Anda di halaman 1dari 4

Contoh Kasus Dispensasi Pernikahan Oleh

Pengadilan Agama

Istilah perkawinan remaja, meski tak lazim digunakan, mencerminkan data


kasus permohonan dispensasi pernikahan untuk pasangan yang menikah di bawah
19 tahun (laki-laki) dan 16 tahun (perempuan) yang diajukan ke Pengadilan Agama
dan memang cukup banyak jumlahnya. Tren ini pun semakin meningkat.
Sekadar menyebut beberapa contoh, data Pengadilan Agama (PA) Kabupaten
Sukoharjo hingga April 2013 mencatat 20 kasus pengajuan permohonan dispensasi
nikah. Sementara itu, data di Pengadilan Agama (PA) Gunungkidul menyebutkan,
ada 60 dispensasi nikah pada 2009. Pada 2010 jumlahnya meningkat jadi 120
kasus, 2011 sebanyak 145 dan 2012 ada 172. Rata-rata (dispensasi nikah) tersebut,
90 persen karena hamil di luar nikah.
Sementara itu pada tahun 2008, perkara permohonan izin dispensasi
perkawinan di bawah umur yang masuk ke Pengadilan Agama yang rata-rata masih
berumur 14 tahun mencapai 46 perkara, dan pada tahun 2009 meningkat menjadi
59 perkara, dan belum lagi perkara yang terjadi pada tahun 2010. Pada tahun 2010,
data Januari-Juni, dan itupun jika perkaranya dijumlah sudah mencapai 42 perkara
permohonan dispensasi nikah, dan mayoritas perkara tersebut dikabulkan oleh
Pengadilan Agama.
Contoh :

