Anda di halaman 1dari 24

ISI

1. UU RI NO 18/1999 Tentang Jasa Konstruksi

Bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur
yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Untuk itu jasa konstruksi merupakan salah satu kegiatan dalam bidang ekonomi, sosial, dan
budaya yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam pencapaian berbagai sasaran
guna menunjang terwujudnya tujuan pembangunan nasional;

BAB 1 Ketentuan Secara Umum


( Pasal 1 )

Jasa Konstruksi adalah layanan jasa konsultasi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan
jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultasi pengawasan pekerjaan
konstruksi.

Bab II Asas dan Tujuan


( Pasal 2 dan 3 )

Pengaturan jasa konstruksi bertujuan untuk :


memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan jasa konstruksi untuk mewujudkan
struktur usaha yang kokoh, andal, berdaya saing tinggi, dan hasil pekerjaan konstruksi yang
berkualitas;

Bab III USAHA


JASA KONSTRUKSI
Bagian Pertama Jenis, Bentuk, dan Bidang Usaha
Pasal 4 , 5 , 6 , 7

Jenis usaha jasa konstruksi terdiri dari usaha perencanaan konstruksi, usaha pelaksanaan
konstruksi, dan usaha pengawasan konstruksi yang masing-masing dilaksanakan oleh
perencana konstruksi, pelaksana konstruksi, dan pengawas konstruksi.
Bagian Kedua Persyaratan Usaha, Keahlian, dan Keterampilan
Pasal 8 , 9, 10

Penyedia jasa konstruksi yang berbentuk badan usaha harus :


memenuhi ketentuan perizinan usaha di bidang jasa konstruksi dan memiliki sertifikat,
klasifikasi, dan kualifikasi perusahaan jasa konstruksi. Standar klasifikasi dan kualifikasi
keahlian kerja adalah pengakuan tingkat keahlian kerja setiap badan usaha baik nasional
maupun asing yang bekerja di bidang usaha jasa konstruksi.

Bagian Ketiga Tanggung Jawab Profesional


Pasal 11

Badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan orang perseorangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 harus bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya sesuai
dengan kaidah kejujuran dan keilmuan

Bagian Keempat Pengembangan Usaha


Pasal 12 , 13

Usaha jasa konstruksi dikembangkan untuk mewujudkan struktur usaha yang kokoh dan
efisien melalui kemitraan yang sinergis antara usaha yang besar, menengah, dan kecil serta
antara usaha yang bersifat umum, spesialis, dan keterampilan tertentu.

BAB IV
PENGIKATAN PEKERJAAN KONSTRUKSI
Bagian Pertama Para Pihak
Pasal 14 , 15 , 16

Pengikatan dalam hubungan kerja jasa konstruksi dilakukan berdasarkan prinsip


persaingan yang sehat melalui pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan umum atau
terbatas, dan dalam keadaan tertentu, penetapan penyedia jasa dapat dilakukan dengan cara
pemilihan langsung atau penunjukkan langsung.
Bagian Kedua Pengikatan Para Pihak
Pasal 17 , 18 , 19 , 20 , 21

Pengikatan dalam hubungan kerja jasa konstruksi dilakukan berdasarkan prinsip


persaingan yang sehat melalui pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan umum atau
terbatas dan Pelelangan terbatas hanya boleh diikuti oleh penyedia jasa yang dinyatakan
telah lulus prakualifikasi

Bagian Ketiga Kontrak Kerja Konstruksi


Pasal 22

Pengaturan hubungan kerja konstruksi antara pengguna jasa dan penyedia jasa harus
dituangkan dalam kontrak kerja konstruksi. Suatu kontrak kerja konstruksi dibuat dalam
bahasa Indonesia dan dalam hal kontrak kerja konstruksi dengan pihak asing, maka dibuat
dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

BAB V
PENYELENGGARAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI
Pasal 23, 24

Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi meliputi tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan


beserta pengawasannya yang masing-masing tahap dilaksanakan melalui kegiatan
penyiapan, pengerjaan, dan pengakhiran.

BAB VI
KEGAGALAN BANGUNAN
Pasal 25, 26, 27, 28

Pengguna jasa dan penyedia jasa wajib bertanggung jawab atas kegagalan bangunan
ditentukan terhitung sejak penyerahan akhir pekerjaan konstruksi dan paling lama 10
(sepuluh) tahun.

BAB VII PERAN MASYARAKAT


Hak dan Kewajiban dan Masyarakat Jasa Konstruksi
Pasal 29, 30, 31, 32, 33, 34
Masyarakat juga memiliki peran dalam suatu penyelenggaraan pekerjaan jasa konstruksi,
diantaranya untuk :
Melakukan pengawasan untuk mewujudkan tertib pelaksanaan jasa konstruksi;
Memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang dialami secara langsung sebagai
akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.

BAB VIII PEMBINAAN


Pasal 35

Pemerintah juga memiliki peran dalam penyelenggaraan suatu jasa konstruksi, yaitu
melakukan pembinaan jasa konstruksi dalam bentuk pengaturan, pemberdayaan, dan
pengawasan.

BAB IX PENYELESAIAN SENGKETA


Bagian Pertama U m u m
Pasal 36

Penyelesaian sengketa jasa konstruksi dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar
pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa.

