Anda di halaman 1dari 12

Hubungan Kualitas Tidur dengan Tekanan Darah pada Lansia

Hipertensi di Kedawung Kabupaten Sragen

The difference of visual outcome after phacoemulsification in senile cataract


patient emetrop and with high myopia

Hanugroho, Agya Ghilaman F, Rosita Alifa P, Sheila Rahmi IF, Dwi Bhakti P,
Sumardiyono
Faculty of Medicine, Sebelas Maret University

ABSTRAKS

Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering


ditemui diberbagai wilayah dan usia, terlebih pada usia lansia. Hipertensi pada lansia
dapat disebabkan berbagai faktor. Salah satu yang mempengaruhi peningkatan tekanan
darah pada lansia adalah kualitas tidur. Pada penderita hipertensi pengawasan
terhadap tekanan darah merupakan salah satu tatalaksana agar tidak terjadi
komplikasi akibat hipertensi yang diderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia hipertensi di Kedawung
Kabupaten Sragen.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan


menggunakan rancangan cross sectional yang dilaksanakan pada September hingga
Oktober 2016 di Kedawung Kabupaten Sragen. Pengambilan sampel dilakukan dengan
cara random sampling. Jumlah sampel yang digunakan adalah 35 lansia. Skala
pengukuran kualitas tidur menggunakan kuesioner Pittsburg Quality of Sleep Index
(PQSI). Untuk megetahui hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah digunakan
korelasi Pearson. Uji normalitas data menggunakan Saphiro Wilk.

Hasil: Rerata tajam penglihatan pasca fakoemulsifikasi best-corrected visual acuity


(BCVA) pada pasien emetrop adalah 0.099 0.027 (logMAR), sementara pada
miopia derajat tinggi adalah 0.289 0.040 (logMAR). Uji statistik menggunakan
Mann-Whitney didapatkan perbedaan bermakna tajam penglihatan
pascafakoemulsifikasi antara pasien katarak senilis emetrop dan miopia derajat
tinggi (p = 0.0003).

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan tekanan darah pada
lansia hipertensi di Kedawung Kabupaten Sragen.

Kata Kunci: Hipertensi, Tekanan Darah, Kualitas Tidur

1
ABSTRACT

Introduction: Hypertension is one of the health problems that are often encountered in
many areas and age, especially in the elderly age. Hypertension in the elderly can be
caused by various factors. One that affects an increase in blood pressure in the elderly
is the quality of sleep. In hypertensive patients, blood pressure monitoring is one of the
treatment to avoid the complications of hypertension. This study aims to determine the
relationship between sleep quality with blood pressure in elderly in Kedawung Sragen

Methods: This study was an observational analytic study using cross sectional study
conducted in September and October 2015 in Kedawung Sragen. Sampling was done by
random sampling. The samples used were 35 elderly. Scale measuring sleep quality
questionnaire of Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI). To know sleep quality
relationship with blood pressure used Pearson correlation. Test data using Shapiro Wilk
normality.

Results: The mean of postoperative best-corrected visual acuity was 0.099 0.027
(logMAR) for non myopic group and 0.289 0.040 (logMAR) for high myopic group.
The result of statistical analyses using Mann-Whitney test showed significantly
different between postoperative visual outcome of cataract senile patient with high
myopia and without myopia (p=0,0003).

Conclusions: There is a relationship between sleep quality with blood pressure in


elderly hypertensive in Kedawung Sragen

Keywords: Hypertension, Blood Pressure, Sleep Quality

PENDAHULUAN

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan dunia, termasuk di


Indonesia. Hipertensi hampir ditemukan diseluruh wilayah di Indonesia dan dalam
berbagai usia. Riskesdas Tahun 2013 menyatakan bahwa pada masyarakat Indonesia,
prevalensi hipertensi adalah 25,8%, sementara prevalensi hipertensi di Jawa Tengah
adalah 26,4 %. (1) Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah sistol 140 mmHg
dan atau tekanan darah diastolik 90 mmHg. (2)
Tekanan darah tinggi merupakan penyakit multifaktoral yang dipengaruhi oleh
berbagai faktor yaitu faktor individu seperti umur, jenis kelamin, faktor genetik serta
faktor lingkungan seperti obesitas, stress, kualitas tidur, asupan garam, alkohol dan lain-

