Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Istirahat dan Tidur
Kata istirahat mempunyai arti yang sangat luas meliputi bersantai
menyegarkan diri, dalam menganggur setelah melakukan aktivitas, serta
melepaskan diri dari apa pun yang membosankan, menyulitkan, atau
menjengkelkan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa istirahat merupakan
keadaan yang tenang, rileks, tanpa tekanan emosional dan beban dari kecemasan
(ansietas).
Makna istirahat dan kebutuhan tidur bervariasi pada setiap individu.
Istirahat bermakna ketenangan, relaksasi tanpa stres emosional, dan bebas dari
ansietas. Oleh karena itu, istirahat tidak selalu bermakna tidak beraktivitas; pada
kenyataannya, beberapa orang menemukan ketenangan dari beberapa aktivitas
tertentu seperti berjalan di udara segar. Saat istirahat diprogramkan untuk seorang
klien, perawat dan klien harus sama-sama mengetahui apakah klien tidak boleh
beraktivitas dan apakah inaktivitas tersebut melibatkan seluruh tubuh atau bagian
tubuh (misal: sebuah lengan).
Seseorang dapat benar-benar istirahat bila:
1. Merasa segala sesuatu dapat diatasi dan di bawah kontrolnya.
2. Merasa diterima eksistensinya baik di tempat tinggal, kantor, atau di mana
pun. Juga termasuk ide-idenya diterima oleh orang lain.
3. Mengetahui apa yang terjadi.
4. Bebas dari gangguan dan ketidaknyamanan.
5. Memiliki kepuasan terhadap aktivitas yang dilakukannya.
6. Mengetahui adanya bantuan sewaktu-waktu bila memerlukannya.
Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar di mana persepsi dan reaksi
individu terhadap lingkungan menurun atau hilang, dan dapat dibangunkan
kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup. Tujuan seseorang tidur tidak
jelas diketahui, namun diyakini tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan
mental emosional, fisiologis, dan kesehatan.
Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia; tidur merupakan sebuah proses
biologis yang umum pada semua orang. Ditinjau dari sejarahnya, tidur dianggap
sebagai keadaan tidak sadar. Tidur dicirikan dengan aktivitas fisik minimal,
tingkat kesadaran bervariasi, perubahan pada proses fisiologis tubuh, dan
penurunan respons terhadap stimulus eksternal. Beberapa stimulus lingkungan,
seperti sebuah alarm detektor asap, biasanya akan membangunkan orang yang
sedang tidur, sementara suara bising lain tidak akan membangunkannya.
Tampaknya bahwa individu berespons terhadap stimulus bermakna saat tidur dan
mengabaikan stimulus yang tidak bermakna secara selektif.
Seseorangan dapat dikategorikan sedang tidur apabila terdapat tanda-tanda
sebagai berikut:
1. Aktivitas fisik minimal.
2. Tingkat kesadaran yang bervariasi.
3. Terjadi perubahan-perubaahan proses fisiologis tubuh, dan
4. Penurunan respons terhadap rangsanan dari luar.
Selama tidur, dalam tubuh seseorang terjadi perubahan proses fisiologis.
Perubahan tersebut, antara lain:
1. Penurunan tekanan darah, denyut nadi.
2. Dilatasi pembulih darah perifer.
3. Kadang-kadang terjadi peningkatan aktivitas traktur gastrointestinal.
4. Relaksasi otot-otot rangka.
5. Basal metabolisme rate (BMR) menurun 10-30%.
Pada waktu tidur terjadi perubahan tingkat kesadaran yang berfluktuasi.
Tingkat kesadaran pada organ-organ pengindraan berbeda-beda. Organ
pengindraan yang mengalami penurunan kesadaran yang paling dalam selama
tidur adalah indra penciuman. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya kasus
kebakaran yang terjadi pada malam hari tanpa disadari oleh penghuninya yang
sedang tidur. Organ pengindraan yang mengalami penurunan tingkat kesadaran
yang paling kecil adalah indra pendengaran dan rasa sakit. Ini menjelaskan
mengapa orang-orang yang sakit dan berada dalam lingkungan yang bising acap
kali tidak dapat tidur.
Tidur tidak dapat diartikan sebagai manifestasi deaktifasi sistem saraf
pusat. Sebab pada orang yang tidur, sistem saraf pusatnya tetap aktif dalam
sinkronisasi terhadap neuron-neuron substansia retikularis dari batang otak. Ini

