Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Minyak Kelapa Sawit


Minyak sawit adalah salah satu minyak yang paling banyak dikonsumsi dan
diproduksi di dunia. Minyak yang murah, mudah diproduksi dan sangat stabil ini
digunakan untuk berbagai variasi makanan, kosmetik, produk kebersihan, dan juga bisa
digunakan sebagai sumber biofuel atau biodiesel. Kebanyakan minyak sawit diproduksi di
Asia, Afrika dan Amerika Selatan karena pohon kelapa sawit membutuhkan suhu hangat,
sinar matahari, dan curah hujan tinggi untuk memaksimalkan produksinya. Produksi
minyak sawit dunia didominasi oleh Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini secara total
menghasilkan sekitar 85-90% dari total produksi minyak sawit dunia. Pada saat ini,
Indonesia adalah produsen dan eksportir minyak sawit yang terbesar di seluruh dunia.

Gambar 2.1 Minyak kelapa sawit

Senyawaan asam lemak yang terkandung dalam minyak kelapa sawit sangat
beragam. Ada senyawaan asam lemak jenuh seperti asam stearate dan asam palmitate
maupun asam lemak tak jenuh seperti asam oleat, asam linoleate, dan asam linolenat.

Gambar 2.2 Beberapa asam lemak yang terkandung dalam minyak kelapa sawit
2.2. Reaksi Hidrogenasi
Hidrogenasi adalah reaksi antara hidrogen molekuler (H) dengan unsur atau senyawa
lain yang biasanya melibatkan katalis seperti nikel, paladium atau platina. Proses ini
banyak digunakan untuk mereduksi senyawa organik jenuh. Hidrogenasi merupakan adisi
pasangan atom hidrogen pada suatu molekul (umumnya alkena). Katalis diperlukan untuk
reaksi ini. Hidrogenasi non-katalitik berlangsung hanya pada suhu tinggi. Hidrogenasi
mereduksi ikatan rangkap dua dan tiga pada hidrokarbon. Berikut contoh reaksi
hidrogenasi yang sederhana:

H2C=CH2 + H2 H3C-CH3

Ada beberapa tahapan dalam hidrogenasi, yaitu: transfer dan/atau difusi, adsorpsi,
hydrogenasi/isomerasi, desorpsi, dan transfer. Berikut ini adalah proses mekanisme reaksi
hidrogenasi suatu alkena menjadi alkane oleh gas hydrogen dengan bantuan katalis.

Gambar 2.3 Mekanisme singkat reaksi hidrogenasi

Hidrogenasi pada minyak kelapa sawit adalah proses yang menggunakan gas
hidrogen untuk mengubah minyak nabati cair menjadi olesan/margarin. Proses ini
menstabilkan minyak dan mencegah basi akibat oksidasi. Reaksi hidrogenasi bersifat
sensitif terhadap beragam faktor yang dapat berdampak negatif pada waktu batch, masa
pakai katalis, kecepatan produksi, dan selektivitas. Proses hidrogenasi tersebut bertujuan
untuk: membuat minyak / lemak bersifat lebih plastis, meningkatkan titik cair, minyak
tahan terhadap oksidasi

2.3. Katalis
Ada suatu substansi atau bahan atau zat yang bukan reaktan dan juga bukan produk,
tetapi dapat dan bahkan sangat mempengaruhi kecepatan reaksinya. Substansi inilah yang
dinamakan katalis (atau katalisator). Berzellius pada tahun 1835 merupakan orang
(ilmuwan) yang pertama kali menggunakan istilah katalis. Katalis berperan mempercepat
reaksi (meningkatkan kecepatan/laju reaksi). Katalis tidak muncul di dalam persamaan
stoikiometri reaksi, karena katalis bukanlah reaktan dan juga bukan produk. Hal berlaku
secara umum, kecuali pada kasus reaksi autokatalitik. Katalis muncul di dalam mekanisme
reaksi, serta muncul (secara langsung maupun tidak langsung) dalam persamaan kecepatan
reaksi.

Gambar 2.4 Pengaruh katalis dalam menurunkan energy aktivasi

Kuantitas atau banyaknya katalis tidak mengalami perubahan selama reaksi


berlangsung. Kendatipun demikian, seiring dengan berlangsungnya proses, pada
kenyataannya katalis dapat mengalami perubahan sifat-sifat kimia dan fisika secara
irreversibel yang mengarah kepada terjadinya deaktivasi. Komposisi kimiawi suatu katalis
tidak berubah pada akhir reaksi. Katalis dibutuhkan oleh suatu reaksi dalam kuantitas yang
sangat sedikit.
Katalis tidak mengubah atau menggeser kesetimbangan reaksi, termasuk semua sifat
termodinamikanya, seperti kecenderungan keberlangsungan reaksi (berdasarkan perubahan
energi bebas Gibbs reaksi, G), besarnya panas reaksi (H), harga tetapan kesetimbangan
reaksi (K), dan konversi maksimum reaksi (Xe) yang dapat dicapai pada kondisi tertentu.
Dengan atau tanpa katalis, sifat-sifat termodinamika reaksi tidak mengalami perubahan.
Katalis hanya berpengaruh terhadap sifat kinetika reaksi.
Dari segi fase katalis dapat digolongkan menjadi dua jenis. Katalis homogen, yakni
jika fase katalis sama dengan fase reaktan dan fase produk reaksi (atau: fase katalis = fase
reaksi). Yang paling umum berupa fase cair, dengan katalis dan reaktan berada dalam
larutan. Katalis heterogen, yakni jika fase katalis tidak sama dengan fase reaktan dan/atau
fase produk reaksi (atau: fase katalis fase reaksi).
2.4. Palladium
Palladium (Pd) merupakan unsur logam yang terdapat pada golongan VIIIB dan
periode kelima dalam tabel periodik. Palladium memiliki sifat fisik berwarna silver dan
dalam keadaan murni berbentuk padat. Palladium memiliki massa jenis 12 g/mL, nomor
atom 46 dan massa atom 106.42. Palladium memiliki konfigurasi electron [Kr] 4d10 5s0
yang menyebabkan logam palladium dapat berperan sebagai katalis dengan menyediakan
tempat untuk electron yang dapat masuk kedalam orbital 5s.

