Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

ANTIBIOTIKA TETRASIKLIN
Mata Kuliah : Farmakologi

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Nurlailah, Apt., M.Si.

Disusun Oleh :
Azizah Fitriah Rahmah NIM P07131215087
Bahjatannoor Layyina NIM P07131215088
Binti Maulina Putri NIM P07131215089
Dian Afridha Pramestri NIM P07131215090
Dicky Septiannor Khaira NIM P07131215091

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia


Politeknik Kesehatan Banjarmasin
Program Diploma IV
Jurusan Gizi
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pertama-tama kami ingin mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan


Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kami, sehingga
dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Farmakologi ini yang berjudul
Antibiotika Tetrasiklin

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Nurlailah.Apt., M.Si.


selaku dosen pembimbing mata kuliah farmakologi yang telah banyak membantu
dalam proses pembuatan makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih
kepada orang tua kami, teman-teman yang membantu pengerjaan karya tulis
ilmiah ini, dan semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Karya tulis ini dibuat untuk memenuhi tugas. Namun, kami harap karya
yang tidak seberapa ini dapat membantu untuk menjadi inspirasi bagi pembuat
makalah selanjutnya.

Sebagai penulis, kami menyadari bahwa masih banyak kesalahan yang


membuat makalah ini kurang sempurna. Oleh karena itu, kami mengaharapkan
banyak kritik dan saran supaya pada kesempatan berikutnya, kami dapat
menghasilkan makalah yang lebih baik lagi.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Banjarbaru, 12 April 2017

Kelompok 2
BAB I

PENDAHAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu sumbangan nyata ilmu kimia kepada ilmu kedokteran ialah
bidang pengobatan. Obat adalah senyawa kimia yang dapat mempengaruhi
organisme hidup serta digunakan untuk diagnosis, pencegahan dan pengobatan
suatu penyakit. Sintesis obat sangat memerlukan peran ilmu kimia. Kini telah
banyak obat-obat yang dibuat secara sintetis, baik berupa senyawa organik
maupun senyawa anorganik. Diantara banyak obat yang kini telah dikenal, ada
beberapa obat yang mempunyai fungsi berbeda. Demikian pula dengan efek
samping atau pengaruh samping obat yang merugikan kesehatan.
Antibiotik merupaka obat yang sangat penting dan digunakan untuk
memberantas berbagai penyakit infeksi. Zat kimia ini dihasilkan oleh
mikroorganisme, terutama jamur dan bakteri tanah, dan mempunya khasiat
bakteriostatik atau bakterisid terhadap satu atau beberapa mikroorganisme lain
yang rentan terhadap antibiotik.
Antibiotik adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh berbagai spesies
mikroorganisme dan bersifat toksik terhadap spesies mikroorganisme lain. Sifat
toksik senyawa-senyawa yang terbentuk mempunyai kemampuan menghambat
pertumbuhan bakteri (efek bakteriostatik) dan bahkan ada yang langsung
membunuh bakteri (efek bakterisid) yang kontak dengan antibiotik tersebut.
Antibiotik mempunyai sifat toksik dan berbahaya apabila masuk ke dalam
tubuh dalam dosis yang besar. Efek toksik antibiotik dapat memengaruhi bagian-
bagian tubuh tertentu. Kloramfenikol menimbulkan efek toksik pada sumsum
tulang belakang sehingga pembentukan sel darah merah terganggu, sedangkan
streptomisin dapat merusak organ keseimbangan dan pendengaran sehingga
menyebabkan pusing, bising telinga, dan kemudian menjadi tuli. Pemberian
penisilin kepada seseorang yang tidak tahan atau peka dapat menimbulkan gatal-
gatal, bintik-bintik merah pada kulit, bahkan menyebabkan pingsan.
Resistensi bakteri dapat terjadi jika pengobatan dengan antibiotik tidak
mencukupi misalnya, karena terlalu singkat atau terlalu lama dengan dosis yang
terlalu rendah. Dalam hal ini, bakteri akan memberikan perlawanan terhadap kerja
antibiotik sehingga khasiat antibiotik akan menjadi berkurang, atau tidak
berkhasiat sama sekali. Bila suatu antibiotik tidak mampu membunuh bakteri atau
bakteri menjadi kebal, pengobatan selanjutnya harus dilakukan dengan antibiotik
lain.
Tetrasiklin adalah antibiotik yang mempunyai spektrum luas. Untuk lebih
jelasnya mengenai resistensi, spektrum, farmakodinamik, dan lain-lain mengenai
tetrasiklin akan dijelaskan pada makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Sejarah antibiotika golongan Tetrasiklin?

2. Bagaimana Struktur Molekul Tetrasiklin?

3. Bagaimana tahapan Sintesa Tetrasiklin?

4. Apa saja Spektrum Zat Antimikroba Tetrasiklin?

5. Bagaimana Resistensi terhadap Tetrasiklin?

6. Bagaiman Sifat Fungsi dan Mekanisme Kerja Tetrasiklin?

7. Bagaimana Farmakodinamik Tetrasiklin?

8. Berapa Dosis Pemberian Tetrasiklin sesuai sifat farmakokinetiknya?

9. Apa saja Efek Samping Pemberian Tetrasiklin?

10. Apa dan bagaimana Interaksi Tetrasiklin terhadap obat lainnya?

11. Apa saja Penyakit yang Dapat Diberikan Tetrasiklin dalam membantu
proses penyembuhan?

12. Apa saja Contoh Obat yang mengandung Tetrasiklin?


13. Bagaimana Analisis dari Jurnal mengenai antibiotika golongan Tetrasiklin?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakologi
2. Untuk mengetahui dan memahami tentang golongan obat antibiotic
khususnya golongan Tetrasiklin.
3. Untuk mengetahui penjelasan Tetrasiklin secara rinci baik Sejarah,
Struktur molekulnya, Tahapan Sintesa, dan lain lainnya sampai dengan
Contoh Obat yang mengandung Tetrasiklin.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Mahasiswa dapat memenuhi tugas mata kuliah Farmakologi
2. Dapat mengetahui dan memahami tentang golongan obat antibiotic
khususnya golongan Tetrasiklin.
3. Dapat mengetahui penjelasan Tetrasiklin secara rinci baik Sejarah,
Struktur molekulnya, Tahapan Sintesa, dan lain lainnya sampai dengan
Contoh Obat yang mengandung Tetrasiklin.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Tetrasiklin
Tetrasiklin pertama kali ditemukan oleh Lloyd Conover. Berita tentang
Tetrasiklin yang dipatenkan pertama kali tahun 1955. Tetrasiklin merupakan
antibiotika yang memberi harapan dan sudah terbukti menjadi salah satu
penemuan antibiotika penting. Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama
ditemukan adalah klortetrasiklin yang dihasilkan oleh Streptomyces aureofaciens.
Kemudian ditemukan oksitetrasiklin dari Streptomyces rimosus. Tetrasiklin sendiri
dibuat secara semisintetik dari klortetrasiklin, tetapi juga dapat diperoleh dari
spesies Streptomyces lain.
Pada tahun 1950, Profesor Harvard Robert Woodward menentukan struktur
kimia Terramycin, nama merek untuk anggota keluarga tetrasiklin; paten
perlindungan untuk fermentasi dan produksi juga pertama kali diterbitkan pada
tahun 1950. Alasan mengapa disebut tetrasiklin karena terdiri dari 4 ("tetra-")
hidrokarbon cincin ("-cycl-") derivasi ("-ine) yang merupakan subclass dari
poliketida yang memiliki kerangka octahydrotetracene-2-karboksamida.

