Anda di halaman 1dari 20

1.

Pembibitan Tanaman Sayuran


1. Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan dilakukan dengan cara dicangkul atau dibajak secara merata kemudian
lahan dibiarkan selama satu minggu untuk mematangkan tanah, satu minggu setelah
pengolahan lahan, dibuatlah bedengan-bedengan untuk media tanam dengan ukuran lebar
bedeng antara 120-130 cm sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi
lahan. Untuk penggunaan ukuran lebar bedengan tersebut digunakan oleh seluruh petani
yang ada di lokasi penelitian.
2. Penyemaian
Untuk memudahkan perawatan, biji yang sudah mendapat perlakuan fungisida, disemaikan
dalam wadah yang terbuat dari kotak kayu, polibag, pot bunga dan sebagainya. Biji
disebar merata diatas pesemaian berupa tanah yang bersih yang sudah diayak dan dicampur
dengan pasir bersih serta pupuk kandang (perbandingan 1:1:1). Kemudian ditutup dengan
tanah yang dilewatkan melalui sebuah ayakan, tidak tebal tetapi asal dapat menutup media.
Media untuk pesemaian ini dipilih yang mempunyai aerasi baik, subur dan gembur, maka
akar akan tumbuh lurus dan memudahkasn pemindahan bibit ke polibag pembesaran.
3. Pemupukan Dasar
Pemupukan dasar dilakukan setelah bedengan telah siap. Pupuk dasar yang digunakan
antara lain, kapur, pupuk kandang, ponska, dan KCL. Pupuk diberikan secara
bersamaan sebelum dilakukan pemasangan rnulsa, untuk luas lahan 0,4 ha kapur, pupuk
kandang, ponska, dan KCL. Pemupukan dilakukan dengan cara ditabur secara merata di
atas bedengan yang kemudian dicangkul kembali dengan halus agar pupuk yang ditabur
dapat tercampur dengan sempurna. Semua responden di lokasi penelitian menggunakan
pupuk kandang, KCl, kapur dan Mutiara, sedangkan pada pupuk Ponska hanya digunakan
11 responden dan pada pupuk Tensil Organik hanya digunakan 8 responden.
Cara pemupukan di lokasi penelitian dilakukan secara terus menerus dan takaran pupuk
disesuaikan dengan usia tanamannya. Sebelum menabur pupuk terlebih dahulu dibuat
tanaman itu dengan batang tanaman sebagai pusat lingkaran. Garis tengah lingkaran selalu
berubah-ubah mengikuti pertumbuhan tajuk tanaman. Dengan demikian, makin
bertambahnya usia tanaman maka makin lebar tajuknya, maka makin besar pula lingkaran
yang mengelilingi tanaman itu untuk menabur pupuk. Sesudah pupuk ditabur merata di
dalam rorakan selanjutnya ditutup kembali dengan tanah.
Mengenai dosis/takaran pemupukan belum ada ketentuannya. Kebanykan petani scukup
melakukan pemupukan secara umum saja, yaitu sekedar memberi pupuk organik (pupuk
kandang) atau pupuk hijau (yang kebetulan tumbuh di sekitar kebun). Sampai kini, berapa
banyak takaran pupuk dan apa yang dibutuhkan belum ada kepastiannya.
4. Pemasangan Mulsa
Sejalan dengan semakin berkembangnya teknologi budidaya tanaman, telah diperkenalkan
dengan teknik kultur sistem mulsa plastik, terutama MPHP. Berdasarkan hasil-hasil
penelitian di lapangan, sistem pemulsaan ini berpengaruh baik terhadap peningkatan
kuantitas dan kualitas hasil tomat. Penggunaan mulsa plastik hitam perak sebagai mulsa
lebih praktis dibanding dengan penggunaan sisa-sisa tanaman yang telah mati atau jerami.
Penggunaan mulsa plastik dibanding lebih praktis, karena mudah didapat, mudah
penggunaannya sehingga lebih menghemat biaya pada musim tanam berikutnya.
Pemasangan mulsa dilakukan pada saat bedengan benar-benar sempurna, mulsa yang
digunakan adalah jenis mulsa plastik hitam perak, pemasangan mulsa bertujuan untuk
menjaga tingkat kelembaban media tanam, menekan pertumbuhan gulma, mengurangi
tingkat serangan hama dari penyakit tanaman. Semua responden yang ada di lokasi
penelitian melakukan pemasangan mulsa.
5. Pembuatan lubang tanam
Setelah persiapan lahan pertanaman rampung/selesai pekerjaan selanjutnya pada areal
pertanaman adalah mempersiapkan lubang tanam. Pembuatan lubang tanam dilakukan satu
minggu sebelum penanaman bibit.
Lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan yaitu 60 cm X 80
cm dan alat yang digunakan untuk membuat lubang tanam ada berbagai jenis. Misalnya
kaleng silinder, ataupun alat yng dibuat secara khusus untuk membut lubang tanam. Jarak
tanam harus diatur dengan baik dan jangan terlalu rapat, karena dapat mengurangi
penerimaan sinar matahari. Tanaman tomat yang kurang menerima sinar matahari akan
mengakibatkan proses fotosintesis tidak dapat berlangsung dengan baik. Jarak yang terlalu
rapat dapat mengakibatkan tingkat kelembaban menjadi tinggi dan persaingan dalam
penyerapan air dan unsur hara pun terjadi. Ukuran ini juga digunakan oleh seluruh
responden di lokasi penelitian.
6. Penanaman
Bibit seharusnya sudah diseleksi pada temat pembibitan sebelumnya diangkut ke lahan
pertanaman. Bibit tomat adapat dipindahkan ke lahan pertanaman apabila telah berumur
antara 30 45 hari di pesemaian. Bibit yang terpilih sebaiknya yang berpenampilan sehat,
tumbuh subur dan tegak serta daunnya tidak ada yang rusak.
Bibit dirawat agar terhindar dari serangan hama dan penyakit. Kesehatan bibit yang sudah
terjamin baik dapat diperhastikan dari petumbuhannya yang normal dan tanaman tampak
subur.
Bibit tanaman tomat di tempat pembibitan itu biasanya dinaungi atau tidak mendapat sinar
matahari secara langsung. Jadi sebelum ditanam di areal pertanaman, bibit itu harus cukup
terbiasa mendapat sinar matahari langsung karena pada areal pertanaman tidak ada lagi
yang dapat menaunginya.
Saat yang terbaik untuk menanam sayuran tomat adalah tiga hari sesudah lubang tanam
dipersiapkan dan diusahakan pada pagi atau sore hari. Pada saat pagid an sore hari,
keadaan cuaca belum panas sehingga tanaman dapat terhindar dari kelayuan. Kelayuan
dapat terjadi karena tidak adanya keseimbangan antara jumlah air yang diserap oleh akar
tanaman adengan proses transpirasi (penguapan) yang terjadi pada tanaman itu sendiri.
Penanaman tomat pada umumnya ditanam dengan jarak 60 cm X 80 cm dengan jumlah
rumpun satu rumpun setiap lubang tanam. Penanaman dengan jarak ini digunakan oleh
seluruh responden yang ada di lokasi penelitian.

