Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Liken planus (LP) pertama kali dijelaskan oleh Erasmus Wilson pada
tahun 1869. Liken planus diklasifikasikan sebagai penyakit papuloskuamosa,
walaupun gejala yang menonjol adalah bersisik tetapi tidak sama dengan psoriasis
dan penyakit kulit lainnya yang termasuk dalam kategori ini.

Liken planus merupakan suatu kelainan yang unik, yakni suatu penyakit
inflamasi yang berefek ke kulit, membran mukosa, kuku, dan rambut. Lesi yang
tampak pada lichen planus-like atau dermatitis lichenoid tampak seperti ketombe,
beralur halus, kotoran yang kering dari tumbuh-tumbuhan simbiosis yang dikenal
sebagai liken. Walaupun morfologi ini mungkin sulit untuk dibandingkan, liken
planus merupakan suatu kesatuan yang khusus dengan bentuk papul lichenoid
yang menunjukkan warna dan morfologi yang khusus, berkembang di lokasi yang
khas, dan pola perkembangan karakteristik yang nyata.

Empat P : purple, pruritic, polygonal dan papule, adalah gejala klinis yang
dapat dicari untuk membantu menegakkan diagnosis liken planus.

Etiologi pasti dari lichen planus tidak diketahui. Namun beberapa hasil
laporan penelitian menemukan hasil dari aspek Imunologi, LP dianggap sebagai
gangguan imunologi. Sel T baik CD4+ dan CD8+ terakumulasi dalam dermis.
Sementara sel T CD8+ melewati epidermis, pada lesi LP ditemukan bahwa sel-sel
T sitotoksik CD8+ mengenali antigen (saat ini belum diketahui) berhubungan
dengan Major Histocompatibility Complex/kompleks histokompatibilitas utama
(MHC) kelas I pada keratinosit lesi. Pada aspek Genetika, terdapat kerentanan
genetik terhadap LP idiopatik.Kasus familial dilaporkan, dan kejadian familial
10,7% dikutip dalam satu seri.LP juga telah dilaporkan pada kembar monozigot.
Aspek Virus yakni sebuah meta-analisis terutama studi kasus-kontrol yang
dilakukan di beberapa negara menemukan hubungan yang signifikan secara

1
statistik antara virus hepatitis C (HCV) dan lichen planus, meskipun tidak ada
penjelasan dikenal untuk asosiasi ini. Aspek amalgam gigi, Antigen putative lain
dalam LP oral adalah merkuri dalam amalgam gigi; 87-97% pasien dengan LP
oral berhubungan dengan tambalan amalgam gigi. Dan hasil penelitian lain, LP
diinduksi oleh radioterapi. Telah dilaporkan bahwa terjadi terbatas pada bidang
radiasi. Kecemasan dan depresi dan stres juga dapat menjadi faktor risiko
berkembangnya LP.

2
BAB 2

LAPORAN KASUS

Seorang laki-laki datang ke Poli Kulit Rumah Sakit Siti Khodijah


Sepanjang pada tanggal 21 Sepetember 2015 pukul 17.00 WIB, dari anamnesis
dan pemeriksaan fisik didapatkan :

I. Identitas pasien :
Nama : Tn. M
Umur : 48 thn
Pendidian Terakhir : SLTA
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Taman RT16 RW02
Agama : Islam
Suku : Jawa
Tgl Pemeriksaan : 21 September 2015

II. Anamnesis:

Keluhan Utama : Gatal disekitar ankle kaki kiri dan menebal

Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien datang ke Poli Kulit Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang dengan
keluhan gatal pada sekitar kaki kiri. Pasien mengaku gatal-gatal sejak lama. Tetapi
memberat sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengaku awalnya timbul seperti seperti
luka lecet kecil, luka tersebut sudah sejak SD dan sekarang bertambah lebar dan
luas mersakan kulit menebal. Pasien selama ini tidak pernah periksa ke dokter
kulit, dan jarang berobat ke RS, pasien cuma berobat ke puskesmas dan diberi
obat salep kulit. Pasien mengaku sempat merasakan keluhan gatalnya berkurang,
tetapi lukanya semakin lebar serta kulit menebal. Kadang pasien menggunakan
minyak tawon atau balsam untuk mengurangi rasa gatalnya, tetapi jarang.
Keluhan ditempat lain disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu:

3
Keluhan yang sama seperti ini sebelumnya sudah dirasakan sejak masih
SD. Riwayat HT disangkal. Riwayat DM disangkal. Riwayat alergi disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga:

Tidak ada keluarga yang menderita penyakit dan keluhan yang sama.