2.2 Struktur Molekul Tetrasiklin


Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam
natrium atau garam HCl-nya mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan
garam HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil. Dalam larutan, kebanyakan tetrasiklin
sangat labil sehingga cepat berkurang potensinya.Tetrasiklin adalah zat anti
mikroba yang diperolah denga cara deklorrinasi klortetrasiklina, reduksi
oksitetrasiklina, atau dengan fermentasi.
Tetrasiklin mempunyai mempunyai potensi setara dengan tidak kurang dari
975 g tetrasiklin hidroklorida,(C22H24N2O8.HCl),per mg di hitung terhadap zat
anhidrat.Struktur kimia dari tetrasiklin dapat dilihat pada Gambar 1 dan untuk
gugus fungsi jenis tetrasiklin dapat dilihat pada Tabel 1.
Gambar 1.Struktur tetrasiklin

Tabel 1. Gugus fungsi jenis tetrasiklin

R1 R2 R3 R4 Nama senyawa
H H H H 6-Deoksi-6-dimetiltetrasiklin
H OH H H 6-dimetiltetrasiklin
H OH CH3 H Tetrasiklin (akromisin)
Cl OH H H 7-kloro-6- dimetiltetrasiklin
H OH CH3 OH 5-hidroksitetrasiklin (oksi-tetrasiklin, teramisin)
Cl OH CH3 H 7-klorotetrasiklin (klor-tetrasiklin, aureomisin)

Di antara senyawa-senyawa tetrasiklin tersebut di atas, yang termasuk


tetrasiklin alam ialah tetrasiklin atau akromisin, oksitetrasiklin atau teramisin dan
klortetrasiklin atau auromisin. Sedangkan 6-dimetiltetrasiklin dan 7-kloro-6-
dimetiltetrasiklin kedua-duanya dihasilkan oleh turunan mikroba yang semula
berasal dari Streptomyces Aureus. Kedua senyawa yang terakhir ini sangat sukar
diuraikan baik oleh asam maupun basa, sehingga berguna untuk pengobatan
secara oral.
Dari struktur senyawa-senyawa tetrasiklin seperti tertera pada gambar di
atas, terlihat bahwa perbedaan antara tetrasiklin, klortetrasiklin dan oksitetrasiklin
masing-masing terletak pada adanya atom klor pada C-7 (cincin D) dan gugus
hidroksi pada C-4 (cincin A) dari kerangka hidronaftasen.

2.3 Sintesa Tetrasiklin


Struktur molekul senyawa-senyawa tetrasiklin bukanlah tergolong
sederhana, oleh karena itu sintesa tetrasiklin melibatkan berbagai jenis reaksi
organik. Kesulitan utama dalam mensintesa molekul tetrasiklin yaitu terletak pada
cincin A. Hal ini dikarenakan pada setiap atom karbon dari cincin ini mengandung
sedikitnya satu subtituen. Disamping itu, tiga dari enam atom karbon asimetri
dalam molekul tetrasiklin yang paling banyak tersubtitusi, seperti oksitetrasiklin
terdapat juga pada cincin A. Sehingga untuk menghasilkan satu isomer optic yang
aktif, bebas dari isomer-isomer lainnya memerlukan pendekatan yang berhati-hati.
Sintesa tetrasiklin dimulai dengan sintesa suatu senyawa antara trisiklik
yang sudah mengandung cincin B, C, dan D dari molekul tetrasiklin dengan
menggunakan reaksi Diels Alder. Sintesa ini diikuti oleh pengubahan-pengubahan
terhadap gugus-gugus fungsi menghasilkan suatu senyawa antara baru, yaitu suatu
diendiolon. Dimana senyawa antara diendiolon ini dapat dimodifikasi unsur-unsur
yang diperlukan untuk membentuk cincin A dalam molekul tetrasiklin.

2.4 Spektrum antimikroba Tetrasiklin

Tetrasklin memperlihatkan spectrum antibakteri yang luas


meliputi kuman gram positif dan negative,aerobic dan anaerobic.
Selain itu juga aktif terhadap
spiroket,mikroplasma, riketsia, klmidia, legionela, dan protozoa
tertentu.

Pada umumnya tetrasiklin tidak digunakan untuk


pengobatan infeksi oleh sterptokokus karena obat lain yang lebih
efektif yaitu penisilin G, eritromiin, sefaloporin : kecuali
doksisiklin yang digunakan untuk pengobatan sinusitis pada
orang dewasa yang disebabkan oleh Str.
Pneumoniae dan Str.pyogenes. Banyak strain S. Aureus yang
resisten terhadap tetrasiklin. Tetra siklin dapat digunakan
sebagai pengganti penisilin dalam pengobatan infeksi batang
gram positif seperti
B.anthracis, Eryspelothrixrhusiopathiae, Clostridium
tetani dan Listerine Monocytogens.

Kebanyakan strain N.gonorrhoeae sensitive terhadap


tetrasiklin, tetapi N. Gonorroheae sensitive terhadap
tetrasiklin,tetapi N. Gonorrhoeae penghasil penisilinase (PPNG)
biasanya resisten terhadap tetrasiklin. Efektivitasnya tinggi
terhadap infeksi batang gram-negatif seperti Brucella, Francisella
tularensis, Pseudomonas mallei, Pseuodomonas pseudomallei,
Vibrio cholera, Campylobacter fetus, Haemophilus ducreyi dan
Calymmatobacterium granulomatis, Yersinia pestis, Pasteurella
multocida, Spirillium minor, Leptotrichia buccalis, Bordetella
pertusis, Acinetobacter dan Fusobacterium.

