Anda di halaman 1dari 15

A.

Definisi
Menurut Oxorn (2010), partus prematurus atau persalinan prematur dapat
diartikan sebagai dimulainya kontraksi uterus yang teratur yang disertai pendataran dan
atau dilatasi servix serta turunnya bayi pada wanita hamil yang lama kehamilannya
kurang dari 37 minggu (kurang dari 259 hari) sejak hari pertama haid terakhir.
Menurut Nugroho (2010) persalinan preterm atau partus prematur adalah
persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20-37 minggu)
atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram. Partus preterm adalah kelahiran
setelah 20 minggu dan sebelum kehamilan 37 minggu dari hari pertama menstruasi
terakhir (Benson, 2012).
Menurut Rukiyah (2010), partus preterm adalah persalinan pada umur kehamilan
kurang dari 37 minggu atau berat badan lahir antara 500-2499 gram.
Berdasarkan beberapa teori diatas dapat diketahui bahwa Partus Prematurus
Iminens (PPI) adalah adanya suatu ancaman pada kehamilan dimana timbulnya tanda-
tanda persalinan pada usia kehamilan yang belum aterm (20 minggu-37 minggu) dan
berat badan lahir bayi kurang dari 2500 gram.

A. Klasifikasi
Berdasarkan atas timbulnya bermacam-macam problematic pada derajat
prematuritas maka Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut dalam tiga kelompok:
1. Bayi yang sangat premature (extremely premature) 24-30 minggu.
Bayi dengan masa gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di
negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 28-30
minggu masih mungkin dapat hidup dengan perawatan yang sangat intensif (perawat
yang sangat terlatih dan menggunakan alat-alat yang canggih) agar dicapai hasil
yang optimum.
2. Bayi pada derajat premature yang sedang (moderately premature) 31-36 minggu.
Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari golongan pertama
dan gejala sisa yang dihadapinya di kemudian hari juga lebih ringan dari golongan
pertama dan gejala sisa yang dihadapinya dikemudian hari juga lebih ringan , asal
saja pengelolaan terhadap bayi ini betul-betul intensif.
3. Borderline premature 37-38 minggu
Bayi ini mempunyai sifat-sifat premature dan matur. Biasanya beratnya seperti bayi
matur dan dikelola seperti bayi matur, akan tetapi sering timbul problematic seperti
yang dialami bayi premature, misalnya sindroma gangguan pernapasan,
hiperbilirubinemia, daya isap yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini harus
diawasi dengan seksama.
B. Etiologi dan Faktor Resiko
1. Infeksi dan vaginosis bacterial
Sumber infeksi intra uterin yang menyerang jaringan korionik, selaput ketuban,
dan cairan amnion yang berhubungan dengan kejadian persalinan prematur
diantaranya yaitu bacterial vaginosis, streptococcus gol.B, streptococcus
anaerob, E-Coli, bacteroides.
2. Komplikasi persalinan
- Pre Eklampsi/Eklampsi
Preeklamsi atau hipertensi akibat kehamilan yang tidak ditanggulangi
merupakan suatu bahaya bagi sang ibu. Ia dapat terserang kejang-kejang
yang membahayakan dirinya dan janin yang dikandungnya. Ini berarti bahwa
ibu hamil yang mengalami preeklamsi harus segera diputuskan untuk
melahirkan bayi secara prematur.
- Perdarahan antepartum
Perdarahan antepartum adalah keadaan perdarahan yang keluar dari vagina
ibu hamil pada usia kehamilan lebih dari 28 minggu, dapat diakibatkan oleh
plasenta previa(plasenta mentutup sebagian atau seluruh mulut rahim) dan
solusio plasenta (plasenta terlepas dari tempat melekatnya) yang
disebabkan oleh trauma, dapat mengancam jiwa ibu dan janin sehingga
