Anda di halaman 1dari 18

PENILAIAN TERNAK

1. Pengertian

Judging adalah penilaian tingkatan ternak dengan beberapa karakteristik


penting untuk tujuan tertentu secara subjektif. Judging terdiri atas tiga langkah
yaitu, penilaian melalui kecermatan pandangan (visual), penilaian melalui
kecermatan perabaan (palpasi), dan penilaian melalui pengukuran tubuh. Memilih
ternak berdasarkan visual berarti kita memilih ternak berdasarkan sifat-sifat yang
tampak. Dalam cara ini memilih bibit hampir sama saja dengan seleksi untuk
tujuan produksi. Seleksi berdasarkan visual ini biasa disebut dengan
Judging. Ternak yang sehat dapat dipilih dengan melakukan penilaian melalui
pandangan dari samping, belakang, dan depan atas ternak tersebut. Untuk
mengetahui bahwa ternak dalam kondisi sehat, maka perlu diketahui karakteristik
ternak yang sehat. Selanjutnya, penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan
tulang-tulang rusuk (ribs) untuk memilih ternak yang gemuk (Ahmad,2010).

Penilaian ternak perlu dilakukan untuk menilai seekor ternak yang


memiliki kapasitas brreproduksi dan produksi serta tingkat kesehatan yang normal
sesuai dengan bangasa ternak dan daya beradaptasi pada suatu lingkungan
tertentu. Didalam praktek ilmu tilik ternak digunakan untuk memilih seekor
ternak untuk tujuan tertentu seperti tipe potong/kerja/daging, tipe perah, tipe
dwiguna, dan tipe wol.

Domba diklasifikasikan sebagai hewan herbivora karena pakan utamanya


adalah tanaman atau tumbuhan. Meskipun demikian domba lebih menyukai
rumput dibanding dengan jenis bahan pakan lainnya. Domba juga merupakan
hewan mamalia, karena menyusui anaknya. Sistem pencernaan yang khas didalam
dirumen, menyebabkan domba digolongkan sebagai hewan ruminansia.

Sifat domba suka berkelompok, maka handling dan tilik ternak terhadap
domba pun lebih mudah dilakukan. Handling yang baik sangat diperlukan oleh
peternak untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Eksterior atau tilik ternak
adalah suatu ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk tubuh dari luar untuk
menentukan atau mengetahui kualitas dari suatu ternak (Anonim, 2011).

Daging domba merupakan sumber protein dan lemak hewani. Walaupun


belum memasyarakat, susu domba merupakan minuman yang bergizi. Manfaat
lain dari berternak domba adalah bulunya dapat digunakan sebagai industri tekstil.

Domba tipe pedaging mempunyai bentuk badan panjang, lebar dan dalam.
Keseluruhan badannya penuh dengan urat daging dan lapisan lemak yang padat.
Ia mempunyai leher yang pendek, tetapi tebal. Dada lebar dan dalam.
Punggungnya lurus kebelakang. Antara kakinya lebar tetapi pendek. Kesan yang
terlihat keseluruhannya untuk tipe domba pedaging ialah mempunyai bentuk
seperti tong, dengan timbangan badan yang berat, sedangkan ia hanya mempunyai
bulu yang tipis.

2. Langkah Langkah Penilaian Ternak

Langkah yang dapat ditempuh untuk menilai domba tipe potong adalah
sebagai berikut :

a. Lihatlah domba yang akan kita nilai dari jarak 5 meter. Perhatikan dari
arah depan, samping dan belakang. Dari pandangan ini kita akan
memperoleh kesan tentang panjang, dan lebar badan. Kita juga akan
lebih jelas untuk menyaksikan ketebalan bagian depan dan belakang
badan. Selain itu kokoh kaki depan dan belakang serta antara kedua
kakinya.

b. Setelah selesai menilai dari jarak dekat, kita melakukan penilaian dengan
cara mengukur dengan tangan pada kaki sebelah atas untuk mengetahui
seberapa besar tempat itu.

c. Langkah terakhir adalah merasakan lapisan lemak pada punggug


dan dada dengan jalan menyusup jari-jari kedalam bulu, dan usahakan
jari kita menempel pada kulit pada bagian itu. Jika empuk dan tebal itu
adalah domba yang gemuk (Sumoprastowo,1987).

