangan).
Eutanasia non agresif pada dasarnya adalah suatu praktik eutanasia pasif atas permintaan
pasien yang bersangkutan.
c. Eutanasia pasif dapat juga dikategorikan sebagai tindakan eutanasia negatif yang tidak
menggunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan seorang
pasien. Eutanasia pasif dilakukan dengan memberhentikan pemberian bantuan medis
yang dapat memperpanjang hidup pasien secara sengaja. Beberapa contohnya adalah
dengan tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam
pernapasan, tidak memberikan antibiotika kepada penderita pneumonia berat,
meniadakan tindakan operasi yang seharusnya dilakukan guna memperpanjang hidup
pasien, ataupun pemberian obat penghilang rasa sakit seperti morfin yang disadari justru
akan mengakibatkan kematian. Tindakan eutanasia pasif seringkali dilakukan secara
terselubung oleh kebanyakan rumah sakit.Penyalahgunaan eutanasia pasif bisa dilakukan
oleh tenaga medis maupun pihak keluarga yang menghendaki kematian seseorang,
misalnya akibat keputusasaan keluarga karena ketidaksanggupan menanggung beban
biaya pengobatan. Pada beberapa kasus keluarga pasien yang tidak mungkin membayar
biaya pengobatan, akan ada permintaan dari pihak rumah sakit untuk membuat
"pernyataan pulang paksa". Meskipun akhirnya meninggal, pasien diharapkan meninggal
secara alamiah sebagai upaya defensif medis.10

9. Apa yang menjadi landasan di sebagian negara yang memperbolehkan Euthanasia? Sejauh
ini euthanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Australia, Belgia, Amerika, Swiss dan
Inggris.11
a. Euthanasia di Belanda

Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang


mengizinkan euthanasia, undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak tanggal 1
April 2002, yang menjadikan Belanda menjadi Negara pertama di dunia yang
melegalisasi praktik euthanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tidak
dapat disembuhkan lagi, diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya.

Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara formal
euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai perbuatan kriminal.
7
Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para dokter
untuk melapor semua kasus euthanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi kehakiman
selalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002, sebuah konvensi yang
berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh undang-undang Belanda, dimana seorang dokter
yang melakukan euthanasia pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum.11

b. Euthanasia di Australia

Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama di dunia


dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan, meski reputasi ini
tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima UU yang disebut
Right of the terminally ill bill (UU tentang hak pasien terminal). Undang-undang baru
ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi bulan maret 1997 ditiadakan oleh keputusan Senat
Australia, sehingga harus ditarik kembali. Dengan demikian menurut aturan hukum di
Australia, tindakan euthanasia tidak dibenarkan.11

c. Euthanasia di Belgia

Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan eutanasia pada akhir September 2002.
Para pendukung euthanasia menyatakan bahwa ribuan tindakan eutanasia setiap tahunnya
telah dilakukan sejak dilegalisasikannya tindakan eutanasia dinegara ini, namun mereka
juga mengkritik sulitnya prosedur pelaksanaan eutanasia ini sehingga timbul suatu kesan
adanya upaya untuk menciptakan birokrasi kematian.

Belgia kini menjadi negara ketiga yang melegalisasi euthanasia ( setelah Belanda
dan negara bagian Oregon di Amerika ).

Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah satu penyusun
rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa seorang pasien yang menderita
secara jasmani dan psikologis adalah merupakan orang yang memiliki hak penuh untuk
memutuskan kelangsungan hidupnya dan penentuan saat-saat akhir hidupnya.11

d. Euthanasia di Amerika

8
Eutanasia agresif dinyatakan ilegal dibanyak negara bagian di Amerika. Saat ini
satu-satunya negara bagian di Amerika yang hukumnya secara eksplisit mengizinkan
pasien terminal ( pasien yang tidak mungkin lagi disembuhkan) mengakhiri hidupnya
adalah negara bagian Oregon, yang pada tahun 1997 melegalisasikan kemungkinan
dilakukannya eutanasia dengan memberlakukan UU tentang kematian yang pantas
(Oregon Death with Dignity Act). Tetapi undang-undang ini hanya menyangkut bunuh
diri berbantuan, bukan euthanasia.

Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat, dimana pasien terminal berusia 18


tahun ke atas boleh minta bantuan untuk bunuh diri, jika mereka diperkirakan akan
meninggal dalam enam bulan dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga kali pasien,
dimana dua kali secara lisan (dengan tenggang waktu 15 hari di antaranya) dan sekali
secara tertulis (dihadiri dua saksi dimana salah satu saksi tidak boleh memiliki hubungan
keluarga dengan pasien). Dokter kedua harus mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan
prognosis serta memastikan bahwa pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada
dalam keadaan gangguan mental.Hukum juga mengatur secara tegas bahwa keputusan
pasien untuk mengakhiri hidupnya tersebut tidak boleh berpengaruh terhadap asuransi
yang dimilikinya baik asuransi kesehatan, jiwa maupun kecelakaan ataupun juga
simpanan hari tuanya.

Belum jelas apakah undang-undang Oregon ini bisa dipertahankan di masa depan,
sebab dalam Senat AS pun ada usaha untuk meniadakan UU negara bagian ini. Mungkin
saja nanti nasibnya sama dengan UU Northern Territory di Australia. Bulan Februari lalu
sebuah studi terbit tentang pelaksanaan UU Oregon selama tahun 1999.11

e. Euthanasia di Swiss

Di Swiss, obat yang mematikan dapat diberikan baik kepada warga negara Swiss
ataupun orang asing apabila yang bersangkutan memintanya sendiri. Secara umum, pasal
115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Swiss yang ditulis pada tahun 1937 dan
dipergunakan sejak tahun 1942, yang pada intinya menyatakan bahwa membantu suatu
pelaksanaan bunuh diri adalah merupakan suatu perbuatan melawan hukum apabila
motivasinya semata untuk kepentingan diri sendiri.

