Anda di halaman 1dari 14

Wellsite Geologist Mata Eksplorasi

POSTED BY ROCHMADGEOLOGI JULI 8, 2011 TINGGALKAN KOMENTAR

I. PENDAHULUAN

Dalam menuntaskan pencarian Minyak dan Gas Bumi, diperlukan bermacam-macam cara penyelidikan dan

evaluasi yang berpedoman pada berbagai ilmu pengetahuan. Pembuktian adanya hidrokarbon secara langsung

adalah melalui pemboran, baik pemboran eksplorasi (wildcat atau delineasi) maupun pemboran

pengembangan. Pemboran merupakan klimak dari aktivitas pencariaan hidrokarbon yang berawal dari

penyelidikan dan evaluasi Geologi & Geofisika (G&G), hingga mendapatkan titik lokasi pemboran.

Kegiatan pemboran merupakan kegiatan operasi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu : Kebumian (G&G),

Perminyakan, Pemboran (drilling), Logistik, Civil Engineering (konstruksi), Topografi, Health, Safety &

Environment (HSE), Telecomunication dan penunjang lainnya (Mud/Lumpur Pemboran, Cementing, Logging,

Data Unit, Testing).

Sumur Eksplorasi sampai saat ini mempunyai status sebagai Sumur Direksi, walaupun usulan pemboran,

pembiayaan dan pelaksanaan sepenuhnya di bawah kendali Eksplorasi. Pelaksana lapangan yang menangani

informasi kebumian sewaktu pemboran sumur disebut Wellsite Geologist (mutlak harus seorang Geologist).

Tugas-tugas ini harus sinergi dengan pihak-pihak lain. Untuk itu perlu kerja sama yang baik dengan

Toolpusher/Driller, ATL/Mud Engineer, Mud logging Engineer dan pihak-pihak yang sifatnya menunjang

kelancaran operasi.

Salah satu tugas utama wellsite geologist adalah pengumpulan data bawah permukaan semaksimal mungkin,

sehingga seorang wellsite geologist dapat memprediksi karakter dan fenomena geologi bawah permukaan,

termasuk karakter reservoir dan sifat-sifat petrofisikanya, terutama sekali dapat mengindikasi kandungan

hidrokarbon di sumur tersebut, dan data yang erat kaitannya dengan masalah geologi, petrofisika serta

karakteristik sumur yang dibor. Data tersebut akan diperlukan nantinya untuk evaluasi lanjut sumur-sumur

berikutnya.

II. PERSIAPAN SEBELUM PEMBORAN

Sebelum pemboran eksplorasi dimulai, terlebih dahulu diselesaikan pekerjaan-pekerjaan yang meliputi :

1. Penentuan titik lokasi di lapangan (koordinat yang telah dikontrol oleh pengukuran yang akurat)

2. Pembebasan tanah

3. Pembuatan jalan, lokasi dan camp

4. Rig move dan Rig up

5. Persediaan air untuk lokasi dan camp

6. Perlengkapan wellsite geologist :

a. Camp yang dilengkapi dengan meja, kursi, tempat tidur, bak air & kerangan tempat mencuci cutting

b. Final Log sumur-sumur terdekat dan montage usulan pemboran

2
c. Perangkat komputer dan printer

d. Mikroskop binokular (10 x sampai 30x)

e. Flouroscope

f. Cairan kimia terdiri dari :

Chlorothene/Trichlorothene

Chloroform

Aceton

HCl 10%

Aquadest

Tray untuk pemerian batuan

Plate untuk pengamatan Hidrokarbon

g. Perlengkapan tulis menulis

h. Blangko untuk laporan

i. Tempat contoh batuan (serbuk bor)

Sampel kering

Sampel basah

Kaleng Geokimia

Peti untuk tempat coring dan kelengkapan untuk packing coring, seperti lilin, kertas alluminium dll.

Biasanya c sampai i disediakan oleh Mud Logging Unit. Wellsite bertugas untuk memeriksa kelengkapannya.

III. PERAN WELLSITE GEOLOGIST

1. Umum

Selama pemboran berlangsung, wellsite geologist disamping melakukan tugas-tugas utamanya yang

menyangkut pengambilan contoh serbuk bor (cutting), teras samping (side wall coring), teras inti (coring),

diskripsi batuan serta pengamatan indikasi hidrokarbon, korelasi dan lain sebagainya, juga mempunyai tugas

yang sifatnya kerjasama, pengawasan/penyaksian (witness) dalam operasi pemboran.

1.1. Kerja sama

Dalam rangka membangun tim kerja yang efisien, wellsite geologist selama pemboran berlangsung, perlu

membina kerja sama yang baik, terutama dengan Toolpusher, Ahli Teknik Lapangan (ATL) dan fungsifungsi

terkait lain yang mendukung jalannya operasi. Hubungan kerjasama ini yang terpenting menyangkut masalah

masalah pemboran, lumpur pemboran dan pencatatan data operasi.

