Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM IRIGASI DAN DRAINASE

ACARA XI

PENGUKURAN DEBIT AIR SALURAN TERBUKA DAN


MENGHITUNG LAMA WAKTU IRIGASI

Nama : Triliyune Saragih

NPM : E1J013071

Shift : Senin, 08.00-10.00

Dosen : Sigit Sudjatmiko, Ph.D

LABORATORIUM AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Debit adalah banyaknya air yang mengalir persatuan waktu. Biasanya banyak air
yang mengalir diukur dengan satuan liter atau m 3 dan satuan waktu pengaliran
adalah detik, menit atau jam.
Besarnya debit air yang mengalir terutama ditentukan oleh dua faktor yaitu; luas
penampang lintang aliran air dan kecepatan aliran air. Secara matematis hal tersebut
diatas dapat diformulasikan sebagai berikut:

Q = A x V ..............................................( 1 )

Keterangan :
Q = debit air, m3/det
A = luas penampang lintang air yang mengalir (m2)
V = Kecepatan aliran air, m/det
Nilai V yang diperoleh dengan metode pelampung masih merupakan nilai kasar
atau nilai yang mencerminkan nilai kecepatan aliran air permukaan. Untuk
memperoleh kecepatan aliran sesungguhnya nilai V yang diperoleh dapat
menggunakan rumus yang telah dipelajari pada kegiatan pratikum ke-8

1.2 Tujuan Praktium


Mengetahui besar debit air yang mengalir disaluran irigasi lahan sawah dikemumu
argamakmur serta menghitung waktu yang diperlukan untuk mengaliri lahan sawah
yang ditetapkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Debit diartikan sebagai volume air yang mengalir per satuan waktu melewati suatu
penampang melintang palung sungai, pipa, pelimpah, akuifer dan sebagainya. Data
debit diperlukan untuk menentukan volume aliran atau perunahan perubahannya
dalam suatu sistem DAS. Data debit diperoleh dengan cara pengukuran debit langsung
dan pengukuran tidak langsung, yaitu dengan menggunakan liku kalibrasi (Soemarto,
1981).

Debit air biasanya digunakan untuk menghitung berapa besar masa air sungai yang
masuk ke laut. Dalam menentukan debit air sungai ini perlu di ketahui luas penampang
sungai, yaitu dengan mengukur kedalaman, masing-masing titik pengukuran (Suyono,
1985)

Teknik pengukuran debit aliran di lapangan dapat dilakukan melalui empat kategori,
yaitu (a). Pengukuran volume air sungai, (b). Pengukuran debit dengan cara mengukur
kecepatan aliran dan luas penampang melintang, (c). Pengukuran debit dengan
menggunakan bahan pewarna yang dialirkan dalam aliran sungai, (d). Pengukuran debit
dengan membuat bangunan pengukur debit seperti weir dan flume. Penjelasan tentang
pengukuran debit menggunakan weir dan flume dapat dilihat pada lampiran. Diantara
beberapa teknik pengukuran debit yang ada, pengukuran debit aliran yang sederhana
adalah menggunakan rumus kontinyuitas. Debit aliran (Q) dipertoleh dengan
mengalikan kecepatan aliran (V) dengan luas penampang melintang (A), secara
matematis dirumuskan sebagai berikut (Ongkosongo, 1980).

Q = A.V.

Kedalaman adalah dimana batas dasar aliran , oleh karena itu menjadi suatu hal
yang sangat penting dalam mengukur debit air. Semakin dalam perairan maka hasil
pengamatan yang didapat jauh dari faktor arus berbentuk-bentuk (meander) atau arus
turbulen. Kedalaman perairan adalah jarak vertical dari permukaan sampai ke dasar
perairan yang biasanya dinyatakan dalam meter (Kartasapoetra, 1986)

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


1. Pelampung
2. Current meter
3. Stop watch
4. Meteran/alat pengukur panjang

3.2 Prosedur Kerja

1. Memilih saluran irigasi di daerah kemumu yang sudah dekat dengan sawah.
Dipilih lokasi yang lurus dengan perubahan lebar sungai, dalam air dan gradien
yang kecil.

2. Menetapkan dua buah titik (patok) tempat pengamatan dengan jarak 50 100 m.

3. Kemudian melemparkan pelampung ke sungai dengan jarak 10 20 meter hulu


titik pengamatan pertama.

