Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS TERHADAP PENERAPAN PAJAK

DALAM KASUSNYA

I. PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Salah satu ciri dari sistem pemungutan pajak di Indonesia adalah self
assessment system yaitu sistem pemungutan pajak yang memberikan
kepercayaan kepada masyarakat/Wajib Pajak untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri jumlah pajak yang
terutang. Sistem pemungutan pajak tersebut mempunyai arti bahwa
penentuan /penetapan, serta pelaporan secara teratur tentang besarnya
pajak terutang dan jumlah pajak yang telah dibayar, sebagaimana
ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan dipercayakan
sepenuhnya kepada Wajib Pajak (WP). Artinya, keberhasilan dan kegagalan di
bidang pajak sangat dipengaruhi oleh Wajib Pajak. System tersebut lebih
memandang Wajib Pajak sebagai subjek dan bukan objek semata. Hak dan
Kewajiban Wajib Pajak menurut undang-undang sekarang sama dengan
fiskus . Agar suatu Self assessment system berhasil, tidak hanya diperlukan
pengetahuan yang cukup dari wajib pajak . Tanpa dilandasi oleh kesadaran ,
kejujuran, dan kedisiplinan yang memadai, maka kepercayaan yang
diberikan kepada Wajib Pajak (WP) dapat disalahgunakan.Untuk itu
Administrasi perpajakan harus berperan aktif dalam melaksanakan
pengendalian administrasi pemungutan pajak yang meliputi tugas-tugas
pembinaan, pelayanan, pengawasan, dan penerapan sanksi perpajakan.
Salah satu pengendalian administrasi pemingutan pajak adalah dengan
adanya kewajiban untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) dengan
benar dan lengkap seperti yang tercantum dalam Pasal 3 UU KUP, Seperti
yang kita ketahui belakangan ini muncul pemberitaan berbagai kasus pajak
seperti kasus Gayus Tambunan dan Paulus Tumewu, tapi yang menjadi
latar belakang dari makalah ini adalah kasus penghentian penyidikan kasus
Penggelapan Pajak Paulus Tumewu yang Berdasar hasil penyelidikan,
Paulus diduga melakukan tindak pidana perpajakan yang berhubungan
dengan Surat Pemberitahuan karena tidak melaporkan sebagian penghasilan
(telah melanggar ketentuan pasal 39 ayat (1) UU nomor 16 tahun 2000
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) sebelum
perubahan oleh UU No 28 tahun 2007 ) yaitu, menyampaikan Surat
Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak
lengkap dan telah P-21 (berkas dinyatakan lengkap) oleh Kejaksaan atas
dasar surat permohonan dari Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, agar
Jaksa Agung mengeluarkan surat untuk menghentikan kasus Paulus Tumewu.
Surat permohonan itu dibuat atas surat permohonan dari Paulus Tumewu
yang telah melunasi utang pajaknya ke Menkeu (Sri Mulyani). Yang akhirnya
Dibalas Menkeu dengan memberi disposisi ke Sekjen Depkeu yang
menyatakan Paulus dikenakan denda 400 persen dari hutang pokok pajak.
Paulus meminta Menkeu mengusulkan ke Jaksa Agung menghentikan
penyidikan dan penuntutan atas dirinya. Dan akhirnya memang berkas kasus
pidana pajak Paulus Tumewu yang telah P-21 itu tidak berlanjut ke
Pengadilan. Padahal di dalam ketentuan Pasal 39 itu sanksi pidananya bukan
alternatif tetapi kumulatif yaitu pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan
dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah
pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat)
kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. sehingga
pemberhentian penyidikan/ pengeluaran SKPP tersebut oleh sebagian
kalangan di anggap ada intervensi dari Menteri Keuangan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis membuat makalah dengan
judul PENEGAKAN HUKUM DALAM TINDAK PIDANA PAJAK YANG BERKAITAN
DENGAN KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN SURAT PEMBERITAHUAN DENGAN
BENAR DAN LENGKAP MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2007
MENGENAI KETENTUAN UMUM PERPAJAKAN

B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana penegakan hukum dalam tindak pidana pajak yang berkaitan
dengan kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan dengan benar dan
lengkap menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum Perpajakan ?