3
dapat diketahui melalui pemeriksaan electroenchepalogram (EEG). Alat tersebut
dapat memperlihatkan fluktuasi energi (gelombang otak) pada kertas grafik.
Fisiologi Tidur: Siklus alami tidur diperkirakan dikendalikan oleh pusat yang
terletak di bagian bawah otak. Pusat ini secara aktif menghambat keadaan terjaga,
sehhingga menyebabkan tidur.
2.2 Fungsi Tidur
Tidur memberi pengaruh fisiologis pada sistem saraf dan struktur tubuh lain.
Tidur memulihkan tingkat aktivitas normal dan keseimbangan normal di
antara bagian sistem saraf.
Tidur juga penting untuk sintesis protein, yang memungkinkan terjadinya
proses perbaikan.
Peran tidur dalam kesejahteraan psikologis paling terlihat dengan
memburuknya fungsi mental akibat tidak tidur. Individu dengan jumlah tidur yang
tidak cukup cenderung menjadi mudah marah secara emosional, memiliki
konsentrasi yang buruk, dan mengalami kesulitan dalam membuat keputusan.
2.3 Pengaturan Tidur
Tidur melibatkan suatu urutan keadaan fisiologis yang dipertahankan oleh
integrasi tinggi aktivitas sistem saraf pusat yang berhubungan dengan perubahan
dalam sistem saraf peripheral, endokrin, kardiovaskular pernapasan dan
musukular. Tiap rangkaian diidentifikasi dengan respon fisik tertentu dan pola
aktivitas otak. Peralatan seperti elektroensefalogram (EEG), yang mengukur
aktivitas listrik dalam korteks serebral, elektromiogram (EMG) yang mengukur
tonus otot dan elektrookulogram (EOG) yang mengukur gerakan mata,
memberikan informasi struktur aspek fisiologis tidur.
Control dan pengaturan tidur tergantung pada hubungan antara dua
mekanisme serebral yang mengaktivasi secara intermiten dan menekan pusat otak
tertinggi untuk mengkontrol tidur dan terjaga. Sebuah mekanisme menyebabkan
terjaga dan yang lain menyebabkan tertidur.
Sistem aktivasi retikular (SAR) berlokasi pada batang otak teratas. SAR
dipercayai terdiri dari sel khusus yang mempertahankan kewaspadaan dan terjaga.
SAR menerima stimulus sensori visual, auditori, nyeri, dan taktil. Aktivitas

4
korteks serebral (mis. proses emosi atau pikiran) juga menstimulasi SAR. Saat
terbangun merupakan hasil neuron dalam SAR yang mengeluarkan katekolamin
seperti norepinefrin (Sleep Research Society, 1993).
Tidur dapat dihasilkan dari pengeluaran serotonin dari sel tertentu dalam
sistem tidur raphe pada pons dan otak depan bagian tengah. Daerah otak juga
disebut daerah sinkronisasi bulbar (bulbar synchroningzing region, BSR). Apakah
seseorang tetap terjaga atau tertidur tergantung pada keseimbangan impuls yang
diterima dari pusat yang lebih tinggi (mis. pikiran), reseptor sensori perifer (mis.
stimulus bunyi atau cahaya) dan sistem limbic (emosi)
Ketika orang mencoba tertidur, mereka akan menutup mata dan berada dalam
posisi relaks. Stimulus ke SAR menurun. Jika ruangan tetap dan aktivasi SAR
selanjutan menururn. Pada beberapa bagian, BSR mengambil alih, yang
menyebabkan tidur.
2.4 Jenis-Jenis Tidur
Pada hakekatnya tidur dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu
tidur dengan gerakan bola mata cepat (Rapid Eye Movement REM), dan tidur
dengan gerakan bola mata lambat (Non-Rapid Eye Movement NREM).
2.4.1 Tidur REM
Tidur REM merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial. Hal
tersebut berarti tidur REM ini sifatnya nyenyak sekali, namun fisiknya yaitu
gerakan kedua bola matanya bersifat sangat aktif. Tidur REM ditandai dengan
mimpi, otot-otot kendor, tekanan darah bertambah, gerakan mata cepat (mata
cenderung bergerak bolak-balik), sekresi lambung meningkat, ereksi penis pada
laki-laki, gerakan otot tidak teratur, kecepatan jantung, dan pernafasan tidak
teratur sering lebih cepat, serta suhu dan metabolisme meningkat.

Apabila seseorang mengalami kehilangan tidur REM, maka akan


menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
1. Cenderung hiperaktif
2. Kurang dapat mengendalikan diri dan emosi (emosinya labil)

5
3. Nafsu makan bertambah
4. Bingung dan curiga.
2.4.2 Tidur NREM
Tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam. Pada tidur NREM
gelombang otak lebih lambat dibandingkan pada orang yang sadar atau tidak tidur.
Tanda-tanda tidur NREM antara lain: mimpi berkurang, keadaan istirahat, tekanan
darah turun, kecepatan pernafasan turun, metabolisme turun, dan gerakan bola
mata lambat.
2.5 Siklus Tidur
Secara normal, pada orang dewasa, pola tidur rutin dimulai dengan period
sebelum tidur, selama seorang terjaga hanya pada rasa kantuk yang bertahap
berkembang secara teratur. Periode ini secara normal berakhir 10 hingga 30 menit,
tetapi untuk seseorang yang memiliki kesulitan untuk tertidur, akan berlangsung
satu jam atau lebih.
Normalnya seseorang tertidur, biasanya melewati 4 sampai 6 siklus tidur
penuh, tiap siklus terdiri 4 tahap dari tidur NREM dan 1 periode dari tidur REM.
Pola siklus biasanya berkembang dari tahap 1 menuju ke tahap 4 NREM, diikuti
kebalikan tahap 4 ke-3, lalu ke-2, diakhri dengan periode dari tidur REM.
Seseorang biasanya mencapai tidur REM sekitar 90 menit ke siklus tidur.