9
Pasal 115 tersebut hanyalah menginterpretasikan suatu izin untuk melakukan
pengelompokan terhadap obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengakhiri kehidupan
seseorang.11

f. Euthanasia di Inggris

Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan Britania Raya
(Britains Royal College of Obstetricians and Gynaecologists) mengajukan sebuah
proposal kepada Dewan Bioetik Nuffield (Nuffield Council on Bioethics) agar
dipertimbangkannya izin untuk melakukan eutanasia terhadap bayi-bayi yang lahir cacat
(disabled newborns). Proposal tersebut bukanlah ditujukan untuk melegalisasi eutanasia
di Inggris melainkan semata guna memohon dipertimbangkannya secara saksama dari sisi
faktor kemungkinan hidup si bayi sebagai suatu legitimasi praktek kedokteran.

Namun hingga saat ini eutanasia masih merupakan suatu tindakan melawan hukum
di kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain daripada Belanda).

Demikian pula kebijakan resmi dari Asosiasi Kedokteran Inggris (British Medical
Association-BMA) yang secara tegas menentang eutanasia dalam bentuk apapun juga.11

10. Siapa yang bertanggung jawab apabila seorang suami atau keluarga sudah tidak mampu
membiayai pasien? Yang bertanggung jawab apabila keluarga pasien tidak mampu
membiayai pengobatan pasien adalah Pemerintah, berdasarkan pasal 34 ayat 1,2, dan 3 dalam
UUD 1945 yang berbunyi:

(1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
(2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat
kemanusiaan.
(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak.12

10
Step 4 : Sistematika Masalah (Bagan)

1. Al-Quran
EUTHANASIA LANDAS 2. KODEKI
AN 3. KUHP
4. Sumpah Dokter
5. UU Hukum
Kesehatan
6. Fiqh
7. Fatwa

Definisi

Konsep

1. Akt
Jenis if

Contoh
1. Agama
2. Psikologi
Faktor yang 3. Ekonomi
mempengaru 4. Kesehatan
5. Kemanusiaa
n
Tindakan
Euthanasia

1. Definisi
Menyebabkan 2. Macam-macam
Kematian 3. Kematian menurut
medis
Sikap dan
11
Tindakan
1. Pasien
2. Keluarg
a

Kemenke Dokter
Hak &
kewajiba
n

Step 5 : Tujuan Pembelajaran

1. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi, konsep dari euthanasia.


2. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam euthanasia.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang kematian.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan pengambil kewenangan dan kebijakan.
5. Mahasiswa mampu menjelaskan landasan hukum euthanasia di Indonesia.
6. Mahasiswa mampu menjelaskan alasan ulama tidak memperbolehkan euthanasia.
7. Mahasiswa mampu menjelaskan hukum Islam mengenai euthanasia.
8. Mahasiswa mampu menjelaskan hak dan kewajiban dokter, pasien dan keluarga pasien
tentang euthanasia.
9. Mahasiswa mampu menjelaskan alasan dokter menyuruh pasien meminta izin kepada
Kemenkes.
10. Mahasiswa mampu menjelaskan Kemenkes dapat memperbolehkan permintaan
euthanasia atau tidak.
11. Mahasiswa mampu menjelaskan melepas alat medis itu disebut euthanasia atau tidak.
12. Mahasiswa mampu menjelaskan saja macam-macam euthanasia.
13. Mahasiswa mampu memberi contoh negara yang memperbolehkan euthanasia dan
menjelaskannya.
14. Mahasiswa mampu menjelaskan siapa yang bertanggung jawab atas pasien jika keluarga
sudah tidak mampu membiayai dan semua pihak tidak mengabulkan permintaan
euthanasia.

Step 6 : Mengumpulkan Informasi dan Belajar Mandiri

12
Step 7 : Berbagi Informasi

Dari berbagai kegiatan euthanasia dapat dilihat dari berbagai sudut, antara lain:

1. Euthanasia Dilihat dari Sudut Etika


Etik berasal dari kata Yunani ethos, yang berarti yang baik, yang layak. Etik merupakan
norma-norma, nilai-nilai atau pola tingkah laku kelompok profesi terentu dalam memberikan
pelayanan jasa kepada masyarakat. Etik merupakan prinsip yang menyangkut benar dan salah,
baik dan buruk dalam hubungan dengan orang lain. Etik merupakan studi tentang perilaku,
karakter dan motif yang baik serta ditekankan pada penetapan apa yang baik dan berharga bagi
semua orang. Secara umum, terminologi etik dan moral adalah sama. Etik memiliki terminologi
yang berbeda dengan moral bila istilah etik mengarahkan terminologinya untuk penyelidikan
filosofis atau kajian tentang masalah atau dilema tertentu. Moral mendeskripsikan perilaku
aktual, kebiasaan dan kepercayaan sekelompok orang atau kelompok tertentu. Etik digunakan
untuk mendeskripsikan suatu pola atau cara hidup, sehingga etik merefleksikan sifat, prinsip dan
standar seseorang yang mempengaruhi perilaku profesional. Cara hidup moral perawat telah
dideskripsikan sebagai etik perawatan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa etik merupakan istilah yang
digunakan untuk merefleksikan bagaimana seharusnya manusia berperilaku, apa yang
seharusnya dilakukan seseorang terhadap orang lain.
Dari sudut pandang etika, euthanasia menghadapi kesulitan yang sama. Suatu prinsip
etika yang sangat mendasar ialah kita harus menghormati kehidupan manusia. Bahkan kita harus
menghormatinya dengan mutlak. Tidak pernah boleh kita mengorbankan manusia kepada suatu
tujuan lain. Dalam etika, prinsip ini sudah lama dirumuskan sebagai "kesucian kehidupan" (The
Sanctity Of Life). Kehidupan manusia adalah suci karena mempunyai nilai absolut, karena itu di
mana-mana harus selalu dihormati. Jika kita dengan konsekuen mengakui kehidupan manusia
sebagai suci, menjadi sulit untuk membenarkan eksperimentasi laboratorium dengan embrio
muda, meski usianya baru beberapa hari, dan menjadi sulit pula untuk menerima praktik
13
euthanasia, yang dengan sengaja mengakhiri kehidupan manusia. Prinsip kesucian kehidupan ini
bukan saja menandai suatu tradisi etika yang sudah lama, tetapi dalam salah satu bentuk
dicantumkan juga dalam sistem hukum beberapa Negara.