Gambar 2.5 Logam Palladium

Penggunaan logam Palladium sebagai katalis sudah dikenal dan banyak diteliti oleh
banyak ilmuwan. Permukaan paladium adalah katalis yang sangat baik untuk reaksi kimia
yang melibatkan hidrogen dan oksigen, seperti hidrogenasi senyawa organik tak jenuh.
Dalam kondisi yang sesuai (80 C dan 1 atmosfer), paladium menyerap hidrogen lebih dari
900 kali volume sendiri; mengembang dan menjadi lebih keras, lebih kuat, dan kurang ulet.
Penyerapan juga menyebabkan kedua konduktivitas listrik dan kerentanan magnetik
menurun.
Palladium lebih reaktif daripada logam platinum lainnya; misalnya, lebih mudah
bereaksi dengan asam daripada logam platinum lainnya. Larut perlahan dalam asam nitrat
untuk menghasilkan paladium nitrat, Pd (NO 3)2, dan dengan asam sulfat pekat
menghasilkan paladium sulfat, PdSO4 2H2O.

2.5. Alumina
Alumina ialah suatu senyawa oksida logam, yaitu gabungan dari suatu logam
Aluminium dengan untur Oksigen yang membentuk suatu padatan. Alumia banyak
digunakan dalam berbagai macam proses katalisis, baik sebagai katalisator maupun sebagai
support pada katalis yang digunakan.
Pada industri katalis hydrotreating, -Al2O3 merupakan tipe alumina yang sangat
menarik karena memiliki luas permukaan yang besar terutama sekitar 250-350 m2/g
(Satterfield, 1997) Alumina dengan distribusi pori dominan berukuran makro relatif
memiliki volume pori yang besar (Rana dkk., 2005; Lussier dan Wallace, 2002). Penyangga
dengan volume pori yang besar dapat memuat larutan impregnan yang lebih banyak dan
jumlah fasa aktif yang didispersi akan lebih banyak pula. Sifat kimia g-Al2O3
diidentifikasi dengan pusat asam. Tipe pusat asam yang muncul di permukaan g-Al2O3
dapat berupa pusat asam Lewis (AlO-) dan atau pusat asam Brnsted (Al-OH) (Gate dkk.,
1979).
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Material
Pada penelitian ini, alat dan bahan yang digunakan ialah minyak kelapa (Siam Oil
and Fat Co, Ltd), katalis Pd/-Al2O3 (Sigma Aldrich), Gas hydrogen, Reaktor hidrogenasi,
743 Rancimat (Konduktivitas), Pressure DSC, 809 Titrando (Titrasi), ASTM D4052,
ASTM D2270, ASTM D90, DSC.

3.2. Prosedur Kerja


3.2.1. Reaksi Hidrogenasi Parsial
Pada penelitian ini, digunakan reactor untuk membantu keberlangsungan reaksi
hidrogenasi parsial dengan memasukkan minyak kelapa kedalam tabung reaktornya,
kemudian dengan menambahkan katalis Pd/-Al2O3 dan dengan dialiri gas hydrogen.
Reaksi hidrogenasi akan berlangsung dengan mengatur pengadukan dengan kecepatan
konstan 500 rpm, dan dengan variasi temperature dan tekanan hidrogennya. Sejumlah
aliquot diambil untuk dikarakterisasi

3.2.2. Karakterisasi Produk


Aliquot yang telah diambil kemudian dikarakterisasi untuk mengetahui berbagai
macam parameter, diantaranya adalah stabilitas oksidasi, Oxidation Induction Time(OIT),
komposisi asam lemak, konsentras asam, densitas dari produk, viskositas kinetic, dan titik
Pour Point dan stabilitas termal.
Pengukuran stabilitas oksidasi diukur dengan menggunakan 743 Rancimat. 3 gr
sampel dianalisis dengan laju alir konstran 101/h pada temperature 110C. aliran tersebut
dilewatkan kedalam sel pengukur yang berisi akuades. Konduktivitasnya dapat ditentukan
dan direkam secara otomatis. Oxidation Induction Time diukur dengan DSC menggunakan
temperature 200C dan tekanan 200psi.
Penentuan asam lemak ditentukan dengan memanaskan produk dalam suhu 60C
sebelum ditambah kedalam campuran methanol:minyak (6:1) dan NaOH selama 30 menit.
Kemudian ditentukan dengan menggunakan instrumentasi GC dengan detector FID dan
kolom DB-WAX dalam suhu 200C.
Pengukuran konsentrasi asam ditentukan dengan metode tirasi (809 Titrando).
Densitas produk diukur dengan ASTM digital density meter. Viskositas produk diukur
dengan ASTM D445. Pour point produk diukur dengan ASTM D97.
Stabilitas termal dari produk diukur dengan menggunakan instrumentasi DSC. 5-
10mg sampel diletakkan dalam aluminium pans dan kemudian dipanaskan dengan suhu
10C/menit dari 25C hingga 300C. Gas yang didapat digunakan untuk menekan modulnya
dengan tekanan konstan 200psi.