Anda di halaman 1dari 17

RESIKO LIKUIDITAS

PEMBAHASAN

A. Pengertian Resiko Likuiditas

Untuk mengetahui lebih jelasnya pengertian resiko likuiditas, di sini penulis akan terlebih
dahulu menjelaskan apa yang dimaksud dengan resiko, kemudian likuiditas dan pada akhinya
bisa disimpulkan apa yang dimaksud dengan resiko likiuditas.

Beberapa sumber telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan resiko, berikut ini adalah
penjelasan dari sumber-sumber tersebut:

1. Pengertian Resiko

Resiko merupakan bahaya: resiko adalah ancaman atau kemungkinan suatu tindakan atau
kejadian yang menimbulkan dampak yang berlawanan dengan tujuan yang ingin dicapai

Resiko juga merupakan peluang: resiko adalah sisi yang berlawanan dari peluang untuk
mencapai tujuan.[1]

Resiko adalah sesuatu yang selalu dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya keadaan yang
merugikan dan tidak diduga sebelumnya bahkan bagi kebanyakan orang tidak
menginginkannya[2]

Resiko adalah sebagai konsekuensi atas pilihan yang mengandung ketidak pastian yang
berpotensi mengakibatkan hasil yang tidak diharapkan atau dampak negative lainya yang
merugikan bagi yang mengambil keputusan.[3]

Resiko merupakan informasi, kejadian, kerugian atau pekerjaan yang terjadi sebagai akibat dari
keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari. resiko dapat bersifat pasti maupun tidak
pasti.[4]

Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan resiko adalah ketidakpastian atas sebuah
keputusan yang telah diambil yang berpotensi menimbulkan dampak negative atau berlawan
dengan tujuan yang akan dicapai.

2. Pengertian Likuiditas

Berikut ini pendapat-pendapat yang menjelaskan tentang likuiditas:

Likuiditas didefinisikan sebagai kemampuan suatu perusahaan untuk melunasi seluruh liabilitas
jangka pendeknya, yaitu liabilitas yang jatuh tempo kurang dari satu tahun.[5]
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau
utang yang segera harus dibayar dengan harta lancarnya.[6]

Menurut Joseph E. Burns, Likuiditas bank berkaitan dengan kemampuan suatu bank untuk
menghimpun sejumlah tertentu dana dengan biaya tertentu dan dalam jangka waktu tertentu.
Pernyataan tersebut sependapat dengan Oliver G. Wood, Jr yang menyatakan bahwa Likuiditas
adalah kemampuan bank untuk memenuhi semua penarikan dana oleh nasabah deposan,
kewajiban yang telah jatuh tempo dan memenuhi permintaan kredit tanpa penundaan. Tak
berbeda jauh, Wiliam M. Glavin menyatakan bahwa Likuiditas berarti memiliki sumber dana
yang cukup tersedia untuk memenuhi semua kewajiban.[7]

Jadi dapat disimpulkan yang dimaksud dengan likuiditas adalah kemampuan perusahaan atau
bank dalam menyediakan dana guna memenuhi segala kewajibanya.

3. Pengertian Resiko Likuiditas

Setelah kita membahas pengertian tentang resiko dan likuiditas baru kita bahas tentang
pengertian dari resiko likuiditas, berikut ini bebrapa pendapat dari pengertian resiko likiditas:

Resiko likuiditas adalah resiko yang antara lain disebabkan oleh bank tidak mampu memenuhi
kewajibannya yang telah jatuh tempo.[8]

Islamic Financial Service Board (IFSB) mendifinisikan resiko likuiditas sebagai potensi kerugian
yang dapat dialami oleh bank islam karena ketidakmampuanya memenuhi liabilitas yang telah
jatuh tempo atau ketidakmampuan bank islam dalam mendanai peningkatan asetnya dengan
biaya yang relative murah dan tanpa adanya kerugian berarti yang diderita.

Sementara itu BI melalaui PBI no.13/23/PBI/2011 mendefinisikan bahwa resiko likuiditas


sebagi resiko akibat ketidakmampuan bank memenuhi liabilitas yang jatuh tempo dari sumber
pendanaan arus kas dan atau likuid berkualitas tinggi yang dapat digunakan, tanpa mengganggu
aktivitas dan keuangan.[9]

Selain definisi tersebut sumber yang lainya mengatakan bahwa resiko likuiditas adalah resiko
yang antara lain disebabkan oleh ketidak mampuan bank untuk memenuhi kewajibanya pada saat
jatuh tempo.[10]

Risiko likuiditas adalah risiko yang muncul jika suatu pihak tidak dapat membayar kewajibannya
yang jatuh tempo secara tunai. Meskipun pihak tersebut memiliki aset yang cukup bernilai untuk
melunasi kewajibannya, tapi ketika aset tersebut tidak bisa dikonversikan segera menjadi uang
tunai, maka pihak tersebut dikatakan tidak likuid.[11]
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan resiko
likuiditas adalah resiko yang timbul akibat dari ketidak mampuan bank dalam memenuhi
kewajibannya kepada nasabah ketika telah jatuh tempo.

B. Faktor Pendorong Timbulnya Resiko Likuiditas

Secara umum resiko likuiditas mencakup dua hal yaitu kemampuan bank dalam memenuhi
liabilitas atau jumlah dana simpanan nasabah yang akan ditarik kembali oleh para nasabah,
kemudian hal yang kedua adalah kemampuan bank dalam mendapatkan dana baru , dana baru
yang dimaksud disini adalah akses atau sumber pendanaan yang bisa segera bank islam dapatkan
guna memenuhi kebutuhan jangka pendek yang telah jatuh tempo.

Dengan demikian resiko likuiditas perbankan merupakan akibat dari interaksi antara asset dan
liabilitas yang bank islam miliki. Sehingga permasalahan likuiditas pada bank islam dapat terjadi
jika beberapa kejadian berikut terjadi.[12]

1. Pada saat penarikan dana simpanan yang berjumlah besar. Ini bisa menjadi penyebab bank
islam mengalami permasalahan likuiditas, karena jika pada saat nasabah melakukan penarikan
dana dari bank dengan jumlah yang besar, akan tetapi pada saat yang bersamaan pihak bank tidak
memiliki sumber yang mencukupi dan tidak bisa mencari sumber pendanaan lain dengan cepat
untuk bisa memenuhi kewajibanya tersebut. Maka akan menyebabkan terjadinya kekosongan
kas.