1.1.1. Pemboran

Untuk mengetahui macam, jenis dan fungsi alat pemboran perlu kerjasama /informasi dari Toolpusher

Secara garis besar alat pemboran bisa dibagi sebagai berikut : (Gambar1)

a. Alat Utama Pemboran

Menara Bor

3
Tenaga penggerak : dari generator DC maupun AC

Kelly : fungsi kelly ini untuk meneruskan putaran dari meja putar (Rotary table) ke rangkaian pipa bor dengan

perantara kelly bushing.

Pipa Bor (drill pipe) : umumnya berdiameter 3 , 4 atau 5, berfungsi memutar pahat dengan bantuan

kelly dan meja putar.

Pipa pemberat (drill collar) : berdiameter 6 atau 8, berfungsi memberi kekakuan pada pipa bor hingga

kemiringan lubang dapat dicegah dan memberi beban pada pahat. Wellsite Geologis dapat menginformasikan

jenis dan kekerasan batuannya yang akan dibor pada tiap-tiap interval, sehigga Toolpusher dapat menentukan

kira-kira beban berapa ton yang akan diberikan ke pahat, dengan mengatur banyaknya drill collar.

Pahat : mengenai jenis pahat yang dipakai, tergantung formasi atau batuan yang akan ditembus. Wellsite

Geologist dapat memberi masukan kepada Toolpusher kekerasan batuan yang akan dibor, termasuk lunak,

sedang atau keras. Misal untuk interval batuan shale tebal, cocok dipakai pahat jenis PDC dsb.

b. Alat Pengangkat

Terdiri dari : Crown Block

Travelling Block

Hook

Swivel

Draw work

Wireline

c. Alat Pemutar

Yang dimaksud dengan alat pemutar adalah meja putar (rotary table).

d. Alat sirkulasi

terdiri dari : Pompa Lumpur (triplex atau duplex)

Stand Pipe/Hose

Mud Pit

Mud Screen : berfungsi sebagai tempat pemisahan lumpur dengan serbuk bor/tempat pengambilan serbuk

bor (Gamba 2)

e. Alat Kontrol

terdiri dari :

Weight Indicator, untuk mengetahui berat beban pada pahat dan berat rangkaian pipa

Manometer untuk mengetahui tekanan pompa, mengetahui naik turunnya tekanan pada uji BOP, selubung

dan mud off test yang harus disaksikan oleh Wellsite Geologist saat uji tekanan

Geolograph, mengetahui kemajuan/kedalaman bor

Deviation Survey, lebih umum disebut TOTCO, untuk mengetahui besarnya kemiringan lubang

Blow Out Preventer (B.O.P), untuk mencegah/mengatasi semburan liar pada saat pemboran

4
1.1.2. Lumpur Pemboran

Peranan lumpur pemboran dalam setiap pemboran sangat menentukan kemajuan pemboran itu sendiri

(Gambar3). Fungsi lumpur pemboran adalah :

Membawa/mengangkat serbok bor dari dasar lubang kepermukaan

Membentuk kerak-kerak (mud cake) pada dinding lubang, sehingga lubang tidak mudah runtuh/ gugur

(caving)

Memberikan tekanan lawan hidrostatis terhadap tekanan formasi, sehingga terjadi keseimbangan tekanan

didalam lubang bor.

Sebagai pendingin/pelumas pahat, sehingga umur pahat dapat bertahan lama

Sebagai penahan serbuk bor pada saat tidak sirkulasi, sehingga serbuk bor tidak jatuh kedasar lubang

Sebagai media pengantar pada saat dilakukan logging. Ini sangat mempengaruhi hasil logging.

Propertis Lumpur yang harus dicermati oleh seorang Wellsite Geologist antara lain :

Berat lumpur (SG)

Marsh Funnel Viscosity (detik)

Kandungan CL- (ppm)

Water loss (WL) dan Mud Cake (1/32 inchi)

pH

Plastic Viscosity (cp) dan Yield Point (lbs/100 sqft)

Gel strength (lbs/sqft)

1.1.3. Pencatatan Data Operasi

Dalam pengumpulan data selama operasi, ditangani oleh Data Unit/Mud Logging Unit. Jadi pada setiap

pemboran sumur eksplorasi, Mud Logging Unit merupakan mitra aktif wellsite geologist dalam pengumpulan

data secara maksimal. Mud Logging Unit adalah salah satu bagian yang memberikan jasa pelayanan dalam

pengumpulan dan menganalisa data dari operasi pemboran, baik data geologi, gas, lumpur dan data pemboran

untuk membantu optimasi pemboran (Gambar4 sd 9).

Data geologi termasuk didalamnya adalah pengambilan, penanganan dan diskripsi serbuk bor, teras inti, teras

samping dan kandungannya, melalui pemeriksaan Mikroskop binokuler, Flouroscope, reaksi kimia dan lain lain.