Kantuk pra tidur

6
NREM tahap 1 NREM tahap 2 NREM tahap 3 NREM 4

Tidur REM

NREM tahap 2 NREM tahap 3

(Skema siklus tidur)

Dengan tiap-tiap siklus yang berhasil, tahap 3 dan 4 memendek, dan


memperpanjang periode REM. Tidur REM dapat berakhir sampai 60 menit
selama akhir siklus tidur. Tidak semua orang mengalami kemajuan yang konsisten
menuju ke tahap tidur yang biasa. Sebagai contoh, orang yang tidur dapat
berfluktuasi untuk interal pendek antara NREM tingkat 2, 3, dan 4 sebelum masuk
tahap REM. Jumlah waktu yang digunakan tiap tahap bervariasi. Perubahan tahap
ke tahap cenderung menemani pergerakan tubuh dan perpindahan untuk tidur
yang dangkal cenderung terjadi tiba-tiba, dengan perpindahan untuk tidur
nyenyak cenderung bertahap (Closs, 1988). Jumlah siklus tidur tergantung pada
jumlah total waktu yang klien gunakan untuk tidur.
KONDISI UNTUK ISTIRAHAT YANG CUKUP
KENYAMANAN FISIK
1. Eliminasi sumber-sumber yang mengiritasi fisik
2. Kotrol sumber nyeri
3. Control suhu ruangan
4. Pertahankan kesejajaran anatomis yang tepat atau posisi yang sesuai
5. Pindahkan distraksi lingkungan
6. Sediakan ventilasi yang cukup
BEBAS DARI KECEMASAN
1. Buat keputusan sendiri
2. Berpartisipasi di dalam pelayanan kesehatan pribadi

7
3. Mempunyai pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami masalah dan implikasi
kesehatan
4. Praktikkan aktivitas yang mengistirahatkan secara teratur
5. Mengetahui bahwa lingkungan aman
TIDUR YANG CUKUP
1. Memperoleh jumlah jam tidur yang dibutuhkan untuk merasa segar kembali
2. Ikut kebiasaan hygiene yang baik sebelum tidur

2.6 Tahap-Tahap Tidur


TAHAPAN SIKLUS TIDUR
TAHAP 1: NREM
1. Tahap meliputi tingkat paling dangkal dari tidur
2. Tahap berakhir beberapa menit
3. Pengurangan aktivitas fisiologis dimulai dengan penurunan secara bertahap tanda-tanda
vital dan metabolisme
4. Seseorang dengan mudah terbangun oleh stimulus sensori seperti suara
5. Ketika terbangun, seseorang merasa seperti telah melamun
TAHAP 2: NREM
1. Tahap 2 merupakan periode tidur bersuara
2. Kemajuan relaksasi
3. Untuk terbangun masih relatif mudah
4. Tahap berakhir 10 hingga 20 menit
5. Kelanjutan fungsi tubuh menjadi lamban
TAHAP 3: NREM
1. Tahap 3 meliputi tahap awal dari tidur yang dalam
2. Orang yang tidur sulit dibangunkan dan jarang bergerak
3. Otot-otot dalam keadaan santai penuh
4. Tanda-tanda vital menurun tetapi tetap teratur
5. Tahap berakhir 15 hingga 30 menit
TAHAP 4: NREM
1. Tahap 4 merupakan tahap tidur terdalam
2. Sangat sulit untuk membangunkan orang yang tidur

8
3. Jika terjadi kurang tidur, maka orang yang tidur akan menghabiskan porsi malam yang
seimbang pada tahap ini
4. Tanda-tanda vital menurun secara bermakna dibanding selama jam terjaga
5. Tahap berakhir kurang lebih 15 hingga 30 menit
6. Tidur sambil berjalan dan enuresis dapat terjadi
TIDUR REM
1. Mimpi yang penuh warna dan tambah hidup dapat terjadi pada REM. Mimpi yang kurang
hidup dapat terjadi pada tahap yang lain
2. Tahap ini biasanya dimulai sekitar 90 menit setelah mulai tidur
3. Hal ini dicirikan dengan respons otonom dari pergerakan mata yang cepat, fluktuasi
jantung dan kecepatan respirasi dan peningkatan atau fluktuasi tekanan darah
4. Terjadi tonus otot skelet penurunan
5. Peningkatan sekresi lambung
6. Sangat sulit sekali membangunkan orang yang tidur
7. Durasi dari tidur REM meningkat pada tiap siklus dan rata-rata 20 menit

Perbandingan pola tidur normal pada orang dewasa muda dan dewasa
lanjut. Orang dewasa muda memiliki waktu terjaga yang lebih sedikit dan
bergerak secara progresif selama tahap-tahap tidur. Lansia lebih sering terjaga dan
lebih banyak waktu yang terpakai dalam tahap tidur ringan.
2.7 Kebutuhan Tidur
Kebutuhan tidur pada manusia bergantung pada tingkat perkembangan. Tabel
berikut ini merangkum kebutuhan tidur manusia berdasarkan usia.
Umur Tingkat perkembangan Jumlah kebutuhan tidur
0-1 bulan Bayi baru lahir 14-18 jam/hari
1-18 bulan Masa bayi 12-14 jam/hari
18 bulan-3 tahun Masa anak 11-12 jam/hari
3-6 tahun Masa prasekolah 11 jam/hari
6-12 tahun Masa sekolah 10 jam/hari
12-18 tahun Masa remaja 8,5 jam/hari
18-40 tahun Masa dewasa 7-8 jam/hari
40-60 tahun Masa muda paruh baya 7 jam/hari
60 tahun keatas Masa dewasa tua 6 jam/hari