2. Teknik budidaya Tanaman Dari penyiapan lahan sampai panen pada tanaman kacang
panjang, Mentimun, Jagung Manis, Sawi, Terong

A. BUDIDAYA KACANG PANJANG

Kacang panjang (Vigna sinensis) termasuk famili Febaceae dan merupakan salah satu
komoditi sayuran yang banyak diusahakan di daerah dataran rendah pada ketinggian 0-200 m
dpl. Kacang panjang merupakan salah satu sumber protein nabati yang banyak dikonsumsi
sebagian besar penduduk Indonesia.
Pada dasarnya kacang panjang dapat dibudidayakan pada berbagai jenis tanah, namun
jenis tanah yang paling cocok adalah tanah Regosol, Latosol dan Aluvial dengan temperatur
berkisar 18-320C, kemasaman tanah (pH) 5,5-6,5.

TEKNOLOGI BUDIDAYA
Benih
Ada beberapa varietas/kultivar kacang panjang, antara lain KP-1 (lokal Bekasi), KP-2
(lokal Bogor) yang toleran terhadap hama pengerek polong (Maruca testulasis) dan penyakit
busuk polong (Colletotrichum lindemuthianum). Kebutuhan benih kacang panjang per hektar
sekitar 20 kg.
Persiapan Lahan
Bersihkan lahan dan dibajak/cangkul hingga tanah menjadi gembur. Buat bedengan
dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 50 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung
lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm dan jarak antara
guludan 30-40 cm. Lakukan pengapuran 3-4 minggu sebelum tanam jika pH tanah kurang dari
5,5 dengan dolomit/kalsit sebanyak 1-2 ton/ha dicampurkan secara merata dengan tanah pada
kedalaman 30 cm. Jika menggunakan MPHP dapat dipasang satu minggu sebelum tanam atau
setelah pembuatan bedengan.
Penanaman
Jarak tanam untuk tipe merambat 20x50 cm, 40x60 cm, 30x40 cm, untuk tipe tegak
20x40 cm, 30x60 cm. Kacang panjang dapat ditanam sepanjang musim asal air tanahnya
memadai. Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis
atau dengan abu dapur.
Pemeliharaan Tanaman
Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari setelah tanam. Benih yang tidak tumbuh
segera disulam. Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah
tanam, tergantung pertumbuhan rumput. Penyiangan dengan cara mencabut rumput
liar/membersihkan dengan alat kored atau cangkul. Pemasangan ajir/turus dari kayu/bambu
yang tingginya 2 m untuk menjaga agar tanaman tidak roboh. Tiap empat buah turus ujungnya
diikat menjadi satu. Bila tanaman terlalu subur dapat dilakukan pemangkasan daun, perlu
dilakukan penyiraman dan pembuatan parit untuk membuang air yang berlebih.
Pemupukan
Pupuk dasar berupa pupuk kandang 10-15 ton/ha diberikan 3 minggu sebelum tanam
dengan jalan diaduk secara merata dengan tanah lapisan atas atau langsung pada lobang tanam.
Pupuk TSP 75-100 kg, KCl 75-100 kg dan Urea 25-30 kg/ha diberikan pada lubang tanam 3
hari sebelum tanam. Pupuk susulan Urea 25-30 kg/ha diberikan 3 minggu setelah tanam secara
tugal 10 cm dari batang tanaman.
Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon), Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar
tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan,
pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara
pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan.
Kutu daun (Aphis cracivora Koch) Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama
mengisap cairan sel tanaman. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor
virus. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan.
Ulat grayak (Spodoptera litura F.) Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti,
serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan kultur
teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak.
Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L) Gejala: biji dirusak berlubang-lubang,
hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa
tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung
10 cc/kg biji.
Ulat bunga (Maruca testualis) Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka,
kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan
kebun dari sisa-sisa tanaman.
Penyakit Antraknose (jamur Colletotricum lindemuthianum)
Gejala serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna
coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman.
Penyakit mozaik (virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV). Gejala: pada daun-daun
muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh
vektor kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu
daun, tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.
Penyakit sapu (virus Cowpea Witches-broom Virus Cowpea Stunt Virus.) Gejala:
pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang membentuk "sapu". Penyakit
ditularkan kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu
daun, tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.
Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) Gejala: tanaman mendadak layu dan
serangan berat menyebabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan
drainase dan pemusnahan.

Panen dan Pasca Panen


Ciri-ciri polong siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan
dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol. Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore
hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan. Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe
merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau tajam. Selepas panen, polong kacang
panjang dikumpulkan di tempat penampungan, lalu disortasi. Polong kacang panjang diikat
dengan bobot maksimal 1 kg dan siap dipasarkan.

B. BUDIDAYA MENTIMUN

Mentimun (Cucumis sativus L.) termasuk dalam famili Cucurbitaceae. Kegunaan


mentimun antara lain untuk makanan segar, jus/minuman dan sebagai bahan dasar acar.
Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup baik, namun pertumbuhan optimum pada
iklim kering dengan ketinggian 400 m dpl. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur 21,1 -
26,7C dan tidak banyak hujan. Tekstur tanah berkadar liat rendah dengan pH 6-7.