meningkatkan indikasi untuk mengakhiri persalinan yang berdampak
terjadinya persalinan preterm (Intan, 2010: Cunningham et al, 2005).
- Serviks inkompeten
- Kehamilan ganda dan polihidroamnion
3. Penyakit Sistemik
Berbagai penyakit ibu, kodisi dan pengobatan medis akan mempengaruhi
keadaan kehamilan dan dapat berhubungan atau meningkatkan kejadian
persalinan prematur. Penyakit sistemik terutama yang melibatkan sistem
peredaran darah, oksigenasi, atau nutrisi ibu dapat menyebabkan gangguan
sirkulasi plasenta yang akan mengurangi nutrisi dan oksigenasi bagi janin.
Penyakit-penyakit ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin dalam
rahim dan meningkatkan kejadian eklamsia/preeklamsia yang juga menjadi
penyebab persalinan prematur buatan. Penyakit pada ibu yang menyebabkan
hal tersebut di atas adalah: Hipertensi kronis dan hipertensi gestasional, lupus
eritematosus sistemik, penyakit paru restriktif, hipertiroidism, diabetes mellitus
pregestasional dan gestasional, penyakit jantung, dan penyakit ginjal.
4. Faktor Resiko
- Umur ibu
Usia reproduksi yang optimal bagi seorang ibu adalah 20-35 tahun. Pada
umur kurang dari 20 tahun, organ reproduksi belum berfungsi dengan
sempurna, sehingga bila terjadi kehamilan dan persalinan akan lebih mudah
mengalami komplikasi dan pada usia lebih dari 35 tahun organ kandungan
sudah tua sehingga jalan lahir telah kaku dan mudah terjadi komplikasi.
(Jenny, 2008).
- Paritas
Paritas menunjukkan jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang
wanita. Paritas merupakan faktor penting dalam menentukan nasib ibu dan
janin baik selama kehamilan maupun selama persalinan. Pada ibu dengan
primipara kemungkinan terjadinya kelainan dan komplikasi cukup besar baik
pada kekuatan his, jalan lahir, dan kondisi janin.
- Keadaan sosial ekonomi
Sosial ekonomi masyarakat sering dikaitkan dengan pendapatan keluarga,
mencerminkan kemampuan masyarakat dari segi ekonomi dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya termasuk kebutuhan kesehatan dan pemenuhan zat
gizi. Selain itu sosial ekonomi seseorang juga mempengaruhi kemampuan
ibu untuk mendapat pelayanan kesehatan yang memadai, misalnya
kemampuan untuk melakukan kunjungan prenatal untuk memeriksakan
keadaan janin. Wanita pada tingkat sosial ekonomi lebih rendah mempunyai
kemungkinan 50% lebih tinggi mengalami persalinan kurang bulan dibanding
tingkat sosial ekonomi lebih tinggi (Jenny, 2008).
- Riwayat persalinan premature
Riwayat persalinan preterm merupakan faktor yang sangat erat dengan
persalinan berikutnya. Resiko persalinan preterm berulang bagi mereka yang
persalinan pertamanya preterm, meningkat tiga kali lipat dibanding dengan
wanita yang persalinan pertamanya aterm (Cunningham et al, 2005).
- Gaya hidup
Perilaku seperti merokok, gizi buruk, dan penambahan berat badan yang
kurang baik selama kehamilan serta penggunaan obat seperti kokainatau
alkohol telah dilaporkan mengalami peranan penting pada kejadian dan hasil
akhir bayi dengan berat lahir rendah. Resiko kelahiran preterm meningkat,
yaitu rata-rata dua kali lipat dari wanita bukan perokok (Cunningham et al,
2005).

Faktor resiko PPI menurut Wiknjosastro (2010) yaitu :


1 Janin dan plasenta : perdarahan trimester awal, perdarahan antepartum,
KPD, pertumbuhan janin terhambat, cacat bawaan janin, gemeli,
polihidramnion
2 Ibu : DM, pre eklampsia, HT, ISK, infeksi dengan demam, kelainan bentuk
uterus, riwayat partus preterm atau abortus berulang, inkompetensi
serviks, pemakaian obat narkotik, trauma, perokok berat, kelainan
imun/resus