Tetrasiklin juga merupakan obat yang sangat efektif untuk


infeksi Mycoplasma pneumonia, Urea plasma
urealyticum, Chlamiydia trachomatis, Chlamydia psittaci, dan
berbagai riketsia. Selain itu obat ini juga aktif terhadap Borrelia
recurentis, Treponema pallidum, Treponema
pertenue, Actinomyces israelii. Dalam kadar tinggi antibiotic ini
menghambat pertumbuhan Entamoeba histolytica.

2.5 Resistensi

Beberapa spesies kuman, terutama sterptokokus beta


hemolitikus, E.coli, Pseudomonas aeruginosa, Str.pneumoniae,
N.gonorrhoeae, Bacteroides, Shigella dan S.aureus makin
meningkat resistensinya terhadap tetrasiklin. Resistensi terhadap
satu jenis tetrasiklin biasanya disertai resistensi terhadap semua
tetrasiklin lainnya kecuali minosiklin pada resistensi S.aureus dan
doksisiklin pada resistensi B.fragilis.

Mekanisme resistensinya adalah sebagai berikut:

1. Tetrasiklin (tet) merupakan molekul hidrofobik, dan masuk ke dalam sel


dengan difusi pasif.

2. Jika tetrasiklin tidak ada, repressor tetR akan mencegah proses transkripsi
gen tetA, selain itu tetR juga akan melakukan siintesis proteinnya sendiri
pada urutan operator tetO
3. Di dalam sitosol, tetrasiklin membentuk kompleks dengan bivalent ion ion
metal seperti magnesium.

4. Ikatan kompleks ke tetR, sehingga mengubah konformasi dan disosiasi


nya dari bagian operator.

5. Kemudian, tidak hanya antiporter tetA, tetapi antipoerter tetR juga


tersintesis.

6. tetA mengeluarkan kompleks [tet-Mg2+] +H+ keluar dari sitosol, dan


memasukkan proton pada waktu yang bersamaan. Setelah tetrasiklin
dikeluarkan, sisa protein tetR mengikat rangkaian tetO lagi dan
menonaktifkan tetA dan tetR.

Gambar 2.Mekanisme resistensi tetrasiklin


Resistensi terhadap tetrasiklin dapat timbul melalui penembusan obat,
perlindungan ribosomal protein, mutasi rRNA 16S, dan inaktivasi obat melalui
aksi sebuah monooxygenase.

2.6 Sifat Fungsi dan Mekanisme Kerja Tetrasiklin


1) Sifat kimiawi tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam
natrium atau garam HCl-nya mudah larut. Dalam keadaan kering, bentuk basa dan
garam HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil. Dalam larutan, kebanyakan tetrasiklin
sangat labil sehingga cepat berkurang potensinya. Golongan tetrasiklin adalah
suatu senyawa yang bersifat amfoter sehingga dapat membentuk garam baik
dengan asam maupun basa. Sifat basa tetrasiklin disebabkan oleh adanya radikal
dimetilamino yang terdapat didalam struktur kimia tetrasiklin, sedangkan sifat
asamnya disebabkan oleh adanya radikal hidroksi fenolik.
Tetrasiklin harus disimpan di tempat yang kering, terlindung dari cahaya.
Tetrasiklin apabila bereaksi dengan logam bervalensi 2 dan 3 (Ca, Mg, Fe ) maka
akan membentuk kompleks yang inaktif sehingga tetrasiklin tidak boleh diminum
bersama dengan susu dan obat-obat antasida.
Obat ini dalam bentuk kering bersifat stabil, tidak demikian halnya bila
antibiotika ini berada dalam larutan air. Untuk tetrasiklin sediaan basah perlu
ditambahkan buffer. Dalam larutan tetrasiklin yang biasa digunakan untuk injeksi
mengandung buffer dengan pelarut propylen glikol pada pH 7,5, dapat tahan 1
tahun pada suhu kamar sampai 45C. Bila pH lebih tinggi dari 7,5 maka tingkat
kestabilan tetrasiklin akan menurun.

2) Kegunaan Tetrasiklin
Kegunaan klinis tetrasiklin dalam kedokteran hewan yaitu:
Hewan Kecil
Tetrasiklin digunakan untuk mengatasi berbagai infeksi yang disebabkan
oleh kuman gram positif maupun gram negatif, terutama pada penyakit saluran
pernafasan, perkencingan, leptospirosis (penyakit manusia dan hewan dari kuman
dan disebabkan kuman Leptospira yang ditemukan dalam air seni dan sel-sel
hewan yang terkena), dan panleukopenia (penyakit yang menyebabkan jumlah sel
darah putih kucing menurun dengan drastis).
Hewan besar
Antibiotika ini hampir selalu diberikan untuk mengatasi berbagai penyakit
pada hewan besar, hal ini mungkin disebabkan karena sifat obat yang mempunyai
spectrum luas. Dalam kasus lapangan antibiotika ini biasa digunakan untuk
mengatasi penyakit-penyakit seperti metritis, pneumonia, mastitis, enteritis,
leptospirosis, shipping fever, listeriosis, anaplasmosis, penyakit jembrana dan
antraks.
Untuk babi
Dapat digunakan untu mengatasi penyakit seperti radang usus, paru, dan
lain-lain. Dalam dosis rendah klortetrasiklin juga ditemukan tercampur dalam
pakan.

Untuk unggas
Biasa digunakan untuk mengatasi penyakit pada unggas seperti CRD,
sinusitis, infeksi PPLO dan erysipelas. Dalam banyak pakan ayam juga ditemukan
kadar tetrasiklin dengan dosis rendah.
Penggunaan topikal
Tetrasiklin digunakan untuk mengatasi radang infeksi pada kulit, biasanya
sediaan tetrasiklin dikemas dalam bentuk salep 1%. Dapat digunakan untuk
mengobati penyakit mata seperti opthalmik, selain itu dapat juga digunakan untuk
mengatasi pink eye.