Bagian Ketiga Gugatan Masyarakat


Pasal 38, 39, 40

Dalam suatu penyelenggaraan usaha jasa konstruksi, terdapat kemungkinan bahwa


masyarakat mengalami kerugian sebagai akibat dari penyelenggaraan pekerjaan konstruksi
tersebut :
Masyarakat yang dirugikan akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi berhak
mengajukan gugatan ke pengadilan secara: a. orang perseorangan; b. kelompok orang
dengan pemberian kuasa; c. kelompok orang tidak dengan kuasa melalui gugatan
perwakilan.

2. PP No 28/2000 Tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi


Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi telah mengatur landasan
pokok dalam penyelenggaraanjasa konstruksi. Berdasarkan Undang- undang tersebut perlu
diadakan peraturan pelaksanaan berupa Peraturan Pemerintah guna menindaklanjuti
ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Undang-undang tersebut.
Dalam Pasal 7 Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 dinyatakan bahwa jenis usaha,
bentuk
usaha dan bidang usaha jasa konstruksi perlu diatur lebih lanjut oleh Pemerintah.
Dalam Pasal 10 Undang-undang tersebut dinyatakan pula bahwa Pemerintah harus
mengatur tata cara penyelenggaraan perizinan usaha, klasifikasi usaha, kualifikasi usaha,
serta sertifikasi keterampilan dan sertifikasi keahlian kerja jasa konstruksi.
Dalam undang-undang jasa konstruksi juga dikenal istilah masyarakat jasa konstruksi di
samping masyarakat umum, yaitu masyarakat yang mempunyai kepentingan dan atau
kegiatan yang berhubungan dengan usaha dan pekerjaan jasa konstruksi.
Untuk menyelenggarakan peran masyarakat jasa konstruksi dilakukan melalui kegiatan
forum jasa konstruksi dan melalui lembaga yang independen dan mandiri.
Forum jasa konstruksi mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan dalam
upaya menumbuhkembangkan jasa konstruksi nasional. Lembaga jasa konstruksi bertujuan
untuk mengembangkan jasa konstruksi dan dibentuk oleh masyarakatjasa konstruksi.
Untuk menyelenggarakan kegiatan jasa konstruksi, perlu diatur mengenai ketentuan-
ketentuan yang menyangkut kriteria, pengawasan, dan ketentuan sanksi yang diatur dalam
Peraturan Pemerintah ini. Dengan demikian, ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini
dapat menjadi acuan dalam penyelenggaraan dan pembinaan jasa konstruksi.

PP No 4/2010 Tentang Perubahan PP 28/200


Perubahan yang terjadi dalam PP ini diantaranya :

1. Ketentuan Pasal 1 dan 2 diubah


2. Diantara Pasal 2 dan 3 ayat 5 diselipkan 1 ayat

3. Ketentuan Pasal 7 diubah

4. Ketentuan Pasal 8 diubah

5. Diantara Pasal 8 dan 9 disisipkan 4 Pasal

6. Ketentuan Pasal 9 ayat 1, 2, dan 3 diubah. Ayat 4 dihapus

7. Ketentuan Pasal 10 Ayat 4 diubah

8. Ketentuan Pasal 11 Ayat 1 diubah

9. Ketentuan Bab II Bagian Keempat dihapus


10. Ketentuan Bab III dihapus

11. Ketentuan Pasal 23 dihapus

12. Ketentuan Pasal 25 ayat 1 tetap, penjelasannya diubah

13. Ketentuan Pasal 26 diubah

14. Dan lain-lain yang terlampir

PP 92/2010 Tentang Perubahan Kedua PP 28/2000

Beberapa hal yang diubah diantaranya :