TEKNOLOGI BUDIDAYA
Perkecambahan Benih
Perkecambahan dilakukan di bak berukuran 10 x 50 cm atau tergantung kebutuhan. Bak
diisi pasir (yang telah diayak) setinggi 7-8 cm, dan diatas pasir tersebut dibuat alur tanam
berkedalaman 1 cm dan jarak antara alur 5 cm, panjang alur 4 cm sesuai dengan panjang bak.
Benih mentimun disebar dalam alur tanam secara rapat dan merata kemudian ditutup dengan
pasir dan disiram air hingga lembab.
Persemaian
Benih yang berkecambah dipindahkan kepolibag semai dan letakkan di tempat yang
terlindung dari sinar matahari, hujan dan juga OPT. Setelah berumur 12 hari atau berdaun 3-4
helai bibit dapat dipindahkan kelapangan.
Persiapan Lahan
Bersihkan lahan dari gulma, rumput, pohon yang tidak diperlukan. Berikan kapur
kalsit/dolomit pada pH tanah < 6, sebanyak 1-2 ton/ha, 3-4 minggu sebelum tanam. Tanah
dibajak/dicangkul sedalam 30-35 cm sambil membalikkan tanah dan biarkan 2 minggu. Olah
tanah kembali sambil membuat bedengan lebar 100 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan
30 cm. Tambahkan pupuk kandang 20-30 ton/ha atau 0,5 kg ke setiap lubang tanam 2 minggu
sebelum tanam.
Penanaman
Bibit yang sudah mempunyai 2-3 helai daun sejati siap ditanam. Ada beberapa cara
tanam yang dapat digunakan : Cara tanam baris dengan jarak tanam 30 x 40 cm (menggunakan
rambatan tunggal atau ganda), lubang tanam berupa alur. Cara tanam persegi panjang dengan
jarak tanam 90 x 60 cm (menggunakan sistem rambatan piramida). Cara tanam persegi panjang
dengan jarak tanam 80 x 50 cm (menggunakan sistem rambatan para-para).
Pemeliharaan
Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik.
Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan). Pasang ajir pada 5 hari setelah tanam
untuk merambatkan tanaman. Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah
tanam pada pagi atau sore hari. Pengairan dan penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore
hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit. Selanjutnya pengairan
hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan
pembuahan. Budidaya mentimun dapat juga dilakukan dengan menggunakan MPHP,
pemasangan dilakukan setelah pembuatan bedengan.
Pemupukan
Pupuk yang digunakan Urea 225, ZA 150 KCl 525 kg/ha. Pemupukan dilakukan dua kali
yaitu setengah dosis satu minggu sebelum tanam dan setengan dosis sisanya pada saat tanaman
berumur 30 hst. Pemupukan dilakukan secara tugal 10-15 cm dari batang tanaman atau dapat
juga dilakukan secara kocor terutama untuk pupuk susulan.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)


Beberapa OPT penting pada mentimun antara lain: Kumbang mentimun (Aulacophora
sp.) menyebabkan daun berlubang tak beraturan. Kumbang totol hitam (Henosepilachna Sp.)
menyebabkan kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini hampir sama dengan kerusakan yang
ditimbulkan oleh kumbang mentimun. Pengendalian secara fisik (mengambil dan
memusnahkan telur, larva, imago menjadi sumber inokulum penyakit). Pengendalian kimiawi
secara selektif mengunakan pestisida yang tepat.
Panen dan Pasca Panen
Panen pertama mentimun dapat dilakukan setelah tanaman berumur 75-85 hari. Masa
panen dapat berlangsung 1-1,5 bulan. Panen dilakukan setiap hari, umumnya diperoleh 1-2
buah/tanaman setiap kali petik. Produksi buah mentimun mencapai 12-30 ton/ha. Pasca panen,
mentimun mudah mengalami kehilangan kandungan air setelah panen sehingga buah menjadi
keriput dan tidak tahan lama. Oleh sebab itu setelah panen mentimun disimpan ditempat sejuk.
Sebaiknya disimpan pada wadah yang berlobang agar sirkulasi udara lancar.

C. Budidaya Jagung Manis


Persyaratan Benih
Benih yang akan digunakan sebaiknya beunutu tinggi, baik mutu genetik, fisik maupun
fisiologinya. Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, tidak tercampur benih/varietas
lain, tidak mengandung kotoran tidak tercemar hama dan penyakit). Benih yang demikian
dapat diperoleh bila menggunakan benih bersertifikat. Pada umunnya benih yang dibutuhkan
sangat bergantung pada kesehatan benih, kemurnian benih dan daya tumbuh benih.
Penggunaan benih jagung hibrida biasanya akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi.
Tetapi jagung hibrida mempunyai beberapa kelemahan dibandingkan varietas bersari bebas
yaitu harga benihnya yang lebih mahal dan hanya dapat digunakan maksimal 2 kali turunan
dan tersedia dalnm jumlah terbatas. Beberapa varietas unggul jagung untuk dipilih sebagai
benih adalah: Hibrida C l, Hibrida C 2, Hibrida Pioneer I, Pioneer 2, IPB 4, CPI-1, Kaliangga,
Wiyasa, Arjuna Baster.

Penyiapan Benih
Benih dapat diperoleh dari penanaman sendiri yang dipilih dari beberapa tanaman jagung yang
sehat pertmbuhannya. Dari tanaman terpilih, diambil yang tongkolnya besar, barisan biji lurus
dan penuh tertutup rapat oleh klobot, dan tidak terserang oleh hama penyakit. Tongkol dipetik
pada saat lewat fase matang fisiologi dengan ciri: biji sudah mengeras dan sebagian besar daun
menguning. Tongkol dikupas dan dikeringkan hingga kering betul. Apabila benih akan
disimpan dalam jangka lama setelah dikeringkan tongkol dibungkus dan disimpan dan
disimpan di tempat kering. Dari tongkol yang sudah kering, diambil biji bagian tengah sebagai
benih, Biji yang terdapat di bagian ujung dan pangkal tidak digunakan sebagai benih. Daya
tumbuh benih harus lebih dari 90%, jika kurang dari itu sebaiknya benih diganti. Benih yang
dibutuhkan edalah sebanyak 20-30 kg untuk setiap hektar,
Pengolahan Media Tanam
Pengolahan tanah bertujuan untuk: memperbaiki kondisi tanah, dan memberikan kondisi
menguntungkan bagi pertumbuban akar. Melalui pengolahan tanah drainase dan aerasi yang
kurang baik akan diperbaiki. Tanah diolah pada kondisi lembab tetapi tidak terlalu basah.
Tanah yang zudah gembur hanya diolah secara umum,
a. Persiapan
Dilakukan dengan cara membalik tanah dan memecah bongkah tanah agar diperoleh tanah
yang gembur untuk memperbaiki aerasi. Tanah yang akan ditanami (calon tempat barisan
tanaman) dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Tanah yang keras memerlukan
pengolahan yang lebih banyak. Pertama-tama tanah dicangkul/dibajak lalu dihaluskan dan
diratakan.