9
2.8 Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pemenuhan Kebutuhan Istirahat Tidur
Kualitas maupun kuantitas tidur dipengharuhi oleh sejumlah faktor. Kualitas tidur
merujuk pada kemampuan individu untuk tetap tertidur dan mendapatkan
sejumlah tidur REM dan NREM yang pas. Kuantitas tidur adalah total waktu tidur
individu.
1. Sakit
Sakit yang menyebabkan nyeri atau gangguan fisik dapat menyebabkan
masalah tidur. Orang yang sakit memerlukan tidur yang lebih banyak
dibandingkan keadaan normal dan irama tidur dan bangun yang normal seringkali
terganggu. Orang yang kurang mendapat waktu tidur REM pada akhirnya
menghabiskan lebih banyak waktu tidur dibandingkan orang normal pada tahap
tidur ini.
Kondisi pernapasan dapat menganggu tidur individu. Napas pendek sering
kali membuat sulit tidur dan orang yang mengalami sumbatan hidung atau
drainasesinus dapat mengalami masalah pernapasan dan kemudian dapat
membuatnya sulit tidur.
Orang yang menderita tukak lambung atau duodenum akan mengalami gangguan
tidur karena rasa nyeri, seringkali akibat dari peningkatan sekresi lambung yang
terjadi selama tidur REM.
Gangguan endokrin tertentu juga dapat memengaruhi tidur. Hipertiroidisme
memperpanjang waktu pratidur, membuat seorang klien sulit tertidur. Sebaliknya
hipotiroidisme menurunkan tidur tahap IV. Wanita yang memiliki kadar estrogen
rendah seringkali melaporkan rasa letih yang berlebihan. Selain itu, mereka dapat
mengalami gangguan tidur, sebagian ketidaknyamanan akibat rasa panas atau
keringat malam yang dapat terjadi akibat penurunan kadar estrogen.
Peningkatan suhu tubuh dapat menyebabkan pengurangan tahap III dan IV
tidur REM. Kebutuhan untuk berkemih di malam hari juga mengganggu tidur dan
orang yang terbangun di malam hari untuk berkemih kadang kala mengalami
kesulitan untuk dapat kembali tidur.
2. Lingkungan

10
Lingkungan dapat mempercepat atau memperlambat tidur. Setiap perubahan
misalnya, suara bising dilingkungan dapat menghambat tidur. Ketiadaan stimulus
yang biasa atau keberadaan stimulus yang tidak biasa dapat mencegah orang
untuk tidur. Tidur tahap I adalah tidur yang paling ringan dan tidur tahap III dan
IV adalah tidur yang paling dalam; hasilnya, suara yang lebih keras dibutuhkan
untuk membangunkan orang yang berada dalam tidur tahap III dan IV. Namun,
jika waktunya telah berlebihan, seseorang dapat menjadi terbiasa terhadap suara
bising sehingga tingkat suara tidak lagi berpengaruh.
Ketidaknyamanan akibat suhu lingkungan dan kurang ventilasi dapat
memengaruhi tidur. Kadar cahaya dapat menjadi faktor lain yang berpengaruh.
Seseorang yang terbiasa tidur dalam gelap mungkin sulit tidur pada keadaan
terang.
3. Letih
Diperkirakan bahwa orang yang letih sedang biasanya mengalami tidur
yang tenang. Letih juga memengaruhi pola tidur seseorang. Semakin letih
seseorang, semakin pendek periode tidur REM (paradoksikal) pertama. Saat
seseorang beristirahat, periode REM menjadi lebih panjang.
4. Gaya Hidup
Seseorang yang jam kerjanya bergeser dan sering kali berganti jam kerja
harus mengatur aktivitas untuk siap tertidur disaat yang tepat. Olah raga sedang
biasanya kondusif untuk tidur. Kemampuan seseorang untuk untuk relaks sebelum
istirahat adalah faktor terpenting yang memengaruhi kemampuan untuk tertidur.
5. Stress Emosional
Ansietas dan depresi sering kali mengganggu tidur. Seseorang yang
pikirannya dipenuhi dengan masalah pribadi mungkin tidak mampu relaks dengan
cukup untuk dapat tidur. Ansietas meningkat kadar norepinefrin dalam darah
melalui stimulasi sistem saraf simpatis. Perubahan kimia ini menyebabkan
kurangnya waktu tidur tahap IV NREM dan tidur REM serta lebih banyak
perubahan dalam tahap tidur lain dan lebih sering terbangun.
6. Stimulan dan Alkohol