1. Ketentuan Pasal 10 Ayat 4 dihapus

2. Ketentuan Pasal 26 dihapus

3. Ketentuan Pasal 29A dihapus

4. Ketentuan Pasal 29B dihapus

3. PP No. 29/2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

Pembangunan Nasional antara lain dapat diwujudkan melalui upaya mendorong tumbuh
dan
berkembangnya jasa konstruksi secara mantap, peningkatan keandalan dan daya saing jasa
konstruksi nasional, yang selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan
efektivitas penyelenggaraan pekerjaan konstruksi. Dengan kemampuan jasa konstruksi
nasional diharapkan dapat terwujud peningkatan penggunaan barang dan jasa produksi
nasional, sehingga mampu mendukung upaya peningkatan penerimaan dan penghematan
penggunaan devisa Negara, serta mendukung perluasan lapangan usaha dan kesempatan
kerja.
Faktor kunci dalam pengembangan jasa konstruksi nasional adalah peningkatan
kemampuan usaha, terwujudnya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi, serta
peningkatan peran masyarakat secara aktif dan mandiri dalam melaksanakan kedua upaya
tersebut. Peningkatan kemampuan usaha ditopang oleh peningkatan profesionalisme dan
peningkatan efisiensi usaha. Sedangkan terwujudnya tertib penyelenggaraan pekerjaan
konstruksi dapat dicapai antara lain melalui pemenuhan hak dan kewajiban dan adanya
kesetaraan kedudukan para pihak terkait.
Salah satu asas dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Kontruksi yang
menjiwai Peraturan Pemerintah ini adalah asas kemitraan yang saling menguntungkan.
Dengan asas tersebut dapat diwujudkan keterkaitan yang makin erat dalam satu kesatuan
yang efesien dan efektif antar penyedia jasa. Kemitraan yang demikian sekaligus berarti
memberikan peluang usaha yang semakin besar tanpa mengabaikan kaidah-kaidah efisiensi
dan efektivitas serta kemanfaatan.
Di samping asas kemitraan, asas lain yang cukup penting dan mendasar adalah asas
keamanan dan keselamatan demi kepentingan masyarakat, bangsa, dan Negara. Keamanan
dan keselamatan ini perlu dilihat, baik dalam persyaratan usaha maupun persyaratan
kemampuan profesional agar berkembang pengusaha yang profesional yang mampu
mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi dengan menghasilkan bangunan
yang berkualitas. Keamanan dan keselamatan masih berlanjut pada tahapan pasca
penyelenggaraan pekerjaan konstruksi sebagaimana dituangkan dalam Bab tentang
Kegagalan Bangunan yang menuntut terpenuhinya kewajiban dan tanggung jawab dalam
hal keamanan dan keselamatan dalam pemanfaatan bangunan yang merupakan bagian
integral dari pembangunan nasional.
Guna mencapai tujuan yang diamanatkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang
Jasa Konstruksi, yaitu perusahaan nasional yang mampu menunjukkan komitmennya pada
penyelenggaraan jasa konstruksi dalam bentuk peningkatan kemampuan personil, teknologi
dan permodalan usahanya di Indonesia, maka perusahaan nasional perlu diberikan
kesempatan untuk bersaing dalam proses pelelangan dengan tetap memperhatikan asas
kejujuran dan keadilan, keseimbangan, keterbukaan, dan kemitraan serta kriteria
biaya, mutu, jadwal serta tidak boleh menimbulkan efek proteksi (non tarif barier) maupun
ketentuan ketentuan lain yang diatur dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang
Usaha Kecil serta Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Dalam menghadapi kompetisi internasional, maka yang harus ditempuh yakni mewujudkan
kemampuan profesionalisme dan daya saing usaha jasa konstruksi yang sejajar dengan
pelaku-pelaku di pasar internasional. Dari sisi dunia usaha jasa konstruksi diharapkan
tumbuh kesadaran akan peningkatan kemampuan usaha, keahlian dan keterampilan melalui
penataan dan upaya-upaya yang mandiri. Sedangkan Pemerintah memberikan dukungan
dalam bentuk pemberdayaan dan regulasi ataupun memanfaatkan proyek-proyek
Pemerintah sebagai wahana untuk meningkatkan kemampuan usaha, keterampilan dan
keahlian kerja.

Dengan menimbang :
a. bahwa jasa konstruksi mempunyai peran strategis dalam pembangunan nasional sehingga
penyelenggaraannya perlu diatur untuk mewujudkan tertib pengikatan dan penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi, hasil pekerjaan konstruksi yang berkualitas, dan peningkatan peran
masyarakat;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut pada huruf a dan untuk melaksanakan
Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, dipandang perlu
menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi;
4. PP No. 30/2000 Tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi

Pembangunan Nasional di bidang jasa konstruksi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan


masyarakat dan meningkatkan kemampuan masyarakat jasa konstruksi, oleh karena itu
perlu keikutsertaan masyarakat pada umumnya, dan masyarakat jasa konstruksi pada
khususnya dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.
Agar keikutsertaan masyarakat pada umumnya, masyarakat jasa konstruksi pada khususnya
tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran, keterbukaan, sukarela, efektif serta efisien,
tertib, dan tidak menimbulkan konflik, perlu adanya kesadaran akan fungsi, hak dan
kewajiban masyarakat pada umumnya, masyarakat jasa konstruksi pada khususnya dalam
penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.
Untuk itu sesuai dengan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa
Konstruksi diperlukan upaya pembinaan yang berupa pengaturan, pemberdayaan, dan
pengawasan terhadap masyarakat jasa konstruksi yang penyelenggaraannya dilakukan oleh
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Propinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten, dan
Pemerintah Daerah Kota sesuai dengan kewenangan masing-masing.
Agar upaya pembinaan tersebut dilaksanakan secara sistematis, konsisten, dan efektif serta
efisien dan mampu mendukung peran strategis jasa konstruksi dalam pembangunan
nasional, diperlukan arahan mengenai penyelenggaraan pembinaan dan pembiayaan untuk
pelaksanaan pembinaan jasa konstruksi.

Dengan Menimbang :

a. bahwa jasa konstruksi mempunyai peranan strategis dalam pembangunan nasional


sehingga perlu dilakukan pembinaan baik terhadap penyedia jasa, pengguna jasa, maupun
masyarakat guna menumbuhkan pemahaman dan kesadaran akan tugas dan fungsi serta hak
dan kewajiban masing-masing dan meningkatkan kemampuan dalam mewujudkan tertib
usaha jasa konstruksi, tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi, dan tertib pemanfaatan
hasil pekerjaan konstruksi;
b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan dalam Pasal 35 Undang-undang Nomor 18 Tahun
1999 tentang Jasa Konstruksi perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi;

Yang dibahas dalam Peraturan ini meliputi :


1. Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan guna tertib usaha, tertib
penyelenggaraan, tertib pemanfaatan jasa konstruksi mengenai :
1. persyaratan perizinan;
2. ketentuan keteknikan pekerjaan konstruksi;
3. ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja;
4. ketentuan keselamatan umum;
5. ketentuan ketenagakerjaan;
6. ketentuan lingkungan;
7. ketentuan tata ruang;
8. ketentuan tata bangunan;
9. ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan dengan penyelenggaraan jasa konstruksi.

Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten, dan Pemerintah Kota menyelenggarakan


pembinaan jasa konstruksi untuk melaksanakan tugas otonomi daerah mengenai :
a. pengembangan sumber daya manusia di bidang jasa konstruksi;
b. peningkatan kemampuan teknologi jasa konstruksi;
c. pengembangan sistem informasi jasa konstruksi;
d. penelitian dan pengembangan jasa konstruksi;
e. pengawasan tata lingkungan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota.

(2) Penyelenggaraan pembinaan jasa konstruksi oleh Pemerintah Propinsi dilakukan dengan
cara :
a. melaksanakan kebijakan pembinaan jasa konstruksi;
b. menyebarluaskan peraturan perundang-undangan jasa konstruksi;
c. melaksanakan pelatihan, bimbingan teknis, dan penyuluhan;
d. melaksanakan pengawasan sesuai dengan kewenangannya untuk terpenuhinya tertib
e. penyelenggaraan pekerjaan jasa konstruksi.
(3) Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota menyelenggarakan pembinaan jasa
konstruksi dalam rangka pelaksanaan tugas otonomi daerah dengan cara :
a. melaksanakan kebijakan pembinaan jasa konstruksi;
b. menyebarluaskan peraturan perundang-undangan jasa konstruksi;
c. melaksanakan pelatihan, bimbingan teknis, dan penyuluhan;
d. menerbitkan perizinan usaha jasa konstruksi;
e. melaksanakan pengawasan sesuai dengan kewenangannya untuk terpenuhinya tertib
penyelenggaraan pekerjaan jasa konstruksi.
5. Permen PU RI Nomor : 207/PRT/M/2005 : Pedoman Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi Pemerintah Secara Elektronik

Dengan menimbang :
a. bahwa proses pengadaan jasa konstruksi oleh Pemerintah dengan memanfaatkan
teknologi komunikasi dan informasi yang menggunakan media elektronik akan lebih
transparan, akuntabel, efektif dan efisien, selaras dengan upaya pemberantasan korupsi,
kolusi dan nepotisme;
b. bahwa penerapan proses pengadaan jasa konstruksi oleh pemerintah secara elektronik
sepenuhnya masih harus menunggu ditetapkannya Undang-Undang yang mengatur tentang
transaksi elektronik (cyber-law) di Indonesia;
c. bahwa proses pengadaan jasa konstruksi oleh pemerintah secara elektronik sejalan
dengan upaya mempersiapkan para penyedia jasa nasional untuk menghadapi tantangan dan
perkembangan global;
d. bahwa dengan telah diterbitkannya Keppres RI Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah serta Keputusan Menteri tentang
Pengadaan Jasa Konstruksi yang menindak lanjutinya, terbuka kemungkinan untuk
melakukan proses pengadaan jasa konstruksi dengan menggunakan media elektronik;
e. bahwa berdasarkan hal-hal tersebut perlu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
tentang Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi Pemerintah Secara Elektronik.
Isi dari Permen diatas adalah :

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:


1. Pengadaan Jasa Konstruksi secara elektronik adalah sistem pengadaan jasa konstruksi
yang proses pelaksanaannya dilakukan secara elektronik dan berbasis web dengan
memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi.
2. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum.

Pasal 2

Proses peningkatan transparansi dalam pelaksanaan pengadaan jasa konstruksi dilakukan


secara berjenjang :
1. Penayangan Hasil Kerja Panitia Pengadaan Panitia menayangkan seluruh hasil proses
pelelangan, termasuk berita acara ke dalam jaringan internet
2. Pengadaan yang dilakukan sebagian secara elektronik Pelaksanaan pengadaan dilakukan
secara elektronik, namun belum termasuk proses yang belum memiliki landasan hukum,
seperti, meterai elektronik, kekuatan hukum dokumen elektronik yang otentik, dll.
3. Pengadaan sepenuhnya dilakukan secara elektronik, baik pada proses pelelangan maupun
pelaksanaan kontrak.

Pasal 3

Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi yang sebagian dilakukan secara elektronik


sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 butir 2 terdiri dari :

1. Jasa Pemborongan
a. Pedoman Penilaian Kualifikasi Pelelangan Nasional Secara Elektronik Pekerjaan Jasa
Pelaksanaan Konstruksi
b. Pedoman Evaluasi Penawaran Pelelangan Nasional Secara Elektronik Pekerjaan Jasa
Pelaksanaan Konstruksi untuk Kontrak Harga Satuan
c. Pedoman Evaluasi Penawaran Pelelangan Nasional Secara Elektronik Pekerjaan Jasa
Pelaksanaan Konstruksi untuk Kontrak Lump Sum.