2. Ketika bank islam telah memiliki komitmen pembiayaan dalam jumlah besar yang belum
terealisasi dengan debitur dan pada saat realisasi bank islam tidak memiliki dana yang cukup.
Dalam kejadian seperti ini bisa diibaratkan seperti saat kita berjanji kepada orang lain, akan
tetapi pada saat tiba waktunya untuk menepati janji, kita tidak bisa menrpatinya. Hal ini akan
menyebebkan penurunana tingkat kepercayaan nasabah yang berakibat para nasabah akan kabur
dari bank.

3. Terjadi penarikan simpanan yang cukup besar dan bank islam tidak memiliki asset yang
dapat segera dicairkan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas tersebut. Oleh karena itu memang
sudah seharusnya bank islam memiliki asset yang dapat bisa dengan cepat untuk dicairkan
seperti sertifikat bank Indonesia atupun asset-aset yang lainya yang sejenis. Maka bank islam
tidak bisa menyalurka seluruh dana ataupun asset yang dimilikinya untuk pendanaan ataupun
jenis-jenis akad pembiayaan yang tidak bisa dicairkan dalam waktu singkat.

4. Terjadi penurunan besar-besaran terhadap nilai asset yang bank miliki yang memicu
turunya pula tingkat kepercayaan nasabah terhadap bank tersebut. Turunya tingkat kepercayaan
nasabah terhadap bank akan memicu para nasabah untuk menarik dana simpananya yang
terdapat di bank tersebut, jika tidak semua nasabah yang menarik investasinya dan pihak bank
bisa memenuhi kewajibanya itu maka kondisi bank akan baik-baik saja, akan tetapi jika para
nasabah melakukan penarikan dananya secara bersama-sama tentu saja pihak bank tidak akan
sanggup untuk memenuhi kewajibanya tersebut. Dan akibatnya bank akan mengalami
kebangkrutan.

5. Kondisi ekonomi dan moneter

Sebagai bagian dari system perekonomian, kondisi perekonomian secara umum sangat
mempengaruhi kondisi likuiditas perbankan syariah. Pada saat terjadi tingkat inflasi yang tinggi
yang akan ditandai dengan tingginya demand, maka otoritas moneter akan mengambil kebijaka
kontarksi moneter dengan memainkan instrument moneter seperti menaikan tingkat suku bunga
serifikat bank Indonesia. Akibatnya bank konvensional juga akan menaika tingkat suku
bunganya sehingga deposan memiliki mind-set ration aka menarik dananya dari bank syriah dan
akan memindahkanya ke bank konvensional. Bank konvensional memiliki flexibilitas dalam
menyesuaikan returnnya (suku bunganya) dibandingkan pada bank syariah yang tidak
menggunakan sistim bunga. Oleh karana itu prsaingan dalam menarik dana masyarakat tidak
hanya terjadi dalam sesama bank syariah atau lembaga syariah, tetapi juga datang dari bank
konvensional, terutama dalam memperebutkan segmen deposan.[13]

RISIKO OPERASIONAL

Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan ketidakcukupan dan atau tidak
berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem
eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.

Risiko operasonal dapat menimbulkan kerugian keuangan secara langsung maupun tidak
langsung dan kerugian potensial atas hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan. Risiko
ini merupakan risiko yang melekat (inherent) pada setiap aktivitas fungsional Bank, seperti
kegiatan perkreditan (penyediaan dana), tresuri dan investasi, operasional dan jasa,
pembiayaan perdagangan, pendanaan dan instrumen utang, teknologi sistem informasi dan
sistem informasi manajemen, dan pengelolaan sumber daya manusia.

STUDI KASUS TENTANG MANAJEMEN RESIKO


PT Bank Mandiri Tbk
Studi Kasus:
Kasus yang menjadi salah satu topik menarik terkait dengan manajemen resiko adalah
kasus Penggelapan Bank Mandiri. Salah satu oknum pegawai Kantor Cabang Pembantu Rawa
Lumbu Bekasi PT Bank Mandiri Tbk melakukan kerja sama ilegal dengan Manajer Keuangan
PT Mexdie Sekawan Utama, Yekti Sartono yang mencairkan cek ilegal di Bank Mandiri senilai
Rp 720 juta pada 5 Mei 2010. Pengambilan cek ini menyalahi prosedur perbankan karena
otoritas cek adalah dua orang, yakni Anang Syifudin dan Muhammar Fauzan serta stempel
perusahaan harus diterakan. Namun cek tersebut hanya ditandatangani satu orang dan itu diduga
dipalsukan (stempel palsu dan asli berbeda dengan specimen yang ada di bank).
Sampai saat ini kasus Bank Mandiri ini belum ditindaklanjuti lagi lebih jauh oleh pihak-
pihak terkait. Bank Mandiri berpegang teguh pada pendirian mereka yang mengatakan bahwa
Risk Management adalah bagian dari proses bisnis yang dapat memberikan kontribusi melalui
penerapan risk management untuk mencapai return yang optimal bagi stakeholder yakni
pemegang saham, masyarakat, nasabah, pemerintah dan pihak-pihkan yang berhubungan dengan
bank (Masyhud Ali, 2006). Di dalam tulisan ini selanjutnya akan dibahas bagaimana kaitan kasus
Bank Mandiri dengan faktor penyebab, jenis dan sumber resiko, serta bagaimana Bank Mandiri
mampu mengatasi permasalahan resiko tersebut.

I. IDENTIFIKASI RESIKO

a. Klasifikasi Kerugian

Pada kasus Bank Mandiri, terdapat beberapa potensi kerugian yang akan diderita Bank
Mandiri. Yang pertama adalah kerugian finansial dalam jumlah yang sangat besar (720 juta
rupiah) serta resiko hilangnya reputasi yang dapat mengancam keberlangsungan perusahaan ke
depannya. Tidak dapat dipungkiri, akibat adanya pencairan ilegal akan mampu menimbulkan
ketidakpercayaan masyarakat (social distrust) dari para nasabah terhadap sistem manajemen dan
sekuritas finansial bank tersebut. Resiko finansial dapat berujung pada resiko likuiditas, yakni
resiko yang mengakibatkan suatu perbankan mengalami kegagalan untuk membayar hutang
jangka pendeknya. Masalah ini apabila terus dibiarkan tanpa ditangani lebih lanjut juga akan
membawa perbankan pada resiko kegagalan bank dalam membayar hutang jangka panjangnya
(solvabilitas).

Salah satu cara alternatif sistem pengklasifikasian kerugian di perusahan Mandiri adalah:

1. Kerugian Finansial
Kerugian langsung berupa merosotnya reputasi sehingga pendapatan perusahaan
menurun
Kerugian pendapatan seperti penghentian operasional perusahaan yang disebabkan oleh
suatu kerugian dimana tidak dapat ditempatinya ruang kerja tertentu
Kerugian mengganti kewajiban hak orang lain artinya membayar uang kepada korban
penipuan.
Kerugian membayar denda-denda yang disebabkan oleh adanya tuntutan hukum,
ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung.
Kerugian biaya dalam membangun citra positif kembali kepada masyarakat.