b. Pembukaan Lahan
Pengolahan Iahan diawali dengan membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya. Bila
perlu sisa tanaman yang cukup banyak dibakar. Abunya dikembalikan ke dalam tanah,
kemudian dilanjutkan dengan pencangkulan dan pengolahan tanah dengan bajak.

Teknik Penanaman
a) Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Dengan pola tanam ini
berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang tersedia (agroklimat tanah
tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi). Pola tanam di daerah tropis
seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan curah hujan
(terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya tergantung dari hujan. Maka pemilihan
jenis/varietas yang ditanampun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun
curah hujan. Pola tanam yang biasa diterapkan adalah Tumpang sari (lntercropping),
melakukan psnanaman lebih dari I tanamnn (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari
sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung ketela pohon
padi gogo.
b) Cara Penanaman
Pada jarak tanam 75 x 25 cm setiap lubang ditanam satu tanaman. Dapat juga digunakan jarak
tanam 75 x 5O cm, setiap lubang ditanam dua tanaman. Tanaman ini tidak dapat tumbuh
dengan baik pada saat air kurang atau saat air berlebihan. Pada waktu musim penghujan atau
waktu musim hujan hampir berakhir, benih jagung ini dapat ditanam. Tetapi air hendaknya
cukup tersedia selama pertumbuhan tanaman jagung. Pada saat penanaman sebaiknya tanah
dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah kering perlu diairi dahulu kecuali
bila diduga l-2 hari lagi hujan akan turun. Pembuatan lubang tanaman dan penanaman biasanya
memerlukan 4 orang (2 orang membuat lubang, 1 orang memasukkan benih, 1 orang lagi
memasukan pupuk dasar dan menutup lubang). Jumlah benih yang dimasukkan per lubang
tergantung yang dikehendaki, bila dikehendaki 2 tanaman per lubang maka benih yang
dimasukkan 3 biji per lubang, bila dikehendaki 1 tanaman per lubang, maka benih yang
dimasukkan 2 butir benih per lubang. Di lahan sawah irigasi, jagung biasanya ditanam pada
musim kemarau. Di sawah tadah hujan, ditanam pada akhir musim hujan. Di lahan kering
ditanam pada awal musim hujan dan akhir musim hujan.

Pemeliharaan
1) Penjarangan dan Penyulaman
Dengan penjarangan maka dapat ditentukan jumlah tanaman per lubang sesuai dengan yang
dikehendaki. Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman sedangkan yang dikehendaki hanya 2
atau l, maka tanaman tersebut harus dikurangi. Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik
dipotong dengan pisau atau gunting yang tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan
tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang
akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati.
Kegiatan ini dilakukan 7-10 hari sesudah tanam. Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam
penyulaman sama dengan sewaktu penanaman. Penyulaman hendaknya menggunakan benih
dari jenis yang sama Waktu penyulaman paling lambat dua minggu setelah tanam.
2) Penyiangan
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu (gulma).
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda
biasanya dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dan sebagainya yang penting dalam
penyiangan ini tidak mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum
cukup kuat mencengkram tanah. Hal ini biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

3) Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan bertujuan untuk memperkokoh
posisi batang sehingga tanaman tidak mudah rebah. Selain itu juga untuk menutup akar yang
bermunculan di atas peunukaan tanah karena adanya aerasi. Kegiatan ini dilakukan pada saat
tanaman berumur 6 minggu bersamaan dengan waktu pemupukan. Caranya tanah di sebelah
kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan
tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang. Untuk efisiensi tenaga
biasanya pembubunan dilakukan bersama dengan penyiangan kedua yaitu setelah tanaman
berumur 1 bulan.

4) Pemupukan
Dosis pemupukan jagung untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea sebanyak 200-300 kg,
pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCI sebanyak 50- l00 kg. Pemupukan dapat
dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan
dengan waktu tanam. Pada tahap kedua (pupuk susulan 1), pupuk diberikan setelah tanaman
jagung berumur 3-4 minggu setelah tanam. Pada tahap ketiga (pupuk susulan II), pupuk
diberikan setelah tanaman jagung berumur 8 minggu atau setelah malai keluar.

5) Pengairan dan Penyiraman


Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tenah telah lembab.
Pengairan berikutnya diberikan secukupnya dengan tujuan menjaga agar tanaman tidak layu.
Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan
air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

6) Waktu Penyemprotan Pestisida


Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang dapat
mernbahayakan proses produksi Jagung. Adapun pestisida yang digunakan yaitu pestisida yang
dipakai mtuk mengendaliknn ulat. Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperlihatkan
kelestarian musuh alami dan tingkat populasi hama yang menyerang sehingga perlakuan ini
akan lebih efisien.

Panen
Ciri dan Umur Panen:
Umur panen 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen
sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung dipanen ketika malang susu
dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang
fisiologis. Jagung siap dipanen jika klobot sudah mengering dan berwarna coklar muda, biji
mengkilap, dan bila ditekan dengan kuku tidak membekas.