3) Mekanisme Kerja Tetrasiklin


Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dengan jalan menghambat sintesis protein.
Hal ini dilakukan dengan cara mengikat unit ribosoma sel kuman 30 S sehingga t-
RNA tidak menempel pada ribosom yang mengakibatkan tidak terbentuknya
amino asetil RNA. Antibiotik ini dilaporkan juga berperan dalam mengikat ion Fe
dan Mg. Meskipun tetrasiklin dapat menembus sel mamalia namun pada
umumnya tidak menyebabkan keracunan pada individu yang menerimanya.
Ada 2 proses masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri gram negatif;
pertama yang disebut difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua ialah sistem
transport aktif. Setelah masuk maka antibiotik berikatan dengan ribosom 30S dan
menghalangi masuknya tRNA-asam amino pada lokasi asam amino.
a. Efek Antimikroba
Pada umumnya spektrum golongan tetrasiklin sama (sebab mekanismenya
sama), namun terdapat perbedaan kuantitatif dan aktivitas masing-masing derivat
terhadap kuman tertentu. Hanya mikroba yang cepat membelah yang dipengaruhi
obat ini. Golongan tetrasiklin termasuk antibiotik yang terutama bersifat
bakteriostatik dan bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman.
b. Farmakokinetik
Absorpsi
Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam saluran cerna. Doksisiklin dan
minosiklin diserap lebih dari 90%. Absorpsi sebagian besar berlangsung di
lambung dan usus halus. Adanya makanan dalam lambung menghambat
penyerapan, kecuali minosiklin dan doksisiklin. Absorpsi dihambat dalam derajat
tertentu oleh pH tinggi dan pembentukan kelat yaitu kompleks tetrasiklin dengan
suatu zat lain yang sukar diserap seperti aluminium hidroksid, garam kalsium dan
magnesium yang biasanya terdapat dalam antasida, dan juga ferum. Tetrasiklin
diberikan sebelum makan atau 2 jam sesudah makan.
Distribusi
Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam
jumlah yang bervariasi. Pemberian oral 250 mg tetrasiklin, klortetrasiklin dan
oksitetrasiklin tiap 6 jam menghasilkan kadar sekitar 2.0-2.5 mcg/ml. Masa paruh
doksisiklin tidak berubah pada insufiensi ginjal sehingga obat ini boleh diberikan
pada gagal ginjal. Dalam cairan serebbrospinal (CSS) kadar golongan tetrasiklin
hanya 10-20% kadar dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari
adanya meningitis. Penetrasi ke cairan tubuh lain dari jaringan tubuh cukup baik.
Obat golongan ini ditimbun dalam system retiloendotelial di hati, limpa dan
sumsum tulang, serta dentin dan email dari gigi yang belum bererupsi. Golongan
tetrasiklin menembus sawar uri dan terdapat dalam air susu ibu dalam kadar yang
relative tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya, doksisiklin dan
minosiklin daya penetrasinya ke jaringan lebih baik.
Distribusi tetrasiklin berlangsung ke seluruh tubuh kecuali jaringan lemak.
Afinitas yang besar terjadi pada jaringan dengan kecepatan metabolisme dan
pertumbuhan yang cepat seperti hati, tulang, gigi, dan jaringan neoplasma. Dalam
jaringan tulang dan gigi, tetrasiklin akan disimpan dalam bentuk kompleks
kalsium. Tetrasiklin akan membentuk ikatan dengan protein plasma. Walaupun
demikian, lama kerja suatu kelompok senyawa tetrasiklin ini tidak ditentukan oleh
ikatan proteinnya, melainkan ditentukan oleh sifat-sifat kimia masing-masing
senyawa. Tetrasiklin dapat berikatan dengan protein sebesar 65%. Distribusi
dalam plasenta dapat terjadi dengan mudah karena senyawa tetrasiklin dapat
melewati plasenta. Kadar tetrasiklin yang tinggi juga terdapat dalam Air Susu Ibu
(ASI).

Metabolisme
Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di hati. Doksisiklin
dan minosiklin mengalami metabolisme di hati yang cukup berarti sehingga aman
diberikan pada pasien gagal ginjal.
Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin dengan filtrasi glomerolus dan
melalui empedu. Pemberiaan per oral kira-kira 20-55% golongan tetrasiklin
diekskresi melalui urin. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam
empedu mencapai kadar 10 kali kadar dalam serum. Sebagian besar obat yang
diekskresi ke dalam lumen usus ini mengalami sirkulasi enterohepatik; maka obat
ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah terapi dihentikan. Bila
terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan faal hati obat ini akan
mengalami kumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap diekskresi melalui
tinja.

2.7 Farmakodinamik
Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya.
Paling sedikit terjadi dua proses dalam masuknya anti biotik ke dalam ribosom
bakteri gram negative, pertama secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua
melalui sistem transport aktif. Setelah masuk anti biotik berikatan secara
revarsible dengan ribosom 30S dan mencegah ikatan tRNA amino asil pada
kompleks mRNA ribosom. Hal tersebut mencegah perpanjangan rantai peptida
yang sedang tumbuh dan berakibat terhentinya sintesis protein.
Tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri. Obat ini dipakai untuk
pengobatan Acne dengan dosis rumatan yang lebih rendah dalam jangka waktu
beberapa bulan. Tetrasiklin tidak boleh diminum bersama antasid atau produk dari
susu, karena akan mengikat trasiklin menjadi senyawa yang tidak larut, sehingga
mengurangi absorpsinya. Tetrasiklin meningkatkan efek antikoagulan oral dan
me-ngurangi efek kontrasepsi oral. Efek samping utama dari tetrasiklin adalah
fotosensitivitas.
Paparan sinar matahari akan menimbulkan kulit terbakar matahari yang
berat. Tetrasiklin tidak boleh dipakai wanita hamil karena adanya kemungkinan
efek teratogenik pada janin. Tetrasiklin dapat diberikan per oral, intramuskular,
dan intravena. Tetrasiklin oral efektifjika tidak diminum bersama bahan makanan
yang terbuat dari susu atau antasid.
Injeksi intramuskular dapat menimbulkan rasa sakit. Tetrasiklin intravena
biasanya diberikan dengan infus yang intermiten dalam waktu 5-30 menit. Mula
kerja dari tetrasiklin intravena adalah segera, dan waktu untuk mencapai kadar
puncak adalah pada akhir pemberian infus.

2.8 Dosis

Dosis tetrasiklin yang paling sering digunakan pada anak


adalah 250 mg diberikan setiap 6 jam sekali dan penggunaannya
sampai 5-7 hari saja. Pemberian ini akan menghasilkan kadar
plasma puncak dalam tubuh sekitar 2-3 g/ml.

Antibiotik golongan tetrasiklin dibagi menjadi 3 golongan


berdasarkan sifat farmakokinetiknya :

a) Tetrasiklin,klortetrasiklin dan oksitetrasiklin

Absorpsi kelompok tetrasiklin ini tidak lengkap dengan masa


paruh 6-12 jam.

b) Demetilklortetrasiklin
Absorpsinya lebih baik dan masa paruhnya kira-kira 16 jam
sehingga cukup diberikan 150 mg peroral tiap 6 jam.

c) Doksisklin dan minosiklin

Absorpsinya baik sekali dan masa paruhnya 17-20 jam.


Tetrasiklin golongan ini cukup diberikan 1 atau 2 kali 100mg
sehari.