Data yang diperoleh dari Mud Logging Unit adalah :

a. Kedalaman lubang bor, dapat dilihat pada monitor

b. Kecepatan pemboran (rate of penetration/ROP)

Untuk mengetahui kemajuan/laju pemboran yang dideteksi dengan sensor jenis output pulsa (on/off), dimonitor

didalam kabin melalui monitor, recorder dan depth counter. Data ini dapat digunakan untuk mendeteksi adanya

drilling break (formasi permeabel, atau adanya zona transisi

tekanan abnormal), dapat bisa digunakan untuk data perhitungan perkiraan tekanan formasi (dengan d-

exponent).
c. Mendeteksi/menganalisa gas (hidrokarbon, CO2 dan H2S). Gas yang dideteksi ada 3 jenis/fase:

Fase sedang mengebor = Background gas (BG)

Fase cabut/masuk pipa = Trip gas (TG)

Fase menyambung pipa = Connection gas (CG)

Untuk mengetahui adanya gas yang terlarut dan keluar dari lubang sumur, gas hidrokarbon (C1, C2, C3, iC4,

nC4, C5 ..) dideteksi dengan sensor jenis FID (Flame Ionization Detector). Data ini digunakan untuk

mengetahui adanya lapisan/formasi produktif yang mengandung hidrokarbon (bila data gas ini digabung

dengan hasil analisa lainnya), adanya connection gas (untuk peramalan tekanan formasi), adanya trip gas

digunakan untuk pencegahan gas kick. Sedang gas CO2 dan H2S digunakan untuk pencegahan adanya

kecelakaan terhadap mahluk hidup. Satuan gas Hidrokarbon adalah API Unit (1%=50 API Unit, 1 API Unit = 200

ppm) (Gambar10 sd 13)

d. Pit Volume Totalizer (PVT)

Untuk mengetahui banyaknya lumpur dipermukaan (dalam tangki, baik tangki aktif maupun trip tank), diukur

dengan jenis sensor out put tegangan 0-5 volt dan dimonitor di dalam kabin melalui monitor, recorder (grafik),

DPM (digital) dan dilengkapi dengan alarm yang dapat diset untuk batas atas dan batas bawahnya. Pada waktu

ada sirkulasi dari PVT ini bisa diketahui adanya pertambahan/pengurangan lumpur (pertambahan, mungkin

karena volume lumpur bertambah atau adanya influx dari formasi ke lubang sumur, pengurangan bisa terjadi

karena hilangnya lumpur di permukaan, misal hilang di solids control atau hilang ke formasi). Pada waktu trip

(tidak ada sirkulasi), dari perubahan trip tank bisa diperkirakan adanya fill up, influx atau hilang lumpur ke

formasi.

e. Hook Load / Weight On Bit (HL/WOB)

Untuk mengetahui besarnya beban rangkaian pipa bor yang ditahan oleh hook, dan beban yang diberikan pada

pahat selama pemboran berlangsung, dideteksi dengan sensor jenis output 2 20 ma, dimonitor dari dalam

kabin melalui monitor, recorder (grafik) dan DPM. Data ini dapat dikonversi untuk mengetahui kedalaman atau

posisi pahat pada saat trip in/out, juga dapat digunakan untuk perhitungan peramalan tekanan formasi,

mendeteksi adanya drag/overpull, fill up dan data penting pada waktu fishing dll.

f. Mud Flow in/out

Untuk mengetahui trend dari aliran lumpur yang keluar dari lubang sumur, diukur dengan jenis sensor output

tegangan 0 5 volt, dan dimonitor di dalam kabin melalui monitor, recorder dan DPM, juga dilengkapi dengan

alarm dengan batas atas dan batas bawah yang bisa di

set. Datanya bisa digunakan untuk mendeteksi adanya kehilangan lumpur ke formasi, adanya gas yang naik ke

permukaan, naik/turunnya effisiensi pompa, adanya swab effect.

g. Mud Weight in/out

Untuk mengetahui berat lumpur yang masuk dan keluar dari lubang sumur, diukur dengan jenis sensor

tranduser MWI/O 30 H2O, dan dimonitor di dalam kabin melalui monitor, recorder dan DPM. Pada waktu
sirkulasi bisa dideteksi adanya perubahan mud weight karena influx.

h. Temperatur In/Out (Tin/Tout)

Untuk mengetahui temperatur lumpur yang masuk dan keluar dari lubang bor, diukur dengan Temperature

Transmitter Sensor dan dimonitor di dalam kabin mud Logging Unit melalui monitor, recorder dan DPM (Display

Panel Meter). Data temperature ini bisa digunakan untuk mendeteksi adanya zona transisi tekanan yang

abnormal, bisa digunakan oleh Mud Engineer dalam merencanakan bahan lumpur yang sesuai. Dari data

bottom up temperature out setelah lumpur dalam keadaan statis untuk waktu yang cukup lama, bisa digunakan

untuk mempertahankan temperatur dasar lubang sumur.

i. Rotation per Minutes (RPM)

Untuk mengetahui jumlah putaran per menit dari rotary table (pipa bor) yang dideteksi dengan sensor jenis

output pulsa (on/off proximity), dimonitor dari dalam kabin melalui monitor, recorder dan DPM. Data ini

digunakan untuk mencari parameter pemboran supaya laju pemboran optimum, juga untuk perhitungan

perkiraan tekanan formasi.