Analisis KASUS Syekh Puji di pandang dari Hukum


Perlindungan Anak
KASUS / PERMASALAHAN :
Pujiono Cahyo Widianto seorang laki-laki kelahiran 4 Agustus 1965 yang saat
ini telah berusia 43 tahun yang lebih di kenal dengan sebutan Syekh Puji, pemilik
Perusahaan Pengrajin Kuningan PT.Sinar Lendoh Lestari (SILENTER) juga sebagai
pemilik Pondok Pesantren Miftahul Jannah telah menikahi seorang gadis di bawah
umur yaitu Lutfiana Ulfa yang saat ini baru berusia 12 tahun. Setatus Lutfiana Ulfa
yang di nikahi oleh Syekh Puji adalah istri ke dua dari Syekh Puji, pernikahanya
dengan Ulfa telah di langsungkan pada tanggal 8 Agustus 2008 yang berlangsung
pada pukul 03.03 dini hari, dan di langsungkan secara agama. Selain Lutfiana Ulfa
Syech Puji berencana akan menikahi 2 orang gadis di bawah umur lagi yang masih
berusia 7 dan 9 tahun. Alas an pernikahan yang di lakukan oleh Syekh Puji karena
tidak melanggar Hukum Islam, serta akan mendidik istrinya untuk di persiapkan
menjadi Manager di perusahaanya yaitu PT.SILENTER, Syekh Puji beranggapan
bahwa akan sangat mudah untuk mendidik anak kecil agar dapat di persiapkan
menjadi Manager Perusahaanya. Dasar agama yang di kemukakan oleh Syekh Puji
untuk menikahi Ulfa adalah di karenakan Nabi Muhammad dahulu juga menikahi
seorang anak di bawah umur, yang saat itu berusia 7 tahun dan bernama Aisyah.
Pernikahan Syekh Puji yang tidak wajar tersebut mendapat kecaman dari
banyak pihak serta di anggap telah melanggar 2 Undang-undang yaitu UU
perkawinan 9UU No 1 Tahun 74) serta UU Perlindungan Anak (UU No 23 Tahun
2002). Karena tindakan tersebut merupakan tindakan melawan hokum Ketua
Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau akrab di panggil Kak Seto bertemu
dengan Syekh Puji pada tanggal 28 Oktober 2008, hasil dari pertemuan tersebut
adalah kesediaanya Syekh Puji untuk mengembalikan Ulfa kepada Orang Tuanya
serta membatalkan pernikahanya dengan Ulfa. Tindakan yang di lakukan oleh Syekh
Puji jelas akan merugikan Ulfa sebagai anak di bawah umur, pendapat pakar di
bidang medis Dokter Specialis Obstetri dan Ginekologi dr.Derajat
MucharramSastrawikarta.Sp.Og menyatakan bahwa, pernikahan dengan anak
perempuan yang berusia antara 9 sampai dengan 12 tahun sangat tidak lazim, di
karenakan kematangan Fisik seorang anak tidak sama dengan kematangan
Psikologinya, sehingga walaupun anak tersebut telah Menstruasi, secara mental ia
belum siap untuk dapat berhubungan seksual, kehamilan pun dapat saja terjadi
pada anak berusia 12 tahun tetapi selai psikologinya belum siap, kemungkinan lain
akan mempengaruhi janin yang di kandungnya, posisi bayi tidak akan lurus di perut
ibunya, selain itu sel telur yang di miliki anak-anak belum matang sepenuhnya,
serta belum dapat di katakana berkwalitas yang di khawatirkan dapat menimbulkan
kelainan kromosom pada bayi yang akan berakibat ketidak normalan fisik bayi.
Banyaknya hal-hal yang merugikan yang akan timbul dari pernikahan seorang yang
masih di bawah umur manjadi pertimbangan yang harus di perhatikan oleh
masyarakat maupun LSM yang bergerak di bidang perlindungan Hak Anak.
Analisis Hukum
DI PANDANG DARI UU NO 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK
Lutfiana Ulfa sebagai wanita yang di nikahi oleh Syekh puji untuk di jadikan
Istri ke dua dalam UU Perlindungan Anak masih di kategorikan sebagai Anak. Hal
tersebut dapat di lihat dalam Pasal 1 ayat 1 UU No 23 tahun 2002 yang berbunyi
Anak adalah seorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih
dalam kandungan telah sangat jelas di sebutkan batasan umur dari seorang yang
belum di nyatakan dewasa, dan masih di pandang sebagai Anak, yaitu seorang
yang belum berusia 18 tahun, sesuai dengan yang di tetapkan dalam UU ini.
Di dalam pasal 4 di sebutkan bahwa : setiap anak berhak untuk dapat hidup,
tumbuh dan berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan
martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi hal ini adalah dasar, bagaimana hak seorang anak harus di utamakan
sesuai dengan porsinya tanpa di halangi dengan hal apapun. Pernikahan yang di
langsungkan terhadap seorang anak, akan membatasi gerak anak tersebut, yang di
sebabkan adanya ikatan perkawinan, walaupun pihak suami tidak membatasi