2. Jasa Konsultansi
a. Pedoman Penilaian Kualifikasi Seleksi Nasional Secara Elektronik Pekerjaan Jasa
Perencanaan dan Pengawasan Konstruksi.
b. Pedoman Evaluasi Penawaran Pelelangan Nasional secara Elektronik Pekerjaan Jasa
Perencanaan dan Pengawasan Konstruksi. Pedoman dimaksud sebagaimana tercantum
dalam lampiran Keputusan ini.

Pasal 4
Penerapan pengadaan Jasa Konstruksi secara elektronik di lingkungan instansi Pemerintah
ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Menteri/Sekretaris Utama/Sekretaris Daerah
yang antara lain berisi penetapan sistem aplikasi eprocurement yang akan digunakan,
administrator sistem tugas dan peran pihak-pihak yang terkait serta tahapan penerapannya
dengan memperhatikan kesiapan sumber daya di lingkungan masing-masing instansi.

Pasal 5

1. Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya.
2. Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk
diketahui dan dilaksanakan.
Surat Edaran Menteri PU RI Nomor : 07/SE/M/2012 : Pelaksanaan Pengadaan Barang dan
Jasa Pemerintah Secara Elektronik (e-Procurement)

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik, Kementerian Pekerjaan Umum perlu mempersiapkan perangkat hukum pada
bidang pemanfaatan teknologi informasi agar lebih meningkatkan transparansi, efisiensi,
efektivitas, persaingan sehat, dan akuntabilitas pengadaan barang/jasa serta mengurangi
kemungkinan terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme sesuai dengan pencanangan
wilayah bebas korupsi di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum.

Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan e-Procurement pada Tahun Anggaran 2012


menunjukan hasil yang positif sesuai dengan tahapan program kerja yang telah ditetapkan
dalam pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa secara elektronik. Untuk itu perlu
diambil langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelaksanaan e-
Procurement di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum pada Tahun Anggaran 2013.
Berdasarkan pada evaluasi pelaksanaan e-Procurement Tahun 2012, maka untuk Tahun
2013 pelaksanaan e-Procurement, khususnya pelaksanaan Full e-Procurement perlu
dilakukan perluasan wilayah cakupannya

Surat Edaran ini dimaksudkan agar dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan pengadaan
barang/jasa secara elektronik (e-Procurement). Surat Edaran ini bertujuan agar dalam
pelaksanaan e-Procurement tercipta transparansi, efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas
dalam pengadaan barang/jasa secara elektronik antara pengguna jasa dan penyedia jasa.

Ruang Lingkup Peraturan ini meliputi:

1. Pengertian

a. Semi e-procurement adalah proses pemilihan penyedia barang/jasa yang sebagian


prosesnya dilakukan melalui media elektronik (internet) secara interaktif dan
sebagian lagi dilakukan secara manual.

b. Full e-Procurement adalah proses pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan


dengan cara memasukkan dokumen (file) penawaran melalui sistem e Procurement,
sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang undangan, sedangkan
penjelasan dokumen seleksi/lelang masih dilakukan secara tatap muka antara
pengguna jasa dengan penyedia jasa.

2. Penerapan Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Secara Elektronik (e-Procurement)

a. Seluruh Satuan Kerja/SNVT di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum wajib


menayangkan Rencana Umum Pengadaan sesuai dengan alokasi DIPA pada sistem
e-Procurement Kementerian Pekerjaan Umum segera setelah rencana kerja dan
anggaran Kementerian Pekerjaan Umum disetujui oleh DPR.

b. Rencana Umum Pengadaan berisi seluruh informasi paket kegiatan Administrasi


Umum, Swakelola, dan Kontraktual.
c. Penerapan pelelangan secara elektronik (e-Procurement) di lingkungan Kementerian
Pekerjaan Umum pada Tahun 2013 dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu Semi e-
Procurement dan Full e-Procurement dengan alur proses sebagaimana tercantum
dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran Menteri
ini.

d. Penerapan Semi e-Procurement diberlakukan untuk semua paket pekerjaan yang


berada pada Satuan Kerja/SNVT di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum pada
2 (dua) provinsi berikut: Provinsi Papua, dan Papua Barat.