2.9 Efek samping Tetrasiklin


Efek samping yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin
dapat dibedakan dalam 2 kelompok yaitu reaksi kepekaan, reaksi toksik dan
iritatif (reaksi yang timbul akibat perubahan biologic).

1) Reaksi kepekaan

Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian


golongan tetrasiklin ialah erupsi morbiliformis, urtikaria dan
dernmatitis ekfoliatif. Reaksi yang lebih hebat ialah udem
angioneurotik dan reaksi anafilaksis. Demam dan eosinofilia
dapat pula tejadi pada waktu terapi berlangsung.Sensitisasi
silang antara berbagai derivate tetrasiklin sering terjadi.

2) Reaksi toksik dan iritatif

Iritasi lambung paling sering terjadi pada pemberian tetrasiklin per


oral,terutama dengan oksuitetrasiklin dan doksisiklin.Makin besar dosis yang
diberikan,makin sering pula terjadi reaksi ini. Diantaranya seperti mual, muntah,
diare, nyeri menelan , iritasi kerongkongan. Efek samping yang jarang terjadi
termasuk : kerusakan hati, pankreatitis, gangguan darah, fotosensitif, reaksi
hipersensitif (ruam, dermatitis eksfoliatif, sindrom steven-johnson, urtikaria,
angioedema, anafilaksis, carditis). Sakit kepala dan gangguan penglihatan dapat
terjadi dan dapat menjadi penanda peningkatan tekanan dalam kepala dan segera
hentikan pengobatan bila ini terjadi.
Keadaan ini dapat diatasi dengan mengurangi dosis untuk sementara waktu
atau memberikan golongan tetrasiklin bersama waktu atau makanan, tetapi jangan
dengan susu atau antacid yang mengandung aluminium,magnesium atau kalsium.
Diare seringkali timbul akibat iritasi dan ini harus dibedakan dengan diare akibat
superinfeksi stafilokokus atau Clotridium difficile yang sangat
bahaya. Manifestasi reaksi iritatif yang lain ialah terjadinya tromboflebitis pada
pemberian IV dan rasa nyeri setempat bila golongan tetrasiklin disuntikan IM
tanpa anastetik local.
Terapi dalam waktu lama juga dapat menimbulkan kelainan darah tepi
seperti leukositosis, limfosit atipik, granulasi toksik pada granulosit dan
trombositopenia. Reaksi fototoksik paling jarang timbul dengan tetrasiklin,tetapi
paling sering timbul pada pemberian demetilklortetrasiklin. Manifestasinya
berupa fotosensitivitas, kadang-kadang disertai demam dan eosinofiia. Pigmentasi
kuku dan onikolisis, yaitu lepasnya kuku dari dasarnya, juga dapat terjadi.
Hepatotoksisitas dapat terjadi pada pemberian golongan tetrasiklin dosis
tinggi (lebih dari 2 gram sehari) dan paling sering terjadi setelah pemberian
parenteral. Oksitetrasiklin dan tetrasiklin mempunyai sifat hepatotoksik yang
paling lemah dibandingkan dengan golongan tetrasiklin lain. Wanita hamil dengan
pielonafritis paling sering menderita kerusakan hepar akibat pemberian golongan
tetrasiklin. Kecuali doksisiklin,golongan tetrasiklin akan mengalami kumulasi
dalam tubuh, karena itu dikontraindikasikan pada gagal ginjal.Efek samping yang
paling sering timbul biasanya berupa azotemia,iperfosfatemia dan penurunan berat
badan. Golongan tetrasiklin memperlambat koagulasidarah dan memperkuat efek
antikoagulan kumarin. Diduga hal ini disebabkan oleh terbentuknya kelat dengan
kalsium, tetapi mungkin juga karena obat-obat ini mempengaruhi sifat fisikokimia
lipoprotein plasma.
Tetrasiklin terikat pada jaringan tulang yang sedang tumbuh dan membentuk
kompleks.pertumbuhan tulang akan terhambat sementara pada fetus dan
anak bahaya ini terutama terjadi mulai pertengahan masa hamil sampai anak umur
tiga tahun.Timbulnya kelainan ini lebih ditentukan oleh jumlah daripada lamanya
penggunaan tetrasiklin.
Pada gigi susu maupun gigi tetap, tetrasiklin dapat menimbulkan
disgenesis,perubahan warna permanen dan kecenderungan terjadinya karies.
Perubahan warna bervariasi dari kuning coklat sampai kelabu tua. Tetrasiklin
mengandung gugus-gugus hidroksil, dimana gugus tersebut akan membentuk
ikatan bila dikombinasikan dengan Ca++ sebagai unsur-unsur pembentuk gigi.
Tetrasiklin dapat mengikat kalsium secara irreversible, kemudian berikatan
dengan kristal hidroksiapatit baik di dentin maupun enamel. Juga, mempunyai
kemampuan membentuk kompleks atau ikatan dengan kristal hidroksiapatit dalam
gigi sehingga mengakibatkan terbentuknya senyawa orthocalcium phosphat
complex yang tertimbun pada gigi dan menyebabkan perubahan warna pada gigi.
Dentin ditunjukkan sebagai jaringan yang paling sulit untuk berubah warna
daripada enamel jika melalui plasenta.
Ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya perubahan warna pada
gigi. Faktor-faktor tersebut antara lain struktur kimia dari senyawa tetrasiklin,
dosis yang digunakan, lamanya pemakaian dan masa pembentukan gigi.
Faktor utama penyebab dari perubahan warna pada gigi anak akibat
tetrasiklin adalah pemberian obat dalam masa pembentukan gigi, baik gigi sulung
maupun gigi permanen. Pada masa pembentukan gigi, struktur gigi yang sedang
mengalami kalsifikasi seperti kalsium akan diikat oleh tetrasiklin secara
irreversible. Kemudian ikatan tersebut mengikat hidroksi apatit dalam struktur
gigi yang sedang erupsi. Ikatan ini nantinya akan menetap pada dentin dan enamel
sehingga mengakibatkan perubahan warna pada gigi.
Pemakaian tetrasiklin yang terus-menerus menyebabkan email gigi tidak
terbentuk sempurna, dan permukaan gigi tidaklah halus dan rata. Gigi menjadi
sulit dibersihkan, dan plak menempel dengan kuat sehingga gigi mudah
berlubang. Karena itu tetrasiklin jangan digunakan mulai pertengahan kedua
kehamilan sampai anak umur 8 tahun.Efek ini terlihat lebih sedikit pada
oksitetrasiklin dan doksisiklin.

