Anda di halaman 1dari 38

Makalah Pelaporan Korporat

Transaksi Berbasis Syariah dan Pelaporan Keuangan Syariah

Oleh:
Kelompok III

Astrid Tresnanty (1607611011)


Putu Mega Surya Pangastuti (1607611013)
Putu Diah Krisna Junitasari (1607611015)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017
Transaksi Berbasis Syariah dan Pelaporan Keuangan Syariah
Keberadaan dan peran akuntansi syariah masih sering dipertanyakan: Apakah
memang diperlukan akuntansi syariah? Bukankah yang namanya akuntansi (sistem
pencatatan) pada dasarnya sama saja? Kalau berbeda, dimanakah letak perbedaannya dan
mengapa berbeda?
Secara sederhana, pengertian akuntansi syariah adalah proses akuntansi atas transaksi-
transaksi yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Allah SWT.
Definisi Akuntansi (Konvensional) menurut American Accounting Association (AAA)
adalah the identification, recording, classification, interpreting and communication economic
events to permit users to make informed decisions.
Definisi Akuntansi Islam (Syariah) adalah the accounting process which provides
appropriate information (not necessarily limited to financial data) to stakeholders of an
entity which will enable them to ensure that the entity is continuously operating within the
bounds of the Islamic Shariah and delivering on its socioeconomic objectives.
Dari perbedaan definisi diatas, informasi yang disajikan akuntansi syariah untuk
pengguna laporan lebih luas tidak hanya data finansial juga mencakup aktivitas perusahaan
yang berjalan sesuai dengan syariah serta memiliki tujuan sosial yang tidak terhindarkan
dalam Islam misalnya dengan adanya kewajiban membayar zakat.
Akuntansi syariah juga dibutuhkan dan berbeda dengan akuntansi konvensional
mengingat dilahirkan dari sistem nilai dan aturan yang berbeda, sebagaimana dijelaskan oleh
Harahap (2004) dalam International Scientific Conference: View of Islamic Culture Approach
for Accounting Research di Osaka, pada seminar tersebut beliau menjelaskan bahwa terdapat
beberapa perbedaan antara akuntansi syariah dan akuntansi konvensional yang dapat
disimpulkan sebagai berikut.

Kriteria Akuntansi Syariah Akuntansi Konvesional


Dasar Hukum Hukum Etika yang bersumber Hukum Bisnis Modern
AlQuran & Sunnah
Dasar Tindakan Keberadaan Hukum Allah- Rasionalisme Ekonomis-Sekuler
Keagamaan
Tujuan Keuntungan yang Wajar Maksimalisasi Keuntungan
Orientasi Kemasyarakatan Individual atau kepada Pemilik
Tahapan Operasional Dibatasi dan Tunduk Ketentuan Tidak Dibatasi kecuali
Syariah Pertimbangan Ekonomis
Sumber: Harahap, 2004
Oleh sebab itu, akuntansi syariah diperlukan untuk mendukung kegiatan yang harus
dilakukan sesuai syariah, karena tidak mungkin dapat menerapkan akuntansi yang sesuai
dengan syariah jika transaksi yang akan dicatat oleh proses akuntansi tersebut tidak sesuai
dengan syariah.

Perkembangan Transaksi Syariah


Perkembangan pesat dalam kegiatan usaha dan lembaga keuangan (bank, asuransi,
pasar modal, dana pensiun, dan lain sebagainya) yang berbasis syariah. Dalam tiga dekade
terakhir, lembaga keuangan telah meningkatkan volume dan nilai transaksi berbasis syariah
yang tentunya meningkatkan kebutuhan terhadap akuntansi syariah.
Selanjutnya, perkembangan pemikiran mengenai akuntansi syariah juga makin
berkembang, yang ditandai dengan makin diterimanya prinsip-prinsip transaksi syariah di
dunia internasional.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa motor dari penerapan transaksi syariah diawali oleh
sistem perbankan syariah dan baru dilanjutkan dengan sektor lainnya. Sistem perbankan
syariah sendiri memiliki rekam jejak yang panjang. Diawali dengan Mit Ghamr Local Saving
Bank di Mesir pada tahun 1963, yang kemudian diambil alih dan direstrukturisasi oleh
Pemerintah Mesir menjadi Nasser Social Bank pada tahun 1972. Perkembangan tentang
perbankan syariah terus berlanjut, tidak hanya di Timur Tengah termasuk pendirian Islamic
Development Bank (1975), tetapi juga di negara-negara Eropa seperti Luksemburg(1978),
Swiss (1981), dan Denmark (1983). Perkembangan yang sama juga terjadi di Negara Asia
Tenggara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Di Malaysia, bank syariah pertama
berdiri pada tahun 1982 sementara di Indonesia baru terjadi 9 tahun kemudian, dengan
pendirian Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1991.
Pendirian Bank Muamalat sendiri bukanlah sebuah proses yang pendek, tetapi
dipersiapkan secara hati-hati. Untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat, sebelum tahun
1992, telah didirikan beberapa lembaga keuangan non bank yang kegiatannya menerapkan
system syariah. Selanjutnya melalui UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan dijabarkan
dalam PP No. 72 Tahun 1992, pemerintah telah memberikan kesempatan untuk pelaksanaan
bank syariah.
Perkembangan lembaga keungan syariah selanjutnya di Indonesia hingga tahun 1998
masih belum pesat, karena baru ada 1 (satu) Bank Syariah dan 78 Badan Perkreditan Rakyat
Syariah (BPRS) yang beroperasi. Pada tahun 1998, dikeluarkan UU No. 10 Tahun 1998 yang
memberikan landasan hukum lebih kuat untuk perbankan syariah. Melalui UU No. 23 Tahun
1999 hingga disahkannya UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, perkembangan
perbankan syariah meningkat tajam terutama dilihat dari peningkatan jumlah
bank/kantoryang menggunakan prinsip syariah dan peningkatan jumlah asset yang dikelola.
Berikut ini adalah data perkembangan bank syariah di Indonesia hingga tahun 2016.

Indikator 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Bank
Umum
Syariah
Jumlah
2 2 3 3 3 5 6 11 11 11 11 12 12 13
Bank
Jumlah
207 263 301 346 398 576 711 1.215 1.390 1.745 1.998 2.163 1.990 1.854
Kantor

Unit
Usaha
Syariah
Jumlah
8 15 19 20 26 27 25 23 24 24 23 22 22 21
Bank
Jumlah 48 74 135 163 170 214 287 262 312 517 590 320 311 322
Kantor

BPR
Syariah
Jumlah
84 88 92 105 114 131 139 150 155 155 163 163 163 164
Bank
Jumlah
84 88 92 105 185 202 223 286 364 364 402 439 446 453
Kantor
Sumber: OJK
Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan bank syariah dan
BPRS baik dari jumlah bank maupun jumlah kantor pelayanan tersebut. Pertambahan jumlah
bank syariah meningkat pada tahun 2009 dengan dikeluarkannya izin bank baru yaitu: Bank
Bukopin Syariah, Bank Panin Syariah, dan BRI Syariah. Pertumbuhan ini makin pesat pada
tahun 2010, di mana dari 6 bank syariah di tahun sebelumnya menjadi 11 bank syariah, yaitu:
BNI Syariah, BCA Syariah, BJB Syariah, Bank Victoria Syariah, dan Maybank Syariah.
Sektor berikutnya yang juga berkembang adalah asuransi syariah. Asuransi syariah
pertama kali didirikan di Sudan pada tahun 1979 dengan nama The Islamic Insurance
Company of Sudan. Pendirian ini terus berlanjut dan saat ini telah berdiri baik di Negara-
negara Timur Tengah, Negara yang memiliki banyak penganut Islam, seperti: Pakistan,
Lebanon, Nigeria, maupun Negara barat, seperti: Inggris, pecahan Uni Soviet, dan Australia.
Perkembangan paling pesat dewasa ini untuk industri asuransi syariah di luar Negara Timur
Tengah adalah Malaysia.
Perkembangan di Indonesia sendiri diawali dengan berdirinya Asuransi Takaful, yang
dibentuk oleh PT Syarikat Takaful Indonesia (STI) sebagai holding company pada tahun
1994. Persiapan pendirian dilakukan dengan studi banding ke Malaysia pada bulan
September 1993. Malaysia memang merupakan Negara ASEAN pertama yang menerapkan
asuransi dengan prinsip syariah sejak tahun 1985 dan dikelola oleh Syarikat Takaful Malaysia
Sdn, Bhd.
Setelah melalui persiapan yang matang, STI mendirikan PT Asuransi Takaful
Keluarga pada 25 Agustus 1994 dan PT Asuransi Takaful Umum pada 2 Juni 1995. Berikut
ini adalah perkembangan asuransi di Indonesia hingga tahun 2009.

Keterangan 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012


Perusahaan Asuransi Jiwa
2 2 2 2 2 3 3 3
dengan Prinsip Syariah
Perusahaan Asuransi Umum
1 1 1 1 1 2 2 2
dengan Prinsip Syariah
Perusahaan Asuransi Jiwa yang
8 9 12 13 17 17 17 17
Memiliki Unit Syariah
Perusahaan Asuransi Umum
13 15 19 19 19 20 18 20
yang Memiliki Unit Syariah
Perusahaan Reasuransi yang
2 3 3 3 3 3 3 3
Memiliki Unit Syariah
Jumlah 26 30 37 38 42 45 43 45
Sumber: OJK
Sektor syariah yang sedang berkembang adalah transaksi investasi syariah dan sector
keuangan non bank. Transaksi ini terus mengalami peningkatan, di antaranya berikut ini.
1. Obligasi Syariah (Sukuk)
2. Pasar Modal Syariah
3. Dana Pensiun Syariah
4. Pendanaan Proyek Syariah
5. Real Estat Syariah
Di tengah pesatnya perkembangan transaksi syariah tersebut, maka kebutuhan atas
akuntansi syariah makin meningkat. Akuntansi sebagai proses untuk melaporkan transaksi
keuangan perusahaan tentu harus dapat mengikuti seluruh perkembangan transaksi yang
sedang berlangsung.