e. Penerapan Full e-Procurement diberlakukan untuk semua paket pekerjaan yang


berada pada Satuan Kerja/SNVT di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum di
Pusat dan 31 (tiga puluh satu) provinsi
f. Jaminan Penawaran asli bagi penyedia jasa yang akan mengikuti pemilihan
penyedia barang/jasa secara elektronik wajib diterima Pokja ULP sebelum batas
waktu pemasukan penawaran berakhir, sesuai dengan peraturan perundang-
undangan;
g. Pembukaan dokumen penawaran disaksikan oleh wakil peserta dan berita acara
ditandatangani oleh Pokja ULP dan 2 (dua) orang saksi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;
h. Data yang digunakan Pokja ULP dalam evaluasi dokumen penawaran termasuk
dokumen kualifikasi dari penyedia jasa adalah data yang di-unggah (upload) pada
sistem pengadaan secara elektronik, sesuai dengan data syarat-syarat yang tertulis
dalam dokumen pengadaan.
i. Jika pada suatu paket pekerjaan setelah seluruh proses ekstraksi berhasil dan
terdapat lebih dari satu dokumen elektronik yang tidak rusak, berbeda isinya, dan
tidak saling melengkapi serta tidak ada keterangan penggantian dokumen, maka
dokumen yang digunakan untuk evaluasi adalah dokumen yang di-upload paling
akhir.
j. Dokumen elektronik yang rusak (sesudah mendapat klarifikasi dari LPSE) akibat
kesalahan pengiriman dokumen oleh Penyedia Jasa, yang mengakibatkan dokumen
tersebut tidak dapat dilakukan evaluasi oleh Pokja ULP, maka dokumen elektronik
tersebut dinyatakan tidak memenuhi syarat.
k. Rencana Umum Pengadaan dan Pengumuman Pengadaan yang sudah
diinformasikan pada website www.pu.go.id, selanjutnya oleh LPSE akan di link
dengan Portal Pengadaan Nasional atau www.inaproc.lkpp.go.id.
l. Apabila terjadi hambatan teknis terkait dengan sistem pengadaan secara elektronik,
sehingga Pokja ULP tidak dapat mengunggah (upload) dokumen pengadaan secara
utuh, maka segera memberitahukan/menghubungi LPSE untuk diadakan
perubahan/penyesuaian jadwal dengan memperhatikan alokasi waktu yang cukup.
3. Pembinaan dan Pengawasan
a. Pembinaan dalam penerapan Surat Edaran ini dilakukan oleh:
1) Badan Pembinaan Konstruksi untuk melakukan koordinasi pelaksanaan sosialisasi untuk
mitra kerja/penyedia jasa.

2) LPSE untuk melakukan koordinasi pelaksanaan sosialisasi di masing-masing satminkal


di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum.
b. Pengawasan terhadap pelaksanaan Surat Edaran ini dilakukan oleh Inspektorat Jenderal
Kementerian Pekerjaan Umum.
6. Permen PU RI Nomor : 07/Prt/M/2011 Tentang Standard dan Pedoman Pengadaan
Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultasi

Pada Peraturan ini di buat berdasarkan beberapa hal, diantaranya:

a. bahwa pengadaan pekerjaan konstruksi dan jasa konsultansi di bidang pekerjaan


umum yang memenuhi tata nilai pengadaan dan kompetitif sangat diperlukan bagi
ketersediaan infrastruktur yang berkualitas sehingga akan berdampak pada
peningkatan pelayanan publik;
b. bahwa dengan telah diterbitkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor
54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, perlu pengaturan
mengenai tatacara pengadaan pekerjaan konstruksi dan jasa konsultansi yang jelas
dan komprehensif sehingga dapat menjadi pengaturan yang efektif dalam
pengadaan barang/jasa pemerintah;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b
perlu menetapkan Peraturan Menteri;

Dalam peraturan ini membahas terkait rangka menyusun Harga Perkiraan Sendiri (HPS)
dilakukan berdasarkan metode pelaksanaan/kerja dan spesifikasi teknis dengan
memperhatikan data harga pasar setempat, yang diperoleh berdasarkan hasil survey
menjelang dilaksanakannya pengadaan dengan mempertimbangkan informasi yang
meliputi:
a. informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik
(BPS);
b. informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh asosiasi terkait dan
sumber data lain yang dapat dipertanggungjawabkan;
c. daftar biaya/tarif Barang/Jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/distributor tunggal;
d. biaya Kontrak sebelumnya atau yang sedang berjalan dengan mempertimbangkan
faktor perubahan biaya;
e. inflasi tahun sebelumnya, suku bunga berjalan dan/atau kurs tengah Bank
Indonesia;
f. hasil perbandingan dengan Kontrak sejenis, baik yang dilakukan dengan instansi
lain maupun pihak lain
g. perkiraan perhitungan biaya yang dilakukan oleh konsultan perencana (engineers
estimate);
h. norma indeks yaitu tentang nilai harga terendah dan harga tertinggi dari suatu
barang/jasa yang diterbitkan oleh instansi teknis terkait atau Pemerintah Daerah
setempat; dan/atau informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Permen PU RI Nomor : 14/Prt/M/2013 Tentang Perubahan Atas Permen PU RI Nomor :
07/Prt/M2011

Perubahan yang dilakukan pada Permen sebelumnya yaitu Perjanjian/Kontrak yang


ditandatangani sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini, tetap berlaku sampai dengan
berakhirnya Perjanjian/Kontrak.
Permen PU RI Nomor : 07/Prt/M/2014 Tentang Perubahan Atas Permen PU RI Nomor :
07/Prt/M2011
Hal yang dirubah pada Permen ini yaitu :

1. Ketentuan dalam Pasal 1 dan 9 diubah, menjadi :

9. Penyedia Barang/Jasa yang selanjutnya disebut Penyedia adalahbadan usaha atau orang
perseorangan yang menyediakan Pekerjaan Konstruksi/ Jasa Konsultansi Konstruksi.
2. Ketentuan pasal 4b diubah

Pasal 4b
(1) Penggunaan surat jaminan pekerjaan konstruksi diatur sebagai berikut :
a) Surat jaminan penawaran, surat jaminan pelaksanaan, surat jaminan uang muka, surat
jaminan pemeliharaan, atau surat jaminan sanggahan banding untuk paket pekerjaan sampai
dengan Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) dapat diterbitkan oleh Bank
Umum/Perusahaan Penjaminan / Perusahaan Asuransi, bersifat mudah dicairkan dan tidak
bersyarat (unconditional), dan diserahkan oleh Penyedia Barang/Jasa kepada
PPK/Kelompok Kerja ULP.

