Anda di halaman 1dari 96

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Orang lanjut usia (lansia), menurut definisi World Health Organization


(WHO), adalah orang usia 60 tahun keatas yang terdiri dari usia lanjut (elderly) 60
74 tahun, usia tua (old) 75 90 tahun, dan usia sangat lanjut (very old) diatas 90
tahun (Rharja, 2013).

Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang yang jumlah penduduk


berusia 60 tahun ke atas semakin meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data
dari Badan Pusat Statistik (BPS) terjadi peningkatan usia harapan hidup (UHH). Pada
tahun 2000 UHH di Indonesia adalah 64,5 tahun (dengan presentase populasi lansia
adalah 7,18%). Angka ini meningkat menjadi 69.43 tahun pada tahun 2010 (dengan
presentase populasi lansia adalah 7,56 %) dan pada tahun 2011 menjadi 69,65 tahun
(dengan presentase populasi lansia adalah 7,58 %) (Kemenkes, 2013). Peningkatan
usia harapan hidup tersebut bisa karena pengaruh kemajuan di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang kedokteran.

Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegenerative yang bersifat kronis


progresif, merupakan penyakit terbanyak kedua setelah demensia Alzheimer.Penyakit
ini memiliki dimensi gejala yang sangat luas sehingga baik langsungmaupun tidak
langsung mempengaruhi kualitas hidup penderita maupun keluarga.Pertama kali
ditemukan oleh seorang dokter inggris yang bernama James Parkinson pada tahun
1887. Penyakit ini merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalamiganguan
pergerakan.

Tanda-tanda khas yang ditemukan pada penderita diantaranya resting


tremor,rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural. Tanda-tanda motorik tersebut
merupakan akibat dari degenerasi neuron dopaminergik pada system
nigrostriatal. Namun, derajat keparahan defisit motorik tersebut beragam. Tanda-
tanda motorik pasien sering disertai depresi, disfungsi kognitif, gangguan tidur, dan
disfungsiautonom.Penyakit Parkinson terjadi di seluruh dunia, jumlah penderita
antara pria danwanita seimbang. 5 10 % orang yang terjangkit penyakit parkinson,
gejala awalnyamuncul sebelum usia 40 tahun, tapi rata-rata menyerang penderita
pada usia 65tahun. Secara keseluruhan, pengaruh usia pada umumnya mencapai 1 %

1
di seluruhdunia dan 1,6 % di Eropa, meningkat dari 0,6 % pada usia 60 64 tahun
sampai 3,5% pada usia 85 89 tahun.

Di Amerika Serikat, ada sekitar 500.000 penderita Parkinson,. Di Indonesia


sendiri, dengan jumlah penduduk 210 juta orang diperkirakan ada sekitar 200.000-
400.000 penderita. Rata-rata usia penderita di atas 50 tahun dengan rentang usia-
sesuai dengan penelitian yang dilakukan di beberapa rumah sakit di Sumatera dan
Jawa- 18 hingga 85 tahun. Statistik menunjukkan, baiak di luar negeri maupun di
dalam negeri, lelaki lebih banyak terkena di banding perempuan (3:2) dengan alasan
yang belum diketahui.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang disebut dengan Parkinson

2. Apa penyebab terjadinya Parkinson

3. Apa manifestasi dari Parkinson

4. Menjelaskan patofisiologi Parkinson

5. Menjelaskan pemeriksaan penunjang parkinson

6. Menjelaskan penatalaksanaan parkinson

1.3 Tujuan

I.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui gambaran serta asuhan keperawatan terkait klien dengan sindrom


parkinson

I.3.2 Tujuan Khusus

1. Melakukan pengkajian dengan sindrom Parkinson

2. Mengetahui diagnosa keperawatan Parkinson

3. Membuat rencana keperawatan Parkinson

2
4. Melakukan implementasi keperawatan Parkinson

5. Membuat evaluasi keperawatan parkinson

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Lansia

2.1.1 Pengertian Lanjut Usia

Usia lanjut adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses
perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Usia lanjut merupakan
tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang mencapai usia
lanjut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari (Notoatmodjo, 2007).

Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan
manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang
kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih
dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).

Berdasarkan defenisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia)


apabila usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap
lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh
untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh
kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres
fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta
peningkatan kepekaan secara individual (Efendi, 2009).

Penetapan usia 65 tahun ke atas sebagai awal masa lanjut usia (lansia) dimulai pada
abad ke-19 di negara Jerman. Usia 65 tah un merupakan batas minimal untuk kategori
lansia. Namun, banyak lansia yang masih menganggap dirinya berada pada masa usia
pertengahan. Usia kronologis biasanya tidak memiliki banyak keterkaitan dengan
kenyataan penuaan lansia. Setiap orang menua dengan cara yang berbeda-beda,
berdasarkan waktu dan riwayat hidupnya. Setiap lansia adalah unik, oleh karena itu
perawat harus memberikan pendekatan yang berbeda antara satu lansia dengan lansia
lainnya (Potter & Perry, 2009).

Menurut Undang Undang RI No 23 tahun 1992 tentang kesehatan pasal 19 ayat


1 bahwa manusia lanjut usia adalah seseorang yang karena usianya mengalami

3
perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial. Perubahan ini akan memberikan
pengaruh pad seluruh aspek kehidupan (Khoiriyah, 2011)

2.1.2 Klasifikasi Lansia

Menurut Maryam (2008), lima klasifikasi pada lansia antara lain:


a. Pra lansia : Seseorang yang berusia 45-59 tahun
b. Lansia : Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
c. Lansia resiko tinggi : Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/ seseorang
yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan
d. Lansia potensial : Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan
dan/atau kegiatan yang masih dapat menghasilkan barang/ jasa
e. Lansia tidak potensial : Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Nugroho (2000), lanjut usia
meliputi:
a. Usia pertengahan (middle age) yaitu kelompok usia 45-59 tahun
b. Usia lanjut (eldery) antara 60-74 tahun
c. Usia lanjut tua (old) antara 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun

Departemen Kesehatan RI membagi lansia sebagai berikut:


a. Kelompok menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa virilitas
b. Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai presenium
c. Kelompok usia lanjut (kurang dari 65 tahun) senium

2.1.3 Karakteristik Lansia

Lansia memiliki karakteristik sebagai berikut: berusia lebih dari 60 tahun


(sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No.13 tentang kesehatan), kebutuhan dan masalah
yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai

4
spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif, lingkungan tempat
tinggal bervariasi (Maryam dkk, 2008).

Menurut Maryam (2008), beberapa tipe lansia bergantung pada karakter,


pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial dan ekonominya. Tipe
tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Tipe arif bijaksana

Kaya dengan hikmah, pengalaman menyesuaikan diri dengan perubahan jaman,


mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan,
memenuhi undangan, dan menjadi panutan

b. Tipe mandiri

Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru dan selektif dalam mencari
pekerjaan, bergaul dengan teman dan memenuhi undangan

c. Tipe tidak puas

Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi pemarah, tidak
sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak menuntut

d. Tipe pasrah

Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama dan melakukan
pekerjaan apa saja

e. Tipe bingung

Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal, pasif dan


acuh tidak acuh

2.1.4 Tugas Perkembangan Lanjut Usia

Lansia harus menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik yang terjadi seiring
penuaan. Waktu dan durasi perubahan ini bervariasi pada tiap individu, namun seiring
penuaan sistem tubuh, perubahan penampilan dan fungsi tubuh akan terjadi.
Perubahan ini tidak dihubungkan dengan penyakit dan merupakan perubahan normal.

5
Adanya penyakit terkadang mengubah waktu timbulnya perubahan atau dampaknya
terhadap kehidupan sehari-hari.

Adapun tugas perkembangan pada lansia dalam adalah : beradaptasi terhadap


penurunan kesehatan dan kekuatan fisik, beradaptasi terhadap masa pensiun dan
penurunan pendapatan, beradaptasi terhadap kematian pasangan, menerima diri
sebagai individu yang menua, mempertahankan kehidupan yang memuaskan,
menetapkan kembali hubungan dengan anak yang telah dewasa, menemukan cara
mempertahankan kualitas hidup (Potter & Perry, 2009).

Seiring tahap kehidupan, lansia memiliki tugas perkembangan khusus. menurut


Potter dan Perry (2005), tujuh kategori utama tugas perkembangan lansia meliputi:

a. Menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan

Lansia harus menyesuaikan dengan perubahan fisik seiring terjadinya penuaan


sistem tubuh, perubahan penampilan dan fungsi. Hal ini tidak dikaitkan dengan
penyakit, tetapi hal ini adalah normal.

b. Menyesuaikan terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan

Lansia umumnya pensiun dari pekerjaan purna waktu, dan oleh karena itu
mungkin perlu untuk meyesuaikan dan membuat perubahan karena hilangnya
peran bekerja.

c. Menyesuaikan terhadap kematian pasangan

Mayoritas lansia dihadapkan pada kematian pasangan, teman, dan kadang


anaknya. Kehilangan ini sering sulit diselesaikan, apalagi bagi lansia yang
menggantungkan hidupnya dari seseorang yang meninggalkannya dan sangat
berarti bagi dirinya.

d. Menerima diri sendiri sebagai individu lansia

Beberapa lansia menemukan kesulitan untuk menerima diri sendiri selama


penuaan. Mereka dapat memperlihatkan ketidakmampuannya sebagai koping
dengan menyangkal penurunan fungsi, meminta cucunya untuk tidak memanggil
mereka nenek atau menolak meminta bantuan dalam tugas yang menempatkan
keamanan mereka pada resiko yang besar

6
e. Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup

Lansia dapat mengubah rencana kehidupannya. Misalnya kerusakan fisik dapat


mengharuskan pindah ke rumah yang lebih kecil dan untuk seorang diri

f. Mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang dewasa

Lansia sering memerlukan penetapan hubungan kembali dengan anak-anaknya


yang telah dewasa

g. Menentukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup

Lansia harus belajar menerima akivitas dan minat baru untuk mempertahankan
kualitas hidupnya. Seseorang yang sebelumnya aktif secara sosial sepanjang
hidupnya mungkin merasa relatif mudah untuk bertemu orang baru dan mendapat
minat baru. Akan tetapi, seseorang yang introvert dengan sosialisasi terbatas,
mungkin menemui kesulitan bertemu orang baru selama pensiun.

2.1.5 Perubahan yang Terjadi Pada Lansia

Perubahan yang terjadi pada lansia diantaranya (Santoso, 2009):

a. Perubahan kondisi fisik

Perubahan pada kondisi fisik pada lansia meliputi perubahan dari tingkat sel
sampai ke semua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran,
penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskolosketal,
gastrointestinal, urogenital, endokrin, dan integumen. Masalah fisik sehari-hari
yang sering ditemukan pada lansia diantaranya lansia mudah jatuh, mudah lelah,
kekacuan mental akut, nyeri pada dada, berdebar-debar, sesak nafas, pada saat
melakukan aktifitas/kerja fisik, pembengkakan pada kaki bawah, nyeri pinggang
atau punggung, nyeri sendi pinggul, sulit tidur, sering pusing, berat badan
menurun, gangguan pada fungsi penglihatan, pendengaran, dan sulit menahan
kencing.

b. Perubahan kondisi mental

Pada umumnya lansia mengalami penurunann fungsi kognitif dan psikomotor.


Perubahan-perubahan ini erat sekali kaitannya dengan perubahan fisik, keadaan

7
kesehatan, tingkat pendidikan atau pengetahuan, dan situasi lingkungan. Dari segi
mental dan emosional sering muncul perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak
aman dan cemas. Adanya kekacauan mental akut, merasa terancam akan timbulnya
suatu penyakit atau takut ditelantarkan karena tidak berguna lagi. Hal ini bisa
meyebabkan lansia mengalami depresi.

c. Perubahan psikososial

Masalah perubahan psikososial serta reaksi individu terhadap perubahan ini sangat
beragam, bergantung pada kepribadian individu yang bersangkuatan.

d. Perubahan kognitif

Perubahan pada fungsi kognitif di antaranya adalah kemunduran pada tugas-tugas


yang membutuhkan kecepatan dan tugas yang memerlukan memori jangka
pendek, kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran, dan kemampuan
verbal akan menetap bila tidak ada penyakit yang menyertai.

e. Perubahan spiritual

Menurut Maslow (1970), agama dan kepercayaan makin terintegrasi dalam


kehidupannya.

2.1.6 Masalah Fisik yang Sering Ditemukan Pada Lansia

Menurut Azizah (2011), masalah fisik yang sering ditemukan pada lansia adalah:

a. Mudah Jatuh

Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang
melihat kejadian yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di
lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau
luka

b. Mudah Lelah disebabkan oleh :

8
1. faktor psikologis (perasaan bosan, keletihan atau perasaan depresi)

2. gangguan organis

3. pengaruh obat-obat

c. Berat badan menurun disebabkan oleh :

1. Pada umumnya nafsu makan menurun karena kurang gairah hidup atau
kelesuan

2. Adanya penyakit kronis

3. Gangguan pada saluran pencernaan sehingga penyerapan makanan terganggu

4. Faktor-faktor sosioekonomis (pensiun)

d. Suka menahan Buang Air Besar disebabkan oleh :

1. Obat-obat pencahar perut

2. Keadaan diare

3. Kelainan pada usus besar

4. Kelainan pada ujung saluran pencernaan (pada rektum usus)

e. Gangguan pada ketajaman penglihatan disebabkan oleh :

1. Presbiop

2. Kelainan lensa mata (refleksi lensa mata kurang)

3. Kekeruhan pada lensa (katarak)

4. Tekanan dalam mata yang meninggi (glaukoma)

9
2.1.7 Penyakit yang Sering Dijumpai pada Lansia

Menurut Azizah (2011), dikemukakan adanya empat penyakit yang sangat erat
hubungannya dengan proses menua yakni:

a. gangguan sirkulasi darah, seperti : hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan


pembuluh darah di otak (koroner) dan ginjal

b. gangguan metabolisme hormonal, seperti: diabetes mellitus, klimakterium, dan


ketidakseimbangan tiroid.

c. gangguan pada persendian, seperti osteoartitis, gout arthritis, atau penyakit kolagen
lainnya

2.1.8 Proses Penuaan

Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat
diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap
perkembangan kronologis tertentu. Ini merupakan suatu fenomena yang kompleks
multidimensional yang dapat diobservasi di dalam satu sel dan berkembang sampai
pada keseluruhan sistem. (Stanley, 2006).

Tahap dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik perkembangan yang


maksimal. Setelah itu tubuh mulai menyusut dikarenakan berkurangnya jumlah sel-
sel yang ada di dalam tubuh. Sebagai akibatnya, tubuh juga akan mengalami
penurunan fungsi secara perlahan-lahan. Itulah yang dikatakan proses penuaan
(Maryam dkk, 2008).

Aging process atau proses penuaan merupakan suatu proses biologis yang tidak
dapat dihindari dan akan dialami oleh setiap orang. Menua adalah suatu proses
menghilangnya secara perlahan-lahan (gradual) kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti serta mempertahankan struktur dan fungsi secara
normal, ketahanan terhadap cedera, termasuk adanya infeksi. Proses penuaan sudah
mulai berlangsung sejak seseorang mencapai dewasa, misalnya dengan terjadinya
kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati
sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batasan yang tegas, pada usia berapa
kondisi kesehatan seseorang mulai menurun. Setiap orang memiliki fungsi fisiologis
alat tubuh yang sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak fungsi tersebut

10
maupun saat menurunnya. Umumnya fungsi fisiologis tubuh mencapai puncaknya
pada usia 20-30 tahun. Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam
kondisi tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai
dengan bertambahnya usia (Mubarak, 2009).