2. Kerugian Reputasi
Kerugian adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank atau persepsi
negatif terhadap bank
Kerugian berkurangnya tingkat kepercayaan para pemegang saham perusahaan
Kerugian sulitnya untuk bersaing dengan kompetitor
Kerugian kredibilitas perusahaan menurun di masyarakat

Kerugian lainnya adalah kerugian yang ditimbulkan oleh resiko kepatuhan pegawai
(compliance). Pegawai yang tidak patuh dapat merusak keseluruhan sistem kerja. Hal ini
disebabkan karena ketidakpatuhan yang dibuatnya dapat mengganggu koordinasi dan
pelimpahan tanggung jawab oleh atasannya. Kerahasiaan perusahaan pun dapat terancam dengan
munculnya pegawai seperti ini. Mereka akan cenderung mengupayakan berbagai hal untuk
memuaskan kepentingan sendiri meskipun harus melanggar peraturan.

b. Faktor Penyebab Resiko

Dua faktor penyebab resiko adalah bencana (perils) dan bahaya (hazards). Banjir, tanah
longsor, gempa, gelombang laut tinggi merupakan contoh-contoh bencana yang secara langsung
dapat menimbulkan kerugian. Sementara bahaya terbagi atas beberapa jenis :

1. Bahaya fisik (physical hazard) misalnya berhubungan dengan fasilitas bangunan


suatu perusahaan,
2. Bahaya moral (moral hazard) misalnya sikap ketidakjujuran atau
ketidakdisiplinan.
3. Bahaya morale (morale hazard) misalnya sikap yang tidak hati-hati ataupun
kurangnya perhatian dari pihak-pihak terkait dalam suatu perusahaan.
4. Bahaya karena hukum atau peraturan (legal hazard) misalnya akibat mengabaikan
undang-undang atau peraturan yang telah ditetapkan.
Pada Kasus Bank Mandiri, faktor penyebab terjadinya resiko adalah berasal dari moral
para pegawai Kantor Cabang Pembantu Bank Mandiri. Pegawai tersebut melakukan pencairan
cek ilegal yang menimbulkan kerugian besar terhadap keuangan Bank Mandiri tersebut. Masalah
kepatuhan juga merupakan resiko yang harus ditanggung Bank Mandiri pada kasus pencairan
cek illegal tersebut. Pegawai seharusnya menjadi pihak yang taat dan patuh terhadap peraturan
perusahaan dan menjunjung tinggi integritas dan nama baik perusahaan, bukan dengan
melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan itu.

Bahaya moral tidak hanya mengancam Bank Mandiri saja, kasus lain akibat moral dari
para pegawai suatu badan/perusahaan misalnya yang terjadi pada kasus Citibank Indonesia yang
terlibat pada permasalahan penggelapan dana nasabah. Akibatnya bank tersebut tidak hanya
menderita kerugian finansial, tapi juga resiko reputasi, bahkan kepatuhan. Resiko reputasi dan
kepatuhan lebih membahayakan keberlangsungan perusahaan daripada resiko finansial.
Ketidakpercayaan masyarakat terhadap bank akan membuat bank tersebut kehilangan dana
karena masyarakat akan menarik kembali seluruh dana yang telah tertanam di bank tersebut
karena takut akan mengalami kerugian besar. Dana-dana yang ditarik tersebut sebenarnya
digunakan untuk menjalankan kegiatan perbankan, namun kerena ada penarikan sejumlah dana
dan ketidakinginan masyarakat untuk menabung lagi maka bank tersebut dapat terancam
likuiditasnya. Pada fase ini pemerintah dapat melakukan intervensi dengan menutup bank.

c. Sumber Penyebab Resiko

Sumber resiko dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis :

1. Resiko Sosial, resiko ini berasal dari masyarakat. Artinya tindakan orang-orang
menciptakan penyimpangan yang dapat merugikan. Misalnya : pencurian, huru-
hara, peperangan.
2. Resiko Fisik, berasal dari fenomena alam dan sebagian tingkah laku manusia.
Kebakaran adalah penyebab utama cidera fisik, kematian maupun kerusakan
harta.
3. Resiko ekonomi, misalnya inflasi, resesi, fluktuasi dan harga.

Pada kasus Bank Mandiri di atas, sumber resiko berasal dari permasalahan sosial. Ada
sekelompok orang yang melakukan pencurian sehingga menimbulkan kerugian besar terhadap
Bank Mandiri (Kasidy , 2010). Oknum yang terlibat dalam kasus pencairan cek secara illegal ini
secara langsung dapat dikatakan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kerugian bank.
Resiko ini cenderung bisa lebih membahayakan daripada resiko fisik ataupun ekonomi. Karena
resiko ini datangnya dari hati nurani seseorang atau sekelompok manusia, sehingga yang harus
memperbaikinya adalah pihak tersebut. Tidak seperti resiko fisik, pemerintah dapat
menanggulanginya dengan membuat gedung baru misalnya, atau seperti resiko ekonomi, dengan
intervensi pemerintah tingkat inflasi dapat diatur.

d. Jenis Resiko

Resiko dapat dibagi menjadi dua kelompok yakni :

1. Resiko nonsistematis, yakni resiko yang dapat dihilangkan atau dikurangi melalui
suatu diversifikasi atau tindakan pencegahan dan penanggulangan resiko.
2. Resiko sistematis, resiko yang tidak dapat dihilangkan atau dikurangi melalui
diversifikasi, biasanya berhubungan dengan pasar atau kejadian yang dapat secara
sistematis akan mempengaruhi posisi pasar (Iban Sofyan, 2004)

Selain itu, Kasidy (2010) membagi jenis resiko menjadi dua yakni :

1. Resiko spekulatif, yakni resiko yang mengandung dua kemungkinan, baik yang
menguntungkan mupun merugikan. Contohnya : perjudian, pembelian saham atau
valuta asing.
2. Resiko murni, yakni resiko yang hanya mengandung satu kemungkinan yakni
kemungkinan rugi saja. Contoh : banjir, gempa, gunung meletus dan lain-lain.