j. Stand Pipe Pressure (SPP)

Untuk mengetahui tekanan pompa yang dideteksi dengan sensor Tranducer jenis output 4 20 mA, dimonitor di

dalam kabin melalui monitor, recorder dan DPM, juga dilengkapi dengan alarm dengan batas batas bawah/atas

yang diset. Data ini digunakan untuk optimasi hidrolika, mendeteksi adanya gejala pipa bor terjepit, effisiensi

pompa, mendeteksi kebocoran dalam sistim sirkulasi dan data untuk kill well (bila terjadi gas kick maupun blow

out).

k. Rotary Torque

Untuk mengetahui secara kwalitatip torsi dari rangkaian pipa bor yang dideteksi dengan sensor Tranducer jenis

output 4 20mA, dimonitor dari dalam kabin melalui monitor recorder dan DPM. Data ini digunakan untuk

mendeteksi gejala adanya kerusakan pahat, bit balling, atau adanya fish (ikan) di dasar lubang bor.

l. Shut In Casing Pressure (SICP)

Untuk mengetahui tekanan pada casing, bila annular lubang bor ditutup, dideteksi dengan sensor Tranducer

jenis output 4 20mA, dimonitor didalam kabin melalui monitor, recorder dan DPM. Data ini digunakan

terutama untuk menghitung Mud Weight kill well bila terjadi gas kick/blow out.

m. Pump Strokes (SPM)

Untuk mengetahui jumlah stroke per menit dari pompa lumpur, yang dideteksi dengan sensor jenis output

pulsa (on/off), dimonitor dari kabin melalui monitor, recorder, DPM dan stroke counter (total jumlah stroke).

Data ini biasanya berdampingan dengan data stand pipe pressure, mud flow out dan pit volume total, karena

keempatnya mempunyai hubungan yang sangat erat dalam menganalisa kelainan/penyimpangan dari operasi

pemboran yang normal (adanya gejala problem pemboran). Sedangkan jumlah stroke counter digunakan untuk

menentukan lag time pengambilan sampel serbuk bor.

n. Hasil perhitungan dari data D-exponent (perkiraan tekanan formasi yang bisa digunakan untuk perencanaan
pemakaian berat lumpur pemboran selama operasi pemboran berlangsung) (Gambar 14).

Jadi tugas pokok Mud Logging Unit bagi Wellsite Geologist dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Meneliti dan memberitahukan kemungkinan-kemungkinan adanya bahaya yang timbul selama mengebor,

misalnya; kick, mud lost, drilling break dsb.

2. Membantu Wellsite Geologist mengenai :

Interpretasi perubahan litologi dari ROP

Ada/tidaknya indikasi hidrokarbon

Pengumpulan data lithologi dari serbuk bor dan disajikan dalam Mud Log

Interpretasi tekanan formasi dari analisa D-exponent.

3. Mengajukan usul/saran mengenai berat lumpur yang seharusnya dipakai, berdasarkan hasil ramalan

tekanan.

4. Membuat laporan pagi lengkap mengenai kegiatan operasi pemboran, diskripsi batuan, kandungan gas yang

keluar (BG, TG, CG) beserta peak-peak gas, kecepatan pemboran dan kemajuan pemboran, formasi yang

sedang ditembus, yang kesemuanya dapat dipakai sebagai dasar pembuatan laporan pagi Wellsite Geologist .

5. Dari data-data di atas Wellsite Geologist juga dapat meramalkan posisi pemboran terakhir, berdasarkan

lithologi yang sudah ditembus dan dapat membuat korelasi sementara.

1.2 . Pengawasan/Penyaksian ( Witness )

Pekerjaan operasi yang harus mendapat pengawasan/penyaksian oleh Wellsite Geologist, antara lain pekerjaan

logging, pemasangan selubung dan penyemenan selubung.

1.2.1. Pekerjaan Logging

a. Persiapan sebelum logging

Pengecekan kondisi lubang dan lumpur, beritahu pada Engineer Logging , jenis log, interval dan skala log

yang akan dirun

Penyiapan data yang diperlukan untuk pekerjaan logging seperti nama dan nomor sumur, nama lapangan,

koordinat, elevasi ( KB, DF, GL dan RT ), diameter lubang, diameter selubung, kedalaman sepatu selubung,

kedalaman bor, sifat lumpur dll.

Penyediaan contoh lumpur mud cake dan mud filtrate yang diambil dari flow line pada waktu

siakulasi terakhir, untuk mendapatkan harga Rm, Rmc , Rmf.

Penyediaan final log dari sumur sumur terdekat untuk korelasi

Penyediaan master log ( dari mud logging unit ) untuk mencek litologi dan indikasi hidrokarbon dari sumur

tsb.