2
lain (Kaplan, 1993, dalam Albert 2012). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Javaheri (2008), kurang tidur merupakan salah satu faktor risiko hipertensi pada orang
dewasa. Tidur yang lebih singkat dapat menyebabkan gangguan metabolisme dan
endokrin yang dapat berkontribusi menyebabkan gangguan kardiovaskular (Javaheri et
al., 2008). Tekanan darah secara normal menurun ketika sedang tidur normal (sekitar
10-20% masih dianggap normal). Keadaan ini terjadi karena penurunan aktivitas
simpatis pada saat tidur. Apabila tidur mengalami gangguan, maka tidak terjadi
penurunan tekanan darah saat tidur sehingga akan meningkatkan risiko terjadinya
hipertensi. Setiap 5% penurunan normal yang seharusnya terjadi dan tidak dialami oleh
seseorang, maka kemungkinan 20% akan terjadi peningkatan tekanan darah (Calhoun &
Harding, 2010).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Niten, Nogotirto,
Gamping, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 17 November tahun 2013, tercatat jumlah
penduduk lansia sebanyak 51 orang. Jumlah lansia yang menderita hipertensi sebanyak
30 orang (58,82%). Dari hasil wawancara dengan 7 orang lansia yang mengalami
hipertensi, 6 dari mereka mengatakan mengalami gangguan tidur pada malam hari.
Ketika tekanan darah naik mereka tidak segera berobat ke pelayanan kesehatan dan
belum memahami risiko yang terjadi jika tekanan darah naik dan tidak terkontrol. Dari
hasil studi pendahuluan diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai Hubungan Kualitas Tidur dengan Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi di
Kedawung, Kabupaten Sragen.
Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan peneliti ingin
mengetahui dan menganalisis hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pada lansia
hipertensi di Kedawung, Kabupaten Sragen.

SUBJEK DAN METODE

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan


penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan September 2016-Oktober
2016, pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling berjumlah
35 sampel.

3
Subjek penelitian merupakan lansia usia diatas 60 tahun dengan riwayat
hipertensi di wilayah Kedawung. Kualitas tidur lansia adalah kepuasan terhadap tidur
yang mempengaruhi kenyamanan dalam beristirahat pada usia > 60 tahun di Kedawung,
Kabupaten Sragen. Skala pengukuran kualitas tidur menggunakan kuesioner Pittsburg
Quality of Sleep Index (PQSI). Alat ini merupakan alat untuk menilai kualitas tidur. Alat
ini terdiri dari 19 poin pertanyaan dan 5 pertanyaan untuk teman sekamar. 19 pertanyaan
itu mengkaji secara luas faktor yang berhubungan dengan tidur seperti durasi tidur,
latensi tidur, dan masalah tidur. Ketujuh komponen dijumlahkan sehingga terdapat skor
0-21, dimana skor lebih tinggi atau sama dengan 5 menandakan kualitas tidur yang
buruk (Buysse et al., 1988)
Analisis data yaitu proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih
mudah dan diinterpretasikan serta dinyatakan dalam bentuk persentase sebagai langkah
awal dari keseluruhan proses analisis. Untuk megetahui hubungan kualitas tidur dengan
tekanan darah digunakan korelasi Pearson. Uji normalitas data menggunakan Saphiro
Wilk
HASIL

Berikut skor Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI) dari ke-35 lansia dengan
hipertensi beserta dengan hasil tekanan darah.
Tabel 1. Skor PSQI dan tekanan darah
Nama Skor Tekanan MAP
Lansia PSQI Darah

1 5 140/90 106,6

2 7 150/100 116,6

3 6 150/100 116,6

4 9 160/100 120

5 8 140/100 113,3

6 7 130/80 96,6

7 7 130/90 103,3

8 8 150/110 123,3

9 4 120/90 100

10 3 120/80 93,3

11 4 130/80 96,6

12 8 130/90 103,3

4
13 7 140/90 106,6

14 6 160/110 126,6

15 5 160/100 120

16 5 150/100 116,6

17 7 170/110 130

18 6 130/80 96,6

19 7 120/90 100

20 7 140/100 113,3

21 9 150/100 116,6

22 10 150/110 123,3

23 11 160/110 126,6

24 7 140/90 106,6

25 7 140/90 106,6

26 4 120/90 100

27 5 130/100 110

28 5 130/90 103,3

29 6 140/100 113,3

30 7 150/110 123,3

31 6 150/100 116,6

32 8 160/100 120

33 9 160/100 120

34 7 150/90 110

35 8 140/90 106,6

Berdasarkan data PSQI ke-35 lansia tersebut diketahui bahwa sebesar 88,57%
(31 responden) mengalami kualitas tidur yang buruk dimana 74,19% (23 responden)
dari lansia dengan kualitas tidur buruk mengalami hipertensi.