Riwayat Penyakit Sosial :

-.

III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda vital

Tekanan darah : tidak dilakukan


Nadi : 86 kali /menit
Pernafasan : 18 kali / menit
Suhu : tidak dilakukan
BB : 55 kg

Kepala : Normocephali

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-)

Leher : Pembesaran KGB (-/-)

Paru : Bunyi nafas vesikuler, Ronchy -/-, Wheezing -/-

Jantung : Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen : Datar, supel. Hepar dan Lien tidak ada pembesaran, bising
usus (+) normal

Ekstrimitas : Akral hangat, edema (-/-)

STATUS DERMATOLOGIKUS

4
Regio : ankle sinistra
Efloresensi : Tampak plak eritematosa tebal dan meninggi batas jelas ukuran
5x10cm dan likenifikasi

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


-

V. RESUME
- Laki-laki , Tn. M, usia 48 tahun
- Gatal sejak 3 hari yll di ankle kiri
- Awalnya seperti luka lecet kecil, sekarang melebar
- Terjadi penebalan pada area luka
- Tidak ada keluhan ditempat lain
- Riwayat dahulu, luka sejak mash SD sampai sekarang
- Efloresensi : Tampak plak eritematosa tebal dan meninggi batas jelas
ukuran 5x10cm dan likenifikasi

VI. DIAGNOSIS KERJA


Liken Planus Hipertrofik

VII. DIAGNOSIS BANDING


- Neurodermatitis
VIII. PLANING DIAGNOSIS
-
IX. PLANING TERAPI
Dalam sediaan capsul dengan kandungan dexamethasone 0,5 mg dan

Pehachlor 3 mg

5
Dalam sediaaan cream dengan kandungan Inerson 7,5 mg dan Sagestam

2,5 mg

X. PROGNOSIS

Biasanya penyakit ini berlangsung 1-2 tahun sebelum akhirnya sembuh,


kecuali pada keadaan yang menyertai penyakit kronis. Durasi penyakit ditentukan
oleh luasnya area yang mengalami erupsi dan morfologi lesi. Erupsi yang terjadi
secara generalisata cenderung lebih cepat sembuh dibandingkan lesi kulit saja.

XI. MONITORING DAN EDUKASI


Monitoring keluhan yang diderita serta menjelaskan kepada pasien
tentang penyakit, gejala, dan pengobatan. Disarankan untuk tidak menggaruk pada
bagian lesi, agar tidak terjadi sekunder infeksi. Serta tidak perlu diberi minyak
tawon atau salep yang panas lainnya, agar tidak terjadi iritasi pada kulit tersebut.

Tabel Follow Up

Tanggal Subject Object Assesment Planning Tx Monitoring


21-09-2015 - Gatal sejak Ku: cukup Liken Planus Dalam capsul -Keluhan
3 hari yll di Hipertrofik dengan (gatal-gatal)
ankle kiri Efloresensi :
- Awalnya Tampak plak kandungan -Infeksi
seperti luka eritematosa dexamethasone sekunder
lecet kecil, tebal dan
0,5 mg dan
sekarang meninggi
melebar batas jelas Pehachlor 3 mg
- Terjadi ukuran
penebalan 5x10cm dan Dalam cream
pada area likenifikasi dengan
luka
kandungan
- Tidak ada
keluhan Inerson 7,5 mg
ditempat dan Sagestam
lain
- Riwayat 2,5 mg
dahulu,
luka sejak
mash SD
sampai

6
sekarang

25-09-2015 - gatal-gatal Ku: cukup Liken Planus Dalam capsul -Keluhan


sudah Hipertrofik dengan (gatal)
berkurang Efloresensi : kandungan
Tampak plak dexamethasone -Infeksi
eritematosa 0,3 mg dan sekunder
tebal dan Pehachlor 3 mg
meninggi Dalam cream
batas jelas dengan
ukuran kandungan
5x10cm dan Inerson 7,5 mg
likenifikasi dan Sagestam
2,5 mg

BAB 3

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi

Liken planus (LP) pertama kali dijelaskan oleh Erasmus Wilson


pada tahun 1869. Liken planus diklasifikasikan sebagai penyakit
papuloskuamosa ; walaupun gejala yang menonjol adalah bersisik tetapi tidak
sama dengan psoriasis dan penyakit kulit lainnya yang termasuk dalam kategori
ini.