II. PEMBAHASAN
Dalam berbagai macam literatur dapat ditemukan berbagai pengertian atau
definisi tentang pajak dari berbagai pakar yang satu sama lain ada
kesamaan dan ada juga perbedaan, sehingga supaya pengertian atau
definisi ini bisa diterima semua kalangan maka di ambillah pengertian atau
definisi yang berasal dari Undang-Undang KUP (UU 28/2007) yang tercatum
dalam pasal 1 angka 1 yang menyatakan bahwa,
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Undang-undang KUP sendiri telah mengalami tiga kali perubahan sejak


diundangkan pertama kali dengan UU Nomor 6 Tahun 1983 yang mulai
berlaku sejak 1 Januari 1984. Perubahan pertama dilakukan dengan UU
Nomor 9 Tahun 1994 dan mulai berlaku 1 Januari 1995. Perubahan kedua
dilakukan dengan UU Nomor 16 Tahun 2000 dan mulai berlaku tanggal 1
Januari 2001. Perubahan terakhir dilakukan dengan UU Nomor 28 Tahun 2007
yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 2008 sampai sekarang.
Dalam pajak sendiri ada berbagai macam system pemungutan di antaranya,
yaitu :
1. Official Assessment System : suatu system pemungutan pajak yang
berdasarkan undang-undang pemerintah (fiskus) diberi wewenang untuk
menentukan besarnya pajak terutang.
2. Self Assesmentsystem : suatu system pemungutan pajak yang
berdasarkan undang-undang memberikan kepercayaan lepada wajib pajak
(WP) untuk melaksanakan hak dan kewajibannya dibidang perpajakan.
3. With Holding System : suatu system pemungutan pajakyang berdasarkan
undang-undang memberi kepercayaan /wewenang kepada pihak
ketiga(bukan pemerintah dan bukan wajib pajak (WP) yang bersangkutan )
untuk memotong atau memungut pajak yang wajib dipotong /dipungut dari
wajib pajak (WP) yangwajib membayarnya.
Undang-undang KUP sendiri menganut system pemungutan pajak Self
Assessment System. Jiwa Self Assessment tercantum dalam pasal 12 UU KUP
yang berbunyi :
(1) Setiap WP wajib membayar pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, dengan tidak menggantungkan
pada adanya SKP.
(2) Jumlah Pajak yang terutang menurut SPT yang disampaikan oleh WP
adalah jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
(3) Apabila Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) mendapatkan bukti jumlah
pajak yang terutang menurut SPT sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
tidak benar, Dirjen Pajak menetapkan jumlah pajak yang terutang.
Dari bunyi Pasal 12 UU KUP tersebut dapat dilihat bahwa penghitungan pajak
yang terutang pembayarannya ke Kas Negara, dan pelaporannya diserahkan
sepenuhnya kepada WP serta tidak didasarkan pada SKP yang diterbitkan
administrasi pajak. Perhitungan, pembayaran dan pelaporan yang dilakukan
WP tersebut dianggap benar (sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan) sepanjang Dirjen Pajak tidak dapat
membuktikan sebaliknya. Pada prinsip self assessment beban pembuktian
(bahwa pajak terutang yang telah dilaporkan adalah tidak benar) berada di
pihak fiskus (Dirjen Pajak). SKP hanya diterbitkan oleh fiskus apabila
perhitungan wajib pajak tersebut tidak benar berdasarkan pada suatu
pembuktian oleh fiskus.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Sistem pemungutan pajak dengan
self assessment ini mempunyai arti bahwa penentuan /penetapan, serta
pelaporan secara teratur tentang besarnya pajak terutang dan jumlah pajak
yang telah dibayar, sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-
undangan perpajakan dipercayakan sepenuhnya kepada Wajib Pajak (WP).
Artinya, keberhasilan dan kegagalan di bidang pajak sangat dipengaruhi oleh
Wajib Pajak.
Lepas dari kesadaran kewargaan dan solidaritas nasional, lepas pula dari
pengertian tentang kewajibannya terhadap Negara, pada sebagian besar di
antara rakyat tidak akan pernah meresapi kewajibannya membayar pajak
sedemikian rupa sehingga memenuhinya tanpa menggerutu. Bahkan, bila
ada sedikit kemungkinan saja, maka pada umumnya cenderung untuk
meloloskan diri dari setiap pajak. Dalam usaha perlawanan inilah, terletak
faktor utama dari perlawanan terhadap pajak, yang dapat di bedakan ke
dalam :
1. Perlawanan pasif
Perlawanan pasif ini terdiri dari hambatan-hambatan yang mempersukar
pemungutan pajak dan erat hubungannya dengan struktur ekonomi suatu
Negara, dengan perkembangan intelektual dan moral penduduk, dan dengan
teknik pemungutan pajak itu sendiri.
2. Perlawanan aktif
Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan, yang secara
langsung ditujukan terhadap fiskus dan bertujuan untuk menghindari pajak
di antaranya dapat dibedakan dengan cara-cara sebagai berikut :
Penghindaran diri dari pajak
Pengelakan/ penyelundupan pajak
Melalaikan pajak
Dari berbagai macam perlawanan terhadap pajak ini kemudian dengan
berdasar pada self assessmet system ini, maka dalam undang-undang KUP
ini mewajibkan si wajib pajak (WP) untuk menyampaikan Surat
Pemberitahuan (SPT), yang dimaksud Surat Pemberitahuan (SPT) ini sendiri
seperti yang tercantum dalam Pasal 1 angka 11 Undang-Undang KUP, yaitu :
Surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan
dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak,
dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.