2. Euthanasia Dilihat dari Sudut Moral


Dalam menilai masalah euthanasia, perlu disadari bahwa masalah euthanasia amat
kompleks. Masalah euthanasia tidak pernah berdiri sendiri tetapi selalu berkait dengan soal lain,
misalnya sosial, politik dan ekonomi. Di sini, hanya disajikan premis untuk penilaian euthanasia
dari segi moral kehidupan.

a. Pandangan mengenai hidup


Euthanasia pada dasarnya berkaitan dengan hidup itu sendiri. Pandangan tentang hidup itu
sendiri amat menentukan sikap dan pilihan atas euthanasia. Yang dibahas di sini adalah
pandangan hidup secara etis dan teologis

b. Hidup sebagai anugerah


Banyak peristiwa dalam hidup kita mengatasi perhitungan dan perencanaan manusia
(kemandulan, kesembuhan atau kematian di luar dugaan) dan menimbulkan keyakinan bahwa
hidup itu pada akhirnya adalah anugerah. Memang manusia meneruskan atau mewariskan
kehidupan, tetapi kehidupan itu sendiri tidak berasal dari padanya, melainkan dalam bahasa
religius dari Tuhan sebagai pencipta dan sumber kehidupan. Dibandingkan dengan Tuhan, hidup
manusia itu kontingen, dapat ada, dapat tidak ada, tetapi memang de facto ada karena diciptakan
Tuhan. Deklarasi tentang euthanasia sendiri menegaskan hal ini dengan mengutip perkataan
Santo Paulus Bila kita hidup, kita hidup bagi Tuhan, bila kita mati, kita mati bagi Tuhan.
Apakah kita hidup atau mati, Kita adalah milik Tuhan (Rom 14:8 )
Manusia bukanlah pemilik mutlak dari hidupnya sendiri. manusia administrator hidup
manusia yang harus mempertahankan hidup itu. Dengan demikian, manusia tidak mempunyai
hak apapun untuk mengambil atau memutuskan hidup baik hidupnya sendiri maupun hidup
orang lain. Euthanasia adalah bentuk dari pembunuhan tu karena euthanasia mengambil hidup
orang lain atau hidupnya sendiri (Assisted Suicide). Euthanasia menjadi salah satu cermin di
mana manusia ingin merebut hak prerogatif dari Allah sendiri adalah Tuhan atas kehidupan.

14
c. Hidup sebagai nilai asasi yang sangat tinggi.
Dari sekian banyak nilai, kiranya jelas bahwa hidup merupakan nilai dasar. Tanpa hidup
banyak nilai lainnya menjadi tidak atau kurang berarti. Karena itu, hidup juga merupakan nilai
yang sangat tinggi, bahkan dalam arti tertentu juga nilai tertinggi di antara nilai-nilai dunia fana.
Martabat hidup manusia tidak berubah meskipun ia berada dalam status vegetatif
(PVS=Persistent Vegetative Status). Hidup manusia adalah dasar dari segala sesuatu. Tanpa
hidup, manusia tidak punya apapun, termasuk hak-haknya. Karena itu, hidup manusia adalah hak
dasar dan sumber segala kebaikan. Martabat manusia tidak berubah meskipun dia dalam keadaan
koma. Ia tetap manusia yang bermartabat. Dia bukan vegetatif=tumbuh-tumbuhan. Oleh
karena itu, ia tetap harus dihormati.

d. Hidup sebagai hak asasi dan nilai yang harus dilindungi.


Karena hidup merupakan anugerah dengan nilai asasi dan sangat tinggi, maka hidup
merupakan hak asasi manusia dan karenanya juga harus dilindungi terhadap segala hal yang
mengancamnya.

e. Hidup sebagai tugas


Anugerah dan tugas bersifat korelatif, artinya hidup sebagai anugerah sekaligus berarti
hidup mengembangkannya seutuhnya (menurut segala seginya, seperti biologis, fisik, psikis,
kultural, sosial, religius, moral dan seterusnya). Dalam tugas mengembangkan kehidupan tersirat
tanggung jawab dan hak untuk mempergunakan sarana-sarana yang perlu atau bermanfaat untuk
memenuhi tugas itu sebaik-baiknya.

f. Pandangan mengenai penderitaan dan kematian


Selain berkaitan dengan kehidupan, euthanasia juga berurusan dengan kematian. Maka
perlu diperhatikan pula pandangan tentang kematian.

g. Penderitaan sebagai beban atas anugerah hidup


Hidup memang anugerah, tetapi tak jarang anugerah ini dibebani kekurangan kualitas
kehidupan berupa penderitaan. Memang penderitaan juga dapat mempunyai segi positif dan
nilainya, tetapi secara manusiawi penderitaan pertama-tama dirasakan sebagai beban. Menurut
ajaran kristiani, rasa sakit, terutama pada waktu meninggal, dalam rencana penyelamatan Allah

15
mendapat makna khusus. Penderitaan merupakan partisipasi dalam penderitaan Kristus dan
menghubungkan dengan kurban penebusan.

h. Mati dan kematian sebagai keterbatasan anugerah.