2.1.9 Teori-Teori Proses Penuaan

Menurut Maryam, dkk (2008) ada beberapa teori yang berkaitan dengan proses
penuaan, yaitu : teori biologi, teori psikologi, teori sosial, dan teori spiritual.

a. Teori biologis

Teori biologi mencakup teori genetik dan mutasi, immunology slow theory,
teori stres, teori radikal bebas, dan teori rantai silang.

Teori genetik dan mutasi. Menurut teori genetik dan mutasi, semua
terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai
akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul-molekul DNA dan
setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.

Immunology slow theory. Menurut immunology slow theory, sistem imun


menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam tubuh
yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.

Teori stres. Teori stres mengungkapkan menua terjadi akibat hilangnya sel-sel
yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan
kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha, dan stres yang menyebabkan sel-
sel tubuh lelah terpakai.

Teori radikal bebas. Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak
stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-
bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel
tidak dapat melakukan regenerasi.

Teori rantai silang. Pada teori rantai silang diungkapkan bahwa reaksi kimia
sel-sel yang tua menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen.
Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas kekacauan, dan hilangnya fungsi sel.

11
b. Teori psikologi

Perubahan psikologis yang terjadi dapat dihubungkan pula dengan keakuratan


mental dan keadaan fungsional yang efektif. Adanya penurunan dan intelektualitas
yang meliputi persepsi, kemampuan kognitif, memori, dan belajar pada usia lanjut
menyebabkan mereka sulit untuk dipahami dan berinteraksi. Persepsi merupakan
kemampuan interpretasi pada lingkungan. Dengan adanya penurunan fungsi sistem
sensorik, maka akan terjadi pula penurunan kemampuan untuk menerima,
memproses, dan merespons stimulus sehingga terkadang akan muncul aksi/reaksi
yang berbeda dari stimulus yang ada.

c. Teori sosial
Ada beberapa teori sosial yang berkaitan dengan proses penuaan, yaitu teori
interaksi sosial (social exchange theory), teori penarikan diri (disengagement
theory), teori aktivitas (activity theory), teori kesinambungan (continuity theory),
teori perkembangan (development theory), dan teori stratifikasi usia (age
stratification theory).

1. Teori interaksi sosial. Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lansia bertindak
pada suatu situasi tertentu, yaitu atas dasar hal-hal yang dihargai masyarakat.
Pada lansia, kekuasaan dan prestasinya berkurang sehingga menyebabkan
interaksi sosial mereka juga berkurang, yang tersisa hanyalah harga diri dan
kemampuan mereka untuk mengikuti perintah.

2. Teori penarikan diri. Teori ini menyatakan bahwa kemiskinan yang diderita
lansia dan menurunnya derajat kesehatan mengakibatkan seorang lansia secara
perlahan-lahan menarik diri dari pergaulan di sekitarnya.

3. Teori aktivitas. Teori ini menyatakan bahwa penuaan yang sukses bergantung
bagaimana seorang lansia merasakan kepuasan dalam melakukan aktivitas serta
mempertahankan aktivitas tersebut lebih penting dibandingkan kuantitas dan
aktivitas yang dilakukan.

4. Teori kesinambungan. Teori ini mengemukakan adanya kesinambungan dalam


siklus kehidupan lansia. Pengalaman hidup seseorang pada suatu saat
merupakan gambarannya kelak pada saat ia menjadi lansia. Hal ini dapat
terlihat bahwa gaya hidup, perilaku, dan harapan seseorang ternyata tidak
berubah meskipun ia telah menjadi lansia.

12
5. Teori perkembangan. Teori perkembangan menjelaskan bagaimana proses
menjadi tua merupakan suatu tantangan dan bagaimana jawaban lansia terhadap
berbagai tantangan tersebut yang dapat bernilai positif ataupun negatif. Akan
tetapi, teori ini tidak menggariskan bagaimana cara menjadi tua yang
diinginkan atau yang seharusnya diterapkan oleh lansia tersebut.

6. Teori stratifikasi usia. Keunggulan teori stratifikasi usia adalah bahwa


pendekatan yang dilakukan bersifat deterministik dan dapat dipergunakan untuk
mempelajari sifat lansia secara kelompok dan bersifat makro. Setiap kelompok
dapat ditinjau dari sudut pandang demografi dan keterkaitannya dengan
kelompok usia lainnya. Kelemahannya adalah teori ini tidak dapat
dipergunakan untuk menilai lansia secara perorangan, mengingat bahwa
stratifikasi sangat kompleks dan dinamis serta terkait dengan klasifikasi kelas
dan kelompok etnik.

d. Teori spiritual
Komponen spiritual dan tumbuh kembang merujuk pada pengertian hubungan
individu dengan alam semesta dan persepsi individu tentang arti kehidupan.

2.2 Pengertian Parkinson

I.3.1 Definisi Parkinson


Parkinson merupakan suatu gangguan neurologis progresif yang mengenai
pusat otak yang bertanggung jawab untuk mengontrol dan mengatur gerakan
(Muttaqin, 2011).
Parkinson (paralis agitans) merupakan penyakit sindrome pergerakan yang
disebabkan oleh gangguan pada basalis dan subtansia nigra dalam menghasilkan
dopamin, di tandai dengan adanya tremor ritmik, bradikinesia, kekakuan otot dan
hilangnya refleks-refleks postural. Basal ganglia adalah bagian sari sistem
ekstrapiramidal dan berpengaruh untuk mengawali, modulasi dan mengakhiri
pergerakan serta pengaturan gerakan-gerakan otomatis (Tarwoto dkk, 2007).
Parkinson merupakan istilah dari suatu sindrom yang ditandai dengan tremor
ritmik, bredikinesia, kekuatan otot, an hilangnya reflek-reflek postural (Muttaqin,
2008).
PenyakitParkinson (paralysis agitans) atau sindrom Parkinson (Parkinsonismus)
merupakan suatu penyakit / sindrom karena gangguan pada ganglia basalis akibat
penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamine dari substansia nigra ke globus
palidus / neostriatum (striatal dopamine deficiency) (Harsono, 2009).

13
Penyakit Parkinson adalah penyakit saraf yang progresif yang berdampak
terhadap respon mesenfalon atau pergerakan regulasi. Penyakit ini bersifat lambat
yang menyerang usia pertengahan atau lanjut, dengan onset 50-60 tahun. Jadi,
Parkinson adalah penyakit degenerasi atau gangguan neurologis progresif yang
menyerang otak yang menyebabkan penipisan dopamin dalam substansi nigra dan
korpus striatum yang ditandai dengan kondisi bradikinestisia (melambatnya gerakan),
tremor (bergetar), dan rigiditas (kekakuan otot).

I.3.2 Etiologi Parkinson


Parkinson disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak, tepatnya di substansi nigra. Suatu
kelompok sel yang mengatur gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki (involuntary).
Akibatnya, penderita tidak bisa mengatur/menahan gerakan-gerakan yang tidak
disadarinya. Mekanisme bagaimana kerusakan itu belum jelas benar. Penyakit
Parkinson sering dihubungkan dengan kelainan neurotransmitter di otak faktor-faktor
lainnya seperti (Batticaca, 2008):
1. Defisiensi dopamine dalam substansia nigra di otak memberikan respon gejala
penyakit Parkinson.

2. Etiologi yang mendasarinya mungkin berhubungan dengan virus, genetik,


toksisitas, atau penyebab lain yang tidak diketahui.

I.3.3 Patofisiologi Parkinson


Faktor predisposisi lesi di substansia nigra: faktor usia, faktur, aterosklreotik, post ensafalitis, i

Dopamin menipis dalam substansia nigra dan korpus stria

Kehilangan kelola dari sustansia nigra

Globus palidus mengeluarkan impuls yang abnorma

Impuls globus palidus ini tidak melakukan inhibisi terhadap korteks piramida

14
Aliran darah serebral Manifestasi otonom Tremor ritmi
Gangguan N. VIII
regionalkepribadian,
menurun bradikaresia
Perubahan gaya
Perubahan Berkeringat, rasa lelah
psikosis, demensia, dan berlebihan dan otot berjalan, kekakuan
Ragiditas
Kesulitan
Perubahan deserebrasi
menelan
otot wajah
konfusipsikiatrik
Manifestasi akut. terasa nyeri. Hipotensi dalam beraktifitas.
postural. dan sikap tubuh

Gangguan
Kognitif menurun, Hambatan mobilitas
pemenuhan nutrisi
persepsi menurun, akut fisik.
menurun.

Kurang perawatan
- Kerusakan
diri
komunikasi
verbal

- Koping individu
tidak efektif

I.3.4 Tanda dan Gejala Parkinson

I.3.5 Tanda dan gejala dari Parkinson terbagi menjadi :


a. Gejala Motorik.
1. Tremor (Bergetar).
I.3.6 Gejala penyakit parkinson sering luput dari pandangan awam,
dan dianggap sebagai suatu hal yang lumrah terjadi pada orang tua. Salah
satu ciri khas dari penyakit parkinson adalah tangan tremor (bergetar) jika
sedang beristirahat. Namun, jika orang itu diminta melakukan sesuatu,

16
getaran tersebut tidak terlihat lagi. Itu yang disebut resting tremor, yang
hilang juga sewaktu tidur.
I.3.7 Tremor terdapat pada jari tangan, tremor kasar pada sendi
metakarpofalangis, kadang-kadang tremor seperti menghitung uang logam
atau memulung-mulung. Pada sendi tangan fleksi-ekstensi atau pronasi-
supinasi pada kaki fleksi-ekstensi, kepala fleksi-ekstensi atau menggeleng,
mulut membuka menutup, lidah terjulur-tertarik.
I.3.8 Tremor ini menghilang waktu istirahat dan menghebat waktu
emosi terangsang (resting/ alternatingtremor). Tremor tidak hanya terjadi
pada tangan atau kaki, tetapi bisa juga terjadi pada kelopak mata dan bola
mata, bibir, lidah dan jari tangan (seperti orang menghitung uang). Semua itu
terjadi pada saat istirahat/tanpa sadar. Bahkan, kepala penderita bisa
bergoyang-goyang jika tidak sedang melakukan aktivitas (tanpa sadar).
Artinya, jika disadari, tremor tersebut bisa berhenti. Pada
awalnya tremor hanya terjadi pada satu sisi, namun semakin berat
penyakit, tremor bisa terjadi pada kedua belah sisi.
2. Rigiditas (Kekakuan).
I.3.9 Tanda yang lain adalah kekakuan (rigiditas). Jika kepalan
tangan yang tremortersebut digerakkan (oleh orang lain) secara perlahan ke
atas bertumpu pada pergelangan tangan, terasa ada tahanan seperti melewati
suatu roda yang bergigi sehingga gerakannya menjadi terpatah-patah/putus-
putus. Selain di tangan maupun di kaki, kekakuan itu bisa juga terjadi di
leher. Akibat kekakuan itu, gerakannya menjadi tidak halus lagi
seperti break-dance. Gerakan yang kaku membuat penderita akan berjalan
dengan postur yang membungkuk. Untuk mempertahankan pusat
gravitasinya agar tidak jatuh, langkahnya menjadi cepat tetapi pendek-
pendek. Adanya hipertoni pada otot fleksor ekstensor dan hipertoni seluruh
gerakan, hal ini oleh karena meningkatnya aktifitas motorneuron alfa,
adanya fenomena roda bergigi (cogwheel phenomenon).
3. Akinesia (Bradikinesia).
I.3.10 Kedua gejala di atas biasanya masih kurang mendapat
perhatian sehingga tanda akinesia/bradikinesia muncul. Gerakan penderita
menjadi serba lambat. Dalam pekerjaan sehari-hari pun bisa terlihat pada
tulisan/tanda tangan yang semakin mengecil, sulit mengenakan baju, langkah
menjadi pendek dan diseret. Kesadaran masih tetap baik sehingga penderita
bisa menjadi tertekan (stres) karena penyakit itu. Wajah menjadi tanpa
ekspresi. Kedipan dan lirikan mata berkurang, suara menjadi kecil, refleks
menelan berkurang, sehingga sering keluar air liur.
I.3.11 Gerakan volunter menjadi lambat sehingga berkurangnya gerak
asosiatif, misalnya sulit untuk bangun dari kursi, sulit memulai berjalan,

18
lambat mengambil suatu obyek, bila berbicara gerak lidah dan bibir menjadi
lambat. Bradikinesia mengakibatkan berkurangnya ekspresi muka serta
mimik dan gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah seperti topeng,
kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak menelan ludah sehingga ludah
suka keluar dari mulut. Tiba-tiba Berhenti atau Ragu-ragu untuk Melangkah.
I.3.12 Gejala lain adalah freezing, yaitu berhenti di tempat saat mau
mulai melangkah, sedang berjalan, atau berputar balik, ragu-ragu untuk
mulai melangkah. Bisa juga terjadi sering kencing, dan sembelit. Penderita
menjadi lambat berpikir dan depresi. Bradikinesia mengakibatkan kurangnya
ekspresi muka serta mimik muka. Disamping itu, kulit muka seperti
berminyak dan ludah suka keluar dari mulut karena berkurangnya gerak
menelan ludah.
I.3.13
4. Mikrografia.
I.3.14Tulisan tangan secara gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa
kasus hal ini merupakan gejala dini.
5. Langkah dan gaya jalan (sikap Parkinson).
I.3.15Berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin menjadi cepat,
stadium lanjut kepala difleksikan ke dada, bahu membengkok ke depan,
punggung melengkung bila berjalan.
6. Bicara monoton.
I.3.16Hal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan, pita suara,
otot laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata yang
monoton dengan volume suara halus (suara bisikan) yang lambat.
7. Dimensia.
I.3.17Adanya perubahan status mental selama perjalanan penyakitnya
dengan defisit kognitif.
8. Gangguan behavioral.
I.3.18Lambat-laun menjadi dependen (tergantung kepada orang lain), mudah
takut, sikap kurang tegas, depresi. Cara berpikir dan respon terhadap
pertanyaan lambat (bradifrenia) biasanya masih dapat memberikan jawaban
yang betul, asal diberi waktu yang cukup.
9. Gejala Lain.
I.3.19Kedua mata berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan diatas
pangkal hidungnya (tanda Myerson positif).
I.3.20
b. Gejala non motorik.
1. Disfungsi otonom : Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan
sfingter terutama inkontinensia dan hipotensi ortostatik, Kulit berminyak dan
infeksi kulit seborrheis, Pengeluaran urin yang banyak, dan Gangguan

19
seksual yang berubah fungsi, ditandai dengan melemahnya hasrat seksual,
perilaku, orgasme.
2. Gangguan suasana hati, penderita sering mengalami depresi,
3. Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambat.
4. Gangguan tidur, penderita mengalami kesulitan tidur (insomnia).
5. Gangguan sensasi : kepekaan kontras visuil lemah, pemikiran mengenai
ruang, pembedaan warna, penderita sering mengalami pingsan, umumnya
disebabkan oleh hipotensi orthostatis, suatu kegagalan system saraf otonom
untuk melakukan penyesuaian tekanan darah sebagai jawaban atas
perubahan posisi badan, berkurangnya atau hilangnya kepekaan indra perasa
bau ( microsmia atau anosmia).
6. Disfungsi pencernaan seperti : konstipasi.
I.3.21
I.3.22 Pemeriksaan Penunjang
a. EEG (biasanya terjadi perlambatan yang progresif)
b. CT Scan kepala (biasanya terjadi atropi kortikal difus, sulki melebar, hidrosefalua
eks vakuo). Penyakit Parkinson merupakan penyakit kronis yang membutuhkan
penanganan secara holistik meliputi berbagai bidang. Pada saat ini tidak ada terapi
untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi pengobatan dan operasi dapat mengatasi
gejala yang timbul.
I.3.23
I.3.24 Penatalaksanaa
I.3.25 Pengobatan penyakit parkinson bersifat individual dan simtomatik, obat-
obatan yang biasa diberikan adalah untuk pengobatan penyakit atau menggantikan
atau meniru dopamin yang akan memperbaiki tremor, rigiditas, dan slowness.
Perawatan pada penderita penyakit parkinson bertujuan untuk memperlambat dan
menghambat perkembangan dari penyakit itu. Perawatan ini dapat dilakukan dengan
pemberian obat dan terapi fisik seperti terapi berjalan, terapi suara/berbicara dan
pasien diharapkan tetap melakukan kegiatan sehari-hari.
a. Terapi Obat-Obatan
I.3.26 Beberapa obat yang diberikan pada penderita penyakit Parkinson
(Muttaqin, 2008; Suzanne & Smaltzer, 2001; Brugham & JoAnn, 2000):
I.3.27
I.3.28
1. Antikolinergik
I.3.29 Benzotropine ( Cogentin), trihexyphenidyl ( Artane). Berguna untuk
mengendalikan gejala dari penyakit parkinson. Untuk mengaluskan
pergerakan, mengontrol tremor dan kekakuan.
2. Carbidopa/levodopa
I.3.30 Merupakan preparat yang paling efektif untuk menghilangkan gejala.
3. Derivat dopamin-agonis-ergot berguna jika ditambahkan kedalam levodopa
untuk mempelancar fluktasi klinis.