7
Liken planus merupakan suatu kelainan yang unik, yakni suatu penyakit
inflamasi yang berefek ke kulit, membran mukosa, kuku, dan rambut. Lesi yang
tampak pada lichen planus-like atau dermatitis lichenoid tampak seperti ketombe,
beralur halus, kotoran yang kering dari tumbuh-tumbuhan simbiosis yang dikenal
sebagai liken. Walaupun morfologi ini mungkin sulit untuk dibandingkan, liken
planus merupakan suatu kesatuan yang khusus dengan bentuk papul lichenoid
yang menunjukkan warna dan morfologi yang khusus, berkembang di lokasi yang
khas, dan pola perkembangan karakteristik yang nyata.
Empat P : purple, pruritic, polygonal dan papule, adalah gejala klinis yang
dapat dicari untuk membantu menegakkan diagnosis liken planus.

3.2 Etiologi

Etiologinya tidak diketahui meskipun bukti menunjukkan bahwa lichen


planus adalah kelainan imunologik, kemungkinan suatu penyakit autoimun,
dimana limfosit T merusak lapisan sel basal dari epitel yang terkena. Subset sel T
CD4 maupun CD8 sudah dijumpai dalam popoulasi limfosit submukosa. Orang
yang gugup, emosional, trauma, malnutrisi, dan alergi merupakan predisposisi
untuk lichen planus.

3.3 Epidemiologi

Distribusi liken planus ditemukan di seluruh dunia. Prevalensi dan


insidensi pasti untuk kasus ini belum diketahui, namun diperkirakan jumlahnya
1% dari total populasi dunia. Di Amerika Serikat, kasus liken planus mencapai
0,44% dari seluruh penduduk.
Liken planus tidak memiliki predisposisi yang kuat untuk setiap jenis
kelamin. Beberapa penulis menemukan 60% kasus terjadi pada wanita, dengan
bentuk inflamasi dan deskuamasi vaginitis. Predominan terjadi pada orang
dewasa di usia 30-60 tahun, bagaimanapun sebetulnya penyakit ini dapat
menyerang segala usia.
Liken planus tidak memiliki kecenderungan untuk menjadi suatu
keganasan, namun lesi ulseratif di mulut, terutama pada pria, memiliki
kemungkinan yang lebih besar untuk berlanjut menjadi ganas. Meskipun begitu,

8
insidensi transformasi ini kecil, yakni kurang dari 2% kasus. Lesi di vulva pada
penderita wanita juga dapat berkembang menjadi karsinoma sel skuamosa.

3.4 Patofisiologi

Sistem imunitas spesifik, terutama selular, memiliki peran penting dalam


memicu terjadinya penyakit liken planus.
CD4 dan CD8 dapat ditemukan pada lesi-lesi kulit. Akumulasi sel CD8
pada kulit menentukan progresivitas penyakit yang diderita; semakin banyak CD8
yang ditemukan maka akan semakin berat penyakitnya. Sel-sel ini kemudian akan
memicu reseptor-reseptor lain di kulit dan akan berakhir pada suatu proses yang
diyakini menjadi dasar dari setiap perubahan yang terjadi pada kulit yakni
apoptosis.
Ada tiga proses yang terjadi sampai akhirnya menjadi apoptosis, yakni
pengenalan antigen, aktivasi limfosit, dan apoptosis keratinosit.
Perjalanan penyakit dimulai dari pengenalan antigen spesifik liken planus
oleh sel CD8 di tempat lesi. Antigen liken planus belum diketahui. Beberapa
pendapat menyebutkan antigen ini adalah suatu protein autoreaktif yang dapat
memicu proses autoimun tubuh, namun ada juga yang menyebutkan bahwa
antigen ini menyerupai antigen eksogen seperti virus, bakteri, dan lain-lain.
Selanjutnya, sistem imunitas innate menjadi terstimulasi, dan memacu sekresi
beberapa interleukin, interferon dan TNF.
Setelah pengenalan antigen, sel CD8 menjadi teraktivasi, dan kemudian
melepaskan sitokin dan kemokin yang menyebabkan terjadinya konsentrasi
limfosit di tempat lesi. Limfosit-limfosit ini selanjutnya akan terus berada di
tempat tersebut. Rangkaian proses ini akan berakhir dengan apoptosis keratinosit,
yang mekanisme pastinya belum diketahui. Diduga adanya gangguan pada
membrane basal kulit dapat menyebabkan apoptosis.
Liken planus dihubungkan dengan reaksi alergi atau reaksi kekebalan,
faktor resikonya termasuk radioterapi, bahan yang dicelup, dan substansi bahan
kimia (emas, antibiotik, arsenik, iodida, kloroquin, quinarine, quinide,
phenothiazine, dan diuretik).
Frekuensi terjadinya penyakit ini ditemukan meningkat pada orang-orang
yang menderita penyakit hati, contohnya hepatitis C, hepatitis autoimun. Dan
sirosis biliaris. Prevalensi terjadinya liken planus pada penderita hepatitis C di