Penyediaan buku Schlumbeger chart/kebutuhan lain untuk keperluan interpretasi log.

b. Penampangan (logging)

Loging yang akan dilakukan sebenarnya sudah dicantumkan dalam drilling program namun kadang kala tidak

selalu setiap jenis log dilakukan pada trayek tsb. Jenis log yang dilakukan ditentukan oleh wellsite geologist dan
bergantung pada prospek lapisan yang ditembus. Setiap dilakukan pengukuran lanjutan harus diperhatikan

over lappingnya untuk memudahkan dalam interpretasi log. Semua data yang dianggap penting dalam heading

log. Pengukuran Rm, Rmc, Rmf (mud cake dan filtrate lumpur diperoleh dari Mud Engineer), dilakukan

bersamaan dengan pengukuran temperatur. Pengukuran log sebaiknya dimulai dari ISF / IES, karena dapat

menggambarkan keadaan litologi yang ditembus jika ada penyimpangan- penyimpangan atau kualitas log yang

kurang baik (wellsite geologist berhak mengusahakan pengukuran ulang, sehingga mendapat kualitas log yang

optimal).

Hasil dari pengukuran logging ini dapat memberikan data yang dipakai untuk :

Korelasi dengan sumur lain

Interpretasi litologi

Interpretasi puncak formasi

Menentukan reservoir

Menentukan kondisi/besarnya geometri lubang bor (untuk penyemenan)

Menentukan struktur lapisan dll.

1.2.2. Pemasangan selubung

Pemasangan selubung baik trayek konduktor maupun intermediated penting sekali, kecuali trayek produksi

(selubung 7) yang tergantung prospek tidaknya lapisan obyektif. Pemasangan selubung dilakukan oleh tool

pusher sedangkan material-material yang dibutuhkan disiapkan oleh ATL sesuai dengan program. Tugas wellsite

geologist dalam hal ini adalah mencek/menyaksikan material selubung yang dipakai apakah sesuai dengan

program jika terdapat penyimpangan segera beritahukan kepada kepala bor eksplorosi.

1.2.3. Penyemenan

Dalam hal penyemenan selubung, wellsite geologist perlu menyaksikan proses penyemenan tersebut.

Untuk penyemenan yang baik perlu diperhatikan adalah :

Kondisi lumpur yang baik, usahakan agar semen, cutting terangkat kepermukaan, juga agar viscositas dan gel

strength tetap rendah

Pasang float collar + 30 feet diatas float shoe, untuk mencegah over displace dari semen

Pasang centraliser pada jarak tertentu misal 60-90 feet

Usahakan bubur semen selalu lebih tinggi dari SG lumpur untuk menghindari terjadinya overdisplace cement

Pergunakan log caliper untuk menentukan jumlah semen yang dipakai.

Tujuan penyemenan selubung salah satunya adalah untuk memisahkan lapisan produksi yang satu dengan

yang lainnya agar tidak terjadi komunikasi dari kedua lapisan yang berbeda.

2. Peran Khusus Wellsite Geologist

Secara umum peran wellsite geologist telah diutarakan diatas, sedangkan peran khusus harus dilaksanakan

menyangkut masalah-masalah :

Cara pengambilan/pemeriksaan contoh batuan


Pemerian litologi

Pengamatan indikasi Hidrokarbon

Korelasi & analisa petrofisika

2.1. Cara pengambilan / pemeriksaan contoh batuan

Pada setiap pemboran sumur ekoplorasi selalu dilakukan pengambilan contoh batuan (serbuk bor) untuk

mengetahui jenis litologi yang ditembus. Data litologi akan menunjang dalam mempelajari sifat fisik batuan,

studi korelasi,

10

biostratigrafi, penentuan umur dan lingkungan pengendapan serta evaluasi batuan waduk. Untuk mengetahui

kapan serbuk bor tersebut diambil perlu diperhitungkan lag time yaitu waktu yang dibutuhkan oleh serbuk

bor naik dari dasar lubang sampai ke permukaan. Data lag time sangat dipengaruhi oleh volume anulus lubang

bor dan kecepatan pompa. Makin dalam lubang bor makin besar volume anulus dan makin bertambah pula

waktu yang dibutuhkan serbuk bor naik kepermukaan.

a. Cara pengambilan contoh sebuk bor

Pengambilan dilakukan di Shale shaker diambil sesuai dengan program, yaitu setiap selang 5 m pada

pemboran dipermukaan yang berjalan cepat (misal 0-500 m) dan setiap selang 2m pada kedalaman

selanjutnya (500 m-TD) disamping itu ada sampel-sampel khusus yang diambil per titik kedalaman (dinamakan

sampel spot). Pada pengambilan sampel spot ini, wellsite geologist dapat menugaskan data engineer untuk

mengambilnya.