20
4. Obat-obat antihistamin untuk menghilangkan tremor. Preparat antivirus,
Amantandin hidroklorida, digunakan untuk mengurangi kekakuan,tremor dan
bradikinestesia.
5. Inhibitor MAO untuk menghambat pemecahan dopamine
6. Obat-obat antidepresan

I.3.31 Selain terapi obat yang diberikan, pemberian makanan harus benar-
benar diperhatikan, karena kekakuan otot bisa menyebabkan penderita mengalami
kesulitan untuk menelan sehingga bisa terjadi kekurangan gizi (malnutrisi) pada
penderita. Makanan berserat akan membantu mengurangi ganguan pencernaan
yang disebabkan kurangnya aktivitas, cairan dan beberapa obat.
I.3.32
b. Terapi Fisik
I.3.33 Sebagian terbesar penderita Parkinson akan merasa efek baik dari
terapi fisik. Pasien akan termotifasi sehingga terapi ini bisa dilakukan di rumah,
dengan diberikan petunjuk atau latihan contoh diklinik terapi fisik. Program terapi
fisik pada penyakit Parkinson merupakan program jangka panjang dan jenis terapi
disesuaikan dengan perkembangan atau perburukan penyakit, misalnya perubahan
pada rigiditas, tremor dan hambatan lainnya. Latihan fisik yang teratur, termasuk
yoga, taichi, ataupun tari dapat bermanfaat dalam menjaga dan meningkatkan
mobilitas, fleksibilitas, keseimbangan, dan range of motion. Latihan dasar selalu
dianjurkan, seperti membawa tas, memakai dasi, mengunyah keras, dan
memindahkan makanan di dalam mulut.

21
I.3.34 BAB III
I.3.35 TINJAUAN KASUS
I.3.36
I.3.37 Laporan Pendahuluan
I.3.38 Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Parkinson
I.3.39
I.3.40 Hari / Tanggal : Senin, 3 April 2017
I.3.41 Pertemuan :1
I.3.42
I.1 Latar Belakang

I.3.43 Keperawatan pada usia lanjut merupakan bagian dari tugas dan
profesi keperawatan yang memerukan berbagai keahlian dan ketrmapilan yang
spesifik, sehingga di bidang keperawatan pun saat ini ilmu keperawatan lanjut
usia berkembang menjadi suatu spesialisasi yang mulai berkembang.
Keperawatan lanjut usia dalam bahasa inggris sering dibedakan atas Geronologic
Nursing (gerontic nursing) dan Geriatric Nursing sesuai keterlibatan dalam bidang
yang berlainan. Gerontologic Nurse / perawat gerontology adalah perawat yang
bertugas memberikan asuhan keperawatan pada semua penderita berusia diatas 65
tahun tanpa melihat apapun penyebabnya dan dimanapun dia bertugas. Secara
definisi, hal ini berbeda dengan perawat geriatric, yaitu mereka yang berusia 65
tahun dan menderita lebih dari satu macam penyakit (multiple patologi), disertai
dengan berbagai masalah psikologik maupun sosial.

I.3.44 Dalam memberikan asuhan keperawatan, menggunakan


diagnosa pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Pengkajian merupakan langkah awal
yang bertujuan mengumpulkan data tentang status kesehatan klien. Data yang
telah terkumpul kemudian dianalisa sehingga dapat dirumuskan masalah
kesehatan yang ada pada keluarga.

I.3.45 Menurut Potter & Perry, (2005), pengkajian keperawatan adalah


proses sistematis dari pengumpulan, verifikasi dan komunikasi data tentang klien.
Proses keperawatan ini mencakup dua langkah yaitu pengumpulan data dari
sumber primer (klien) dan sumber skunder (keluarga, tenaga kesehatan), dan
analisis data sebagai dasar untuk diagnosa keperawatan.Tujuan dari pengkajian

22
adalah menetapkan dasar data tentang kebutuhan, masalah kesehatan, pengalaman
yang berkaitan, praktik kesehatan, tujuan, nilai dan gaya hidup yang dilakukan
klien. Pengumpulan data harus berhubungan dengan masalah kesehatan terutama
dengan masalah kesehatan utama yang dimiliki pasien, sehingga data yang
didapatkan relevan dengan asuhan keperawatan yang akan dijalankan pada pasien
tersebut. Penggunaan format pengkajian standarisasi dianjurkan, karena dapat
memberikan tanggung gugat minimal dari profesi keperawatan. Penggunaan
format pun memastikan pengkajian pada tingkat yang komprehensif (Potter &
Perry, 2005).
I.3.46 Jadi berdasarkan hal tersebut, sebelum membuat perencanaan
untuk mengatasi masalah yang di hadapi klien harus di lakukan pengkajian baik
melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, atau pemeriksaan penunjang lainya.

I.3.47
I.2 Data yang perlu di kaji

1. Data umum

2. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

3. Lingkungan

4. Struktur keluarga

5. Fungsi keluarga

6. Stress dan koping keluarga

7. Harapan keluarga terhadap asuhan keperawatan keluarga

I.3.48

I.3 Masalah keperawatan

I.3.49 Belum ada karena pengkajian belum di lakukan

I.3.50

23
I.4 Rencana keperawatan

1. Diagnosa keperawatan Lansia

I.3.51Belum dapat di rumuskan karena pengkajian belum di lakukan

2. Tujuan umum

I.3.52Dalam waktu 60 menit terkumpul data yang dapat menunjang


timbulnya masalah kesehatan pada lansia

3. Tujuan khusus

a. Terkumpul data umum, riwayat kesehatan saat ini, riwayat kesehatan


yang lalu, riwayat kesehatan keluarga status pemeriksaan fisikpenilaian
psikologi dan spiritual, penilaian kemandirian lansiadan pengkajian
status mental.

b. Teridentifikasi masalah kesehatan

I.3.53

I.5 Rencana kegiatan

1. Topic : data umum, riwayat kesehatan saat ini, riwayat


kesehatan yang lalu, riwayat kesehatan keluarga status pemeriksaan fisik,
penilaian psikologi dan spiritual, penilaian kemandirian lansia dan
pengkajian status mental.

2. Metode : wawancara, observasi, inspeksi, palpasi, auskultasi

3. Media : format pengkajian, alat tulis, alat pemeriksaan fisik

4. Waktu : Senin, 3 April 2017 jam 10.30 WIB

5. Tempat :STW Karya Ria Bakti Pembangunan 1 Cibubur


Ruangan Aster Kamar 2

6. Strategi pelaksanaan :

I.3.54 I.3.55 Kegiatan I.3.56 Wa

24
No ktu

I.3.57I.3.58 Orientasi
1.
a) Mengucapkan salam
I.3.59 10
b) Memperkenalkan diri
menit
c) Menjelaskan tujuan kunjungan

d) Memvalidasi keadaan lansia

I.3.60I.3.61 Kerja
2.
a) Melakukan pengkajian
I.3.62 30
b) Melakukan pemeriksaan fisik menit

c) Memberikan reinforcement pada hal-hal positif yang


dilakukan lansia

I.3.63I.3.64 Terminasi
3.
I.3.65
a) Membuat kontrak untuk pertemuan selanjutnya
1 menit
b) Mengucapkan salam.

I.3.66

7. Kriteria evaluasi

a. Struktur

1) LP di siapkan

2) Alat bantu atau media di siapkan

3) Kontrak dengan keluarga tepat dan sesuai dengan rencana

b. Proses

1) Pelaksanaan sesuai waktu dan strategi pelaksanaan

25
2) Keluarga aktif dalam kegiatan

c. Hasil

1) Di dapatkan : data umum, riwayat kesehatan saat ini, riwayat


kesehatan yang lalu, riwayat kesehatan keluarga status pemeriksaan
fisik.

2) Teridentifikasi masalah kesehatan

I.3.67
I.3.68
I.3.69
I.3.70
I.3.71
I.3.72
I.3.73
I.3.74
I.3.75
I.3.76
I.3.77
I.3.78
I.3.79
I.3.80
I.3.81 Laporan Pendahuluan
I.3.82 Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Parkinson
I.3.83

I.3.84 Hari / Tanggal : Selasa, 4 April 2017

I.3.85 Pertemuan :2

I.3.86

II.1 Latar Belakang

26
I.3.87 Setelah mengunjungi dan menjelaskan tujuan praktek di STW Karya
Ria Bakti Pembangunan 1 Cibubur kepada care giver dari omah ida, maka di tetapkan
untuk merawat lansia dengan masalah kesehatan parkinson pada omah ida ( 88 th ).
Pada hari senin (pertemuan pertama) telah di dapatkan data umum, riwayat kesehatan
saat ini, riwayat kesehatan yang lalu, riwayat kesehatan keluarga status pemeriksaan
fisik. Maka pada pertemuan kedua hari ini akan di lanjutkan pengkajian data yang
lain untuk kelengkapan dalam menentukan masalah dan diagnosa keperawatan dari
keluarga tersebut.

I.3.88

II.2 Data yang perlu di kaji

1. penilaian psikologi dan spiritual

2. penilaian kemandirian lansia

3. pengkajian status mental.

I.3.89

II.3 Masalah keperawatan

I.3.90 Belum ada karena pengkajian belum di lakukan

I.3.91

II.4 Rencana keperawatan

1. Diagnosa

I.3.92Belum dapat di rumuskan karena pengkajian belum di lakukan

2. Tujuan umum

I.3.93Dalam waktu 60 menit terkumpul data yang dapat menunjang


timbulnya masalah kesehatan pada lansia

I.3.94

I.3.95

27
3. Tujuan kusus

a. Terkumpul penilaian psikologi dan spiritual, penilaian kemandirian lansia


dan pengkajian status mental.

b. Teridentifikasi masalah kesehatan

I.3.96

II.5Rencana kegiatan

1. Topic : pengkajian atau penilaian psikologi dan spiritual, penilaian


kemandirian lansia dan pengkajian status mental daripada omah ida (88
Tahun)

2. Metode : wawancara, observasi, inspeksi, palpasi, auskultasi

3. Media : format pengkajian, alat tulis, alat pemeriksaan fisik

4. Waktu : Selasa 4 April 2017

5. Tempat : STW Karya Ria Bakti Pembangunan 1 Cibubur Ruangan


Aster Kamar 2

6. Strategi pelaksanaan :

I.3.97 I.3.98 Kegiatan I.3.99 Wa


No ktu

I.3.100
I.3.101 Orientasi
1.
a) Mengucapkan salam
I.3.102 10
b) Memperkenalkan diri
menit
c) Menjelaskan tujuan kunjungan

d) Memvalidasi keadaan lansia

I.3.103
I.3.104 Kerja I.3.105 30
2. menit

28
a) Melakukan pengkajian

b) Melakukan pemeriksaan fisik

c) Memberikan reinforcement pada hal-hal positif yang


dilakukan lansia

I.3.106
I.3.107 Terminasi
3. I.3.108
a) Membuat kontrak untuk pertemuan selanjutnya
1 menit
b) Mengucapkan salam.

I.3.109
7. Kriteria evaluasi

a. Struktur

1) LP di siapkan

2) Alat bantu atau media di siapkan

3) Kontrak dengan lansia tepat dan sesuai dengan rencana

b. Proses

1) Pelaksanaan sesuai waktu dan strategi pelaksanaan

2) lansia aktif dalam kegiatan

c. Hasil

1) Di dapatkan : data pengkajian atau penilaian psikologi dan spiritual,


penilaian kemandirian lansia dan pengkajian status mental daripada
omah ida (88 Tahun)

2) Teridentifikasi masalah kesehatan.

I.3.110
I.3.111
I.3.112

29
I.3.113
I.3.114
I.3.115
I.3.116
I.3.117
I.3.118
I.3.119
I.3.120
I.3.121
I.3.122
I.3.123
I.3.124
I.3.125
I.3.126
I.3.127 Laporan Pendahuluan
I.3.128 Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Parkinson
I.3.129
I.3.130 Hari / Tanggal : Rabu, 5 April 2017
I.3.131 Pertemuan :3
I.3.132
III.1 Latar Belakang

I.3.133 Setelah di lakukan pengkajian pada werdha omah Ida selama 3 hari
dari 3 April 2017 di dapatkan beberapa masalah kesehatan yaitu omah Ida memiliki
riwayat Parkinson, dan sering kali omah ida menggeram menahan sakit karena
kekakuan otot yang dialaminya di tangan kanan omah ida. Omah Ida juga terdaoat
ulkus dekubitus dibagian os.sacrum. omah Ida juga terdapat karsinoma sel basal
mikronoduler pada palpebra inferior sinistra.

I.3.134 Pada pertemuan ini perawat akan mengenalkan dan menjelaskan


masalah kesehatan tersebut kepada werda khususnya omah Ida (88 tahun) kemudian
bersama-sama dengan care givernya turut serta membantu memenuhi kebutuhan
dasar omah Ida (88 tahun) dengan Parkinson yang saat ini membutuhkan total care.