9
daerah Eropa Selatan berkisar antara 16-29%. Selain itu, diteliti pula peranan
faktor genetik yang mengontrol ketahanan seseorang terhadap penyakit hepatitis C
dan prevalensinya terhadap genotip HCV tertentu.

3.5 Gejala Klinis

Liken planus dimulai dengan adanya makula eritema dan papul keunguan
selama beberapa minggu. Dalam waktu yang singkat, kadang-kadang berkembang
lesi yang multipel secara cepat dengan penyebaran awal hanya beberapa papul.
Tanda liken planus hanya ditemukan pada kulit dan membran mukosa. Morfologi
lesinya berupa, kecil, flat-miring, poligonal, papul yang mengkilat, dengan
frekuensi yang sering, tapi tidak selalu ada,.
Lesi liken planus biasanya didistribusikan secara simetris dan bilateral
pada ekstremitas. Liken planus predileksinya meliputi daerah fleksura pada
pergelangan tangan, lengan, dan pergelangan kaki, paha, punggung bawah, leher
dan penyebaran bertambah di membran mukosa mulut dan genitalia. Retikulum
halus berwarna putih dengan lesi berupa sisik pada permukaan kulit, sehingga
terlihat seperti garis-garis putih, dikenal sebagai Wickhams striae, tanda
patognomonik liken planus yang mungkin tidak jelas pada anak-anak.
Pada umumnya banyak variasi secara klinik penyakit liken planus yang
dikategorikan menurut: (1) bentuk lesi, (2) morfologi yang terlihat, atau (3)lokasi.
1. Bentuk Lesi
Bentuk Anuler. Bentuk lesi ini terdapat di punggung dan lebih sering
ditemukan di penis serta skrotum. Kira-kira ditemukan pada 10%
penderita liken planus. Umumnya papula membentuk gambaran
cincin. Bentuk lain dari anuler liken planus terjadi ketika lesi
membesar dengan diameter 2 sampai 3 cm dan mengalami
hiperpigmentasi.
Bentuk Linear. Papul dapat membentuk konfigurasi linear sebagai
bentuk sekunder terhadap trauma, atau pada kasus yang sangat jarang,
sebagai erupsi spontan dan terisolasi. Biasanya terjadi pada
ekstremitas.

10
a. Anuler b. Linear
Sumber : www.dermis.net
2. Morfologi Lesi
Erosi dan Ulserasi. Bentuk ini menunjukkan lesi-lesi yang erosif,
yang kemudian menjadi ulkus pada selaput lendir yang telah terkena.
Atropik. Bentuk ini jarang terdapat, tetapi pernah dilaporkan bersama
dengan bentuk folikuler, vesikulo bulosa, atau hipertrofik.
Liken Planus hipertrofik. Variasi ini biasanya terbentuk di ekstremitas,
terutama di daerah inguinal dan persendian jari, dan merupakan
bentuk yang paling terasa gatal. Lesi berwarna keunguan atau merah
kecoklatan, lebih tebal dan lebih tinggi dari sekitarnya, dan
hiperkeratosis. Saat penyembuhan biasanya meninggalkan bekas
berupa jaringan parut atau daerah hiper/hipopigmentasi.
Liken Planus Folikular (Liken planopilaris). Lesi folikuler merupakan
bagian dari liken planus tipikal, tetapi kadang-kadang menonjol dan
sulit untuk didiagnosis. Sementara mayoritas, papulnya datar, lesinya
berkelompok seperti duri dan berkembang disekitar folikel rambut
(liken plano-pilaris). Lesi folikuler terdapat di kulit kepala yang
bersisik dan terlihat seperti bekas luka pada alopesia.
Liken planus pigmentosus. Merupakan pigmen kronik yang difus atau
retikulasi hiperpigmen dengan makula yang berwarna coklat tua pada
daerah yang sering terkena paparan sinar matahari seperti wajah, leher
dan daerah lipatan lainnya.
Liken planus vesiko-bulosa. Vesikel dan bula pada penyakit ini pasti
ada, kadang-kadang menonjol secara bersamaan sehingga sulit untuk
didiagnosis. Liken planus bullosa merupakan variasi yang jarang
sehingga berkembang menjadi lesi berupa vesikel dan bula pada
penyakit liken planus.