Perkembangan Akuntansi Syariah (Wiroso, 2011)


1. Periode sebelum tahun 2002.
Walaupun Bank Muamalat sudah beroperasi sejak tahun 1992 namun sampai dengan
tahun 2001 belum ada PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) yang mengatur,
sehingga pada periode ini masih mengacu pada PSAK 31 tentang Akuntnais Perbankan
walaupun tidak dapat dipergunakan sepenuhnya terutama paragraph-paragraf yang
bertentangan dengan prinsip syariah seperti perlakuan akuntansi untuk kredit. Selain itu
juga mengacu pada Accounting Auditing Standard for Islamic Financial Institution yang
disusun oleh Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution,
suatu badan otonom yang didirikan 27 Maret 1991 di Bahrain.
2. Periode tahun 2001-2007.
Pada periode ini, sudah ada PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah yang dapat
digunakan sebagai acuan akuntansi untuk Bank Umum Syariah, Bank Perkreditan Rakyat
Syariah dan kantor cabang syariah sebagaimana tercantum dalam ruang lingkup PSAK
tersebut.
3. Tahun 2007-sekarang.
Pada periode ini, DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan) mengeluarkan PSAK
Syariah yang merupakan perubahan dari PSAK 59. KDPPLKS (Kerangka Dasar
Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah) dan PSAK Syariah, digunakan
baik oleh entitas syariah maupun entitas konvensional yang melakukan transkasi syariah
baik sector public maupun sector swasta. Dengan demikian, saat ini di Indonesia selain
memiliki PSAK Syariah juga ada PSAK konvergensi IFRS, SAK ETAP yang diluncurkan
secara resmi pada tanggal 17 Juli 2009 dan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa adanya akuntansi syariah
memiliki 2 alasan utama, yaitu: suatu tuntutan atas pelaksanaan syariah dan adanya
kebutuhan akibat pesatnya perkembangan transaksi syariah.

Jenis-Jenis Akad
Menurut terminology hukum Islam, akad adalah ertalian antara penyerahan (ijab) dan
penerimaan (qabul) yang dibenarkan oleh syariah, yng menimbulkan akibat hokum terhadap
objeknya. (Ghufron Masadi, 2002). Menurut Abdul Razak Al-Sanhuri dalam Nadhariyatul
aqdi, akad adalah kesepakatan dua belah pihak atau lebih yang menimbulkan kewajiban
hukum yaitu konsekuensi hak dan kewajiban, yang mengikat pihak-pihak yang terkait
langsung maupun tidak langsung dalam kesepakatan tersebut. (Ghufron Masadi, 2002).
Dalam akuntansi syariah, akad harus sesuai dengan syariah yang merujuk pada Al
qur'an, As-Sunnah, Ijmadan qiyas. Transaksi/akad dalam syariah dibagi menjadi 2 (dua)
yaitu:
1. Akad Tabarru (Gratuitous Contract) merupakan akad yang tidak ditujukan untuk
memperoleh laba (transaksi nirlaba) tetapi mengharapkan ridho Allah. Sehingga kalau ada
biaya transaksi dari akad jenis ini hanya dibolehkan sebesar biaya riil yang dikeluarkan.
Ada 3 (tiga) bentuk akad tabarru, sebagai berikut:
a. Meminjamkan Uang
Meminjamkan uang termasuk akad tabarru karena tidak boleh melebihkan
pembayaran atas pinjaman yang kita berikan, karena setiap kelebihan tanpa iwad
adalah riba. Ada minimal 3 jenis pinjaman, yaitu sebagai berikut.
1) Qardh, merupakan pinjaman yang diberikan tanpa mensyaratkan apapun, selain
mengembalikan pinjaman tersebut setelah jangka waktu tertentu.
2) Rahn, merupakan pinjaman yang mensyaratkan suatu jaminan dalam bentuk atau
jumlah tertentu.
3) Hiwalah adalah bentuk pinjaman dengan cara mengambil alih piutang dari pihak
lain.
b. Meminjamkan Jasa
Meminjamkan jasa berupa keahlan atau keterampilan termasuk dalam akad tabarru.
Ada minimal 3 jenis pinjaman, yaitu sebagai berikut.
1) Wakalah: memberikan pinjaman berupa kemampuan kita saat ini untuk melakukan
sesuatu atas nama orang lain. Pada konsep ini maka yang kita lakukan hanya atas
nama orang tersebut.
2) Wadiah: merupakan bentuk turunan bentuk wakalah, di mana pada akad ini telah
dirinci/didetailkan tentang jenis pemeliharaan dan penitipan. Sehingga selama
pemberian jasa tersebut kita juga bertindak sebagai wakil dari pemilik barang.
3) Kafalah: juga merupakan bentuk turunan akad wakalah, di mana pada akad ini
terjadi atas wakalah bersyarat (contingent wakalah).
c. Memberikan Sesuatu
Dalam akad ini, pelaku memberikan sesuatu kepada orang lain. Ada minimal 2 bentuk
akad ini.
1) Waqaf, merupakan pemberian dan penggunaan pemberian yang dilakukan tersebut
untuk kepentingan umum dan agama, serta pemberian itu tidak dapat
dipindahtangankan.
2) Hibah/shadaqah, merupakan pemberian sesuatu secara sukarela kepada orang lain.
Akad tabarru tidak dapat diubah menjadi akad tijarah sedangkan akad tijarah dapat
diubah menjadi akad tabarru (yang semula ditujukan untuk mencari keuntungan menjadi
tolong menolong/kebaikan).
2. Akad tijarah (compensational contract) merupakan akad yang ditujukan untuk
memperoleh keuntungan. Terdiri dari akad investasi yang hasilnya tidak pasti seperti akad
mudharabah dan musyarakah; serta akad jual beli dan sewa menyewa yang hasil atau
keuntungannya pasti seperti akad murabahah, salam, istishna' dan ijarah. Akad yang
hasilnya tidak pasti tidak bisa diubah menjadi akad dengan hasil yang pasti karena akan
menimbulkan riba. Demikian juga sebaliknya akad dengan hasil pasti tidak boleh diubah
menjadi akad dengan hasil tidak pasti karena akan terjadi gharar atau ketidakjelasan. Dari
sisi kepastian hasil yang diperoleh, akad ini dapat dibagi 2, yaitu sebagai berikut:
a. Natural Uncertainty Contact: merupakan kontrak yang diturunkan dari teori
pencampuran, di mana pihak yang bertransaksi saling mencampurkan asset yang
mereka miliki menjadi satu, kemudian menanggung risiko bersama-sama untuk
mendapatkan keuntungan. Oleh sebab itu, kontrak jenis ini tidak memberikan imbal
hasil yang pasti, baik nilai imbl hasil maupun waktu. Contoh yang termasuk dalam
kontrak ini adalah: musyarakah termasuk di dalamnya mudharabah, muzaraah,
musaqah, dan mukharabah.
b. Natural Certainty Contract: merupakan kontrak yang diturunkan dari teori
pertukaran, di mana kedua belah pihak saling mempertukarkan asset yang
dimilikinya, sehingga objek pertukarannya (baik barang maupun jasa) pun harus
ditentukan di awal akad engan pasti tentang jumlah, mutu, harga, dan waktu
penyerahan. Dalam kondisi ini secara tidak langsung kontrak kontrak jenis ini akan
memberikan imbal hasil yang tetap dan pasti karena sudah diketahui ketika akad.
Contoh akad ini adalah: akad jual beli (baik penjualan tunai, penjualan tangguh, salam
dan istishna) maupun akad sewa (ijarah maupun IMBT.

Jenis Akad dalam Syariah


QLUHWMJGBCNPK ia u a b r r a a b a h
denhkuaior a h h,d l ,,
HncSahvgro h ha a ,l a w a d m ,
adeWrIlitf s a lq t a a ia sh h h n a ,
,irdbInHaP j a ia a r a h &
RntWhIBgair M ,a a B h k T
ngaKMesok fa , f
($iHaultf G ls a a a d i
d(nahyiSl aha i )
Atke a
syrl a
shf
e
t )

Konsep Keuntungan dalam Syariah


Islam tidak melarang seorang pebisnis muslim untuk mendapatkan keuntungan yang
besar dari aktivitas bisnis. Karena memang pada dasarnya semua aktivitas bisnis adalah
termasuk dalam aspek muamalah yang memiliki dasar kaidah memperbolehkan segala
sesuatu sepanjang diperoleh dan digunakan dengan cara-cara yang dibenarkan syariah.
Point penting yang harus diingat, bahwa laba (keuntungan) dalam bisnis syariah tidak
selalu identik dengan materil, pertumbuhan aset atau harta. Laba dalam Islam memiliki dua
orientasi yaitu materil dan non-materil. Aspek materil dari laba dimaknai dengan
penambahan harta yang halal dan bersih dari seorang pebisnis muslim. Sedang aspek non-
materil, laba sangat erat kaitannya dengan : ketakwaan, kesabaran, bersyukur, mengikuti
perintah Rasullullah SAW serta dipelihara dari kekikiran.
Dampak dari implementasi konsep laba dalam Islam adalah semua pebisnis dalam
menjalankan usaha akan selalu menjaga diri dari perbuatan tercela, tidak amanah, penipuan,
peng-rusakan lingkungan, dan perbuatan tercela lainnya yang dilarang syariah. Keuntungan
yang di dapat pun tidak akan ter-akumulasi pada diri mereka sendiri melainkan terdistribusi
secara proporsional juga kepada masyarakat kurang mampu. Dalam jangka panjang,
penerapan konsep laba ini akan mengarah pada terciptanya suatu tatanan kehidupan ekonomi
yang sejahtera dan berkeadilan, tatanan kehidupan sosial yang saling menghargai,
menghormati dan tolong menolong di antara seluruh masyarakat.
Dalam akuntansi syariah, transaksi syariah berlandaskan pada prinsip persaudaraan,
keadilan, kemaslahatan, keseimbangan dan universalisme. Ada dua konsep Islam yang sangat
berkaitan dengan pembahasan masalah laba, yaitu :
1. Mekanisme pembayaran zakat
Laba dalam akuntansi syariah berpegang pada dua prinsip utama, yaitu kebenaran dan
keadilan. Sehingga pencatatan laba dalam hal ini pendapatan akrual diakui
keberadaannya, hanya saja dalam penerapan pengambilan atau perhitungan zakatnya baru
dapat diperhitungkan ketika laba tersebut sudah benar ada dalam pendapatan riil.
Selain itu, dalam akuntansi syariah laba diakui ketika adanya harta (uang) yang
dikhususkan untuk perdagangan atau investasi lain yang ada dalam kegiatan riil,
mengoperasikan modal tersebut secara interaktif dengan unsur-unsur yang lain lain
yang terkait untuk produksi, seperti usaha dan sumber-sumber alam.
Keuntungan penggunaan laba sebagai dasar pembayaran zakat adalah dapat mengurangi
masalah-masalah yang berkaitan dengan konflik kepentingan, terjadinya. window
dreasing, dan kecurangan dalam penyajian dan pengungkapan laporan keuangan dapat
diminimalisir sebaik mungkin.
2. Sistem tanpa bunga
Sarana lain selain zakat yang berkaitan dengan pembahasan konsep laba adalah larangan
sistem bunga. Islam melarang sistem penentuan tingkat pengembalian tetap atas modal,
misalnya pengembalian uang tanpa adanya pembagian resiko yang timbul dari
pembayaran angsuran atas pinjaman.