Serbuk bor dicuci diatas 2 atau 3 susunan ayakan dengan ukuran besar di bagian atas, yang lebih halus di

bagian bawah (umumnya berukuran 10, 60, 230 mesh)

Tempatkan hasil cucian diatas tray untuk pemeriksaan litologi dan indikasi hidrokarbon dengan Microscpoe

dan Fluoroscope. Setelah selesai kemudian dikeringkan dan dimasukkan kedalam kantong sampel kering

Contoh serbuk lainnya (dalam keadaan basah) untuk keperluan lain (Paleontologi) dimasukan ke dalam

kantong sampel basah yang telah diberi kode sumur dan selang kedalaman

Contoh batuan untuk geokimia diambil setiap seloang 30 m, terutama pada batuan serpih. Contoh ini

dimasukan kedalam kaleng (60 % dari volume kaleng), diisi dengan air setinggi 2 cm dan ditutup rapat.

b. Cara pengambilan contoh teras samping (sidewall coring)

Pengambilan contoh disesuaikan dengan tujuan penggunaan contoh (bila dari serbuk bor kurang jelas atau

ragu atau meyakinkan adanya indikasi hidrokarbon). Dasar pengambilan teras samping adalah indikasi

hidrokarbon di serbuk bor, background gas yang besar terutama iC4, nC4 dan C5, dari SP Log dan GR Log serta

hasil penilaian log : ISF, FDC-CNL-GR, MSFL.

Data kedalaman yang akan diambil contoh batuannya diberikan kepada Logging Engineer. Penentuan

kedalaman, biasanya berdasarkan kedalaman FDC-CNLGR log

Lakukan pengambilan contoh batuan, sesuai dengan kedalaman yang telah disesuaikan (biasanya 30

tembakan atau 60 tembakan)


Setelah contoh batuan dikeluarkan dari dalam tempat contoh (bullet). Kemudian contoh tersebut dimasukkan

ke dalam botol yang telah disediakan, diberi nomor urut, kode sumur serta kedalaman pada masing-masing

botol

Ambil secukupnya, lakukan pemeriksaan litologi dan indikasi hidrokarbon di bawah mikroskop dan fluoroscope

dan disajikan dalam bentuk tabel.

Masukkan semua botol-botol teras samping ke dalam kotak karton yang telah disediakan oleh operator

logging, dan dikirim ke kantor pusat untuk analisa lebih lanjut.

11

c. Cara pengambilan contoh teras inti (bottom hole coring)

Jika terlihat ada break atau adanya indikasi hidrokarbon pada serbuk bor atau gas besar atau ada litologi yang

perlu diteliti lebih lanjut, setelah dilakukan konsultasi ke kantor pusat, dilakukan stop bor dan sirkulasi botom

up untuk memeriksa serbuk bor dari dasar lubang bor. Bila hasil pemeriksaan bagus, maka welsite geologist

dapat memberikan instruksi kepada tool pusher untuk melakukan teras inti.

Penanganan Teras Inti :

Pengintian sepanjang + 8 m atau 16 m ( sesuai dengan panjang core barrel ) dan perhatikan kecepatan

pengintian dan gas yang keluar selama pengintian serta serbuk bor

Setelah batu inti dibor sepanjang 8 m atau 16 m, potong batuan tersebut agar terlepas dari batuan

dibawahnya, cabut rangkaian core barrel

Batuan inti yang dikeluarkan dari core barel (oleh tool pusher) segera dimasukkan kedalam kotak-kotak kayu

(ukuran + 1m) yang sebelumnya dibungkus dengan timah pembungkus (kertas aluminium) ditutup rapat serta

ditambal dengan lilin. Untuk batuan basement cukup dimasukkan dalam kotak tanpa dibungkus aluminium foil

(bila memakai bahan fiber glass, core langsung dipotong, ditutup rapat dan dimasukan ke kotak).

Setiap kotak-kotak batu inti diberi tanda atas bawah selang kedalaman serta kode nama sumur

Untuk pemerikasaan dilapangan terlebih dahulu batu inti dibersihkan seperlunya, diambil sedikit contoh

setiap 1 0.5 meter, setiap perubahan litologi, atau yang dianggap perlu, untuk pemerian litologi serta

pemeriksaan indikasi hidrokarbon

Pemeriksaan teras inti di laboratorium petrofisika, perlu diperhatikan antara lain :

hindari dari gangguan/kontominasi teras inti dengan udara sekecil mungkin

litologi teras inti yang diperiksa cukup dengan membersihkan sedikit bagian sisi luar (+ 2 cm) dari lumpur

dengan menggunakan kain basah

contoh diambil setiap selang 0,3-1,0 m dengan panjang masing-masing contoh + 10 cm kemudian diberi

keterangan selang kedalaman yang diambil.