PEMBAHASAN

5
Pada Tabel 1 didapatkan data visual, auditori, nyeri, dan sensorik
bahwa lansia yang memiliki kualitas raba. Selain itu juga menerima stimulus
tidur buruk sebanyak 31 responden dari korteks serebri (emosi dan proses
(88,57%). Sedangkan, jumlah lansia pikir). Neuron-neuron dalam RAS
yang memiliki kualitas tidur baik melepaskan katekolamin, yaitu
berjumlah 4 responden (11,42%). norepinefrin pada keadaan sadar. Saat
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidur mungkin disebabkan oleh
sebagian besar lansia memiliki kualitas pelepasan serum serotonin dari sel-sel
tidur yang buruk. spesifik di pons dan batang otak tengah
Tidur adalah suatu keadaan
yaitu bulbar synchronizing regional
relatif tanpa sadar yang penuh
(BSR). Bangun dan tidurnya seseorang
ketenangan tanpa kegiatan yang
tergantung dari keseimbangan impuls
merupakan urutan siklus yang berulang-
yang diterima dari pusat otak, reseptor
ulang dan masing-masing menyatakan
sensorik perifer misalnya bunyi,
fase kegiatan otak dan badaniah yang
stimulus cahaya, dan sistem limbik
berbeda. Tidur merupakan aktivitas
seperti emosi. Seseorang yang mencoba
yang melibatkan susunan saraf pusat,
untuk tidur, mereka menutup matanya
saraf perifer, endokrin, kardiovaskular,
dan berusaha dalam posisi rileks. Jika
respirasi, dan muskuloskeletal
ruangan gelap dan tenang aktivitas RAS
(Robinson 1993, dalam Potter &
menurun, pada saat itu BSR
Perry (2005).
mengeluarkan serum serotinin
Pengaturan dan kontrol tidur
(Tarwoto & Wartonah, 2010).
tergantung dari hubungan antara dua
Apakah seseorang tetap terjaga
mekanisme serebral yang secara
atau tertidur tergantung pada
bergantian mengaktifkan dan menekan
keseimbangan impuls yang diterima
pusat otak untuk tidur dan bangun.
dari pusat yang lebih tinggi (misal
Reticular activating sistem (RAS) di
pikiran), reseptor sensori perifer (misal
bagian batang otak atas diyakini
stimulus bunyi atau cahaya) dan sistem
mempunyai sel-sel khusus dalam
limbik (emosi). Ketika orang mencoba
mempertahankan kewaspadaan dan
tertidur, mereka akan menutup mata dan
kesadaran. RAS memberikan stimulus
berada dalam posisi relaks. Stimulus ke

6
RAS menurun. Jika ruangan gelap dan maka akan mengakibatkan terjadinya
tenang, maka aktivasi RAS selanjutnya penurunan kualitas tidur (Buysee, et
menurun. Pada beberapa bagian, BSR al.,1989, dalam Albert, 2012).
Bentuk bioritme yang paling
mengambil alih, yang menyebabkan
umum adalah ritme sikardian yang
tidur (Potter & Perry, 2005).
Pola tidur normal pada lanjut melengkapi siklus selama 24 jam.
usia, tidur sekitar 6 jam/hari. Menurut Dalam hal ini, fluktuasi denyut jantung,
Mubarak (2008), banyak faktor yang tekanan darah, temperatur tubuh, sekresi
mempengaruhi kualitas maupun hormon, metabolisme, dan penampilan
kuantitas tidur, diantaranya adalah serta perasaan individu bergantung pada
penyakit, lingkungan, kelelahan, gaya ritme sikardiannya. Tidur adalah salah
hidup, stress emosional, stimulan dan satu irama biologis tubuh yang sangat
alkohol, diet merokok, medikasi, dan kompleks. Sinkronisasi sikardian terjadi
motivasi. Hipertensi seringkali jika individu memiliki pola tidur-
menyebabkan terbangun pada pagi hari bangun yang mengikuti jam
dan kelemahan (Potter & Perry, 2006). biologisnya: individu akan bangun pada
Kualitas tidur adalah karakter
saat ritme fisiologis dan psikologis
tidur yang diperlihatkan oleh individu.
paling tinggi atau paling aktif dan akan
Kualitas tidur merupakan suatu kognitif,
tidur pada saat ritme tersebut paling
penilaian mengenai persepsi tidur
rendah (Lilis, Taylor, Lemone, 1989,
seseorang (kenyenyakan tidur, persepsi
dalam Mubarak, 2008). Sehingga
tentang pergerakan selama tidur dan
apabila kualitas tidur terganggu maka
pengkajian umum dari kualitas tidur
akan berkontribusi terhadap
(Ouellet, 1995, dalam Rohmawati,
peningkatan tekanan darah. Pada Tabel
2012). Kualitas tidur merupakan
1 didapatkan data distribusi frekuensi
fenomena yang sangat kompleks yang
hipertensi. Sebagian besar lansia
melibatkan berbagai domain, antara
memiliki hipertensi stage 1 yang
lain, penilaian terhadap lama waktu
berjumlah 17 responden (48,57%).
tidur, gangguan tidur, masa laten tidur,
Sedangkan jumlah responden yang
disfungsi tidur pada siang hari, efisiensi
memiliki prehipertensi adalah 7
tidur, kualitas tidur, penggunaan obat
responden (20%), hipertensi stage 2
tidur. Jadi apabila salah satu dari
adalah 7 responden (20%). Hipertensi
ketujuh domain tersebut terganggu
merupakan gejala yang paling sering