Rukun dan Syarat Akad


Rukun dan syarat sahnya suatu akad ada 3, yaitu sebagai berikut.
1. Pelaku yaitu para pihak yang melakukan akad (penjual dan pembeli, penyewa dan yang
menyewakan, karyawan dan majikan, shahibul maal dan mudharib, mitra dengan mitra
dalam musyarakah, dsb). Untuk pihak yang melakukan akad harus memenuhi syarat yaitu
orang yang merdeka, mukalaf dan orang yang sehat akalnya.
2. Objek akad merupakan sebuah konsekuensi yang harus ada dengan dilakukannya suatu
transaksi tertentu. Objek jual beli adalah barang dagangan, objek mudharabah dan
musyarakah adalah modal dan kerja, objek sewa-menyewa adalah manfaat atas barang
yang disewakan dan seterusnya.
3. Ijab kabul adalah kesepakatan dari para pelaku dan menunjukkan rasa saling rida. Tidak
sah suatu transaksi apabila ada salah satu pihak yang terpaksa melakukannya (QS 4:29),
dan oleh karenanya akad dapat menjadi batal.

Transaksi yang Dilarang


Hukum asal dalam muamalah adalah semuanya diperbolehkan kecuali ada ketentuan
syariah yang melarangnya. Larangan ini dikarenakan beberapa sebab antara lain dapat
membantu berbuat maksiat/melakukan hal yang dilarang Allah, adanya unsur penipuan,
adanya unsur menzalimi pihak yang bertransaksi dan sebagainya.
Setiap transaksi bisnis harus didasarkan pada prinsip kerelaan antara kedua belah
pihak dan tidak bathil yaitu tidak ada pihak yang menzalimi dan dizalimi, sehingga jika ingin
memperoleh hasil harus mau mengeluarkan biaya, dan jika untung harus mau menanggung
risiko (untung muncul bersama risiko).

Hal yang termasuk transaksi yang dilarang adalah sebagi berikut.


1. Semua aktivitas bisnis terkait dengan barang dan jasa yang diharamkan Allah.
Suatu transaksi dilarang karena objek (barang dan/atau jasa) yang ditransaksikan
merupakan objek yang dilarang (haram) dalam hukum agama Islam. Seperti
memperjualbelikan alkohol, narkoba, organ manusia, babi dll.
2. Riba
Riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam tarnsaksi bisnis tanpa adanya pengganti
(iwad) yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut (Imam Sarakhzi). Jenis-jenis
riba :
a. Riba Nasii`ah.
Riba Nasii`ah adalah tambahan yang diambil karena penundaan pembayaran utang
untuk dibayarkan pada tempo yang baru, sama saja apakah tambahan itu merupakan
sanksi atas keterlambatan pembayaran hutang, atau sebagai tambahan hutang baru.
Misalnya, si A meminjamkan uang sebanyak 200 juta kepada si B; dengan perjanjian
si B harus mengembalikan hutang tersebut pada tanggal 1 Januari 2009; dan jika si B
menunda pembayaran hutangnya dari waktu yang telah ditentukan (1 Januari 2009),
maka si B wajib membayar tambahan atas keterlambatannya; misalnya 10% dari total
hutang. Tambahan pembayaran di sini bisa saja sebagai bentuk sanksi atas
keterlambatan si B dalam melunasi hutangnya, atau sebagai tambahan hutang baru
karena pemberian tenggat waktu baru oleh si A kepada si B. Tambahan inilah yang
disebut dengan riba nasiiah.
b. Riba Fadlal.
Riba fadlal adalah riba yang diambil dari kelebihan pertukaran barang yang sejenis.
Dalil pelarangannya adalah hadits yang dituturkan oleh Imam Muslim.
c. Riba al-Yadd.
Riba al-Yadd yang disebabkan karena penundaan pembayaran dalam pertukaran
barang-barang. Dengan kata lain, kedua belah pihak yang melakukan pertukaran uang
atau barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan serah terima.
d. Riba Qardl.
Riba qaradl adalah meminjam uang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan
atau keuntungan yang harus diberikan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman.
3. Penipuan (Tadlis,)
Tadlis adalah sebuah situasi di mana salah satu dari pihak yang bertransaksi berusaha
untuk menyembunyikan informasi dari pihak yang lain (unknown to one party) dengan
maksud untuk menipu pihak tersebut atas ketidaktahuan akan informasi objek yang
diperjualbelikan. Hal ini bisa penipuan berbentuk kuantitas (quantity), kualitas (quality),
harga (price), ataupun waktu penyerahan (time of delivery) atas objek yang
ditransaksikan. Sebagai contoh : apabila kita menjual hp second dengan kondisi baterai
yang sudah sangat lemah, ketika kita menjual hp tersebut tanpa memberitahukan
(menutupi) kepada pihak pembeli, maka transaksi yang kita lakukan menjadi haram
hukumnya
4. Perjudian
Transaksi perjudian adalah transaksi yang melibatkan dua pihak atau lebih, di mana
mereka menyerahkan uang/harta kekayaan lainnya, kemudian mengadakan permainan
tertentu, baik dengan kartu, adu ketangkasan, kuis sms, tebak skor bola, atau media
lainnya.Pihak yang menang berhak atas hadiah yang dananya dikumpulkan dari
kontribusi para pesertanya. Sebaliknya bila dalam undian itu kalah, maka uangnya pun
harus direlakan untuk diambil oleh yang menang.
Semua bentuk perjudian itu dilarang, dengan nama apaunmisalnya lotere, kuis sms,
taruhan maupun bentuk spekulasi lainnya.
5. Gharar
Gharar adalah penampilan yang menimbulkan kerusakan (harta) atau sesuatu yang
tampaknya menyenangkan tetapi hakekatnya menimbulkan kebencian, oleh karena itu
dikatakan: al-dunya mata`ul ghuruur artinya dunia itu adalah kesenangan yang
menipu. Dengan demikian menurut bahasa, arti gharar adalah al-khida` (penipuan), suatu
tindakan yang didalamnya diperkirakan tidak ada unsur kerelaan. Gharar dari segi fiqih
berarti penipuan dan tidak mengetahui barang yang diperjualbelikan dan tidak dapat
diserahkan. Gharar terjadi apabila, kedua belah pihak saling tidak mengetahui apa yang
akan terjadi, kapan musibah akan menimpa, apakah minggu depan, tahun depan, dan
sebagainya. Ini adalah suatu kontrak yang dibuat berasaskan andaian (ihtimal) semata.
Inilah yang disebut gharar (ketidak jelasan) yang dilarang dalam Islam, kehebatan sistem
Islam dalam bisnis sangat menekankan hal ini, agar kedua belah pihak tidak didzalimi
atau terdzalimi. Karena itu Islam mensyaratkan beberapa syarat sahnya jual beli, yang
tanpanya jual beli dan kontrak menjadi rusak, diantara syarat-syarat tersebut adalah:
a. Timbangan yang jelas (diketahui dengan jelas berat jenis yang ditimbang)
b. Barang dan harga yang jelas dan dimaklumi (tidak boleh harga yang majhul (tidak
diketahui ketika beli).
c. Mempunyai tempo tangguh yang dimaklumi
d. Ridha kedua belah pihak terhadap bisnis yang dijalankan.
Imam an-Nawawi menyatakan, larangan gharar dalam bisnis Islam mempunyai
perananan yang begitu hebat dalam menjamin keadilan, jika kedua belah pihak saling
meridhai, kontrak tadi secara dztnya tetap termasuk dalam kategori bay al-gharar yang
diharamkkan. Secara umum, bentuk Gharar dapat dibagi menjadi 4 :
a. Gharar dalam Kuantitas
Misalnya seorang petani tembakau sudah membuat kesepakatan jual beli dengan
pabrik rokok atas tembakau yang bahkan belum panen. Pada kasus ini, pada kedua
belah pihak baik petani tembakau maupun pabrik rokok mengalami ketidakpastian
mengenai berapa pastinya jumlah tembakau yang akan panen. Sehingga terdapat
gharar atas barang yang ditransaksikan.
b. Gharar dalam Kualitas
Misalnya seorang pembeli sudah membuat kesepakatan untuk membeli anak kambing
yang masih berada di dalam kandungan. Pada kasus ini, baik penjual maupun pembeli
tidak mengetahui dengan pasti apakah nantinya anak kambing ini akan lahir dengan
sehat, cacat, atau bahkan mati. Sehingga terdapat ketidakpastian akan barang yang
diperjualbelikan.
c. Gharar dalam Harga
Misalnya Tn. A menjual motornya kepada Tn. B dengan harga Rp 8.000.000 jika
dibayar lunas dan Rp 10.000.000 jika dicicil selama 10 bulan. Pada kasus ini, tidak
ada kejelasan mengenai harga mana yang dipakai. Bagaimana jika Tn. B dapat
melunasi motornya dalam waktu kurang dari 10 bulan? Harga mana yang akan
dipakai? Hal inilah yang menjadi suatu ketidakpastian dalam transaksi.
d. Gharar menyangkut Waktu Penyerahan
Misalnya Basti sudah lama menginginkan handphone milik Miro. Handphone tersebut
bernilai Rp 4.000.000 di pasaran. Suatu saat, handphone tersebut hilang. Miro
menawarkan Basti untuk membeli handphone tersebut seharga Rp 1.500.000 dan
barang akan segera diserahkan begitu ditemukan. Dalam kasus ini, tidak ada kepastian
mengenai kapan handphone tersebut akan ditemukan, dan bahkan mungkin tidak akan
ditemukan. Hal ini menimbulkan gharar dalam waktu penyerahan barang transaksi.
6. Ikhtikar
Penimbunan barang (ikhtikar) adalah membeli sesuatu yang dibutuhkan masyarakat,
kemudian menyimpannya, sehingga barang tersebut berkurang di pasaran dan
mengakibatkan peningkatan harga. Penimbunan seperti ini dilarang karena dapat
merugikan orang lain dengan kelangkaan/sulit didapat dan harganya yang tinggi. Dengan
kata lain penimbun mendapatkan keuntungan yang besar di atas penderitaan orang lain.
7. Monopoli
Monopoli adalah sebuah situasi di mana produsen/penjual mengambil keuntungan di atas
keuntungan normal dengan cara mengurangi supply (penawaran) agar harga produk yang
dijualnya naik. Ikhtikar ini biasanya dilakukan dengan membuat entry barrier (hambatan
masuk pasar), yakni menghambat produsen/penjual lain masuk ke pasar agar ia menjadi
pemain tunggal di pasar (monopoli), kemudian mengupayakan adanya kelangkaan barang
dengan cara menimbun stock (persediaan), sehingga terjadi kenaikan harga yang cukup
tajam di pasar. Ketika harga telah naik, produsen tersebut akan menjual barang tersebut
dengan mengambil keuntungan yang berlimpah. Sebagai contoh: ketika akan dirumorkan
oleh pemerintah bahwa tarif bbm akan dinaikan, maka marak terjadinya penimbunan bbm
oleh para penjual nakal. Hal ini mereka lakukan agar dapat menjual bbm dengan tarif
yang sudah dinaikkan, sehingga mereka mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
8. Bai an Najsy
Bai an Najsy adalah sebuah situasi di mana konsumen/pembeli menciptakan demand
(permintaan) palsu, seolah-olah ada banyak permintaan terhadap suatu produk sehingga
harga jual produk itu akan naik. Cara yang bisa ditempuh bermacam-macam, seperti
menyebarkan isu, melakukan order pembelian, dan sebagainya. Ketika harga telah naik
maka yang bersangkutan akan melakukan aksi ambil untung dengan melepas kembali
barang yang sudah dibeli, sehingga akan mendapatkan keuntungan yang besar. Sebagai
contoh: ini sangat rentan terjadi ketika pelelangan suatu barang. Biasanya yang
mengadakan pelelangan bekerja sama dengan beberapa peserta pelelangan dimana
mereka bertugas untuk berpura-pura melakukan penawaran terhadap barang yang
dilelang, dengan kata lain untuk menaikkan harga barang yang dilelang tersebut.
9. Suap
Suap dilarang karena suap dapat merusak system yang ada di dalam masyarakat, sehingga
menimbulkan ketidakadilan social dan persamaan perlakuan. Pihak yang membayar suap
pasti akan diuntungkan dibandingkan yang tidak membayar.
10. Taalluq
Taalluq terjadi apabila ada dua akad saling dikaitkan dimana berlakunya akad pertama
tergantung pada akad kedua; sehingga dapat mengakibatkan tidak terpenuhinya rukun
(sesuatu yang harus ada dalam akad) yaitu objek akad. Misalkan A bersedia menjual
barang X ke B asalkan B kembali menjual barang tersebut kepada A; atau A bersedia
menerima pesanan B asalkan C dapat memnuhi pesanan A.
11. Bai al inah
Misalnya, A menjual secara tunai pada B kemudian A membeli kembali barang yang sama
dari B secara kredit. Dari contoh ini, kita lihat ada dua pihak yang seolah-olah melakukan
jual beli, namun tujuannya bukan untuk mendapatkan barang melainkan A mengharapkan
untuk mendapatkan uang tunai, sedangkan B mengharapkan kelebihan pembayaran.
12. Talaqqi al-rukban
Yang dimaksud dengan jalab adalah barang yang diimpor dari tempat lain. Sedangkan
rukban yang dimaksud adalah pedagang dengan menaiki tunggangan. Adapun yang
dimaksud talaqqil jalab atau talaqqi rukban adalah sebagian pedagang menyongsong
kedatangan barang dari tempat lain dari orang yang ingin berjualan di negerinya, lalu ia
menawarkan harga yang lebih rendah atau jauh dari harga di pasar sehingga barang para
pedagang luar itu dibeli sebelum masuk ke pasar dan sebelum mereka mengetahui harga
sebenarnya. Jual beli seperti ini diharamkan menurut jumhur (mayoritas ulama) karena
adanya pengelabuan.