pergerakan anak yang telah di nikahinya label yang telah tertanam di mata teman-
teman sebaya anak tersebut akan di cap berbeda, yang akan berakibat timbulnya
diskriminasi antar teman sepermainannya, hal inilah yang seharusnya dapat di
hindari agar perkawinan di bawah umur tidak terjadi tanpa pertimbangan.
Kewajiban warga masyarakat serta orang tua terhadap Anak-anak di
nyatakan secara tegas di dalam pasal 20 UU ini yang berbunyi Negara,
Pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua, berkewajiban dan bertanggung
jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak pernyataan yang tegas
tertulis dalam pasal tersebut pada kenyataanya dalam kasus ini tidak dapat di
jalankan, warga masyarakat yang mengikuti jalanya perkawinan serta di jadikan
saksi, penghulu yang bertindak sebagai orang yang mengesahkan perkawinan,
serta orang tua dari Lutfiana Ulfa, juga pemerintah setempat tidak dapat mencegah
lahirnya perkawinan Lutfiana Ulfa sebagai anak di bawah umur, di sini sangat
terlihat bagaimana pihak-pihak yang seharusnya berperan untuk menjunjung tingi
hak Anak telah lalai menjalankan kewajibanya sebagai warga masyarakat yang
baik.
Orang Tua dari Lutfiana Ulfa yang seharusnya menjadi pihak yang memiliki
tanggung jawab penuh dan wajib menjaga dan mendidik anaknya sesuai dengan
porsinya sebagai orang tua telah melalaikan kewajibanya. Kelalaian yang di lakukan
oleh orang tua Lutfiana Ulfa akan mengakibatkan hokum melakukan tindakan
sebagaimana yang di nyatakan dalam pasal 26 dan pasal 30 ayat 1 yang
menyatakan :
Pasal 26 : orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk :
a. Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anaknya
b. Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan bakat dan minat serta
kemampuanya
c. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak
Dan jika kewajiban Orang Tua yang di sebutkan dalam pasal 26 tersebut di
langgar maka :
Di sebutkan dalam Pasal 30 ayat 1 : dalam hal orang tua sebagaimana di
sebutkan dalam pasal 26 melalaikan kewajibanya terhadapnya dapat di lakukan
tindakan pengawasan / kuasa asuh orang tua dapat di cabut
Tindakan yang di sebutkan dalam pasa 30 ayat 1 tersebut sangat di
sayangkan tidak dapat terjadi secara otomatis, harus melalui penetapan pengadilan
yang sebelumnya harus di ajukan permohonan terlebih dahulu sesuai dengan pasal
30 ayat 2 dan pasal 31 ayat 1. Permohonan tersebut hanya dapat di ajukan oleh :
a. Salah satu orang tua
b. Sodara kandung
c. Atau keluarga sampai derajat ke tiga
Walaupun pengajuan permohonan hanya dapat di lakukan oleh pihak yang
telah di sebutkan di atas masih dapat di adakanya dispensasi apabila pihak di atas
tidak dapat atau tidak mau menjalankan funsinya dispensasi tersebut di atur dalam
pasal 31 ayat 3 UU ini yang berbunyi : Apabila para pihak yang telah di sebutkan
pada ayat 1 tidak dapat menjalankan Funsinya, maka dapat di ajukan oleh pejabat
yang berwenang atau lembaga lain yang memiliki kewenangan untuk itu
pengaturan beberapa pasal di atas serta keringananya bertujuan agar orang tua
yang seharusnya menjadi pengasuh yang baik untuk anaknya tidak melalaikan
tanggung jawabnya, seperti yang telah di lakukan oleh orang tua Lutfiana Ulfa
terhadap anaknya.
sebelumnya telah di bahas bagaimana seharusnya semua orang bertindak
sesuai hokum yang berlaku dalam hal melindungi hak Lutfiana Ulfa sebagai anak.
Kewajiban dan tanggung jawab yang telah di uraikan di atas bukan saja aturan yang
tanpa sanksi yang tegas. Syekh Puji sebagai pihak utama yang melanggar
ketentuan dalam UU Perlindungan anak dapat pula di kenakan sanksi yang di atur
dalam pasal 77 A UU ini yang berbunyi setiap orang yang dengan sengaja
melakukan tindakan Diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan seorang anak
mengalami kerugian baik materil maupun moril sehingga menghambat funsi
sosialnya dapat di penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak
Rp100.000.000.
Ancaman hukuman di atas masih dapat di beratkan apabila terbukti bahwa
Syekh Puji dengan sengaja melakukan tipu muslihat serta serangkain kebohongan
atau membujuk anak di bawah umur agar mau bersetubuh dengannya dengan dalil
menikahinya maka sesuai dengan pasal 81 ayat 2 dapat di kenakan sanksi paling
banyak 15 tahun penjara dan denda sebesar Rp300.000.000,-.