11
Liken planus aktinik. Nama lain variasi ini adalah liken planus
subtropik, liken planus tropik, erupsi likenoid aktinik, liken planus
aktinikus, liken planus anuler atropi, dan likenoid melanodermatosis.

Gambar, kiri atas searah jarum jam:

folikularis, atropik, aktinik, vesikobulosa, hipertrofik,


pigmentosus.
Sumber : www.dermis.net

3. Lokasi lesi
Liken planus pada kulit kepala.
Secara klinik maupun histologi
liken planopilaris atau liken
planus folikuler menyerang kulit

12
kepala. Pada kulit kepala secara tipikal terlihat seperti gabungan papul
keratotik yang folikuler.
Liken planus pada kuku. Permukaan kuku yang menipis merupakan
karakteristik dari kuku yang abnormal, ridging longitudinal dan
adanya retakan/celah. Dasar kuku mengalami perubahan, akan tetapi
non spesifik seperti kuning karena adanya kerusakan pada warna

kuku, onikolisis dan hiperkeratosis subungual.


Liken planus pada telapak tangan dan tumit. Karakteristik bentuk lesi
yang terdapat pada telapak tangan dan tumit serta adanya lesi
perubahan warna di tempat lain. Bentuknya terdiri dari papul atau
nodul dan lebih aktif di bagian pinggir daripada di tengah.
Liken planus pada mukosa. Liken planus menyerang selaput di mulut,
vagina, esofagus, konjungtiva, uretra, hidung dan laring. Ciri
utamanya adalah eritem dan erosi pada lidah ; kadang-kadang ada plak
putih dengan rasa nyeri dan tidak nyaman. Deskuamasi dan erosi pada
vulva dan vagina disertai dengan rasa nyeri terbakar, dispareunia.
a. Liken planus pada kuku b. Liken planus pada mukosa vagina
Sumber : www.dermis.net

Adapun reaksi lain yang terdapat pada penyakit liken planus adalah:
Lupus Erythematosus Overlap Syndrome
Pasien dengan reaksi ini didapatkan adanya lesi atropik DLE
(Discoid Lupus Erythematosus) di kepala, leher dan badan serta memiliki
plak putih terlihat seperti renda pada mukosa oral. Likenoid atau papul
verukos dan plak dapat ditemukan pada kulit non mukosa.
Graft-versus-host disease

13
Chronic Graft Versus Host Disease (GVHD), terjadi 100 hari
setelah transplantasi sumsum tulang, dapat timbul sebagai erupsi likenoid
yang secara klinis. Karakteristik yang terlihat berupa papul dengan warna
keunguan pada ekstremitas distal. Lesi ini biasanya tidak gatal.
Keterlibatan mukosa oral dengan makula berwarna putih yang disusun
dengan pola fine lace-like; erosi dan ulserasi mungkin juga ada.
Reaksi lainnya adalah liken planus pemfigoid, likenoid keratosis
kronik (penyakit Nekam), liken planus dan transformasi maligna, keratosis
likenoid, dermatitis likenoid.

3.6 Diagnosis

Diagnosis liken planus ditegakkan berdasarkan:


Anamnesis : adanya keluhan mengenai adanya perubahan pada kulit,
seringkali berbentuk papul eritematosa, dan disertai rasa gatal.
Pemeriksaan fisik : ditemukan lesi pada tubuh pasien. Perlu
diperhatikan bentuk, morfologi, dan tempat beradanya lesi tersebut.
Pemeriksaan penunjang : dapat dilakukan pemeriksaan darah rutin dan
pemeriksaan histopatologi.