D. BUDIDAYA SAWI

Sawi atau Caisin (Brassica sinensis L.) termasuk famili Brassicaceae, daunnya panjang,
halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Sawi mengandung pro vitamin A dan asam askorbat
yang tinggi. Tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga
dapat diusahakan dari dataran rendah sampai dataran tinggi, tetapi pertumbuhan dan produksi
sawi yang ditanam lebih baik di dataran tinggi. Biasanya dibudidayakan di daerah ketinggian
100 - 500 m dpl, dengan kondisi tanah gembur, banyak mengandung humus, subur dan
drainase baik. Tanaman sawi terdiri dari dua jenis yaitu sawi putih dan sawi hijau.

TEKNOLOGI BUDIDAYA
Benih
Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani karena benih yang
baik akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang bagus. Kebutuhan benih 650 gr/ha, bila
benih hasil pananaman sendiri maka tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur
di atas 70 hari dan penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun.
Persemaian/Pembibitan
Sebelum benih disebar, direndam dengan larutan Previcur N dengan konsentrasi 0,1 % selama
+ 2 jam. Selanjutnya benih disebar merata pada bedengan persemaian, dengan media semai
setebal + 7 cm dan disiram. Media semai dibuat dari pupuk organik dan tanah yang telah
dihaluskan dengan perbandingan 1 : 1. Benih yang telah disebar ditutup dengan media semai,
selanjutnya ditutup dengan alang-alang atau jerami kering selama 2-3 hari. Bedengan
persemaian tersebut sebaiknya diberi naungan.
Persiapan Lahan
Lahan terlebih dahulu diolah dengan cangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur, setelah
itu dibuat bedengan dengan arah membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya
penuh. Bedengan sebaiknya dibuat dengan ukuran lebar 100-120 cm, tinggi 30 cm dan panjang
sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan
pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomite 2-4 minggu sebelum tanam dengan dosis 1,5
t/ha.

Pemupukan
Tiga hari sebelum tanam berikan pupuk organik (kotoran ayam yang telah difermentasi)
dengan dosis 2-4 kg/m2. Dua minggu setelah tanam dilakukan pemupukan susulan Urea 150
kg/ha (15 gr/m2). Agar pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk
organik kemudian diberikan secara larikan di samping barisan tanaman. Selanjutnya dapat
ditambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 10 dan 20 hari setelah tanam.
Penanaman
Bibit umur 2-3 minggu setelah semai atau telah berdaun 3-4 helai, dipindahkan pada
lubang tanam yang telah disediakan dengan jarak tanam 20x20 cm atau sistem baris dengan
jarak 15x10-15 cm. Jika ada yang tidak tumbuh lakukan penyulaman, yaitu tindakan
penggantian tanaman dengan tanaman baru.
Pemeliharaan
Pada musim kemarau atau di lahan kurang air perlu penyiraman tanaman. Penyiraman
ini dilakukan dari awal sampai panen. Penyiangan dilakukan 2 kali atau disesuaikan dengan
kondisi gulma, bila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan
penyiangan.
Pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (OPT)
Untuk mencegah hama dan penyakit yang perlu diperhatikan adalah sanitasi dan drainase
lahan. OPT utama adalah ulat daun kubis (Plutella xylostella). Pengendalian dapat dilakukan
dengan cara pemanfaatan Diadegma semiclausuma sebagai parasitoid hama Plutella xylostella.
Jika terpaksa menggunakan pestisida, gunakan pestisida yang aman dan mudah terurai seperti
pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida
tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara
aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

Panen
Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu 1) mencabut seluruh tanaman beserta akarnya, 2)
memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah. Umur panen sawi + 40 hari
setelah tanam, sebaiknya terlebih dahulu dilihat fisik tanaman seperti warna, bentuk dan
ukuran daun.

E. BUDIDAYA TERUNG

Terung (Solanum melongena) merupakan tanaman semusim sampai setahun atau


tahunan, termasuk dalam famili Solanaceae. Tanaman terung berbentuk semak atau perdu,
dengan tunas yang tumbuh terus di ketiak daun sehingga tanaman terlihat tegak menyebar
merunduk.
Pada dasarnya terung dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi. Tanah yang
cocok untuk tanaman terong adalah tanah yang subur, tidak tergenang air, dengan pH 5-6, dan
drainase baik. Tanah lempung dan berpasir sangat baik untuk tanaman terung.

TEKNOLOGI BUDIDAYA
Benih
Kebutuhan benih untuk satu hektar 150-500 gr biji dengan daya tumbuh 75%. Biji
tumbuh kurang lebih 10 hari setelah disemai. Buah yang baik diperoleh dari buah yang warna
kulit buahnya sudah menguning minimum 75% terutama pada jenis terung besar dan dipanen
dengan memotong tangkai buahnya.
Persemaian
Sebelum disemai, benih direndam dalam larutan Previkur N (0,1%) selama 2 jam,
kemudian dikeringkan. Benih disebar merata pada bedengan dengan media berupa campuran
tanah dan pupuk organik (1:1) tutup dengan tanah tipis, kemudian ditutup dengan alang-alang
atau daun pisang selama 2-3 hari. Bedengan persemaian diberi naungan dan ditutup dengan
screen untuk menghindari serangan OPT. Setelah berumur 7-8 hari, bibit dipindahkan ke
bumbunan daun pisang/pot plastik dengan media yang sama. Lakukan penyiraman sesuai
dengan keadaan tanaman. Bibit siap dipindahkan ke lapangan setelah mempunyai 4-5 helai
daun.
Pengolahan Tanah
Tanah yang akan ditanami dicangkul 2-3 kali dengan kedalaman 20-30 cm. Buat
bedengan dengan lebar 100-120 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan, jarak
antara bedengan 50 cm. Pada tanah dengan pH <5 lakukan pengapuran dengan dolomit/kalsit
1-2 t/ha 3 minggu sebelum tanam. Diantara bedengan dibuat parit dengan kedalaman 30 cm.
Apabila menggunakan mulsa plastik, pemasangan dilakukan setelah pembuatan bedengan.
Pupuk organik atau kompos diberikan 0,5-1 kg per lubang tanam, 1 minggu sebelum tanam.
Penanaman
Penanaman dilakukan pada pagi atau sore hari. Jarak tanam dalam barisan 50-70 cm
(tergantung varietas) dan jarak antar barisan 80-90 cm, pada tiap bedengan terdapat dua baris
tanaman. Lakukan penyiraman secukupnya, karena tanaman tidak tahan terhadap kekeringan
dan kelebihan air.