Bank Mandiri dalam hal ini dapat digolongkan ke dalam kategori resiko nonsistematis
serta resiko spekulatif. Artinya, Bank Mandiri masih dapat dicegah di kemudian hari untuk
menghindari peristiwa yang sama. Misalnya seperti yang telah diterapkan Bank Mandiri selama
ini dengan membuat Laporan Profil Resiko (LPR) yang menggambarkan penilaian terhadap
resiko komposit bank, atau resiko yang dipandang dari sudut pandang bank dan unit bisnis
terkait (Masyhud Ali, 2006). Sementara dikatakan resiko spekulatif, karena resiko ini
sebenarnya dapat memberikan dua alternatif bagi pelaku pencairan cek ilegal, apabila tidak
diketahui tindakan ini akan menguntungkan si pelaku, namun di sisi lain merugikan perbankan.
Sebaliknya bila diketahui seperti yang telah terjadi, maka ini akan menimbulkan kerugian bagi si
pelaku kejahatan tersebut dan bank dapat dihindarkan dari permasalahan yang lebih serius lagi.

CARA PENGENDALIAN RESIKO

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh perbankan dalam mengatasi resiko ataupun
mencegah terjadinya resiko yang sama ke depannya. Beberapa cara tersebut telah diterapkan
Bank Mandiri dalam manajemen resiko perusahaannya.


Melakukan tata kelola resiko secara terpadu dengan pengimplementasian tanggung jawab
dan keseuaian kompetensi masing-masing pihak yang terkait. Misalnya seperti Dewan
Komisaris, Direksi, Risk & Capital Committee (RCC), unit risk management dan unit
business yang telah berinteraksi dan bersinerji secara optimal.

Bank Mandiri menyusun profil resiko dalam suatu Laporan Profil Resiko, dan digunakan
sebagai laporan pada Bank Indonesia. Dengan demikian, bank dapat memusatkan
perhatiannya pada jenis-jenis resiko yang memiliki tendensi memburuk atau melebihi
kebijakan toleransi bank pada resiko tertentu.

Studi kasus juga mengungkapkan bahwa Bank Mandiri telah mempersiapkan tenaga
profesionalnya di bidang resiko. Sekaligus juga begaimana Bank Mandiri melakukan
persiapan untuk mengimplementasikan Basel II Accord yang menjadi penanggung jawab
dari seluruh inisiatif strategis bank terkait kepatuhan pegawai.

Bank menetapkan kebijakan pengelolaan resiko likuiditas. Misalnya dengan


pemeliharaan cadangan likuiditas yang optimal, pengukuran dan penetapan limit resiko
likuiditas, merancang analisis scenario dan contingency plan, penetapan strategi
pendanaan dan mempertahankan kapasitas dana yang cukup di pasar (Masyhud Ali,
2006).

KESIMPULAN
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa Bank Mandiri menderita kerugian
finansial, reputasi dan masalah kepatuhan akibat adanya pencairan cek ilegal. Hal ini
menandakan bahwa Bank Mandiri perlu lebih meningkatkan sistem manajemen
resikonya. Kerugian-kerugian tersebut sangat berdampak pada keberlangsungan Bank
Mandiri ke depannya., terutama masalah kepercayaan masyarakat.
Beberapa hal yang dapat dilakukan Bank Mandiri dalam mengatasi resiko yang terjadi
misalnya dengan menyusun profil resiko, mempersiapkan tenaga kerja yang handal di
bidang resiko, menetapkan kebijakan pengelolaan likuiditas, serta melakukan tata kelola
resiko terpadu.

Demikian beberapa penjelasan tentang Manajemen Resiko beserta Studi Kasus Riil yang
terjadi di Bank Mandiri. Semoga dapat memberikan ilmu wawasan yang lebih bagi para
pembaca. Semoga bermanfaat ya........!!!!

http://dianmaya31.blogspot.co.id/2015/11/managemen-resiko-risk-managemen.html
https://belajarperbankangratis.blogspot.co.id/2012/09/pengertian-risiko-operasional.html
SISTEM MANAJEMEN RISIKO INDOFOOD
Perseroan menyadari bahwa risiko dapat menghambat pencapaian sasaran perusahaan.
Untuk itu, Perseroan mengelola ketidakpastian dengan melakukan identifikasi, pengkajian,
mitigasi dan pengawasan terhadap dampak risiko pada kegiatan usahanya. Perseroan melakukan
pengelolaan risiko dengan menerapkan sistem ERM ( enterprice risk management: suatu proses
untuk mengelola risiko perusahaan secar menyeluruh yang menjangkau berbagai jenis risiko,
lokasi dan aktifitas bisnis ) di seluruh organisasi, dengan menggunakan Kerangka Kerja
Terintegrasi untuk Manajemen Risiko yang dikeluarkan oleh Committee of Sponsoring
Organization of Treadway Commission (COSO) sebagai dasar kerangka manajemen risikonya.
Pendekatan top-down dilaksanakan oleh Direksi dengan melakukan evaluasi atas risiko-
risiko tingkat tinggi; sedangkan pendekatan bottom-up mendorong anak-anak perusahaan dan
unit-unit usaha untuk mengkaji risiko-risiko yang spesifik di masing-masing unit usaha. Tim
Corporate ERM melakukan konsolidasi atas risiko-risiko utama dan menyampaikan laporannya
kepada Direksi dan Komite Audit setiap semester.
Melalui pendekatan ini, informasi intelijen disampaikan agar Direksi dan Komite Audit
dapat memahami risiko-risiko yang dihadapi Perseroan secara holistik, sehingga tindakan
strategis dapat diambil guna memitigasi risiko-risiko tersebut. Divisi Audit Internal berfungsi
sebagai pertahanan terakhir, dengan melaksanakan kajian independen melalui audit rutin yang
memberikan jaminan yang memadai bahwa risiko-risiko telah diidentifikasi dan mekanisme
pengawasan atas tindakan mitigasi (serangkaian untuk mengurangi risiko bencana ) telah
tersedia. Selama tahun 2015, sistem manajemen risiko telah dilaksanakan secara efektif guna
memberikan jaminan yang memadai bahwa risiko-risiko signifikan dan rencana mitigasinya telah
dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Berikut adalah risiko-risiko utama yang diidentifikasi:

RISIKO KEMANAN MAKANAN

Sebagai produsen makanan dan minuman dalam kemasan yang melayani konsumen di segala
usia, Perseroan menghadapi risiko terkait keamanan produk akhir dan/ atau yang dipasarkan.
Walaupun Perseroan senantiasa memberikan perhatian pada aspek kebersihan, serta menjamin
bahwa bahan baku yang digunakan telah memenuhi persyaratan peraturan dan memenuhi
persyaratan sertifikasi Halal, terdapat kemungkinan bahwa Perseroan terpapar oleh kontaminasi
makanan atau masalah-masalah terkait lainnya. Guna memitigasi risiko ini, Perseroan terus
melaksanakan proses pengawasan terhadap penggunaan bahan baku, pemilihan pemasok, proses-
proses penerimaan dan penanganan barang, serta proses produksi dan distribusi berdasarkan
standar prosedur operasional Perseroan. Perseroan berupaya melaksanakan praktek produksi
yang baik guna menjamin pelaksanaan proses yang higienis dalam produksi produk-produk yang
berkualitas baik. Fasilitas produksi kami telah meraih sertifikasi ISO 9001 dan ISO 22000, serta
sertifikasi HACCP dan ISO 14000. Selain itu, seluruh produk kami telah memperoleh sertifikasi
Halal dari Majelis Ulama Indonesia. Produkproduk kami juga telah menerima sertifikasi
lainnya, seperti sertifikasi Standar Nasional Indonesia dari badan pemerintah yang berwenang.
Selain itu, guna menanggapi masukan masyarakat dan menjaring masukan dari para konsumen,
Perseroan juga telah memiliki unit Layanan Konsumen Indofood.
RISIKO PERSAINGAN

Sebagian besar produk Perseroan menghadapi persaingan dari para pemain domestik dan
internasional. Tidak ada jaminan bahwa para pesaing yang ada tidak akan mengoptimalkan
upaya untuk meningkatkan pangsa pasarnya, atau pemain-pemain baru tidak akan muncul.
Tingkat persaingan tersebut dapat berdampak pada kemampuan Perseroan dalam
mempertahankan atau meningkatkan pendapatannya. Agar tetap berhasil dan untuk mengurangi
risiko tersebut, Perseroan mencermati dinamika perkembangan pasar secara terus menerus dan
senantiasa meluncurkan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen,
terus melaksanakan inovasi untuk mengembangkan produk-produk unggulan baru,
mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk, melaksanakan kegiatan pemasaran yang
tepat, melaksanakan program efisiensi untuk meningkatkan daya saing, serta meningkatkan
kualitas layanan kepada konsumen. Bahkan di tengah iklim persaingan yang tinggi, Perseroan
senantiasa menjalankan usahanya berdasarkan peraturan yang berlaku.

RISIKO KENAIKAN BAHAN BAKU

Biaya produksi dan harga produk akhir dari Perseroan ditentukan oleh harga komoditas/bahan
baku di pasar domestik, regional dan internasional, terutama untuk biji gandum, kentang, resin,
dsb. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk tingkat pasokan dan ketersediaan
komoditas/bahan baku, tingkat konsumsi produk, perkembangan perekonomian dunia, serta
depresiasi rupiah terhadap mata uang asing. Kenaikan harga komoditas/bahan baku dan
depresiasi rupiah terhadap mata uang asing akan memberikan dampak negatif pada posisi
keuangan Perseroan. Perseroan dapat meningkatkan harga jual produk-produknya, namun tidak
mudah melakukan penyesuaian harga sejalan dengan kenaikan harga komoditas/bahan baku di
pasar internasional atau melakukan kompensasi terhadap depresiasi rupiah. Hal ini bergantung
pada kemampuan pasar untuk menerima kenaikan harga tersebut. Untuk menghadapi dan
memitigasi risiko tersebut, Perseroan telah melaksanakan aktivitas strategis dengan membangun
kemitraan dengan para petani dan pemasok, melaksanakan simulasi harga komoditas/ bahan
baku, mengembangkan kontrak kerjasama dengan beberapa entitas domestik dan asing, serta
menggunakan komoditas/bahan baku substitusi tanpa mengurangi kualitas produk akhir. Selain
itu, ketangguhan model bisnis Perseroan, yang terdiri dari bidang usaha komoditas dan non-
komoditas, telah mengurangi dampak dari fluktuasi harga komoditas, yang pada akhirnya tidak
memberikan dampak secara signifikan pada tingkat pendapatan dan keuntungan Perseroan.

risiko pemanasan global dan perubahan iklim

Ancaman cuaca ekstrim dan perubahan iklim semakin menjadi hal yang mengkhawatirkan.
Perubahan iklim bukan hanya merupakan risiko nasional, melainkan juga merupakan ancaman
global. Studi dari World Wild Fund (WWF), the World Meteorological Organization (WMO),
dan badan-badan lainnya menyatakan bahwa konsentrasi CO2 di atmosfir bumi telah mencapai
37% lebih tinggi dalam kurun waktu 650.000 tahun. Hal ini terutama diakibatkan oleh
peningkatan emisi karbon global dari pembakaran bahan bakar fosil yang telah meningkat secara
signifikan sejak tahun 1900. Akibatnya, terjadi peningkatan permukaan laut dan pemanasan
bumi, yang menyebabkan tahun 2011- 2015 menjadi lima tahun terpanas dalam sejarah.
Pemanasan global telah berakibat pada perubahan musim dan cuaca yang tidak dapat diprediksi
sepanjang tahun, seperti penurunan curah hujan, musim kekeringan berkepanjangan, timbulnya
angin panas, sungai yang kering, penurunan permukaan air tanah, serta kebakaran hutan.
Agribisnis merupakan bidang usaha yang secara langsung dipengaruhi oleh pemanasan global.
Pada sektor-sektor strategis lainnya, Bogasari dan CBP juga sangat bergantung pada produk-
produk pertanian seperti biji gandum, bawang putih, bawang, cabai, kentang, dsb.
Untuk komoditas-komoditas tersebut, kelangkaan pasokan dan peningkatan permintaan dari
pembeli lainnya dapat berakibat pada kenaikan harga beli dan kelangkaan bahan baku yang akan
mengganggu rantai pasok. Sebagai upayauntuk memitigasi risiko tersebut, Perseroan menjaga
tingkat persediaan yang aman bagi bahan baku utamanya,membangun kemitraan yang erat
dengan para pemasok,serta menjamin adanya perlindungan asuransi yang memadai terhadap
kerugian finansial. Yang terpenting, Perseroan berupaya memenuhi peraturan pemerintah di
bidang lingkungan, serta menyempurnakan tingkat keramahan lingkungan pada fasilitasnya
secara bertahap.