11
Minuman yang mengandung kafein bekerja sebagai stimulant sistem saraf
pusat, sehingga memengaruhi tidur . Orang yang minum alcohol dalam jumlah
yang berlebihan mengganggu tidur REM, walaupun dapat mempercepat awitan
tidur. Sementara menggangti kehilangan waktu tidur REM setelah beberapa efek
yang disebabkan oleh alcohol mungkin tidak mampu tidur dengan baik dan
akibatnya menjadi mudah marah.
7. Diet
Penurunan berat badan telah dihubungkan dengan pengurangan waktu tidur
total serta tidur yang terputus dan bangun tidur lebih awal. Di sisi lain,
pertambahan berat badan tampak berhubungan dengan peningkatan total waktu
tidur, berkurangnya tidur yang terputus, dan bangun tidur lebih lambat. L-triptofan
dalam makanan, misalnya, dalam keju dan susu dapat menginduksi tidur, sebuah
bukti yang mungkin dapat menjelaskan mengapa susu hangat membatu seseorang
untuk tidur.
8. Merokok
Nikotin memiliki efek stimulant pada tubuh, dan perokok sering kali lebih
sulit tertidur dibandingkan orang normal. Perokok biasanya mudah terbangun dan
seringkali menggambarkan diri mereka sebagai orang yang tidur diwaktu fajar.
Dengan tidak merokok setelah makan malam, seseorang biasnaya dapat tidur
dengan lebih baik. Terlebih lagi, banyak orang yang dahulunya perokok
melaporkan bahwa pola tidur mereka membaik setelah mereka berhenti merokok.
9. Motivasi
Keinginan untuk tetap terjaga sering kali dapat mengatasi rasa letih
seseorang. Misalnya, seorang yang sudah lelah mungkin dapat tetap terjaga saat
menghadiri konser yang menarik. Sebaliknya, ketika seseorang mengalami rasa
bosan dan tidak termotivasi untuk tetap terjaga, tidur seringkali terjadi dnegan
cepat.
10. Obat-obatan
Beberapa obat memengaruhi kualitas tidur. Hipnotik dapat memengaruhi
tahap III dan IV tidur NREM dan menekan tidur REM. Penyekat-beta diketahui
menyebabkan insomnia dan mimpi buruk. Narkotik, seperti meperidin

12
hidroklorida (Demerol) dan morfin, diketahui menekan tidur REM dan
menyebabkan sering terbangun dan rasa ngantuk. Obat penenang memengaruhi
tidur REM. Amfetamin dan antidepresan menurunkan tidur REM secara tidak
normal. Seorang klien yang putus obat dari setiap obat-obatan ini mendapatkan
lebih banyak tidur REM dibandingkan biasanya dan akibatnya dapat mengalami
mimpi buruk yang mengganggu.
2.9 Masalah Yang Seringkali Ditemukan dengan Pemenuhan Kebutuhan
Istirahat-Tidur
Gangguan tidur adalah kondisi yang jika tidak di obati, secara umum akan
menyebabkan gangguan tidur malam yang mengakibatkan munculnya salah satu
dari ketiga maslah berikut: insomnia, adalah gerakan atau sensasi abnormal dikala
tidur atau ketika terjaga ditengah malam, atau rasa mengantuk yang berlebihan
disiang hari (Naylor dan Aldrich, 1994). Banyak orang dewasa di Amerika Serikat
memiliki hutang tidur yang signifikan karena ketidak adekuatan dalam hal
kuantitas maupun kualitas tidur malamnya dan mengalami hipersomnolen di siang
hari selam melaksanakan aktivitas sehari-hari (National Commission on Sleep
Disorders Research, 1993).
Gangguan tidur telah diklasifikasikan menjadi empat kategori utama
(Thhorpy, 1994). Disomnia adalah gangguan primer yang berasal dari sistem
tubuh yang berbeda dan dibagi lagi menjadi tiga kelompok besar. Gangguan tidur
intrinsic meliputi gangguan untuk memulai dan mempertahankan tidur, yaitu
berbagai bentuk insomnia dan gangguan rasa kantuk yang berlebihan seperti
narkolepsi dan apnea tidur obstruktif. Gangguan tidur ekstrinsik terjadi akibat
beberapa factor eksternal, yang jika dihilangkan menyebabkan hilangnya
gangguan tidur. Gangguan irama sirkadian sewaktu tidur terjadi karena
ketidaksejajaran antara waktu tidur dan apa yang diinginkan oleh individu atau
norma sosial. Parasomnia adalah perilaku tidak diinginkan yang erjadi pada saat
tidur, gangguan terjaga, terjaga sebagian, atau selama transisi dalam siklus tidur
atau dari tidur ke terbangun. Banyak gangguan tidur medis dan psikiatrik yang
berhubungan dengan gangguan tidur dan bangun. Gangguan tidur tersebut dibagi
menjadi gangguan tidur yang berhubungan dengan psikiatrik, neurologik, atau