C. Patofisiologi
Diperkirakan 90% dari pasien yang mengalami infeksi cairan amnion,
menunjukkan adanya mikroba dari vagina dan serviks. Infeksi dapat mencetuskan
berbagai komponen biokimiawi baik local maupun sistemik. Infeksi intrauterine
menyebabkan inisiasi persalinan.
Jalur pertama yang menginisiasi persalinan premature adalah invasi bakteri yang
mengawali aktivasi fosfolipase A2 yang memecah asam arakidonat dari selaput
amnion janin, sehingga asam arakidonat bebas meningkat untuk sintesis
prostaglandin. Menurut Cunningham et al (2005) data dari penelitian hewan, invitro
dan manusia seluruhnya memberikan gambaran yang konsisten bagaimana infeksi
bakteri menyebabkan persalinan prematur spontan. Invasi bakteri rongga
koriodesidua, yang bekerja melepaskan endotoksin dan eksotoksin, mengktivasi
desidua dan membran janin untuk menghasilkan sejumlah sitokin, termasuk TNF-, IL-
1, IL-6, IL-8. Selanjutnya, sitokin, endotoksin, dan eksotoksin merangsang sintesis
prostaglandin dan pelepasan metalloprotease dan zat bioaktif lainnya. Prostaglandin
merangsang kontraksi uterus sedangkan metalloprotease menyerang membran
korioamnion yang menyebabkan pecah ketuban.
Jalur kedua yang bisa berperan adalah prostaglandin dehidrogenase di jaringan
korion yang dapat menghambat masuknya prostaglandin ke miometrium sehingga
mencegah terjadinya kontraksi uterus. Infeksi korionik dapat menurunkan aktivitas
dehidrogenase ini, menyebabkan peningkatan jumlah prostaglandin yang mencapai
miometrium.
Jalur ketiga melibatkan janin itu sendiri. Pada janin yang terinfeksi, terjadi
peningkatan produksi corticotrophin releasing hormone oleh hypothalamus janin dan
plasenta yang menyebabkan peningkatan sekresi kortikotropin janin, yang selanjutnya
meningkatkan produksi kortisol oleh adrenal janin. Pada akhirnya sekresi kortisol akan
meningkatkan produksi prostaglandin dan menyebabkan timbulnya kontraksi uterus.
Vaginosis Bakterial adalah bukan keadaan infeksi namun adalah suatu keadaan
dimana flora vagina normal (laktobasilus penghasil hidrogen peroksida) diganti dengan
kuman-kuman anaerobik meliputi Gardnerella vaginalis, Mobiluncus dan Mycoplasma
hominis (Cunningham et al, 2005; Wiknjosastro, 2008). Vaginosis bakterial sering
dikaitkan dengan abortus spontan, persalinan preterm, KPD, korioamnionitis dan
infeksi cairan amnion. Vaginosis bakterial menyebabkan terjadinya persalinan preterm
melalui mekanisme yang sama dengan yang terjadi akibat infeksi dalam cairan
amnion.

D. Manifestasi Klinis
Menurut Manuaba (2003), manifestasi klinis yang ditimbulkan pada persalinan
prematur diantaranya yaitu :
1. Nyeri menstruasi seperti kram
2. Nyeri tumpul di pinggang
3. Nyeri suprapubik
4. Rasa berat/tekanan pada panggul
5. Peningkatan jumlah cairan vagina (kental, bercampur darah atau lendir)
6. Diare
7. Kontraksi uterus yang tidak dapat dipalpasi yang lebih sering terasa setiap 10
menit selama 1 jam lebih, tidak sembuh dengan berbaring

Menurut Manuaba (2009), jika proses persalinan berkelanjutan akan terjadi


tanda klinik sebagai berikut :
1 Kontraksi berlangsung sekitar 4 kali per 20 menit atau 8 kali dalam satu jam
2 Terjadi perubahan progresif serviks seperti pembukaan lebih dari 1 cm, perlunakan
sekitar 75-80 % bahkan terjadi penipisan serviks.