b) Surat jaminan penawaran, surat jaminan pelaksanaan, surat jaminan uang muka, surat
jaminan pemeliharaan, atau surat jaminan sanggahan banding untuk paket pekerjaan di atas
Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) diterbitkan oleh Bank Umum bersifat
mudah dicairkan dan tidak bersyarat (unconditional), dan diserahkan oleh Penyedia
Barang/Jasa kepada PPK/Kelompok Kerja ULP.

c) Ketentuan a) dapat dikecualikan dalam hal menggunakan sistem e-procurement sampai


dengan Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) tidak diperlukan surat
jaminan penawaran.

(2) Penggunaan surat jaminan pekerjaan jasa konsultansi diatur sebagai berikut :
a) Surat jaminan uang muka atau surat jaminan sanggah banding untuk paket pekerjaan
sampai dengan Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) dapat diterbitkan
oleh Bank Umum/Perusahaan Penjaminan/ Perusahaan Asuransi, bersifat mudah dicairkan
dan tidak bersyarat (unconditional), dan diserahkan oleh Penyedia Barang/Jasa kepada
PPK/Kelompok Kerja ULP.

b) Surat jaminan uang muka atau surat jaminan sanggah banding untuk paket pekerjaan di
atas Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) diterbitkan oleh Bank Umum
bersifat mudah dicairkan dan tidak bersyarat (unconditional), dan diserahkan oleh Penyedia
Barang/Jasa kepada PPK/Kelompok Kerja ULP.
3. Ketentuan Pasal 6d ditambahkan 2 Ayat

Pasal 6d
(1) Dalam hal Penyedia mengikuti beberapa paket pekerjaan konstruksi dalam waktu
bersamaan dengan menawarkan peralatan yang sama untuk beberapa paket yang diikuti dan
dalam evaluasi memenuhi persyaratan pada masing-masing paket pekerjaan, maka hanya
dapat ditetapkan sebagai pemenang pada 1 (satu) paket pekerjaan dengan cara melakukan
klarifikasi untuk menentukan peralatan tersebut akan ditempatkan, sedangkan untuk paket
pekerjaan lainnya dinyatakan peralatan tidak ada dan dinyatakan gugur.

(2) Ketentuan hanya dapat ditetapkan sebagai pemenang pada 1 (satu) paket pekerjaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dikecualikan dengan syarat kapasitas dan
produktifitas peralatan secara teknis dapat menyelesaikan pekerjaan lebih dari 1 (satu)
paket.

(3) Dalam hal Penyedia mengikuti beberapa paket pekerjaan konstruksi atau jasa
konsultansi dalam waktu bersamaan dengan menawarkan personil yang sama untuk
beberapa paket yang diikuti dan dalam evaluasi memenuhi persyaratan pada masing-masing
paket pekerjaan, maka hanya dapat ditetapkan sebagai pemenang pada 1 (satu) paket
pekerjaan dengan cara melakukan klarifikasi untuk menentukan personil tersebut akan
ditempatkan, sedangkan untuk paket pekerjaan lainnya personil dinyatakan tidak ada dan
dinyatakan gugur.

(4) Ketentuan hanya dapat ditetapkan sebagai pemenang pada 1 (satu) paket pekerjaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dikecualikan pada paket pekerjaan jasa
konsultansi apabila tenaga ahli yang diusulkan, penugasannya tidak tumpang tindih
(overlap) antara paket yang satu dengan paket lainnya dalam kurun waktu bersamaan.

(5) Paket pekerjaan konstruksi dengan nilai diatas Rp. 2.500.000.000,00 (dua miliar lima
ratus juta rupiah) sampai dengan Rp. 30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah) dapat
dipersyaratkan hanya untuk pelaksana konstruksi dengan kualifikasi Usaha Menengah yang
kemampuan dasarnya (KD) memenuhi syarat.
7. Permen PU RI Nomor : 28/Prt/M/2006 : Perizinan Perwakilan Badan Usaha Jasa
Konstruksi Asing

Pada Permen ini membahas :