13
gangguan medis lainnya. Gangguan tidur yang masih bersifat usulan adalah
gangguan baru yang adekuat mengenai keberadaan gangguan tersebut.
Riwayat kesehatan, social, keluarga, dan tidur yang lengkap dan cermat
harus diperoleh untuk mendapatkan informasi rinci tentang keluhan (Naylor dan
Aldirch, 1994). Kajian laboratorium tentang tidur sering kali digunakan untuk
mendiagnosa gangguan tidur, termasuk menggunakan polisomnogram (PSG)
dimalam hari dan Multiple Sleep Latency Test(MSLT) (Carskadon, 1994). PSG
melibatkan penggunaan EEG, EMG, dan EOG untuk memantau tahapan tidur dan
bangun selama tidur malam. MSLT memberi informasi objektif tentang tidur dan
aspek-aspek terpilih dari struktur tidur dengan mengukur seberapa cepat individu
tertidur selama empat kesempatan tidur siang sepanjang hari. Episode REM
awitan tidur juga dicatat karena abnormalitas ini berhubungan dengan beberapa
gangguan tidur.
1. Insomnia
Insomnia adala gejala yang dialami oleh klien yang mengalami kesulitan
kronis untuk tidur, sering terbangun dari tidur, dan atau tidur singkat atau tidur
nonrestoratif (Zorick, 1994). Penderita insomnia mengeluhkan rasa kantuk yang
berlebihan disiang hari dan kuantitas dan kualitas tidurnya tidak cukup. Namun,
seringkali klien tidur lebih banyak yang disadarinya. Insomnia dapat menandakan
adanya gangguan fisik atau psikologis.
Seseorang dapat mengalami insomnia transien akibat stress situasional seperti
masalah keluarga, kerja atau sekolah, jet lag, penyakit, atau kehilangan orang
yang dicintai. Insomnia dapat terjadi berulang tetapi diantara episode tersebut
klien dapat tidur dengan baik. Namun, kasus insomnia temporer akibat situasi
stres dapat menyebabkan kesulitan kronik untuk mendapatkan tidur yang cukup,
mungkin disebabkan oleh kekhawatiran dan kecemasan yang terjadi untuk
mendapatkan tidur yang adekuat tersebut.
Insomnia sering berkaitan dengan kebiasaan tidur yang buruk. Apabila
kondisi berlanjut,ketakutan tidak dapat tidur dapat cukup menyebabkan
keterjagaan. Disiang hari, seseorang dengan insomnia kronik dapat merasa
mengantuk, letih depresi dan cemas, karena terdapat banyak penyebab insomnia,

14
penatalaksanaannya melibatkan beberapa pendekatan (walsh, Hartman dan
kowall,1994). Sangat penting untuk menangani dengan tepat masalah-masalah
emosional atau medis yang mungkin menyebabkan maslah tidur ini. Terapi dapat
juga bersifat simptomatik, termasuk memeperbaiki tindakan higine tidur, umpan
balik biologis, teknik kognitif dan teknik relaksasi. Apabila insomnia merupakan
akibat sekunder dari perilaku sehat yang tidak tepat maka terapi diarahkan pada
perubahan perilaku tersebut. Misalnya, pada insomnia bergantung obat, klien
tidak dapat tidur karena penggunaan obat hipnotik yang berlebihan. Klien ini
biasanya akan sangat terbantu dengan menghentikan pemberian hipnotik tersebut
secara bertahap.
2. Somnambulisme
Somnabulisme merupakan gangguan tingkah laku yang sangat kompleks
mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka
pintu, menutup pintu, duduk di tempat tidur, menabrak kursi, berjalan kaki, dan
berbicara. Termasuk tingkah laku berjalan dalam beberapa menit dan kembali
tidur (Japardi 2002). Somnabulisme ini lebih banyak terjadi pada anak-anak
dibandingkan orang dewasa. Seseorang yang mengalami somnabulisme
mempunyai risiko terjadinya cedera. Upaya yang dapat dilakukan untuk
mengantisipasi somnabulisme yaitu dengan membimbing anak.
3. Apnea Tidur
Apnea tidur adalah gangguan yang dicirikan dengan kurangnya aliran udara
melalui hidung dan mulut selama periode 10 detik atau lebih pada saat tidur. Ada
tiga jenis apnea tidur, apnea sentral, obstruktif, dan campuran yang mempunyai
komponen apnea sentral dan obstruktif.
Bentuk yang paling banyak terjadi, apnea tidur obstruktif (obstructive
sleep apnea, OSA), terjadi pada saat otot atau struktur rongga mulut atau
tenggorok rileks pada saat tidur. Jalan napas atas menjadi tersumbat sebagian atau
seluruhnya, dan aliran udara pada hidung berkurang (Hipopnea) atau berhenti
(apnea) selama 30 detik (Guilleminault, 1994). Individu masih berusaha untuk
bernapas karena gerakan dada dan abdomen terus terjadi, yang sering kali
menyebabkan bunyi dengkuran atau dengusan yang keras. Pada saat napas hilang

15
sebagian atau seluruhnya, setiap gerakan diafragma yang berhasil dilakukan
menjadi lebih kuat sampai obstruktif tersebut berkurang. Abnormalitas structural
seperti deviasi septum, polip hidung, atau pembesaran tonsil dapat menyebabkan
seseorang terbangun dari tidur dalam ke siklus tidur tahap 2. Pada kasus-kasus
berat, ratusan episode hipopnea/apnea dapat terjadi setiap jam sehingga
menyebabkan gangguan yang parah pada tidur dalam. Rasa kantuk yang
berebihan di siang hari merupakan keluhan utama penderita OSA. The National
Commission on Sleep Disorders Research (1993) memperkirakan bahwa 18 juta
orang diamerika serikat memenuhi criteria diagnostic untuk OSA.
Apnea obstruktif menyebabkan penurunan kadar oksigen arteri yang
serius. Klien berisiko mengalami disritmia jantung, gagal jantung kanan,
hipertensi pulmonal, serangan angina, stroke, dan hipertensi. Pria usia
pertengahan biasanya dianggap lebih sering terkena, terutama jika mereka
obesitas. Namun, penemuan terbaru menunjukkan bahwa wanita pascamenopause
juga relatif sering mengalami apnea tidur obstruktif yang berkaitan erat dengan
hipertensi (Gislason et al, 1993). Waktu tersering terjadinya kematian yang
tampak terjadi secara alami atau malah tidak dapat dijelaskan adalah antara pukul
4 dn 6. Beberapa peneliti meyakini bahwa apnea tidur merupakan penyebab dari
berbagai kematian ini(Berman et al, 1990.
Apnea tidur sentral (central sleep apnea, CSA) melibatkan disfungsi pada
pusat pengendalian pernapasan di otak. Impuls untuk bernapas sementara terhenti,
dan aliran udara pada hidung dan gerakan dnding dada juga terhenti. Saturasi
oksigen dalam darah menurun. Kondisi ini terjadi pada klien yang mengalami
cedera batang otak, distrofi otot, dan ensefalitis dan juga pada orang yang
bernapas normal di siang hari. Kurang dari 10% apnea tidur berasal dari sentral.
Individu dengan CSA cenderung terbangun diwaktu tidur dan oleh karena itu, ia
mengeluh insomnia dan EDS. Klien juga mengalami dengkuran yang ringan da
intermiten.
Klien yang mengalami apnea tidur sering kali tidak memiliki tidur dalam
yang siginifikan. Selain itu bnyak juga terjadi keluhan mengantuk yang berlebihan
di siang hari, serangan tidur, keletihan, sakit kepala dipagi hari, dan menurunnya