3.7 Diagnosis Banding

a. Psoriasis
b. Lupus eritematosus
c. Liken nitidus

3.8 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan liken planus dapat menjadi suatu hal yang sulit bagi
dokter dan pasien. Untuk menentukan jenis obat yang akan digunakan, perlu
dipertimbangkan beratnya penyakit yang dialami oleh pasien, juga segala
keuntungan dan efek samping yang akan muncul dengan penggunaan obat
tersebut. Berikut adalah obat-obatan yang lazim digunakan sebagai terapi liken
planus.
Steroid

14
Steroid topikal merupakan pilihan terapi lini pertama pada liken
planus mukosa. Keberagaman glukokortikoid topikal telah terlihat
efektif. Pada beberapa keadaan dimana iritasi sekunder dan inflamasi
jaringan mulut muncul dan berkorelasi dengan kolonisasi candida di
mulut, serangkaian terapi antijamur dapat diindikasikan.
Glukokortikoid sistemik memperlihatkan keefektifan dalam
pengobatan liken planus erosif oral dan vulvovaginal. Dosis sistemik
dapat digunakan secara tunggal, atau, yang tersering, digabungkan
dengan kortikosteroid topikal. Dosisnya mulai 30-80 mg/hari,
diturunkan setelah 3 sampai 6 minggu setelah menunjukkan perbaikan.
Relaps sering terjadi setelah pengurangan dosis atau penghentian obat.
Dosis yang lebih besar selalu diperlukan untuk liken planus esofageal.
Candidiasis oral merupakan komplikasi yang sering terjadi. Terapi
topikal dan sistemik bisa digunakan untuk liken planus di kulit, tetapi
penggunaannya tergantung tingkat kroniknya penyakit, gejala-
gejalanya, dan respon terhadap pengobatan. Glukokortikoid topikal
hanya digunakan pada penyakit kulit tertentu. Glukokortikoid topikal
yang poten dengan atau tanpa oklusi, adalah bermanfaat bagi liken
planus di kulit.

Triamcinolon asetonide (5-10 mg/roL) adalah efektif dalam


mengobati liken planus di mulut dan kulit.Bisa juga digunakan pada
liken planus yang terjadi di kuku dengan injeksi di lipatan proksimal
kuku setiap 4 minggu. Regresi terjadi dalam 3-4 bulan. Untuk liken
planus yang hipertrofi, konsentrasi glukokortikoid intralesi yang lebih
tinggi diperlukan (10-20 mg/ml). Observasi yng ketat diperlukan untuk
mengelak terjadinya komplikasi seperti atrofi atau hipopigmentasi
pada tempat tertentu. Jika adanya tanda-tanda komplikasi tersebut,
pengobatan haruslah diberhentikan segera.

Glukokortikoid sistemik sangat berguna dan efektif dengan


penggunaan dosis lebih dari 20 mg/hari (30-80 mg prednisone) untuk
4-6 minggu dengan dilanjutkan dosis yang dikurangi selama 4-6

15
minggu juga. Pengobatan lain termasuklah prednisone 5-10 mg/hari
selama 3-5 minggu. Gejala cenderung berkurang. Bagaimanapun,
kadar relaps selepas berhenti pemakaian obat tidak diketahui. Pada
liken planus tipe planopilaris, glukokortikoid topikal yang poten
dikombinasi dengan glukokortikoid oral, 30-40 mg/hari, selama
sekurang-kurangnya 3 bulan, berjaya mengurangi gejala. Namun, jika
berhenti dari pemakaian obat akan menyebabkan relaps. Efek jangka
panjang bisa berisiko komplikasi.

Retinoid
Asam retinoid topikal (gel tretinoin) menunjukkan keefektifan
dalam pengobatan liken planus oral. Iritasi sering membuat pendekatan
terapi pada lokasi ini menjadi kurang bermakna. Isotretinoin gel juga
efektif, terutama pada lesi oral non erosif. Perbaikan biasanya
dilaporkan setelah 2 bulan, walaupun rekurensi sering terjadi setelah
penghentian terapi. Retinoid topikal sering digunakan bersama
kortikosteroid topikal. Walaupun tidak ada bukti dalam uji klinis,
terapi ini dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi efek samping
pengobatan. Etretinate oral telah digunakan sebanyak 75mg/hari (0,6
sampai 1,0 mg/kgBB/hari) untuk liken planus erosif oral dengan
perbaikan yang signifikan pada sebagian besar pasien. Relaps sering
terjadi setelah penghentian pengobatan.