Kewajban melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek


pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dalam SPT
tercantum dalam Pasal 3 ayat 1 UU KUP yang berbunyi sebagai berikut :
Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar,
lengkap, dan jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf
Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan menandatangani serta
menyampaikannya ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak
terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak.

Yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi SPT adalah :
a. benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan
ketentuan peraturan UU Pajak, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan
yang sebenarnya;
b. lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek
pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPT; dan
c. jelas melaporkan asal-usul / sumber objek pajak dan unsur lain yang harus
diisikan dalam SPT.
Bahkan kewajiban untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) dengan
benar dan lengkap ini juga ada sanksi pidananya seperti yang tercantum
dalam UU KUP Pasal 38, yaitu :
Setiap orang yang karena kealpaannya:
a. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; atau
b. menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar atau tidak
lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar
sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan
perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama
kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A, didenda paling sedikit 1 (satu)
kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak
2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, atau
dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu)
tahun.

Dan juga di Pasal 39 ayat (1) menyatakan bahwa,

Setiap orang yang dengan sengaja:


a. tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atau
tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak;
b. menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak
atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;
c. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan;
d. menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya
tidak benar atau tidak lengkap;
e. menolak untuk dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 29;
f. memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu
atau dipalsukan seolah-olah benar, atau tidak menggambarkan keadaan
yang sebenarnya;
g. tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak
memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lain;
h. tidak menyimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadi dasar
pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan
data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan
secara program aplikasi on-line di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 ayat (11); atau
i. tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut.
sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6
(enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang
yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah
pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

Dari isi pasal-pasal di atas bisa dilihat bahwa kedua-duanya memiliki sanksi
pidana baik di Pasal 38 yang karena kealpaan juga Pasal 39 yang karena
kesengajaan.
Tetapi harus diingat bahwa dalam pelaksanaan ketentuan di bidang
perpajakan itu ada 2 jenis penegakan hukum, yaitu :
1. Penegakan Hukum Administrasi
Penegakan hukum administrasi bertujuan agar sesuatu yang menyimpang
dapat dibenahi. Dalam hal ini, yang menjadi fokus perhatian untuk
mendapatkan penanganan adalah perbaikan atau perubahan sikap atau
perilaku dari si subjek. Penegakan hukum administrasi kurang memberikan
tekanan pada si subjek atau pelaku pelanggaran, melainkan lebih
menekankan pada perbuatannya. Penegakan hukum administrasi dilakukan
oleh aparat pemerintah dibidang pajak, jadi bukan oleh hakim.
2. Penegakan Hukum Pidana
Penegakan hukum pidana dilakukan melalui melalui proses peradilan. Dalam
rangka penegakan hukum pidana di mungkinkan adanya kumulasi eksternal
atas penerapan sanksi. Penerapan sanksi kumulatif secara eksternal adalah
pengenaan sanksi administrasi dan pengenaan sanksi pidana secara
sekaligus.