I.3.135

30
III.2 Data yang perlu di kaji

1. Pemahaman lansia terhadap masalah kesehatan yang dialaminya

2. Kemampuan lansia untuk memprioritaskan masalah kesehatan yang


dialaminya

I.3.136

III.3 Masalah keperawatan


1. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan
kelemahan otot pada omah Ida (88 Tahun)
2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan tremor dan gangguan motorik
pada omah Ida (88 tahun)
3. Gangguan rasa nyaman nyeri pada omah Ida usia 88 tahun
4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan
dengan tremor dan perlambatan dalam proses makan, serta kesulitan
mengunyah dan menelan pada omah Ida (88 tahun)

I.3.137

III.4 Rencana keperawatan

1. Diagnosa

I.3.138 Adapun diagnosa keperawatan yang akan di prioritaskan


bersama lansia adalah:

a. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan


kelemahan otot pada omah Ida (88 Tahun)

b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan tremor dan gangguan


motorik pada omah Ida (88 tahun)

c. Gangguan rasa nyaman nyeri pada omah Ida usia 88 tahun

d. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan


dengan tremor dan perlambatan dalam proses makan, serta kesulitan
mengunyah dan menelan pada omah Ida (88 tahun)

2. Tujuan umum

31
I.3.139 Dalam waktu 60 menit lansia / werda dapat memprioritaskan
masalah kesehatan yang dialaminya

3. Tujuan kusus

a. Lansia / werda / care giver mampu mengenal masalah kesehatan yang


dialami oleh lansia

b. Lansia / werda / care giver menyetujui adanya masalah kesehatan yang


di alami oleh lansia

c. Lansia / werda / care giver memutuskan untuk memprioritaskan


masalah kesehatan yang dialami saat ini

I.3.140

III.5 Rencana kegiatan

1. Topic : memprioritaskan masalah kesehatan yang dialami oleh


lansia / werda khususnya omah Ida (88 tahun)

2. Metode : diskusi

3. Media : alat tulis

4. Waktu : Rabu 8 Maret 2017 pukul 10.00 wib

5. Tempat : STW Karya Ria Bakti Pembangunan 1 Cibubur


Ruangan Aster Kamar 2

6. Strategi pelaksanaan :

I.3.141 I.3.142 Kegiatan I.3.143 Wa


No ktu

I.3.144
I.3.145 Orientasi I.3.146 10
1. menit
a. Mengucapkan salam

b. Memvalidasi keadaan keluarga

32
c. Mengingatkan kontrak

I.3.147
I.3.148 Kerja
2.
a) Mengenalkan masalah kesehatan yang ada, berdiskusi I.3.149 30
dengan lansia / care giver tentang masalah kesehatan menit
yang dialami oleh lansia / werda, dan memprioritaskan
masalah kesehatan yang dialami oleh lansia.

I.3.150
I.3.151 Terminasi
3.
I.3.152
a) Membuat kontrak untuk pertemuan selanjutnya
1 menit
b) Mengucapkan salam.

I.3.153
7. Kriteria evaluasi

a. Struktur

1) LP di siapkan

2) Alat bantu atau media di siapkan

3) Kontrak dengan keluarga tepat dan sesuai dengan rencana

b. Proses

1) Pelaksanaan sesuai waktu dan strategi pelaksanaan

2) Care giver dan lansia aktif dalam kegiatan

c. Hasil : Care giver mampu mengenal dan menyetujui masalah kesehatan


yang ada dan memutuskan untuk memprioritaskan masalah kesehatan
yang dialami oleh perawat bersama perawat.

I.3.154 Laporan Pendahuluan


I.3.155 Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Parkinson
I.3.156
I.3.157 Hari / Tanggal : Kamis, 6 April 2017
I.3.158 Pertemuan :4

33
I.3.159
V.1 Latar Belakang

I.3.160 Berdasarkan pengkajian yang telah kita lakukan pada tanggal 3-5 April
2017 dengan Omah I (88 Th) didapatakan beberapa masalah, salah satuya adalah
Parkinson dan setelah kita menemukan beberapa masalah kita melakukan diskusi
dengan care givernya kemudian di lakukan prioritas masalah bersama-sama dengan
omah I dan di sepakati bahwa keluarga memerlukan penjelasan tentang parkinson,
sehingga perawat pada hari ini Kamis, 6 April 2017 merencanakan akan memberikan
asuhan keperawatan kepada omah I khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar
omah I (88 Th)

I.3.161

V.2 Masalah Keperawatan

1. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan


kelemahan otot pada omah Ida (88 Tahun)

2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan tremor dan gangguan motorik


pada omah Ida (88 tahun)

3. Gangguan rasa nyaman nyeri pada omah Ida usia 88 tahun

4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan


dengan tremor dan perlambatan dalam proses makan, serta kesulitan
mengunyah dan menelan pada omah Ida (88 tahun)

I.3.162
V.3 Rencana keperawatan

1. Diagnosa

a. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan


kelemahan otot pada omah Ida (88 Tahun)

b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan tremor dan gangguan


motorik pada omah Ida (88 tahun)

c. Gangguan rasa nyaman nyeri pada omah Ida usia 88 tahun

34
d. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan
dengan tremor dan perlambatan dalam proses makan, serta kesulitan
mengunyah dan menelan pada omah Ida (88 tahun)

2. Tujuan umum

a. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dapat


meminimalkan gangguan mobilitas fisik.

b. Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak mengalami defisit


perawatan diri.

c. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri klien


berkurang

d. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi


gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi.

3. Tujuan kusus

I.3.163 Setelah 3 x 24 jam kunjungan, lansia dapat :

a. klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan


kemampuannya.
b. perawatan diri klien dapat terpenuhi.

c. nyeri tidak terjadi kembali

d. kebutuhan nutrisi klien terpenuhi

V.4 Rencana kegiatan

1. Topic : menjalankan asuhan keperawatan sesuai


kebutuhan klien

2. Metode : Diskusi

3. Media : alat tulis

4. Waktu : Kamis, 6 April 2017 pukul 07.00 14.00 wib

35
5. Tempat : STW Karya Ria Bakti Pembangunan 1
Cibubur Ruangan Aster Kamar 2

6. Strategi pelaksanaan :

I.3.164 I.3.165 Kegiatan I.3.166 Wa


No ktu

I.3.167
I.3.168 Orientasi
1.
a. Mengucapkan salam
I.3.169 10
menit
b. Memvalidasi keadaan keluarga

c. Mengingatkan kontrak

I.3.170
I.3.171 Kerja
2.
a. Memberikan minum energen kepada omah I

b. Melakukan jemur matahari kepada omah I

c. Membawa omah I jalan-jalan ke taman

d. Melakukan TTV kepada omah I hasilnya TD : 110/80


I.3.172 07.
mmhg ; Nd : 88 x/m
00 14.00
WIB
e. Memberikan posisi yang nyaman kepada omah I saat
naik ke tempat tidur

f. Membantu omah I mengganti pempers (BAB)

g. Memberikan makan siang kepada omah I. omah I hanya


menghabiskan porsi.

h. Memandikan omah I

I.3.173
I.3.174 Terminasi I.3.175
3. 1 menit
a. Menanyakan perasaan klien setelah dilakukan tindakan

36
asuhan keperawatan.

b. Mengobservasi saat klien mengungkapkan perasaan


setelah diberikan tindakan asuhan keperawatan

c. Motivasi klien untuk melakukan kegiatan positif

d. Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya.

I.3.176
8. Kriteria evaluasi

a. Struktur

1) LP di siapkan

2) Alat bantu atau media sudah di siapkan

3) Kontrak dengan lansia tepat dan sesuai dengan rencana

b. Proses

1) Pelaksanaan sesuai waktu dan strategi pelaksanaan

2) Lansia aktif dalam kegiatan

c. Hasil

1) Kebutuhan dasar omah I terpenuhi seperti mandi, makan, eliminasi,


berpakaian

I.3.177

I.3.178

I.3.179

I.3.180

I.3.181

37
I.3.182

I.3.183

I.3.184

I.3.185

I.3.186

I.3.187

I.3.188

I.3.189

I.3.190

I.3.191

I.3.192

I.3.193

I.3.194

I.3.195

I.3.196

I.3.197

I.3.198

I.3.199

I.3.200 Laporan Pendahuluan


I.3.201 Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Parkinson
I.3.202
I.3.203 Hari / Tanggal : Jumat, 7 April 2017
I.3.204 Pertemuan :5

38
I.3.205
V.1 Latar Belakang

I.3.206 Setelah melakukan tindakan asuhan keperawatan sesuai kebutuhan


dasar omah I diharapkan klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan
kemampuannya, perawatan diri klien dapat terpenuhi, nyeri tidak terjadi kembali,
kebutuhan nutrisi klien terpenuhi

I.3.207

V.2 Masalah Keperawatan

1. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan


kelemahan otot pada omah Ida (88 Tahun)

2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan tremor dan gangguan motorik


pada omah Ida (88 tahun)

3. Gangguan rasa nyaman nyeri pada omah Ida usia 88 tahun

4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan


dengan tremor dan perlambatan dalam proses makan, serta kesulitan
mengunyah dan menelan pada omah Ida (88 tahun)

I.3.208
V.3 Rencana keperawatan

1. Diagnosa

a. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan


kelemahan otot pada omah Ida (88 Tahun)

b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan tremor dan gangguan


motorik pada omah Ida (88 tahun)

c. Gangguan rasa nyaman nyeri pada omah Ida usia 88 tahun

d. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan


dengan tremor dan perlambatan dalam proses makan, serta kesulitan
mengunyah dan menelan pada omah Ida (88 tahun)

39
2. Tujuan umum

a. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dapat


meminimalkan gangguan mobilitas fisik.

b. Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak mengalami defisit


perawatan diri.

c. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri klien


berkurang

d. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi


gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi.

3. Tujuan kusus

I.3.209 Setelah 3 x 24 jam kunjungan, lansia dapat :

a. klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan


kemampuannya.
b. perawatan diri klien dapat terpenuhi.

c. nyeri tidak terjadi kembali

d. kebutuhan nutrisi klien terpenuhi

V.4 Rencana kegiatan

1. Topic : menjalankan asuhan keperawatan sesuai


kebutuhan klien

2. Metode : Diskusi

3. Media : alat tulis

4. Waktu : Kamis, 6 April 2017 pukul 07.00 14.00 wib

5. Tempat : STW Karya Ria Bakti Pembangunan 1


Cibubur Ruangan Aster Kamar 2

I.3.210

40
I.3.211

I.3.212

6. Strategi pelaksanaan :

I.3.213 I.3.214 Kegiatan I.3.215 Wa


No ktu

I.3.216
I.3.217 Orientasi
1.
a. Mengucapkan salam
I.3.218 10
menit
b. Memvalidasi keadaan keluarga

c. Mengingatkan kontrak

I.3.219
I.3.220 Kerja
2.
a. Memberikan minum energen kepada omah I

b. Melakukan jemur matahari kepada omah I

c. Membawa omah I jalan-jalan ke taman

d. Melakukan TTV kepada omah I hasilnya TD : 110/80


I.3.221 07.
mmhg ; Nd : 88 x/m
00 14.00
WIB
e. Memberikan posisi yang nyaman kepada omah I saat
naik ke tempat tidur

f. Membantu omah I mengganti pempers (BAB)

g. Memberikan makan siang kepada omah I. omah I hanya


menghabiskan porsi.

h. Memandikan omah I

I.3.222
I.3.223 Terminasi I.3.224
3. 1 menit
a. Menanyakan perasaan klien setelah dilakukan tindakan

41
asuhan keperawatan.

b. Mengobservasi saat klien mengungkapkan perasaan


setelah diberikan tindakan asuhan keperawatan

c. Motivasi klien untuk melakukan kegiatan positif

d. Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya.

I.3.225
7. Kriteria evaluasi

a. Struktur

1) LP di siapkan

2) Alat bantu atau media sudah di siapkan

3) Kontrak dengan lansia tepat dan sesuai dengan rencana

b. Proses

1) Pelaksanaan sesuai waktu dan strategi pelaksanaan

2) Lansia aktif dalam kegiatan

c. Hasil

1) Kebutuhan dasar omah I terpenuhi seperti mandi, makan, eliminasi,


berpakaian

I.3.226

I.3.227

I.3.228

I.3.229

I.3.230

42
I.3.231

I.3.232

I.3.233

I.3.234

I.3.235

I.3.236

I.3.237

I.3.238

I.3.239

I.3.240

I.3.241

I.3.242

I.3.243

I.3.244

I.3.245

I.3.246

I.3.247

I.3.248

I.3.249 PENGKAJIAN INDIVIDU

I.3.250 KEPERAWATAN KESEHATAN LANSIA

I.3.251 Tanggal masuk : Tahun 2007

43
I.3.252 Nama Panti : STW Karya Ria Bhakti Pembangunan 1
Cibubur
I.3.253
I. IDENTITAS DIRI KLIEN

I.3.254 Nama I.3.265I.3.279 Omah Ida Getruida Tulung


I.3.255 Tempat Tanggal : I.3.280 Tomohon, 20 November 1929
Lahir I.3.266I.3.281 88 Tahun
I.3.256 Umur : I.3.282 Perempuan
I.3.267I.3.283 Janda
I.3.257 Jenis Kelamin
: I.3.284 Kristen

I.3.258 Status perkawinan I.3.268I.3.285 Manado


: I.3.286 Perawat
I.3.259 Agama I.3.269I.3.287 Care giver dan status pasien
: I.3.288 Ir. Johanes Tulung (keponakan)
I.3.260 Suku
I.3.270I.3.289 Parkinson, spondilitis L5-S1,
I.3.261 Pendidikan : karsinoma sel basal mikronoduler pada
terakhir I.3.271 palpebra inferior sinistra
I.3.262 Sumber informasi :
I.3.272
I.3.263 Keluarga yang :
dapat dihubungi I.3.273
I.3.264 Diagnosis medis :
(bila ada) I.3.274
:
I.3.275
:
I.3.276
I.3.277
I.3.278
II. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI

44
I.3.290 Riwayat kesehatan sekarang
1. Alasan datang ke panti wredha :
I.3.291 Alasanya karena keinginan dari diri sendiri untuk tinggal di STW
Karya Ria Bhakti Pembangunan 1 Cibubur. Keluarga menghargai keinginan omah
Ida untuk tinggal di STW ini, dan karena sibuknya keluarga, mereka mendukung
omah Ida untuk tinggal di STW
2. Keluhan utama :
I.3.292 Care givernya mengatakan omah Ida tidak ada keluhan, namun omah
Ida memiliki riwayatjantung, parkinson, kangker mata sebelah kiri, terdapat ulkus
dekubitus setinggi L4-L5. Yang sering dialami oleh omah Ida menurut care
givernya omah Ida mengalami sulit tidur dan sering kali menggerang. Care
givernya mengatakan geranganya omah Ida di sebabkan karena menahan sakit di
tanggan kananya.
3. Kronologi keluhan
a. Faktor pencetus : Riwayat parkinson mengakibatkan nyeri di tanggan
kananya
b. Timbulnya keluhan : ( ) Mendadak ( ) Bertahap
c. Lamanya : Nyeri dirasakan waktu melakukan aktivitas, lamanya
kurang lebih 15 menit dengan geranggan
d. Utama mengatasi : diaajak berbicara supaya tidak menggerang
I.3.293
III. RIWAYAT KESEHATAN YANG LALU
I.3.294 Pada tahun 1961 klien pernah dirawat di RS Cikini selama 5 hari
oprasi usus buntu. Tahun 1965 dirawat di RS Cikini 1 minggu (hamil 2 bulan
jatuh). Tahun 1970 di rawat di RS Cikini selama 1 minggu demam.
I.3.295
IV. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
I.3.296 Menurut keterangan keluarga didalam keluarga umumnya mengalami
hipertensi. Penyakit menular disangkal.
I.3.297
V. STATUS PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum

45
a. Tanda-tanda vital :

1) TD : 100 / 90 mmHg

2) Nadi : 60 x/menit

3) Pernafasan : 20 x/menit

4) Suhu : 36,7 C

5) Tinggi badan : 157 cm

6) Berat badan : 43 Kg

I.3.298
I.3.299
b. Kepala dan rambut

I.3.300 Rambut bersih, berwarna putih, tidak ada ketombe, bekas luka
tidak ada, distribusi rambut normal, kepala berbentuk bulat sempurna,
tidak ada benjolan di kepala, rambut terlihat lurus, ada kerontokan

c. Mata

I.3.301 Terdapat karsinoma sel basal mikronoduler pada palpebra


inferior sinistra. Kedua mata tidak dapat dibuka. Terdapat sedikit pus
dimata sebelah kiri.

d. Hidung

I.3.302 Keadaan hidung bersih, bentuk simetris, tidak ada pengeluaran


secret, epitaksis tidak ada, distribusi bulu hidung normal, bulu hidung
sudah ada yang berwarna putih, sinusitis tidak ada, tidak ada terlihat
tanda tanda inflamasi pada hidung klien, tidak ada nyeri tekan pada
hidung klien. Fungsi penciuman normal, tidak ada polip.Telinga

I.3.303 Bersih, tidak ada serumen, tidak mengalami penurunan


pendengaran

e. Mulut

46
I.3.304 Bentuk simetris, tidak ada kelainan bentuk pada mulut, mukosa
mulut lembab, gigi banyak yang sudah tanggal, karies ada, stomatitis dan
kandidiasis tidak ada, lidah terlihat berwarna merah dan bersih, distribusi
papile pada lidah normal, tidak ada pembesaran tonsil, dan tidak ada
tanda tanda peradangan pada tonsil, reflex menelan baik.Leher

I.3.305 simetris, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, tidak ada


luka ataupun benjolan

f. Sistem pernafasan

I.3.306 Tidak ada penggunaan alat bantu nafas, retraksi dada tidak ada,
nyeri saat bernafas tidak ada, sesak tidak ada. Suara nafas vesikuler +/+,
batas paru normal

g. Sistem kardiovaskuler

I.3.307 Klien memiliki riwayat jantung. Saat ini hasil Auskultlasi


bunyi jantung normal. Batas jantung normal. Terdapat distensi vena
juguluaris

h. Sistem pencernaan

I.3.308 Klien mengatakan sebelum sakit biasa makan 3 kali sehari dan
habis satu porsi, namun sekarang nafsu makan klien menurun karena
mengalami kelemahan otot wajah akibat riwayat parkinsonya.

i. Sistem perkemihan

I.3.309 Klien saat ini terpasang kateter. Care givernya mengatakan


kalau BAK sering 5-6 kali dalam sehari

j. Sistem integumen

I.3.310 Kulit klien berwarna kuning langsat dan terlihat keriput sesuai
usia

k. Ekstremitas

1) Ekstremitas atas

47
I.3.311 Kedua tangan masih bisa bergerak secara normal. Ada sedikit
kekakuan otot pada kedua tanganya

2) Ekstremitas bawah

I.3.312 Kedua kaki klien tidak dapat diluruskan. Klien mengalami


kekakuan otot pada kedua kakinya.

I.3.313

VI. PENILAIAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL


1. Pola interaksi dengan lingkungan

I.3.314 Hubungan klien dengan lingkungan baik hal ini lebih


disebabkan sifat klien yang berjiwa sosial dan gemar menolong orang lain.

2. Bahasa

I.3.315 Bahasa yang digunakan klien sehari-hari adalah bahasa


Indonesia.

3. Perhatian dengan orang lain / lawan bicara

I.3.316 Klien saat diajak untuk berkomunikasi selalu menjawab.


Namun klien tidak akan menjawab lawan bicaranya yang tidak kenal / baru
kenal dengan klien.

4. Keadaan emosi

I.3.317 Keadaan emosi klien dalam batas normal

5. Persepsi klien tentang kondisinya

I.3.318 Care givernya mengatakan klien sudah pasrah dalam


kondisinya saat ini

6. Konsep diri

a. Gambaran diri

48
I.3.319 Klien seorang lanjut usia perempuan sesuai dengan usia (88
Tahun). Rambut mulai beruban, berpenampilan rapih. Klien tidak mampu
menyebutkan identitas diri dan keluarga, berbicara jelas, klien sudah tidak
mampu berjalan dan harus menggunakan kursi roda apabila klien ingin
keluar dari kamarnya. Untuk memenuhi kebutuhan klien, dibantu oleh
seorang care giver.

I.3.320

I.3.321

b. Ideal diri

I.3.322 Omah Ida ingin hidup sendiri mengisi hari dengan ibadah dan
mendapatkan ketenangan di STW

c. Harga diri

I.3.323 Pengamatan petugas dan keterangan klien/keluarga, harga diri


klien positif

d. Peran diri

I.3.324 Dalam keluarga klien tidak memiliki peran lagi, hanya sebagai
bagian dari keluarga yang masih cukup diberi perhatian dan dibantu
kebutuhannya.

e. Identitas diri

I.3.325 Klien masih dapat menyebutkan nama, status, tempat tinggal


dan tanggal lahir / umur dengan benar walaupun berusaha untuk
mengingatnya.

7. Spiritual

I.3.326 Klien masih dapat menjalankan / mengikuti kegiatan ibadah


yang diselenggarakan oleh panti setiap hari kamis jam 16.00 WIB

I.3.327

I.3.328

49
I.3.329

I.3.330

I.3.331

I.3.332

VII. PENILAIAN KEMANDIRIAN LANSIA


1. DENGAN KATZ INDEKS

a. Mandi (ke kamar mandi, menggosok bagian tubuh, gosok gigi)

Tanpa bantuan

Dengan menggunakan bantuan tapi hanya untuk satu bagian tubuh


(misalnya : menggosok bagian punggung / kaki)

I.3.333 Dengan bantuan lebih dari satu bagian tubuh


b. Berpakaian (memakai dan melepaskan pakaian dan melakukannya dengan
cepat)

Memakai pakaian kompit tanpa bantuan

Memakai pakaian tanpa bantuan, tapi untuk kegiatan tertentu


memerlukan asisten, seperti : memakai / mengikat tali sepatu.

Memakai pakaian kompit dengan bantuan.

c. Toilet (pergi ke toilet, untuk BAB dan BAK, membersihkan sendiri serta
memakai baju/celana sendiri)

Dapat pergi ke toilet, membersihkan sendiri dan menata baju/celana


tanpa bantuan sama sekali.

Membutuhkan bantuan untuk pergi ke toilet, membersihkannya,


memakai pakaian setelah eliminasi.

Tidak bisa pergi ke toilet sendiri.

50
d. Pergerakan

Bergerak dari dan ke tempat tidur / kursi tanpa bantuan / asisten


( mungkin bisa juga dengan pegangan / tongkat penyangga)

Bergerak dari dan ke tempat tidur / kursi dengan bantuan / asisten

Tidak dapat bergerak dari tempat tidur sama sekali.

e. Continence

Dapat mengontrol saat BAK dan BAB dengan sendiri.

Kadang tidak dapat mengontrol BAK dan BAB sendiri

Membutuhkan bantuan serta supervisi untuk mengontrol BAK dan


BAB atau dengan penggunaan kateter.

f. Makan

Makan sendiri tanpa bantuan.

Makan sendiri tetapi membutuhkan bantuan untuk memotong


makanan seperti daging, sayur ataupun buah

Makan dengan bantuan / makan melalui IV fluids / tubes.

I.3.334
I.3.335 Keterangan :
I.3.336 = Mengindikasikan kemandirian
I.3.337 = Mengindikasikan ketergantungan
I.3.338
I.3.339 KATEGORI :
I.3.340
I.3.341I.3.342 Ketidaktergantungan dalam semua fungsi /
A - keenam fungsi.
I.3.343
I.3.344I.3.345 Ketidaktergantungan dalam semua hal tetapi
B - masih ada satu fungsi yang tidak bisa dilakukan

51
I.3.346
I.3.347I.3.348 Ketidaktergantungan dalam semua fungsi tetapi
C - tidak bisa mandi sendiri dan satu tambahan fungsi
lainnya.
I.3.349
I.3.350I.3.351 Ketidaktergantungan dalam semua fungsi tetapi
D - tidak bisa mandi, berpakaian, dan satu tambahan fungsi
lainnya
I.3.352
I.3.353I.3.354 Ketidaktergantungan dalam semua fungsi tetapi
E - tidak bisa mandi, berpakaian, toilet dan satu fungsi
lainnya.
I.3.355
I.3.356I.3.357 Ketidaktergantungan dalam semua fungsi tetapi
F - tidak bisa mandi, berpakaian, toilet, bergerak dan satu
fungsi lainnya.
I.3.358
I.3.359I.3.360 Tergantung dalam semua fungsi tersebut
G -
I.3.361
I.3.362
I.3.363
I.3.364
I.3.365
I.3.366
I.3.367
I.3.368
2. BARTHEL INDEKS
I.3.369
I.3.370 I.3.371 Aktifitas I.3.372 I.3.373
N Deng Tanp
a a
n b
b a
a n
n t
t u
u a

52
a n
n
I.3.374I.3.375 Makan (jika makan harus dipotong I.3.376 I.3.377
1 terlebih dahulu berarti memerlukan bantuan) 5 10
I.3.378I.3.379 Bergerak dari kursi roda ke tempat tidur I.3.380 I.3.381
2 dan kembali (termasuk duduk tegak di tempat 5-10 15
tidur)
I.3.382I.3.383 Personal toilet (mencuci muka, menyisir I.3.384 I.3.385
3 rambut, bercukur, membersihkan gigi) 0 5
I.3.386I.3.387 Duduk dan berdiri dari toilet (cara I.3.388 I.3.389
4 memegang pakaian, mengelap, menyiram WC) 5 10
I.3.390I.3.391 Mandi sendiri I.3.392 I.3.393
5 0 5
I.3.394I.3.395 Berjalan di permukaan yang berbeda I.3.396 I.3.397
6 (jika tidak bisa berjalan penggunaan kursi roda) 0 5
I.3.398I.3.399 Naik turun tangga I.3.400 I.3.401
7 5 10
I.3.402I.3.403 Berpakaian (termasuk didalamnya I.3.404 I.3.405
8 mengikat tali sepatu, mengencangkan dan 5 10
mengendorkannya)
I.3.406I.3.407 Mengontrol BAB I.3.408 I.3.409
9 5 10
I.3.410I.3.411 Mengontrol BAK I.3.412 I.3.413
1 5 10

I.3.414 JUMLAH I.3.415 I.3.416


I.3.417
I.3.418 Kriteria :
I.3.419 0-20 : Tergantung I.3.421 62-90 : Ketergantungan
Penuh Moderat
I.3.420 21-61 : Ketergantungan I.3.422 91-99 : Ketergantungan
Berat Ringan
I.3.423 100 : Mandiri
I.3.424
VIII. PENGKAJIAN STATUS MENTAL
1. STATUS MENTAL QUESTIONAIRE

53
a. Tanggal berapa hari ini (tanggal, bulan, tahun)......................................

b. Hari apa hari ini?.......................................................................................

c. Apa nama tempat ini?................................................................................

d. Dimana alamat anda?................................................................................

e. Berapa umur anda sekarang?....................................................................

f. Tanggal, bulan dan tahun anda dilahirkan.............................................

g. Siapa presiden kita saat ini?......................................................................

h. Siapa presiden kita sebelumnya?..............................................................

i. Siapa nama ibu anda?................................................................................

j. Berapakah 20-3? Hasilnya dikurang 3 dan seterusnya .......................

I.3.425
I.3.426 Keterangan :

54
I.3.1 I.3.2 I.3.3 Benar apabila dapat menyebutkan tanggal, I.3.427

Pertanyaa : bulan dan tahun yang tepat I.3.428

n1 I.3.429
I.3.4 I.3.5 I.3.6 Benar apabila dapat menyebutkan hari I.3.429
Pertanyaa : I.3.429
n2 I.3.429
I.3.7 I.3.8 I.3.9 Benar apabila dapat mendeskripsikan
I.3.429
Pertanyaa : tempat dengan benar
I.3.429
n3
I.3.10 I.3.11I.3.12 Benar apabila dapat menyebutkan alamat I.3.429

Pertanyaa : dengan benar I.3.429

n4 I.3.429
I.3.13 I.3.14I.3.15 Benar apabila dapat menjawab umur I.3.429
Pertanyaa : sesuai dengan kelahirannya I.3.429
n5 I.3.429
I.3.16 I.3.17I.3.18 Benar apabila menjawab tanggal, bulan
I.3.429
Pertanyaa : dan tahun kelahiran
I.3.429
n6
I.3.19 I.3.20I.3.21 Benar apabila dapat menyebutkan nama I.3.429

Pertanyaa : presiden saat ini I.3.429

n7 I.3.429
I.3.22 I.3.23I.3.24 Benar apabila dapat menyebutkan nama I.3.429
Pertanyaa : presiden sebelumnya I.3.429
n8 I.3.429
I.3.25 I.3.26I.3.27 Benar apabila dapat menyebutkan nama
I.3.429
Pertanyaa : ibunya
I.3.429
n9
I.3.28 I.3.29I.3.30 Benar apabila dapat mengurangi dengan I.3.429

Pertanyaa : benar sampai akhir I.3.429

n 10 I.3.429
Penilaian
I.3.430
I.3.431 HasilKeterrangan :

55
a. Salah 0-2 : fungsi mental masih utuh

b. Salah 3-4 : tingkat gangguan mental ringan

c. Salah 5-7 : tingkat gangguan mental sedang

d. Salah 8-10 : tingkat gangguan mental berat

I.3.432
2. MINI MENTAL STATUS EXAMINATION

I.3.433

I.3.434 I.3.435 ASPEK I.3.436 I.3.437 KRITERIA


N KOGNITIF NILA
I I.3.438

I.3.439I.3.440 ORIENTAS I.3.443 I.3.444 Menyebutkan dengan benar :


1 I
1. Tanggal
I.3.441 (Skor
maksimum : 10) 2. Bulan
I.3.442
3. Tahun

4. Hari

5. Musim

6. Panti / Rt

7. Lantai / kamar

8. Kota

9. Kabupaten

10. Propinsi Masing-masing pertanyaan


bernilai 1 point

56
I.3.445I.3.446 REGISTR I.3.448 I.3.449 Ucapkan dengan jelas dan
2 ASI perlahan kata-kata seperti : BOLA,
BENDERA, POHON dengan jarak
I.3.447 (Skor
perkata 1 detik.
maksimum : 3)
I.3.450 Sesudah itu minta pasien
mengulanginya

I.3.451 Jawaban pertama menentukan


skor

I.3.452 Tetapi minta pasien mencoba


terus misalnya hingga 6x

I.3.453I.3.454 PERHATI
I.3.456 I.3.457 Minta pasien menghitung
3 AN DAN mundur dari 100 dengan selisih 7
berhenti setelah 5 jawaban
PERHITUNGAN
I.3.455 (Skor I.3.458 Berilah skor 1 untuk setiap
maksimum : 5) jawaban yang benar

I.3.459 Bila tidak mampu berhitung


minta lansia untuk mengeja suatu kata
dari arah belakang, contoh

I.3.460 RUMAH H-A-M-U-R

I.3.461I.3.462 DAYA I.3.464 I.3.465 Minta pasien untuk mengingat


4 INGAT kembali kata yang ditanyakan
kepadanya : BOLA, BENDERA,
I.3.463 (Skor
POHON
maksimum : 3)
I.3.466 Beri skor 1 untuk setiap kata
yang diulang

I.3.467I.3.468 BAHASA I.3.470 I.3.471 MENYEBUTKAN


5 I.3.469 (Skor
e. Perlihatkan arloji anda sambil
maksimum : 9) menanyakan apa ini. Ulangi hal yang
sama untuk pensil, bola, bendera,

57
pohon (Beri skor 1 untuk setiap kata
yang benar)

f. Pengulangan : minta pasien mengulangi


kata BUKAN, ITU BUKAN,
TETAPI, NAMUN, TANPA
Beri skor 1 bila pengulangan benar

g.Perintah 3 langkah : Beri pasien secarik


kertas kosong dan katakan :

I.3.472 Ambil kertas ini dengan


tangan kanan oma. Lipat dua

I.3.473 Letakkan di lantai

I.3.474 Beri skor 1 point untuk


setiap langkah yang benar

I.3.475 I.3.476 ASPEK I.3.477 I.3.478 KRITERIA


N KOGNITIF NILA
I I.3.479

I.3.480I.3.481 I.3.482 I.3.483 MEMBACA

I.3.484 Tulis pada kertas kalimat :


Pejamkan mata anda dengan huruf
yang cukup besar. Minta pasien
membacanya dan melakukan apa yang
tertulis.