Domba pedaging bila dilihat dari depan tampak gemuk dan kompak. Untuk
memilih (judging) domba seyogyanya dilihat dari jarak 6-8 feet (1 feet = 0,3048)
dan dilihat dari depan, samping kiri, kanan dan belakang. Dari samping dilihat
tebal dan tipis, bagian ham, panjang kaki, panjang leher, punggung kuat, rata,
leher sedang. Dilihat dari belakang cukup tampak lebar dan bentuk agak
bulat,terutama bagian belakang tampak sebert huruf U, bukan seperti hurufv. Bila
dilihat dari depan tampak kaki kuat, chest dan brisket gemuk, kalau kaki panjang
mungkin kaki akan bengkok.

a. Berat (weight) : Berat antara 70-80 lbs ( 1 lbs= 0,4536 kg)


b. Kondisi (condition)
c. Daging dan lemak seimbang kompak tampak rata (halus) bila dipegang,
karena ada estimasi kalau diraba bagus maka dagingnya juga
bagus. Kualitas (quality)
d. Kepala kecil, leher haluss, daging bagus kalau tampak perut kecil dan
wol tampak bagus.
e. Head and neck ; diutamakan dari dahi lebar, muka kurus dan leher
pendek.
f. Forequarter : tampak kecil bukan tipis karena daerah ini murah
harganya.
g. Body : badan tampak besar sampai ke belakang paling mahal pada loin,
rumps dan thinghs.
h. Bentuk (form) : bila dilihat dari belakang tampak bulat dan merata, rump
dan things adalah 30% . (Soenarjo,1988).

Kelompok domba tipe potong atau pedaging memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Bentuk badan padat, dada leber dan dala, leher pendek, garis punggung
dan pinggang lurus.
b. Kaki pendek, seluruh tubuh berurat daging yang padat.
c. Termasuk domba tipe pedaging antara lain sounthdown, hampshire, dan
oxfor (Sudarmono, 2003).
Domba adalah ruminansia dengan rambut tebal dan dikenal orang banyak
karena dipelihara untuk dimanfaatkan dagingnya. Penentuan kualitas atau kondisi
dari suatu ternak harus memperlihatkan hal-hal sebagai berikut :

a. Konstitusi tubuh

Konstitusi tubuh merupakan imbangan dari bagian-bagian tubuh ternak,


dengan cara membandingkan bentuk-bentuk dari suatu bagian. Letak bagian
tersebut dibandingkan dengan bentuk yang umum, serta dibandingkan
hubungannya dengan bagian lain.

b. Temperamen

Temperamen adalah sikap atau tingkah laku alami dari seekor ternak, sekaligus
menyangkut juga kemungkinan ada atau tidaknya penyakit atau cacat tubuh yang
terdapat pada seekor ternak. Perbedaan temperamen dapat menyebabkan
perbedaan pula di dalam mengelola ternak-ternak tersebut supaya ternak mampu
memberikan produksi secara maksimal.

c. Kondisi Tubuh

Kondisi tubuh yaitu keadaan sehat atau tidaknya, gemuk atau kurusnya, cacat
tubuh atau tidaknya suatu ternak baik cacat genetik maupun cacat yang bersifat
mekanik. Kondisi ternak sangat berpengaruh secara langsung terhadap
kemampuan untuk berproduksi secara maksimal. (Denny, 2008).