Pemupukan
Pupuk buatan diberikan setelah tanaman berumur 1-2 minggu setelah tanam berupa ZA
dan ZK dengan perbandingan 1:1 sebanyak 10 gr/tanaman disekeliling tanaman dengan jarak
5 cm dari pangkal batang. Pemupukan berikutnya diberikan saat tanaman berumur 2-3 bulan,
berupa ZA 150 kg dan ZK 150 kg/ha. Pada musim kemarau pemupukan dianjurkan secara
kocor.
Pemeliharaan
Penyiangan dilakukan sesuai dengan keadaan gulma, dapat dilakukan secara manual atau
dengan cangkul. Penyiraman dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman, pada musim hujan
drainase perlu diperdalam. Pertumbuhan tanaman yang terlalu subur perlu dilakukan
perompesan yaitu pengurangan daun. Pada tanaman yang relatif lebih tinggi perlu pemasangan
ajir.
Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
Hama utama yang menyerang tanaman terung antara lain kutu daun (Myzus persicae), kutu
kebul (Bermisida tabaci), pengorok daun (Lirimyza sp.), dan oteng-oteng (Epilachna sp.)
Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap kuning sebanyak 40 buah/ha.
Penyakit utama yang menyerang tanaman layu bakteri, busuk buah bercak daun antraknose
busuk leher akar dan rebah semai. Pengendalian dilakukan dengan menanam varietas tahan,
atur jarak tanam dan pergiliran tanaman, perbaikan drainase, atur kelembaban dengan jarak
tanam agak lebar, cabut dan buang tanaman sakit. Apabila harus menggunakan pestisida
gunakan pestisida yang aman dan selektif seperti pestisida nabati, biologi atau pestisida
piretroid sintetik.
Panen
Buah pertama dapat dipetik setelah umur 3-4 bulan tergantung dari jenis varietas. Ciri-
ciri buah siap panen adalah ukurannya telah maksimum dan masih muda. Waktu yang paling
tepat untuk panen pagi atau sore hari. Cara panen buah dipetik bersama tangkainya dengan
tangan atau alat yang tajam. Pemetikan buah berikutnya dilakukan 3-7 hari sekali dengan cara
memilih buah yang sudah siap dipetik.
3. Pasca Panen dari tanaman kacang panjang, mentimun, jagung manis, sawi,terung

A. Kacang Panjang
1. Sortasi.
Tidak semua kacang yang telah dipanen layak dipasarkan, sehingga perlu disortasi atau
pemilahan berdasarkan kualitas dan keseragaman, Polong kacang panjang dipilah antara yang
baik dan yang cacat. Polong yang cacat berbintik hitam, berlubang, atau busuk disisihkan.
Ukuran sasaran ekspor, kriteria ketuaan paling muda yaitu ukuran polong sesuai permintaan
pasar, tingkat ketuaan polong tergolong muda, penampilan biji tidak menonjol dan berwarna
hijau dan segar. Sedangkan polong tua yang sudah kering dipisahkan dari kulit polong dan biji
dikeringkan sampai 12%-14% kadar airnya. Untuk pasar tradisional, sortasi kurang diperhatikan
karena pasar tradisional tidak menuntut keseragaman kualitas yang baik sedangkan pasar
swalayan yang menghendaki produk yang seragam dan baik kualitasnya.

2. Pengemasan
Pengemasan bertujuan untuk memudahkan dalam pengangkutan. Kacang panjang yang akan
dipasarkan di pasar tradisional biasanya tidak dikemas secara khusus. Pengemasan dilakukan
sederhana dalam bentuk ikatan besar atau kecil yang beratnya sekitar 250-2.000 gram tiap ikat.
Ikatan kacang panjang biasanya menggunakan tali rafia atau tali bambu. Ikatan dikemas dalam
karung goni yang berventilasi atau dalam kantong plastik polyelene. Setelah diikat, sayuran
langsung disusun pada kendaraan pengangkut. Penyusunan diatur agar tumpukan tidak terlalu
padat karena akan merusak sayuran. Apabila kacang panjang akan dipasarkan untuk jarak jauh,
sebaiknya dikemas dalam peti, keranjang bambu atau plastik agar tidak cepat rusak.
Untuk konsumsi pasar swalayan, kacang panjang juga dikemas sederhana. Setiap kelompok
diikat dengan plastik isolasi dan diberi label. Ikatan-ikatan tersebut dimasukkan ke dalam
keranjang plastik, selanjutnya siap dipasarkan. Untuk polong tua dikemas dalam kaleng yang
tertutup rapat, sebelumnya dimasukkan ke dalam wadah sebaiknya dicampur dulu dengan
minyak jagung supaya terlindung dari hama penggerek.

3. Pengangkutan
Untuk pemasaran jarak jauh diusahakan sayuran terlindung dari sinar matahari dan hujan agar
tidak cepat layu atau busuk. Sebaiknya kacang panjang yang selesai dipanen langsung diangkut
agar diterima konsumen dalam keadaan masih segar.

B. Pasca Panen Mentimun


Penanganan pasca panen.
Tujuan kegiatan ini adalah agar mentimun yang telah dipanen terlindungi dari kerusakan fisik
dan kebusukan sehingga mentimun sampai ke konsumen tetap baik.
Agar kualitas hasil panen dari budidaya mentimun ini tetap terjaga, perlu dilakukan penanganan
pascapanen dengan baik. Diantaranya penyortiran buah mentimun berdasarkan kualitas serta
ukuran serta pengepakan/pengemasan yang baik. Selanjutnya buah mentimun siap diangkat
untuk dipasarkan.

a.Sortasi.
Kegiatan ini dilakukan memisahkan buah yang kurang baik bentuknya atau bengkok, busuk atau
rusak dari buah yang baik. Untuk mentimun jepang dilakukan sortasi kualitas untuk sasaran
pasaran swalayan, buah mentimum diklasifikasikan sesuai dengan kriteria kualitas yang diminta
konsumen.
Kelas A: panjang 16-20cm, diameter 1,5 cm, bentuk buah bagus, lurus bulat dan mulus.
Kelas B: panjang 20-23cm, diameter 2,0 cm bentuk buah bagus, lurus, bulas dan Mulus
Kelas C: buah afkiran yang panjangnya lebih dari 23 cm.

