Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PROSES INDUSTRI KIMIA :

PRODUKSI SAKARIN DENGAN MENGGUNAKAN

PROSES FAHLBERG-REMSEN

Diusulkan oleh:

1. Dini Wulandari 21030114120084


2. Eunice Elizabeth 21030114130118
3. Novian Indra Agung Prakoso 21030114120026
4. Ricky Sudiantoro 21030114130162

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2015
BAB I
PENDAHULUAN

1. Pengertian
Selama bertahun-tahun, kitra telah menggunakan beberapa pernyataan untuk
mendeskripsikan pemanis tanpa kalori diantaranya : pemanis buatan, subtitusi gula,
pemanis tanpa kalori, dan pemanis rendah kalori. Semua pernyataan diatas bukanlah
pernyataan yang begitu tepat. Asosiasi Diabetes Amerika menggunakan istilah pemanis
tanpa nutrisi apabila digunakan dalam istilah Rekomendasi dan Prinsip Nutrisi Bagi
Orang Penderita Diabetes Melitus dan menggunakan istilah gula subtitusi apabila
digunakan pada konsumsi public. Istilah pemanis rendah kalori mulai digunakan ketika
aspartame mulai diijinkan penggunaannya sebagai konsumsi pada awal 1980an. Namun
sebenarnya aspartame bukanlah pemanis tanpa kalori dikarenakan aspartame mengandung
sejumlah kalori yang berasal dari protein asalnya. Pada dunia industri, istilah pemanis
buatan dan gula subtitusi bukanlah istilah yang biasa digunakan. Dalam pemasaran, istilah
pemanis rendah kalori lebih mudah dipahami daripada pemanis tanpa nutrisi. Jelasnya
istilah gula subtitusi lebih mudah diingat dibenak pelanggan. Dari semua nama yag
dipertimbangkan, pemanis rendah kalori lebih familiar ditelinga pendengar. (Hope S.
Warshaw, 1999)

Salah satu pemanis buatan ialah sakarin. Sakarin telah digunakan sebagai pengganti
gula sebagai agen pemanis selama sekitar sembilan puluh tahun. Penggunaan awalnya
terbatas pada mereka yang tidak dapat mentoleransi gula dalam makanannya, namun
konsumsi sakarin baru-baru ini sangat meningkat dengan meningkatnya popularitas
makanan rendah kalori dan minuman. Meskipun pemanis buatan lainnya telah
dikembangkan dan dipasarkan, namun keraguan yang amat besar akan keamanannya,
sehingga sakarin masih dapat mempertahankan posisinya di pasar sebagai pemanis buatan.
Baru-baru ini, keraguan juga telah meningkat akan keamanan sakarin, yang menyebabkan
pembatasan pada penggunaannya di berbagai negara. (Anthony J. Bebbington, 1977)
2. Proses Pembuatan Sakarin
Metode tradisional untuk membuat sakarin telah dikembangkan pada tahun 1879
oleh Fahlberg dan Remsen, dan terdiri dari oksidasi o-toluena sulfonamide (OTSA) dengan
menggunakan agen pengoksidasi kalium permanganat. Metode ini masih digunakan hingga
saat ini oleh banyak produsen sakarin. Keamanan akan sisa proses OTSA di sakarin juga
mulai diragukan, dan pengotor yang berpotensi berbahaya lainnya mungkin bisa hadir.
Proses kedua untuk pembuatan sakarin, yang dikembangkan di Jerman pada akhir abad
kesembilan belas, yang dikomersialisasikan pada tahun 1950an. Proses ini dimulai dari
anhidrida ftalat yang diperoleh dari delapan langkah sintesis, yang melibatkan lima isolasi
intermediet, untuk sakarin. Perkembangan proses ini panjang dan sulit, dan kompleksitas
dan jumlah besar langkah-langkah yang terlibat membuat sulit untuk beroperasi secara
ekonomis. (Anthony J. Bebbington, 1977)
Selama Perang Dunia Kedua, perkembangan proses berlanjut untuk sintesis
sakarin yang dikembangkan di Jerman akibat kekurangan bahan baku yang diperlukan
dalam proses Remsen-Fahlberg. Dalam proses ini lebih lanjut, o-chlorotoluene dioksidasi
dengan menggunakan dikromat untuk menghasilkan asam o-klorobenzoat, dan mengikuti
substitusi klorin oleh kelompok SO3 H, garam kalium dari asam o-Sulfobenzoic diisolasi.
Setelah esterifikasi, metil ester asam o-Sulfobenzoic dikonversi menggunakan sulfuryl
klorida ke sulfonil klorida sesuai yang diperlakukan untuk memberikan sakarin
menggunakan amonium hidroksida dan asam mineral. Kerugian dari proses ini adalah
konversi yang rendah (bahkan dalam teori hanya 46,1% terkait dengan o-chlorotoluene)
dan biaya tinggi. Proses itu tidak begitu kompetitif dalam persaingan pemasaran yang
normal. (Anthony J. Bebbington, 1977)

3. Bahan Baku Pembuatan Sakarin

Toluena
Toluena, dikenal juga sebagai metilbenzena ataupun fenilmetana, adalah cairan
bening tak berwarna yang tak larut dalam air dengan aroma seperti pengencer
cat dan berbau harum seperti benzena
Rumus Molekul : C7H8 (C6H5CH3)
Massa Molar : 92,14 g/mol
Penampilan : Cairan tak berwarna
Densitas : 0,8669 g/mL, zat cair
Titik Lebur : 93 C
Titik Didih : 110,6 C
Kelarutan dalam air : 0,47 g/l (20-25 C)
Viskositas : 0,590 cP at 20 C

H2SO4
Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut
dalamair pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan
merupakan salah satu produk utama industri kimia.