E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Ultrasonografi
Pengkajian getasi (dengan berat badan janin 500 sampai 2500 gram).
2. Tes Nazin untuk menentukan KPD
3. Jumlah sel darah putih
Jika mengalami peningkatan, maka iyu menandakan adanya infeksi
amniosentesis yaitu radio lesitin terhadap sfingomielin (L/S) mendeteksi
fofatidigliserol (PG) untuk maturitas paru janin, atau infeksi amniotic
4. Pemantauan elektronik untuk memfalidasi aktifitas uterus/satatus janin.
Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman PPI
(Wiknjosastro, 2010), yaitu:
1 Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu atau antara 140 dan 259 hari,
2 Kontraksi uterus (his) teratur, yaitu kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7-8
menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit,
3 Merasakan gejala seperti rasa kaku di perut menyerupai kaku menstruasi, rasa
tekanan intrapelvik dan nyeri pada punggung bawah (low back pain),
4 Mengeluarkan lendir pervaginam, mungkin bercampur darah,
5 Pemeriksaan dalam menunjukkan bahwa serviks telah mendatar 50-80%, atau
telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm,
6 Selaput amnion seringkali telah pecah,
7 Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina isiadika.

Kriteria lain yang diusulkan oleh American Academy of Pediatrics dan The
American Collage of Obstetricians and Gynecologists (1997) untuk mendiagnosis
PPI ialah sebagai berikut:
1 Kontraksi yang terjadi dengan frekuensi empat kali dalam 20 menit atau delapan
kali dalam 60 menit plus perubahan progresif pada serviks,
2 Dilatasi serviks lebih dari 1 cm,
3 Pendataran serviks sebesar 80% atau lebih.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk mendukung ketepatan
diagnosis PPI :
1 Pemeriksaan Laboratorium: darah rutin, kimia darah, golongan ABO, faktor
rhesus, urinalisis, bakteriologi vagina, amniosentesis : surfaktan, gas dan PH
darah janin.
2 USG untuk mengetahui usia gestasi, jumlah janin, besar janin, kativitas biofisik,
cacat kongenital, letak dan maturasi plasenta, volume cairan tuba dan kelainan
uterus

