Anda di halaman 1dari 5

Nama : Aldi Ridha Ramadhan

NIM : 1309025031

Prodi : Teknik Sipil

Mk : EPPT

Judul Jurnal

1. STUDI KEBUTUHAN PELABUHAN DAN TINJAUAN TEKNIS


TERHADAP KONDISI PERAIRAN DAERAH KEPULAUAN ARU.

Rangkuman :

Kabupaten Kepulauan Aru merupakan hasil pemekaran dari kabupaten Maluku


Tenggara pada tahun 2003. Letak geografis Kabupaten Kepulauan Aru antara 5o sampai 8 o
o o
Lintang Selatan dan 133,5 sampai 136,5 Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten
Kepulauan Aru adalah + 55.270,22 km2 dengan luas daratan + 6.426,77 km2.

Sistem transportasi di Kabupaten Kepulauan Aru meliputi sarana dan prasarana


perhubungan laut, perhubungan darat, dan perhubungan udara. Ketersediaan prasarana
transportasi yang ada di Kabupaten Kepulauan Aru hingga kini masih tetap belum memadai
bila dibandingkan dengan kondisi dan karakteristik fisik wilayah Kabupaten Kepulauan
Aru yang sebagian besar wilayahnya merupakan merupakan kawasan pesisir dan pulau-
pulau kecil serta berbatasan langsung dengan Negara lain. Kondisi tersebut mengakibatkan
rendahnya aksesibilitas antar pulau, antar desa, dusun dengan pusat-pusat pertumbuhan
yaotu ibukota Kecamatan dan ibukota Kabupaten.

Pada Kabupaten Kepulauan Aru memiliki beberapa system transportasi, yaitu :

1. System Transportasi Darat


Terdiri dari:

- Jalan provinsi sepanjang 62,9 km dengan jenis perkerasan aspal 30 km, dimana
sepanjang 36,4 km kondisinya sedang, 17 km kondisinya rusak, dan 9,5 km rusak
berat
- Jalan kabupaten sepanjang 71,1 km dengan kondisi jalan sepanjang 16,5 km
kondisinya sedang, 34,9 km rusak dan 20 km rusak berat.

2. System Transportasi Laut dan Penyebrangan

Sarana dan Prasarana angkutan penyebrangan yang beroperasi secara rutin seperti LCT/
kapal fery dan dermaganya masih sangat terbatas.

Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah pun mulai mengadakan pengembangan Prasarana
Transportasi seperti pengembangan Fasilitas Pelabuhan:

- Keadaaan Fasilitas Pelabuhan

Pada Kabupaten Kepulauan Aru memiliki keadaan seperti pada umumnya, yaitu :

1. Jalur pelayaran antarpulau dan desa yang dilayani oleh kapar motor tempel.
2. Jalur kapal perintis yang menghubungkan antargugusan pulau.
3. Jalur kapal pelni yang menghubungkan Maluku dengan wilayah lain.
4. Jalur pelayaran dagang yang mengangkut kebutuhan pokok dari luar daerah
5. Jalur pelayaran kapal asing untuk perikanan dengan jalur antar pulau.

- Keadaan Jaringan Pelayanan Transportasi Laut

Untuk mengetahui keadaan jaringan pelayanan transportasi laut dilakukan survey Hydro-
Oceanografi guna mengetahui kondisi perairan dilokasi alur pelayaran, yaitu:

1. Kedalaman tanah
2. Pasang surut
3. Kecepatan dan arah arus
4. Kondisi ketinggian tanah daratan

Adapun survey dilakukan pada dua lokasi yaitu sebelah barat dan timur kepulauan Aru.
Selanjutnya dilakukan analisis kondisi Transportasi dan Kondidi Lokasi pelabuhan.
Terdapat dua alternative pada analisis ini. Analisis pertama menjelaskan bahwa kebutuhan
prlabuhan sangat kecil, kondisi perairan pada daerah ini memiliki pasang surut dan
kedalaman yang cukup untuk pelayaran, tidak terdapat sedimentasi lokasi 1. Akan teteapi
tidak terdapat akses infrastruktur penunjang pelabuhan pada lokasi alternative 1.

Sedangkan pada alternative 2 memiliki data yang hampir sama dengan alternatife 1 tetapi
luas perairan untuk olah gerak kapal pada alternative 2 luas. Sehingga dapat disimpulkan
lokasi pelabuhan di Batu Goyang, Kepulauan Aru memenuhi syarat untuk dibangun
fasilitas pelabuhan dimana parameter-parameter kelayakan telah terpenuhi sebagai berikut:

1. Kedalaman perairan
2. Gelombang
3. Sedimen
4. Arus
5. Pasang surut
6. Topografi
7. Luas perairan
8. Dominasi arah angin
9. Akses infrastruktur penunjang

Jurnal 2 : KAJIAN JARINGAN TRAYEK ANGKUTAN LAUT NASIONAL


UNTUK MUATAN PETIKEMAS DALAM MENUNJANG KONEKTIVITAS
NASIONAL

Tahun : 2012
Sebagai benua maritim yang memiliki 17.508 pulau, dan memiliki pusat-pusat
pertumbuhan ekonomi yang tersebar diseluruh pelosok tanah air, interaksi antar ruang dan
keterkaitan ekonomi antar pulau sangat ditentukan oleh peran dan tatanan transportasi
nasional. Sesuai dengan ketentuan pasal 6 di dalam Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 20 tahun 2010 tentang angkutan di perairan, kegiatan angkutan laut
dalam negeri dilaksanakan dengan trayek tetap dan teratur serta dapat dilengkapi dengan
trayek yang tidak tetap dan tidak teratur.

Ada lima aspek yang harus diperhatikan dalam penyusunan jaringan trayek jaringan trayek
tetap dan teratur angkutan laut dalam negeri, yaitu:

a. Pengembangan pusat industry, perdagangan, dan pariwisata


b. Pengembangan wilayah dan/atau daerah
c. Rencana umum tata ruang
d. Keterpaduan indra-dan antarmoda transportasi, dan
e. Perwujudan Wawasan Nusantara

Semua jaringan trayek angkutan laut petikemas yang diidentifikasi dalam kajian ini adalah
jaringan trayek antar koridor ekonomi. Peti kemas yang didistribusikan melalui angkutan
laut dalam negeri mengalami peningkatan yang cukup tinggi setiap tahunnya. Pada kajian
ini menguraikan potensi muatan petikemas yang didistribusikan melalui jaringan trayek
tetap angkutan laut selama periode Bulan Januari sampai dengan September 2011. Selama
periode itu, pelayanan angkutan peti kemas dibuka pada 201 jaringan proyek tetap dan
teratur angkutan laut dalam negeri. Dalam periode itu hanya 115 dari 201 jaringan trayek
angkutan laut petikemas yang ada muatannya.

Dari 115 trayek angkutan petikemas yang ada muatannya, hanya 23 trayek yang memiliki
muatan di setiap pelabuhan singgahnya pada tiga koridor yang memiliki potensi angkutan
laut petikemas terbesar, berturut-turut adalah Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun
pusat distribusi terletak di Jawa. Evaluasi pada kajian ini didasarkan pada pertimbangan:

- Pertimbangan jasa angkutan


- Pengembangan pusat-pusat kegiatan pada enam koridor ekonomi Indonesia dan
penguatan Konektivitas nasional
- Desain pola jaringan tetap dan teratur.