I.3.485 Skor 1 bila lansia membaca dan


melakukannya

I.3.486I.3.487 I.3.488 I.3.489 MENULIS

I.3.490 Dengan secarik kertas, minta


pasien menulis sebuah kalimat yang
ditulis secara spontan

58
I.3.491 Kalimat harus mengandung
Subjek + Kata kerja serta memiliki arti.

I.3.492 Tata bahasa dan tanda baca


dikecualikan.

I.3.493 Beri skor 1 untuk tulisan yang


benar

I.3.494I.3.495 I.3.496 I.3.497 MENIRU GAMBAR

I.3.498 Pada secarik kertas kosong,


gambarlah 2 segi lima yang saling
bersentuhan, seperti ini :

I.3.499

I.3.500

I.3.501

I.3.502

I.3.503

I.3.504

I.3.505 Minta pasien untuk menirukan


dengan tepat. Kesepuluh sudut harus
nampak dimana dua sudut saling
bersebelahan untuk memperoleh 1 point

I.3.506

I.3.508 I.3.509
I.3.507 TOTAL SKOR
I.3.510

I.3.511
IX. PENGKAJIAN SKALA DEPRESI

59
I.3.512 Pengkajian ini menggunakan Skala Depresi Geriatrik bentuk singkat
dari Yesavage (1983) yang instrumennya disusun secara khusus digunakan
pada lanjut usia untuk memeriksa depresi. Jawaban pertanyaan sesuai indikasi
dinilai 1, nilai 5 atau lebih dapat menandakan depresi.

I.3.513 Skala Depresi Geriatrik Yesavage Bentuk Singkat :

I.3.514
I.3.515 I.3.516 Pertanyaan I.3.517 I.3.518
N Ya Tid
a
k
I.3.519 Pilihlah jawaban yang sesuai sebagaimana yang anda rasakah dalam 1 minggu
terakhir
I.3.520I.3.521 Apakah pada dasarnya anda puas dengan kehidupan I.3.522 I.3.523
1 anda saat ini Ya Tid
a
k
*
I.3.524I.3.525 Apakah anda membatalkan banyak dari rencana I.3.526 I.3.527
2 kegiatan/minat anda Ya* Tid
a
k
I.3.528I.3.529 Apakah anda merasa bahwa hidup anda kosong/hampa I.3.530 I.3.531
3 Ya* Tid
a
k
I.3.532I.3.533 Apakah anda sering merasa kebosanan I.3.534 I.3.535
4 Ya* Tid
a
k
I.3.536I.3.537 Apakah anda mempunyai suatu harapan/masa depan I.3.538 I.3.539
5 yang baik setiap waktu Ya Tid
a

60
k
*
I.3.540I.3.541 Apakah anda terganggu dengan memikirkan kesulitan I.3.542 I.3.543
6 anda tanpa jalan keluar Ya* Tid
a
k
I.3.544I.3.545 Apakah anda seringkali merasa bersemangat I.3.546 I.3.547
7 Ya Tid
a
k
*
I.3.548I.3.549 Apakah anda mengkhawatirkan sesuatu hal yang I.3.550 I.3.551
8 buruk akan menimpa anda Ya* Tid
a
k
I.3.552I.3.553 Apakah anda merasa seringkali merasa gembira I.3.554 I.3.555
9 Ya Tid
a
k
*
I.3.556I.3.557 Apakah anda seringkali merasa tak terbantukan I.3.558 I.3.559
1 Ya* Tid
a
k
I.3.560I.3.561 Apakah anda seringkali merasa gelisah dan resah I.3.562 I.3.563
1 Ya* Tid
a
k
I.3.564I.3.565 Apakah anda lebih menyukai tingggal di rumah I.3.566 I.3.567
1 daripada keluar rumah dan melakukan sesuatu hal yang baru Ya* Tid
a
k

61
I.3.568I.3.569 Apakah anda seringkali mengkhawatirkan masa depan I.3.570 I.3.571
1 anda Ya* Tid
a
k
I.3.572I.3.573 Apakah anda merasa kesulitan dengan daya ingat anda I.3.574 I.3.575
1 Ya* Tid
a
k
I.3.576I.3.577 Apakah anda berpikir/bersyukur masih hidup saat ini I.3.578 I.3.579
1 Ya Tid
a
k
*
I.3.580I.3.581 Apakah anda sering merasa kelabu dan berputus asa I.3.582 I.3.583
1 Ya* Tid
a
k
I.3.584I.3.585 Apakah anda merasa tidak berguna saat ini I.3.586 I.3.587
1 Ya* Tid
a
k
I.3.588I.3.589 Apakah anda sering menyesalkan masa lalu anda I.3.590 I.3.591
1 Ya* Tid
a
k
I.3.592I.3.593 Apakah menurut anda hidup ini penuh tantangan yang I.3.594 I.3.595
1 menyenangkan Ya Tid
a
k
*

62
I.3.596I.3.597 Apakah anda merasa kesulitan untuk mengawali suatu I.3.598 I.3.599
2 kegiatan Ya* Tid
a
k
I.3.600I.3.601 Apakah anda merasakan penuh daya dan energi I.3.602 I.3.603
2 Ya Tid
a
k
*
I.3.604I.3.605 Apakah menurut anda keadaan yang dihadapi tanpa I.3.606 I.3.607
2 harapan Ya* Tid
a
k
I.3.608I.3.609 Apakah anda seringkali marah karena alasan sepele I.3.610 I.3.611
2 Ya* Tid
a
k
I.3.612I.3.613 Apakah menurut anda keadaan orang lain lebih baik I.3.614 I.3.615
2 dari anda Ya* Tid
a
k
I.3.616I.3.617 Apakah anda sering bagaikan menangis I.3.618 I.3.619
2 Ya* Tid
a
k
I.3.620I.3.621 Apakah anda sulit berkonsentrasi I.3.622 I.3.623
2 Ya* Tid
a
k
I.3.624I.3.625 Apakah anda bangun pagi dengan perasaan I.3.626 I.3.627
2 menyenangkan Ya Tid
a

63
k
*
I.3.628I.3.629 Apakah anda lebih suka menghindari acara / I.3.630 I.3.631
2 sosialisasi Ya* Tid
a
k
I.3.632I.3.633 Apakah mudah bagi anda dalam mengambil keputusan I.3.634 I.3.635
2 Ya Tid
a
k
*
I.3.636I.3.637 Apakah anda berpikiran jernih sebagaimana biasanya I.3.638 I.3.639
3 Ya Tid
a
k

*
I.3.640 I.3.641 TOTAL SKOR I.3.642 I.3.643
I.3.644 Keterangan :
I.3.645 Tiap jawaban yang bertanda bintang dihitung 1 point
I.3.646 Skor 15-22 : menunjukkan depresi ringan
I.3.647 Skor <22 : menunjukkan depresi berat
I.3.648 Jakarta,
3 April 2017

I.3.649

I.3.650 (..............................................)

I.3.651

A. Data Fokus
I.3.652 Data Subjektif I.3.653 Data Objektif
1. Care givernya mengatakan semua kebutuhan 1. Klien terlihat terdapat ulkus dekubitus di
dasar omah Ida seluruhnya di bantu bangian os.sacrum, kondisi luka saat ini

64
sepenuhnya seperti mandi, berpakaian, cukup bersih, tidak terdapat pus, tidak ada
memberikan makan, dan proses eliminasi. bengkak, tidak ada kemerahan.
2. Care givernya mengatakan omah Ida sering 2. Hasil pemeriksaan klien memiliki riwayat
menggerang spondilitis L5 S1
3. Care givernya mengatakan gerangan omah 3. Kedua mata klien terlihat tidak dapat dibuka
Ida diakibatkan karena rasa sakit pada karena terdapat karsinoma sel basal
tangan kanan omah Ida yang sudah mikronoduler paa palpebra inferior sinistra
mengalami kekakuan ototnya 4. Omah Ida terlihat tidak mampu meluruskan
4. Care giver oma ida mengatakan memiliki kedua kakinya akibat riwayat parkinsonya.
riwayat penyakit Parkinson, batu ginjal, Omah Ida terlihat di bantu seluruhnya untuk
jantung, DM, dan kanker mata. memenuhi kebutuhan dasarnya seperti
5. Care givernya mengatakan terdapa ulkus di berpakaian, mandi, makan, dan eliminasi.
bagian belakang 5. Hasil penilaian kemandirian lansia dengan
6. Care givernya mengatakan omah Ida katz indeks mengindikasikan
kadang-kadang sulit untuk makan. Omah ketergantungan.
Ida hanya menghabiskan makan porsi 6. Hasil penilaian kemandirian lansia dengan
saja. Dan minum kurang lebih hanya 350 cc barthel indeks didapatkan bobot 10 yang
setiap kali omah Ida minum. artinya adalah ketergantungan penuh.
7. Care giver mengatakan omah Ida juga 7. Omah Ida terlihat hanya makan sedikit saja.
mengalami kesulitan dalam menelan 8. Auskultasi, bising usus tidak terdengar.
makanan, sehingga omah ida hanya dapat 9. Otot wajah tampak kaku.
memakan makanan bubur. 10. Klien tampak kurus.
8. Care givernya mengatakan omah Ida sulit 11. Omah Ida terlihat Tremor saat melakukan
untuk menggerakan tubuhnya. aktivitas
I.3.654
I.3.655
I.3.656
I.3.657
I.3.658
B. Analisa Data

I.3.659 Data I.3.660 Masalah Keperawatan

I.3.661 Data Subjektif : I.3.665 Nyeri kronis

1. Care givernya mengatakan omah Ida sering


menggerang

2. Care givernya mengatakan gerangan omah Ida


diakibatkan karena rasa sakit pada tangan kanan omah

55
Ida yang sudah mengalami kekakuan ototnya

3. Care giver oma ida mengatakan memiliki riwayat


penyakit Parkinson, batu ginjal, jantung, DM, dan
kanker mata.

4. Care givernya mengatakan terdapa ulkus di bagian


belakang

I.3.662

I.3.663 Data Objektif :

1. Klien terlihat terdapat ulkus dekubitus di bangian


os.sacrum, kondisi luka saat ini cukup bersih, tidak
terdapat pus, tidak ada bengkak, tidak ada kemerahan.
2. Hasil pemeriksaan klien memiliki riwayat spondilitis L5
S1
3. Kedua mata klien terlihat tidak dapat dibuka karena
terdapat karsinoma sel basal mikronoduler paa palpebra
inferior sinistra
4. Omah Ida terlihat tidak mampu meluruskan kedua
kakinya akibat riwayat parkinsonya. Omah Ida terlihat
di bantu seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya seperti berpakaian, mandi, makan, dan
eliminasi
I.3.664
I.3.666 Data Subjektif: I.3.669 Gangguan pemenuhan
nutrisi
1. Care givernya mengatakan omah Ida kadang-kadang
sulit untuk makan. Omah Ida hanya menghabiskan
makan porsi saja. Dan minum kurang lebih hanya
350 cc setiap kali omah Ida minum.
2. Care giver mengatakan omah Ida juga mengalami
kesulitan dalam menelan makanan, sehingga omah ida
hanya dapat memakan makanan bubur.
I.3.667
I.3.668 Data Objektif
1. Omah Ida terlihat hanya makan sedikit saja.
2. Auskultasi, bising usus tidak terdengar.