7
ditemui pada orang lanjut usia dan p> 0,05 dan dapat disimpulkan bahwa
menjadi faktor risiko utama insiden distribusi data kualitas tidur dan tekanan
penyakit kardiovaskular (Kemsos, darah terdistribusi normal, sehingga
2009). Tekanan darah tinggi atau dapat menggunakan analisa data
hipertensi secara umum didefinisikan Pearson. Hasil analisa data
sebagai tekanan sistolik lebih dari 140 menggunakan Pearson dapat dilihat
mmHg dan tekanan diastolik lebih dari pada Tabel 4.4. Pada tabel tersebut
90 mmHg (Palmer, 2007). Tekanan dapat dilihat korelasi antara kualitas
darah adalah kekuatan yang diperlukan tidur dengan tekanan darah
agar darah dapat mengalir di dalam didapatkan hasil nilai r hitung sebesar
pembuluh darah dan beredar mencapai 0,843 dan p value sebesar 0,00. Nilai p
semua jaringan tubuh manusia value 0,00 sehingga p value < 0,05
(Gunawan, 2001). Tekanan arterial sehingga Ho ditolak dan Ha diterima
rerata (MAP) mencerminkan tekanan artinya terdapat hubungan antara
rata-rata dalam percabangan arteri kualitas tidur dengan tekanan darah.
sepanjang siklus jantung. Nilai normal Nilai r hitung 0,843 menunjukkan
antara 70-105 mmHg (Horne, 2000). bahwa korelasi memiliki tingkat
Beberapa faktor yang dapat hubungan yang kuat. Sehingga dapat
meningkatkan tekanan darah disimpulkan bahwa ada hubungan
diantaranya adalah konsumsi kadar antara kualitas tidur dengan tekanan
garam yang tinggi, obesitas, riwayat darah pada lansia hipertensi di
hipertensi (Soenanto, 2009), usia tua, Kedawung Sragen.
Dapat disimpulkan bahwa
etnis, gender (Palmer, 2007), stress
kualitas tidur yang buruk dapat
(Kowalsky, 2010), gaya hidup
berpengaruh terhadap peningkatan
(Wiryowidagdo & Sitanggang, 2008)
tekanan darah, apabila kualitas tidur
dan kualitas tidur (Calhoun &
seseorang semakin buruk maka akan
Harding, 2010).
Uji normalitas data pada meningkatkan risiko terjadi peningkatan
penelitian ini menggunakan uji tekanan darah, hal tersebut didukung
Shapiro-Wilk. Hasil uji normalitas data beberapa teori dan penelitian. Ini sejalan
PSQI yaitu p value sebesar 0,352 dan dengan penelitian Albert (2012) dengan
tekanan darah memiliki p value 0,328. judul Hubungan Kualitas Tidur Dengan
Data tersebut menunjukkan bahwa nilai Tekanan Darah Pada Mahasiswa