F. Penatalaksanaan
Menurut Syaifuddin (2001), bahwa penanganan persalinan prematur ada 2 yaitu :
1. Penanganan Umum
1. Lakukan evaluasi cepat keadaan umum ibu.
2. Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi.
2. Penanganan Khusus
1. Penilaian Klinik
a. Kriteria persalinan premature antara lain kontraksi yang teratur
dengan jarak 7-8 menit atau kurang dan adanya pengeluaran lendir
kemerahan atau cairan pervaginan.
b. Pada periksa dalam
1. Pendataran 50 - 80% atau lebih.
2. Pembukaan 2 cm atau lebih.
c. Mengukur panjang serviks dengan vaginal proses USG:
1. Panjang serviks kurang dari 2 cm pasti akan terjadi persalinan
premature.
2. Tujuan utama adalah bagaimana mengetahui dan menghalangi
terjadinya persalinan premature.
3. Cara edukasi pasien bahkan dengan monitoring kegiatan di
rumah tampaknya tidak memberi perubahan dalam insidensi
kelahiran premature.
2. Penanganan
Perlu dilakukan penilaian tentang :
a. Umur kehamilan, karena lebih bisa dipercaya untuk penentuan
prognosis daripada berat janin.
b. Demam atau tidak.
c. Kondisi janin (jumlahnya, letak/presentasi, taksiran berat janin,
hidup/gawat janin/mati, kelainan congenital, dan sebagainya)
dengan USG.
d. Letak plasenta perlu diketahui untuk antisipasi irisan seksio
sesarea.
e. Fasilitas dan petugas yang mampu menangani calon bayi terutama
adanya seorang neonatalogis, bila dirujuk sesuai dengan prinsip
penanganannya.
f. Coba hentikan kontraksi uterus/penundaan kelahiran, atau siapkan
penanganan selanjutnya.
g. Upaya menghentikan kontraksi uterus :
1. Pemberian obat
Kemungkinan obat - obat tokolitik hanya berhasil sebentar
tapi penting untuk dipakai memberikan kortikosteroid sebagai
induksi maturitas paru bila usia gestosis kurang dari 34
minggu.
Intervensi ini bertujuan untuk menunda kelahiran sampai
bayi cukup matang. Penundaan kelahiran ini dilakukan bila :
Umur kehamilan < 35 minggu
Pembukaa.n seviks < 3 cm
Tidak ada amnionitis, preeklampsia atau perdarahan
yang aktif.
Tidak ada gawat janin.
2. Perawatan di Rumah Sakit
Ibu masuk rumah sakit (rawat inap), lakukan evaluasi
terhadap hisdan pembukaan.
Berikan kortikosteroid untuk memperbaiki kematangan
paru janin.
Berikan 2 dosis betamethason 12 mg IM selama 12
jam (berikan 4 dosis deksamethason 5 mg IM selama 6
jam).
Steroid tidak boleh diberikan bila ada infeksi yang
jelas.
Pemberian antibiotika, mungkin berhasil pada kasus
dengan resiko infeksi tinggi. Organisme yang
menyebabkan adalah golongan aerob Gram (+) dan
(-), anaerob dan lain - lain yang berasal dari :
- Biasanya flora normal dari vagina/rectum.
- Kadang eksogen akibat tindakan yang aseptic
(grup A streptokokus).
Obat tokolitik yang dianjurkan :
Berikan obat-obatan tokolitik tidak > 48 jam.
Monitor keadaan janin dan ibu (nadi, tekanan darah,
tanda distres nafas, kontraksi uterus, pengeluaran
cairan ketuban atau cairan pervaginan, djj, gula darah).
3. Persalinan Berlanjut
Bila tokolitik tidak berhasil, lakukan persalinan dengan upaya
optimal. Jangan menyetop kontraksi uterus bila :
a. Umur kehamilan lebih dari 35 minggu.
b. Serviks membuka lebih dari 3 cm.
c. Perdarahan aktif.
d. Janin mati dan adanya kelainan congenital yang kemungkinan
hidup kecil.
e. Adanya khorioamnionitis.
f. Preeklampsia.
g. Gawat janin.
Monitor kemajuan persalinan memakai partograf. Hindarkan
pemakaian vakum untuk melahirkan (sebab resiko perdarahan
intrakranial pada bayi premature cukup tinggi).
G. Komplikasi
Komplikasi partus prematur yaitu terjadinya perdarahan plasenta dengan
pembentukan prostaglandin dan mungkin induksi stress, janin mati, dan kelainan
congenital (Saifudin, 2002 : 300) sedangkan menurut Nur Cahyo (2008) komplikasi
partus prematur yaitu:
1. Sindroma gawat janin
2. Ketidakmatangan pada system saraf
3. Rentang terjadinya perdarahan otak atau serangan apneu
4. Intoleransi pemberian makanan
5. Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia retrolental)
6. Displasia bronkopulmoner
7. Penyakit jantung
8. Jaundice
9. Infeksi atau septicemia
10. Anemia
11. Hipoglikemia/ Hiperglikemia
12. Perkembangan dan partumbuhan yang terhambat
13. Keterbelakangan mental dan motorik

Menurut Nugroho (2010), komplikasi partus prematurus iminens yang terjadi


pada ibu adalah terjadinya persalinan prematur yang dapat menyebabkan infeksi
endometrium sehingga mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka
episiotomi. Sedangkan pada bayi prematur memiliki resiko infeksi neonatal lebih
tinggi seperti resiko distress pernafasan, sepsis neonatal, necrotizing enterocolitis
dan perdarahan intraventikuler.
Menurut Benson (2012), terdapat paling sedikit enam bahaya utama yang
mengancam neonatus prematur, yaitu gangguan respirasi, gagal jantung kongestif,
perdarahan intraventrikel dan kelainan neurologik, hiperilirubinemia, sepsis dan
kesulitan makan.
Sedangkan menurut Oxorn (2010), prognosis yang dapat terjadi pada
persalinan prematuritas adalah :
1 Anoksia 12 kali lebih sering terjadi pada bayi prematur
2 Gangguan respirasi
3 Rentan terhadap kompresi kepala karena lunaknya tulang tengkorak dan
immaturitas jaringan otak
4 Perdarahan intracranial 5 kali lebih sering pada bayi prematur dibanding bayi
aterm
5 Cerebral palsy
6 Terdapat insidensi kerusakan organik otak yang lebih tinggi pada bayi prematur
(meskipun banyak orangorang jenius yang dilahirkan sebelum aterm).