Hidup memang anugerah, namun anugerah yang terbatas. Oleh karena itu hidup harus
juga diterima dalam keterbatasannya yaitu kematian. Keterbatasan sebenarnya bukanlah
keburukan, tetapi seringkali dirasakan sebagai keburukan, meskipun di lain pihak juga dapat
diinginkan sebagai pembebasan. Soalnya sekarang ialah di mana batas itu, kapan saatnya tiba,
sebab manusia dewasa ini makin mampu menunda saat kematian atau memperpanjang
hidup.

3. Euthanasia Dilihat dari Sudut Agama Islam


Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut merupakan
anugerah Allah kepada manusia. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan
kapan ia mati (QS 22:66; 2:243). Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam
meskipun tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadist yang secara eksplisit melarang bunuh
diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut, Dan belanjakanlah
(hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan,
dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
(QS 2:195), dan dalam ayat lain disebutkan, Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri, (QS
4:29). Euthanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (euthanasia),
yaitu tindakan yang memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit,
karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan orang yang sedang sakit, baik
dengan cara positif maupun negatif. Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di
Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya
euthanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun
juga. Islam membedakan dua macam euthanasia, yaitu:
a. Euthanasia positif
Yang dimaksud taisir al-maut al-faal (euthanasia positif) adalah tindakan memudahkan
kematian pasien karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan alat.

16
Euthanasia positif dilarang sebab tujuan tindakan adalah pembunuhan atau mempercepat
kematian. Tindakan ini dikategorikan sebagai pembunuhan dan dosa besar.
b. Euthanasia negatif
Euthanasia negatif disebut taisir al-maut al-munfail. Pada euthanasia negatif tidak
dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan pasien, tetapi ia
hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan. Pasien dibiarkan begitu saja karena pengobatan tidak
berguna lagi dan tidak memberikan harapan apa-apa kepada pasien. Pasien dibiarkan mengikuti
saja hukum sunnatullah (hukum Allah terhadap alam semesta) dan hukum sebab-akibat.

Berdasar Hukum Euthanasia dalam syariah islam dapat di jawab menurut macamnya,
yakni : Syariah Islam mengharamkan euthanasia aktif, karena termasuk dalam kategori
pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad) walaupun niatnya baik yaitu untuk meringankan
penderitaan pasien. Hukumnya tetap haram, walaupun atas permintaan pasien sendiri atau
keluarganya. Dalil-dalil dalam masalah ini sangatlah jelas, yaitu dalil-dalil yang mengharamkan
pembunuhan. Baik pembunuhan jiwa orang lain, maupun membunuh diri sendiri. Dan jelaslah
bahwa haram hukumnya bagi dokter melakukan euthanasia aktif. Sebab tindakan itu termasuk ke
dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al-amad) yang merupakan tindak pidana (jarimah)
dan dosa besar. Dokter yang melakukan euthanasia aktif, misalnya dengan memberikan suntikan
mematikan, menurut hukum pidana Islam akan dijatuhi qishash (hukuman mati karena
membunuh), oleh pemerintahan Islam (Khilafah), sesuai firman Allah :

Telah diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh (QS Al-
Baqarah : 178).

Namun jika keluarga terbunuh (waliyyul maqtuul) menggugurkan qishash (dengan memaafkan),
qishash tidak dilaksanakan. Selanjutnya mereka mempunyai dua pilihan lagi, meminta diyat
(tebusan), atau memaafkan/menyedekahkan.

Firman Allah SWT :

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang
memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf)

17
membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula) (QS Al-
Baqarah : 178)

Diyat untuk pembunuhan sengaja adalah 100 ekor unta di mana 40 ekor di antaranya
dalam keadaan bunting,berdasarkan hadits Nabi riwayat An-Nasa`i (Al-Maliki, 1990:
111).

Jika dibayar dalam bentuk dinar (uang emas) atau dirham (uang perak), maka diyatnya
adalah 1000 dinar, atau senilai 4250 gram emas (1 dinar = 4,25 gram emas), atau 12.000
dirham, atau senilai 35.700 gram perak (1 dirham = 2,975 gram perak) (Al-Maliki, 1990:
113).

Tidak dapat diterima, alasan euthanasia aktif yang sering dikemukakan yaitu kasihan
melihat penderitaan pasien sehingga kemudian dokter memudahkan kematiannya. Alasan ini
hanya melihat aspek lahiriah (empiris), padahal di balik itu ada aspek-aspek lainnya yang tidak
diketahui dan tidak dijangkau manusia.

Dengan mempercepat kematian pasien dengan euthanasia aktif, pasien tidak mendapatkan
manfaat (hikmah) dari ujian sakit yang diberikan Allah kepada-Nya,yaitu pengampunan dosa.
Rasulullah SAW bersabda,Tidaklah menimpa kepada seseorang muslim suatu musibah, baik
kesulitan, sakit, kesedihan, kesusahan, maupun penyakit, bahkan duri yang menusuknya, kecuali
Allah menghapuskan kesalahan atau dosanya dengan musibah yang menimpanya itu.(HR
Bukhari dan Muslim).