Retinoid sistemik adalah sebagai antiinflamasi dan digunakan


sebagai terapi untuk liken planus. Remisi dan perbaikan setelah
pemakaian 30mg/hari asitretin selama 8 minggu. Tretinoin digunakan
sebanyak 10-30 mg/hari untuk perbaikan dan efek samping yang
ringan. Etretinat dosis rendah sebanyak 10-20 mg/hari selama 4-6
bulan bagus untuk remisi pada liken planus di kulit, mulut. Respon
yang cepat didapatkan dengan penggunaan 75 mg/hari atretinat, tetapi
efek samping dari retinoid berkait erat dengan penggunaan dosis.

16
Siklosporin, tacrolimus, dan pimecrolimus.
Penggunaan terapi siklosporin topikal 100mg/mL, 5mL 3 kali
sehari menunjukkan hasil yang memuaskan dalam pengobatan liken
planus oral. Pencuci mulut siklosporin topikal memperlihatkan
keefektifan terhadap liken planus oral, terutama untuk bentuk erosif
yang berat, tetapi hasilnya tidak lebih baik dari glukokortikoid topikal.
Ketersediaan imunosupresan agen topikal alternatif, tacrolimus dan
pimecrolimus, berguna untuk mengganti siklosporin topikal.
Tacrolimus, golongan imunosupresan makrolide, yang menekan
aktivasi sel T pada penyakit mukosa erosif, memberikan penyembuhan
yang cepat dari nyeri dan rasa terbakar dengan efek samping minimal.
Siklosporin oral diberikan dalam rejimen dosis 3-10 mg/kgBB/hari
telah digunakan untuk penyakit ulseratif berat.

Lain-lain
Antijamur poliene, griseofulvin, telah digunakan secara empiris
untuk terapi liken planus oral dan kutaneus; bagaimanapun kurang
begitu efektif. Antijamur yang lebih baru (fluconazole, itraconazole)
mungkin berguna dalam pengobatan liken planus dengan pertumbuhan
candida yang berlebihan, terutama yang bersamaan pemberiannya
dengan glukokortikod topikal. Pada sebuah studi, hydroxychloroquine
200-400mg/hari selama minimal 6 minggu menghasilkan
penyembuhah sempurna liken planus oral. Perlu kehati-hatian dalam
penggunaan hydroxychloroquine karena antimalaria mungkin
merupakan penginduksi liken planus.

Extracorporeal Photochemotherapy (ECP)


ECP yang dilakukan 2 kali seminggu selama 3 minggu lalu
diturunkan memberikan hasil terapi yang baik. Pada sebuah studi,
sebanyak 7 pasien yang diujicobakan memperlihatkan remisi yang
sempurna. Azathioprine, cyclophosphamide, dan mycophenolate
mofetil telah memperlihatkan keuntungan dalam pengobatan liken
planus, tetapi uji klinis secara acak menunjukkan hasil yang kurang

17
baik. Penggunaan dikombinasi dengan glukokortikoid oral untuk
mempercepat respon.

3.9 Edukasi

Penjelasan kepada pasien bahwa penyembuhan untuk penyakit Liken


Planus ini cukup lama dan membutuhkan kesabaran.
Dalam penanganan kasus Liken planus, sebaiknya para dokter sudah
waspada sejak awal terhadap manifestasi klinis yang muncul pertama kali,
untuk memberikan prognosis yang baik

3.10 Prognosis

Biasanya penyakit ini berlangsung 1-2 tahun sebelum akhirnya sembuh,


kecuali pada keadaan yang menyertai penyakit kronis. Durasi penyakit ditentukan
oleh luasnya area yang mengalami erupsi dan morfologi lesi. Erupsi yang terjadi
secara generalisata cenderung lebih cepat sembuh dibandingkan lesi kulit saja.
Kekambuhan penyakit berkisar antara 15-20% dan cenderung terjadi di
tempat yang sama dengan tempat awal terjadi penyakit.