16
gairah seksual. Pengobatannya mencakup terapi untuk komplikasi jantung dan
pernapasan yang utama dan terapi untuk masalah emosional yang muncul akibat
gejala dari gangguan ini. Higine tidur dan program penuruna berat badan juga
dapat membantu. Salah satu terapi yang paling efektif adalah penggunaan alat
penekan jalan napas positif yang kontinu di dalam hidung (continuous positive
airway pressure, CPAP) dim lam hari. Klien yang menggunakan CPAP harus
memakai masker pada hidungnya. Udara ruangan dialirkan melalui masker pada
tekanan yang tinggi. Tekanan udara mencegah kolapsnya jalan napas. Alat CPAP
bersifat portabel dan efektif terutama untuk apnea obstruktif pada kasus-kasus
apnea tidur yang parah, tonsil, uvula, atau bagian dari palatum mole dapat
diangkat melalui pembedahan. Keberhasilan prosedur bedah sangat bervariasi.
4. Narkolepsi
Narkolepsi adalah disfungsi mekanisme yang mengatur keadaan bangun dan
tidur. EDS adalah keluhan utama paling sering yang berkaitan dengan gangguan
ini. Di siang hari seseorang dapat merasakn kantuk berlebihan yang datang secara
mendadak dan jatuh tertidur. Tidur REM dapat terjadi dalam 15 menit sewaktu
tertidur. Katapleksi, atau kelemahan otot yang tiba-tiba disaat emosi sedang kuat
seperti marah, sedih, atau tertawa, dapat terjadi kapan saja disiang hari. Apabila
serangan katapleksi parah, klien dapat kehilangan control otot valunter dan jatuh
kelantai. Individu yang menderita narkolepsi dapat mengalami mimpi hidup, yang
terjadi pada saat orang tersebut tertidur, mimpi yang sulit dibedakan dari realita
( disebut halusinasi hipnogik). Paralisis tidur, atau perasaan tidak mampu bergerak
atau berbicara tepat sebelum terbangun atau tertidur, merupakan gejala yang lain.
Penelitian terakhir menunjukkan adanya hubungan genetik untuk narkolepsi
(Mitler et al, 1990; Aldrich, 1992).
Masalah signifikan untuk individu yang menderita narkolepsi adalah
bahwa orang tersebut jatuh tertidur tanpa bisa dikendalikan pada waktu yang tidak
tepat. Serangan tidur dapat dengan mudah disalahartikan dengan kemalasan,
kurangnya minat terhadap aktivitas, atau mabuk kecuali jika gangguan ini
dipahami. Umumnya gejala pertama mulai muncul pada remaja dan dapat
dislahartikan dengan EDS yang juga bnyak terjadi pada remaja. Penderita

17
narkolepsi diobati dengan stimulant yang hanya dapat menigkatkan sebagian
sebagian kesiagaan dan mengurangi serangan tidur, serta obat yang menekan
katapleksi dan gejala lain yang terkait dengan REM. Tidur siang singkat tidak
lebih 20 menit dpat membantu perasaan mengantuk yang subjektif. Factor-faktor
yang eningkatkan rasa kantuk pada klien narkolepsi (mis. Alcohol atau aktivitas
yang melelahkan) harus dihindari.
5. Deprivasi Tidur
Deprivasi tidur adalah masalah yang dihadapi banyak klien sebagai akibat
disomnia. Penyebabnya dapat mencakup penyakit (mis, demam, sulit bernapas,
atau nyeri), stress emosional, obat-obatan, gangguan lingkungan (mis, asuhan
keperawatan yang sering dilakukan), dan keanekaragaman waktu yang terkait
dengan waktu kerja. Dokter dan perawat cenderung mengalami deprivasi tidur
karena jadwal kerja yang panjang dan rotasi jam dinas. Gold et al (1992)
menemukan bahwa perawat yang bekerja dalam jam dinas yang dirotasi
melaporkan bahwa waktu tidurnya kurang dan secara signifikan cenderung
banyak melaporkan kecelakaan dan kesalahan dibandingkan dengan perawat yang
bekerja satu hari langsung atau dinas malam.
Hospitalisasi, terutama di unit perawatan intensif, membuat klien rentan
terhadap gangguan tidur ekstrinsik dan sirkadian (Wood, 1992). Deprivasi tidur
melibatkan penurunan kuantitas dan kualitas tidur serta ketidakkonsistenan waktu
tidur. Apabila tidur mengalami gangguan atau terputus-putus, dapat terjadi
perubahan urutan siklus tidur normal. Terjadi deprivasi tidur kumulatif.
Respons seseorang terhadap deprivasi tidur sangat bervariasi. Klien dapat
mengalami berbagai gejala fisiologis dan psikologis. Keparahan gejala sering
berhubungan dengan durasi deprivasi tidur. Terapi yang paling efektif untuk
deprivasi tidur adalah menghilangkan atau memperbaiki factor-faktor yang
mengganggu pola tidur. Perawat dapat memainkan peranan yang penting dalam
mengidentifikasi masalah-masalah deprivasi tidur yang dapat diobati.
6. Parasomnia
Parasomnia adalah masalah tidur yang lebih banyak terjadi pada anak-anak
dari pada orang dewasa. Sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant death