risiko berkelanjutan

Keberlanjutan meliputi aspek lingkungan, social dan ekonomi dalam konsep triple bottom line,
guna memelihara sumber daya dunia untuk melindungi lingkungan, serta terus meningkatkan
kualitas hidup. Dengan kondisi dunia pada saat ini dimana jumlah penduduk terus bertambah
akan mengakibatkan meningkatnya permintaan terhadap pangan dan produk
pertanian, polusi lingkungan, kesenjangan sosial-ekonomi
dan menipisnya persediaan sumber daya alam, maka
risiko keberlanjutan telah menjadi ancaman yang tidak
dapat diabaikan. Perseroan berupaya menanamkan aspek
keberlanjutan di seluruh kegiatan operasionalnya untuk
dapat turut menjaga kelestarian lingkungan, memberikan
kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dan terus
meningkatkan nilai bagi para pemangku kepentingan.
Sebagai bagian dari komitmen atas lingkungan yang
berkelanjutan, Perseroan berupaya untuk senantiasa
mematuhi peraturan pemerintah yang berlaku terkait
dengan keberlanjutan. Perseroan juga telah meningkatkan
aspek-aspek dari seluruh mata rantai pasokan yang dapat
mendorong pertumbuhan berkelanjutan pada kegiatan
operasionalnya. Selain itu, Perseroan melaksanakan
praktik usaha yang beretika di seluruh kegiatan
operasionalnya, dan memberi perhatian pada aspek sosial
dari keberlanjutan dengan fokus pada pengembangan
sumber daya manusia dan masyarakat, serta secara tegas
tidak mempekerjakan anak-anak. Sebagai bagian dari
aspek ekonomi, Perseroan fokus pada program-program
pengembangan ekonomi masyarakat sekitar dan memberi
dukungan pada usaha mikro, kecil dan menengah.

MANAJEMEN RISIKO
Bank Mandiri menerapkan manajemen risiko yang independen dan sesuai dengan standar yang
merujuk pada ketentuan Bank Indonesia serta best practices yang diterapkan di perbankan
internasional. Bank Mandiri menggunakan konsep Enterprise Risk Management (ERM) sebagai
salah satu strategi manajemen risiko yang komprehensif dan terintegrasi, yang disesuaikan
dengan kebutuhan bisnis dan operasional Bank. Penerapan ERM akan memberikan nilai tambah
(value added) bagi Bank dan stakeholders.
ERM adalah sebuah proses pengelolaan risiko yang melekat dalam proses bisnis Bank,
artinya pengelolaan risiko menjadi bagian yang menyatu dalam pengambilan keputusan bisnis
Bank seharihari. Dengan ERM, Bank akan memiliki kerangka kerja pengelolaan risiko yang
sistematis dan menyeluruh (risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional) dengan
menghubungkan pengelolaan modal dan proses bisnis dengan risiko yang dihadapi secara utuh.
Selain itu, ERM juga menerapkan pengelolaan risiko secara konsolidasi dengan entitas anak
secara bertahap untuk memaksimalkan efektivitas pengawasan dan nilai perusahaan berdasarkan
PBI No. 8/6/PBI/2006 tanggal 30 Januari2006.
Kerangka pengelolaan risiko Bank mengacu pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.
5/8/PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003 tentang penerapan manajemen risiko bagi bank umum,
sebagaimana telah diubah dengan PBI No. 11/25/PBI/2009 tanggal 1 Juli 2009 tentang
perubahan atas Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 tentang penerapan manajemen risiko
bagi bank umum. Kerangka ini tercantum dalam Kebijakan Manajemen Risiko Bank Mandiri
(KMRBM) agar sejalan dengan rencana penerapan Basel II Accord secara bertahap di Indonesia.
Dalam kerangka pengelolaan risiko tersebut diatur berbagai kebijakan agar manajemen risiko
berfungsi sebagai business enabler sehingga bisnis dapat tetap tumbuh dalam koridor prudential
principle dengan menerapkan proses manajemen risiko yang ideal (identifikasi - pengukuran -
pemantauan - pengendalian risiko) pada semua level organisasi.
Pengawasan aktif dari Direksi dan Dewan Komisaris dan terhadap aktivitas manajemen
risiko Bank secara langsung maupun tidak langsung diimplementasikan melalui pembentukan
komite di tingkat Dewan Komisaris, yaitu Komite Pemantau Risiko, Komite Tata Kelola
Terintegrasi, Komite Remunerasi dan Nominasi, dan Komite Audit. Adapun Executive Commitee
dibawah supervisi Direksi terdiri atas Asset & Liability Committee (ALCO), Risk Management
Committee (RMC), Integrated Risk Management Committee (IRC) Capital & Subsidiaries
Committee (CSC), Wholesale Business Committee (WBC), Retail Business Committee (RBC),
Information Technology Committee (ITC), Human Capital Policy Committee (HCPC), Policy &
Procedure Committee (PPC) dan Credit Committee.
Dari 10 Executive Committee, ada 4 komite yang berkaitan langsung dengan pengelolaan
manajemen risiko yaitu RMC, IRC, ALCO dan PPC. RMC yaitu komite yang membahas dan
merekomendasikan kebijakan dan prosedur serta memantau profil risiko dan mengelola seluruh
risiko perseroan. Integrated IRC yaitu komite yang memberikan rekomendasi mengenai
kebijakan manajemen risiko terintegrasi termasuk penerapan manajemen risiko di entitas anak.
Terbentuknya komite IRC ini Sebagai wujudpenerapan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.
14/POJK.03/2014 tentang manajemen risiko terintegrasi. IRC memiliki keanggotaan yang
mencakup perwakilan dari entitas anak dan membahas serta merekomendasikan mengenai
kebijakan dan penerapan manajemen risiko terintegrasi. ALCO adalah komite yang menjalankan
fungsi penetapan strategi pengelolaan aset dan liabilitas Bank, penetapan suku bunga dan
likuiditas serta hal-hal lain yang terkait dengan pengelolaan aset dan liabilitas Bank. PPC adalah
komite yang membahas dan merekomendasikan penyesuaian/ penyempurnaan kebijakan dan
menetapkan prosedur Bank.
Komite yang dibentuk di tingkat Dewan Komisaris yaitu Komite Pemantau Risiko,
Komite Tata Kelola Terintegrasi, dan Komite Audit, memiliki tugas dan tanggung jawab untuk
melakukan kajian dan evaluasi atas kebijakan dan pelaksanaan manajemen risiko Bank, serta
memberikan masukan dan rekomendasi kepada Dewan Komisaris dalam rangka melaksanakan
fungsi pengawasan.
Dalam kegiatan operasionalnya, Direktorat yang terkait dengan manajemen risiko ini
dibagi menjadi 2 (dua) bagian besar, yaitu 1) credit approval sebagai bagian dari four-eye
principle, yang ada di Direktorat Wholesale Risk dan Direktorat Retail Risk dan 2) Independent
Risk Management yang ada di dalam Direktorat Risk Management and Compliance. Risk
Management & Compliance dipimpin oleh seorang Direktur yang bertanggung jawab kepada
Direksi dan sekaligus menjadi anggota dengan hak suara (voting member) pada Risk
Management Committee, Integrated Risk Management Committee, dan Policy & Procedure
Committee. Selain itu Bank juga telah membentuk Satuan Kerja Manajemen Risiko yang berada
di bawah Risk Management & Compliance. Direktorat Risk Management & Compliance dibagi
menjadi tiga grup, yaitu Credit Portfolio Risk Group yang berkaitan dengan risiko kredit dan
portofolio serta integrasi manajemen risiko melalui ERM, Market Risk Group dan Operational
Risk Group yang terkait dengan risiko pasar, risiko likuiditas dan risiko operasional.
Direktorat Manajemen Risiko bersama-sama unit kerja terkait bertanggung jawab dalam
mengelola/ mengkoordinasikan 8 jenis risiko yang dihadapi Bank, serta membahas dan
mengusulkan kebijakan dan pedoman pengelolaan risiko.
Seluruh risiko tersebut dilaporkan Bank melalui penyusunan laporan profil risiko secara
triwulanan dan laporan tingkat kesehatan Bank secara semesteran untuk menggambarkan seluruh
risiko yang melekat dalam kegiatan bisnis Bank, termasuk risiko entitas anak secara konsolidasi.