Kerangka Pelaporan Syariah


1. Pemakai Laporan Keuangan meliputi:
a. Investor sekarang dan investor potensial, hal ini karena mereka harus memutuskan
apakah akan membeli, menahan atau menjual investasi atau penerimaan dividen.
b. Pemilik dana qardh, untuk mengetahui apakah dana qardh dapat dibayar pada saat
jatuh tempo.
c. Pemilik dana syirkah temporer, untuk pengambilan keputusan pada investasi yang
memberikan tingkat pengembalian yang bersaing dan aman.
d. Pemilik dana titipan, untuk memastikan bahwa titipan dana dapat diambil setiap saat,
e. Pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah, dan wakaf, untuk informasi tentang
sumber dan penyaluran dana tersebut.
f. Pengawas syariah, untuk menilai kepatuhan pengelolaan lembaga syariah terhadap
prinsip syariah.
g. Karyawan, untuk memperoleh informasi tentang stabilitas dan profitabilitas entitas
syariah.
h. Pemasok dan mitra usaha lainnya, untuk memperoleh informasi tentang kemampuan
entitas membayar utang pada saat jatuh tempo.
i. Pelanggan, untuk memperoleh informasi tentang kelangsungan hidup entitas syariah.
j. Pemerintah serta lembaga-lembaganya, untuk memperoleh informasi tentang aktivitas
entitas syariah, perpajakan serta kepentingan nasional lainnya.
k. Masyarakat, untuk memperoleh informasi tentang kontribusi entitas terhadap
masyarakat dan Negara.

2. Paradigma Transaksi Syariah


Transaksi syariah didasarkan pada paradigma dasar bahwa alam semesta diciptakan oleh
Tuhan sebagai amanah (kepercayaan Ilahi) dan sarana kebahagiaan hidup bagi seluruh
umat manusia untuk mencapai kesejahteraan hakiki secara material dan spiritual (al-
falah). Konsekuensinya parameter baik dan buruk, benar dan salahnya aktivitas usaha
adalah syariah dan akhlak.

3. Asas Transaksi Syariah


Transaksi syariah berasaskan pada prinsip:
a. Persaudaraan (ukhuwah), prinsip ini didasarkan atas prinsip saling mengenal (taaruf),
saling memahami (tafahum), saling menolong (taawun), saling menjamin (takaful),
saling bersinergi dan saling beraliansi (tahaluf).
b. Keadilan {adalah), yang berarti selalu menempatkan sesuatu hanya pada yang berhak
dan sesuai dengan posisinya.
c. Kemaslahatan (maslahah), yaitu segala bentuk kebaikan dan manfaat yang berdimensi
duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif.
Kemaslahatan harus memenuhi dua unsur yaitu: halal (patuh terhadap ketentuan
syariah) dan thayib (membawa kebaikan dan bermanfaat).
d. Keseimbangan (tawazun), yaitu keseimbangan antara aspek material dan spiritual,
antara aspek privat dan publik, antara sektor keuangan dan sektor riil, antara bisnis
dan sosial serta antara aspek pemanfaatan serta pelestarian.
e. Universalisme (syumuliyah), di mana esensinya dapat dilakukan oleh, dengan dan
untuk semua pihak yang berkepentingan tanpa membedakan suku, agama, ras, dan
golongan sesuai dengan semangat kerahmatan semesta (rahmatan lil alamin).

4. Karakteristik Transaksi Syariah


Implementasi transaksi yang sesuai dengan paradigma dan asas transaksi syariah harus
memenuhikarakteristik dan persyaratan antara lain:
a. Transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling paham dan saling rida.
b. Prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik (thayib).
c. Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai, bukan sebagai
komoditas.
d. Tidak mengandung unsur riba.
e. Tidak mengandung unsur kezaliman.
f. Tidak mengandung unsur maysir.
g. Tidak mengandung unsur gharar.
h. Tidak mengandung unsur haram.
i. Tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value ofmoney) karena
keuntungan yang didapat dalam kegiatan usaha terkait dengan risiko yang melekat
pada kegiatan usaha tersebut sesuai dengan prinsip al-ghunmu hilghurmi (nogain
without accompanying risk).
j. Transaksi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan benar serta untuk
keuntungan semua pihak tanpa merugikan pihak lain sehingga tidak diperkenankan
menggunakan standar ganda harga untuk satu akad serta tidak menggunakan dua
transaksi bersamaan yang berkaitan (taalluq) dalam satu akad.
k. Tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan (najasy), maupun melalui
rekayasa penawaran (ihtikar).
l. Tidak mengandung unsur kolusi dengan suap-menyuap (risywah).

5. Tujuan dan Komponen Laporan Keuangan Entitas Syariah


Tujuan utama laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi, menyangkut posisi
keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu entitas syariah yang bermanfaat
bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Beberapa tujuan
lainnya adalah:
a. Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan
usaha.
b. Informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah, serta informasi aset,
kewajiban, pendapatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah bila ada
dan bagaimana perolehan dan penggunaannya.
c. Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab entitas syariah
terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya pada tingkat
keuntungan yang layak.
d. Informasi mengenai tingkat keuntungan investasi yang diperoleh penanam modal dan
pemilik dana syirkah temporer; dan informasi mengenai pemenuhan kewajiban
(obligation) fungsi sosial entitas syariah termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat,
infak, sedekah, dan wakaf.
Komponen laporan keuangan entitas syariah, terdiri dari:
a. Laporan Posisi Keuangan
Unsur-unsurnya terdiri dari aset, liabilitas, dana syirkah temporer dan ekuitas.
Liabilitas dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan.
Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima sebagai investasi dengan jangka
waktu tertentu dari individu dan pihak lainnya di mana entitas syariah mempunyai hak
untuk mengelola dan menginvestasikan dana tersebut dengan pembagian hasil
investasi berdasarkan kesepakatan. Dana syirkah temporer tidak dapat digolongkan
sebagai liabilitas, karena entitas syariah tidak berkewajiban untuk mengembalikan
dana awal dari pemilik dana ketika mengalami kerugian kecuali akibat kelalaian atau
wanprestasi entitas syariah. Namun demikian, dana syirkah temporer juga tidak dapat
digolongkan sebagai ekuitas karena mempunyai jangka waktu jatuh tempo dan tidak
memiliki hak kepemilikan yang sama dengan pemegang saham.
b. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain.
Unsur-unsur didalamnya terdiri dari penghasilan, beban, dan hak pihak ketiga atas
bagi hasil dana syirkah temporer. Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah
temporer adalah bagian bagi hasil pemilik dana atas keuntungan dan kerugian hasil
investasi bersama entitas syariah dalam suatu periode laporan keuangan. Hak pihak
ketiga atas bagi hasil tidak dapat dikelompokan sebagai beban (ketika untung) atau
pendapatan (ketika rugi). Namun, hak pihak ketiga atas bagi hasil merupakan alokasi
keuntungan dan kerugian kepada pemilik dana atas investasi yang dilakukan bersama
dengan entitas syariah.
c. Laporan Perubahan Ekuitas
d. Laporan Arus Kas
e. Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat
f. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan
g. Catatan atas Laporan Keuangan
Untuk perbankan syariah ditambah 1 (satu) laporan lagi yaitu Laporan Rekonsiliasi
Pendapatan dan Bagi Hasil.