Dalam memulai suatu usaha peternakan domba, pemilihan bibit merupakan


hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena ternak dengan produktivitas
tinggi akan memberikan keuntungan yang optimal. Pejantan dan induk calon bibit
fisik normal dan baik, antara lain untuk pejantan :

a. Punggung lurus
b. Dada dalam dan lebar
c. Mata bersinar
d. Kaki kuat dan bertumit tinggi
e. Buah zakar (testis) normal
f. Libido baik (agresif) dan memberikan respon pada induk yang sedang
berahi.
3. Judging Domba Garut
3.1 Penilaian Ternak dengan Kecermatan Penglihatan (Visual)
3.1.1 Telinga
3.1.1.1 bentuk daun telinga rumpung dengan panjang kurang dari 4 cm.
Gambar 1. Daun telingan Rumpung

Sumber : Badan Standarisasi Nasional


3.1.1.2 bentuk daun telinga yang menyerupai daun hiris atau kacang gude dengan
panjang 4cm -8cm.
Gambar 2. Daun Telinga Ngadaun hiris
Sumber : Badan Standarisasi Nasional
3.1.2 Ekor
3.1.2.1 Bentuk ekor domba yang menyerupai segitiga dan timbunan lemak pada
pangkal ekor dengan lebar lebih dari 11 cm dan mengecil pada ujung ekor.
Gambar 3. Ekor Ngabuntut Bagong

Sumber : Badan Standarisasi Nasional


3.1.2.2 Bentuk ekor ngabuntut beurit yang menyerupai segitiga tanpa timbunan
lemak dengan bentuk yang mengecil pada ujung ekor.
Gambar 4. Ekor Ngabuntut Beurit

Sumber : Badan Standarisasi Nasional


3.1.3 Tanduk
3.1.3.1 Tanduk leang yaitu bentuk tanduk yang pertumbuhannya kesamping
Gambar 5. Tanduk Leang

Sumber : Badan Standarisasi Nasional


.1.3.2 Tanduk gayor yaitu bentuk tanduk ke belakang melingkar ke bawah keluar.
Gambar 6. Tanduk gayor.

Sumber : Badan Standarisasi Nasional


3.1.3.3 Tanduk Ngabendo yaitu bentuk tanduk dari pangkal melingkar ke
belakang tidak lebih dari satu putaran.
Gambar 7. Tanduk ngabendo

Sumber : Badan Standarisasi Nasional


3.1.3.4 Tanduk Ngagolong yaitu bentuk tanduk yang melingkar lebih dari satu
putaran.
Gambar 8. Tanduk Ngagolong Tambang

Sumber : Badan Standarisasi Nasional

3.2 Peniliaian Ternak dengan Kermatan Perabaan ( Palpasi)


Pemberian Body Condition Score (BCS) pada domba berguna untuk
mengetahui apakah domba sudah sesuai ukurannya pada beberapa fase produksi
seperti laktasi, siap kawin, dan siap dipotong. Body Condition Score bersifat
menduga perkembangan perototan dan lemak dari domba. Pemberian angka
berdasarkan perkiraan perototan dibagian tulang belakang pada wilayah loin,
rusuk, dan melihat badan secara keseluruhan (Tames, 2010). Pemeriksaan loin
dilakukan dengan menempelkan tangan pada keseluruhan bagian loin belakang
baik dari samping maupun atas. Tames (2010), membagi Body Condition Score
domba menjadi lima kelas yakni dengan angka 1-5.
Gambar 1 : Pengecekan loin dari samping dan atas
(Sumber : Tames, 2010)

BCS 1
Tulang rusuk sangat terasa melalui
kulit, tidak ada lapisan lemak, loin
sangat tipis, terlihat sangat kurus

BCS 2
Terlihat kurus, rusuk masih terlihat
namun tidak terlalu jelas, bagian loin
eye cukup berotot, bagian pinggul
terlihat bundar dari samping

BCS 3
Terlihat sedang, rusuk mulai tidak
terlihat dan tertutup kulit dengan rapih,
perototan loin penuh dan mulai tertutup
lemak, bagian pinggul semakin bundar
BCS 4
Terlihat gemuk, terlihat akumulasi
lemak di pangkal ekor, rusuk tertutup
daging dan membutuhkan tekanan lebih
bila ingin meraba rusuk, loin eye tebal,
BCS 5
Terlihat sangat gemuk, tulang rusuk
sulit diraba, loin eye tebal dan tertutup
lemak, lemak mulai teras di seluruh
tubuh.