Manajemen risiko likuiditas ( hal 644)


Risiko likuiditas adalah potensi kerugian yang timbul akibat ketidakmampuan Bank untuk
memenuhi liabilitas pada saat jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid
berkualitas tinggi yang dapat diagunkan tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank.
Likuiditas Bank dipengaruhi oleh struktur pendanaan, likuiditas aset, liabilitas kepada counterparty (pihak
kontrak ) dan komitmen kredit kepada debitur. Risiko likuiditas juga disebabkan oleh ketidakmampuan
Bank untuk menyediakan likuiditas dengan harga wajar yang akan berdampak kepada profitabilitas dan
modal Bank.
Untuk mengukur besarnya risiko likuiditas, Bank menggunakan beberapa indikator, antara lain
adalah rasio Giro Wajib Minimum pada Bank Indonesia dan Kas, cadangan likuiditas, Loan to
Funding Ratio (LFR) dan ketergantungan terhadap pendanaan nasabah besar. Giro Wajib
Minimum (GWM) adalah simpanan minimum yang wajib dipelihara oleh Bank dalam bentuk saldo
rekening giro pada Bank Indonesia atau surat berharga yang besarnya ditetapkan oleh Bank
Indonesia sebesar persentase tertentu dari Dana Pihak Ketiga (DPK).
Pada tanggal 31 Desember 2015, posisi GWM Primer Rupiah adalah sebesar 7,50% dari total
dana pihak ketiga Rupiah, sesuai dengan limit yang telah ditetapkan, sedangkan untuk cadangan
GWM LFR adalah sebesar 0,00% dan GWM Sekunder Rupiah adalah sebesar 14,35% dari total
dana pihak ketiga Rupiah (Bank Mandiri saja). Sementara untuk valuta asing, Bank memelihara
GWM sebesar 8,50% dari total dana pihak ketiga valuta asing sesuai dengan limit yang ditetapkan
(Bank Mandiri saja).
Cadangan likuiditas adalah alat likuid Bank diatas GWM dengan fungsi sebagai cadangan
likuiditas terhadap kebutuhan dana yang tidak terjadwal. Dalam mengelola cadangan likuiditas,
Bank memiliki batasan dalam bentuk limit safety level, yaitu proyeksi cadangan likuiditas Bank
untuk 3 bulan ke depan. Pada tanggal 31 Desember 2015, cadangan likuiditas berada di atas
safety level (tidak diaudit).
LFR merupakan rasio kredit yang diberikan kepada pihak ketiga terhadap dana pihak ketiga dan
surat-surat berharga yang memenuhi persyaratan tertentu yang diterbitkan oleh bank dalam valuta
Rupiah dan valuta asing. LFR digunakan untuk melihat seberapa besar sumber dana yang berasal
dari dana masyarakat dan surat-surat berharga yang diterbitkan, digunakan untuk membiayai aset
berupa kredit yang umumnya tidak likuid. Pada tanggal 31 Desember 2015, LFR Bank Mandiri
sebesar 87,05%.

Kondisi likuiditas Bank di masa mendatang diproyeksikan melalui metodologi liquidity gap, yang
merupakan maturity mismatch antara komponen-komponen aset dan liabilitas (termasuk off
balance sheet), yang disusun ke dalam periode waktu (time bucket) berdasarkan contractual
maturity ataupun behavioral maturity. Pada tanggal 31 Desember 2015, proyeksi likuiditas Bank
sampai dengan 12 bulan ke depan berada dalam posisi surplus. Meskipun proyeksi likuiditas 12
bulan kedepan surplus, Bank selalu mempersiapkan alternatif funding apabila kondisi likuiditas
pasar menjadi ketat atau tidak sesuai dengan prediksi Bank.
Untuk mengetahui dampak perubahan faktor pasar maupun faktor internal pada kondisi ekstrim
(krisis) terhadap kondisi likuiditas, Bank melakukan stress-testing risiko likuiditas secara berkala.
Hasil stress-testing yang telah dilakukan pada Triwulan 4 tahun 2015 telah dipaparkan kepada
Manajemen dan Komite Pemantau Risiko. Hasil stress-testing menunjukkan bahwa Bank dapat
bertahan pada kondisi krisis likuiditas. Bank memiliki Liquidity Contingency Plan (LCP) yang
meliputi strategi pendanaan dan strategi pricing antara lain pinjaman pasar uang, repo, pinjaman
bilateral, FX swap, maupun strategi pendanaan dan strategi pricing. Dalam LCP, penetapan
kondisi likuiditas dan strategi-strategi pendanaan telah mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal.

Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi yang kurang stabil, baik karena
kondisi krisis di kawasan Eropa maupun karena berbagai issue di dalam negeri, Bank Mandiri
memonitor indikator - indikator eksternal diantaranya: nilai tukar USD/IDR, Credit Default Swap
(CDS) 5 tahun Indonesia, Spread antara ROI 5 tahun dibandingkan UST 5 tahun, Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG), Suku bunga Rupiah dan USD interbank, Non Delivery Forward (NDF)
USD/IDR 1M serta informasi pasar yang terkini.
Pelaporan jatuh tempo pada tanggal 31 Desember 2015 dan 2014, didasarkan pada jangka
waktu yang tersisa sejak tanggal-tanggal tersebut. Secara historis, terdapat bagian dari simpanan dalam
jumlah yang cukup besar yang diperpanjang pada saat jatuh tempo. Selain itu, jika terdapat keperluan
likuiditas, obligasi pemerintah (portofolio diukur pada nilai wajar melalui laba rugi dan tersedia untuk
dijual) dapat dicairkan dengan menggunakannya sebagai jaminan dalam pasar antar bank. Langkah yang
diambil oleh Bank sehubungan dengan maturity gap antara aset dan liabilitas adalah dengan menetapkan
gap limit yang disesuaikan dengan kemampuan Bank Mandiri dan Entitas Anak untuk memperoleh
likuiditas segera. Pelaporan jatuh tempo aset dan liabilitas keuangan dengan metode arus kas
discounted adalah sebagai berikut:

Risiko operasional bank mandiri


Risiko operasional adalah risiko yang disebabkan oleh ketidakcukupan dan atau tidak
berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem atau adanya faktor eksternal
yang mempengaruhi operasional Bank. Pengelolaan atas risiko operasional secara efektif dapat
menekan kerugian akibat risiko operasional. Dalam rangka efektifitas pengelolaan risiko
operasional, Bank menyusun kerangka kerja mengacu pada regulasi Bank Indonesia, Basel II dan
ketentuan internal Bank. Bank telah memiliki Kebijakan Manajemen Risiko Bank Mandiri,
Standar Prosedur Operasional Manajemen Risiko Operasional dan Petunjuk Teknis Operasional
Manajemen Risiko Operasional yang meliputi baik aspek governance maupun sistem pelaporan.
Sebagai bagian dari framework Enterprise Risk Management (ERM), kerangka kerja Bank
menggunakan pendekatan 2 (two) prong approach, yaitu managing risk through operation dan
managing risk through capital.

A. Managing risk through operation


Dalam pengelolaan risiko operasional melalui Operation, Bank telah : (i) menetapkan risk
governance pengelolaan risiko operasional, (ii) menetapkan kebijakan dan prosedur serta
melakukan review secara berkala, (iii) menetapkan operational risk appetite, (iv) menyusun
metodologi dan perangkat pengelolaan risiko operasional, (v) menyediakan Operational Risk
System untuk seluruh unit kerja, (vi) membangun Risk Awareness di seluruh lini organisasi
termasuk
mewujudkan Risk Culture dalam aktivitas bisnis bank, (vii) menjalankan implementasi
pengelolaan
risiko operasional ke seluruh unit kerja Kantor Pusat dan Kantor Wilayah termasuk implementasi
perangkat Operational Risk Management Tools (ORM Tools) dan sistem aplikasi Loss Event
Database, (viii) melaksanakan monitoring dan reporting internal maupun eksternal (regulator).
Pelaksanaan operational risk governance dimulai dengan (i) pengawasan aktif Dewan
Komisaris,
dan Direksi, melalui Risk Management Commitee (RMC). (ii) Pelaksanaan pengelolaan risiko
melalui
model three line of defence dimana Unit kerja sebagai risk owner merupakan first line of defence
yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan risiko operasional secara langsung dari
masingmasing
unit kerja Bank; Unit Risk Management berperan sebagai second line of defence yang
menjalankan fungsi oversight; serta Internal Audit sebagai third line of defence yang
menjalankan
fungsi independent assurance.
Bank telah menetapkan kebijakan dan prosedur Internal dalam Pengelolaan Risiko Operasional
yang mengacu pada Kebijakan Manajemen Risiko Bank Mandiri (KMRBM), yang menjadi
landasan
implementasi manajemen risiko. Bank telah memiliki pedoman pelaksanaan manajemen risiko
operasional seluruh unit kerja, pedoman pengelolaan Produk atau Aktivitas Baru, Pedoman
Model
Risiko Bank, Pedoman BCM, Petunjuk Teknis ORM Tools, dan Pelaporan Kejadian Fraud.
ORM Tools yang dipergunakan adalah (i) Risk & Control Self Assesment (RCSA), dipergunakan
untuk identifikasi dan penilaian risiko yang melekat pada aktivitas dan penilaian kualitas kontrol,
(ii) Loss Event Database, untuk mencatat kerugian-kerugian akibat risiko operasional yang
terjadi
pada masing-masing unit kerja, (iii) Key Indicator (KI), sebagai indikator kuantitatif yang
dimanfaatkan untuk memberikan indikasi tingkat risiko melekat pada key proses dalam satu
tahapan
unit bisnis/supporting atau end to end processing, dan (iv) Issue & Action Management (IAM),
untuk
mendokumentasikan issue/permasalahan, dianalisa penyebabnya, dan ditetapkan action plan
serta
dilakukan monitoring pelaksanaan action plan oleh unit kerja.
Sebagai output dari proses Pengelolaan Risiko Operasional, unit kerja menghasilkan profil risiko
operasional yang menggambarkan eksposur risiko operasional unit kerja yang akan dijadikan
dasar
dalam pembuatan profil risiko operasional Bank. Laporan profil risiko operasional Bank yang
sudah
direview oleh unit Internal Audit dipresentasikan kepada Dewan Komisaris dan dilaporkan
kepada
Regulator secara periodik. Laporan Profil Risiko Operasional dijadikan sebagai bagian dari
penentuan tingkat kesehatan bank dari Risk-Based Bank Rating (RBBR). Selain itu, dalam
rangka pengelolaan risiko operasional terdapat laporan pengeluaran risiko
operasional yang disampaikan kepada manajemen sebagai sarana monitoring dan bahan
pertimbangan untuk mengambil tindakan prioritas.

B. Managing risk through capital


Sesuai ketentuan Bank lndonesia SE BI No. 11/3/DPNP tanggal 27 Januari 2009, Bank telah
melakukan perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko untuk risiko operasional dan
Kewajiban
Penyediaan Modal Minimum. Bank menggunakan Basic Indicator Approach untuk perhitungan
beban modal risiko operasional.
Hasil perhitungan dari beban modal risiko operasional Bank Mandiri saja di Triwulan IV 2015
adalah
sebesar Rp6.290.221,95 dan konsolidasi Bank Mandiri dengan Entitas Anak adalah sebesar
Rp7.651.234,99, dengan nilai alpha sebesar 15% selama tiga tahun terakhir. Berdasarkan hasil
tersebut, nilai ATMR risiko operasional adalah sebesar Rp78.627.774,32 untuk bank Mandiri
saja
dan Rp95.640.437,35 untuk konsolidasi Bank Mandiri dengan Entitas Anak. Nilai ATMR risiko
operasional tersebut merupakan 12,5 kali beban modal risiko operasional. Bank telah melakukan
simulasi perhitungan menggunakan metode Standardised Approach yang sejalan dengan
pelaksanaan pengukuran kinerja SBU berbasis risiko.