Selanjutya hukum euthanasia pasif, sebenarnya faktanya termasuk dalam praktik


menghentikan pengobatan. Tindakan tersebut dilakukan berdasarkan keyakinan dokter bahwa
pengobatan yang dilakukan tidak ada gunanya lagi dan tidak memberikan harapan sembuh
kepada pasien. Karena itu, dokter menghentikan pengobatan kepada pasien, misalnya dengan
cara menghentikan alat pernapasan buatan dari tubuh pasien. Bagaimanakah hukumnya menurut
Syariah Islam? Jawaban untuk pertanyaan itu, bergantung kepada pengetahuan kita tentang
hukum berobat (at-tadaawi) itu sendiri. Yakni, apakah berobat itu wajib, mandub,mubah, atau
makruh? Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Menurut jumhur ulama, mengobati atau
berobat itu hukumnya mandub (sunnah), tidak wajib. Menurut Abdul Qadim Zallum (1998:68)

18
hukum berobat adalah mandub. Tidak wajib. Hal ini berdasarkan berbagai hadits, di mana pada
satu sisi Nabi SAW menuntut umatnya untuk berobat, sedangkan di sisi lain, ada qarinah
(indikasi) bahwa tuntutan itu bukanlah tuntutan yang tegas (wajib), tapi tuntutan yang tidak tegas
(sunnah).
Di antara hadits-hadits tersebut, adalah hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia ciptakan pula
obatnya. Maka berobatlah kalian! (HR Ahmad, dari Anas RA)

Hadits di atas menunjukkan Rasulullah SAW memerintahkan untuk berobat. Menurut ilmu
Ushul Fiqih, perintah (al-amr) itu hanya memberi makna adanya tuntutan (li ath-thalab), bukan
menunjukkan kewajiban (li al-wujub). Ini sesuai kaidah ushul :

Al-Ashlu fi al-amri li ath-thalab

Perintah itu pada asalnya adalah sekedar menunjukkan adanya tuntutan. (An-Nabhani,
1953)

Jadi, hadits riwayat Imam Ahmad di atas hanya menuntut kita berobat. Dalam hadits itu
tidak terdapat suatu indikasi pun bahwa tuntutan itu bersifat wajib. Bahkan, qarinah yang ada
dalam hadits-hadits lain justru menunjukkan bahwa perintah di atas tidak bersifat wajib. Hadits-
hadits lain itu membolehkan tidak berobat.

Di antaranya ialah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA, bahwa seorang perempuan
hitam pernah datang kepada Nabi SAW lalu berkata,Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan
(epilepsi) dan sering tersingkap auratku [saat kambuh]. Berdoalah kepada Allah untuk
kesembuhanku! Nabi SAW berkata,Jika kamu mau, kamu bersabar dan akan mendapat surga.
Jika tidak mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu. Perempuan itu
berkata,Baiklah aku akan bersabar, lalu dia berkata lagi,Sesungguhnya auratku sering
tersingkap [saat ayanku kambuh], maka berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.
Maka Nabi SAW lalu berdoa untuknya. (HR Bukhari)
Hadits di atas menunjukkan bolehnya tidak berobat. Jika hadits ini digabungkan dengan hadits
pertama di atas yang memerintahkan berobat, maka hadits terakhir ini menjadi indikasi (qarinah),

19
bahwa perintah berobat adalah perintah sunnah, bukan perintah wajib. Kesimpulannya, hukum
berobat adalah sunnah (mandub), bukan wajib (Zallum, 1998:69).
Dengan demikian, jelaslah pengobatan atau berobat hukumnya sunnah, termasuk dalam hal ini
memasang alat-alat bantu bagi pasien. Jika memasang alat-alat ini hukumnya sunnah, apakah
dokter berhak mencabutnya dari pasien yag telah kritis keadaannya? Abdul Qadim Zallum
(1998:69) mengatakan bahwa jika para dokter telah menetapkan bahwa si pasien telah mati organ
otaknya, maka para dokter berhak menghentikan pengobatan, seperti menghentikan alat bantu
pernapasan dan sebagainya. Sebab pada dasarnya penggunaan alat-alat bantu tersebut adalah
termasuk aktivitas pengobatan yang hukumnya sunnah, bukan wajib. Kematian otak tersebut
berarti secara pasti tidak memungkinkan lagi kembalinya kehidupan bagi pasien. Meskipun
sebagian organ vital lainnya masih bisa berfungsi, tetap tidak akan dapat mengembalikan
kehidupan kepada pasien, karena organ-organ ini pun akan segera tidak berfungsi.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka hukum pemasangan alat-alat bantu kepada pasien adalah
sunnah, karena termasuk aktivitas berobat yang hukumnya sunnah. Karena itu, hukum euthanasia
pasif dalam arti menghentikan pengobatan dengan mencabut alat-alat bantu pada pasien setelah
matinya/rusaknya organ otakhukumnya boleh (jaiz) dan tidak haram bagi dokter. Jadi setelah
mencabut alat-alat tersebut dari tubuh pasien, dokter tidak dapat dapat dikatakan berdosa dan
tidak dapat dimintai tanggung jawab mengenai tindakannya itu (Zallum, 1998:69; Zuhaili,
1996:500;Utomo,2003:182).
Namun untuk bebasnya tanggung jawab dokter, disyaratkan adanya izin dari pasien, walinya,
atau washi-nya (washi adalah orang yang ditunjuk untuk mengawasi dan mengurus pasien). Jika
pasien tidak mempunyai wali, atau washi, maka wajib diperlukan izin dari pihak penguasa (Al-
Hakim/Ulil Amri) (Audah, 1992 : 522-523).