H. Prognosis
Pada pusat pelayanan yang maju dengan fasilitas yang optimal, bayi yang lahir
dengan berat 2000 sampai 2500 gram mempunyai harapan hidup lebih dari 97 %,
sedangkan 1500 sampai 2000 gram lebih dari 90 %, serta 1000 sampai 1500 gram
sebesar 65-80 % (Mansjoer, 2002). Prematurnya masa gestasi akan dapat
mengakibatkan ketidakmatangan pada semua sistem organ, baik itu pada sistem
pernafasan (organ paru-paru), sistem peredaran darah (jantung), sistem pencernaan
dan sistem syaraf pusat (otak). Ketidakmatangan pada sistem-sistem organ itulah
yang membuat bayi prematur cenderung mengalami kelainan dibandingkan bayi
normal.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS PARTUS PREMATURUS IMINENS

A. Pengkajian
Fokus pengkajian keperawatan yaitu :
1. Sirkulasi
Hipertensi, Edema patologis (tanda hipertensi karena kehamilan (HKK), penyakit
sebelumnya.
2. Intregitas Ego
Adanya ansietas sedang.
3. Makanan/cairan
Ketidakadekuatan atau penambahan berat badan berlebihan.
4. Nyeri/Katidaknyamanan
Kontraksi intermiten sampai regular yang jaraknya kurang dari 10 menit selama
paling sedikit 30 detik dalam 30-60 menit.
5. Keamanan
Infeksi mungkin ada (misalnya infeksi saluran kemih (ISK) dan atau infeksi
vagina)
6. Seksualitas : Tulang servikal dilatasi, Perdarahan mungkin terlihat, Membran
mungkin ruptur (KPD), Perdarahan trimester ketiga, Riwayat aborsi, persalinan
prematur, riwayat biopsi konus, Uterus mungkin distensi berlebihan, karena
hidramnion, makrosomia atau getasi multiple.
7. Pemeriksaan diagnostik
Ultrasonografi : Pengkajian getasi (dengan berat badan janin 500 sampai 2500
gram)
Tes nitrazin : menentukan KPD
Jumlah sel darah putih : Jika mengalami peningkatan, maka itu menandakan
adanya infeksi amniosentesis yaitu radio lesitin terhadap sfingomielin (L/S)
mendeteksi fofatidigliserol (PG) untuk maturitas paru janin, atau infeksi amniotik
Pemantauan elektronik : memfalidasi aktifitas uterus/status janin.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (fisik, biologis, kimia, psikologis),
kontraksi otot dan efek obat-obatan.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan hipersensitivitas otot/seluler, tirah
baring, kelemahan
3. Ansietas, ketakutan berhubungan dengan krisis situasional, ancaman yng
dirasakan atau aktual pada diri dan janin.
4. Kurang pengetahuan mengenai persalinan preterm, kebutuhan tindakan dan
prognosis berhubungan dengan kurangnya keinginan untuk mencari informasi,
tidak mengetahui sumber-sumber informasi.