18
syndrome ,SIDS) dihipotesis berkaitan dengan apnea, hipoksia, dan aritmia
jantung yang disebabkan oleh abnormalitas dalam system saraf otonom yang
dimanifestasikan selama tidur (Gilis dan Flemons, 1994). Baru-baru ini, the
American Acadeny of Pediatrics menganjurkan agar bayi yang sehat ditempatkan
pada posisi miring atau telentang disaat tidur karena adanya hubungan antara
posisi telungkup dengan terjadinya SIDS (Long dan Barron, 1992).
Parasomnia yang terjadi pada anak-anak akan meliputi somnambulisme
(berjalan dalam tidur), terjaga malam, mimpi buruk, enuresis nocturnal
(ngompol), dan menggeretakkan gigi (bruksisme) (mindell,1993). Apabila orang
dewasa mengalami hal ini maka hal tersebut dapat mengindikasikangangguan
yang lebih serius. Terapi khusus untuk gangguan ini bervariasi. Namun, dalam
semua kasus yang terpenting adalah mendukung klien dan mempertahankan
keamanannya. Misalnya, orang yang berjalan dalam tidur tidak menyadari
lingkungan di sekitarnya dan lambat bereaksi. Oleh karena itu risiko jatuh
sangatlah besar. Perawat tidak boleh mengejutkan klien yang sedang berjalan tidur
tetapi membangunkan dengan lembut dan membimbingnya dengan lembut dan
membimbingnya kembali ke tempat tidur
ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian
Aspek yang perlu dikaji pada klien untuk mengidentifikasi mengenai
gangguan kebutuhan istirahat dan tidur meliputi ( Asmadi, 2008) :
a. Pola tidur
b. Kebiasaan yang dilakukan klien menjelang tidur
c. Gangguan tidur
d. Kebiasaan tidur siang
e. Lingkungan tidur klien
f. Peristiwa yang baru dialami klien dalam hidup
g. Status emosi klien
h. Perilaku deprivasi klien yaitu manifestasi fisik dan perilaku yang timbul
sebagai akibat gangguan istirahat tidur
2.2 Diagnosa Keperawatan

19
Diagnosa keperawatan yang mungkin ditemukan pada klien dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan istirahat tidur antara alain ( Asmadi, 2008) :
a. Gangguan pola tidur
Gangguan pola tidur ini dapat disebabkan ansietas yang dialami klien,
lingkungan yang tidak kondusif untuk tidur, ketidakmampuan mengatasi
stress yang dialami, dan nyeri akibat penyakit yang diderita klien.
b. Perubahan proses berpikir
Perubahan proses berpikir ini disebabkan oleh terjadinya deprivivasi tidur.
c. Gangguan harga diri
Gangguan harga diri terutama dialami pada klien yang mengalami enuresis.
d. Resiko cedera
Resiko cedera terutama pada klien yang menderita somnabulisme, dimana
klien melakukan aktivitas tanpa disadari sehingga berisiko terjadinya
kecelakaan.

2.3 Intervensi dan Evaluasi


Sering kali pada klien yang dirawat di rumah sakit, klien mengalami
masalah istirahat dan tidur dikarenakan kondisi rumah sakit, rutinitas ruangan,
atau penyakit yang diderita. Beberapa intervensi ( Asmadi, 2008) yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut :
a. Ciptakan lingkungan yang nyaman.
b. Membantu kebiasaan klien sebelum tidur.
c. Diet.
d. Hindari latihan fisik yang berlebihan sebelum tidur.
e. Hindari rangsangan mental yang tidak menyenangkan sebelum tidur.
f. Berikan rasa nyaman dan rileks.
g. Hindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur.
h. Berdoa sesuai dengan ajaran yang dianut.
Setelah intervensi dilakukan, evaluasi setiap intervensi yag dilakukan
dengan mengkaji setiap respon dari klien terhadap intervensi yang dilakukan. Bila
intervensi tidak berhasil, maka rencanakan intervensi baru atau intervensi yang
lama tetap dilanjutkan. Bila intervensi berhasil, hentikan tindakan.

20
21