Menurut MUI ( Majlis Ulama Indonesia )

Euthanasia dalam keadaan aktif maupun dalam keadaan pasif, menurut fatwa MUI, tidak
diperkenankan karena berarti melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang lain.
Lebih lanjut, KH Maruf Amin ( Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ) mengatakan,
euthanasia boleh dilakukan dalam kondisi pasif yang sangat khusus.
Kondisi pasif tersebut, dimana seseorang yang tergantung oleh alat penunjang kehidupan tetapi
ternyata alat tersebut lebih dibutuhkan oleh orang lain atau pasien lain yang memiliki tingkat

20
peluang hidupnya lebih besar, dan pasien tersebut keberadaannya sangat dibutuhkan oleh
masyarakat. Sedangkan, kondisi aktif adalah kondisi orang yang tidak akan mati bila hanya
dicabut alat medis perawatan, tetapi memang harus dimatikan.

Mengenai dalil atau dasar fatwa MUI tentang pelarangan euthanasia, dia menjelaskan dalilnya
secara umum yaitu tindakan membunuh orang dan karena faktor keputusasaan yang tidak
diperbolehkan dalam Islam. Dia mengungkapkan, dasar pelarangan euthanasia memang tidak
terdapat secara spesifik dalam Al Quran maupun Sunnah Nabi. Hak untuk mematikan seseorang
ada pada Allah SWT, ujarnya menambahkan. Tindakan euthanasia dalam hukum Islam belum
ada kejelasan dalam hal pengkategorian tindakan pembunuhan yang merupakan suatu jarimah.

Sebagaimana diketahui bahwa suatu perbuatan dapat digolongkan sebagai suatu jarimah apabila
memenuhi unsur-unsur jarimah. Dalam hukum pidana Islam dikenal dua unsur jarimah yaitu
jarimah umum dan khusus. Yang dimaksud dengan unsur- unsur umum yaitu unsur-unsur yang
terdapat pada setiap jarimah, sedangkan unsur khusus adalah unsur yang hanya ada pada jenis
jarimah tertentu dan tidak terdapat pada jenis jarimah yang lain. Adapun yang termasuk unsur
umum jarimah adalah sebagai berikut:

1. Unsur Formal, yaitu adanya nash atau ketentuan yang menunjuknya sebagai jarimah.
Unsur ini sesuai dengan prinsip yang menyatakan bahwa jarimah tidak terjadi sebelum
dinyatakan dalam nash.

2. Unsur material, yaitu adanya perbuatan yang melawan hukum yang pernah dilakukan.

3. Unsur moral, yaitu adanya niat pelaku untuk berbuat. Dengan kata lain, unsur ini
berhubungan dengan tanggung jawab pidana yang hanya dibebankan atas orang mukallaf
dalam keadaan bebas dari unsure keterpaksaan atau ketidaksadaran penuh.

Unsur khusus dari jarimah merupakan unsur yang membedakan antara jarimah yang satu dengan
jarimah yang lain. Misalnya unsur jarimah pembunuhan akan berbeda dengan unsur jarimah
pencurian, zina dan sebagainya.

21
Dalam hukum Islam, pembunuhan dikenal ada tiga macam, yaitu:

1. Pembunuhan sengaja (Al-qathl alamd), yaitu suatu perbuatan yang direncanakan


dahulu dengan menggunakan alat dengan maksud menghilangkan nyawa

2. Pembunuhan semi sengaja (Al-qathl sibhu al-amd), yaitu suatu perbuatan


penganiayaan terhadap seseorang tidak dengan maksud membunuhnya, tetapi
mengakibatkan kematian.

3. Pembunuhan karena kesalahan (Al-qathl al-khatta), yaitu pembunuhan yang terjadi


karena adanya kesalahan dan tujuan perbuatannya.

Dalam hukum Islam, hingga saat ini belum ada kejelasan atau kepastian tentang eksistensi
euthanasia, apakah euthanasia itu termasuk dalam jarimah atau bukan.

Meskipun dalam hukum Islam belum ada kejelasan atau ketidakpastian dalam menentukan
apakah euthanasia termasuk jarimah atau bukan, akan tetapi dalam hal euthanasia aktif yang
dilakukan hanya berdasar inisiatif dokter sendiri tanpa adanya persetujuan dari pasien. Sekiranya
dapat dimasukkan dalam kategori jarimah pembunuhan, dan pelaku dimungkinkan dihukum
sesuai dengan hukum jarimah yang ada. Pendapat demikian didasarkan atas pertimbangan karena
perbuatan itu telah memenuhi syaratsyarat untuk dapat dilaksanakan dalam qishash, antara lain:

1. Pembunuhan adalah orang yang baligh, sehat, dan berakal

2. Ada kesengajaan membunuh

3. Ikhtiyar (bebas dari paksaan)

4. Pembunuh bukan anggota keluarga korban

5. Jarimah dilakukan secara langsung.

22
Konsep euthanasia

Alasan Euthanisia

Adanya hak moral bagi setiap orang untuk mati terhormat, maka seseorang mempunyai hak
memilih cara kematiannya
Tindakan belas kasihan pada seseorang yang sakit, meringankan penderitaan sesama adalah
tindakan kebajikan
Tindakan belas kasihan pada keluarga pasien
Mengurangi beban ekonomi 15

Dampak Euthanisia

Sudut pandang Pasien


mudah putus asa karena tidak ingin dan tidak memiliki semangat untuk berjuang melawan
penyakitnya.
Sudut pandang Keluarga Pasien
aspek kemanusiaan dan ekonomi 16