56
3. Otot wajah tampak kaku.
4. Klien tampak kurus.
5. Omah Ida terlihat di bantu seluruhnya untuk memenuhi
kebutuhan dasaynya seperti berpakaian, mandi, makan,
dan eliminasi.
6. Hasil penilaian kemandirian lansia dengan katz indeks
mengindikasikan ketergantungan.
7. Hasil penilaian kemandirian lansia dengan barthel
indeks didapatkan bobot 10 yang artinya adalah
keterhgantungan penuh.
I.3.670 Data subjektif: I.3.672 Gangguan mobilitas fisik
1. Care givernya mengatakan semua kebutuhan dasar
omah Ida seluruhnya di bantu sepenuhnya seperti
mandi, berpakaian, memberikan makan, dan proses
eliminasi.
2. Care givernya mengatakan omah Ida sulit untuk
menggerakan tubuhnya.
3. Care giver oma ida mengatakan memiliki riwayat
penyakit Parkinson, batu ginjal, jantung, DM, dan
kanker mata.
I.3.671 Data objektif:
1. Hasil penilaian kemandirian lansia dengan katz indeks
mengindikasikan ketergantungan.
2. Hasil penilaian kemandirian lansia dengan barthel
indeks didapatkan bobot 10 yang artinya adalah
keterhgantungan penuh.
3. Omah Ida terlihat Tremor saat melakukan aktivitas

I.3.673 Data subjektif: I.3.677 Defisit perawatan diri

1. Care givernya mengatakan semua kebutuhan dasar


omah Ida seluruhnya di bantu sepenuhnya seperti
mandi, berpakaian, memberikan makan, dan proses
eliminasi.
2. Care givernya mengatakan omah Ida sering
menggerang
3. Care givernya mengatakan gerangan omah Ida
diakibatkan karena rasa sakit pada tangan kanan omah
Ida yang sudah mengalami kekakuan ototnya
4. Care giver oma ida mengatakan memiliki riwayat

57
penyakit Parkinson, batu ginjal, jantung, DM, dan
kanker mata.
5. Care givernya mengatakan terdapa ulkus di bagian
belakang
I.3.674
I.3.675
I.3.676 Data objektif:

1. Klien terlihat terdapat ulkus dekubitus di bangian


os.sacrum, kondisi luka saat ini cukup bersih, tidak
terdapat pus, tidak ada bengkak, tidak ada kemerahan.
2. Hasil pemeriksaan klien memiliki riwayat spondilitis
L5 S1
3. Kedua mata klien terlihat tidak dapat dibuka karena
terdapat karsinoma sel basal mikronoduler paa
palpebra inferior sinistra
4. Omah Ida terlihat tidak mampu meluruskan kedua
kakinya akibat riwayat parkinsonya. Omah Ida terlihat
di bantu seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan
dasaynya seperti berpakaian, mandi, makan, dan
eliminasi.
5. Hasil penilaian kemandirian lansia dengan katz indeks
mengindikasikan ketergantungan.
6. Hasil penilaian kemandirian lansia dengan barthel
indeks didapatkan bobot 10 yang artinya adalah
ketergantungan penuh.
7. Omah Ida terlihat Tremor saat melakukan aktivitas
I.3.678
C. Diagnose Keperawatan
1. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kekakuan dan
kelemahan otot pada omah Ida (88 Tahun)

2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan tremor dan gangguan motorik


pada omah Ida (88 tahun)

3. Gangguan rasa nyaman nyeri pada omah Ida usia 88 tahun

58
4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan
dengan tremor dan perlambatan dalam proses makan, serta kesulitan
mengunyah dan menelan pada omah Ida (88 tahun)

5. D. Rencana Asuhan Keperawatan


7. Diagnosa
6. keperawat 8. Tujuan 9. Intervensi
an

11. 12. Gangguan 14. Tujuan umum: 1. Kaji mobilitas yang ada
15. Setelah dilakukan dan observasi terhadap
mobilitas
tindakan peningkatan kerusakan
fisik yang
dan kaji teratur fungsi
keperawatan
berhubunga motorik.
diharapkan dapat 2. Lakukan program latihan
n dengan
meminimalkan meningkatkan kekuatan
kekakuan otot.
gangguan 3. Lakukan latihan postural
dan
mobilitas fisik. 4. Ajarkan teknik berjalan
kelemahan
16. khusus.
otot pada 17. Tujuan khusus: 5. Anjurkankan mandi
18. Setelah dilakukan hangat dan masase otot.
omah I (88
tindakan 6. Bantu klien melakukan
Tahun) latihan ROM, perawatan
keperawatan
13. diri sesuai toleransi.
selama 3 x24 jam 7. Kolaborasi dengan ahli
klien mampu fisioterapi untuk latihan
fisik klien.
melaksanakan
aktivitas fisik
sesuai dengan
kemampuannya.
19. Kriteria hasil:
20. Klien dapat ikut
serta dalam
program latihan,
tidak terjadi
kontraktur sendi,

59
bertambahnya
kekuatan otot dan
klien menunjukan
tindakan
mobilitas.
21.22. Defisit perawatan 24. Tujuan umum: 1. Kaji kemampuan klien
diri berhubungan dengan 25. Setelah dilakukan dalam melakukan ADL
tremor dan gangguan tindakan 2. Bantu klien bila klien
motorik pada omah I (88 tidak dapat memenuhi
keperawatan
Tahun) kebutuhan ADL secara
klien tidak mandiri
23. mengalami defisit 3. Ajarkan dan dukung
klien selama beraktivitas
perawatan diri. 4. Modifikasi lingkungan
26. 5. Kolaborasi: konsulkan
27. Tujuan khusus: dokter untuk terapi
28. Setelah dilakukan
aktivitas
intervensi selama
3x24 jam
perawatan diri
klien dapat
terpenuhi.
29. Kriteria Hasil :
30. klien mampu
menunjukan
kemampuan
merawat diri
sesuai
kemampuan,
menunjukkan
terpenuhinya
kebutuhan
merawat diri
31.32. Gangguan rasa 33. Tujuan Umum : 1. Kaji keadaan umum
nyaman nyeri pada Omah 34. Setelah dilakukan klien

60
I usia 88 tahun tindakan 2. Berikan posisi senyaman
keperawatan mungkin pada klien
3. Ajarkan teknik distraksi
diharapkan nyeri dalam relaksasi
klien berkurang 4. Rawat luka dengan ganti
35. balut
36. Tujuan Khusus : 5. Kolaborasi pemberian
37. Selama dilakukan obat anti nyeri sesuai
intervensi indikasi

keperawatan
selama 3 x 24
jam nyeri tidak
terjadi kembali
38. Kriteria Hasil :
39. Klien mampu
menunjukan
tenang, skala
nyeri dalam
rentang normal
(0-1) dank lien
dapat istirahat
40. 41. Gangguan 43. Tujuan umum: 1. Kaji kemampuan makan
44. Setelah dilakukan klien
pemenuhan
tindakan 2. Observasi atau timbang
nutrisi berat badan.
keperawatan 3. Kaji sistem
kurang dari
diharapkan tidak gastrointestinal yang
kebutuhan
terjadi gangguan meliputi suara bising
yang usus, perubahan dalam
pemenuhan lambung seperti mual
berhubunga
kebutuhan nutrisi. dan muntah, perubahan
n dengan
45. pergerakan usus.
tremor dan 46. Tujuan khusus: 4. Manajemen kemampuan
47. Dalam waktu menelan.
perlambata
3x24 jam 5. Monitor pemakaian alat
n dalam
bantu jika ada
kebutuhan nutrisi
proses 6. Berikan makanan

61
makan, klien terpenuhi. kesukaan klien
48. Kriteria hasil: 7. Kolaborasi lakukan
serta
49. Mengetahui pemeriksaan
kesulitan laboratorium yang
tentang
mengunyah diindikasikan seperti:
pentingnya nutrisi
dan serum transferin, BUN/
bagi tubuh, tidak kreasinin dan glukosa.
menelan
ada penurunan
pada omah
bobot tubuh,
I (88 tahun)
mampu
42.
manghabiskan
porsi makan yang
disediakan.
E. Implementasi
50. 51. Ha 52. D 53. J 54. Implementasi dan Hasil
No ri/Tgl x Kep am

55. 56. Se 57. 58. 66. BHSP dengan omah I dan care
1 nin , 03 09. givernya serta omah dan opah lainnya
April 2017
67. Pengkajian pada omah I (hasil pada
59. format pengkajian)
68. Memberi makan siang. Hasil : Omah I
60. tidak mampu makan sendiri, makan
11. habis porsi.
69. Membantu care giver untuk
61. memandikan omah I
70. Menulis laporan
62. 71. pulang

63.
13

64.

62
14.

65.
14.

72. 73. Sel 74. 75. 1 85. Memberi makan siang. Hasil : Omah I tidak
2 asa , 04 2.00 mampu makan sendiri, makan habis porsi
April 2017 76. 86. Membantu memandikan omah I bersama care
77. 1 givernya
3.50 87. TTV (TD : 110/80 mmHg, 85x/menit,
78. 1 20x/menit)
4.55 88. Pengkajian pada Omah I Penilaian psikososial
79. dan Spiritual. (hasil pada format pengkajian)
80. 89. Menemani Omah I untuk jalan-jalan di taman
81. 1 bersama care givernya.
6.00 90. Menulis laporan
82. 91. Pulang
83. 1
8.00
84. 1
9.00

92. 93. Ra 94. 98. 1 109. Memberi makan siang kepada Omah I Hasil :
3 bu , 05 95. 2.00 omah I tidak mampu makan sendiri, makan habis
April 2017 96. 99. porsi
97. D 100. 1 110. Membantu memandikan Omah I bersama care
x1 4.00 givernya
101. 1 111. TTV (TD :100/70mmHg, 87x/menit,
5.00 19x/menit)
102. 1 112. Omah I istirahat
5.15 113. Mengobrol dengan Omah I dan mengkaji
103. 1 masalah yang di rasakan saat ini. Hasil : Omah I
6.00 tidak pernah menjawab pertanyaan mahasiswa
104. 114. Pengkajian Head to Toe (hasil pada format
105. pengkajian)
106. 1 115. Menulis laporan
7.00 116. Pulang
107. 1
8.00

64
108. 1
9.00

117. 118. Ka 119. 121. 0 135. Memberi makan pagi. Hasil : Omah I tidak
4 mis , 06 120. 7.00 bisa makan sendiri, makan habis 1 porsi
April 2017 122. 136. Menemani omah jalan-jalan pagi ke kantin
123. 0 sambil minum susu. Hasil : omah I menghabiskan 1
7.30 gelas energen
124. 137. Mendampingi omah untuk mengikuti senam
125. 0 pagi. Hasil : Omah I tidak mampu melakukan senam
8.00 138. TTV (TD :110/80mmHg, 78x/menit,
126. 18x/menit)
127. 0 139. Pengkajian Indeks Katz (hasil pada format
9.30 pengkajian)
128. 1 140. Omah I beristirahat
0.00 141. Memberi makan siang. Hasil : omah I tidak
129. 1 mampu makan sendiri, makan habis porsi.
1.00 142. Membantu memandikan Omah I bersama care
130. 1 givernya
2.00 143. Menulis laporan
131. 1 144. Pulang
3.00
132. 1
3.50
133. 1
4.15
134. 1
4.40

145. 146. Ju 147. 151. 0 164. Memberi makan pagi. Hasil : Omah I tidak
5 mat,07 148. 7.00 mampu makan sendiri, makan habis porsi
April 2017 149. 152. 165. Menemani omah jalan-jalan pagi ke kantin
150. 153. 0 sambil minum susu. Hasil : omah I menghabiskan 1
7.30 gelas susu coklat
154. 166. Mendampingi omah untuk mengikuti terapi
155. 0 musik. Hasil : Omah I tampak senang
8.00 167. TTV (TD :100/80mmHg, 82x/menit,
156. 18x/menit)
157. 1 168. Omah I beristirahat
1.00 169. Memberi makan siang. Hasil : omah I tidak
158. 1 mampu makan sendiri, makan habis porsi.
1.15 170. Membantu memandikan Omah I bersama care

65
159. 1 givernya
2.00 171. Menulis laporan
160. 1 172. Pulang
3.00
161. 1
3.50
162. 1
4.15
163. 1
4.40

173. 174. Sa 175. 179. 0 190. Memberi makan pagi. Hasil : omah I tidak
6 btu, 08 176. 7.00 mampu makan sendiri, makan habis 1 porsi
April 2017 177. 180. 191. Menemani omah I jalan-jalan ke taman
178. D 181. 0 bersama care givernya
x.1 7.30 192. TTV (TD :120/80mmHg, 82x/menit,
182. 17x/menit)
183. 0 193. Memberi makan siang. Hasil : Omah I tidak
9.00 mampu makan sendiri, makan habis porsi.
184. 1 194. Omah I istirahat
2.00 195. Membantu memandikan Omah I bersama care
185. givernya
186. 1 196. Menulis laporan
2.10 197. pulang
187. 1
3.40
188. 1
4.15
189. 1
4.30

198. 199. Se 200. 207. 0 224. Memberi makan pagi. Hasil : kakek U makan
7 nin , 09 201. 7.00 sendiri, makan habis 1 porsi
April 2017 202. 208. 225. TTV (TD :160/100mmHg, 80x/menit,
203. 209. 0 12x/menit)
204. 7.30 226.
205. 210. 227. Kolaborasi : amlodipin 05gr/SL
206. D 211. 0 228. TTV TTV (TD :150/80mmHg, 80x/menit,
x1 7.45 12x/menit)
212. 0 229.
9.30 230. Senam pernapasan untuk lansia

66
213. 231.
214. 0 232. Pemeriksaan Asam Urat dan GDS (AU:7,4
9.45 ul/dl, GDS: 103 ul/dl)
215. 233. Memberi makan siang. Hasil : kakek U
216. 1 makan sendiri, makan habis 1 porsi.
0.00 234. TTV (TD :140/80mmHg, 80x/menit,
217. 12x/menit)
218. 1 235.
2.00 236. Kakek U istirahat
219. 237. Mahasiswi pulang
220. 1
2.30
221.
222. 1
3.00
223. 1
3.30

238. 239. Sel 240. 241. 1 253. Memberi makan siang. Hasil : kakek U
8 asa ,10 3.00 makan sendiri, makan habis 1 porsi
April 2017 242. 254. TTV (TD :150/90mmHg, 80x/menit,
243. 1 17x/menit)
3.30 255. Kolaborasi : pemberian amlodipin 5gr,
244. 256. Senam Persendian, ROM aktif
245. 1 257. .
5.00 258. Memberi makan sore. Hasil : kakek U makan
246. 1 sendiri, makan habis 1 porsi
6.00 259. TTV (TD :130/80mmHg, 80x/menit,
247. 12x/menit)
248. 1 260. Mahasiswi pulang
7.00 261. .
249.
250. 1
8.00
251.
252. 1
9.00

262. 263. Ra 264. 277. 0 294. Memberi makan pagi. Hasil : kakek U makan
9 bu , 11 265. 7.00 sendiri, makan habis 1 porsi
April 2017 266. D 278. 295. TTV (TD :140/80mmHg, 80x/menit,

67
x 1, 3 279. 12x/menit)
267. D 280. 0 296. Senam Persendian, senam lansia sehat dan
x 1,3 7.45 ROM aktif. Hasil : Klien mampu mengikuti senam
268. 281. dan ROM, tetapi masih perlu bimbingan.
269. D 282. 0 297. Menganjurkan klien untuk menggunakan
x 1,3 8.30 lotion dan baby oil setelah mandi.
270. 283. 298. Menganjurkan pasien untuk menggunakan
271. 284. baju yang longgar.
272. D 285. 299. Memberi makan siang. Hasil : kakek U
x 1,3 286. 1
makan sendiri, makan habis 1 porsi.
273. 0.00 300. Memberikan obat amlodipin 5 mg
274. 287.
275. D 288. 1
x2 1.00
276. 289.
290. 1
2.00
291.
292. 1
3.00
293.

301. 302. Ka 303. 304. 0 323. Personal higiene. Hasil : klien mampu
10 mis 12 6.30 melakukan perawatan kulit dengan baik. Mandi
April 2017 305. menggunakan sabun dan tanpa bantuan. Klien
306. menggosok gigi dengan baik. Klien melakukan
307.
perawatan kulit dengan menggunakan lotion.
308.
324.
309.
325. Memberi makan pagi. Hasil : kakek U makan
310.
311. 0 sendiri, makan habis 1 porsi
326. TTV (TD :120/80mmHg, 80x/menit,
7.00
312. 12x/menit)
313. 0 327. Membuat laporan
328.
8.00
329. Memberi makan siang. Hasil : kakek U
314.
315. 0 makan sendiri, makan habis 1 porsi.
330. Memberikan makan mentimun agar tensi
8.30
316. tidak naik
317. 1 331.
332. Kakek U istirahat
2.00
333.
318.
319. 1

68
2.15 334. Mahasiswi pulang
320.
321. 1
3.00
322.

335.
D. Evaluasi
336. 337. Hari/ 338. N 339. Evaluasi 340. Paraf
No Tanggal o.Dx

341. 342. Senin 343. D 344. S : 352.


1 03 April 2017 x1
1. Klien mengatakan senang
berolahraga

2. Klien mengatakan dengan


berolahraga badannya jadi
ringan.