Di dalam hukum pidana ada berbagai macam cara penerapan sanksi / stelsel
pemidanaan, yaitu :
1. Stelsel Alternatif
Ciri khas suatu UU mengatur stelsel pemidanaan yang alternatif yaitu norma
dalam UU ditandai dengan kata atau. Misalnya ada norma dalam UU yang
berbunyi diancam dengan pidana penjara atau pidana denda .
2. Stelsel Kumulatif
Stelsel kumulatif ini ditandai dengan cirri khas adanya kata dan.UU Tindak
Pidana Korupsi merupakan salah satu contoh UU yang menganut stelsel ini.
Dengan adanya kata dan, maka hakim harus menjatuhkan pidana dua-
duanya.
3. Stelsel Alternatif Kumulatif
Berbeda halnya dengan dua stelsel di atas, berdasarkan stelsel alternatif
kumulatif ini, ditandai dengan ciri dan/atau. Suatu UU yang menganut
stelsel ini, memberikan kebebasan hakim untuk menjatuhkan pidana apakah
alternatif (memilih) ataukah kumulatif (menggabungkan).
Bila dianalisa dari cara penerapan sanksi / stelsel pemidanaan, maka Pasal
38 UU KUP ini menggunakan cara penerapan sanksi / stelsel pemidanaan
alternatif karena di dalam isi pasalnya menggunakan kata atau antara sanksi
denda dan penjaranya, sedangkan untuk Pasal 39 ayat (1) UU KUP ini
menggunakan cara penerapan sanksi / stelsel pemidanaan Kumulatif karena
menggunakan kata dan antara sanksi denda dan penjaranya.
Lalu bagaimana dengan penerapan kasus Paulus Tumewu seperti yang telah
di jelaskan sebelumnya di latar belakang, untuk kasus Paulus Tumewu ini
memang menurut jaksa berdasarkan hasil penyidikan, Paulus diduga
melakukan tindak pidana perpajakan karena telah melanggar ketentuan
pasal 39 ayat (1) UU nomor 16 tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan (UU KUP) sebelum perubahan oleh UU No 28 thun 2007
yang isinya pada intinya sama. Tetapi meskipun Pasal 39 ayat (1) ini
menganut penerapan sanksi / stelsel pemidanaan Kumulatif , dalam UU KUP
ini baik yang tahun 2000 maupun yang tahun 2007 juga di Pasal 44B
menyatakan bahwa,
(1) Untuk kepentingan penerimaan negara, atas permintaan Menteri
Keuangan, Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan paling lama dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak
tanggal surat permintaan.
(2) Penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan setelah Wajib Pajak melunasi utang
pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya
dikembalikan dan ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda
sebesar 4 (empat) kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, atau
yang tidak seharusnya dikembalikan.

Bila melihat isi Pasal 44B ini. Maka, apa yang di lakukan Menteri Keuangan
dan Jaksa Agung ini adalah sudah sesuai dengan undang-undang apabila
memang sebelum masuk ke Pengadilan Paulus Tumewu telah melunasi utang
pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya
dikembalikan dan ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda
sebesar 4 (empat) kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, atau
yang tidak seharusnya dikembalikan.

KASUS KORUPSI PAJAK GAYUS TAMBUNAN

Tudingan adanya praktek mafia hukum di tubuh Polri dalam penanganan


kasus money laundring oknum pegawai pajak bernama Gayus Halomoan
Tambunan semakin melebar. Tak hanya Polri dan para penyidiknya,
Kejaksaan Agung dan tim jaksa peneliti pun turut gerah dengan tudingan
Susno Duadji yang mulai merembet ke mereka. Mereka (tim jaksa peneliti)
pun bersuara mengungkap kronologis penanganan kasus Gayus, berikut
adalah kronologis versi tim peneliti kejaksaan agung.

Kasus bermula dari kecurigaan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi


Keuangan (PPATK) terhadap rekening milik Gayus di Bank Panin. Polri,
diungkapkan Cirrus Sinaga, seorang dari empat tim jaksa peneliti, lantas
melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. Tanggal 7 Oktober 2009 penyidik
Bareskrim Mabes Polri menetapkan Gayus sebagai tersangka dengan
mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP).