A. Asumsi Dasar dan Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan


Asumsi Dasar:
Dasar Akrual
Laporan keuangan disajikan atas dasar akrual, namun, dalam penghitungan pendapatan
untuk tujuan pembagian hasil usaha menggunakan dasar kas. Laporan keuangan disajikan
atas dasar akrual, maksudnya bahwa pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada
saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan
diungkapkan dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada
periode yang bersangkutan.
Kelangsungan Usaha
Laporan keuangan biasanya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha entitas syariah
yang akan melanjutkan usahanya di masa depan.

Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan:


a.Dapat dipahami
b. Relevan
Relevan berarti berguna untuk peramalan (predictive) dan penegasan (confirmatory)
atas transaksi yang berkaitan satu sama lain serta dipengaruhi oleh tingkat
materialitas. Namun dasar penerapan dalam bagi hasil harus mencerminkan jumlah
yang sebenarnya tanpa mempertimbangkan konsep materialitas.
c.Keandalan, informasi harus disajikan jujur, netral, lengkap, pertimbangan sehat dan
sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi yang sesuai dengan prinsip syariah dan
bukan hanya bentuk hukumnya (substansi mengungguli bentuk). Dalam syariah
substansi dan bentuk setara. Misalnya untuk sewa menyewa dalam syariah hanya
dikenal operating lease.
d. Dapat dibandingkan.

Kendala Informasi yang Relevan dan Andal:


Kendala informasi yang relevan dan andal terdapat dalam hal sebagai berikut:
a. Tepat waktu.
b. Keseimbangan antara biaya dan manfaat

Pengukuran Unsur Laporan Keuangan:


a. Biaya historis
Aset dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai
wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh asset tersebut pada saat
perolehan.
Kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban, atau
dalam keadaan tertentu (misalnya, pajak penghasilan), dalam jumlah kas (atau setara
kas) yang diharapkan akan dibayar untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan
usaha yang normal.
Dasar ini adalah dasar pengukuran yang lazim digunakan entitas syariah dalam
penyusunan laporan keuangan.
b. Biaya kini
Aset dinilai dalam jumlah kas (atau setara kas) yang seharusnya dibayar bila asset
yang sama atau setara kas diperoleh sekarang.
Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang mungkin akan
diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban sekarang.
c. Nilai realisasi/penyelesaian
Aset dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang dapat diperoleh sekarang
dengan menjual asset dalam pelepasan normal.
Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian yaitu jumlah kas (atau setara kas)
yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi
kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
Dasar pengukuran ini walaupun dapat digunakan tetapi tidak mudah untuk diterapkan
dalam kondisi saat ini. Mengingat manajemen harus menjamin informasi yang
disajikan adalah andal serta dapat dibandingkan.
Ilustrasi Laporan Keuangan Bank Syariah

B. Akad Mudharabah

1. Pengertian

Mudharabah berasal dari kata adhdharby fil ardhi yaitu bepergian untuk urusan dagang.
Qiradh yang berasal dari kata alqardhu yang berarti potongan, karena pemilik
memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan memperoleh sebagian
keuntungan. Secara teknis mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara
pemilik dana dan pengelola dana untuk melakukan kegiatan usaha, laba dibagi
atas dasar nisbah bagi hasil menurut kesepakatan kedua belah pihak, sedangkan
bila terjadi kerugian akan ditanggung oleh si pemilik dana kecuali disebabkan
oleh misconduct, negligence atau violation oleh pengelola dana.

Akad mudharabah merupakan suatu transaksi pendanaan atau investasi yang berdasarkan
kepercayaan. Kepercayaan merupakan unsur terpenting dalam akad mudharabah,
yaitu kepercayaan dari pemilik dana kepada pengelola dana. Oleh karena
kepercayaan merupakan unsur terpenting maka mudharabah dalam istilah bahasa
Inggris disebut trust financing. Pemilik dana yang merupakan investor disebut
beneficial ownership atau sleeping partner dan pengelola dana disebut managing
trustee atau labour partner. (Syahdeini, 1999)

Kepercayaan ini penting dalam akad mudharabah karena pemilik dana tidak boleh ikut
campur di dalam manajemen perusahaan atau proyek yang dibiayai dengan dana
pemilik dana tersebut, kecuali sebatas memberikan saran-saran dan melakukan
pengawasan pada pengelola dana. Apabila usaha rersebut mengalami kegagalan
dan terjadi kerugian yang mengakibatkan sebagian atau bahkan seluruh modal
yang ditanamkan oleh pemilik dana habis, maka yang menanggung kerugian
keuangan hanya pemilik dana. Sedangkan pengelola dana sama sekali tidak
menanggung atau tidak harus mengganti kerugian atas modal yang hilang, kecuali
kerugian tersebut terjadi sebagai akibat kesengajaan, kelalaian atau pelanggaran
akad yang dilakukan oleh pengelola dana.

Dalam mudharabah, pemilik dana tidak boleh mensyaratkan sejumlah tertentu untuk
bagiannnya karena dapat dipersamakan dengan riba yaitu meminta kelebihan atau
imbalan tanpa ada faktor penyeimbang (iwad) yang diperbolehkan syariah.

Hikmah dari sistem mudharabah adalah dapat memberi keringanan kepada manusia.
Terkadang ada sebagian orang yang memiliki harta, tetapi tidak mampu untuk
membuatnya menjadi produktif. Terkadang pula, ada orang yang tidak memiliki
harta tetapi ia mempunyai kemampuan untuk memproduktifkannya. Sehingga
dengan akad mudharabah kedua belah pihak dapat mengambil manfaat dari kerja
sama yang terbentuk.

2. Skema Akad

Keterangan :

a. Pemilik dana dan pengelola dana meyepakati akad mudharabah

b. Proyek usaha sesuai akad mudharabah dikelola pengelola dana

c. Proyek usaha menghasilkan laba atau rugi

d. Jika untung, dibagi sesuai nisbah

e. Jika Rugi ditanggung peniilik dana

3. Penjelasan Akad
Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama
(pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola
dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai
kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.
Usaha mudharabah dianggap mulai berjalan sejak dana atau modal usaha
mudharabah diterima oleh pengelola dana

4. Jenis Akad

Menurut PSAK 105, kontrak mudharabah dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu mudharabah
muqayyadah, mudharabah muthlaqah, dan mudharabah musytarakah.
1) Mudharabah Muqayyadah

Mudharabah muqayyadah adalah bentuk kerja sama antara pemilik dana dan
pengelola, dengan kondisi pengelola dikenakan pembatasan oleh pemilik dana
dalam hal tempat, cara, dan/atau objek investasi. Dalam transaksi mudharabah
muqayyadah, bank syariah bersifat sebagai agen yang menghubungkan
shahibul maal dengan mudharib. Imbalan yang diterima oleh bank sebagai
agen dinamakan fee dan bersifat tetap tanpa dipengaruhi oleh tingkat
keuntungan yang dihasilkan oleh mudharib. Fee yang diterima oleh bank
dilaporkan dalam laporan laba rugi sebagai pendapatan operasi lainnya.
Mudharabah muqayyadah biasa disebut dengan mudharabah terikat (restricted
mudharabah).

2) Mudharabah Muthlaqah

Mudharabah muthlaqah adalah bentuk kerjasama antara pemilik dana dan pengelola
tanpa adanya pembatasan oleh pemilik dana dalam hal tempat, cara, maupun
objek investasi. Dalam hal ini, pemilik dana memberi kewenangan yang
sangat luas kepada mudharib untuk menggunakan dana yang diinvestasikan.
Kontrak mudharabah muthlaqah dalam perbankan syariah digunakan untuk
tabungan maupun pembiayaan. Mudharabah muthlaqah biasa juga disebut
dengan mudharabah mutlak atau mudharabah tidak terikat (unrestricted
mudharabah). Rukun transaksi mudharabah meliputi dua pihak transaktor
(pemilik modal dan pengelola), objek akab mudharabah (modal dan usaha),
ijab dab kabul atau persetujuan kedua belah pihak.

3) Mudharabah Musytarakah

Mudharabah Musytarakah adalah mudharabah dimana pengelola dana menyertakan


modal atau dananya dalam kerja sama investasi. Di awal kerjasama, akad yang
disepakati adalah akad mudharabah dengan modal 100% dari pemilik dana,
setelah berjalannya operasi usaha dengan pertimbangan tertentu dan
kesepakatan dengan pemilik dana, pengelola dana ikut menanamkan modalnya
dalam usaha tersebut.

5. Dasar Syariah (Sumber Hukum)

Menurut ijmak Ulama, mudharabah hukumnya jaiz (boleh). Hak ini dapat diambil dari
kisah Rosululloh yang pernah melakukan mudharabah dengan Siti Khadijah. Siti
Khadijah bertindak sebagai pemilik dana dan Rosulullah sebagai pengelola dana.
Lalu Rasulullah membawa barang dagangannya ke negeri Syam.

1) Al-Quran
Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah
karunia Alloh SWT. (QS 62:10)

. Maka, jika sebagian kamu memercayai sebagian yang lain, hendaklah yang
dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada
Alloh Tuhannya . (QS 2:283)

2) As-Sunnah

Dari Shalih bin Suaib r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, tiga hal yang didalamnya
terdapat keberkatan : jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan
mencampuradukkan dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk
dijual. (HR. Ibnu Majah)

Abbas bin Abdul Muthalib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia


mensyaratkan kepada pengelola dananya agar tidak mengarungi lautan dan
tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu
dilanggar, ia (pengelola dana) harus menanggung resikonya. Ketika
persyaratan yang ditetapkan Abbas didengar Rasululloh SAW, beliau
membenarkannya. (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

6. Rukun dan Ketentuan Syariah

Rukun mudharabah ada empat, yaitu :

a. Pelaku, terdiri atas : pemilik dana dan pengelola dana

b. Objek mudharabah, berupa : modal dan kerja

c. Ijab Kabul/serah terima

d. Nisbah Keuntungan

Ketentuan syariah, adalah sebagai berikut.

1. Pelaku (Transaktor )

Investor biasa disebut dengan istilah shahibul maal atau rabhul maal, sedang pengelola
modal biasa disebut dengan istilah mudharib. Memiliki kompetensi
beraktivitas antara lain mampu membedakan yang baik dan yang buruk dan
tidak dalam keadaan tercekal seperti pailit.

a. Pelaku harus cakap hukum dan baligh.


b. Pelaku akad mudharabah dapat dilakukan sesama atau dengan nonmuslim

c. Pemilik dana tidak boleh ikut campur dalam pengelolaan usaha tetapi ia
boleh mengawasi.