C. Intervensi Keperawatan
1 Nyeri Akut
Rencana Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria
Keperawatan Intervensi
Hasil
Nyeri akut NOC : NIC :
berhubungan a. Pain a. Lakukan pengkajian nyeri
dengan agen Level, secara komprehensif
injuri (fisik, b. pain termasuk lokasi, karakteristik,
biologis, kimia, control, durasi, frekuensi, kualitas dan
psikologis), c. comfort faktor presipitasi
kontraksi otot level b. Observasi reaksi nonverbal
dan efek obat- Setelah dilakukan dari ketidaknyamanan
obatan. tinfakan keperawatan c. Bantu pasien dan keluarga
selama . Pasien tidak untuk mencari dan
mengalami nyeri, dengan menemukan dukungan
kriteria hasil: d. Kontrol lingkungan yang dapat
a. Mampu mempengaruhi nyeri seperti
mengontrol nyeri suhu ruangan, pencahayaan
(tahu penyebab nyeri, dan kebisingan
mampu e. Kurangi faktor presipitasi nyeri
menggunakan tehnik f. Kaji tipe dan sumber nyeri
nonfarmakologi untuk untuk menentukan intervensi
mengurangi nyeri, g. Ajarkan tentang teknik non
mencari bantuan) farmakologi: napas dala,
b. Melapor relaksasi, distraksi, kompres
kan bahwa nyeri hangat/ dingin
berkurang dengan h. Berikan analgetik untuk
menggunakan mengurangi nyeri: ...
manajemen nyeri i. Tingkatkan istirahat
c. Mampu j. Berikan informasi tentang
mengenali nyeri nyeri seperti penyebab nyeri,
(skala, intensitas, berapa lama nyeri akan
frekuensi dan tanda berkurang dan antisipasi
nyeri) ketidaknyamanan dari
d. Menyata prosedur
kan rasa nyaman k. Monitor vital sign sebelum dan
setelah nyeri sesudah pemberian analgesik
berkurang pertama kali
e. Tanda
vital dalam rentang
normal
f. Tidak
mengalami gangguan
tidur

2 Intoleransi aktivitas
Rencana Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria
Keperawatan Intervensi
Hasil
Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
berhubungan a. Self a. Observasi adanya pembatasan
dengan Care : ADLs klien dalam melakukan aktivitas
hipersensitivitas b. Tolera b. Kaji adanya faktor yang
otot/seluler, tirah nsi aktivitas menyebabkan kelelahan
baring, kelemahan c. Konser c. Monitor nutrisi dan sumber
vasi eneergi energi yang adekuat
Setelah dilakukan d. Monitor pasien akan adanya
tindakan keperawatan kelelahan fisik dan emosi secara
selama . Pasien berlebihan
bertoleransi terhadap e. Monitor respon kardivaskuler
aktivitas dengan terhadap aktivitas (takikardi,
Kriteria Hasil : disritmia, sesak nafas,
a. Berpar diaporesis, pucat, perubahan
tisipasi dalam hemodinamik)
aktivitas fisik tanpa f. Monitor pola tidur dan lamanya
disertai peningkatan tidur/istirahat pasien
tekanan darah, nadi g. Kolaborasikan dengan Tenaga
dan RR Rehabilitasi Medik dalam
b. Mamp merencanakan progran terapi
u melakukan yang tepat.
aktivitas sehari hari h. Bantu klien untuk
(ADLs) secara mengidentifikasi aktivitas yang
mandiri mampu dilakukan
c. Kesei i. Monitor respon fisik, emosi,
mbangan aktivitas sosial dan spiritual
dan istirahat

3 Ansietas
Rencana Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria
Keperawatan Intervensi
Hasil
Ansietas, NOC : NIC:
ketakutan a. Anxiety control Coping Enhancement
b. Fear control
berhubungan a. Jelaskan pada pasien tentang
Setelah dilakukan
dengan krisis proses penyakit
tindakan keperawatan b. Jelaskan semua tes dan
situasional,
selama......takut klien pengobatan pada pasien dan
ancaman yng
teratasi dengan kriteria keluarga
dirasakan atau
c. Sediakan reninforcement positif
hasil :
aktual pada diri
ketika pasien melakukan perilaku
a. Memiliki
dan janin.
untuk mengurangi takut
informasi untuk
d. Sediakan perawatan yang
mengurangi takut
berkesinambungan
b. Menggunakan e. Kurangi stimulasi lingkungan
tehnik relaksasi yang dapat menyebabkan
c. Mempertahanka misinterprestasi
f. Dorong mengungkapkan secara
n hubungan sosial
verbal perasaan, persepsi dan
dan fungsi peran
rasa takutnya
d. Mengontrol
g. Perkenalkan dengan orang yang
respon takut mengalami penyakit yang sama
h. Dorong klien untuk
mempraktekan tehnik relaksasi