2.2. Pemerian Litologi

Untuk memeriksa litologi yang ditembus selama pemboran dilakukan dengan 2 cara :

a. metode tidak langsung

b. metode langsung
12

a. Metode tidak langsung

Yang dimaksud dengan metode tidak langsung yaitu menafsirkan jenis batuan yang sedang ditembus atau

dibor tanpa mendiskripsi serbuk bor tetapi melihat data-data pemboran yang ada di data unit seperti :

Kecepatan pemboran (ROP ) : perubahan litologi yang ditembus kadang kala dapat ditandai dengan adanya

perubahan ROP atau WOB, RPM dan kecepatan pompa (SPM) tetap

Kehilangan lumpur (mud lost) : menandakan sedang menembus bantuan yang mempunyai

porositas/permeabilitas baik atau adanya fracture pada batuan yang ditembus

Perubahan serbuk bor : bentuk besar kecilnya dan banyak sedikitnya serbuk bor pada shale shaker, dalam

selang tertentu mencirikan perubahan bantuan yang ditembus, asal tidak ada perubahan sifat sifat lumpur

bor, tetapi bila menggunakan pahat jenis PDC akan menghasilkan serbuk bor yang lebih kecil dibanding bila

menggunakan pahat konvensional pahat konvesional juga lebis jelas memberi tanda perubahan bentuk serbuk

bor bila menembus batuan yang berbeda.

b. Metode langsung

Yang dimaksud adalah mendiskripsi langsung serbuk bor , teras inti maupun teras samping dengan

pemeriksaan megaskopis maupun miskroskopis.

Pemeriksaan megaskopis

Pemeriksaan megaskopis terhadap serbuk bor perlu untuk menentukan warna atau kemungkinan adanya

guguran (caving) dari atas (guguran biasanya lebih besar atau runcing). Untuk teras inti dan teras samping

secara megaskopis dapat diamati struktur sedimen, perlapisan struktur tektonik, fosil besar (molusca, foram

besar) dan butiran/fragmen batuan kasar (kerikil, kerakal, konglomerat, breksi).

Pemeriksaan mikroskopis

Secara mikroskopis dapat diteliti lebih rinci tentang pemerian secara litologi contoh serbuk bor, teras inti dan

teras samping. Untuk pemerian litologi baik serbuk bor, teras inti maupun teras samping, dengan urutan

sebagai berikut : (Gambar17 sd 21).

Nama batuan

Porositas (v. poor, fair, good , v. good)

Warna

Tekstur (besar butir, pemilahan butir, kebundaran)

Kekarasan (loose, soft, medium hard, hard, v hard, unconsol)

Bentuk pecahan dan sifat pecahan (platy, blocky, brittle)

Sementasi (calcareous, silica cmt, argill)

Mineral dan asesoris

Fosil

Kongkresi dan nodul

Sifat pelapisan
13

Struktur sedimen

Pemerian litologi untuk batuan karbonat (limestone) biasa digunakan klasifikasi menurut DUNHAM, (Gambar

22) dan porositas menurut Choquette & Pray (Gambar-23) :

Mudstone : Mud supported, less than 10% grains

Wackstone: mud supported, more than 10 % grains

Packstone : grain supported, more than 10 % mud

Grainstone : lacks mud and is grain supported, less than 10 % mud

Boundstone : original components were bound together during deposition

Crystalline carbonat : depositional texture not recognizable.

2.3 Pengamatan Indikasi Hidrokarbon

Pada setiap pemboran eksplorasi selalu diramalkan adanya reservoir hidrokarbon pada lapisan objektif. Ada 2

cara yaitu metode tidak langsung dan metode langsung.

a. Metode tidak langsung

Pengamatan pemboran

Adanya kandungan minyak atau gas di dalam lumpur mengakibatkan berat lumpur (SG lumpur) yang keluar

dari lubang bor akan berkurang. Berkurangnya berat lumpur ini biasa disebut gas cut mud, apabila gas dalam

jumlah besar akan mengakibatkan kick.

Pengamatan viscositas lumpur pemboran

Jika ada gas maka viscositas lumpur akan bertambah kental

Pengamatan dengan gas detektor

Dapat dilihat di data unit, selama operasi pemboran, kandungan gas di dalam lumpur selalu diamati/dimonitor,

baik pada saat mengebor, menyambung pipa maupun pada saat cabuk/masuk rangkaian pipa bor. Sensor dari

gas detektor ini dipasang di possum bally (flow line) dan ada/tidaknya kandungan gas dalam lumpur yang

keluar dari lubang bor dapat dilihat di monitor data unit maupun recorder secara terus menerus.

b. Metode langsung

Setiap pengambilan serbuk bor, dilakukan pengamatan. Setelah dilakukan pemerian litologi dibawah mikroskop

binokular, dilanjutkan pengamatan di bawah fluoroscope. Ada 4 (empat) tahap pengamatan di bawah

fluoroscope :

(Gambar 24 & 25)

Pengamatan Odour

Pengamatan Oil Staining

Pengamatan Fluorecense

Pengamatan Cut

Pengamatan Odour

Odour adalah bau dari minyak bumi yang terkandung dalam contoh batuan. Bau odour ini agak sulit ditemukan
pada serbuk bor karena sudah tercampur lumpur, lebih mudah ditemukan pada teras inti dan teras samping.

Yang

14

dicatat adalah ada/tidaknya bau minyak bumi dan kekuatan baunya. Odour ini dapat didiskripsi dalam none,

poor, fair dan strong odour.