2. Objek mudharabah (Modal dan Kerja)

a. Modal

a) Modal yang diserahkan dapat berbentuk uang atau aset lainnya (dinilai
sebesar nilai wajar), harus jelas jumlah dan jenisnya.

b) Modal harus tunai dan tidak utang.

c) Modal harus diketahui dengan jelas jumlahnya sehingga dapat


dibedakan dari keuntungannya.

d) Pengelola dana tidak diperkenankan untuk memudharabahkan kembali


modal mudharabahnya.

e) Pengelola dana tidak diperbolehkan untuk meminjamkan modal


kepada orang lain kecuali atas seiizin pemilik dana.

f) Pengelola dana memiliki kebebasan untuk mengatur modal menurut


kebijaksanaan dan pemikirannya sendiri, selama tidak dilarang secara
syariah.

b. Kerja

a) Kontribusi pengelola dana dapat berbentuk keahlian, keterampilan.


Selling skill, management skill dan lain-lain.

b) Kerja adalah hak pengelola dana dan tidak boleh diintervensi oleh
pemilik dana.

c) Pengelola dana harus menjalankan usaha sesuai dengan syariah.

d) Pengelola dana harus mematuhi semua ketetapan yang ada dalam


kontrak.

e) Dalam hal pemilik dana tidak boleh melakukan kewajiban atau


melakukan pelanggarang terhadap kesepakatan, pengelola dana sudah
menerima modal dan sudah bekerja maka pengelola dana berhak
mendapatkan imbalan/ganti rugi/upah.
Modal yang diserahkan dapat berbentuk uang atau barang yang dirinci berapa nilai
uangnya. Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan pada
mudharib, baik secara bertaha maupun tidak sesuai dengan kesepakatan
dalam akad. Sementara itu, kerja yang diserahkan dapat berbentuk
keahlian menghasilkan barang atau jasa, keahlian mengelola, keahlian
menjual, dan keahlian maupun keterampilan lainnya. Tanpa dua objek mi,
mudharabah tidak dibenarkan. Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 7
Tahun 2000 tentang Investasi mudharabah menyatakan bahwa kegiatan
usaha oleh pengelola udharib) sebagai perimbangan modal yang
disediakan oleh penyedia dana harus memperhatikan hal-hal berikut.

a) Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib, tanpa campur tangan


penyedia dana, tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan
pengawasan.

b) Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola


sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan
mudharabah, yaitu keuntungan.

c) Pengelola tidak boleh menyalahi hukum syariah Islam dalam


tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah dan harus
mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktivitas itu.

3. Ijab dan Kabul

Ijab dan kabul atau persetujuan kedua belah pihak dalam mudharabah yang merupakan
wujud dari prinsip sama-sama rela (an-taraddin minkum). Dalam hal ini,
kedua belah pihak harus secara rela bersepakat unutk mengikatkan diri dalam
akad mudharabah.

4. Nisbah Keuntungan

Nisbah keuntungan mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh kedua belah
pihak yang terikat akad mudharabah. Syarat pembagian keuntungan dalam
investasi mudharabah meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Nisbah adalah besaran yang digunakan untuk pembagian keuntungan,


mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh kedua pihak yang
bermudharabah atas keuntungan yang diperoleh. Nisbah keuntungan harus
diketahui dengan jelas oleh kedua belah pihak dan bersifat proporsional
atau dinyatakan dalam angka persentase (nisbah) dari keunutngan sesuai
kesepakatan, inilah yang akan mencegah terjadinya perselisihan antara
kedua belah pihak mengenai cara pembagian keuntungan.

b. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.


c. Pemilik dana tidak boleh meminta pembagian keuntungan dengan
menyatakan nilai nominal tertentu karena dapat menimbulkan riba.

d. Harus diperuntukkan bagi kedua belah pihak dan tidak boleh disyaratkan
hanya untuk satu pihak.

e. Penyedia dana menanggung semua kerugian dari mudharabah dan


pengelola tidak boleh menanggung kerugian apa pun kecuali diakibatkan
dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan.

f. Sekiranya terjadi kerugian yang disebabkan oleh kelalaian mudharib, maka


mudharib wajib menanggung segala kerugian tersebut.

Kelalaian antara lain ditunjukkan oleh tidak terpenuhinya persyaratan yang ditentukan
di dalam akad; mengalami kerugian tanpa adanya kondisi diluar kemampuan
(force majeur) yang lazim dan/atau yang telah ditentukan dalam akad; dan
hasil putusan dari badan arbitrase atau pengadilan.

Apabila pengelola dana diperbolehkan oleh pemilik dana unutk memudharabahkan


kembali modal mudharabah maka pembagian keuntungan untuk kasus seperti
ini, pemilik dana mendapatkan keuntungan sesuai dengan kesepakatan antara
dia dan pengelola dana pertama. Sementara itu bagian keuntungan dai
pengelola dana pertama dibagi dengan pengelola dana yang kedua sesuai
dengan porsi bagian yang telah disepakati antara keduanya.

Apabila terjadi kerugian ditanggung oleh pemilik dana kecuali ada kelalaian atau
pelanggaran kontrak oleh pengelola dana, cara menyelesaikannnya adalah
sebagai berikut.

a. Diambil terlebih dahulu dari keuntungan karena keuntungan merupakan


pelindung modal.

b. Bila kerugian melebihi keuntungan, maka baru diambil dari pokok modal.

7. Berakhirnya Akad Mudharabah

Lamanya kerja sama dalam mudharabah tidak tentu dan tidak terbatas, tetapi semua pihak
berhak untuk menentukan jangka waktu kontrak kerja sama dengan
memberitahukan pihak lainnya. Akad mudharabah dapat berakhir karena hal-hal
sebagai berikut (Sabbiq, 2008).

a. Dalam hal mudharabah tersebut dibatasi waktunya.


b. Salah satu pihak memutuskan mengundurkan diri.

c. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal.

d. Pengelola dana tidak menjalankan amanahnya sebagai pengelola usaha untuk


mencapai tujuan sebagaimana dituangkan dalam akad.

e. Modal sudah tidak ada.

Pengawasan Syariah Transaksi Mudharabah

Untuk memastikan kesesuaian syariah pada praktik transaksi mudharabah yang dilakukan
bank, DPS melakukan pengawasan syariah secara periodik. Pengawasan tersebut
berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yang dilakukan untuk
hal-hal sebagai berikut:

a. Meneliti apakah pemberian informasi secara lengkap telah disampaikan oleh


bank kepada nasabah, baik secara tertulis maupun lisan tentang persyaratan
investasi mudharabah telah dilakukan.

b. Menguji apakah perhitungan bagi hasil telah dilakukan sesuai prinsip syariah.

c. Memastikan adanya persetujuan para pihak dalam perjanjian investasi


mudharabah.

d. Memastikan terpenuhinya rukun dan syarat mudharabah.

e. Memastikan bahwa kegiatan investasi yang dibiayai tidak termasuk jenis


kegiatan usaha yang bertentangan dengan syariah.

8. Prinsip Pembagian Hasil Usaha


Pembagian hasil usaha mudharabah dapat dilakukan berdasarkan prinsip bagi hasil
atau bagi laba (profit sharing). Jika berdasarkan prinsip bagi hasil,- maka dasar
pembagian hasil usaha adalah laba bruto (gross profit) bukan total pendapatan
usaha (omzet). Sedangkan dalam prinsip bagi laba, dasar pembagian adalah laba
neto (net profit) yaitu laba bruto dikurangi beban yang berkaitan dengan
pengelolaan modal mudharabah. Pengakuan penghasilan usaha mudharabah
didasarkan pada laporan bagi hasil atas realisasi penghasilan usaha dari pengelola
dana. Tidak diperkenankan mengakui pendapatan dari proyeksi hasil usaha.
9. Penyajian dan Pengungkapan

Penyajian

Investasi mudharabah atau transaksi mudharabah disajikan dalam laporan keuangan (pada
bagian asset) sebesar nilai tercatat (PSAK 105 paragraf 36).
Pengungkapan

Berdasarkan PSAK 105 paragraf 38 dan PAPSI (2006) terdapat beberapa hal yang harus
diungkap dalam transaksi mudharabah. Beberapa hal tersebut adalah sebagai
berikut :

a. Isi kesepakatan utama usaha mudharabah (PSAK 105 paragaraf 38a)

b. Rincian jumlah investasi mudharabah berdasarkan jenisnya (PSAK 105


paragraf 38b)

c. Jumlah investasi mudharabah yang diberikan kepada pihak yang mempunyai


hubungan istimewa (PAPSI, 2006)

d. Jumlah investasi mudharabah yang telah direstrukturisasi dan informasi lain


tentang mudharabah yang direstrukturisasi selam periode berjalan (PAPSI,
2006)

e. Metode yang digunakan untuk menentukan penyisihan khusus dan umum


(PAPSI, 2006)

f. Kebijakan manajemen dan pelaksanaan pengendalian resiko portofolio


investasi mudharabah (PAPSI, 2006)

g. Besarnya investasi mudharabah bermasalah dan penyisihannya untuk setiap


sektor ekonomi (PAPSI, 2006)

h. Kebijakan dan metode yang dipergunakan dalam penanganan mudharabah


bermasalah (PAPSI, 2006)

i. Ikhtisar investasi mudharabah yang dihapus buku (PAPSI, 2006)

j. Kerugian atas penurunan nilai investasi mudharabah (apabila ada) (PAPSI,


2006)
Contoh Penyajian:

Keterangan Pemilik Dana Pengelola Dana


Penyajian Investasi Mudharabah xxx Dana Syirkah Temporer xxx
Penyisihan Kerugian (xxx) Penyisihan Kerugian (xxx)
Nilai Investasi xxx Dana Syirkah Temporer xxx
C. Akad Musyarakah

1. Penjelasan Akad
Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha
tertentu, di mana masing- masing pihak memberikan kontribusi dana dengan
ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian
berdasarkan porsi kontribusi dana. Jika kerugian akibat kelalaian atau kesalahan
mitra aktif atau pengelola usaha, maka kerugian tersebut ditanggung oleh
pengelola usaha musyarakah. Keuntungan yang akan dibagihasilkan berdasarkan
atas realisasi pendapatan usaha. Pihak yang bertanggungjawab mengelola usaha
musyarakah, baik mengelola sendiri atau menunjuk pihak lain disebut mitra aktif.
2. Skema Akad

3. Dasar Hukum

Landasan/dasar hukum dari musyarakah ini antara lain:

maka mereka berserikat pada sepertiga. (Q.S. An-Nisa:12)

Dan, sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka
berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh. (Q.S. Sad: 24).