b.Kemasan.
Pengemasan bertujuan untuk memudahkan dalam pengangkutan. Untuk memenuhi permintaan
pasar swalayan, mentimun biasanya dikemas menggunakan plastik wrap-ing. Posisi buah diatur
sedemikian rupa, baik secara berdiri maupun ditidurkan bersusun agar buah tidak patah pada saat
pengangkutan ke pasar. Kritera di luar grade mentimun acar dan mentimun besar termasuk ke
grade C dengan spesifikasi bentuk bengkok, kulit kurang mulus, tetapi performa buah segar.
Buah yang termasuk grade C bisa langsung dikemas ke dalam karung jaring untuk dijual ke
pasar tradisional.

c.Pengangkutan.
Mentimun yang telah dikemas, disusun dalam kendaraan. Sebaiknya mentimun yang telah
dipanen langsung diangkut agar diterima oleh konsumen dalam keadaan masih segar. Apabila
mentimun di pasarkan untuk jarak jauh diusahakan mentimun terlindung dari sinar matahari dan
hujan agar mentimun tetap segar dan tidak busuk. Klasifikasi buah mentimun dibedakan tiga
kelas, yaitu: Khusus untuk mentimun asinan, kriteria panjang buah tidak menjadi patokan, tetapi
diameternya tidak lebih dari 4 cm. Meskipun demikian, kriteria kualitas mentimun ini tidak sama
di setiap daerah atau pasar, tergantung selera konsumen. Mentimun yang telah disortasi segera
dicuci dalam air mengalir atau air yang disemprotkan hingga bersih. Selesai pencucian langsung
ditiriskan di tempat yang kering untuk menghilangkan air yang menempel.

C. Pasca Panen Jagung Manis

a. Penyortiran
Penyortiran merupakan proses melakukan pemisah-misahan antara jagung manis yang bermutu
dengan yang tidak bermutu. Antara tongkol yang berkualitas diletakkan di tempat yang berbeda
dengan jagung manis yang tidak bermutu. Untuk melihat bermutu atau tidaknya jagung manis
dapat dilakukan dengan cara melihat bagian luar jagung tersebut. Apabila masih dalam keadaan
bagus dan tidak ada pembusukan disalah satu sisinya berarti itu adalah jagung yang bermutu.
Tidak hanya itu saja, penyortiran juga dapat didasarkan pada ukuran dari jagung
tersebut.Pisahkan antara jagung yang berukuran lebih kecil dengan ukuran yang lebih besar.

b. Merapikan tongkol
Pada umumnya, tongkol jagung masih belum tertata dan perlu dirapikan. Merapikan tongkol
dapat dilakukan dengan cara memotong tongkol tersebut dengan menggunakan pisau atau
gunting khusus untuk merapikan tongkol.

c. Membuang klobot terluar


Klobot merupakan bagian yang digunakan untuk melapisi jagung manis tersebut. Pada saat
pemanenan berlangsung, klobot tidak boleh dibuang. Namun, ketika sudah masuk ke tahap
pascapanen, klobot perlu dibuang. Akan tetapi, klobot yang dibuang bukanlah seluruh klobot
melainkan hanya klobot bagian luar saja. Itu pun hanya dua lapis klobot saja yang perlu dibuang.

d. Pengemasan
Pengemasan jagung manis dapat dilakukan dimana saja. Namun, yang paling baik adalah
dikemas di dalam plastik. Untuk plastik yang berukuran besar dapat diisi lebih kurang satu
kilogram jagung manis atau kira-kira 5-7 tongkol jagung manis.Simak juga Pengendalian Hama
Pada Jagung Manis Terbukti Ampuh. Pengemasan juga dapat dilakukan di dalam karung plastik,
keranjang, atau goni. Wadah untuk pengemasan disesuaikan dengan tujuan pemasaran. Apabila
pemasaran dilakukan di supermarker, maka pengemasan dapat dilakukan di plastik transparan.
Plastik mempunyai fungsi sendiri.
Fungsi plastik adalah untuk mencegah kehilangan air, memperpanjang kesegaran, menjaga
kelembapan, melindungi tongkol dari kerusakan mekanis, serta dapat mencegah kontaminasi
serangga dan debu.

e. Penyimpanan
Apabila tidak segera didistribusikan, simpan segera jagung yang telah dikemas di dalam wadah
berpendingin untuk mengurangi proses pembusukan yang cepat. Penyimpanan dapat dilakukan
di tempat yang dingin dengan temperatur 2-4 derajat celcius.
Tujuan dari penyimpanan sendiri adalah untuk mempertahankan kemanisan hingga lima hari
kedepannya.

D. Pasca Panen Sawi


Cara Penanganan Pasca Panen
a. Pengumpulan
Pengumpulan dilakukan setelah panen dengan cara meletakkan di suatu tempat yang teduh
agar tidak terkena sinar matahari langsung, karena dapat membuat daun layu.
b. Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan dengan memisahkan bayam yang busuk dan rusak dengan
bayam yang baik dan segar. Disamping itu juga penggolongan terhadap bayam yang
daunnya besar dan yang daunnya kecil.Setelah itu diikat besar - besar maupun langsung
degan ukuran ibu jari.
c. Penyimpanan
Penyimpanan untuk menjaga kesegaran bayam dapat diperpanjang dari 12 jam tempat
terbuka (suhu kamar) menjadi 12 - 14 hari dengan perlakuan suhu dingin mendekati 0
derajat C, misalnya dengan remukan es.
d. Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan (pewadahan) dalam telombong atau dedaunan yang digulungkan menyelimuti
seluruh bagian bayam, sehingga terhindar dari pengaruh langsung sinar matahari.
Pengangkutan ke pasar dengan cara dipikul maupun angkutan lainnya, seperti mobil atau
gerobak.
e. Pencucian
Pencucian hasil panen pada air yang mengalir dan bersih, atau air yang disemprotkan
melalui selang maupun pancuran.
f. Penanganan Lain
Bayam dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan.Sewaktu memasak bayam ialah tidak
boleh terlalu lama.Bayam cukup hanya direbus selama 5 menit. Memasak bayam terlalu
lama akan menyebabkan daun-daunnya menjadi hancur (lonyoh), rasanya tidak enak, dan
kandungan vitamin C-nya menguap (menghilang).