4 Kurang pengetahuan
Rencana Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria
Keperawatan Intervensi
Hasil
Kurang NOC: NIC :
pengetahuan a. Kowlw a. Kaji tingkat pengetahuan
mengenai dge : disease pasien dan keluarga
persalinan preterm, process b. Jelaskan patofisiologi dari
kebutuhan b. Kowle penyakit dan bagaimana hal ini
tindakan dan dge : health berhubungan dengan anatomi
prognosis Behavior dan fisiologi, dengan cara yang
berhubungan Setelah dilakukan tepat.
dengan kurangnya tindakan keperawatan c. Gambarkan tanda dan gejala
keinginan untuk selama . pasien yang biasa muncul pada
mencari informasi, menunjukkan penyakit, dengan cara yang tepat
tidak mengetahui pengetahuan tentang d. Gambarkan proses penyakit,
sumber-sumber proses penyakit dengan cara yang tepat
informasi. dengan kriteria hasil: e. Identifikasi kemungkinan
a. Pasien penyebab, dengan cara yang
dan keluarga tepat
menyatakan f. Sediakan informasi pada
pemahaman pasien tentang kondisi, dengan
tentang penyakit, cara yang tepat
kondisi, prognosis g. Sediakan bagi keluarga
dan program informasi tentang kemajuan
pengobatan pasien dengan cara yang tepat
b. Pasien h. Diskusikan pilihan terapi atau
dan keluarga penanganan
mampu i. Dukung pasien untuk
melaksanakan mengeksplorasi atau
prosedur yang mendapatkan second opinion
dijelaskan secara dengan cara yang tepat atau
benar diindikasikan
c. Pasien j. Eksplorasi kemungkinan
dan keluarga sumber atau dukungan, dengan
mampu cara yang tepat
menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan
perawat/tim
kesehatan lainnya
DAFTAR PUSTAKA

Benson, Ralph C dan Pernoll, Martin L. 2012. Buku Saku Obsetri dan Ginekologi. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Cunningham, F., Gary, et al., 1995, Obstetri Williams, Ed. 18, EGC, Jakarta.
Doengoes, Marilynn E, et al., 2001, Rencana Perawatan Maternal / Bayi: Pedoman untuk
Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien, Ed. 2, EGC, Jakarta.
Hacker, Neville F, Moore, J. G., 2001, Essential Obstetri dan Ginekologi, Ed. 2, Hipokrates,
Jakarta.
Hariadi, R. 2004. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Surabaya : Himpunan Kedokteran
Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.
Manuaba, I.B.G., 2001, Kapita Selekta Pelaksanaan Rutin Obstetric Ginekologi & KB, EGC,
Jakarta.
Manuaba. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita Edisi 2. Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam, 1990, Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi, EGC, Jakarta.
NANDA. 2012-2014, Nursing Diagnosis: Definitions and Classification, Philadelphia, USA
Nugroho, Taufan. 2010. Kesehatan Wanita, Gender dan Permasalahannya. Yogyakarta:
Nuha Medika.
Oxorn Harry, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan (Human Labor
and Birth). Yogyakarta : YEM.
Prawirohardjo, Sarwono, 1984, Pengantar Ilmu dan Praktek Kebidanan Bag. I, FKUI,
Jakarta.
Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk. 2010. Asuahan Kebidanan Patologi. Jakarta : Trans Info Media
Sulaiman, Sastrawinata, 1979, Obstetri Patologi, UNPAD, Bandung.
Taber, Ben Zion, 1994, Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, Ed. 2, EGC,
Jakarta.
Varney, Helen, 2001, Buku Saku Bidan, EGC, Jakarta.
Wiknjosastro, H. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka, Sarwono
Prawirohardjo.
Wikrojosastro, Hanifa, 1999, Ilmu Kebidanan, Ed. 3, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta
Wilkinson, J.M., & Ahern N.R., 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Diagnosa NANDA
Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC. Edisi Kesembilan. Jakarta : EGC