Dari Abu Hurairah, berkata Rasulullah Saw. Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla
berfirman, Aku piahk ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah
satunya tidak mengkhianati lainnya. (HR. Abu Daud).

Hadits qudsi tersebut menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang


melakukan perkongsian atau kerjasama selama pihak-pihak yang bekerja sama
tersebut saling menjunjung tinggi amanat kebersamaan dan menjauhi
pengkhianatan.

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka musyarakah (syirkah) dapat diartikan dua orang atau
lebih yang bersekutu (berserikat) di mana uang yang mereka dapatkan dari harta
warisan, atau mereka kumpulkan di antara mereka, kemudian di investasikan
dalam perdagangan, industry, atau pertanian dan lain-lain sepanjang sesuai dengan
kesepakatan bersama dan hal tersebut hukumnya boleh.
4. Syarat-Syarat

Dalam bersyarikah ada 5 syarat yang harus dipenuhi yaitu sebagai berikut:

a. Benda (harta dinilai dengan uang).

b. Harta-harta itu sesuai dalam jenis dan macamnya.

c. Harta-harta dicampur.

d. Satu sama lain membolehkan untuk membelanjakan harta itu.

e. Untung rugi diterima dengan ukuran harta masing-masing.


5. Jenis-Jenis

Musyarakah mempunyai 2 jenis yaitu musyarakah pemilikan dan musyarakah akad


(kontrak).

a. Musyarakah pemilikian tercipta karena warisan, wasiat atau kondisi lainnya


yang mengakibatkan pemilikan satu aset oleh dua orang atau lebih. Da;am
musyarakah ini, kepemilikan dua orang atau lebih, berbagi dalam sebuah aset
nyata dan berbagi pula keuntungan yang dihasilkan oleh aset tersebut.

b. Musyarakah akad tercipta dengan cara kesepakatan di mana dua orang atau
lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah.
Mereka pun sepakat berbagi keuntungan dan kerugian. Musyarakah akad
terbagi menjadi inan, mufawadah, amal, wujuh, dan mudarabah.

Syirkah inan adalah kontrak antara dua orang atau lebih. Setiap pihak
memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam
kerja, keuntungan, dam kerugian yang dibagi sesuai dengan kesepakatan di
antara mereka.

Syirkah mufawadah adalah kontak kerjasama antara dua orang atau lebih.
Setiap pihak memberikan dana yang jumlahnya sama dan berpartisipasi
dalam kerja, keuntungan, dan kerugian yang dibagi secara sama besar.

Syirkah amal adalah kontrak kerjasama antara dua orang seprofesi untuk
menerima pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari
pekerjaan itu. Misal dua orang arsitek menggarap sebuah proyek.

Syirkah wujuh adalah kontak kerjasama antara dua orang atau lebih yang
memiliki reputasi dan prestasi baik dalam bisnis. Mereka member barang
secara kredit dari suatu perusahaan dan menjual barang tersebut secara
tunai. Keuntungan dan kerugian dibagi berdasarkan jaminan yang
disediakan masing-masing.

Pada bidang perbankan misalnya, penerapan musyarakah dapat berwujud hal-hal berikut
ini:

Pembiayaan proyek. Musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan di


mana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk membiayai
proyek tersebut. Setelah proyek itu selesai, nasabah mengembalikan dana
tersebut bersama hasil yang telah disepakati.

Modal ventura. Pada lembaga keuangan khusus yang dibolehkan melalui


investasi dalam kepemilikan perusahaan, musyarakah diterapkan dalam skema
modal ventura. Penanaman modal dilakukan untuk jangka tertentu dan setelah
itu banka melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya, baik secara
singkat maupun bertahap.

D. Akad Murabahah

1. Penjelasan Akad
Akad murabahah merupakan akad jual beli, sehingga harus memenuhi persyaratan
syariah tentang prinsip jual beli. Secara umum, akad murabahah merupakan
transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan
(margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. PSAK 102 mendefinisikan
akad murabahah sebagai akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya
perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus
mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli.
Pembayaran atas akad murabahah tersebut dapat dilakukan secara tunai (bai'
naqdan) atau dilakukan secara tangguh (b a i muajjal/bai bi'tsaman ajil). Akad juga
dapat dilakukan dengan melalui pesanan atau tanpa pesanan.
2. Skema Akad

3. Prinsip Jual Beli


Dalam melakukan transaksi murabahah harus memenuhi rukun yang mencakup
(1) pelaku yang sudah baligh dan berakal, (2) barang: merupakan barang halal dan
memiliki nilai, dimiliki oleh penjual, spesifikasi baik kualitas dan kuantitas jelas,
penyerahan tidak terkait dengan keadaan lain, harga barang diketahui, barang ada
di tangan penjual, (3) ijab kabul.
Berdasarkan prinsip jual beli, maka:
1. Harga jual berarti harga yang disepakati antara pembeli dan penjual yang
terdiri dari harga perolehan ditambah margin keuntungan. Marjin
keuntungan harus disepakati, sehingga pembeli berhak melakukan
negosiasi jumlah margin sebelum disepakati.
2. Harga beli berarti harga perolehan atas aset murabahah termasuk di
dalamnya:
a. Jika ada penurunan nilai,
b. Diskon (bila diperoleh sebelum akad sebagai pengurang harga perolehan,
dan dan bila diperoleh setelah akad harus sesuai perjanjian, dan bila tidak
diperjanjikan menjadi hak penjual),
3. Komisi apapun.
4. Uang muka diperbolehkan tetapi harus dianggap sebagai pengurang harga
jual.
5. Denda hanya dikenakan kepada pembeli yang lalai, bukan yang
mengalami kesulitan keuangan. Jumlah denda harus diperjanjikan pada
akad dan diakui sebagai penerimaan dana kebajikan.
6. Potongan atas harga jual boleh dilakukan sepanjang tidak diperjanjikan di
depan.
4. Contoh Penyajian Murabahah
Keterangan Pemilik Dana Pengelola Dana
Penyajian Piutang Murabahah xxx Utang Murabahah xxx
Penyisihan Piutang (xxx) Beban Murabahah Tangguh (xxx)
Nilai Bersih Direalisasi xxx
Margin Murabahah Tangguh (xxx)
E. Akad Salam

1. Penjelasan Akad
Akad salam merupakan akad jual beli dengan penyerahan tunda dan pembayaran
dilakukan pada awal akad. PSAK 103 mendefinisikan akad salam adalah akad jual
beli barang pesanan (muslam fiih) dengan pengiriman di kemudian hari oleh
penjual (muslam ilaihi) dan pelunasan dilakukan oleh pembeli (al muslam) pada
saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.
Akad salam dapat dilakukan secara langsung yaitu antar penjual dan pembeli, atau
secara paralel yaitu: antar penjual dan pembeli, serta penjual 2 (yang merupakan
pembeli pada transaksi pertama) dan pembeli 2. Akad salam paralel diperbolehkan
sepanjang tidak ada keterkaitan antara transaksi penjualan 1 dan penjualan 2.
2. Skema Akad

Skema Salam

Skema Salam Paralel

3. Prinsip Akad Salam


Akad salam termasuk dalam akad jual beli namun dengan kriteria berbeda dengan
akad jual beli yang mengharuskan barang dimiliki penjual sebelum melaksanakan
akad. Akad ini diperbolehkan dan telah dipraktikkan dari zaman Nabi Muhammad
SAW, dan biasanya digunakan untuk industri pertanian.
Akad salam memang terlihat mirip dengan akad ijon, namun yang membedakan
pada akad salam tidak ada gharar (ketidakjelasan) karena saat disepakati: harus
ada harga yang tidak akan berubah, kuantitas, kualitas, tanggal penyerahan serta
tempat penyerahan. Akad salam juga berbeda dengan transaksif orward dan future.
Pada akad salam harus ada pembayaran pada saat akad dan hanya penyerahan
barang yang tunda, sedangkan forward pembayaran dan penyerahan sama-sama
tunda, apalagi/ufure yang bahkan tidak perlu dilakukan penyerahan barang.
Transaksi jual beli tidak boleh dilakukan antara utang (dayn) dengan hutang
(dayn).
Dalam melakukan transaksi salam harus memenuhi rukun yang mencakup (1)
pelaku yang sudah baligh dan berakal, (2) Objek akad: terkait modal salam: harus
diketahui bentuk dan jenis, pembayaran tunai (ulama berbeda pendapat untuk
pembayaran selain tunai- PSAK membolehkan sesuai Fatwa No.5 tentang salam),
tidak boleh berupa pembebasan utang atau penyerahan piutang lainnya; terkait
barang: harus dijelaskan tentang spesifikasi, ukuran, harga, waktu penyerahan,
barang harus ada saat waktu penyerahan, akad rusak jika barang tidak ada saat
waktu ditentukan, barang cacat/kualitas lebih rendah pembeli punya hak khiyar,
barang spesifikasi lebih tinggi tidak boleh mengubah harga, pengiriman sebelum
yang dijanjikan tidak boleh ada perubahan harga, tidak boleh menjual kembali
sebelum barang diterima, penggantian spesifikasi tidak diperbolehkan (3) ijab
kabul.