Dalam berkas yang dikirimkan penyidik Polri, Gayus dijerat dengan tiga pasal
berlapis yakni pasal korupsi, pencucian uang, dan penggelapan. Karena
Gayus seorang pegawai negeri dan memiliki dana Rp. 25 miliar di Bank
Panin. Seiring hasil penelitian jaksa, hanya terdapat satu pasal yang terbukti
terindikasi kejahatan dan dapat dilimpahkan ke Pengadilan, yaitu
penggelapannya. Itu pun tidak terkait dengan uang senilai Rp.25 milliar yang
diributkan PPATK dan Polri itu. Untuk korupsinya, terkait dana Rp.25 milliar
itu tidak dapat dibuktikan sebab dalam penelitian ternyata uang sebesar itu
merupakan produk perjanjian Gayus dengan Andi Kosasih. Pengusaha
garmen asal Batam ini mengaku pemilik uang senilai hampir Rp.25 miliar di
rekening Bank Panin milik Gayus.

Ada perjanjian tertulis antara terdakwa dan Andi Kosasih. Ditandatangani 25


Mei 2008, kata dia. Menurut Cirrus keduanya awalnya berkenalan di
pesawat. Kemudian keduanya berteman karena sama-sama besar, tinggal
dan lahir di di Jakarta Utama. Karena pertemanan keduanya, Andi lalu
meminta gayus untuk mencarikan tanah dua hektar guna membangun ruko
di kawasan Jakarta Utara.
Biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan tanah tersebut sebesar US$ 6 juta.
Namun Andi, dikatakan Cirus baru menyerahkan uang sebesar US$
2.810.000. Andi menyerahkan uang tersebut kepada Gayus melalui transaksi
tunai di rumah orang tua istri Gayus lengkap dengan kwitansinya, sebanyak
enam kali yaitu pada pada 1 juni 2008 sebesar US$ 900.000 US dolar,
kemudian 15 September 2008 sebesar US$ 650.000, 27 Oktober 2008
sebesar US$ 260.000, lalu pada 10 November 2008 sebesar US$ 200.000, 10
Desember 2008 sebesar US$ 500.000, dan terakhir pada 16 Februari 2009
sebesar US$ 300.000.

Andi menyerahkan uang karena dia percaya dengan Gayus. Sementara


untuk money laundringnya, dikatakan Cirrus itu hanya tetap menjadi dugaan
sebab Pusat pelaporan analisis dan transaksi keuangan (PPATK) sama sekali
tidak dapat membuktikan uang senilai Rp 25 milliar itu merupakan uang
hasil kejahatan pencucian uang (money laundring). PPATK sendiri telah
dihadirkan dalam kasus itu sebagai saksi. Dalam proses perkara itu, PPATK
tidak bisa membuktikan transfer rekening yang yang diduga tindak pidana.

Dari perkembangan proses penyidikan kasus tersebut, ditemukan juga


adanya aliran dana senilai Rp 370 juta di rekening lainnya di bank BCA milik
Gayus. Uang itu diketahui berasal dari dua transaksi dari PT.Mega Cipta Jaya
Garmindo. PT. Mega Cipta Jaya Garmindo dimiliki oleh pengusaha Korea, Mr.
Son dan bergerak di bidang garmen. Transaksi dilakukan dalam dua tahap
yaitu pada 1 September 2007 sebesar Rp 170 juta dan 2 Agustus 2008
sebesar Rp 200 juta.

Setelah diteliti dan disidik, uang itu diketahui bukan merupakan korupsi dan
money laundring juga. Bukan korupsi, bukan money laundering, tapi
penggelapan pajak murni. Itu uang untuk membantu pengurusan pajak
pendirian pabrik garmen di Sukabumi. Tapi setelah dicek, pemiliknya Mr Son,
warga Korea, tidak tahu berada di mana. Tapi uang masuk ke rekening
Gayus. Tapi ternyata dia nggak urus (pajaknya). Uang itu tidak digunakan
dan dikembalikan, jadi hanya diam di rekening Gayus.
Berkas P-19 dengan petujuk jaksa untuk memblokir dan kemudian menyita
uang senilai Rp 370 juta itu. Dalam petunjuknya itu, jaksa peneliti juga
meminta penyidik Polri menguraikan di berkas acara pemeriksaan (BAP)
keterangan itu beserta keterangan tersangka (Gayus T Tambunan).