4. Mencatat waktu tempuh pelampung antara dua titik pengamatan (yang ada di
atas) dengan menggunakan stop watch.

5. Kecepatan aliran dapat diperoleh dengan membagi jarak tempuh dengan waktu
tempuh pelampung antara dua titik pengamatan.

6. Selain dengan pelampung, praktikan mengukur dengan alat current meter yang
disediakan.

7. Memilih kedalaman tertentu dari saluran irigasi, mengukur kecepatan alirannya


pada berbagai kedalaman sesuai dengan kondisi di lapang.

8. Mengukur luas penampang lintang aliran air, maka bagian penampang aliran
tersebut dibagi atas beberapa bagian, sesuai dengan lebar dan kondisi dasar dari
aliran air. Tujuan pembagian ini adalah untuk memperoleh hasil penghitungan
yang mendekati luas sebenarnya.

9. Jumlah luas dari bagian bagian tersebut merupakan luas penampang lintang
aliran.

10. Pengukuran kecepatan aliran air dilakukan sebayak satu kali.


11. Menghitung berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengairi sawah seluas 1 ha
dengan volume 200 mm.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Data saluran irigasi


Panjang = 10 M
Lebar = 0,58 M
Kedalaman = 68 cm = 0,68 M
Kecepatan arus menggunakan Current meter
Luas trapesium =
Permukaan = 0,6 m/s 210 cm luas penampang
20 % = 0,7 m/s 58 58 cm
cm aliran
50 % = 0,7 m/s
60 % = 0,7 m/s x (s1 + s2) x t =
80 % = 0,7 m/s x (210 + 94) x 68
Dasar = 0,5 m/s 68 =
cm = 10336 cm2
94
cm = 103,36 m2
Metode Pelampung
Tabel Pelampung Gabus
Ulangan Jarak Waktu Tempuh Kecepata Luas Debit
tempu (detik) n aliran penam (m3/de
h (m) (m/det) pang tik)
saluran
(m2)
1 10 23 0,4 103,36 51,68
2 10 22 0,4 103,36 51,68
3 10 24 0,4 103,36 51,68
Rata-rata 10 23 0,4 103,36 51,68

Tabel Pelampung Kayu


Ulangan Jarak Waktu Tempuh Kecepata Luas Debit
tempuh (detik) n aliran penamp (m3/det
(m) (m/det) ang ik)
saluran
(m2)
1 10 17 0,5 103,36 51,68
2 10 16 0,6 103,36 62,016
3 10 15 0,6 103,36 62,016
Rata-rata 10 16 0,56 103,36 58,570

Tabel pengukuran debit air metode kipas (current meter)


Kecepattan Kedalaman (m) Lebar Luas Debit
aliran (m) penampang (m3/det)
(m/det) saluran (m2)
Permukaan 0,6 0 0,58 103,36 62,016
20 % 0,7 0,13 0,58 103,36 72,352
50 % 0,7 0,34 0,58 103,36 72,352
60 % 0,7 0,40 0,58 103,36 72,352
80 % 0,7 0,54 0,58 103,36 72,352
Dasar 0,5 0,68 0,58 103,36 51,68
Rata-rata 0,65 0,34 0,58 103,36 66,150

a. ETC = ET0 x Kc
= 4 x 1,2
= 4,8 mm

b. Kebutuhan air tanaman per hari


1 ha x 4,8 mm = 10000 m2 x 0,0048 m
= 48 m3

c. A = p x l
= 26 cm x 53 cm
= 1378 cm2 = 0,1378 m2
= 0,14 m2

d. Q = A x V
= 0,14 m2 x 0,2 m/s
= 0,028 m3/s

e. Waktu yang dibutuhkan untuk mengairi lahan 1 ha :


48 m3 / 0,028 m3/s = 1714,28 s / 60 s = 29 menit.

4.2 Pembahasan

Debit aliran adalah laju aliran air yang melewati suatu penampang melintang pada
sungai persatuan waktu. Fungsi dari pengukuran debit aliran adalah untuk mengetahui
seberapa banyak air yang mengalir pada suatu sungai dan seberapa cepat air tersebut
mengalir dalam waktu satu detik.