345. O:

1. TTV:

346. TD : 150/100 mmHg

347. Nadi : 85x/menit

348. RR :
23x/menit

349. Suhu : 36oC

3. Klien kooperatif

4. Klien mampu melaksanakan


senam dengan baik.

5. Klien mengikuti senam


dengan menggunakan alat
bantu.

69
350. A: Masalah perubahan
jaringan serebral belum teratasi
351. P: Intervensi dilanjutkan.

1. Lakukan laithan relaksaksi


otor progresif

2. Beri latihan ROM aktif-pasif

353. 355. D 356. S: 365.


x2 357. Kakek U mengatakan :

1. Jalannya harus pelan-pelan

2. Petugas tidak ada yang


membantu ke kamar mandi

3. Keluar kamar dengan


menggunakan alat bantu

358. O:

1. Kakek U terlihat kesulitan


berjalan
2. Kakek U terlihat dibantu oleh
perawat ketika berjalan
menuju lapangan untuk senam
3. Kekuatan tonus otot
5 5 5 5 5 5 5 5
359.

4 360.
4 4 4 4 4 4 4
361.
362. A : Msalah
hambatan mobilisasi
fisik belum teratasi

363. P: Lanjutkan

70
intervensi:

1. Anjurkan klien untuk


berlatih berjalan dengan hati
- hati

2. Anjuran klien latihan gerak


ROM aktif pasif

3. Anjurkan klien untuk senam


persendian

364.
366. 368. D 369. S: 375.
x3
1. Klien mengatakan alat bantu
saat beraktifitas

2. Kakek U mengatakan takut


terjatuh saat beraktivitas

3. Kakek U sangat berhati


hati saat berjalan

370.
371. O:

1. Adanya penurunan fungsi


pada ektremitas bawah klien.

2. Sehari-hari kakek u
mobilisasi dengan hati-hati
karena takut terjatuh.

3. Berdasarkan pengkajian, saat


musim hujan mengakibatkan
lantai tempat WBS
beraktifitas basah dan licin
sehingga beresiko untuk

71
terjatuh.

372.

373. A: Masalah
risiko jatuh belum
teratasi

374. P: Lanjutkan
intervensi

1. Motivasi klien dalam


penggunaan alat bantu.

2. Pantau aktifitas klien

376. 377. Selasa 378. D 379. S: 385.


2 04 April 2017 x1
1. Klien mengatakan sering
sakit pada daerah tengkuk

2. Klien mengatakan sering


pusing

380. O:

1. Klien tampak kooperatif

2. Klien tampak sulit


melakukan mobilisasi.

3. Kulit klien tampak kering

4. TTV (TD : 150/100 mmHg,


85x/menit, 23x/menit)

381.
382. A: Masalah belum teratasi
383. P:Lanjutkan intervensi

72
1. Lakukan senam persendian

2. Beri latihan ROM aktif-pasif

3. Beri latihan teknik relaksaksi


otot progresif

384.

386. 388. D 389. S: - Kakek U mengatakan 397.


x2 tidak mampu berdiri lama
- Kakek U mengatakan
membutuhkan bantuan orang
untuk berjalan

390.
391. O:
- Mobilisasi kakek U dibantu
dengan alat bantu

- Kakek U makan sendiri

- Kakek U terlihat berjalan


dengan hati - hati

392.
393. A : masalah
hambatan mobilisasi
fisik belum teratasi
394.
395. P: intervensi
dilanjutkan
1. Memonitoring vital sign

2. Mengkaji kemampuan
pasien dalam mobilisasi

73
3. Mendampingi dan Bantu
pasien saat mobilisasi
dan bantu penuhi
kebutuhan ADLs ps.

396.
398. 400. D 401. S: 407.
x3
1. Klien mengatakan takut jika
sedang berjalan di tempat
jalanan yang tidak rata
seperti turunan

2. Klien mengatakan trauma


karena pernah terjatuh

402.
403. O:

1. Adanya penurunan fungsi


pada ektremitas bawah klien.

2. Berdasarkan pengkajian
kondisi panti, tidak adanya
pegangan tangan untuk para
WBS ketika akan ke kamar
mandi.

3. Berdasarkan pengkajian, saat


musim hujan mengakibatkan
lantai tempat WBS
beraktifitas basah dan licin
sehingga beresiko untuk
terjatuh.

4. Kakek U terlihat
menggunakan alat bantu saat
berjalan

404.

74
405. A: Masalah
hambatan mobilisasi
fisik belum teratasi

406. P: Lanjutkan
intervensi

1. Motivasi klien agar latihan


gerak ROM.

2. Tingkatkan mobilisasi klien

408. 409. Rabu 410. D 411. S : 415.


3 05 April 2017 x1
1. Klien mengatakan senang
jika masalah kesehatannya
dapat diatasi.

2. Klien mengatakan masih


mengeluhkan pusing

3. Klien mengatakan sering


kesemutan

412. O:
413. A: Masalah perubahan
jaringan perfusi serebral belum
teratasi
414. P: Intervensi dilanjutkan.

1. Anjurkan memakan yang


mengandung banyak garam

2. Anjurkan latihan gerak


teknik relaksaksi nafas dalam

416. 418. D 419. S: 423.


x2
1. Klien mengatakan masih

75
kesulitan dalam berjalan

2. Klien mengatakan masih


tergantung pada alat bantu

420. O:

1. Klien terlihat kooperatif.

2. Klien terlihat senang saat di


bantu berjalan oleh perawat

3. Klien terlihat berjalan sendiri


ke kamar mandi

421. A: Masalah hambatan


mobilasasi fisik teratasi sebagian
422. P: Lanjutkan intervensi

1. Pantau mobilaisasi pasien

2. Kolaborasi dengan ahli


fisioterapi

424. 426. D 427. S: 431.


x3
1. Klien mengatakan berhati
hati jika berjalan

2. Klien mengatakan sudah


terbiasa menggunakan alat
bantu untuk melakukan
aktifitas

428. O:

1. Adanya penurunan fungsi


pada ektremitas bawah klien.

429. A: Masalah

76
hambatan mobilisasi
fisik teratasi sebagian

430. P: Lanjutkan
intervensi

1. Motivasi klien dalam


penggunaan kruk/walker.

2. Tingkatkan mobilisasi klien

432. 433. Kamis 434. D 435. S : 441.


4 06 April 2017 x1
1. Klien mengatakan senang
melakukan senam

2. Klien mengatakan tidak


merasakan pusing

3. Klien mengatakan tidak


merasakan sakit pada daerah
tengkuk

436. O:

1. Klien tampak melakukan


senam dengan baik.

2. TTV (TD :140/70mmHg,


80x/menit, 17x/menit)

437.
438. A: Masalah perubahan
perfusi jaringan serebral teratasi
439. P:Lanjutkan intervensi.

1. Pantau ttv

2. Kolaborasi dengan amlodipin

77
440.

442. 443. 444. D 445. S : 449.


x2
1. Klien mengatakan senang
melakukan senam

2. Klien mengatakan dengan


senam tubuh merasa segar.

3. Klien mengatakan senam


membuat tidak kaku-kaku
lagi.

446. O:

1. Klien tampak melakukan senam


dengan baik.

2. Klien mobilisasi menggunakan


alat bantu dengan baik

3. Klien melakukan senam dengan


alat bantu

447. A: Masalah hambatan


mobilisasi belum teratasi
448. P:Lanjutkan intervensi.

1. Lakukan senam persendian

2. Beri latihan ROM aktif-pasif

450. 451. 452. D 453. S: 457.


x3
1. Klien mengatakan senang
berjalan jalan keluar wisma

2. Klien beraktifitas dengan hati


hati dan perlahan - lahan

78
454. O:

1. Adanya penurunan fungsi


pada ektremitas bawah klien.

455. A: Masalah
risiko cederajatuh
belum teratasi

456. P: Lanjutkan
intervensi

1. Motivasi klien dalam


penggunaan kruk/walker.

2. Tingkatkan mobilisasi klien

3. Pantau dalam aktifitas klien

4. Memberikan penjagaan pada


tempat tidur

458. 459. Jumat 460. D 461. S : 465.


5 07 2017 x1
1. Klien mengatakan tubuhnya
segar.

2. Klien mengatakan nyeri


timbul jika dingin saja.

462. O:

1. Klien tampak senang

2. Klien tampak kooperatif.

3. Klien melalukan aktivitas


dibantu dalam mobilisasi.

4. TTV (TD :140/80mmHg,

79
80x/menit, 15x/menit)

5. Setelah diberikan Nefidipin


TD pasien menjadi 130/80
mmHg

463. A: Masalah teratasi


464. P: Lanjutkan intervensi

466. 468. D 469. 474.


x2 470. S:

1. Klien mengatakan senang


melakukan senam

2. Klien mengatakan dengan


senam tubuh merasa segar.

3. Klien mengatakan senam


membuat tidak kaku-kaku
lagi.

471. O:

1. Klien tampak melakukan


kegiatan dengan baik.

2. Klien mobilisasi
menggunakan alat bantu
dengan baik

3. Klien terbiasa menggunakan


alat bantu dalam aktifitas

472. A: Masalah hambatan


mobilisasi teratasi
473. P:Lanjutkan intervensi.

1. Lakukan senam persendian

80
2. Beri latihan ROM aktif-pasif

475. 477. D 478. S: 482.


x3
1. Klien mengatakan takut
menggunakan walker

2. Klien meraktifitas dengan


merangkak.

479. O:

1. Adanya penurunan fungsi


pada ektremitas bawah klien.

480. A: Masalah
risiko jatuh belum
teratasi

481. P: Lanjutkan
intervensi

1. Motivasi klien dalam


penggunaan kruk/walker.

2. Tingkatkan mobilisasi klien

483. 484. Sabtu 485. D 486. S: 491.


6 08 April 2017 x1
1. Klien mengatakan tubuhnya
segar.

2. Klien mengatakan nyeri timbul


jika dingin saja.

487. O:

1. Klien tampak senang

81
2. Klien tampak kooperatif.

3. TTV (TD :130/80mmHg,


80x/menit, 12x/menit)

488. A: Masalah teratasi

489. P: Lanjutkan intervensi


1. Pantau ttv

2. Kolaborasi amlodipin sesuai


instruksi dokter

490.
492. 494. D 495. S: 500.
x2
1. Klien mengatakan senang
melakukan senam

2. Klien mengatakan dengan


senam tubuh merasa segar.

3. Klien mengatakan senam


membuat tidak kaku-kaku
lagi.

496. O:

1. Klien tampak melakukan


kegiatan dengan baik.

2. Klien mobilisasi
menggunakan alat bantu
dengan baik

3. Klien terbiasa menggunakan


alat bantu dalam aktifitas

497. A: Masalah hambatan


mobilisasi teratasi

82
498. P: intervensi di lanjutkan

1. pantau aktivitas klien

499.
501. 503. D 504. S: 508.
x3
1. Klien mengatakan takut
menggunakan walker

2. Klien mengatakan masih


trauma karena pernah jatoh

505. O:

1. Adanya penurunan fungsi


pada ektremitas bawah klien.

2. Tidak adanya pegangan saat


di kamar mandi
mengakibatkan lansia jatoh

506. A: Masalah
risiko jatuh belum
teratasi

507. P: Lanjutkan
intervensi

1. Motivasi klien dalam


penggunaan kruk/walker.

2. Tingkatkan mobilisasi klien

3. Memberikan pengaman pada


sisi tempat tidur

509. 510. Jumat, 511. D 512. S: 516.


7 6 Januari x1

83
2015 1. Klien mengatakan segar

2. Klien mengatakan badannya


tidak pegal-pegal.

3. Klien mengatakan takut


menggunakan walker

4. Klien mengatakan kulitnya


lebih lembut

5. Klien mengatakan setelah


menggunakan lotion dan babi
oil jadi segar

6. Klien mengatakan tidak


gatal-gatal lagi.

513. O:

1. Klien mengikuti latihan fisik


dengan baik

2. Klien tampak takut saat


berjalan dengan walker

514. A: Masalah gangguan


mobilisasi teratasi sebagian
515. P: Lanjutkan intervensi

1. Latihan ROM

517. 518. 519. D 520. S: 524.


x2
1. Klien mengatakan mandi
dengan sabun dan handuk
sendiri.

2. Klien mengatakan tidak


gatal-gatal

84
521. O:

1. Bekas menggaruk tidak ada.

2. Bintik-bintk merah tidak ada.

3. Kulit tampak lembab

4. Tanda-tanda kerusakan
integritas kulit tidak ada.

522. A: Masalah
risiko kerusakan
integritas kulit
teratasi sebagian.

523. P: Lanjutkan
intervensi

1. Anjurkan klien
menggunakan baju yang
longgar.

2. Anjuran klien menggunakan


lotion/baby oil untuk
perawatan kulit.

3. Anjurkan klien
meningkatkan personal
hygiene.

4. Kolaborasi pemberian
citirizine

525. 526. 527. D 528. S: 532.


x3
1. Klien mengatakan takut
menggunakan walker

85
2. Klien meraktifitas dengan
merangkak.

529. O:

1. Adanya penurunan fungsi


pada ektremitas bawah klien.

530. A: Masalah
risiko cedera belum
teratasi

531. P: Lanjutkan
intervensi

1. Motivasi klien dalam


penggunaan kruk/walker.

2. Tingkatkan mobilisasi klien

533. 534. Sabtu, 535. 536. S: 540.


8 7 Januari
2015 1. Klien mengatakan segar

2. Klien mengatakan badannya


tidak pegal-pegal.

3. Klien mengatakan takut


menggunakan walker

4. Klien mengatakan kulitnya


lebih lembut

5. Klien mengatakan setelah


menggunakan lotion dan babi
oil jadi segar

6. Klien mengatakan tidak

86
gatal-gatal lagi.

537. O:

1. Klien mengikuti latihan fisik


dengan baik

2. Klien tampak takut saat


berjalan dengan walker

3. Mobilisasi pasien masih


dibantu

538. A: Masalah gangguan


mobilisasi fisik teratasi sebagian
539. P: Lanjutkan intervensi

1. Latihan ROM dan Senam


persendian

541. 542. 543. D 544. S: 548.


x2
1. Klien mengatakan mandi
dengan sabun dan handuk
sendiri.

2. Klien mengatakan tidak


gatal-gatal

545. O:

1. Bekas menggaruk tidak ada.

2. Bintik-bintk merah tidak ada.

3. Kulit tampak lembab

4. Tanda-tanda kerusakan
integritas kulit tidak ada.

5. Klien mampu melakukan

87
perawatan kulit dengan baik.
Mandi menggunakan sabun
dan tanpa bantuan.

6. Klien menggosok gigi


dengan baik.

7. Klien melakukan perawatan


kulit dengan menggunakan
lotion.

8. Klien mampu menggunakan


pampers dengan mandiri.

546. A: Masalah
risiko kerusakan
teratasi

547. P: Hentikan
intervensi.

549. 550. 551. D 552. S: 556.


x3
1. Klien mengatakan takut
menggunakan walker

2. Klien meraktifitas dengan


merangkak.

553. O:

1. Adanya penurunan fungsi


pada ektremitas bawah klien.

554. A: Masalah
risiko cedera belum
teratasi

555. P: Lanjutkan

88
intervensi

1. Motivasi klien dalam


penggunaan kruk/walker.

2. Tingkatkan mobilisasi klien

557.

89