2.10 Interaksi obat


1) Golongan tetrasiklin dengan antasida ( termasuk garan alimunium, kalsium,
atau magnsium), garam besi, garan zink. Menyababkan absorpsi dan kadar
serum tetrasiklin turun.
Pengatasan : tetrasiklin diberikan 1 jam sebalum atau 2 jam setelah antasida.
2) Golongan tetrasiklin dengan garam bismuth menyebabkan kadar serum
tetrasiklin turun.
Pengatasan : bismuth diberikan 2 jam setelah tetrasiklin
3) Golongan tetrasiklin dengan cholestyramine atau colestipol menyebabkan
absorpsi tetrasiklin turun sehingga kadar serumnya juga turun.
Pengatasan : bila perlu dilakukan penyesuaian dosis tetrasiklin.
4) Golongan tetrasiklin dengan pengalkali urin (contoh: Na. Laktat, K. Sitrat)
menyababkan terjadi peningkatan ekskresi dan penurunan kadar serum
tetrasiklin.
Pengatasan : pemisahan waktu pemakaian 3-4 jam atau bila perlu dilakukan
peningkatan dosis tetrasiklin ( jika pH urin naik signifikan)
5) Golongan tetrasiklin dengan anti koagulan oral. Efek antikoagualan
meningkat karena berkurangnya vitamin K yang diproduksi bakteri dalam
usus akibat pemakaian tetrasiklin.
Pengatasan : monitor parameter anti koagualan dan bila perlu dosis anti
koagualan disesuaikan.
6) Golongan tetrasiklin dengan kontrasepsi oral. Tetrasiklin mempengaruhi
resirkulasi enterohepatik kontrasepsi steroid, sehingga menurunkan efeknya.
7)Golongan tetrasiklin denga digoxin. Dapat terjadi peningkatan kadar serum
digoxin pada sejumlah kecil pasien ( sekitar 10%).
Pengatasan : monitor kadar digoxin dan tanda-tanda toksisitasnya.

2.11 Penyakit yang Berkaitan


Karena penggunaan yang berlebih, dewasa ini terjadi resistansi yang
mengurangi efektivitas tetrasiklin. Penyakit yang obat pilihannya golongan
tetrasiklin ialah:
1. Riketsiosis
Perbaikan yang dramatis tamapak setelah pemberian golongan tetrasiklin.
Demam mereda dalam 1-3 hari dan ruam kulit menghilang dalam 5 hari.
Perbaikan klinis yang nyata telah tampak 24 jam setelah terapi dimulai.
2. Infeksi Klamidia
a. Limfogranuloma venereum
Untuk penyakit ini golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan utama. Pada
infeksi akut diberikan terapi selama 3-4 minggu dan untuk keadaan kronis
diberikan terapi 1-2 bulan. Empat hari setelah terapi diberikan bubo mulai
mengecil.
b. Psikatosis
Pemberian golongan tetrasiklin selama beberapa hari dapat mengatasi gejala
klinis. Dosis yang digunakan ialah 2 gram per hari selama 7-10hari atau 1
gram per hari selama 21 hari.
c. Konjungtivitis inklusi
Penyakit ini dapat diobati dengan hasil baik selama 2-3 minggu dengan
memberikan salep mata atau obat tetes mata yang mengandung golongan
tetrasiklin.
d. Trakoma
Pemberian salep mata golongan tetrasiklin yang dikombinasikan dengan
doksisiklin oral 2 x 100 mg/hari selama 14 hari memberikan hasil
pengobatan yang baik.

e. Uretritis nonspesifik
Infeksi yang disebabkan oleh Ureaplasma urealyticum atau Chlamydia
trachomatis ini terobati baik dengan pemberian tetrasiklin oral 4 kali 500
mg sehari selama 7 hari. Infeksi C.trachomatis seringkali menyertai uritritis
akibat gonokokus.
3. Infeksi Mycoplasma Pneumoniae
Pneumonia primer atipik yang disebabkan oleh mikroba ini dapat diatasi
dengan pemberian golongan tetrasiklin. Walaupun penyembuhan klinis cepat
dicapai Mycoplasma pneumoniae mungkin tetap terdapat dalam sputum setelah
obat dihentikan.
4. Infeksi Basil
a. Bruselosis
Pengobatan dengan golongan tetrasiklin memberikan hasil baik sekali untuk
penyakit ini. Hasil pengobatan yang memuaskan biasanya didapat dengan
pengobatan selama 3 minggu. Untuk kasus berat, seringkali perlu diberikan
bersama streptomisin 1gram sehari IM.
b. Tularemia
Obat pilihan utama untuk penyakit ini sebenarnya ialah streptomisin, tetapi
terapi dengan golongan tetrasiklin juga memberikan hasil yang baik.
c. Kolera
Doksisiklin dosis tunggal 300 mg merupakan antibiotik yang efektif untuk
penyakit ini. Pemberian dapat mengurangi volume diare dalam 48 jam.
d. Sampar
Antibiotik terbaik untuk mengobati infeksi ini ialah streptomisin. Bila
streptomisin tidak dapat diberikan, maka dapat dipakai golongan tetrasiklin.
Pengobatan dimulai dengan pemberian secara IV selam 2 hari dan
dilanjutkan dengan pemberian per oral selama 1 minggu.
5. Infeksi Kokus
Golongan tetrasiklin sekarang tidak lagi diindikasikan untuk infeksi
stafilokokus maupun streptokokus karena sering dijumpai resistensi. Tigesiklin
efektif untuk infeksi kulit dan jaringan lunak oleh streptokokus dan stafilokokus
(termasuk MRSA).
6. Infeksi Venerik
Tetrasiklin merupakan antibiotik pilihan kedua setelah penisilin untuk
mengobati sifillis. Dosisnya 4 kali 500 mg sehari per oral selama 15 hari.
Tetrasiklin juga efektif untuk mengobati chancroid dan granuloma inguinal.
Karena itu dianjurkan memberikan dosis yang sama dengan dosis untuk terapi
sifilis.
7. Akne Vulgaris
Tetrasiklin diduga menghambat produksi asam lemak dari sebum. Dosis
yang diberikan untuk ini ialah 2 kali 250 mg sehari selama 2-3 minggu, bila perlu
terapi dapat diteruskan sampai beberapa bulan dengan dosis minimal yang masih
efektif.
8. Penyakit Paru Obstruksi Menahun
Eksaserbasi akut penyakit paru obstruktif menahun dapat diatasi dengan
doksisiklin oral 2 kali 100 mg/ hari. Antibiotika lain yang juga bermanfaat ialah
kotrimoksazol dan koamoksiklav.
9. Infeksi Intraabdominal
Tigesiklin efektif untuk pengobatan infeksi intraabdominal yang disebabkan
oleh E. Coli, C.freundii, E.faecalis, B.fragilis dan kuman-kuman lain yang peka.
10. Infeksi lain
a. Aktinimikosis
Golongan tetrasiklin dapat digunakan untuk mengobati penyakit ini bila
penisilin G tidak dapat diberikan kepada pasien.
b. Frambusia
Respons penderita terhadap pemberian golongan tetrasiklin berbeda-beda.
Pada beberapa kasus hasilnya baik, yang lalin tidak memuaskan. Antibiotik
pilihan utama untuk penyakit ini ialah penisilin.
c. Leptospirosis
Walaupun tetrasiklin dan penisilin G sering digunakan untuk pengobatan
leptospirosis, efektifitasnya tidak terbukti secara mantap.