Gambar 2 : Body Condition Score pada domba


(Sumber : Tames 2010)

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Bony Nurhartono. 2010. Judging. http://bonyahmad.blogspot.com/.
diakses pada 7 April 2017
Anonim, 2011. Judging Ternak Domba.
Badan Standarisasi Nasional.2002. Standarisasi Domba Garut. Jakarta
Denny. 2008. Banyu. http://banyublogz.blogspot.com/2011/02/judging-ternak
domab.html. diakses pada 7 april 2017
Purnomoadi, Agung. 2003. Ilmu Ternak Potong dan kerja. Semarang : Universitas
Diponegoro.
Satya, Tri Mastuti Widi. Beternak Domba. 2007. Yogyakarta: PT Citra Aji
Parama
Soenarjo.1988. Buku Pegangan Kuliah Ilmu Tilik Ternak. Jakarta : Cv. Baru
Sumoprastowo. 1987. Beternak Domba Pedaging dan Wol. Jakarta : PT Bhatara
Karya Aksara.
Sudarmono, AS dan Bambang Sugeng. 2003. Semarang : Penebar Swadaya.

JUDGING TERNAK : PUYUH


Puyuh adalah nama untuk beberapa genera dalam familia Phasianidae.
Burung iniberukuran menengah. Burung puyuh adalah unggas daratan yang kecil
namun gemuk. Mereka pemakan biji-bijian namun juga pemakan serangga dan
mangsa berukuran kecil lainnya. Mereka bersarang di permukaan tanah, dan
berkemampuan untuk lari dan terbang dengan kecepatan tinggi namun dengan
jarak tempuh yang pendek. Beberapa spesies seperti puyuh
jepang adalah migratori dan mampu terbang untuk jarak yang jauh. Beberapa jenis
puyuh diternakkan dalam jumlah besar. Puyuh jepang diternakkan terutama
karena telurnya. Puyuh merupakan salah satu komoditi unggas sebagai penghasil
telur dan daging yang mendukung ketersediaan protein hewani yang murah serta
mudah didapat (Permentan, 2008).

Puyuh yang umum dikembangkan di Indonesia adalah jenis dari puyuh


jepang (Caturnik caturnik japonica). Sesuai dengan pendapat Vali (2008) yang
menyatakan bahwa selain memiliki perporman yang bagus, puyuh ini juga
memiliki daya adaptasi yang baik. Manfaat umum dari puyuh C. japonica yaitu :

1. sebagai unggas penghasil telur dan daging dengan cita rasa yang unik.
2. biaya pemeliharaan murah yang diasosiasikan dengan ukuran tubuh yang
kecil (80 300 gram)
3. Memiliki selang generasi yang pendek (3-4 generasi per tahun) sehingga
memungkinkan memiliki generasi yang lebih banyak dalam setahun.
4. tahan (resisten) terhadap wabah dan penyakit ungags.
5. Memiliki produksi telur yang tinggi.
6. Dapat digunakan sebagai hewan percobaan, dan
7. Merupakan unggas dengan ukuran tubuh terkecil yang diternakkan untuk
menghasilkan telur dan daging.

Puyuh unggul antara lain memiliki ciri dan karakter seperti berikut ini:

1. sehat, lincah, mata bersinar, tagap.