8
Fakultas Kedokteran Universitas dan sistem saraf simpatik seperti yang
Sumatera Utara Tahun Masuk 2009. terlihat dalam insomnia dapat
Penelitian ini untuk mengetahui menyebabkan kerentanan terhadap
hubungan kualitas tidur dengan tekanan perkembangan hipertensi (Calhoun &
darah dan hasilnya menunjukkan bahwa Harding, 2010).
Tekanan darah akan meningkat
adanya hubungan yang signifikan antar
pada saat kita beraktivitas, yaitu ketika
variabel.
Tidur mengubah fungsi sistem jantung harus memompa lebih keras.
saraf otonom dan peristiwa fisiologis Contohnya, ketika sedang melakukan
lainnya yang mempengaruhi tekanan olahraga. Namun, ketika kita
darah. Selain itu, gangguan tidur beristirahat, tekanan darah akan turun.
merubah respon tekanan darah dan Keadaan ini disebabkan terjadinya
meningkatkan risiko hipertensi. penurunan beban jantung. Makanan,
Tekanan darah menurun saat tidur. alkohol, rasa sakit, stres, dan emosi
Durasi tidur pendek dikaitkan dengan yang meluap juga dapat meningkatkan
hipertensi, terutama selama usia tekanan darah. Bahkan, ketika bermimpi
pertengahan. Insomnia dengan durasi pun tekanan darah bisa meningkat.
tidur pendek juga dikaitkan dengan Namun, keadaan ini termasuk normal.
peningkatan risiko hipertensi. Selama Tekanan darah seseorang biasanya
tidur normal, terjadi penurunan di mengalami perubahan setiap saat.
tekanan darah relatif selama terjaga. Dalam kurun waktu 24 jam, tekanan
Penurunan ini disebabkan penurunan dalam arteri mengalami fluktuasi alami
saraf simpatik. Penurunan dari 10% selama 24 jam. Tekanan darah tertinggi
menjadi 20 % dalam tekanan darah biasanya terjadi pada pagi hari setelah
(baik sistolik dan diastolik) bangun tidur dan melakukan aktivitas.
dibandingkan dengan rata-rata tekanan Setelah itu, tekanan darah menjadi stabil
darah pada siang hari dianggap normal. sepanjang hari. pada malam hari
Sebaliknya, setiap penurunan normal tekanan darah mulai turun. Tekanan
yang seharusnya terjadi dan tidak darah akan mencapai titik terendah saat
dialami oleh seseorang, maka kita tertidur pulas (Yulianti &
kemungkinan 20% akan terjadi Sitanggang, 2006).
Menurut teori, tidur adalah
peningkatan tekanan darah. Aktivasi
waktu perbaikan dan persiapan untuk
sumbu hypothalmic-pituitary-adrenal

9
periode terjaga berikutnya. Laju denyut tidur sebagai faktor risiko hipertensi
jantung normal pada orang dewasa pada orang dewasa. Penelitian
sehat sepanjang hari rata-rata 70-80 eksperimental menunjukkan bahwa
denyut per menit atau lebih rendah jika hasil tidur yang lebih singkat dapat
individu berada pada kondisi fisik yang menyebabkan gangguan metabolisme
sempurna. Akan tetapi selama tidur laju dan endokrin, yang dapat berkontribusi
denyut jantung turun sampai 60 denyut menyebabkan gangguan kardiovaskular.
per menit atau lebih rendah. Hal ini Selain itu juga dilaporkan bahwa
berarti bahwa denyut jantung 10 hingga meskipun durasi tidur yang rendah
20 kali lebih sedikit dalam setiap menit dapat menyebabkan terjadinya
selama tidur. Secara jelas, tidur yang hipertensi, tetapi efisiensi tidur yang
nyenyak bermanfaat dalam memelihara rendah dilaporkan lebih mempunyai
fungsi jantung (Potter & Perry, 2005). makna menyebabkan hipertensi
Berdasarkan penelitian yang
dibandingkan dengan durasi tidur yang
dilakukan oleh Javaheri (2008), kurang
rendah (Javaheri et al., 2008).

1. Perlu dilakukan penelitian kualitatif


SIMPULAN mengenai faktor-faktor intraoperasi
dan pascaoperasi yang dapat
1. Terdapat hubungan yang bermakna mempengaruhi tajam penglihatan
antara kualitas tidur yang rendah pascafakoemulsifikasi pasien katarak
dengan hipertensi. senilis.

2. Rerata tajam penglihatan BCVA 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut


pada kelompok emetrop adalah mengenai komplikasi yang dapat
0.099 0.027 (logMAR) dan terjadi pada pasien katarak senilis
kelompok miopia derajat tinggi dengan miopia tinggi yang menjalani
adalah 0.289 0.040 (logMAR). operasi fakoemulsifikasi.