d. Infeksi saluran cerna


Tetrasiklin mungkin merupakan ajuvan yang bermanfaat pada amubiasis
intestinal akut, dan infeksi Plasmodium falciparum. Selain itu mungkin
efektif untuk disentri yang disebabkan oleh strain Shigella yang peka.
11. Penggunaan Topikal
Pemakaian topikal hanya dibatasi untuk infeksi mata saja. Salep mata
golongan tetrasiklin efektif untuk mengobati trakoma dan infeksi lain pada mata
oleh kuman Gram-positif dan Gram-negatif yang sensitif. Selain itu salep mata ini
dapat pula digunakan untuk profilaksis oftalmia neonatorum pada neonatus (1)

2.12 Contoh Obat


Contoh obat yang mengandung tetrasiklin antara lain:
1. Conmycin
Komposisi :
Tetracycline HCl
Indikasi :
Infeksi karena organisme yang peka terhadap tetrasiklin
Dosis :
1 kaps 4 x/ hr. Brucellosis 500 mg 4 x/hr selama 3 minggu. Sifilis 30-40 gr
dalam dosis terbagi selama 15 hr.
Penggunaan obat :
Berikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan
dengan segelas air, dalam posisi tegak. Dapat diberikan bersama makanan
untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada GI.
Kontra Indikasi :
Riwayat hipersensitivitas terhadap tetrasiklin. Hamil, anak <12 tahun.
Efek samping :
Anoreksia, mual, muntah, diare, gossitis, disfagia, enterokolitis, lesi
inflamasi, ruam makulopapular dan eritematosa, fotosensitif.

2. Corsamycin
Komposisi :
Oxytetracycline HCl
Indikasi :
Bronkitis akut dan kronis termasuk pencegahan eksaserbasi akut,
bronkopneumonia dan atipikal pneumonia disebabkan oleh mikoplasma
pneumonia, bronkiektasis terinfeksi, bronkiolitis, otitis media, angina
vincenti, infeksi traktus urinatius, uretritis non-GO, infeksi bakteri pada
trakusGI dan biliaris, infeksi jaringan lunak, infeksi pasca persalinan
(endometritis), meningitis dan endokarditis, akne vulgaris, GO dan sifilis
yang tidak sesuai dengan penisilin. Granuloma inguinal dan khankroid,
bruselosis, kolera, amubasis, tifus dan Q-fever, psikatosis dan
limfogranuloma venereum, trakoma.
Dosis :
Dewasa 250-500mg tiap 6 jam selama 5-10 hari (untuk kebanyakan infeksi).
Infeksi nafas seperti eksaserbasi akut bronkitis dan pneumonia karena
mikoplasma 500 mg 4 x/hr. Profilaksis infeksi saluran respiratorius 250 mg
2-3 x/hr. GO dan sifilis, bruselosis total dosis 2-3 g/hr.
Penggunaan Obat :
Berikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan.
Kontra Indikasi :
Hipersensitif, gangguan ginjal. Hamil, anak < 7 tahun.
Efek samping :
Gangguan GI, gatal di anus dan vulva. Perubahan warna gigi dan hipoplasia
pada anak, hambatan pertumbuhan tulang sementara. Dosis tinggi: uremia.

3. Corsatet
Komposisi :
Tetracycline HCl
Indikasi :
Abses, akne, amubiasis, anthraks, disentri basiler, bartonellosis, bronkitis
akut dan kronis, infeksi bronkopulmoner, bruselosis, kankroid, difteri,
infeksi traktus genitourinaria, GO, granuloma inguinale, infeksi yang
menyertai fibrosis kistik pankreas, listeriosis, limfograuloma venereum,
infeksi bakteri campuran, osteomielitis, otitis eksterna dan media, pertusis,
faringitis, pneumonia, psittakosis, pielonefritis akut dan kronis, rocky
mountain spotted fever, demam scarlet, sinusitis, infeksi jaringan lunak,
sifilis, tonsilitis, tularemia, tifoid, ricketsia, uretritis (non-GO), pencegahan
pra dan pasca bedah dan dental.
Dosis :
Dewasa 250 mg 4 x/hr. Infeksi berat 1500-2000 mg/hr. Anak 20-40
mg/kg/BB/hr, dosis terbagi. Sifilis dosis total 30-40 g dalam dosis terbagi
rata selam 10-15 hari. Bruselosis kombinasi dengan streptomisin.
Penggunaan obat :
Berikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan
dengan segelas air, dalam posisi tegak. Dapat diberkian bersama makanan
untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada GI.
Kontra Indikasi :
Hipersensitif, gangguan ginjal berat, hamil, anak < 12 tahun.
Efek samping :
Gangguan GI, supersenitif, hepatotoksik dan nefrotoksik. Jarang
meningkatkan TIK, SLE. Perubahan warna gigi dan hipoplasia gigi pada
anak dalam masa pertumbuhan.