Selain itu euthanasia dapat dilihat dari segala aspek kehidupan, yaitu:

A. Aspek Hukum.
Undang undang yang tertulis dalam KUHP Pidana hanya melihat dari dokter sebagai
pelaku utama euthanasia, khususnya euthanasia aktif dan dianggap sebagai suatu pembunuhan
berencana, atau dengan sengaja menghilangkan nyawa seseorang. Sehingga dalam aspek hukum,
dokter selalu pada pihak yang dipersalahkan dalam tindakan euthanasia, tanpa melihat latar
belakang dilakukannya euthanasia tersebut. Tidak perduli apakah tindakan tersebut atas
permintaan pasien itu sendiri atau keluarganya, untuk mengurangi penderitaan pasien dalam
keadaan sekarat atau rasa sakit yang sangat hebat yang belum diketahui pengobatannya. Di lain

23
pihak hakim dapat menjatuhkan pidana mati bagi seseorang yang masih segar bugar yang
tentunya masih ingin hidup, dan bukan menghendaki kematiannya seperti pasien yang sangat
menderita tersebut, tanpa dijerat oleh pasal pasal dalam undang undang yang terdapat dalam
KUHP Pidana.

B. Aspek Hak Asasi.


Hak asasi manusia selalu dikaitkan dengan hak hidup, damai dan sebagainya. Tapi tidak
tercantum dengan jelas adanya hak seseorang untuk mati. Mati sepertinya justru dihubungkan
dengan pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini terbukti dari aspek hukum euthanasia, yang
cenderung menyalahkan tenaga medis dalam euthanasia. Sebetulnya dengan dianutnya hak untuk
hidup layak dan sebagainya, secara tidak langsung seharusnya terbersit adanya hak untuk mati,
apabila dipakai untuk menghindarkan diri dari segala ketidak nyamanan atau lebih tegas lagi dari
segala penderitaan yang hebat.

C. Aspek Ilmu Pengetahuan.


Pengetahuan kedokteran dapat memperkirakan kemungkinan keberhasilan upaya
tindakan medis untuk mencapai kesembuhan atau pengurangan penderitaan pasien. Apabila
secara ilmu kedokteran hampir tidak ada kemungkinan untuk mendapatkan kesembuhan ataupun
pengurangan penderitaan, apakah seseorang tidak boleh mengajukan haknya untuk tidak
diperpanjang lagi hidupnya? Segala upaya yang dilakukan akan sia sia, bahkan sebaliknya dapat
dituduhkan suatu kebohongan, karena di samping tidak membawa kepada kesembuhan, keluarga
yang lain akan terseret dalam pengurasan dana.

D. Aspek Agama.
Kelahiran dan kematian merupakan hak dari Tuhan sehingga tidak ada seorangpun di
dunia ini yang mempunyai hak untuk memperpanjang atau memperpendek umurnya sendiri.
Pernyataan ini menurut ahli ahli agama secara tegas melarang tindakan euthanasia, apapun
alasannya. Dokter bisa dikategorikan melakukan dosa besar dan melawan kehendak Tuhan yaitu
memperpendek umur. Orang yang menghendaki euthanasia, walaupun dengan penuh penderitaan
bahkan kadang kadang dalam keadaan sekarat dapat dikategorikan putus asa, dan putus asa tidak
berkenan dihadapan Tuhan. Tapi putusan hakim dalam pidana mati pada seseorang yang segar

24
bugar, dan tentunya sangat tidak ingin mati, dan tidak dalam penderitaan apalagi sekarat, tidak
pernah dikaitkan dengan pernyataan agama yang satu ini. Aspek lain dari pernyataan
memperpanjang umur, sebenarnya bila dikaitkan dengan usaha medis bisa menimbulkan masalah
lain. Mengapa orang harus kedokter dan berobat untuk mengatasi penyakitnya, kalau memang
umur mutlak di tangan Tuhan, kalau belum waktunya, tidak akan mati. Kalau seseorang
berupaya mengobati penyakitnya maka dapat pula diartikan sebagai upaya memperpanjang umur
atau menunda proses kematian. Jadi upaya medispun dapat dipermasalahkan sebagai melawan
kehendak Tuhan. Dalam hal hal seperti ini manusia sering menggunakan standar ganda. Hal hal
yang menurutnya baik, tidak perlu melihat pada hukum hukum yang ada, atau bahkan
mencarikan dalil lain yang bisa mendukung pendapatnya, tapi pada saat manusia merasa bahwa
hal tersebut kurang cocok dengan hatinya, maka dikeluarkanlah berbagai dalil untuk
menopangnya.11

Resusitasi mutakhir telah membawa perubahan-perubahan pada definisi kematian. 14

Mati klinis adalah henti nafas (tidak ada gerak nafas spontan) ditambah henti sirkulasi
(jantung) total dengan semua aktivitas otak terhenti, tetapi tidak ireversibel. Pada masa dini
kematian inilah, pemulaian resusitasi dapat diikuti dengan pemulihan semua fungsi sistem organ
vital termasuk fungsi otak normal, asalkan diberi terapi optimal.

Mati biologis (kematian semua organ) selalu mengikuti mati klinis bila tidak dilakukan
resusitasi jantung paru (RJP) atau bila upaya resusitasi dihentikan. Mati biologis merupakan
proses nekrotisasi semua jaringan, dimulai dengan neuron otak yang menjadi nekrotik setelah
kira-kira 1 jam tanpa sirkulasi, diikuti oleh jantung, ginjal, paru dan hati yang menjadi nekrotik
selama beberapa jam atau hari.