2. Keadaan bulu tertutup sempurna, licin, bulu jarum sedikit;
3. Konformasi/keserasian terlihat normal. Tulang dada lunas normal dengan
lengkungan 1/8 inchi; 4) bentuk punggung normal/rata.
4. Bentuk sayap/lengan dan finger rapat dengan badan.
5. Fleshing/perdagingan sempurna, dada padat berisi, panjang dan simetris.
6. Shank dan digiti sedikit bersisik.
7. Kondisi tubuh mulus tanpa kelainan dan bebas dari sobekan, patah tulang
ataupun memar.
8. Lemak bawah kulit terlihat sempurna dan merata.
Sedangakan untuk DOQ (Day Old Quail) harus memenuhi ciri sebagai berikut:
1. Sehat, tidak cacat fisik, kaki dan digiti tidak bengkok
2. Lincah, mata bulat dan bersinar
3. Kaki kuat dan berdiri dengan tega
4. Paruh normal.
5. Berasal dari bibit induk yang telah diketahui keunggulannya
6. Bulu kering, dubur dan pusar juga kering.
7. Nafsu makan baik/ aktif mencari makan.
Puyuh calon induk memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Sehat, tidak cacat fisik; kepala dan muka halus, sedang (tidak terlalu
besar).
2. Mata cerah, jernih bersinar.
3. Paruh pendek dan kuat.
4. Badan cukup besar, perut halus dan bila diraba/ditekan terasa empuk.
5. Jarak antar tulang pubis kurang lebih 2 jari orang dewasa
6. Lincah dan tampak semangat; bulu tidak kusut, tetap tampak mengkilap
dan halus; squama (sisik) bagian shank dalam barisan, ekor tidak bengkok
7. Berasal dari induk berproduksi telur tinggi.

Sifat dan karakteristik pada ternak umumnya, termasuk burung puyuh antara
lain dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Hal ini yang
menyebabkan adanya perbedaan variasi warna, bobot tubuh, bentuk paruh, bentuk
mata dan bentuk tubuh lainnya pada burung puyuh. Sesuai dengan pernyataan dari
Rezah (2012) yang menyatakan bahwa variasi warna bulu merupakan
karakteristik genetik yang ekspresinya dikontrol oleh beberapa gen dalam tubuh.
Selain itu, faktor lingkungan juga memberikan pengaruh di dalam pewarisan
warna bulu pada puyuh. Seperti yang dikemukakan Noor (1996) yang menyatakan
bahwa faktor genetik dan faktor lingkungan adalah dua faktor utama di dalam
pewarisan sifat-sifat pada ternak.

Bentuk tulang pubis burung puyuh harus memiliki jarak kurang lebih 2 (dua)
jari orang dewasa. Karena bentuk dari tulang pubis ini kaitannya dengan jumlah
produktivitas ternak itu sendiri. Pembentukan tulang pubis tergantung pada pakan
yang dikonsumsi oleh puyuh. Pakan yang baik untuk pembentukan tualng pubis
ini adalah pakan yang mengandung mineral terutama dalam bentuk phospor. Hal
ini sesuai dengan pendapat Anggorodi (1995), fosfor dibutuhkan dalam jumlah
besar untuk pembentukan tulang. Bila fosfor dalam ransum kurang tersedia, maka
fosfor dalam tulang dirombak melalui proses mobilisasi fosfor dari tulang-tulang
panjang seperti tulang tibia, femur, yang berakibat gangguan pertumbuhan tulang
(Djulardi et al., 2006).

DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Djulardi, A., H. Muis dan S.A., Latif. 2006. Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa
Harapan. Andalas University Press. Padang.
Ensminger M. A. 1992. Poultry Science (Animal Agricultural Series). 3th Edition.
Instate Publisher, Inc. Danville, Illiones.
Noor, R.R. 1996. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nugroho, 1986. Beternak Burung Puyuh. Penerbit Eka Offset. Semarang.
Permana, D, H. 2005. Performa produksi burung puyuh (coturnix coturnic
japonica) umur 8-11 minggu pada perbandingan jantan dan betina yang
berbeda. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rezah, Z. 2012. Warna Bulu Pada
Burung. http://www.rezahzulfikar.blogspot.com(diakses pada tanggal 18
Maret 2013 09.00 WIB).
Syariefa, Evi, dkk. 2011. Ternak Puyuh. Trubus Swadaya. Jakarta.
Vali, follet. 2008. Circadian rhythm of melatonin in the pineal gland of the
Japanese quail (Coturnix coturnix japonica). Journal
of Endocrinology. Vol 107. No. 324.
Woodard et al. 1973. Pengaruh zeolit dalam ransum puyuh (Coturnix coturnix
japonica) terhadap produksi dan kualitas telur pada periode produksi
umur13-19 minggu. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.