E. Pasca Panen Terong

a. Pre-sorting
Pre-sorting biasanya dilakukan untuk mengeliminasi produk yang luka, busuk atau cacat
lainnya sebelum pendinginan atau penanganan berikutnya. Pre-sorting akan menghemat
tenaga karena produk-produk cacat tidak ikut tertangani. Memisahkan produk busuk akan
menghindarkan penyebaran infeksi ke produk-produk lainnya, khususnya bila pestisida
pascapanen tidak dipergunakan.
b. Pencucian/ pembersihan
Kebanyakan buah dan sayuran membutuhkan pembersihan untuk menghilangkan kotoran
seperti debu, insekta atau residu penyemprotan yang dilakukan sebelum panen. Pembersihan
dapat dilakukan dengan sikat atau melalukan pada semprotan udara. Namun lebih umum
digunakan dengan penyemprotan air atau mencelupkan ke dalam air. Bila kotoran agak sulit
dihilangkan maka dapat ditambahkan deterjen. Sementara pencucian dilakukan sudah dengan
efektif menghilangkan kotoran, maka disinfektan dapat ditambahkan untuk mengendalikan
bakteri dan beberapa jamur pembusuk. Klorin adalah bahan kimia yang umum ditambahkan
untuk pengendalian mikroorganisme tersebut. Namun klorin efektif bila larutan dijaga pada
pH netral. Perlakuan klorin dengan konsentrasi 100-150 ppm dapat membantu mengendalikan
patogen selama operasi lebih lanjut.

c. Pelilinan
Pelilinan sayuran dalam bentuk buah seperti mentimun, terung, tomat dan buah buahan
seperti apel dan peaches adalah umum dilakukan. Lilin alami yang banyak digunakan adalah
shellac, carnauba atau beeswax (lilin lebah) yang semuanya digolongkan sebagai food grade.
Pelapisan lilin dilakukan adalah untuk mengganti lilin alami buah yang hilang karena operasi
pencucian dan pembersihan, dan dapat membantu mengurangi kehilangan air selama
penanganan dan pemasaran serta membantu memberikan proteksi dari serangan
mikroorganisme pembusuk. Bila produk di lilin, maka pelapisan harus dibiarkan kering
sebelum penanganan berikutnya.

d. Grading
Buah-buahan, sayur-sayuran dan bunga-bungaan adalah kelompok produk yang non-
homogenous. Mereka memiliki variasi antar group, antar individu dalam kelompok dan antar
daerah produksi. Perbedaan timbul karena perbedaan kondisi lingkungan, praktik budidaya dan
perbedaan varietas. Sebagai akibatnya, setiap operasi grading harus menangani variasi dalam
total volume produk, ukuran individu produk, kondisi produk (kematangan dan tingkat
kerusakan mekanis) dan keringkihan dari produk. Beberapa factor lainnya juga berpengaruh
terhadap mutu sebelum produk degrading, meliputi Stadia kematangan saat pemanenan,
Metode untuk mentransfer produk dari lapangan ke tempat grading, Metode panen dan Waktu
yang dibutuhkan antara panen dan grading.

Penggunaan Kemasan Aktif Polietilen Densitas Rendah


Penggunaan Kemasan Aktif ini bertujuan untuk meningkatkan daya simpan terong agar
kualitas dan kuantitas produk terong tidak menurun ketika disimpan dalam waktu lama.
Pengguanaan Kemasan Aktif polietilen ini diaplikasikan dengan cara terung dicuci dan
disortasi, kemudian dikeringanginkan. Ditimbang beratnya, kemudian diberi perlakuan air
panas (hot water treatment) kemudian ditambah bahan aktif sebagai berikut : buah direndam
dalam air hangat suhu 53oC selama 3 menit, kemudian segera didinginkan dengan air dingin
suhu 20oC dan dikeringanginkan. Bahan penjerap etilen berupa KMnO 4 dibuat dengan cara
menjerapkan larutan KMnO4 100% pada Ca(OH)2yang berbentuk tepung. Bahan penjerap
oksigen adalah serbuk besi, penjerap karbondioksida adalah MgO, dan penjerap uap air
menggunakan CaO. Bahan-bahan penjerap ini dimasukkan ke dalam sachet terbuat dari kertas
saring.Banyaknya bahan penjerap oksigen yaitu serbukbesi adalah 2 gram sedangkan untuk
penjerap karbondioksida yaitu MgO, penjerap uap air yaitu CaO dan etilen yaitu KMnO 4 yang
telah dijerap pada Ca(OH)2sebanyak 5 gram. Hasilnya, buah terong lebih tahan lama saat
disimpan. Buah terong dengan aplikasi kemasan aktif polietilen menyebabkan susut bobot
lebih lama, kehilangan kadar air rendah, dan warna, tekstrur serta aroma buah tidak berubah
(Naibaho, Joncer dkk. 2013).

Sumber:
1. Ir. Rahmat Rukmana, 1994 Budidaya Mentimun
2. Ir. Wahyudi, 2011. Meningkatkan Hasil Panen Sayuran denganTeknologi EMP
3. http://www.petanihebat.com/2014/02/panen-dan-pasca-panen-kacang-panjang.html Diunduh
pada 24 Maret 2017.
4. Syafri.E.,et.al.2010. Budidaya Tanaman Sayuran.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Jambi,Balai Besar pengkajian dan Pengembangan Pertanian Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian Kementrian Pertanian.
5. Naibaho, Joncer. Elisa Julianti, Era Yusraini. 2013. Penyimpanan Buah Terung Belanda
dengan Kemasan Aktif Menggunakan Bahan Penjerap Oksigen, Karbondioksida, Uap Air dan
Etilen. J. Rekayasa Pangan dan Pert., 1(3):41-51.