Pada kematian, seperti yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronik yang berat,
denyut jantung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat, ketika tidak hanya jantung, tetapi
organisme secara keseluruhan begitu terpengaruh oleh penyakit tersebut sehingga tidak mungkin
untuk tetap hidup lebih lama lagi. Upaya resusitasi pada kematian normal seperti ini tidak
bertujuan dan tidak berarti.

25
Henti jantung (cardiac arrest) berarti penghentian tiba-tiba kerja pompa jantung pada
organisme yang utuh atau hampir utuh. Henti jantung yang terus berlangsung sesudah jantung
pertama kali berhenti mengakibatkan kematian dalam beberapa menit. Dengan perkataan lain,
hasil akhir henti jantung yang berlangsung lebih lama adalah mati mendadak (sudden death).
Diagnosis mati jantung (henti jantung ireversibel) ditegakkan bila telah ada asistol listrik
membandel (intractable, garis datar pada EKG) selama paling sedikit 30 menit, walaupun telah
dilakukan RJP dan terapi obat yang optimal.

Mati serebral (kematian korteks) adalah kerusakan ireversibel (nekrosis) serebrum,


terutama neokorteks. Mati otak (MO, kematian otak total) adalah mati serebral ditambah dengan
nekrosis sisa otak lainnya, termasuk serebelum, otak tengah dan batang otak.

Mati sosial (status vegetatif yang menetap, sindroma apalika) merupakan kerusakan
otak berat ireversibel pada pasien yang tetap tidak sadar dan tidak responsif, tetapi mempunyai
elektroensefalogram (EEG) aktif dan beberapa refleks yang utuh. Ini harus dibedakan dari mati
serebral yang EEGnya tenang dan dari mati otak, dengan tambahan ketiadaan semua refleks saraf
otak dan upaya nafas spontan. Pada keadaan vegetatif mungkin terdapat daur sadar-tidur.

Menurut Peraturan Pemerintah RI no 18 tahun 1981, tentang bedah mayat klinis dan bedah
mayat anatomis serta transplantasi alat atau jaringan tubuh manusia, meninggal dunia adalah
keadaan insani yang diyakini oleh ahli-ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak,
pernafasan dan denyut jantung seseorang telah berhenti.13

26
KESIMPULAN

Berdasarkan dari data-data yang diperoleh dan analisis masalah diatas kita dapat menyimpulkan
bahwa euthanasia merupakan tindakan mengakhiri kehidupan sesorang dengan sengaja maupun
tidak sengaja. Adapun landasan hukum yang mengatur kegiatan euthanasia di Indonesia sendiri
telah di atur dalam pada Pasal 344, 338, 340, 345, dan 359 Kitab Undang-undang Hukum
Pidana. Kemudian dijelaskan juga dalam hukum Islam tentang di larang melakukan euthanasia
terdapat juga dalam firman Allah SWT surat: (QS Al-Anaam : 151), (QS An-Nisaa`: 92) (QS
An-Nisaa`: 29). Dan juga dalam hadits: H.R.Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

Akan tetapi dalam pelaksanaannya di berbagai negara lain masih di temukan kegiatan euthanasia
seperti di Belanda, Australia, Belgia, Amerika, Swiss dan Inggris yang dikarenakan oleh Aspek
hukum, hak asasi, pengetahuan dan agama yang dianut di negara tersebut berbeda-beda.

Di Indonesia sendiri yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan peraturan nya telah di
tetapkan untuk euthanasia dilarang dan di haramkan. Karena tidak sesuai dengan agama dan
pandangan hidup bangsa yang menghargai segala bentuk kehidupan.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. OXFORD ENGLISH DICTIONARY.


2. KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA.
3. Hanafiah, M. Jusuf, Amri Amir. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan. 1999.
Jakarta: EGC.
4. Hassan Hathout, The Jornal of Islamic Medical Association of North dalam
Buletin Asy-Syifa dengan judul artikel Islam dan Euthanaisia, No. 2 Edisi Mei
1997.
5. H. Minjahuddin, Pengembangan Metode Ijtihad dalam Perspektif Fikih Islam
Pidato Pengukuhan Guru Besar IAIN Alauddin, tanggal 31 Mei 2004. (Cet. I;
Bandung: Pustaka Hidayah, 1997).
6. ENSIKLOPEDI HUKUM ISLAM.
7. Zuhroni et al. 2003. Islam untuk Disiplin Ilmu Kesehatan dan Kedokteran 2 (Fiqh
Kontemporer), Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan
Agama Islam.
8. KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia).
9. IKATAN DOKTER INDONESIA (IDI).
10. Hasan, M.Ali. 1995. Masail Fiqhiyah Al-Haditsah Pada Masalah-Masalah
Kontemporer Hukum Islam. Jakarta : RajaGrafindo Persada.
11. Kozier B., Erb G., Berman A., & Snyder S.J, (2004), Fundamentals of Nursing
Concepts, Process and Practice 7th Ed., New Jersey: Pearson Education Line
Taylor C., Lilies C., & Lemone P. (1997), Fundamentals of Nursing,
Philadelphia : Lippincott.
12. Undang-Undang Dasar 1945, Amandemen ke-IV 2002.
13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 18, 1981. Tentang Bedah Mayat
Klinis dan Bedah Mayat Anatomis Serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan
Tubuh Manusia.
14. Safar P. Resusitasi Jantung Paru Otak. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia 1984:185.
15. Shannon, Thomas (Diterjemahkan K.Bertens). 1995. Pengantar Bioetika.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
16. Karo-Karo, Andre. 1987. Euthanasia. Penerbit Erlangga. Jakart.
17.
18. PENULIS. TAHUN. JUDUL. KOTA TERBIT: KOTA

28
29