Pengamatan Oil Staining

Oil staining adalah bercak minyak pada batuan, baik serbuk bor, teras inti mapun teras samping. Pada

umumnya minyak bumi yang mempunyai derajat API rendah (minyak berat/kental), bercaknya akan berwarna

gelap, sedangkan yang mempunyai derajat API tinggi (minyak ringan/encer) bercaknya akan mengarah ketidak

berwarna. Yang perlu dicatat adalah warna dari oil staining, misal : brown oil staining.

Pengamatan Fluorecense,

Keping batuan yang mengandung minyak akan bercahaya bila diamati dibawah fluoroscope. Yang perlu diamati

adalah :

Persentase dari Fluorecense : Even = 75 100 %

Scaterred = 15 75 %

Spoptty = 5 15 %

Very Spotty = 1 5 %

Traces = < 1 %

Bila di dalam serbuk bor terdiri dari batu pasir dan shale, maka yang dimaksud spotty adalah 5 15 %

batupasir memberikan fluorecense.

Intensitas dari fluorecense : strong, moderate, weak dan very weak.

Warna fluorecense :

heavy oil : darker colour of fluorecense

light oil : yellowish white to bluish white

Pengamatan cut

Yang dimaksud dengan cut adalah peristiwa minyak bumi yang keluar dari contoh bantuan dengan

menambahkan/meneteskan suatu cairan pelarut. Hal ini dilakukan karena banyak jenis-jenis mineral yang

bercahaya di bawah flourescope (misal amber, sebagian kalsit/batu gamping, fosil dll.) tetapi mineral-mineral

tersebut tidak mempunyai cut kecuali amber. Cairan pelarut yang digunakan adalah :

chlorothene/trichlorothene, chloroform dan acetone.

Contoh batuan yang diamati dibawah fluoroscope, bila menunjukkan fluoresensi, contoh batuan dipisahkan dan

ditaruh di plate. Kemudian plate yang berisi serpihan batuan tadi, dibawah fluoroscope sambil diamati ditetesi

pelarut (chlorothene dan chloroform). Yang perlu diamati adalah kecepatan minyak bumi keluar dari batuan dan

warna cairan pelarut di bawah fluoroscope setelah minyak bumi keluar dari batuan, misal : slow/ fast white

flourescent cut. Cairan pelarut di bawah flouroscope tidak berwarna. Warna cairan pelarut dibawah flouroscope

tadi disebut warna fluorocense cut, sedang warna cairan pelarut diluar fluoroscope, setelah minyak bumi keluar
disebut visible cut.

15

Jadi pengamatan cut ini, meliputi pengamatan fluorocense cut dan pengamatan visible cut.

Contoh diskripsi oil show : scattered strong orange brown fluor, fast white flour cut, normal tea visible cut, fair

odour, brown oil staining, good oil show.

Pengamatan dengan Aceton

Pengamatan dengan aceton terbatas pada pengamatan di luar fluoroscope. Dengan menggunakan tabung

reaksi kecil, serbuk bor digerus dan dimasukkan kedalam tabung reaksi setinggi 3 cm, tambahkan Aceton + 1

cm diatas batuan, dikocok dan diamkan sebentar. Pisahkan cairannya dan dicampur dengan air suling. Bila ada

hidrokarbon akan terjadi pemisahan cairan, makin jelas batasan itu makin besar prosentase hidrokarbon.

2.3. Korelasi dan Analisa Petrofisika

Wellsite geologist selama pemboran berlangsung harus melakukan korelasi terus menerus dengan sumur-

sumur terdekat, sehingga dapat mengetahui posisi pemboran saat itu dan kira-kira pada kedalaman berapa,

nanti reservoir yang diperkirakan prospek akan dijumpai. Korelasi ini di update setiap hari, sesuai dengan data-

data terakhir dari serbuk bor dan gas (Gambar26) dll. Setelah dilakukan logging kemudian dilakukan analisa

petrofisika. Analisa ini berdasarkan analisa log terutama pada lapisan-lapisan yang dianggap menarik (objektif),

bertujuan untuk melokalisir batuan reservoir yang mungkin mengandung hidrokarbon, baik kwalitatif maupun

kwantitatif, serta mendapatkan gambaran mengenai mobilitas dan perkiraan jenis hidrokarbon.

IV. PENUTUP

Berdasarkan uraian teknis tersebut dapat disarikan suatu filosofi dasar dalam pemboran adalah let the well

tell everything to us . Dengan demikian segala sesuatu yang digunakan dalam operasi pemboran baik material

maupun parameter bor harus setepat mungkin penggunaannya agar informasi teknis berharga yang

seharusnya diperoleh dari lubang bor tidak hilang. Jika seluruh informasi diperoleh secara maksimal maka

pendugaan pendugaan dan ekspektasi potensi yang diharapkan dapat dilakukan secara tepat.

Tugas utama wellsite geologist dalam operasi pemboran migas adalah dalam rangka memperoleh data dan

informasi tepat dan optimal mungkin serta membuat keputusan- keputusan operasional yang berkaitan dengan

pembuktian potensi migas