Pada percobaan acara ke-9 ini yang dilakukan adalah mengukur aliran air yang
terdapat di saluran irigasi Kemumu Arga Makmur Bengkulu Utara. Pengukuran sebit air
yang dilakukan yaitu menggunakan dua metode antara lain metode pelampung dan
metode kipas. Dimana metode pelampung menggunakan gabus dan kayu dimana
metode ini dilakukan dengan ulangan sebanyak 3 kali, sedangkan metode kipas
menggunakan Current meter dengan bagian aliran 20 %, 50 %, 60 %, 80 %, dan 100 %.

Pada metode current meter sesungguhnya dasar perairan berpengaruh juga terhadap
nilai h karena dasar perairan yang berlumpur membuat kaki atau dasar papan bercelah
akan terbenam beberapa centimeter yang mengakibatkan terjadi perubahan nilai h dan
pada akhirnya nilai H pun ikut berubah. Dari hasil debit air diatas juga dapat kita
ketahui bahwa perairan yang menjadi objek praktikum termasuk kedalam komunitas
lotik zona tenang (pool zone).

Pada percobaan pengukuran dilakukan di tiga saluran, yaitu saluran primer,


sekunder dan saluran tersier. Pada saluran primer dilakukan pengukuran debit air
dengan metode pelampung dan metode kipas. Pada pengukuran debit air menggunakan
metode pelampung dengan menggunakan gabus dan kayu, dapat dilihat pada tabel hasil
pengamatan bahwa waktu tempuh kayu lebih cepat dari pada waktu tempuh gabus, hal
ini terjadi karena berat jenis kayu lebih besar dari gabus, sehingga waktu tempuh kayu
di aliran air lebih cepat dari gabus. Perbedaan ini juga dapat disebabkan karena
beberapa faktor yakni : Semakin basah gabus atau kayu tersebut maka laju aliran akan
semakin lambat, hal ini terjadi karena kadar air yang dikandung gabus atau kayu
tersebut banyak sehingga akan lebih berat. Sedangkan pada gabus atau kayu kering laju
aliran akan semakin cepat hal ini juga dipengaruhi oleh kandungan air yang terkandung
didalamnya.
Pada saluran skunder, dilakukan pengamatan pada alat bangun bagi air yang disebut
oriface, dimana alat ini berfungsi untuk membagi air yang akan dialirkan. Pada saluran
tersier dilakukan perhitungan debit air yang akan dialirkan ke lahan sawah petani.
Dimana diasumsikan bahwa awal dengan luas sawah 1 ha, yang ditanami tanaman padi
dengan kondisi vegetatif 1 dn vegetatif 2 dimana ET 0 = 4, dan Kc = 1,2. Maka dari
perhitungan yang telah kami lakukan, didapat kebutuhan air tanaman perhari sebesar 48
m3, luas penampang sebesar 0,14 m2. Dari hasil perhitungan tersebut didapat hasil
untuk debit air sebesar 0,028 m3/s dan waktu yang diperlukan untuk mengairi sawah
seluas 1 ha adalah 28 menit.
BAB V

KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah di lakukan di saluran irigasi Kemumu Arga Makmur
Bengkulu Utara dapat disimpulkan bahwa debit air yang mengalir di daerah sawah
dengan asumsi luas sawah 1 ha, yang ditanami tanaman padi dengan kondisi vegetatif 1
dn vegetatif 2 dimana ET0 = 4, dan Kc = 1,2. Maka dari perhitungan yang telah kami
lakukan, didapat kebutuhan air tanaman perhari sebesar 48 m3, luas penampang sebesar
0,14 m2. Dari hasil perhitungan tersebut didapat hasil untuk debit air sebesar 0,028 m 3/s
dan waktu yang diperlukan untuk mengairi sawah seluas 1 ha adalah 28 menit.
DAFTAR PUSTAKA

Kartasapoetra, A.G. dan Sutedjo Mulyani. 1986. Teknologi Pengairan Pertanian.


Jakarta. Bina Aksara.

Ongkosongo. 1980. Pengelolaan Air Irigasi. Dinas Pertanian Jawa Timur.

Penuntu praktikum irigasi dan drainase. 2015. Buku penuntun praktikum irigasi dan

drainase. Bengkulu. Unib

Soemarto. 1981. Hidrologi Jilid 1. Bandung : Penerbit Nova.

Soewarno. 1995. Hidrologi Pengukuran dan Pengelolaan Data Aliran Sungai


(Hidrometri).Bandung : Penerbit NOVA.
Suyono.1985. Hidrologi Untuk Pengairan.Jakarta : Penerbit Pradnya