18
BAB 4

PEMBAHASAN

Pasien datang ke Poli Kulit Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang dengan
keluhan gatal pada sekitar kaki kiri. Pasien mengaku gatal-gatal sejak lama. Tetapi
memberat sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengaku awalnya timbul seperti seperti
luka lecet kecil, luka tersebut sudah sejak SD dan sekarang bertambah lebar dan
luas mersakan kulit menebal. Pasien selama ini tidak pernah periksa ke dokter
kulit, dan jarang berobat ke RS, pasien cuma berobat ke puskesmas dan diberi
obat salep kulit. Pasien mengaku sempat merasakan keluhan gatalnya berkurang,
tetapi lukanya semakin lebar serta kulit menebal. Kadang pasien menggunakan
minyak tawon atau balsam untuk mengurangi rasa gatalnya, tetapi jarang.
Keluhan ditempat lain disangkal. Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik
pasien dapat didiagnosis lichen planus hipertrofik .

Hal ini sesuai dengan teori bahwa liken planus hipertrofik ini biasanya
terbentuk di ekstremitas, terutama di daerah inguinal dan persendian jari, dan
merupakan bentuk yang paling terasa gatal. Lesi berwarna keunguan atau merah
kecoklatan, lebih tebal dan lebih tinggi dari sekitarnya, dan hiperkeratosis. Saat
penyembuhan biasanya meninggalkan bekas berupa jaringan parut atau daerah
hiper/hipopigmentasi.

19
Pengobatan simtomatik biasanya cukup, dan sebagian besar terdiri dari
penggunaan krim steroid topikal dan salep fluorinated (yang mengandung
fluorin). Obat ini direkomendasikan untuk area yang relatif kecil, tetapi dalam
bentuk encer (misalnya 1: 4 dalam parafin lunak putih) mencakup area yang jauh
lebih besar. Antihistamin oral seperti prometazin hidroklorida, alimemazine
tartrat, klorfenamin maleat atau hydroxyzine hidroklorida dapat membantu untuk
pruritus. Lesi-lesi hipertropi dapat diobati dengan dressing oklusif tar atau
flurandrenolone tape. Kortikosteroid sistemik, diberikan prednisolon untuk 30-80
mg setiap hari selama sekitar 6 minggu dan setelah itu tapering off.

DAFTAR PUSTAKA

Berman K. Lichen Planus. [cited 2014 Jan 26]. Atlanta;U.S. National Library of

Medicine NIH (National Institutes of Health);2008. Available from :

http://www.nlm.nih.gov
BS Sahni. Lichen Planus [Serial on the internet]. Homoeopathy Clinic [Cited

2011-01-15]. Available from :


Chuang T. Lichen Planus. 2013. [cited 2014 Jan 26]. Available from :

http://www.emedicine.medscape.com
Cleach L L, Chosidow O. Lichen Planus. [cited 2014 Jan 24]. N Engl J Med 2012;

366:723-732. Available from :http://www.nejm.org


Cole G W. Lichen Planus. 2013. [cited 2014 Jan 26]. Available from:

http://www.medicinenet.com
Daoud M S, Pittelkow M R. Lichen Planus, in : Freedberg I.M, Eisen A.Z, Wolff

K, Austen K.F, Goldsmith L.A, Katz S.I, Fitzpatrick T.B, eds.

Dermatology in General Medicine Eighth Edition, Part 1 A; Vol. 1. P.

296-312.
Djuanda A. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI;2009.
Higgins E, Vivier A d. Lichen Planus. Skin Disease in Childhood and

Adolescence. Blackwell Science;1996. P.65-66.

20
http://www.homoeopathyclinic.com/articles/diseases/skin/Lichen_Planus.p

df
Katta R. Lichen Planus. [cited 2014 Jan 24]. Am Fam Physician. 2000 Jun

1;61(11):3319-3324. Available from :http://www.aafp.org


Serro V.V, Organ V , Pereira L, Vale E , Correia S. Annular lichen planus in

association with Crohn disease. Dermatology Online Journal Volume 14

Number 9 [Serial On the Internet]. Lisbon;2008; September [Cited 2011-

01-15]
Solomon L M, Ehrlich D, Zubkov B. Lichen Planus and Lichen Nitidus, in : John

Harper, Arnold Oranje ,Neil Prose, editors. Textbook of Pediatric

Dermatology Volume I, Second Edition. Oxford ; Blackwell Publishing;

2006. P. 801-10.

21