2.13 Hasil Analisis dari Jurnal


Judul : Evaluation of Antibacterial Activity of Tetracycline and Cephalexine
Decomposed by Sunlight
Ada beberapa faktor yang masih belum diketahui mengenai tetrasiklin dan
Sefaleksin di sekitar irak, maka dilakukanlah studi mengenai pengaruh sinar
matahari terhadap tetrasiklin dan sefaleksin. Tetrasiklin dan sefaleksin adalah
suatu antibiotik yang sering sekali digunakan dalam bidang kedokteran untuk
mengobati adanya indikasi bakteri. Namun apabila terkena cahaya matahari maka
akan terjadi fotolisis, sehingga akan terdegradasi sebagai akibat dari energi yang
dihasilkan dari penyerapan cahaya matahari. Terdegradasinya senyawa tersebut
tergantung seberapa baik senyawa tersebut menyerap cahaya matahari.
Beberapa faktor yang mempengaruhi terdegradasinya antibiotik ini adalah
frekwensi dan intensitas tumbukan molekul, konsentrasi, dan pH. Selain itu yang
harus diperhatikan adalah suhu, dan kelembapan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari aktivitas antibiotik
Tetrasiklin dan Sefaleksin yang terkena sinar matahari kemudian digunakannya
untuk melawan E-coli dan Staphylococcus sp.
Tetrasiklin dan Sefaleksin yang digunakan berasal dari SDI suatu perusahan
di irak sedangkan E-coli dan Staphylococcus sp didapatkan dari rumah sakit Ibin
Gazwan. Kapsul Tetrasiklin dan Sefaleksin dengan berat 250 mg dilarutkan dalam
10 ml air suling kemudian diberikan perlakuan sinar matahari di siang hari pada
bulan April di selatan Irak (suhu sekitar tiga puluh lima).
Hasil penelitian membuktikan, bahwa efek dari Sinar matahari UV
mengubah senyawa antibiotik menjadi jenis spesies berbeda yang tidak diketahui
dan menimbulkan banyak pertanyaan tentang produk yang terbentuk itu. Apa
senyawa ini adalah racun atau bukan.
Daerah hambatan untuk Tetracycline dan Sefaleksin pada spesies klinis
Staphylococcus Sp dan Escherichia coli. Hal ini menujukkan bahwa zona
penghambatan senyawa antibiotik yang terkena sinar matahari lebih kecil
dibandingkan control.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah ini sebagai berikut :

Antibiotik harus dibatasi pada keadaan dimana antibiotik tersebut benar


diperlukan.
Antibiotik jangan digunakan untuk infeksi ringan atau infeksi virus
Antibiotik spektrum luas tidak diindikasikan untuk infeksi dimana dapat
digunakan antibiotik lain yang lebih spesifik
Tetrasiklin adalah zat anti mikroba yang diperolah denga cara deklorrinasi
klortetrasiklina, reduksi oksitetrasiklina, atau denga fermentasi.
Alasan mengapa disebut tetrasiklin karena terdiri dari 4 ("tetra-") hidrokarbon
cincin ("-cycl-") derivasi ("-ine) yang merupakan subclass dari poliketida
yang memiliki kerangka octahydrotetracene-2-karboksamida.
3.2 Saran

Dalam makalah ini tidak menutup kemungkinan masih terdapat banyak


kekurangan baik menyangkut isi maupun penulisan, oleh karena itu, kami
harapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah
ini dan makalah selanjutnya.
Daftar Pustaka

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi 4, Depkes RI,


Jakarta.https://jekmad.blogspot.com/2013/01/tetrasiklin.html. Diakses pada
tanggal 7 April 2017.

Anonim, 2007, Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, Bagian farmakologi


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Gayabaru, Jakarta.
https://jekmad.blogspot.com/2013/01/tetrasiklin.html. Diakses pada tanggal
7 April 2017

Anonim, 2007, Obat-Obat Penting untuk Pelayanan Kefarmasian, Edisi Revisi,


Bagian Famasetika Fakultas Farmasi UGM, UGM-Press, Yogyakarta.
https://jekmad.blogspot.com/2013/01/tetrasiklin.html. Diakses pada tanggal
7 April 2017

Anonim, 2008, MIMS Indonesia petunjuk konsultasi, Edisi 8, CMPMedica Asia


Pltd, Singapore. https://jekmad.blogspot.com/2013/01/tetrasiklin.html.
Diakses pada tanggal 7 April 2017.

Anonim, 2010, Tetrasiklin, Available at http://en.wikipedia.org/wiki/Tetracycline,


diakses pada tanggal 25 April 2010.

ANTIBIOTIK TETRASIKLIN_Farida Apt.html. Diakses pada tanggal 7 April


2017.

Arifin, Sjamsul. 1985. Kimia Organik Bahan Alam. Universitas Terbuka.


ajiakbarnur.blogspot.com/2013/02/antibiotika-tetrasiklin.html. Diakses
pada tanggal 7 April 2017.

Chandury A. In vitro activity of Cefpirome A new fourth generation


cephalosporin. Indian J. of Medical Microbiology 2003; 21:50-51.
ajiakbarnur.blogspot.com/2013/02/antibiotika-tetrasiklin.html. Diakses
pada tanggal 7 April 2017.

Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Republik Indonesia:


Pedoman Penggunaan Antibiotik Nasional. Edisi 1, 1992, Jakarta.
ajiakbarnur.blogspot.com/2013/02/antibiotika-tetrasiklin.html. Diakses
pada tanggal 7 April 2017.

Ganiswara S.G. ( Ed) : Farmakologi dan terapi . Edisi IV, Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran UI, 1955, Jakarta.
ajiakbarnur.blogspot.com/2013/02/antibiotika-tetrasiklin.html. Diakses
pada tanggal 7 April 2017.
Istriyati , Bejo Basuki, 2006, Pengaruh Pemberian Tetrasiklin Pada Induk Mencit
(Mus musculus L.) terhadap Struktur Skeleton Fetus, Berkala Ilmiah
Biologi, Volume 5, Nomor 1, Juni 2006, halaman 45-50.
https://jekmad.blogspot.com/2013/01/tetrasiklin.html. Diakses pada tanggal
7 April 2017.

Mandel G. L., Douglas R. G., Bennet J. E., Dolin R. : Principles and Practice Of
Infectious Disease : Antimicrobial Therapy 1995 / 1996. Churchill
Livingstone, 1995. ajiakbarnur.blogspot.com/2013/02/antibiotika-
tetrasiklin.html. Diakses pada tanggal 7 April 2017.

Schwartz.Shires.Specer Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu bedah Ed 6Buku


kedokterean EGC 1995 Jakarta 47.
ajiakbarnur.blogspot.com/2013/02/antibiotika-tetrasiklin.html. Diakses
pada tanggal 7 April 2017.

Schwartz, dkk, 2000, Intisari Prinsip - Prinsip Ilmu Bedah. Editor : G. Tom Shires
dkk, EGC ; Jakarta. ajiakbarnur.blogspot.com/2013/02/antibiotika-
tetrasiklin.html. Diakses pada tanggal 7 April 2017.

Tierney L. M., Mc Phee S. J.,Papadakis M. A. : Current Medical Diagnosis and


Treatment 35 th Ed. Appleton and Lange, 1996, Stamfod.
ajiakbarnur.blogspot.com/2013/02/antibiotika-tetrasiklin.html. Diakses
pada tanggal 7 April 2017.

Tumah H. Fourth-Generation Cephalosporins : In vitro Activity against


Nosocomial Gram-Negative Bacili Compared with -Lactam Antibiotics
and Ciprofloxacin. Chemoteraphy 2005;51:80-85
ajiakbarnur.blogspot.com/2013/02/antibiotika-tetrasiklin.html. Diakses
pada tanggal 7 April 2017.