Anda di halaman 1dari 3

Resume Jurnal Akupuntur (Zhang et al.

, 2013)

Jurnal ini melaporkan akupuntur sebagai solusi terapi pasien


hipertensi dengan intoleransi efek samping penggunaan obat
antihipertensi. Aplikasi akupuntur tidak hanya menghilangkan efek
samping obat antihipertensi, seperti diare dan fatigue, tetapi juga
dapat menurunkan hipertensi. Kombinasi antara aplikasi akupuntur
dan obat antihipertensi memberikan efek lebih baik dalam
menurunkan hipertensi. Keduanya memiliki efek sinergisme dalam
menurunkan hipertensi jika digunakan secara bersamaan.
Dilaporkan, seorang lelaki berusia 56 tahun (tinggi 165 cm,
berat badan 75 kg) terdaftar di The First Affiliated Hospital of Tianjin
University of Traditional Chinese Medicine pada tanggal 24
September 2012 dengan hipertensi dan efek samping penggunaan
obat antihipertensi. Lelaki tersebut didiagnosis hipertensi pada
tahun 2007 dengan tekanan darah 160/100 mmHg. Dia mulai
mengkonsumsi levamlodipine 5 mg 1x/hari pada Maret 2011.
Meskipun sudah mengkonsumsi obat antihipertensi, tekanan
darahnya tidak menurun dan justru mengalami flushing dan
palpitasi sebagai akibat penggunaan obat antihipertensi. Kemudian,
terapi obat antihipertensi diganti dengan irbesartan 150 mg 1x/hari
pada Juli 2012. Tekanan darahnya menjadi 140/85 mmHg, tetapi
terdapat efek samping berupa diare, fatigue, dan penurunan fungsi
seksual.
Berdasarkan kondisi tersebut, akupuntur digunakan sebagai
terapi pendamping pasien hipertensi. Dia menerima 60 sesi terapi
akupuntur selama 12 minggu, tiap sesi berdurasi 30 menit (5-6 sesi
terapi akupuntur tiap minggu) dimulai 24 September sampai 24
Desember 2012.
Akupuntur sebagai terapi hipertensi pada pasien dengan
intoleransi efek samping penggunaan obat antihipertensi dilakukan
pada titik akupuntur Yangming meridian, seperti LI4, LI11, dan ST36
secara bilateral. Titik-titik tersebut dapat menyeimbangkan qi dan
darah. Selain itu juga dilakukan akupuntur pada titik Renying ST9
bilateral, sebuah titik pertemuan antara lambung dan saluran
kandung empedu yang mengatur qi dan darah, terletak dekat sinus
karotikus. Titik ST9 merupakan sensor tekanan pada tubuh manusia
yang mengatur tekanan darah. Titik CV4, CV6, dan SP6 juga diberi
perlakuan sebagai terapi terhadap reaksi efek samping obat
antihipertensi, seperti diare dan fatigue (Yin et al., 2012). Stimulus
terhadap titik akupuntur harus tepat sesuai agar tercipta sensasi de
qi, dimana berhubungan dengan perubahan psikologi. Hal tersebut
memiliki peranan penting dalam keberhasilan efek akupuntur. (Yu et
al., 2013).
Setelah 6 minggu perlakuan dengan akupuntur, terdapat
penurunan tekanan darah (dari 150/99 menjadi 128/85 mmHg).
Kemudian, pasien menghentikan terapi obat antihipertensi pada
tanggal 10 Desember. Kira-kira 14 hari kemudian, tekanan darah
kembali naik setelah 12 minggu terapi akupuntur (dari 128/85
menjadi 146/95 mmHg). Hal tersebut membuktikan bahwa
kombinasi antara terapi obat antihipertensi dengan akupuntur
memberikan efek terapi penurunan hipertensi yang lebih baik.
Terdapat efek sinergisme antara akupuntur dan obat antihipertensi
karena efek antihipertensi menjadi melemah ketika penggunaan
obat antihipertensi dihentikan. Hal penting lainnya bahwa akupuntur
menyebabkan efek samping obat antihipertensi seperti diare dan
fatigue menjadi hilang.
Dapat disimpulkan bahwa aplikasi akupuntur pada pasien
hipertensi dapat memberikan efek penurunan tekanan darah,
terutama jika disinergikan dengan penggunaan obat antihipertensi.
Selain itu, akupuntur mengurangi efek samping pengunaan obat
antihipertensi sehingga dapat menjadi alternatif bagi pasien
hipertensi yang tidak bisa mentolerir efek samping obat
antihipertensi.
Dapus:
1. Yu DT, Jones AY. Physiological changes associated with
de qi during electroacupuncture to LI4 and LI11: a
randomized, placebo controlled trial. Acupuncture Med
2013;31:14350.
2. Yin C, Du YZ. Observation of anti-hypertensive effect on
primary hypertension treated with acupuncture at
Renying (ST 9) mainly. Zhongguo Zhen Jiu 2012;32:776
8.