Dugaan penggelapan yang dilakukan Gayus itu, diungkapkan Cirrus terpisah


dan berbeda dasar penanganannya dengan penanganan kasus money
laundring, penggelapan dan korupsi senilai Rp 25 milliar yang semula
dituduhkan kepada Gayus. Cirrus dan jaksa peneliti lain tidak menyinggung
soal Rp 25 milliar lainnya dari transaksi Roberto Santonius, yang merupakan
seorang konsultan pajak. Kejaksaan pun tak menyinggung apakah mereka
pernah memerintahkan penyidik Polri untuk memblokir dan menyita uang
dari Roberto ke rekening Gayus senilai Rp 25 juta itu.

Sebelumnya, penyidik Polri melalui AKBP Margiani, dalam keterangan


persnya mengungkapkan jaksa peneliti dalam petunjuknya (P-19) berkas
Gayus memerintahkan penyidik untuk menyita besaran tiga transaksi
mencurigakan di rekening Gayus. Adapun tiga transaksi itu diketahui berasal
dari dua pihak, yaitu Roberto Santonius dan PT. Mega Jaya Citra Termindo.
Transaksi yang berasal dari Roberto, yang diketahui sebagai konsultan pajak
bernilai Rp 25 juta, sedangkan dari PT. Mega Jaya Citra Termindo senilai Rp
370 juta. Transaksi itu terjadi pada 18 Maret, 16 Juni, dan 14 Agustus 2009.
Uang senilai Rp 395 juta itu disita berdasarkan petunjuk dari jaksa peneliti
kasus itu. Penanganan kasus Gayus sendiri bermula ketika PPATK
menemukan adanya transaksi mencurigakan pada rekening Gayus T
Tambunan. PPATK pun meminta Polri menelusurinya.
Kembali ke kasus, berkas Gayus pun dilimpahkan ke pengadilan. Jaksa lalu
mengajukan tuntutan 1 tahun dan masa percobaan 1 tahun,. Dari
pemeriksaan atas pegawai Direktorat Jenderal Pajak itu sebelumnya, beredar
kabar bahwa ada guyuran sejumlah uang kepada polisi, jaksa, hingga
hakim masing-masing Rp 5 miliar.

Diduga gara-gara itulah Gayus terbebas dari hukuman. Dalam sidang di


Pengadilan Negeri Tangerang, 12 Maret lalu, Gayus, yang hanya dituntut satu
tahun percobaan, dijatuhi vonis bebas. Mengalirnya (uang) belum kelihatan
ke aparat negara atau ke penegak hukum, kata Yunus.

Namun, anehnya penggelapan ini tidak ada pihak pengadunya, pasalnya


perusahaan ini telah tutup. Sangkaan inilah yang kemudian maju
kepersidangan Pengadilan Negeri Tangerang. Hasilnya, Gayus divonis bebas.
Di Pengadilan Negeri Tangerang, Gayus tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan. Tapi kami akan
ajukan kasasi, tandas Cirrus. Sosok Gayus dinilai amat berharga karena ia
termasuk saksi kunci dalam kasus dugaan makelar kasus serta dugaan
adanya mafia pajak di Ditjen Pajak. Belum diketahui apakah Gayus melarikan
diri lantaran takut atau ada tangan-tangan pihak tertentu yang
membantunya untuk kabur supaya kasus yang membelitnya tidak
terbongkar sampai ke akarnya. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum
meyakini kasus Gayus HP Tambunan bukan hanya soal pidana pengelapan
melainkan ada juga pidana korupsi dan pencucian uang. Gayus diketahui kini
berada di Singapura. Dia meninggalkan Indonesia pada Rabu 24 Maret 2010
melalui Bandara Soekarno-Hatta. Namun dia pernah memberikan keterangan
kepada Satgas kalau praktek yang dia lakukan melibatkan sekurangnya 10
rekannya.