UCAPAN TERIMA KASIH


SARAN
1. Dr. Senyum Indrakila, dr., Sp.M
selaku Penguji Utama yang telah

10
memberikan masukan, saran dan 4. Petermeier K. Intraocular lens power
calculation and optimized constants
kritik demi kesempurnaan penulisan
for highly myopic eyes. Journal
penelitian. Cataract Refractive Surgery 2009;
35:1575-1581.
2. Kurnia Rosyita, dr., Sp.M selaku 5. Amelia R. Akurasi kekuatan lensa
Penguji Pendamping yang telah intraokuler pada pasien miopia aksial
menggunakan alat optical biometry
memberikan masukan, saran dan [Thesis]. Makasar: Universitas
kritik demi kesempurnaan penelitian. Hasanuddin; 2013.
3. Yunia Hastami, dr., selaku Penguji
6. Ghanem AA dan El-Sayed HM.
Ke-5 yang telah memberikan Accuracy of intraocular lens power
masukan, saran dan kritik demi calculation in high myopia. Oman J
Ophthalmol2010; 3(3):126130.
kesempurnaan penelitian.
4. Dosen dan staf SMF Ilmu Penyakit 7. Jeon S dan Kim HS. Clinical
characteristics and outcomes of
Mata serta Bagian Rekam Medis cataract surgery in highly myopic
RSUD Dr. Moewardi, Surakarta. koreans. Korea J Ophthalmol 2011;
25(2):84-89.
8. Purnaningrum NR. Perbedaan tajam
DAFTAR PUSTAKA
penglihatan pasca operasi katarak
fakoemulsifikasi pada pasien katarak
1. Badan Penelitian dan Pengembangan
senilis dengan diabetes mellitus dan
Kesehatan Kementerian Kesehatan
tanpa diabetes mellitus [Skripsi].
RI. Riset kesehatan dasar (Riskesdas)
Semarang: Universitas Diponegoro;
2013. Jakarta: Kementerian
2014.
Kesehatan 2013.
9. Cetinkaya S, Acir NO, Cetinkaya YF,
2. Ong, KL., Cheung, BM., Man, YB.,
Dadaci Z, Yener HI, Saglam F.
Lau, CP., Lam, KS. 2006.
Prevalence, Awarness, Phacoemulsificaton in eyes wth
Treatment, and Control of cataract and high myopia. Arq Bras
Hypertension Among United Oftalmol 2015; 78(5):286-9.
States Adults 1994-2004. J clin
Hypertens, 49: 69-75 10. Budiman NK, Knoch AM, dan
Bellarinatasari N, Gunawan W, Susanti Y. Success rate of
Widayanti TW, Hartono. The role of phacoemulsification for cataract in
ascorbic acid on endothelial cell patients with high-degree myopia in
damage in phacoemulsification. National Eye Center Cicendo Eye
Jurnal Oftalmologi Indonesia 2011; Hospital Bandung, Indonesia. Althea
7:181-184. Medical Journal 2014; 1:12-16.

3. Ayanniyi AA. Management of 11. Akal A, Goncu T, Cakmak SS, Yuvaci


cataract surgery in a high myope a I, Atas M, Demircan S, Yilmaz OF.
case control. Nigerian Journal of Evaluation of early results of quick-
Opthalmology 2006; 14:65-67. chop phacoemulsification in the

11
patients with high myopic cataract. Semarang: Universitas Diponegoro;
Int J Ophtalmol 2014; 7(5): 828-831. 2002. Thesis.
12. Tsai CY, Chang TJ, Kuo LL, Chou P, 15. El-Nafees R, Moawad A, Kishk H,
Woung LC. Visual outcomes and Gaafar W. Intra-ocular lens power
associated risk factors of cataract calculation in patients with high axial
surgeries in highly myopic myopia before cataract surgery. Saudi
Taiwanese. Ophthalmologica 2008; Journal of Ophthalmology 2010;
222: 130-135. 24:7780.
13. Akar S, Gok K, Bayraktar S, Kaya V, 16. Lucena DR, Ribeiro MS, Messias A,
Kuuksumer Y, Altan C, Yilmaz OF. Bicas HE, Scott IU, Jorge R.
Phacoemulsification in high myopia. Comparison of corneal changes after
Saudi Med J 2010; 31(10):1141-1145. phacoemulsification using BSS plus
versus lactated ringer's irrigating
14. Kristiani S. Kekuatan rata-rata lensa solution: a prospective randomised
intra ockular pada penderita katarak trial. Br J Ophthalmol 2010;
senilis yang menjalani operasi 95(4):485-9.
ekstraksi katarak ekstrakapsuler di
RSUP Dr. Karyadi [Thesis].

12