4. Contoh Penyajian
Keterangan Pemilik Dana Pengelola Dana
Penyajian Piutang Salam xxx Utang Salam xxx
Persediaan Salam xxx

F. Akad Istishna'
1. Penjelasan Akad
Akad istishna merupakan akad jual beli dengan pesanan sebagaimana akad salam,
yang membedakan akad istishna dengan akad salam adalah pada jenis barangnya.
Akad salam biasanya digunakan pada pertanian sedangkan akad isthisna pada
barang barang manufaktur seperti: konstruksi, gedung, mesin dll. Pembayaran
untuk akad salam harus dilakukan saat kesepakatan, sedangkan istishna' bisa
dilakukan seiring dengan proses pembuatan.
PSAK 104 tentang Istishna' mendefinisikan akad ini merupakan akad jual beli
dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan
persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli mustashni) dan
penjual (pembuat/shani').
Penjual dapat menyiapkan barang yang dipesan (sesuai spesifikasi pemesanan)
oleh dirinya sendiri atau melalui pihak lain. Jika dilakukan oleh pihak lain maka
disebut sebagai istishna' paralel, hal ini diperbolehkan sepanjang kedua akad tidak
saling tergantung.
2. Skema Akad
3. Prinsip Akad
Akad istishna' merupakan hasil dari ijma' Ulama melalui qiyash terhadap akad
salam. Akad salam jelas diperbolehkan sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah,
sedangkan istishna diperbolehkan sesuai dengan ijma Ulama. Oleh sebab itu
PSAK 104 mengharuskan barang pesanan harus memenuhi kriteria PSAK 104
paragraf 08, yaitu:
a. Memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati;
b. Sesuai dengan spesifikasi pemesan (customized) bukan produk masai; dan
c. Harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi: jenis, spesifikasi
teknis, kualitas dan kuantitasnya.
Dalam melakukan transaksi istishna harus memenuhi rukun yang mencakup:
a.Pelaku yang sudah baligh dan berakal;
b. Objek akad: terkait alat pembayaran: harus diketahui bentuk dan jenis
pembayaran, harga yang disepakati tidak boleh berubah kecuali ada perubahan
spesifikasi dan itu menjadi tanggungan pembeli, tidak boleh berupa
pembebasan utang atau penyerahan piutang lainnya; terkait barang: harus
dijelaskan tentang spesifikasi, ukuran, harga, waktu penyerahan, barang harus
ada saat waktu penyerahan, tidak boleh menjual kembali sebelum barang
diterima, dalam hal barang sudah dikerjakan maka menjadi mengikat dan tidak
boleh dibatalkan;
c.Ijab kabul.
4. Contoh Penyajian
Keterangan Pemilik Dana Pengelola Dana
Penyajian Laporan Posisi Keuangan: Laporan Posisi Keuangan:
Persediaan Istishna Aset Istishna dalam
Aset Istishna xxx Penyelesaian xxx
Termin Istishna xxx
Jika termin lebih besar dari
asset, akan disajikan sebagai
utang jangka pendek
Laporan Laba Rugi dan
Penghasilan Komprehensif
Lain:
Pendapatan Istishna xxx
Beban Istishna xxx

G. Akad Ijarah

1. Penjelasan Akad
Akad ijarah merupakan bagian dari akad jual beli, hanya saja yang
diperjualbelikan bukan benda melainkan manfaat dari benda. PSAK 107
mendefinisikan Ijarah sebagai akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu
barang atau jasa, dalam waktu tertentu dengan pembayaran upah sewa (ujrah)
tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri.
Akad Ijarah secara syariah lebih luas dari definisi sewa dalam pengertian umum,
mengingat secara syariah sewa disini bukan hanya untuk barang tangible
melainkan juga hasil kerja/karya seseorang. Akad ijarah juga tidak dapat
dipadankan dengan leasing (sewa guna usaha), mengingat akad ijarah tidak ada
perubahan kepemilikan dan tidak ada pengalihan risiko maka pada akad ijarah
diperlakukan menjadi sewa operasi biasa.
Akad ijarah dapat dilakukan dengan akad ijarah biasa, ijarah muntahiya bitamlik
(IMBT) serta akad jual dan sewa kembali (sales and leaseback). Pembayaran sewa
dapat dilakukan di muka, ditangguhkan atau di belakang dari akad sewa sepanjang
disepakati oleh penyewa dan pemberi sewa.
2. Skema Akad

3. Prinsip Akad
Pada akad ijarah tidak ada pengalihan hak kepemilikan dan tidak ada pengalihan
risiko, sehingga seluruh risiko atas kondisi aset menjadi tanggung jawab pemilik
sewa. Oleh sebab itu akad ijarah hanya menggunakan transaksi sewa operasi
biasa. Kondisi ini juga berlaku untuk akad ijarah muntahiya bittamlik, dimana
pada akad ini tetap tidak ada akad pengalihan kepemilikan pada akhir, tetapi hanya
waad (janji) untuk mengalihkan akad. Waad ini tentunya masih dapat dievaluasi
keputusannya untuk menjadi akad sesuai dengan kondisi barang saat akhir.
Untuk akad jual dan sewa kembali, harus dilakukan akad jual dan akad sewa yang
tidak saling tergantung. Dalam melakukan transaksi ijarah harus memenuhi rukun
yang mencakup (1) pelaku yang sudah baligh dan berakal, (2) Objek akad: terkait
alat pembayaran: harus diketahui bentuk dan jenis pembayaran, harga yang
disepakati tidak boleh berubah kecuali ada perubahan spesifikasi dan itu menjadi
tanggungan pembeli, tidak boleh berupa pembebasan utang atau penyerahan
piutang lainnya; terkait barang: harus dijelaskan 1 tentang spesifikasi, ukuran,
harga, waktu penyerahan, barang harus ada saat waktu penyerahan, tidak boleh
menjual kembali sebelum barang diterima, dalam hal barang sudah dikerjakan
maka menjadi mengikat dan tidak boleh dibatalkan (3) ijab kabul.

4. Contoh Penyajian
Keterangan Pemilik Dana Pengelola Dana
Penyajian Pendapatan Ijarah xxx Beban Ijarah xxx
Beban Penyusutan/
Beban Amortisasi xxx
Beban Perawatan xxx xxx
Pendapatan Ijarah Bersih xxx

H. Akad Lain
1. Akad sharf: akad ini dapat dilakukan jika secara spot yaitu: transaksi pembelian
dan penjualan valas dilakukan pada saat itu juga dan penyelesaian maksimal 2 hari
(sesuai urf). Akad sharf tidak boleh dilakukan dengan forward dan option.
Ketentuan: (1) pelaku: baligh dan cakap hukum, (2) objek akad: mata uang;
nilainya diketahui kedua belah pihak, dikuasai penjual, tidak ada khiyar syarat,
tunai, (3) ijab kabul.
2. Akad wadiah: akad ini biasa digunakan untuk tabungan dan rekening giro di
perbankan syariah. Ketentuan: (1) pelaku: baligh dan cakap hukum, (2) objek
akad: barang yang dititipkan; benda dan spesifikasinya diketahui kedua belah
pihak, (3) ijab kabul.
3. Akad wakalah: akad ini biasa digunakan untuk mewakilkan pembelian barang,
realisasi letter ofcredit. Ketentuan: (1) pelaku: baligh dan cakap hukum, (2) objek
akad: barang yang dikuasakan; diketahui dengan jelas, tidak bertentangan dengan
syariah islam, dapat diwakilkan, manfaat barang/jasa dapat dinilai, kontrak dapat
dilaksanakan, (3) ijab kabul.
4. Akad kafalah: akad ini biasa digunakan dalam jasa garansi bank, stand hy letter of
credit, akseptasi, kartu kredit pada perbankan syariah.
Ketentuan: (1) pelaku: baligh dan cakap hukum, (2) objek akad: tanggungan pihak
yang berutang baik barang, jasa atau pekerjaan; tanggungan, bisa dilaksanakan
oleh penjamin, utang mengikat, harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasi dan tidak
bertentangan dengan syariah, (3) ijab kabul.
5. Akad hawalah: akad yang dapat digunakan untuk anjak piutang, atau pengalihan
utang dari konvensional ke syariah.
Ketentuan: (1) pelaku: balig dan cakap hukum, (2) objek akad: adanya utang atau
piutang; dapat dilaksanakan, utang piutang yang mengikat, harus jelas nilai,
jumlah dan spesifikasinya, tidak bertentangan syariah, (3) ijab kabul.
6. Akad qardh merupakan akad pemberian pinjaman tanpa tambahan ditujukan
kepada orang yang membutuhkan, namun jika dibebankan biaya administrasi yang
terkait langsung diperbolehkan, atau peminjam memberikan sumbangan boleh.
Ketentuan: (1) pelaku: baligh dan cakap hukum, (2) objek akad: uang yang
dipinjamkan; jelas jumlah dan waktu pelunasan, boleh dikenakan denda jika lalai,
(3) ijab kabul.
7. Akad rahn: akad yang biasa digunakan dalam pegadaian syariah, atau gadai emas.
Ketentuan: (1) pelaku: baligh dan cakap hukum, (2) objek akad: barang digadai
atau pengalihan hak atas barang; dapat dijual/nilai seimbang, harus bernilai dan
dimanfaatkan, jelas spesifikasi barang, tidak terkait kepemilikan dengan pihak
lain, (3) ijab kabul.

I. Akuntansi Sukuk
1. Pengertian Sukuk
Menurut PSAK 110, Sukuk adalah efek syariah berupa sertifikat atau bukti
kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak tertentu (tidak
terpisahkan atau tidak terbagi) atas:
a. aset berwujud tertentu;
b. manfaat atas aset berwujud tertentu baik yang sudah ada maupun yang akan
ada;
c. jasa yang sudah ada maupun yang akan ada;
d. aset proyek tertentu; atau
e. kegiatan investasi yang telah ditentukan.
Sukuk memang seringkali disebut sebagai obligasi syariah, namun sukuk berbeda
dengan obligasi, karena sukuk bukanlah pengakuan utang, melainkan bukti
kepemilikan, sehingga kalau terjadi default atas pembayaran sukuk maka
pemegang sukuk memiliki aset sebagai ganti kepemilikan.
2. Prinsip Akad
Sukuk yang diterbitkan akan bergantung pada akad apa yang digunakan, sehingga
mekanisme transaksi sukuk akan mengikuti akad yang digunakan. Jika
menggunakan akad mudharabah maka imbal hasil sukuk akan berfluktuasi
mengikuti bagi hasil yang diperoleh, sedangkan jika menggunakan akad ijarah,
maka imbal hasil sukuk akan tetap sesuai sewa yang disepakati.
3. Contoh Penyajian:
Keterangan Pemilik Dana Pengelola Dana
Penyajian Penerbit Bagi entitas syariah: Liabilitas
Dana syirkah temporer -Sukuk ijarah xxx
-Sukuk mudharabah xxx -Premium/diskonto xxx
-Biaya transaksi (xxx)
Bagi entitas non syariah: (yang belum diamortisasi)
Liabilitas Nilai neto inv sukuk ijarah xxx
-Sukuk mudharabah xxx

Aset (untuk biaya transaksi)


Beban tangguhan xxx
Penyajian Investor
a. Nilai Investasi: Investasi:
Perolehan Sukuk mudharabah xxx Sukuk mudharabah xxx
Rugi penurunan nilai (xxx) Unamortized selisih nilai xxx
Investasi bersih xxx Rugi penurunan nilai (xxx)
Investasi bersih xxx
b. Nilai Wajar Investasi mudharabah Investasi sukuk
(nilai wajar) xxx (nilai wajar) xxx

DAFTAR PUSTAKA

Modul Chartered Accountant. 2015. Pelaporan Korporat. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia
Nurhayati, Sri, Wasilah. 2015. Akuntansi Syariah di Indonesia Edisi 4. Jakarta: Salemba
Empat
http://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/data-dan-statistik/statistik-perbankan-
syariah/Default.aspx
http://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/data-dan-statistik/iknb-syariah/Default.aspx
https://www.syariahmandiri.co.id/wp-content/uploads/2010/03/AR-BSM-2015-Lap-
Keuangan.pdf