a. Badan Usaha Jasa Konstruksi Asing yang akan melaksanakan kegiatan usahanya di
wilayah Republik Indonesia wajib mempunyai Izin Perwakilan Badan Usaha Jasa
Konstruksi Asing.
b. Izin Perwakilan Badan Usaha Jasa Konstruksi Asing sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat diterbitkan setelah Badan Usaha Jasa Konstruksi Asing yang
bersangkutan mendapatkan penyetaraan. kompetensi, klasifikasi, kualifikasi yang
dinyatakan dalam bentuk sertifikat dari Lembaga.
c. Izin Perwakilan Badan Usaha Jasa Konstruksi Asing sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) kedudukannya sama dengan Ijin Usaha untuk Badan Usaha Jasa Konstruksi
Nasional sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Perundang-undangan yang
berlaku.
d. Setelah mendapat izin perwakilan, BUJKA yang beroperasi di Indonesia dapat
mencari pekerjaan jasa konstruksi dan membuat kontrak atas pekerjaan yang
diperolehnya dimana kontrak tersebut harus ditandatangani oleh kepala perwakilan
atas nama badan usaha induknya.
Permohonan Izin Perwakilan Badan Usaha Jasa Konstruksi Asing harus dilengkapi dengan
dokumen permohonan berupa data Badan Usaha. Diantaranya :
a. data badan usaha atau company profile;
b. data personalia;
c. uraian bidang usaha dan kompetensi (klasifikasi & kualifikasi) yang diberikan di
negaranya;
d. rekaman bukti nilai kompetesi badan usaha asing di negaranya yang dikeluarkan oleh
Instansi yang berwenang di negaranya dan disahkan oleh Kedutaan besar Negara tersebut di
Indonesia dan bukti penyetaraan dari Lembaga;
e. surat keterangan dari perwakilan pemerintah RI di negara tempat kantor pusat Badan
Usaha yang menyatakan kebenaran adanya Badan Usaha tersebut;
f. surat penunjukan dari badan usaha induknya kepada kepala kantor perwakilan Badan
Usaha Jasa Konstruksi Asing tersebut di Indonesia ( Letter Appointment)
g. NPWP Badan Usaha yang bersangkutan;
h. tanda bukti pembayaran uang administrasi; dan
i. curiculum vitae dari calon Kepala Perwakilan BUJK.
Surat Edaran Menteri PU RI Nomor: 13/SE/M/2006 : Persyaratan Perusahaan Asing dalam
Mengikuti Proses Pengadaan Barang/Jasa di Indonesia

Surat ini dibuat dalam rangka menindaklanjuti amanat dari Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement on Establishing the World Trade Organization
(persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia) dan Undang-Undang Nomor 18
Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi beserta peraturan pelaksanaannya, khususnya yang
berkaitan dengan persyaratan usaha bagi Badan Usaha Asing dalam mengikuti proses
pengadaan barang/jasa di Indonesia, maka perlu ditegaskan agar seluruh satuan/unit kerja di
lingkungan Departemen Pekerjaan Umum memperhatikan beberapa ketentuan peraturan
sebagai berikut:

1. Perizinan
Untuk dapat menyelenggarakan usaha jasa konstruksi di Indonesia, Badan Usaha Asing
wajib memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat 4 Peraturan Pemerintah
(PP) Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi, yang
diatur sebagai berikut:
a. Memiliki tanda registrasi badan usaha yang dikeluarkan oleh Lembaga;
b. Memiliki kantor perwakilan di Indonesia;
c. Memberikan laporan kegiatan tahunan bagi perpanjangan;
d. Memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan oleh peraturan perundang-
undangan.

2. Bidang Usaha

Bidang-bidang usaha jasa konstruksi yang terbuka bagi keikutsertaan Badan Usaha Asing
harus memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Ayat (4) Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, yang menyatakan bahwa Pekerjaan
konstruksi yang beresiko besar dan/atau berteknologi tinggi dan/atau yang berbiaya besar
hanya dapat dilakukan oleh badan usaha yang berbentuk Perseroan Terbatas atau badan
usaha asing yang dipersamakan.

3. Joint Operation dan Joint Venture

Badan Usaha Asing yang melaksanakan pekerjaan jasa konstruksi di wilayah Indonesia,
harus memenuhi ketentuan bahwa Badan Usaha Asing yang bersangkutan harus
membentuk Joint Operation ataupun Joint Venture dengan Badan Usaha jasa kosntruksi
Nasional yang telah diregistrasi oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi dengan
kualifikasi besar. Untuk pembentukan Joint Venture, kepemilikan saham perusahaan asing
dibatasi maksimal sebesar 55% untuk jasa pelaksanaan konstruksi, dan 49% untuk jasa
konsultansi berdasarkan komitmen pemerintah Indonesia dengan negara-negara anggota
WTO sebagai tindak lanjut dari amanah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang
Pengesahan Agreement on Establishing the World Trade Organization (persetujuan
pembentukan organisasi perdagangan dunia).
4. Nilai Pengadaan

Keikutsertaan Badan Usaha Asing dalam Pengadaan Barang/Jasa pada instansi Pemerintah
harus memenuhi ketentuan yang diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagai
berikut:
a. Pasal 42 ayat (1) yang menyatakan bahwa Badan Usaha Asing dapat mengikuti
pengadaan barang/jasa pada instansi pemerintah dengan nilai:
untuk jasa pemborongan di atas Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah);
untuk barang/jasa lainnya di atas Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);
untuk jasa konsultansi di atas Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Pasal 42 ayat (2) yang menyatakan dalam melaksanakan pekerjaan jasa konstruksi
di wilayah Indonesia, perusahaan jasa konstruksi asing harus melakukan kerjasama
usaha apabila ada perusahaan nasional yang memiliki kemampuan di bidang yang
bersangkutan.
8. Kepmen PU RI Nomor : 339 /KPTS/M/2003 : Tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pengadaan Jasa Konstruksi Oleh Instansi Pemerintah
http://rifqi-arihyoshi.mhs.narotama.ac.id/2016/03/23/rangkuman-undang-
undang-nomor-18-tahun-1999-tentang-jasa-konstruksi-2/