Rumus Molekul : H2SO4


Massa Molar : 98,08 g/mol
Penampilan : cairan bening, tak berwarna, tak berbau
Densitas : 1,84 g/cm3, cair
Kelarutan dalam air : tercampur penuh
Viskositas : 26,7 cP (20 C)
Keasaman (pKa) : -3

NH3
Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa ini didapati
berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia).
Rumus Molekul : NH3
Massa Molar : 17.0306 g/mol[1]
Penampilan : Gas tak berwarna berbau tajam
Titik Lebur : -77.73 C (195.42 K)
Titik Didih : -33.34 C (239.81 K)
Keasaman (pKa) : 9.25
Kebasaan (pKb) : 4.75

KMNO4

Rumus Molekul : KMNO4


Massa Molar : 158.034 g/mol
Densitas : 2.703 g/cm 3

Titik Didih : 240 C (464 F; 513 K) (decomposes)


Kelarutan dalam air : 6.4 g/100mL (20 C)250 g/L (65 C)

4. Spesifikasi Produk
Sakarin. Zat yang satu ini, tidak mempunyai nilai gizi tetapi tanpa kehadirannya
produsen olahan pangan, minuman, dan kesehatan (dalam pembuatan obat) tidak bisa
meminimalisir harga barang yang diproduksi. Alasannya, zat ini merupakan salah satu
zat pemanis sintesis yang boleh digunakan sebagai pengganti gula dalam berbagai
produksi olahan pangan, minuman, dan kesehatan. Tingkat kemanisan sakarin 200-500
kali sukrosa (gula pasir). Adapun batas konsumsinya perhari yang aman (ADI) adalah
2,5 mg/kg bb. Tetapi jika penggunaannya berlebih, sakarin berasa pahit sesuai dengan
meningkatnya konsentrasi. Sakarin berupa kristal putih, tak berbau, berasa manis dan
bersifat larut dalam air. Struktur kimianya 2,3 Dihidro 3 Oxobenziso sulfonasol
atau Benzosulfimida. Satu gram sakarin dapat larut dalam 290ml air pada suhu kamar
atau dalam 250ml air mendidih, 31 ml alkohol, 12ml aseton atau 50ml gliserol. Selain
itu, sakarin mudah sekali larut dalam larutan alkali karbonat dan sedikit larut dalam
chloroform dan eter. Sakarin akan terhidrolisis jikadalam suasana alkalis, yaitu
menjadi asam O Sulfamoil Benzoat,dan dalam susana asam akan menjadi asam
amonium o Sulfo Benzoat(Ratinha Sinulingga: 2011).

Struktur kimia :

Nama IUPAC sakarin adalah 2H-16,2-benzotiazol-1,1,3-trion; nama lainnya


Sulfimida benzoate, dan Orto sulfobenzamida. Adapun sifat-sifatnya adalah:

Rumus molekul: C7H5NO3S


Berat molekul: 183,18 gr/mol

Penampilan: serbuk hablur, tidak berwarna atau berwarna putih, tidak berbau atau
tidak memiliki aroma yang tajam.

Densitas: 0,828 gr/cm3

Titik leleh: 228,8-229,7 C

Kelarutan dalm air: 1 g per 290 mL

Sakarin (C7H4NNaO3S) merupakan pemanis buatan yang mempunyai rasa manis


200-700 kali sukrosa (yang biasa disebut gula). Sakarin ditemukan dengan tidak
sengaja oleh Fahbelrg dan Remsen pada tahun 1897.Ketika pertama kali ditemukan
sakarin digunakan sebagai antiseptik dan pengawet, tetapi sejak tahun 1900 sakarin
digunakan sebagai pemanis. Nama lain dari sakarin adalah 2,3-dihidro-3-
oksobenzisulfonasol, benzosulfimida, atau 0-sulfobenzimida, dan memiliki nama
dagang antara lain: glucida, garantose, saccarinol, saccarinose, sakarol, saxin, sykose,
dan hermesetas.

5. Kegunaan Sakarin
Sakarin secara luas digunakan sebagai pengganti gula karena mempunyai sifat
stabil, nilai kalori rendah dan harganya relatif murah. Selain itu, sakarin juga banyak
digunakan untuk mengganti sukrosa untuk bagi penderita diabetes melitus atau untuk
bahan pangan yang berkalori rendah. Penggunaan sakarin biasanya dicampur dengan
bahan pemanis yang lain seperti siklamat, dengan maksud untuk menutupi rasa tidak
enak (pahit-getir) dari sakarin dan bertujuan untuk lebih memperkuat rasa manis.
Keuntungan yang sangat utama yang dimanfaatkan oleh masyarakat terutama industri-
industri makanan besar dari penggunaan sakarin yaitu didapatkan kemanisan yang
sangat tinggi hanya dengan penggunaan sakarin dalam jumlah yang sedikit. Sehingga
ini akan sangat menguntungkan bagi industri tersebut dalam bidang perekonomian
yaitu mampu menekan biaya produksi. (Ansari, 2014)
BAB II
RANCANGAN PROSES

a. Reaksi dan Mekanismenya


b. Tinjauan Termodinamika

i. Termodinamika ditinjau dari Entalpi (H)

ii. Termodinamika ditinjau dari Energi Gibbs (G)

c. Tinjauan Kinetika

d. Kondisi Operasi

e. Diagram Alir

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan

b. Saran
DAFTAR PUSTAKA

S. Warshaw, Hope. 1999. Low-Calorie Sweeteners: What's News, What's New. at


http://journal.diabetes.org/diabetesspectrum/99v12n4/pg250.asp

J. Bebbington Anthony. 1977. Process for The Production of Saccharine. USA. Patent
No. US 4145349 A.