Imigrasi Belum Endus Posisi Gayus, Gayus Tambunan hengkang ke Singapura


pada Rabu 24 Maret. Namun posisi pastinya saat ini belum terendus. Satgas
Pemberantasan Mafia Hukum mengatakan kasus markus pajak dengan aktor
utama Gayus Tambunan melibatkan sindikasi oknum polisi, jaksa, dan hakim.
Satgas menjamin oknum-oknum tersebut akan ditindak tegas oleh masing-
masing institusinya, koordinasi perkembangan ketiga lembaga tersebut terus
dilakukan bersama Satgas. Ketiga lembaga tersebut sudah berjanji akan
melakukan proses internal.Kasus ini merupakan sindikasi (jaringan) antar
berbagai lembaga terkait.

Perkembangan selanjutnya kasus ini melibatkan susno duadji, Brigjen


Edmond Ilyas, Brigjen Raja Erisman. setelah 3 kali menjalani pemeriksaan,
Susno menolak diperiksa Propam. Sebabnya, dasar aturan pemeriksaan
sesuai dengan Pasal 45, 46, 47, dan 48 UU No 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Pasal 25 Perpres No I Tahun
2007 tentang Pengesahan Pengundangan dan Penyebarluasan Peraturan,
harus diundangkan menteri dalam hal ini Menteri Hukum dan HAM. Komisi III
DPR Siap Beri Perlindungan Hukum untuk Susno.
Pada tanggal 30 Maret 2010, Polisi telah berhasil mendeteksi posisi
keberadaan Gayus di negara Singapura dan kini tinggal menunggu
koordinasi dengan pihak pemerintah Singapura untuk memulangkan Gayus
ke Indonesia. Polri mengaku tidak akan seenaknya melakukan tindakan
terhadap Gayus meski yang bersangkutan telah diketahui keberadaannya di
Singapura.
Pada tanggal 31 Maret 2010, tim penyidik Divisi Propam Polri memeriksa tiga
orang sekaligus. Selain Gayus Tambunan dan Brigjen Edmond Ilyas, ternyata
Brigjen Raja Erisman juga ikut diperiksa. Pemeriksaan dilakukan oleh tiga tim
berbeda. Tim pertama memeriksa berkas lanjutan pemeriksaan Andi Kosasih,
tim kedua memeriksa adanya keterlibatan anggota polri dalam pelanggaran
kode etik profesi, dan tim ketiga menyelidiki keberadaan dan tindak lanjut
aliran dana rekening Gayus.

Pada tanggal 7 April 2010, Komisi III DPR mengendus, seorang jenderal
bintang tiga di Kepolisian diduga terlibat dalam kasus Gayus P Tambunan
dan seseorang bernama Syahrial Johan ikut terlibat dalam kasus
penggelapan pajak yang melibatkan Gayus Tambunan, dari Rp24 milliar yang
digelapkan Gayus, Rp11 milliar mengalir ke pejabat kepolisian, Rp5 milliar ke
pejabat kejaksaan dan Rp4 milliar di lingkungan kehakiman, sedangkan
sisanya mengalir ke para pengacara..

Efek berantai kasus Gayus juga menyentuh istana. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono meminta Satgas Anti Mafia Hukum untuk mengungkap kembali
kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). SBY menduga dalam kasus
tersebut terdapat mafia hukum

III. PENUTUP

A. KESIMPULAN
Bahwa penegakan hukum dalam tindak pidana pajak yang berkaitan dengan
kewajiban menyampaikan surat pemberitahuan dengan benar dan lengkap
menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum
Perpajakan adalah :
1. Apabila karena kealpaan maka penerapan sanksinya / stelsel
pemidanaannya alternatif seperti yang tercantum dalam Pasal 38 UU KUP
2. Apabila karena kesengajaan maka penerapan sanksinya / stelsel
pemidanaannya kumulatif seperti yang tercantum dalam Pasal 39 ayat (1)
UU KUP

B. SARAN
Penekanan penerapan sanksi pidana itu harus lebih di tekankan pada tindak
pidana yang di lakukan oleh pegawai Dirjen Pajak, sedangkan kepada wajib
pajak lebih baik di tekankan penerapan sanksi administrasi untuk
kepentingan penerimaan Negara.

PENERAPAN PAJAK BESERTA KASUS-NYA


D

OLEH

REI SIVA DEVY

XII AKUNTANSI 2

SMK NEGERI 6 MEDAN

T.P 2013/2014

UlanganPerpajakan.Reisivadevy.2014